Anda di halaman 1dari 3

Pengaruh Ulama Dalam Politik Di

Negara Muslim

Dalam kajian hubungan internasional mainstream, agama tidak sama sekali


menjadi sebuah isu yang penting sehingga kajian mengenai hubungan internasional
didominasi oleh perspektif atau pemahaman kapabilitas material. Perspektif ini
menurut Hurd (2008) merupakan perspektif bermasalah dan dampaknya adalah
menjadikan kajian hubungan inter nasional tidak relevan dalam menganalisis persoalan
politik internasional kontemporer yang bermotifkan agama seperti munculnya
fundamentalisme agama, konflik internasional, keamanan nasional dan kebijakan luar
negeri seperti peristiwa perjuangan Hamas melawan Israel dan politik Luar negeri.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Fox (2008) bahwa teori-teori dasar dalam
hubungan internasional seperti, realisme, liberalisme, konstruktivisme, dan Marxisme
gagal menjadikan agama sebagai kajian untuk menjelaskan peristiwa politik
internasional yang terjadi.

Menurut Hurd & Fox, problem yang mendasari kegagalan teori-teori


mainstream tersebut berangkat dari mitos Perjanjian Westhpalia, 1648 yang
menyepakati privatisasi dan marjinalisasi agama. Agama bukanlah variable penting
dan keberadaannya tidak berpengaruh secara signifikan terhadap politik Internasional.
Bahkan dalam para ilmuwan sosial seperti Marx kemunculan dunia modern atau
perspektif modern (sekuler) adalah akibat dari kegagalan atau keruntuhan agama
sebagai sebuah kekuatan sosial dan politik. Akibat pemahaman inilah, sehingga agama
menjadi sangat termarjinalkan hingga akhirnya diprivatisasi dan diganti dengn teori
modernisasi atau sekulerisasi untuk mengurai kegagalan teori-teori mainstream,
menurut Hurd, pertama kali yang harus dilakukan adalah membongkar fenomena
pemisahan antara agama dan politik versi para sekularis yang selama sudah ini
dianggap wajar. Pemisahan tersebut, menurut Hurd, bukanlah
sesuatu yang tetap, fixed, tapi adalah hasil dari konstruksi sosial dan
historis.
Agama berpengaruh terhadap hubungan internasional bisa dilihat dalam
beberapa aspek. Pertama, bahwa agama bisa menjadi sumber legitimasi
bagi aktor pembuat kebijakan atau para penentangnya baik secara domestik
maupun internasional. dalam negara yang memiliki identitas keagamaan
tertentu, maka setiap pemimpin akan menjadikan identitas agamanya yang akan
membatasi setiap perilakunya dan secara otomatis
agama itulah yang akan menjadi legitimasi setiap perbuatannya. Atau dalam
kasus yang lain, sebuah negara yang mayoritas masyarakatnya cenderung
memiliki identitas agama yang relatif homogen, maka akan sangat berpengaruh
terhadap proses pembuatan kebijakan pemimpinnya. Kedua, beberapa isu dan konflik
yang berlandaskan agama bisa bersifat lintas batas dan menjadi isu internasional.
Banyak kasus dimana negara-negara melakukan intervensi atau terlibat dalam
penanganan konflik karena didorong oleh kesamaan agama, seperti keterlibatan
negara-negara muslim dalam membantu Palestina. Begitupun juga, konflik-konflik
yang bermotif agama di sebuah wilayah bisa menginspirasi konflik di wilayah yang
lain. Terakhir, munculnya fenomena transnasionalisme Islam yang memiliki tujuan
mengubah sistem dunia yang sekuler menjadi Islam.
Dalam tulisan ini penulis akan fokus menulis mengenai pengaruh Islam dalam
politik di negara-negara muslim. Fokus pada peran ulama sebagai aktor utama dalam
Islam yang memiliki otoritas yang bisa memutuskan nilai sebuah perbuatan sesuai
dengan Islam atau tidak. Tulisan ini akan mengkaji secara umum kecenderungan peran
ulama di dalam politik di negara-negara mayoritas muslim saat ini. Kemudian, akan
mengambil kasus peran ulama dalam politik di negara Arab Saudi.
Di negeri muslim, memiliki peran yang sangat penting dalam
dinamika politik di negara-negara muslim saat ini. Meskipun peran ulama
berbeda saat kekuasaan Islam beberapa abad yang lalu dengan situasi
sekarang dalam konteks negara bangsa, namun peran tradisional ulama
sebagai benteng moral di masyarakat tetap tidak berubah. Posisi ditengah masyarakat
tersebut memiliki potensi politik yang sangat besar,
ulama bisa memberikan legitimasi terhadap pemerintah dan ikut
mempertahankan stabilitas pemerintahan, atau mendelegitimasi pemerintah
dan memimpin revolusi.
Dalam konteks kerajaan Saudi, ulama dan pemerintah sejak ekspansi Saudi
belum dimulai telah berikrar untuk saling mendukung satu sama lain.

Hingga saat ini ulama, dalam hal ini ulama di dewan ulama senior dan
mufti tetap setia memberikan dukungan terhadap pemerintah, terbukti
dalam perjalanan panjang kerajaan, ulama mampu memberikan dukungan
terhadap stabilitas negara melalui kekuatan fatwa yang dimilikinya. Bahkan
disaat ada tokoh-tokoh ulama yang berdiri berseberangan dengan mufti,
kekuatan fatwa yang akan membuat mereka menjadi bungkam. Dengan
fatwa ulama senior, pemerintah bisa menghilangkan hak politik siapapun
juga yang berpotensi merongrong stabilitas kerajaan. Kajian ini,
memberikan penegasan bahwa Islam dan ulama merupakan aktor yang
penting dalam hubungan internasional di negara-negara muslim serta tidak
boleh dipandang sebelah mata.