Anda di halaman 1dari 5

TUGAS TUTORIAL KE-3

PROGRAM STUDI MANAJEMEN

Nama Mata Kuliah : Hubungan Industrial


Kode Mata Kuliah : EKMA 4367
Jumlah sks : 2 SKS
Nama Pengembang : Evracia Turukay, SE.,M.Si
Nama Penelaah : Faridah Iriani, SE.,MM
Status Pengembangan : Baru/Revisi* (coret yang tidak sesuai)
Tahun Pengembangan : 2019
Edisi Ke- : 1

No Tugas Tutorial Skor Maksimal Sumber Tugas Tutorial


1 Carilah contoh kasus 20 Modul 5. Konflik dan
perselisihan hubungan Penyelesaian Perselisihan
industrial yang terjadi Hubungan Industrial
di Indonesia dan
Kegiatan Belajar 2. Penyelesaian
lengkapilah dengan
Perselisihan Hubungan Industrial
sumber berita yang
anda kutip.
2 Identifikasi contoh 30 Modul 5. Konflik dan
kasus yang sudah anda Penyelesaian Perselisihan
kutip, termasuk dalam Hubungan Industrial
jenis perselisihan apa?
Kegiatan Belajar 2. Penyelesaian
Berikan alasan
Perselisihan Hubungan Industrial
singkat.
3 Berdasarkan jenis 50 Modul 5. Konflik dan
perselisihan yang Penyelesaian Perselisihan
sudah anda tetapkan, Hubungan Industrial
bagaimana cara
Kegiatan Belajar 2. Penyelesaian
penyelesaian yang
Perselisihan Hubungan Industrial
sesuai dan tepat.
* coret yang tidak sesuai
JAWABAN
1. CONTOH KASUS

Buruh PT. Orson Ajukan Gugatan Ke Pengadilan Hubungan Industrial

Senin (20/02). 14 buruh PT. Orson Indonesia yang tergabung dalam Serikat
Buruh Multi Sektor Indonesia (SBMSI) – PT. Orson Indonesia mengajukan
gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Gugatan tersebut dilayangkan
terkait keputusan pihak perusahaan yang melakukan pemutusan hubungan
kerja secara sepihak. Gugatan tersebut diajukan setelah melewati berbagai
proses upaya penyelesaian perselisihan hubungan industrial.
Lebih lanjut, gugatan ini dilakukan karena pihak perusahaan bersikeras
menyatakan sikap untuk tidak melaksanakan Surat Anjuran oleh Mediator
Hubungan Industrial pada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jakarta Utara
Nomor : 6074-1.835 tertanggal 21 November 2016. Tertuang dalam anjuran
tersebut perusahaan harus membayarkan kekurangan upah dan
mempekerjakan kembali ke 14 buruh yang di-PHK. Sebelumnya, upaya
perundingan bipartit antara buruh dan pengusaha yang ditengahi oleh pihak
Mediator Hubungan Industrial Disnakertrans Jakarta Utara menemui jalan
buntu.
PHK yang dilakukan oleh pihak perusahaan PT. Orson Indonesia dilakukan
dengan alasan pelanggaran peraturan perusahaan dan alasan efisiensi.
Pelanggaran peraturan perusahaan dialamatkan kepada salah satu buruh
bernama Nikson Juventus, dan ke 13 buruh lainnya di-PHK dengan alasan
efisiensi.
“Bahwa PHK yang dilakukan pihak perusahaan tidak melalui prosedur yang
sesuai dengan Undang-Undang Ketenagakerjaan, yaitu setelah adanya
penetapan yang sudah berkekuatan hukum tetap sehingga PHK yang dilakukan
batal demi hukum”, demikian pernyataan Eny Rofiatul, Kepala Bidang
Perburuhan LBH Jakarta menanggapi kasus yang dikenakan kepada 14 buruh
PT. Orson Indonesia.
Selain itu, perusahaan mendalilkan alasan efisiensi berdasarkan kesepakatan
yang diibuat bersama serikat yang lain, bukan karena perusahaan terancam
tutup. Padahal, dalam putusan MK No. 19 tahun 2011, PHK karena efisiensi
dapat dilakukan jika perusahaan tutup permanen. PT Orson Indonesia juga
tidak membayarkan upah proses kepada 14 buruh yang di PHK sepihak sejak
Juli 2016.
Dengan adanya pengajuan gugatan ini, ke 14 buruh PT. Orson Indonesia
berharap akan ada sebuah keputusan hukum yang adil serta berkekuatan
hukum tetap sehingga mereka mendapatkan sebuah kepastian akan hak-
haknya sebagai seorang pekerja. Setelah sebelumnya upaya-upaya mediasi
tidak kunjung membuat perusahaan tergerak untuk memulihkan hak-hak para
buruh PT. Orson Indonesia yang seharusnya didapatkan akibat PHK yang
dilakukan secara melawan hukum.
“Semoga saja proses peradilan ini dapat menuai hasil yang positif demi sebuah
kepastian hukum untuk kami para buruh”, ujar Gunawan selaku Sekretaris
SBMSI – PT. Orson Indonesia.
https://www.bantuanhukum.or.id/web/buruh-pt-orson-ajukan-gugatan-ke-pengadilan-hubungan-
industrial/

2. Berdasarkan kasus diatas, disimpulkan bahwa :


Perselisihan Pemutusan Hubungan Kerja
Perselisihan Pemutusan Hubungan Kerja adalah perselisihan yang timbul karena
tidak adanya kesesuaian pendapat mengenai pengakhiran hubungan kerja yang
dilakukan oleh salah satu pihak. Contohnya; ketidaksepakatan alasan PHK dan
perbedaan hitungan pesangon.
Dalam kasus diatas terdapat keterangan yang menyatakan “Gugatan tersebut
dilayangkan terkait keputusan pihak perusahaan yang melakukan
pemutusan hubungan kerja secara sepihak”.

3. Jenis perselisihan dan cara mengatasinya


Berdasarkan Pasal 2 UU PHI, jenis-jenis hubungan industrial meliputi:
1. Perselisihan hak
Perselisihan hak adalah perselisihan yang timbul karena tidak dipenuhinya hak,
akibat adanya perbedaan pelaksanaan atau penafsiran terhadap ketentuan
peraturan perundang-undangan, perjanjian kerja, peraturan perusahaan atau
perjanjian kerja sama. Contohnya; (i) dalam Peraturan Perusahaan (“PP”),
Perjanjian Kerja Bersama (“PKB”), dan perjanjian kerja; (ii) ada kesepakatan
yang tidak dilaksanakan; dan (iii) ada ketentuan normatif tidak dilaksanakan.

2. Perselisihan Kepentingan
Perselisihan Kepentingan adalah perselisihan yang timbul dalam hubungan kerja
karena tidak adanya kesesuaian pendapat mengenai pembuatan, dan/atau
perubahan syarat-syarat kerja yang diterapkan dalam perjanjian kerja, atau PP,
atau PKB. Contohnya: kenaikan upah, transpor, uang makan, premi dana lain-
lain.

3. Perselisihan Pemutusan Hubungan Kerja


Perselisihan Pemutusan Hubungan Kerja adalah perselisihan yang timbul karena
tidak adanya kesesuaian pendapat mengenai pengakhiran hubungan kerja yang
dilakukan oleh salah satu pihak. Contohnya; ketidaksepakatan alasan PHK dan
perbedaan hitungan pesangon.

4. Perselisihan Antar Serikat Pekerja/Serikat Buruh hanya dalam satu perusahaan.


Perselisihan Antar Serikat Pekerja/Serikat Buruh adalah perselisihan antara
serikat pekerja/serikat buruh dengan serikat pekerja/serikat buruh lain hanya
dalam satu perusahaan, karena tidak adanya persesuaian paham mengenai
keanggotaan, pelaksanaan hak, dan kewajiban keserikatan pekerjaan.

Cara penyelesaian :
1. Penyelesaian perselisihan melalui konsoliasi
Penyelesaian konsiliasi dilakukan melalui seorang atau beberapa orang atau
badan yang disebut sebagai konsiliator yang wilayah kerjanya meliputi tempat
pekerja/buruh bekerja, dimana konsiliator tersebut akan menengahi pihak
yang berselisih untuk menyelesaikan perselisihannya secara damai.
Jenis Perselisihan yang dapat diselesaikan melalui konsiliasi antara lain :
untuk perselisihan kepentingan, perselisihan PHK atau perselisihan
antar serikat pekerja / serikat buruh dalam satu perusahaan.

2. Penyelesaian perselisihan melalui mediasi


Mediasi hubungan industrial adalah penyelesaian perselisihan hak,
perselisihan kepentingan, perselisihan pemutusan hubungan kerja dan
perselisihan antar serikat pekerja/serikat buruh hanya dalam satu perusahaan
melalui musyawarah yang ditengahi oleh seorang atau lebih mediator yang
netral (Pasal 1 angka 1 UU No. 2 Tahun 2004)
Proses mediasi dibantu oleh seorang mediator hubungan industrial, yang
merupakan pegawai instansi pemerintah yang bertanggung jawab di bidang
ketenagakerjaan yang memenuhi syarat – syarat sebagai mediator yang
ditetapkan oleh Menteri Tenaga Kerja.

3. Penyelesaian perselisihan melalui Pengadilan Hubungan Industrial (PHI)


Menurut pasal 56 UU No. 2 Tahun 2004, Pengadilan Hubungan Industrial
mempunyai kompetensi absolut untuk memeriksa dan memutus :
a. Ditingkat pertama mengenai perselisihan hak
b. Ditingkat pertama dan terakhir mengenai perselisihan kepentingan
c. Ditingkat pertama mengenai perselisihan pemutusan hubungan kerja
d. Ditingkat pertama dan terakhir mengenai perselisihan antar serikat
pekerja/serikat buruh dalam satu perusahaan.

Anda mungkin juga menyukai