Anda di halaman 1dari 43

13

BAB II

TINJAUAN PUSATAKA

A. Telaah Pustaka

1. Konsep Konsenterasi Belajar

a. Definisi konsenterasi belajar

Umumnya belajar dapat diartikan sebagai proses

perubahan perilaku, dari interaksi individu dengan lingkungannya.

Adapun yang dimaksud dengan belajar adalah proses mental

yang terjadi dalam diri seseorang untuk memperoleh pemahaman

dan penyerapan informasi dalam setiap ranah kognitif, afektif dan

pisikomotorik melalui interaksi antara individu dengan lingkungan

digunakan untuk mendeskriptifkan perubahan potensi perilaku

yang berasal dari pengalaman (Lefudin, 2017).

Belajar adalah proses usaha yang dilakukan seseorang

untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru

secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam

interaksi dengan lingkungan.

Konsentrasi adalah pemusatan perhatian dan kesadaran

sepenuhnya kepada bahan pelajaran yang sedang dipelajari.

Mengenyampingkan semua hal yang sama sekali tidak

berhubungan dengan kegiatan tersebut (Olivia, 2010).


14

Konsentrasi belajar adalah daya pikiran dan perbuatan

yang berfokus kepada suatu objek yang dipelajari dengan

menghalau atau menyisihkan segala hal yang tidak ada

hubungannya dengan apa yang dipelajar. Maksudnya adalah

aktivitas berpikir dan tindakan untuk memberikan tanggapan-

tanggapan yang lebih intensif terhadap fokus atau objek tertentu.

Fokus objek yang sudah melalui tahap penyeleksian kualitas objek

dari setiap perkembangan belajar seseorang.

Terjadinya proses belajar membutuhkan konsentrasi

belajar, tanpa konsentrasi maka peristiwa belajar, maka belajar itu

sungguh tidak ada atau tidak berlangsung (Surya,2010).

b. Faktor-faktor dan penyebab kesulitan konsenterasi belajar

1) Faktor eksternal

Gangguan konsentrasi belajar dari luar berkaitan dengan

gangguan indra, seperti penglihatan, pendengaran, dan

penciuman. Faktor penyebab gangguan tidur berkaitan dengan

kondisi suasana lingkungan tempat belajar. Seperti suara hiruk-

pikuk kendaraan, suara musik yang keras, suara TV, suara

orang-orang yang bertengkar, hilir mudik orang disekitar

lingkungn belajar, dan lain-lain dapat mempengaruhi untuk

konsentrasi belajar. Hal lainnya, kondisi tempat belajar yang

berantakan, tata ruang yang sumpek, kurang penerangan,


15

aksesoris rungan yang mencolok dapat mempengaruhi

perhatian dan menimbulkan rasa tidak nyaman untuk belajar.

Begitu juga, dengan adanya bau yang menyengat dan

mendatangkan cita rasa yang tak mengenakkan juga dapat

menyebabkan gangguan konsentrasi belajar.

2) Faktor internal

Gangguan konsentrasi belajar yang datang dari dalam diri

sendiri ini bisa berasalkan dari gangguan fisikdan pisikis.

Gangguan tersebut, antara lain:

a) Gangguan kesehatan jasmani

Gangguan pada kesehatan jasmani, seperti sakit,

kurang tidur, keletihan sehabis bekerja dan begitu juga

orang orang yang sedang dalam kondisi lapar dan kurang

gizisangat berpengaruh sekali pada kemampuan

seseorang untuk berkonsentrasi belajar.

b) Timbul perasaan negatif seperti gelisah,tertekan, marah,

khawatir,takut,benci, dan dendam.

Perasaan tidak enak yang timbul oleh adanya konflik

dengan pihak lain atau rasa khawatir karena suatu hal,

sehingga menyita sebagian besar perhatianmu. Perhatian

terpecah ini, tentu menyulitkan kamu mengikuti pelajaran


16

dengan baik. Dengan kata lain, kamu mudah sekali

kehilangan konsenterasi belajar.

c) Lemahnya minat dan motivasi belajar

Jika kamu kurang berminat dan motivasi untuk

belajar, maka kamu mudah terpengaruh pada hal-hal yang

lebih menarik perhatian kamu ketika peroses belajar

berlangsung. Hal lain tersebut, tentunya masalah yang

tidak ada hubungannya dengan apa yang kamu pelajari,

terutama hal-hal yang bersifat menyenangkan kamu,

sehingga pada akhirnya kamu tidak mengerti isi pelajaran

yang harusnya kamu perhatikan secara intensif.

d) Bersifat pasif dalam belajar

Pola belajar pasif ini dapat terjadi karena kurang

disadarinya.mungkin kamu juga mengalami hal yang

sama . terutama pada praktik belajar di kelas. Nkamu

cenderung menerimabegitu saja apa yang diberikan atau

dijejalkan guru atau dosen. Kamu tidak memiliki

keberanian untuk mengungkapkan keingintahuan atau

ketidak tahuan kamu yang berkaitan dengan materi

pelajaran. Kemudian yang terjadi, kamu pun tak mampu

lagi merespon atau tidak tidak mampu

menginterprestasikan materi pelajaran lanjutan, sehingga


17

kamu kehilangan konterol proses penalaran kamu

terhadap materi pelajaran. Gairah belajar kamu pun

menjadi drop dan cenderung untuk tidak menghasilkan

sesuatu.

e) Tidak memiliki kecakapan dalam cara-cara belajar baik

Untuk melakukan proses belajar kamu memerlukan

strategi pengaktifan pikiran, agar tetap focus pada

pelajaran. Baik itu belajar dalam situasi mengikuti

pelajaran dari guru atau situasi belajar sendiri. Tanpa

memiliki strategi cara belajar yang baik akan menimbulkan

kejemuan dalam berpikir terutama menghadapi bagian-

bagian yang sulit dari pokok pelajaran( Surya,2013).

Untuk mengembangkan kemampuan konsentrasi belajar

dibutuhkan antara lain:

1) Kesiapan belajar (ready learning)

Sebelum melakukan aktivitas belajar kamu harus

benar-benar dalam kondisi fresh (segar) untuk belajar.

Untuk siap melakukan aktivitas belajar ada dua hal yang

harus diperhatikan, yaitu kondisi fisik dan psikis. Kondisi

fisik harus bebas dari gangguan penyakit, kuarang gizi

dan rasa lapar. Kondisi psikis harus steril dari gangguan

konflik kejiwaan, tekanan masalah atau ketegangan


18

emosional, seperti gelisah, takut, cemas, kecewa, benci,

patah hati, iri dan dendam. Masalah konflik kejiwaan atau

perasaan negatif harus di selesaikan terlebih dahulu

pikiran harus benar-benar jernih, jika hendak melakukan

kegiatan.

2) Belajar Aktif

Jika seseorang sulit berkonsenterasi saat belajar di

sekolah atau sulit mengerti apa yang dijelaskan guru dan

sebagainya, hal yang harus dilakukan dengan

mengembangkan pola belajar aktif. aktif belajar dan

berani mengungkapkan ketidaktahuan pada guru atau

teman. Buanglah rasa sungkan, rasa malu, dan rasa takut

yang proaktif dalam belajar. Belajar proaktif akan

menghalau timbulnya proses pengembaraan pikiran

(duplikasi pikiran). fokus dengan pelajaran yang

didapatkan. Jadilah subjek dalam belajar yang belajar

berpikir dan bukan belajar menghafal. Kamu sendiri yang

akan menentukan seberapa paham, kedalam, dan

kemampuan mengoprasionalkan hasil belajar hasil belajar

yang hendak kamu capai.


19

3) Meluangkan waktu untuk melakukan penyegaran

(resfreshing) saat menghadapi kejemuan belajar.

Saat kamu belajar sendirian dirumah dan

menghadapi kesulitan (jalan buntu) mempelajari materi

pelajaran, kadang kala menimbulkan rasa jamu dan bosan

untuk berpikir. Jika halnya terjadi belajar, jangan paksakan

diri kamu untuk melanjutkan belajar. Jika dipaksakan akan

menimbulkan kepenatan dan kelelahan, sehingga akan

menimbulkan antipasti untuk belajar. Jalan keluarnya kita

harus menyediakan waktu 5-10 menit untuk beristirahat

sejenak dengan mengalihkan perhatian pada hal lain yang

bersifat menyenangkan dan menyegarkan. Kita dapat

melajutkan pelajaran jika kepenatan dan kelelahan daya

pikir atau daya kerja otak kita hilang dan pikiran kembali

fresh.

4) Lingkungan belajar harus kondusif

Belajar membutuhkan lingkungan yang kondusif

untuk memperoleh hasil belajar secara optimal. Harus

diupayakan tempat dan ruangan yang apik, teratur dan

bersih. Suasana pun harus nyaman untuk belajar.


20

5) Meningkatkan minat dan motivasi belajar dengan cara

mengembangkan “Imajinasi Berpikir”

Untuk membangkitkan minat dan motivasi belajar,

maka perlu kita ketahui :

a) Apa yang dipelajari,

b) Untuk apa memepelajari materi pelajaran yang hendak di

pelajari,

c) Apa hubungan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari

(manfaat mempelajari dan apa yang dapat kita lakukan

dengan pengetahuan tersebut.

d) Bagaimana cara mempelajarinya

Dengan melakukan keempat hal yang di atas, belajar menjadi

terarah atau lebih terfokus pada materi yang dipelajaran.

Kemudian untuk membangkitkan faktor intelektual-emosional

belajar kita, maka perlu mengembangkan dan membiasakan

“berimajinasi dalam berpikir”. Maksudnya, kita membiasakan

untuk menjelajah dengan berusaha membayangkan

gambaran bentuk yang dipelajari. Kemudian pikirkan unsur-

unsur penting yang membentuk gambaran tersebut. Dengan

demikian kita akan digiring pada pola belajar aktif dan kreatif

(Surya, 2010).
21

c. Dampak Gangguan Konsenterasi Belajar

Saat kamu mengikuti pelajaran di sekolah tidak jarang di

hinggapi oleh perasaan jemu, bosan dan malas. Bahkan saat

mendengarkan penjelasan guru atau dosen di depan kelas

rasa mengantukpun sering menjangkit kamu, bukan? Hal ini

kamu sering mengalami kesulitan untuk memfokuskan

perhatian dan konsentrasi belajar. Kesulitan memfokuskan

perhatian dan konsenterasi belajar di kelas membuat kamu tak

mampu mencerna apa yang dijabarkan oleh guru atau dosen

.begitu juga belajar sendiri membuat kamu bosan dan

mengantuk.

Menurut para ahli pendidikan, salah satu penyebab

rendahnya kualitas dan prestasi belajar seseorang disebabkan

oleh lemahnya kemampuan orang tersebut untuk dapat

melakukan konsentrasi belajar. Padahal bermutu atau tidaknya

suatu kegiatan atau optimalnya hasil belajar seseorang sangat

bergantung pada intensitas kemampuan konsentrasi belajar

dirinya(Surya, 2013).

d. Cara Mengukur Konsenterasi

Menurut Harris dan Harris p.189, 1984 (dalam

Puspaningrum, 2013 ; Ratih & Jannah, 2015) salah satu

latihan untuk mengukur kemampuan fokus adalah dengan


22

mengguankan latihan Grid Concentration Test. Latihan ini

memiliki 10 ᵡ 10 kotak yang setiap kotak berisi 2 digit angka

mulai 00 sampai 99. Tujuan dari latihan ini adalah untuk

mencari angka 00 sampai 99 selama satu menit. Penilaian

diambil dari angka tertinggi yang bisa dicapai.

Untuk melakukan tes ini diperlukan sebuah gambar yang memiliki 99

kotak yang muat angka dari 00 sampai 99 secara acak. Responden

dikumpulkan secara pada waktu yang ditentukan. Kemudian jarak antara

bangku tiap responden terpisah 1 meter. Intruksi yang diberikan berupa

responden hanya perlu memberikan tanda ceklis (√) pada angka yang

mereka temukan secara berurutan dalam waktu satu menit.

Kegiatan ini dibantu oleh 2 orang untuk melihat kejujuran responden

dalam menceklis kontak angka. Penilaian diambil dari angka tertinggi yang

bisa dicapai.

84 27 51 97 78 13 90 85 55 59

33 52 04 60 92 61 31 57 28 29

18 70 49 86 80 77 39 65 96 32

63 03 12 73 19 25 21 23 37 16

81 88 46 01 95 98 71 87 00 76

24 09 50 82 64 08 38 30 36 45

40 20 66 41 15 26 75 99 68 06

34 48 62 83 42 89 47 35 17 10

56 69 94 72 07 43 93 11 67 44

53 79 05 22 74 54 58 14 02 91
23

Tabel 2.1 Concentration (Grid) Exercise (Leusure press (1984 hal 2).

Skor hasil tes yaitu hasil kotak angka yang berhasil didapatkan

secara berurutan dan disusun dengan benar.Interpensi penilaian

No Kriteria Katagori Nilai

1 16 - 21keatas Konsenteraasi baik A

2 0 - 15 kebawah Konsenterasi kurang baik B

Tabel 2.2 kriteria penilaian konsenterasi

Fasilitas dan perlengkapan yang diperlukan, yaitu :

a. Alat tulis

b. Lembar

c. Stopwatch

1. Konsep Kualitas tidur

a. Definisi Tidur

Tidur adalah salah satu aktivitas dalam kesehatan kita.

Setelah lelah bekerja atau beraktifitas seharian, secara otomatis

tubuh akan memberi sinyal untuk tidur. Tidur menjadi proses normal

yang akan memberi sinyal untuk tidur. Tidur menjadi proses normal

yang pasti kita alami baik siang maupun malam (Prasadja, 2009).

Tidur merupakan suatu tindakan tidak sadar di mana persepsi

dan reaksi individu terhadap lingkungan menurun atau hilang, dan

dapat dibangunkan kembali dengan indra atau rangsangan yang

cukup. Tujuan seseorang tidur tidak jelas diketahui, namun diyakini


24

tidur diperlakukan untuk menjaga keseimbangan mental, emosional,

dan kesehatan (Asmadi, 2008).

b. Kebutuhan tidur

Kebutuhan tidur manusia tergantung pada tingkat perkembangan.

Tabel 2.3 berikut ini merangkum kebutuhan tidur manusia berdarkan

Umur
u Tingkat perkembangan Jumlah kebutuhan tidur
0-1 bulan Bayi baru lahir (14-18 jam/hari),
1-18 bulan Masa bayi (12-14 jam/hari),
s
18 bulan-3 tahun Masa anak (11-12 jam/ hari),
3-6 tahun Masa prasekolah (11 jam/hari),
i
6-12 tahun Masa sekolah (10 jam/hari)
12-18 tahun Masa remaja (8,5 jam/hari)
a
18-40 tahun Masa dewasa (7-8 jam/hari)
40-60 tahun Masa muda paruh baya (7 jam/hari)
60
. tahun keatas Masa dewasa tua (6 jam/hari)

Tabel 2.3 Kebutuhan tidur manusia (Uliyah & Hidayat, 2008).

c. Fisiologi Tidur

Fisiologi tidur merupakan pengaturan kegiatan tidur yang

melibatkan hubungan mekanisme serebral secara bergantian agar

mengaktifkan dan menekan pusat otak untuk dapat tidur dan

bangun. Aktivitas tidur ini diatur oleh sistem pengaktivitas retikulasi

yaitu sistem mekanisme hemodinamik, irama sikardian, irama

ultradian

Mekanisme hemostatis aktivitas yang mengatur seluruh

tingkatan kegiatan sususnan saraf pusat termasuk pengaturan


25

kewaspadaan dan tidur. pusat pengaturan aktivitas kewaspadaan

dan tidur terletak dalam mensensefalon dan bagian atas pons.

Dalam keadaan sadar, neuron dalam dalam reticular activating

system (RAS) akan melepaskan ketakolamin seperti norepineprin.

Selain itu RAS yang memberikan rangsangan visual, pendengaran,

nyeri, dan perabaan, juga dapat menerima stimulasi dari kontrteks

serebri termasuk rangsangan emosi dan proses pikir. Pada saat

tidur, terdapat pelepasan serum serotonin dari sel khusus yang

berada di pons dan batang otak tengah, yaitu bulbar synchronizing

regional (BSR).sedangkan saat bangun bergantung dari

keseimbangan implus yang diterima di pusat otak dan sistem limbik.

Dengan demikian sistem pada otak yang mengatur siklus atau

perubahan dalam tidur adalah RAS dan BSR (Hidayat, 2008).

Irama sikardian adalah pola bioritme yang berulang selama

rentang waktu 24 jam. Fluktasi dan suhu tubuh, denyut jantung,

tekanan darah, sekresi hormon, kemampuan sensori, dan suasana

hati tergantung pada pemeliharaan siklus sirkadian 24 jam (Potter &

Perry, 2005) dalam Agustin (2012). Irama sikardian diatur oleh

hipotalamus dan mengkordinasikan siklus tidur-bangun, sekresi

hormon, pengaturan suhu tubuh, suasana hati dan kemampuan

performa (Kunert & Kolkhorst, 2007) dalam Agustin (2012).


26

Irama ultradian merupakan kejadian pada jam biologis yang

kurang dari 24 jam. Siklus ultadian pada tahap tidur terdapat dua

tahapan, yaitu tidur rapid eye movment (REM) dan tidur non rapid

eye movement (NREM) ( Agustin, 2012)

d. Manfaat Tidur

Tujuan tidur sampai sekarang masih belum jelas. Salah satu

teori mengatakan bahwa tidur adalah waktu untuk melakukan

Aktivitas tubuh baik fisik maupun metabolisme didalam tubuh juga

akan melambat saat tidur. Begitu pula dengan fungsi-fungsi tubuh,

denyut jantung dan pernafasan akan semakin lambat dan teratur.

Semua dilakukan untuk menghemat pengeluaran energi oleh tubuh.

Penghematan energi merupakan salah satu manfaat dari tidur.

Melambatnya kerja tubuh saat tidur sebenarnya memberikan

kesempatan kepala sel-sel penyembuh untuk memperbaiki sel-sel

yang rusak. Aktivitas kerja dan kegiatan lain yang mengeluarkan

energi membuat sel-sel tubuh rusak. Aktivitas fisik seperti

mengangkat beban, berolahraga, atau kegiatan lain yang

menghabiskan energi berdampak pada kerusakan sel. Tubuh secara

otomatis akan memperbaiki sel-sel rusak tersebut pada saat kita

tidur.
27

Para peneliti menyatakan pentingnya tidur untuk memperbaiki

sel-sel tubuh yang rusak. Dimana proses perbaiki ini didorong oleh

Growth Hormone (GH). GH atau hormon pertumbuhan ini dihasilkan

pada tahap tidur dalam (tahap N3). Hormon yang merangsang

pengeluaran hormon pertumbuhan adalah Growth Hormon –

Releasing Hormone (GHRH ) yaitu hormon yang merangsan untuk

tidur.

Tidur juga berkaitan erat dengan daya tahan tubuh. Dalam

beberapa penelitian menerangkan seseorang yang kurang tidur

dapat menurunkan daya tahan tubuh. Namun secara statistic

kekurangan tidur menyebabkan seseorang mudah terserang

penyakit.

Apabila seseorang mengalami kehilangan tidur REM, maka

akan menunjukkan gejala-gejala seperti cenderung hiperaktif, kurang

dapat mengendalikan diridan emosi (emosinya labil), nafsu makan

bertambah, bingung dan curiga (Asmadi, 2008).

Tidur adalah suatu proses yang penting bagi manusia, karena

dalam terjadi proses pemulihan, proses ini bermanfaat

mengembalikan keadaan semula dimana tubuh akan menjadi bugar

setelah mengalami kelelahan saat beraktivitas. Proses pemulihan

yang terhambat akan mengakibatkan tubuh tidak bisa berkerja

maksimal, maka orang yang kurang tidur akan cepat lelah dan
28

mengalami penurunan konsenterasi .pola tidur yang baik akan

membantu menjaga kesehatan. Pola tidur yang berkualitas dilihat

dari beberapa dalam tidur seseorang (Guyton 2007 dalam Gunanthi

& Diniari, 2016).

Menurut Potter dan Perry (2007), menyatakan bahwa kualitas

tidur tidak hanya membicarakan jumlah atau lama seseorang tidur

saja, akan tetapi kualitas tidur merupakan kondisi dimana

terpenuhinya kebutuhan seseorang untuk tidur. Salah satu indikator

terpenuhinya kualitas tidur seseorang adalah kondisi tubuh saat

bangun tidur, jika bangun tidur merasa segar dan bugar bearti

kebutuhan tidur telah tercukupi. (Amalia & Ardani, 2013).

e. Jenis-jenis Tidur

Tidur diklasifikasikan menjadi dua katagori yaitu tidur dengan

gerakan bola mata cepat (Rapid Eye Movement-REM), dan tidur

dengan gerakan bola mata lambat ( Non-Rapid Eye Movement-

NREM).

1) Tidur REM

Tidur REM merupakan tidur dalam keadaan aktif atau tidur

paradoksial. Hal tersebut berarti tidur REM ini sifatnya nyenyak

sekali, namun keadaan fisiknya yaitu gerakan kedua bola matanya

bersifat sangat aktif. Bebeberapa tanda saat tidur REM yaitu

mimpi, otot-otot kendor, tekanan darah bertambah, gerakan mata


29

cepat (mata cenderung bergerak bolak-balik), sekresi lambung

meningkat, ereksi penis, gerakan otot tidak teratur, kecepatan,

jantung, dan pernafasan tidak teratur sering lebih cepat, suhu

tubuh dan metabolisme meningkat.

2) Tidur NREM

Tidur NREM merupakan tidur yang nyaman dan dalam.

Pada tidur NREM gelombang anak lebih lambat dibandingkan

pada orang yang sadar atau tidak tidur. Tanda-tanda tidur NREM

antara lain: mimpi berkurang, keadaan istirahat tekanan darah

turun, kevcepatan turun,dan gerakan bola mata lambat

Tidur NREM memiliki empat tahap yang masing-masing

tahap ditandai dengan pola perubahan aktivitas gelombang otak.

Keempat tahap tersebut yaitu:

a) Tahap I

Tahap I merupakan tahap transisi dimana seseorang

beralih dari sadar menjadi tidur. Pada tahap I ini ditandai dengan

seseorang merasa kabur dan rileks, seluruh otot menjadi lemas,

kelopak mata menutup mata kedua bola mata bergerak ke kiri dan

ke kanan, kecepatan jantung dan pernapasan menurun secara

jelas, pada EEG terlihat terjadi penurunan voltasi gelombang-

gelombang alfa. Seseorang yang tidur pada tahap I ini dapat

dibangunkan dengan mudah.


30

b) Tahap II

Merupakan tahap tidur ringan dan proses dan proses tubuh

terus menurun. Tahap II ini ditandai dengan kedua bola mata

berhenti bergerak, suhu tubuh menurun, tenus otot perlahan-lahan

berkurang, serta kecepatan jantung dan pernapasan turun dengan

jelas. Pada EEG timbul gelombang beta yang berfrekuensi 14-18

siklus/detik. Gelombang-gelombang ini disebut dengan gelombang

tidur. tahap II ini berlangsung sekitar 10-15 menit.

c) Tahap III

Pada tahap ini keadaan fisik lemah lunglai karena tonus

otot lenyap secara menyeluruh. Kecepatan jantung, pernapasan

dan proses tubuh berlanjut mengalami penurunan akibat dominasi

sistem saraf parasimpatis. Pada EEG memperlihatkan perubahan

gelombang beta menjadi 1-2 siklus/detik. Seseorang yang tidur

pada tahap III ini sulit untuk dibandingkan.

d) Tahap IV

Tahap IV merupakan tahap tidur di mana seseorang berada

dalam keadaan rileks, jarang bergerak karena keadaan fisik yang

sudah lemah, lunglai, dan sulit dibangunkan. Pada EEG, tampak

hanya terlihat gelombang delta yang lambat dengan freukensi 1-2

siklus/detik. Jantung dan pernapasan menurun sekitar 20-30%.


31

Pada tahap ini dapat terjadi mimpi. Selain itu, tahap IV ini dapat

memulihkan keadaan tubuh.

Apabila seseorang mengalami kehilangan tidur

NREM,maka akan timbul gejala seperti; menarik diri,

apatis,respon menurun, merasa tidak enak badan, ekspresi wajah

sayu, malas bicara, dan kantuk yang berlebihan.

Sedangkan apabila seseorang kehilangan tidur REM dan

NREM, akan menimbulkan gejala-gejala seperti; kemempuan

memberikan keputusan atau pertimbangan menurun, tidak mampu

untuk konsenterasi (kurang perhatian), tanda-tanda keletihan

seperti penglihatan kabur, mual, dan pusing, sulit melakukan

aktivitas sehari-hari, daya ingat berkurang, bingung, timbul

halusinasi dan penglihatan atau pendengaran.

Setiap individu memiliki kebutuhan berbeda-beda sesuai

dengan tingkat perkembangan. Dari usia bayi, anak-anak, remaja,

dewasa, sampai dengan lansia memiliki jumlah jam tidur, tahap

tidur, dan siklus tidur yang berbeda (Asmadi, 2008).

Tingkat Pengetahuan Pola Tidur Normal


Biasanya tidur 14-18 jam/ hari,
Bayi dengan berat pernapasan teratur, mudah terhadapi
badan lahir rendah stimulus. Minggu pertama kelahiran :
50% dari siklus tidur adalah REM ; siklus
berlangsung selama 45- 60 menit.
32

Biasanya tidur 12-14 jam/hari.pada usia


Bayi 1 bulan-1 tahun, 20%-30% dari siklus
tidur adalah tidur adalah tidur REM ; bayi
akan tidur sepanjang malam.
Tidur sekitar 10-12 jam/haru. 25% dari
Usia 1-3 tahun siklus tidur adalah tidur REM; anak tidur
pada siang dan sepanjang malam.
Pre- sekolah (3-6 tahun) Tidur sekitar 11 jam/hari; 20% dari siklus
tidur adalah REM
Tidur sekitar 10 jam/hari pada malam
Usia sekolah hari ; 18,5% dari siklus tidur adalah tidur
REM.
Tidur sekitar 7-8,5 jam/ hari ; 20% dari
Remaja siklus tidur adalah siklus REM
Tidur sekitar 7-8 jam/hari ; 20%-25% dari
Dewasa muda siklus tidur adalah tidur REM
Tidur sekitar 7-8 jam/hari ; 20%dari
siklus tidur adalah tidur REM. Individu
Dewasa menengah
mungkin mengalami insomnia dan sulit
untuk tidur
Tidur sekitar 6 jam/hari ;20%-25% tidur
Dewasa tua (>60 tahun REM. Individu dapat mengalami
) insomnia dan sering terjaga sewaktu
tidur. Tahap IV NREM menurun, bahkan
terkadang tidak ada.

Tabel 2.4 Pola Tidur Berdasarkan Usia Menurut Asmadi (2008)


33

f. Siklus Tidur

Pola tidur normal yang rutin dimulai dengan prersleep yaitu

perubahan dari keadaan sadar sampai menjadi mengantuk dan lamanya

10-30 menit, kemudian memasuki tidur dan menyelesaikan 4-6 siklus

tidur (Potter & Perry, 2011). National Sleep Foundation (2006) (Potter &

Perry, 2011) mengungkapkan bahwa sedangkan Wold (2008)

mengatakan setiap siklus tidur berlangsung selama 60-120 menit. Pola

siklus tidur meningkat dari tahap 1 sampai 4 tidur NREM, kemudian

menjadi berbalik dari tahap 4 ke 3 dan ke 2 tahap NREM serta diakhiri

dengan tidur REM. Setelah itu dimulai siklus tidur yang baru.

Prasleep

NREM

Stage 1

NREM REM NREM

Stage 2 Sleep Stage 2

NREM NREM

Stage 3 Stage 3

NREM

Stage 4

Skema 2.1 Siklus tidur orang dewasa (Potter & Perry,2011)


34

g. Faktor-faktor Mempengaruhi Tidur

Seseorang bisa tidur atau tidak, dapat dipengaruhi dengan faktor-

fakor sebagai berikut :

1) Status kesehatan

Seseorang dengan kondisi tubuh yang sehat memungkinkan

ia tidur dengan nyenyak. Tetapi pada orang yang sakit dan rasa

nyeri, maka kebutuhan tidur tidak dapat dipenuhi dengan baik

sehingga tidak bisa tidur dengan nyenyak (Asmadi, 2008).

2) Lingkungan

Lingkungan dapat meningkatkan atau menghalangi seseorang

untuk tidur. Pada lingkungan yang tenang mungkin seseorang

dapat tidur dengan nyenyak. Sebaliknya lingkungan yang

rebut,bising dan gaduh akan menghambat seseorang untuk tidur

dengan nyenyak (Asmadi, 2008) .

3) Stres Pisikologis

Cemas dan depresi akan menyebabakan gangguan pada

frekuensi tidur. Hal ini disebabkan pada kondisi cemas akan

meningkatkan norepinefrin darah melalui sistem sarafsimpatis. Zat

ini akan mengurangi tahap IV NREM dan REM (Asmadi, 2008).

4) Diet

Makanan yang banyak mengandung L-Tirptofan sepeti keju,

susu, daging, dan ikan tuna dapat menyebabkan seseorang cepat


35

tidur. Sebaliknya minuman yang mengandung kafein maupun

alkohol akan mengganggu tidur (Asmadi, 2008).

5) Gaya hidup

Kelelahan dapat mempengaruhi pola tidur seseorang.

Kelelahan tingkat menengah seseorang bisa tidur dengan nyenyak.

Sedangkan pada kelelahan yang berlebihan akan menyebabkan

priode tidur REM lebih pendek (Asmadi, 2008).

6) Obat-obatan

Obat-obatan yang dikonsumsi seseorang ada yang berefek

menyebabkan tidur, ada pula sebaliknya mengganggu tidur.

misalnya, obat golongan amfetamin akan menurunkan tidur REM

(Asmadi, 2008).

7) Pola tidur yang biasa dan mengantuk yang berlebihan pada siang

hari

Mengantuk menjadi hal yang patologis bila terjadi saat

individu harus bekerja atau ingin terjaga. Orang yang mengalami

kehilangan tidur sementara karena kegiatan social dimalam hari

atau jam kerja yang bertambah biasanya menyebabkan mengantuk

di keesokan harinya (Potter & Perry, 2011).

8) Latihan fisik dan kelelahan

Orang-orang yang mengalami kelelahan tingkat menengah

biasanya mendapatkan tidur yang nyenyak, khususnya bila


36

kelelahannya didapat dari latihan fisik atau menikmati pekerjaannya

(Potter & Perry, 2011). Wang et.al. (2012), melaporkan bahwa

latihan fisik akut dapat membuat tidur lebih nyenyak, meningkatkan

jumlah waktu tidur, dan mengurangi terbangun saat tidur.

9) Kegaduahan

Cmiel et. Al. (2004, dalam Potter & Perry, 2011), melaporkan

bahwa kegaduhan mempengaruhi aktivitas yang dapat

menyebabkan terbangun dan tidur menjadi terpotong-potong.

Beberapa orang memerlukan kesunyian agar bisa tertidur, dan ada

orang yang suka mendengarkan suara musik yang pelan atau

televisi untuk bisa tidur.

10) Motivasi

Motivasi merupakan suatu dorongan atau keinginan

seseorang untuk tidur, sehingga dapat mempengaruhi proses tidur.

Selain itu, adanya keinginan untuk tidak tidur dapat menimbulkan

gangguan proses tidur(Uliyah & Hidayat, 2009).

h. Gangguan-Gangguan Tidur dan Penanganannya

1) Insomnia

Insomnia merupakan ketidak mampuan untuk mencukupi

kebutuhan tidur baik secara kualitas maupun kuantitas. Insomnia

bukan berarti sama sekali tidak dapat tidur atau kurang tidur karena
37

orang yang menderita insomnia sering dapat tidur lebih lama dari

yang mereka perkirakan, tetapi kualitasnya kurang.Ada 3 jenis

insomnia yaitu insomnia inisial, insomnia intermiten, dan insomnia

terminal.

Ada beberapa tindakan atau upaya yang dilakukan untuk

mengatasi insomnia yaitu :

a) Memakan makanan berprotein tinggi sebelum tidur, seperti keju

atau susu.

b) Usahakan agar selalu beranjak tidur pada waktu yang sama.

c) Hindari tidur di waktu siang hari atau sore hari.

d) Berusaha tidur hanya apabila merasa benar benar ngantuk dan

tidak waktu kesadaran penuh

e) Hindari kegiatan-kegiatan yang membangkitkan minat sebelum

tidur.

f) Lakukan latihan gerak badan setiap hari, tetapi tidak menjelang

tidur

2) Soumnambulisme

Soumnambulisme meruapakan gangguan tingkah laku yang

sangat kompleks mencakup adanya otomatis semi pur posemful

aksi motoric, seperti membuka pintu , menutup pintu, duduk

ditempat tidur, menabrak kursi, berjalan kaki dan berbicara.

Gangguan ini kebanyakan terjadi pada anak-anak dibandingkan


38

orang dewasa . Seseorang yang mengalami soumnambulisme

memiliki resiko cedera.

Upaya yang dilakukan yang dapat dilakukan adalah dengan

membimbing anak dimana dengan tindakkan ini untuk

mengatisipasi resiko cedera pada anak. Ketika anak dalam kondisi

soumnambulisme anak dibimbing untuk kembali ke kamar. Upaya

lain yang dapat dilakukan adalah dengan membuat lingkungan

yang nyaman dan aman, serta juga dapat diberikan obat seperti

Diazepam dan Valium.

3) Enuresis

Enuresis kencing yang tidak disengaja (mengompol). Terjadi

pada anak-anak dan remaja, paling banyak terjadi pada laki-laki.

Penyebabnya belum jelas tetapi ada beberapa faktor yang dapat

menyebabkan enuresis seperti gangguan pada bladder, stres, dan

toilet trenning yang kaku. Upaya yang dilakukan untuk mencegah

enuresis antara lain : hindari stres, hindari minum banyak sebelum

tidur, dan kosongkan kandung kemih (berkemih dulu) sebelum

tidur.

4) Narkolepsi

Narkolepsi merupakan suatu kondisi yang di cirikan oleh

keinginan yang tak terkendali untuk tidur . dapat dikatan pula

bahwa narkolepsi adalah serangan mengantuk mendadak,


39

sehingga ia dapat tertidur pada saat dimana serangan tidur (kantuk)

tersebut datang. Obat-obat agripnotik dapat digunakan untuk

mengendalikan narkolepsi yaitu sejenis obat yang membuat orang

tidak dapat tidur. obat tersebut di antaranya jenis amfetamin.

5) Night terrors

Night terrors adalah mimpi buruk. Umumnya terjadi pada anak

usia 6 tahun atau lebih .setelah tidur beberapa jam, anak tersebut

langsung terjaga dan berteriak, pucat dan ketakutan.

6) Mendengkur

Mendengkur disebabkan oleh adanya rintangan terhadap

pengaliran udara di hidung dan mulut. Amandel yang membengkak

dan adenoid dapat menjadi faktor yang turut menyebabkan

mendengkur. Pangkal lidah yang menyumbat saluran napas pada

lansia. Otot-otot dibagian belakang mulut mengendur lalu bergetar

jika dilewati udara pernapasan (Asmadi, 2008).

7) Gangguan pola tidur secara umum

Menurut Carpenito, Suatu keadaan ketika individu

mengalami atau mempunyai resiko perubahan jumlah dan kualitas

pola istirahat yang menyebabkan ketidaknyamanan atau

mengganggu gaya hidup yang diinginkan (Gangguan ini terlihat

pada pasien menunjukan perasaaan lelah, mudah terangsang dan

gelisah, lesu dan apatis, kehitaman di daerah mata, kelopak mata


40

bengkak, konjungtifa merah, mata perih, perhatian terpecah-

pecah,sakit kepala, serta sering menguap atau mengantuk.

Penyebab dari gangguan poal tidur ini antara lain adalah kerusakan

teranspor oksigen, gangguan metabolisme, kurang eliminasi,

pengaruh obat, immobilitas, nyeri pada kaki, takut oprasi,

tergganggu kawan sekamar, dan lain-lain.

h. Skala Pengukuran Kualitas Tidur

Kualitas tidur dapat diukur menggunakan Pittsburg Sleep Quality

Index (PSQI). Menurut, Buysee (1989), PSQI dikembangkan dengan

beberapa tujuan : untuk memberikan gambaran yang valid dan standar

ukuran kulitas tidur, untuk membedakan antara tidur yang baik dan tidur

yang buruk, untuk menyediakan data subyek yang akan digunakan oleh

dokter untuk menentukan diagnosa, dan untuk memberikan gambaran

singkat penilaian klinis berbagai gangguan tidur yang dapat

mempengaruhi kualitas tidur. PSQI terdiri dari 19 pertanyaan self-rafed

dan lima pertanyaan dinilai oleh orang yang sekamar, rekan, anggota,

keluarga, suami atau istri. Lima pertanyaan terakhir digunakan untuk

informasi klinis saja, tidak ditabulasikan dalam menentukan nilai dari

PSQI. Sembilan belas item self rated menilai berbagai faktor yang

berkaitan dengan kualitas tidur, termasuk perkiraan durasi tidur, latency

dan frekuensi, dan tingkat keparahan masalah tidur yang dinilai secara

spesifik.
41

Sembilan belas item ini dikelompokkan menjadikan tujuh

komponen untuk menentukan nilai PSQI global, masing-masing berbobot

sama pada skala 0–3. Tujuh skor komponen tersebut kemudian

dijumlahkan untuk menghasilkan skor PSQI global, yang memiliki skor

dari 0 - 21. Skor yang lebih tinggi menunjukkan kualitas tidur buruk.

Dalam semua kasus, skor “0” menunjukkan kualitas tidak ada kesulitan,

sementara skor “3” menunjukkan kesulitan yang parah. Tujuh komponen

skor tersebut kemudian ditambahkan untuk menghasilkan satu “global”

skor, dengan kisaran 0 – 21 poin, “0 – 5” menunjukkan tidak ada

gangguan dan 6 – 21 menunjukkan gangguan berat di semua bidang.

Tujuh komponen PSQI adalah versi setandar daerah secara rutin menilai

dalam wawancara klinis pasien dengan keluhan tidur / bangun.

Komponen komponen ini terdiri dari kulitas tidur subyektif, latensi tidur,

durasi tidur, efisiensi tidur, kebiasaan, gangguan tidur, penggunaan obat

tidur, dan disfungsi pada siang hari, scoring dari masing-masing

komponen digambarkan dalam lampiran. Petujuk pengisian PSQI

terdapat dalam kuesioner.

Penilaian pada kualitas tidur dapat diuraikan sebagai berikut :

a) Kualitas tidur subjektif adalah persepsi seseorang terhadap tidurnya

dan diukur dengan meminta pendapat seseorang menilai kualitas

tidurnya.
42

b) Tidur laten merupakan waktu yang dimulai dari mencoba untuk tidur

setiap malam.

c) Durasi tidur adalah jumlah waktu yang sebenarnya seseorang tidur

dan menunjukkan jumlah jam tidur setiap malam.

d) Efisiensi tidur adalah rasio dari total waktu tidur terhadap jumlah jam

tidur dengan jumlah jam seseorang menghabiskan diatas tempat

tidur dan dikali 100%.

e) Gangguan tidur adalah ketika seseorang mengalami kesulitan untuk

tidur atau bangun lebih awal dari yang diinginkan.

f) Penggunaan obat tidur diartikan sebagai memakai bantuan

farmakologis untuk tidur.

g) Disfungsi di siang hari di definisikan sebagai seseorang yang merasa

tidak cukup istirahat di siang hari.

i. Akibat Kekurangan Tidur

Menurut The sleep Survey Great British, (2012) efek terburuk dari

tidur yang buruk bukanlah bagaimana perasaan kita pada malam hari –

bagaimana hal itu mempengaruhi kita di siang hari, baik secara fisik

maupun emosional. Anak tidur jangka panjang 7 kali lebih mungkin

merasa tidak berdaya daripada orang yang tidurnya nyenyak dan 5 kali

lebih mungkin merasa sendirian, tapi juga 2 kali memiliki kemungkinan


43

untuk berhubungan dengan masalah, menderita kelelahan siang hari

dan kurang konsentrasi. Kekurangan tidur dapat menyebabkan

penurunan daya tahan tubuh seseorang dapat menyebabkan penurunan

daya tahan tubuh seseorang. Selain itu, kurang tidur juga mengakibatkan

penurunan kemampuan mental, kemampuan otak, dan kreativitas untuk

menggunakan data hapalan. Penurunan kemampuan otak tersebut

secara otomatis akan menurunkan produktivitas kerja. Secara psikologis,

seseorang yang kurang tidur cenderung mengalami gangguan stabilitas

emosional. Orang mudah marah, kecewa, sedih, serta tidak bergairah

(lemah, letih, dan lesu) ( Prasadja, 2009).

j. Masa Dewasa Muda

Pada usia 18-40 tahun terjadi perubahan perubahan hormonal

yanhg terjadi dimasa pubertas. Pada masa ini mereka mengalami

pergeseran irama sikardian sehingga jam tidur pun bergeser.

Secara umum kebutuhan tidur orang dewasa muda berkisar 8,5-

9,25 jam per hari. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, orang dewasa

muda memiliki cara tersendiri dalam mengatur pola tidurnya. Namun,

biasanya pola tidur orang dewasa muda berubah-ubah alias tidak

menentu. Saat orang lain mulai mengantuk pada pukul 21:00 atau 22:00,

orang dewasa muda justru bersemangat untuk berkerja, belajar atau

menyelesaikan tugas-tugasnya. Rasa kantuk akan menyerang sekitar


44

tengah malam, yaitu pada pukul 00:00-01:00. Bahkan ada yang tidak

tidur hingga pagi hari.

Di usia dewasa kebanyakan orang yang telah membentuk pola

tidurnya sendiri. Pola tidur tersebut sangat terkait dengan aktivitas kerja

baik kantoran yang harus kerja, maupun kuliah berbeda dengan artis

kebanyakan. Bagi orang yang kantoran atau kuliahan mereka harus

terjaga pagi hari, jarang atau bahkan tidak pernah tidur siang karena

beban kerja, dan tidur malam rata-rata pada pukul 22:00.

Bagi orang kantoran atau anak kuliahan, mereka harus bangun lebih

awal untuk mempersiapkan diri ke sekolahan, kuliah atau bekerja. Itulah

sebabnya orang muda mengalami banyak kekurangan tidur tak heran

jika banyak diantara mereka yang tertidur di kelas atau terkantuk-kantuk

dikantor. Di akhir minggu, remaja dan dewasa muda banyak yang tidur

hingga siang hari, istilahnya “balas dendam” utang tidur yang dibiarkan

menumpuk sepanjang minggu akibat kerja dibayarkan dalam satu hari

tersebut (Prasadja, 2009).

Menurut Potter & Perry, (2010), jadwal perkuliahan yang

kompleks dan aktivitas lain dalam perkuliahan dapat berdampak pada

masalah fisik seperti kelelahan sehingga dapat membuat tidur seseorang

menjadi terganggu (Pitaloka, 2015). Faktor-faktor tersebut membuat

mahasiswa memiliki siklus tidur bangun yang tidak seimbang. Hal ini jika

dibiarkan akan berdampak pada prestasi akademik mahasiswa, sebab


45

akan membuat konsenterasi berkurang (Hidayat, 2006; Robotham dkk,

2011).

Fakta tentang pola tidur orang dewasa Amerika berdasarkan

surve National Sleep Foundation didapatkan hasil bahwa lebih dari

sepertiga (36%) dewasa muda usia 18-29 tahun dilaporkan mengalami

kesulitan untuk bangun pagi (dibandingkan dengan 20% pada usia 30-45

tahun dan 9% di atas usia 65 tahun). Seperempat dewasa muda (22%)

sering terlambat masuk kelas atau bekerja karena sulit bangun

(dibandingkan 11% pada pekerja usia 30-64 tahun dan 5% di atas usia

65 tahun). 4% dewasa muda mengeluh kantuk saat berkerja

sekurangnya 2 hari dalam seminggu atau lebih (dibandingkan dengan

23% pada usia 30-64 tahun dan 19% di atas usia 65 tahun).

Selain pekerjaan, pola tidur orang dewasa juga dipengaruhi oleh

kebiasaan (behavior). Umumnya, orang dewasa memiliki kebiasaan

menonton TV, hang out dicafe atau di diskotik usia bekerja, bermain di

komputer sebelum tidur, dan lain-lain. Alasannya agar mata cepat

mengantuk. Padahal kondisi tersebut malah memperburuk keadaan.

Ketegangan yang diakibatkan oleh aktivitas-aktivitas tadi bisa

menyebabkan mata terlalu segar untuk dipejamkan. Belum lagi efek

cahaya terang yang dapat melabui jam biologis yang sebenarnya

diciptakan untuk memebedakan waktu siang dan malam (Prasadja,

2009).
46

3. Konsep Penggunaan Lampu saat Tidur

a. Pengertian

Menurut Nasional Sleep Foundation[NSF]( 2015) salah satu

faktor kunci dalam mengatur tidur dan jam biologis Anda adalah

terpapar cahaya atau kegelapan sehingga tertidur dengan lampu

menyala mungkin bukan hal terbaik untuk tidur yang nyenyak.

Dimana cahaya yang ada pada saat kita tidur akan menghambat dan

menurunkan produksi melatonin di dalam darah serta menghambat

mekanisme irama sirkadian (jam biologi). Oleh sebab itu tubuh

dipaksa untuk terus beraktivitas hingga larut malam mengabaikan

perintah tidur. Kekurangan produksi hormon melatonin adalah tanda

awal terganggunya irama sikardian. Itulah sebabnya gangguan tidur

pertama kali muncul saat bola lampu di temukan (Prasadja, 2009).

Banyak fungsi tubuh kita dan komponen-komponennya

seperti suhu tubuh, pernafasan pencernaan, konsenterasi hormon

dan lain-lain memiliki siklus harian berupa puncak dan dasar lembah

siklus halite disebut dengan ritme sirkadian. Pengaturan waktu ritme

sikardian ditentukan oleh paparan otak terhadap sinar matahari

termasuk siklus tidur dan bangun yang dikontrol oleh sepasang

kluster kecil yang terdiri dari sekitar 10000 neuron, terletak pada

wilayah sangat kecil dibagian area limbic. Kluster atau kelompok

neuron ini terletak diatas (supra) chiasm optik (kiasma optik) dimana
47

saraf optik dari bagian kanan dan kiri bertemu dalam perjalanan otak

maka oleh sebab itu ritme sirkadian atau siklus tidur-bangun dapat

dipengaruhi cahaya seperti pengguna lampu pada malam hari

(Sousa, 2012).

Menurut (Szeineberg, dkk) dalam sebuah study klinis

menunjukkan bahwa dengan pemberian melatonin yaitu hormon

yang mengatur tidur dalam jangka waktu yang lama dapat menolong

mahasiswa yang mengalami DSPS untuk bisa tidur lebih lama, serta

dapat meningkatkan kinerja mereka di kampus (David, 2012).

Dalam sebuah hadis rasullulah telah dianjurkan kepada kita

untuk mematikan lampu saat tidur “Padamkanlah lampu-lampu kalian

dimalam hari pada saat kalian tidur dimalam hari, kuncilah pintu dan

tutuplah benjana, makanan dan minuman” (HR. al Bukhari).

b. Mekanisme cahaya mempengaruhi tidur.

Ritme sikardian dikendalikan oleh jam biologis yang dimana

terletak didalam hipotalamus yang sebagian kecil berbentuk seperti

tetesan air dari kumpulan sel-sel yang disebut Suprachiamatic Nucleus

(SCN). Jalur saraf dan reseptor-reseptor khusus yang terletak

dibelakang mata mengantar informasi ke SCN yang memungkinkan SCN

merespon cahaya atau kegelapan sekitar. Kemudian SCN mengirimkan

pesan yang membuat otak dan tubuh beradaptasi dengan perubahan

perubahan tersebut. SCN mengatur fluktuasi tingkat hormon dan cairan


48

neurotransmitter, dan kemudian keduanya meberikan upan balik yang

mempengaruhi kerja dan fungsi SCN. Contoh hormon yang dikendalikan

SCN pada malam hari adalah melatonin, salah satu hormon yang

dilepaskan oleh kelenjar pineal yang terletak dibagian dalam otak.

Ketika anda tidur diruang gelap, kadar melatonin anda meningkat; dan

jika berada di ruangan yang terang akan membuat kadar melatonin

menurun membuat tidur menjadi kurang nyeyak. Melatonin memainkan

peranan untuk menjaga waktu biologis yang sesuai siklus terang-gelap

(Haimov,Lavie,1996 ;Lewy dkk, 1992; Carol.T, 2008).

Perlu diketahui bahwa cahaya bisa menentukan suasana hati.

Pengatur mood manusia berkaitan dengan dua hormon didalam tubuh

tersebut berubah seiring dengan pergeseran intensitas dan warna yang

dipancarkan cahaya di sekitar manusia tersebut salah satunya cahaya

lampu (Dwimirnani & Mariana, 2010).

Hormon ini di produksi oleh kelenjar pineal dan sebagian kecil

diproduksi di usus dan retina mata. Sebagai hormon, melatonin

berperan mengatur jam tubuh, yaitu siklus circardian, siklus harian kita

yang menyangkut saat-saat bangun tidur, bekerja dan masuk tidur

(Budhi, 2010).

Pada waktu magrib pukul (18:00-19:00) produksi hormon

melatonin yang merangsang tubuh untuk beristirahat dan tidur akan

meningkat sehingga tubuhpun menjadi lemah dan terkesan ingin


49

bermalas-malasan pada kondisi magrib ini dikatakan sebagai terminal

transisi baik perubahan kondisi tubuh tersebut.

Hormon manusia yaitu hormon cortisol dan hormon melatonin

kadar kedua hormon. Tubuh banyak memperoduksi hormon ini dalam

kondisi gelap, terutama malam hari. Saat konsenterasi hormon ini dalam

kondisi gelap teruatama malam hari . Saat konsenterasi hormon ini

meningkat, mata biasanya terasa berat. Produksi melatonin meningkat

sekitar pukul 21.00-23.00 dan mencapai puncak pada pukul 02.00-04.00

dini hari (Pangkal Ide, 2007).

Pada waktu isya (20:00-00.00) merupakan terminal akhir dalam

perjalanan aktivitas organ tubuh selama seharian penuh pada waktu ini

terjadi perpindahan dari kondisi tubuh yang aktif kekondisi tubuh yang

menginginkan untuk tidur hal ini disertai dengan keadaan yang sudah

gelap dan meningkatnya jumlah hormon melatonin.

Dan pada waktu subuh dimana cahaya mulai aktif sehingga

terjadi peningkatan hormon pemicu energi seperti hormon kortizon dan

hormon kelelakian tepatnya dipertengahan siang sehingga dapat

menurunkan produksi hormon melatonin melalui kelenjar pineal. Diwaktu

suplai cahaya mulai aktif pada saat itu aktifitas biologis mencapai

puncaknya seperti peningkatan aktifitas sympathetic system yang

menjadi perangsang produksi hormon hormon prmicu energi

merangsang kecepatan detak jantung, menaikan tekanan darah,


50

meningkatkan energi untuk beraktivitas, menambah suplai darah keotak

serta meningkatkan respon otak, konsentrasi, dan koordinasi otak

dengan otot penggerak (Al-Mahfani & Hamdi, 2016)

Karena itu, melatonin digunakan tubuh untuk istirahat dan tidur.

dalam suasana terang, produksi melatonin merosot. Karena itu orang

umumnya terjaga begitu matahari terbit selain cahaya, kafein dalam kopi,

the pekat, coklat, dan softdrink bisa menghambat produksi hormon ini

(Pangkal ide, 2007).

B. Penelitian Terkait

1. Penelitian Andriani (2016), meneliti tentang hubungan kualitas tidur

dengan konsentrasi belajar mahasiswa Akademik Kebidanan

Internasional Pekanbaru tahun 2016.

Hasil perhitungan uji statistik chi-square didapatkan p-value lebih

kecil dari 0,05 (p-value <0,05) tabel. Hal ini menunjukan adanya

hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dengan konsenterasi

belajar Mahasiswa Akademik kebidanan internasional pekanbaru.

2. Penelitian Fenny & Supriatmo (2015) Hubungan Kulitas dan

Kuantitas Tidur dengan Prestasi Belajar Fakultas Kedokteran (2015).

Hasil analisis dari data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa

terdapat hubungan yang signifikan atau bermakna antara kulitas tidur


51

dan kuantitas tidur dengan prestasi belajar pada mahasiswa FK USU

angkatan 2013/2014dengan nilai p<0,0001 (nilai p <0,05).

3. Penelitian Pitaloka dkk. (2015), Hubungan Kualitas Tidur dengan

Tekanan Darah dan Kemampuan Konsenterasi Belajar program studi

Ilmu Keperawatan Universitas Riau.

Hasil dari uji Kolmogorov-smirnov diperoleh hasil p=0,418 lebih besar

(p>0,05) p-tabel maka hipotesis ditolak artinya tidak ada hubungan

antara kualitas tidur dengan tekanan darah. Sedangkan hasil analisa

data uji chi square di dapatkan p= 0,002 lebih kecil (p<0,05) dari p-

tabel hifotesis gagal ditolak menujukkan bahwa ada hubungan

kualitas tidur dengan konsnterasi belajar mahasiswa PSIK UR.


52

C. Kerangka Teori

Cahaya lampu
Menurut Nasional Sleep
Foundation[NSF]( 2015)
salah satu faktor kunci
dalam mengatur tidur Ritme sikardian
dan jam biologis Anda Ditangkap saraf dikendalikan oleh jam
adalah terpapar cahaya dan reseptor biologis yang dimana
atau kegelapan terletak didalam
pada mata
sehingga tertidur hipotalamus yang
dengan lampu menyala sebagian kecil
mungkin bukan hal berbentuk seperti
terbaik untuk tidur yang tetesan air dari
nyenyak. Dimana Informasi diterima kumpulan sel-sel yang
cahaya yang ada pada sel-sel SCN saraf disebut Suprachiamatic
saat kita tidur akan di hipotalamus Nucleus (SCN)(Carole,
menghambat dan 2008).
menurunkan produksi
melatonin di dalam otak dan tubuh
darah serta
merespon dan
menghambat
mekanisme irama beradaptasi
sirkadian (jam biologi) (terjaga pada
(Prasadja,2009) malam hari)

Menurunnya
Menurut
Melatonin memainkan produksi hormon Rafknowledge,2004,
peranan untuk menjaga melatonin dampak fisiologi dan
waktu biologis yang
pisikologi yang muncul
sesuai siklus terang-
akibat buruknya kualitas
gelap Tidur menjadi tidur meliputi penurnan
(Haimov,Lavie,1996
kurang nyenyak aktivitas tubuh, stress
;Lewy dkk,
depresi dan kecemas.
1992)(Carole, 2008).
Sehingga hal pertama
yang terimbas adalah
Kualitas tidur masalah ingatan dan
yang buruk konsenterasi. Misalnya
kesulitan menemukan
suatu kata atau untuk
suatu yang sedang
 Konsenterasi dipikirkan (Andriani,
belajar 2015).

Skema 2.2 Kerangka Teori


53

C. Kerangka Konsep

Yang dimaksud kerangka konsep penelitian adalah suatu uraian

atau visualisasi hubungan atau kaitan antara konsep terhadap konsep

yang lainnya, atau antara variabel yang satu dengan variabel lain dari

masalah yang ingin di teliti.

Konsep adalah suatu abstarksi yang dibentuk untuk

menggeneralisasikan suatu pengertian. Oleh sebab itu, konsep tidak

dapt diukur dan diamati secara langsung. Agar konsep dapat di amati

dan ukur, maka konsep tersebut harus dijabarkan ke dalam variabel.

Dari variabel itulah konsep dapat diamati dan diukur (Notoatmodjo,2012).

Variabel Independent Variabel Dependent

Kualitas Tidur:

 Baik
 Buruk

Penggunaan Lampu saat Tidur: Konsenterasi Belajar:


N
 Mati  Baik
 Menyala  Kurang Baik

Skema 2.3 Kerangka Konsep

N
54

D. Hipotesis Penelitaian

Hipotresis adalah jawaban sementara dari pertanyaan sementara

dari pertanyaan penelitian. Biasanya hipotesis ini dirumuskan dalam

bentuk hubungan antara variabel, variabel bebas dan variabel terkait.

Hipotesi berfungsi untuk menentukan kearah pembuktian., artinya

hipotesis ini merupakan pernyataan yang harus dibuktikan (Notoatmodjo,

2012) .

Hipotesis yang digunakan dalam penelitaian ini adalah:

1. Hipotesis Alternatif (Ha)

Ha : Ada hubungan antara penggunaan lampu saat tidur

terhadap kulitas tidur pada mahasiswa tingkat I,II dan III strata-1 ilmu

Keperawatan di Universitas Muhammadiyah Kalimanatan Timur.

Ha : Ada hubungan antara kualitas tidur terhadap konsentrasi

belajar pada mahasiswa tingkat I,II dan III strata-1 ilmu Keperawatan

di Universitas Muhammadiyah Kalimanatan Timur.

Ha : Ada hubungan penggunaan lampu saat tidur terhadap

konsentrasi belajar pada mahasiswa tingkat I,II dan III strata-1 ilmu

Keperawatan di Universitas Muhammadiyah Kalimanatan Timur

2. Hipotesis Nol (H0)

H0 : Tidak ada hubungan antara penggunaan lampu saat tidur

terhadap kualitas tidur pada mahasiswa tingkat I,II dan III strata-1

ilmu Keperawatan di Universitas Muhammadiyah Kalimanatan Timur.


55

H0 : Tidak ada hubungan antara kualitas tidur terhadap

konsentrasi belajar pada mahasiswa tingkat I,II dan III strata-1 ilmu

Keperawatan di Universitas Muhammadiyah Kalimanatan Timur.

H0 : Tidak ada hubungan penggunaan lampu saat tidur

terhadap konsentrasi belajar pada mahasiswa tingkat I,II dan III

strata-1 ilmu Keperawatan di Universitas Muhammadiyah

Kalimanatan Timur