Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Obat merupakan sebuah substansi yang diberikan kepada manusia atau binatang
sebagai perawatan atau pengobatan, bahkan pencegahan terhadap berbagai gangguan
yang terjadi di dalam tubuhnya. Ada banyak macam banyak obat yang bisa kita gunakan
yaitu diantaranya adalah tablet. Tablet adalah bagian dari obat per oral yang
pemberiannya harus mempertimbangkan keadaan saluran cerna.
Cara pembuatan tablet yaitu cetak langsung dan granulasi. Cetak langsung adalah
pencetakan bahan obat/campuran bahan obat-bahan pembantu menjadi tablet tanpa proses
pengolahan awal. Sedangkan granulasi adalah proses pembuatan butiran/agregat asimetris
yang melekat bersama dengan partikel-pertikel serbuk. Granulasi ada 2 yaitu granulasi
pembentukan dan granulasi perusakan. Granulasi pembentukan terdiri dari granulasi dalam tong
pernggranul, granulasi panci, granulasi dalam piring penggranul, granulasi lapisan berputar,
granulasi pengering sembur, granulasi pembeku sembur, dan granulasi campuran. Granulasi
perusakan meliputi granulasi basah, granulasi kering dan granulasi termoplast. Pada pratikum ini
yang digunakan adalah granulasi basah. Prinsip pembuatan granulat ada 3 yaitu pertama,
granulat cetakan, masa lembab ditekan melalu ayakan, kedua granulat guncangan, melewatkan
masa lembab melalui ayakan yang diguncang, ketiga granulat piring berlubang, bahan yang telah
digranul ditekan melalui piringan yang berlubang. Dimana persyaratan granul basah antara lain
zat aktifnya tidak tahan panas, daya alir zat aktif buruk, daya lekat zat aktif buruk dan variasi
ukuran partikel zat aktif besar. Tujuan dilakukan granualasi adalah megubah ukuran ukuran
partikel serbuk, meningkatkan daya alir serbuk, dan meningkatkan daya lekat serbuk untuk
proses tabletasi menjadi mudah.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apakah pengertian tablet
2. Apa saja keuntungan dan kerugian tablet

1.3 TUJUAN PRATIKUM


Untuk mengetahui pengaruh waktu pengeringan terhadap sifat fisik granul.
BAB II

TINJAUN PUSTAKA

2.1 TEORI DASAR TABLET

a. Pengertian tablet

Tablet (Menurut FI III)


Tablet adalah sediaan padat kompak, di buat dengan cara kempa cetak, dalam
bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaan rata atau cembung, mengandung
satu jenis obat atau lebih pengembang, zat pengikat, zat pelicin, zat pembasah atau zat
yang lain yang cocok.

Tablet (Menurut FI IV)


Tablet adalah sediaaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa
bahan pengisi. Berdasarkan metode pembuatan dapat digolongkan sebagai tablet cetak
dan tablet kempa. Tablet merupakan bentuk sediaan farmasi yang paling banyak
tantangannya didalam mendisain dan membuatnya. Misalnya kesukaran untuk
memperoleh bioavalabilitas penuh dan dapat dipercaya dari obat yang sukar dibasahi
dan melarutkannya lambat, begitu juga kesukaran utuk mendapat kekompakan kohesi
yang baik dari zat amorf atau gumpalan. Namun demikian, walaupun obat tersebut
baik kempanya, melarutnya, dan tidak mempunyai masalah biovailabilitas, mendesain
dan memproduksi obat itu masih penuh tantangan, sebab masih banyka tujuan
bersaing dari bentuk sediaan ini.

Tablet (Menurut IMO)


Tablet adalah sediaan padat dibuat secara kempa cetak berbentuk rata atau cembung
rangkap, atau umunya bulat mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa
bahan tambahan.

b. Syarat tablet yang baik

1. Cukup kuat dan resisten terhadap gesekan selama proses pembuatan,


pengemasan transportasi dan sewaktu di tangan konsumen. Sifat ini diuji
dengan kekarasan dan uji fribilitas.
2. Zat aktif dalam tablet hasus dapat tersedia dalam tubuh. Sifat ini dilihat dari
uji waktu hancur dan uji disolusi.
3. Tablet harus mempunyai keseragaman bobot dan keseragaman kandungan
(untuk zat aktif kurang dari 50 ml). Parameter ini diuji dengan variasi bobot
dan uji keseragaman kandungan.
4. Tablet berpenampilan baik dan mempunyai karaktristik warna, bentuk dan
tanda lain yang menunjukan identitas produk.
5. Tablet harus menunjukan stabilitaas fisik dan kimia serta efekasi yang
konsisten.

c. Komponen tablet
1) Zat aktif
Kebanyakan zat aktif tidak dapat dikempa langsung menjadi tablet karena
tidak punya daya ikat yang cukup yang perlu untuk membuat suatu tablet,
disamping itu tidak semua zat aktif mempunyai sifat alir yang baik.
Zat aktif dalam pembuatan tablet dapat dibagi dua :
a. Zat aktif yang tidak larut, dimaksudkan untuk memberikan efek
local pada saluran cerna, misalnya adsorben untuk tukak lambung
(notrit).
b. Zat aktif yang larut, dimaksudkan untuk memberikan efek sistemik
setelah terdisolusi dalam cairan saluran cerna kemuadian
diabsorbsi, terhahadap zak aktif yang harus diperhatikan
formulasinya, desain, bentuk dan manufaktur untuk mengahasilkan
tablet yang diinginkan. Sifat kelarutannya merupakan dasar untuk
memformulasi dan mendesain produk yang efektif.
2) Zat tambahan
Eksipien atau zat tambahan adalah zat inert yang tidak aktif secara
farmakologi berfungsi sebagai zat pembantu dalam formulasi tablet untuk
membentuk tablet dan untuk mempermudah teknik pembuatan tablet. Dalam
pemilihan bahan tambahan untuk pembuatan tablet harus diperhatikan sifat
fisika dan sifat kimianya, begitu juga dengan stabilitas dan zat tambahan yang
digunakan.
Bahan tambahan tablet antara lain adalah :
1. Zat pengisi, zat inert secara farmakologi yang dapat ditambahkan dalam
sebuah formulasi tablet untuk penyesuain bobot dan ukuran tablet sesuai
dengan yang ditetapkan, jika jumlah bahan aktif kecil, juga untuk
mempermudah pembuatan tablet walaupun pengisi adalah zat yang inert
secara farmakologi, zat tersebut masih dapat mempengaruhi sifat fisika,
kimia dan biofarmasi dari sediaan tablet.
2. Bahan pegikat, adalah zat inert secara farmakologi yang ditambahkan
kedalam formluasi tablet untuk meningkatkan kohesifitas antara partikel-
partikel serbuk dalam masa tablet yang diperlukan untuk pembentukna
granul dan kemudian untuk pembentukan massa menjadi kompak dan
padat yang disebut tablet, pengikat dapat di bagi 2 yaitu :
a. Pengikat kering (binder), pengikat kering ditambahkan kedalam massa
kering. Contoh, bahan kering yang sering digunakan :
- Acasia 2-5 %
- Derivad selulosa 1-5 %
- Sukrosa 2-25 %
b. Pengikat basah (adhesive), ditambahkan dalam bentuk larutan atau
suspensi, contoh pengikat basah yang sering digunakan :
- Derivat selulosa 1-5 %
- Gelatin 1-5 %
- Pasta amylum 1-5 %
- Natrium alginat 2-5 %
3. Bahan penhancur, zat inert secara farmakologi yang ditambahkan pada
massa untk membantu mempercepat waktu hancur tablet dalam saluran
cerna, zat disentegran dapat ditambahkan sebagai fasa dalam yang disebut
sebagai bahan internal dan sebagai fasa luar yang disebut bahan eksternal.
Mekanisme kerja dari bahan pengahancur adalah :
- Jika kontak dengan air akan mengembang sehingga volume
membesar dan akhirnya pecah, contoh golongan selulosa.
- Memecah ikatan partikel tablet sehingga akan pecah.
- Membetuk kapiler, contoh : golongan amilum dana selulosa.
- Membentuk gas contoh : asam sitrat dan bikarbonar.
- Membentuk lelehan, contoh : oleum cacao
- Penghancur akan melarut, contoh : penghancur dalam memecah
granul menjadi partikel.
- Bersama dengan pelincir, penghancuran luar untuk memecah tablet
menjadi granul.

Zat tambahan atau eksipiens harus memenuhi persayaratan dibawah


(menurut farmakope indonesia )

1. Tidak boleh berbahaya dalam jumlah yang digunakan


2. Tidak melebihi jumlah minimum yang diperlukan untuk
memberikan efek yang diharka.
3. Tidak mengurangi ketersediaan hayati
4. Tidak mengurangi efek terapi
5. Tidak mengurangi keamanan sediaan
6. Tidak boleh menggangu dalam pengujian dan penetapan kadar.

2.2 KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN SEDIAAN TABLET

KEUNTUNGAN SEDIAN TABLET


1. Tablet di pasaran mudah di berikan dalam dosis yang tepat jika di inginkan
dosis dapat dibagi rata dan akan memberikan epek yang akurat.
2. Tablet tidak mengandung alcohol
3. Tablet dibuat dalam berbagai dosis
4. Sifat alamiah dari talblet adalah tidak dapat dipisahkan, kualitas bagus, dapat
dibawa kemana-mana, bentuknya kompak, fleksibel dan mudah
pemberiannya.
5. Secara umum, bentuk pengobatan dengan menggunakan tablet lebih di sukai
karna bersih, praktis dan episien.
6. Tablet merupakan bentuk sediaan yang utuh dan menawarkan kemampuan
yang terbaik dari semua bentuk sediaan oral untuk ketetapan ukuran serta
variebelitas kandungan yang paling lemah.
7. Tablet merupakan bentuk sediaan yang okosnya pembuatannya paling rendah.
8. Tablet paling mudah ditelan dan paling kecil kemungkinan tertinggal
ditenggorokan, terutama bila tersalut yang memungkinkan pecah/hancurnya
tablet tidak segera terjadi.
9. Tablet bisa dijadikan produk dengan profil pelepasan khusus, seperti
pelepasan di usus atau produk lepas lambat.
10. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang paling mudah untuk diproduksi
secara besar-besaran .

KERUGIAN SEDIAAN TABLET


1. Ada orang tertentu yang tidak bisa menelan tablet(dalam keadaan tidak
sadar/pingsan).
2. Formulasi tablet cukup rumit antra lain:
 Beberapa zat aktif sulit dikempa menjadi kompak padat karna sifat
amorfnya, flokulasi, atau rendahnya berat jenis.
 Zat aktif yang sulit terbasahi (hidroforb), lambat melarut, dosisnya
cukup besar atau tinggi, absorbsi optimumnya tinggi melalui saluran
cerna, atau kombinasi dari sifat tersebut, akan sulit untuk diformulasi
(harus diformulasi sedemikian rupa).
 Zat aktif yang rasanya tidak enak, atau bau yang tidak disenangi atau
zat aktif yang peka terahadap oksigen, atmosfer, dan kemlembapan
udara memerlukan menkapsulasi sebelum dikempa. Dalam hal ini
sediaan kapsul menjadi lebih baik dari pada tablet.

2.3 METODE PEMBUATAN

1. Metode Granulasi Basah


Granulasi basah yaitu memproses campuran partikel zat aktif dan ekspien
menjadi partikel yang lebih besar dengan menambahkan cairan dalam jumlah yang
tepat sehingga terjadi masa lembap yang digranulasi. Metodse ini biasa digunakan
apabila zat aktif tahan terhadap lembap dan panas. Umumnya untuk zat aktif yang
sulit dicetak langsung karena sifat aliran dan konpresibilitasnya tidak baik. Prinsip
dari granulasi basah adalah membasahi granulasi tablet dengan larutan pengikat
tertentu sampai mendapat tingkat kebasahan tertentu pula, kemudian masa basah
tersebut digranulasi.

Metode ini membentu granul dengan cara meningkat serbuk dengan suatu
perekat sebagai pengganti pengompakan, tehnik ini membutuhkan larutan, suspensi
atau bubur yang mengandung pengikat yang biasanya ditambahkan ke campuran
serbuk atau dapat juga bahan tersebut dimasukan kering ke dalam campuran serbuk
dan cairan dimasukan terpisah. Cairan yang ditambahkan memiliki peranan yang
cukup penting dimana jembatan cair yang terbentuk di antara partikel dan kekuatan
ikantannya akan meningkat bila jumlah cairan yang ditambahkan meningkat, gaya
tegangan permukaan dan tekanan kapiler paling penting pada awal pembentukan
granul, bila cairan sudah ditambahkan pencampuran dilanjutkan sampai tercapai
dispersi yang merata dan semua bahan pengikat sudah bekerja, jika sudah diproleh
masa basah atau lembap, maka masa di lewatkan pada ayakan dan diberi tekenan
dengan alat penggiling atau oscillating granulator tujuannya agar terbentuk granul
sehingga permukaan meningkat dan proses pengeringan lebih cepat, setelah
pengeringan granul di ayak kembali ukuran ayakan tergantung pada alat penghancur
yang digunakan dan ukuran tablet yang akan dibuat.

Keuntungan Granulasi basah:


 Memperoleh aliran yang baik
 Meningkatkan kompresibilitas
 Untuk mendapatkan berat jenis yang sesuai
 Mengontrol perlepasan
 Mencegah pemisahan komponen campuran selama proses
 Distribusi keseragaman kandungan
 Meningkatkan kecepatan disolusi

Kekurangan metode granulasi basah:

 Banyak tahap dalam proses produk yang harus di validasi


 Biaya cukup tinggi
 Zat aktif yang sensitif terhadap lembab dan panas tidak dapat dikerjakan
dengan cara ini. Untuk zat tormolabil dilakukan dengan pelarut non air.
2. Granulasi Kering
Granulasi kering disebut juga slugging yaitu memproses partikel zat aktif dan
eksipen dengan mengempa bahan campuran bahan kering menjadi massa padat yang
selanjutnya dipecah lagi untuk menghasilkan partikel yang berukuran besar dari
serbuk semula (granul). Prinsip dari metode ini adalah membuat granul secara
mekanis tanpa bantuan bahan pengikat dan pelarut, ikatannya didapat melalui gaya.
Tehnik ini yang cukup baik, digunakan untuk zat aktif yang memiliki dosis efektif
yang terlalu tinggi untuk dikempa langsung atau zat aktif yang sensitif terhadap
pemanasan dan kelembapan.
Pada proses ini kompenen-komponen tablet dikempakan dengan mesin cetak
tablet lalu ditekan kedalam die dan kompakan dengan punch sehingga diproleh masa
yang disebut slug, proses tersebut slugging, pada proses selanjutnya slug kemudian di
ayak dan diaduk untuk mendapatkan granul yang daya mengalirnya lebih baek dari
campuran awal bila selug belum memuaskan maka proses diatas dapat diulang dalam
jumlah besar granulasi.

Granulasi dapat juga dilakukan pada mesin khusus yang disebut rollar
compactor yang memiliki kemampuan memuat bahan hingga 500 kg, rollar
compactor memakai dua penggiling yang putarannya saling berlawanan satu dengan
yang lainnya, dan dengan bantuan tekhnik hidrolik pada salah satu penggiling mesin
ini mampu menghasilkan tekanan tertentu pada bahan serbuk yang mengalir diantara
penggiling.
Metode ini digunakan dalam kondisi-kondisi sebagai berikut:
 Kandungan zat aktif dalam tablet sangat tinggi
 Zat aktif susah mengalir
 Zat aktit sensitif terhadap panas dan lembap

Keuntungan cara granulasi kering:

 Peralatan lebih sedikit karna tidak menggunakan larutan pengikat,


mesin pengaduk berat dan pengeringan yang memakan waktu.
 Baik untuk zat aktif yang sensitif terhadap panas dan lembap.
 Mempercepat waktu hancur karena tidak terikat oleh pengikat.

Kekurangan cara granulasi kering:

 Memerlukan mesin tablet khusus untuk membuat slug.


 Tidak dapat mendistribusikan warna yang seragam.
 Proses dapat menghasilkan debu sehingga memungkinan
terjadinya kontaminasi silang.

3. Metode Kempa Langsung


Metode kempa langsung yaitu pembuatan tablet dengan mengempa langsung
campuran zat aktif dan eksipien kering tampa melalui perlakuan awal terlebih dahulu.
Metode ini merupakan metode yang paling mudah, praktis dan mudah pengerjaannya,
namun hanya dapat digunakan dalam kondisi zat aktif yang lebih kecil dosisnyaj,
serta zat aktif tersebut tidak tahan terhadap panas dan lembap. Ada beberapa zat
berbentuk kristal seperti Nacl, Nabr dan KCL, yang mungkin langsung dikempa
selain itu zat aktif tunggal yang langsung dikempa dan dijadikan tablet kebanyakan
sulit pecah ketika kena air (cairan tubuh). Secara umum sifat zat aktif yang cocok
untuk kempa langsung adalah alirannya baik, kompresibilitasnya baik, bentuk kristal
dan mampu menciptakan adhesifitas dan kohesifitas dalam masa tablet.
Keuntungan metode kempa langsung yaitu :
 Lebih ekonomi karena validasi proses lebih sedikit.
 Lebih singkat prosesnya. Karena proses yang dilakukan lebih sedikit, maka
waktu yang diperlukan untuk menggunakan metode ini lebih singkat, tenaga
dan mesin yang dipergunakan juga lebih sedikit.
 Dapat digunakan untuk zat aktif yang tidak tahan panas dan tidak tahan
lembap.
 Waktu hancur dan disolusinya lebih baek karena tidak melewati proses granul
tetapi langsung menjadi partikel. Tablet kempa langsung berisi partikel halus
sehingga tidak melalui proses dari granul halus terlebih dahulu.

1.4 KOMPONEN SEDIAN


a. Zat aktif
Amylum manihot

Pati singkong adalah pati yang diperoleh dari umbi akar manihot utilissima phol (
family euphorbiaceae )

Pemerin : serbuk sangat halus dan putih

Kelarutan : praktis tidak larut dalam air dingin dan etanol.

Fungsi : sebagai bahan pengisi dan bahan penghancur

Rumua molekul amylum : C12H22O11.

b. Zat pengisi
Lactosa

Laktosa (laktosum) adalah gula yang diperoleh dari susu dalam bentuk
anhidrat atau mengandung satu molekul airhidrat.

Pemrian : serbuk atau masa hablur ,keras putih atau putih krem, tidak berbau dan rasa
sedkit manis. Stabil diudara , tetapi mudah menyerap bau.

Fungsi : sebagai bahan pengisi yang digunakan untuk menambah volume/ bobot tablet
sesuai dengan yang diinginkan

Rumus molekul : C12H22O11.

c. Zat pengikat
Mucilago amylum solani
Amylum solani adalah pati yang diproleh daru umbi solanum tuberosum
(familia solanaceae).

Pemerian : serbuk hablur, warna putih, tidak berbau.

Penggunaan : Bahan tambahan sediaan obat

Bagian yang digunakan : pati yang diperoleh dari kentang

Penyimpanan : dalam wadah tutup baik

Rumus molekul amylum : C6H10O5

BAB III

BERAT FORMULASI

BAB IV

METODE PRAKTIKUM

1. Metode Granulasi Basah


Granulasi basah yaitu memproses campuran partikel zat aktif dan ekspien
menjadi partikel yang lebih besar dengan menambahkan cairan dalam jumlah yang
tepat sehingga terjadi masa lembap yang digranulasi. Metodse ini biasa digunakan
apabila zat aktif tahan terhadap lembap dan panas. Umumnya untuk zat aktif yang
sulit dicetak langsung karena sifat aliran dan konpresibilitasnya tidak baik. Prinsip
dari granulasi basah adalah membasahi granulasi tablet dengan larutan pengikat
tertentu sampai mendapat tingkat kebasahan tertentu pula, kemudian masa basah
tersebut digranulasi.

Metode ini membentu granul dengan cara meningkat serbuk dengan suatu
perekat sebagai pengganti pengompakan, tehnik ini membutuhkan larutan, suspensi
atau bubur yang mengandung pengikat yang biasanya ditambahkan ke campuran
serbuk atau dapat juga bahan tersebut dimasukan kering ke dalam campuran serbuk
dan cairan dimasukan terpisah. Cairan yang ditambahkan memiliki peranan yang
cukup penting dimana jembatan cair yang terbentuk di antara partikel dan kekuatan
ikantannya akan meningkat bila jumlah cairan yang ditambahkan meningkat, gaya
tegangan permukaan dan tekanan kapiler paling penting pada awal pembentukan
granul, bila cairan sudah ditambahkan pencampuran dilanjutkan sampai tercapai
dispersi yang merata dan semua bahan pengikat sudah bekerja, jika sudah diproleh
masa basah atau lembap, maka masa di lewatkan pada ayakan dan diberi tekenan
dengan alat penggiling atau oscillating granulator tujuannya agar terbentuk granul
sehingga permukaan meningkat dan proses pengeringan lebih cepat, setelah
pengeringan granul di ayak kembali ukuran ayakan tergantung pada alat penghancur
yang digunakan dan ukuran tablet yang akan dibuat. Perhitungan yang digunakan
adalah menghitung LOD DAN MC nya tehadap masing-masing waktu ( t ).

Rumus

LOD = Berat granul mula-mula – Brat granul kering × 100%


Berat granul mula – mula

MC = Berat granul (t50) - Berat granul (1 mgg) × 100 %


Berat granul (1 mgg)

4.1 FORMULA

R/ Sacharum Lactis 15 gram


Amylum Manihot 15 gram
Mucilago Amylum 10%

4.2 ALAT DAN BAHAN

a. Alat dan Bahan

Bahan

- Sacharum Lactis
- Mucilago Amylum (Solani dan Aquadest)
- Amylum Manihot

Alat

- Timbangan
- Timbangan Analitik
- Corong
- Batang Pengaduk
- Open
- Cawan Porselin
- Cawan Petri
- Pipet Tites
- Ayakan
- Mortir dan Stamper
- Gelas Ukur
- Kertas Buram
- Penggaris
- Statif
4.3 PENIMBANGAN

No. Nama bahan Jumlah


1 Sacharum Lactis 15 gram
2 Amylum Manihot 15 gram
3 Mucilago Manihot 10%= 2 gram /20 ml

Mucilago Amylum = 10% artinya 10 gram amylum/100 ml aquadest. Yang digunakan


adalah 2 gram amylum solani dan 20 ml aquadest.

4.4 CARA KERJA

1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.


2. Timbang semua bahan yang akan digunakan
3. Membuat mucilago dengan cara campurkan amilum solani 2gram dengan air 20ml
4. Gerus amilum manihot dan SL sampai homogen sambil di tetesi dengan mucilago
secara sedikit demi sedikit
5. Setelah ayak dengan ayakan mesh 12 sampai terbentuk butiran granul
6. Timbang cawan petri kosong
7. Masukkan granul basah ke dalam cawan petri dalam petri kosong yang telah di
timbang sebelumnya
8. Masukkan kedalam oven selama 90 menit dengan suhu 100℃
9. Setelah itu timbang granul kering di timbangan analitik
10. Setelah masukkan kedalam klip obat

4.5 EVALUASI SEDIAAN

BAB V

HASIL PENGAMATAN DAN EVALUASI

5.1 VOLUME PENGIKAT

Mucillago amylum 10% artinya 10gr/100ml. Dan yang hanya digunakan adalah 2 gram
amylum solani dan 20 ml aquadest.

Perhitungan

Volume pengikat = 20 ml – 7 ml = 13 ml

5.2 BERAT GRANUL


a. Berat granul basah

Berat petri kosong + granul basah = 101,965 gram

Berat petri kosong = 76,965 gram -

Berat granul basah = 25,000 gram

b.Berat granul kering

Berat petri kosong + granul basah = 95,928 gram

Berat petri kosong = 76,965 gram -

Berat granul kering =18,963 gram

BAB VI

PEMBAHASAN

BAB VII

KESIMPULAN

BAB VIII

8.1 FOTO SEDIAAN DAN LAMPIRAN

Gambar 1.1 Granul kering


Gambar 1.2 Granul % fines

8.2 TABEL

T10 T15 T20 T30 T45 T50 T60 T70 T90 1 mgg A 1 mgg B Granul
basah
Berat 23,977 22,01 22,404 21,85 20,61 18,963 19,177 18,360 17,712 19,547 17,406 25,000
granul(g) 6 8
Vol.pengi 13 10 15 16 14 13 13 14 15 13 13,1 -
kat(ml)
MC(%) 22,663 26,456 14,68 11,81 5,479 8,945 -1,892 5,48 1,727 - - -
2
LOD(%) 4,092 11,956 21,812 9,912 21,25 6,037 21,812 5 29,152 21,812 31,816 -

Waktu 3,3 2,984 6,2 5,27 9,94 3,212 5,412 5,434 2,826 5,656 2,18 -
alir(s)
Kecepata 4,49 7,376 0,36 4,147 2,079 5,93 3,543 3,378 6,257 3,456 7,98 -
n alir(g/s)
Sudut 46,85 6,595 19,27 36,75 25,5 32,262 24,989 8,2 22,919 33,110 18,425 6,542
diam
% fines 1,29 3,14 10,109 17,91 12,8 16,4 16,702 16 22,656 7,495 19,46 12,01
8 3
Bobot 0,57 0,52 0,56 0,56 0,46 0,486 0,618 0,47 0,621 0,420 0,56 -
ukur
Bobot 0,61 0,68 0,64 0,97 0,49 0,518 0,628 0,48 0,528 0,39 0,58 -
guncang
8.3 GRAFIK

35,000

30,000

25,000

20,000

15,000 MC
LOD
10,000

5,000

0
10' 15' 20' 30' 45' 50' 60' 70' 90' 1 1
-5,000 Mgg Mgg
A B

DAFTAR PUSTAKA

Anda mungkin juga menyukai