Anda di halaman 1dari 31

PEMERINTAH KABUPATEN BENER MERIAH

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH


MUNYANG KUTE REDELONG
Jln. Sp.Teritit-Pondok Baru No. Telp/Fax.(0643) 7426252
Redelong

SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR RSUD MUNYANG KUTE REDELONG


KABUPATEN BENER MERIAH
NOMOR : 445/ /RSUD-MKR/2019

TENTANG
PEDOMAN PELAYANAN IGD
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH MUNYANG KUTE

MENIMBANG: a. bahwa dalam rangka meningkatkan pelayanan bermutu


dan berorientasi pada keselamatan pasien dan
keamanan bagi staf pemberi pelayanan baik secara
hukum maupun administratif maka Rumah Sakit Umum
Daerah Munyang Kute Redelong merasa perlu membuat
menyelenggarakan pelayanan Gawat Darurat 24 jam di
Rumah Sakit Umum Daerah Munyang Kute Redelong;
b. bahwa dalam rangka menyelenggarakan pelayanan
kegawatdaruratan yang sesuai dengan sistem
perundang-undangan yang berlaku dengan
mengutamakan mutu dan keselamatan pasien di di
rumah sakit, perlu ditetapkan pedoman pelayanan
Instalasi Gawat Darurat dirumah sakit;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a dan b, perlu ditetepkan surat
keputusan Direktur Rumah Sakit;
Mengingat:
1) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 29 tahun
2004 tentang Praktik Kedokteran;
2) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun
2009 tentang Kesehatan;
3) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun
2009 tentang Rumah Sakit;
4) Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 269/Menkes/Per/III/2008 tentang Rekam
Medis;
5) Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 2052/Menkes/Per/X/2011 tentang Izin Praktik
Kedokteran;
6) Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 47 Tahun 2018 Tentang Pelayanan
Kegawatdaruratan

MEMUTUSKAN
Menetapkan :
Pertama : KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT MUNYANG KUTE
REDELONG TENTANG PEDOMAN PELAYANAN INSTALASI
GAWAT DARURAT RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
MUNYANG KUTE REDELONG
Kedua : Kebijakan pedoman pelayanan instalasi gawat darurat
Rumah Sakit Munyang Kute Redelong sebagaimana
dimaksud dalam Diktum Kesatu sebagaimana tercantum
dalam Lampiran Keputusan ini.
Ketiga : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan apabila
dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam penetapan ini,
akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.
Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan akan dilakukan
perbaikan sebagaimana mestinya apabila di kemudian hari terdapat
kekeliruan

Ditetapkan di : Redelong
Tanggal :
Direktur Rumah Sakit Umum Daerah
Munyang Kute Redelong

dr.Sri Tabahhati,Sp.An
Nip.19710825 200504 2 001
PEDOMAN PELAYANAN
ISNTALASI GAWAT
DARURAT

KABUPATEN BENER MERIAH


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.
Pelayanan kesehatan yang bermutu adalah pelayanan kesehatan yang dapat
memuaskan setiap pemakai jasa pelayanan kesehatan sesuai dengan tingkat
kepuasan rata-rata penduduk, serta yang penyelenggaraannya sesuai dengan kode
etik dan standar pelayanan profesi yang telah ditetapkan.
Pelayanan gawat darurat merupakan pelayanan yang dapat memberikan
tindakan yang cepat dan tepat pada seorang atau kelompok orang agar dapat
meminimalkan angka kematian dan mencegah terjadinya kecacatan yang tidak
perlu. Upaya peningkatan gawat darurat ditujukan untuk menunjang pelayanan
dasar, sehingga dapat menanggulangi pasien gawat darurat baik dalam keadaan
sehari-hari maupun dalam keadaaan bencana.
Dengan semakin meningkatnya jumlah penderita gawat darurat, maka
diperlukan peningkatan pelayanan gawat darurat baik yang diselenggarakan
ditempat kejadian, selama perjalanan ke rumah sakit, maupun di rumah sakit.
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka di Instalasi Gawat Darurat perlu dibuat
standar pelayanan yang merupakan pedoman bagi semua pihak dalam tata cara
pelaksanaan pelayanan yang diberikan ke pasien pada umumnya dan pasien IGD
RSUD Munyang Kute khususnya.
Berkaitan dengan hal tersebut diatas maka, dalam melakukan pelayanan gawat
darurat di IGD harus berdasarkan standar pelayanan Gawat Darurat RSUD
Munyang Kute khususnya.

B.Ruang Lingkup
Ruang lingkup pelayanan Instalasi Gawat Darurat meliputi
1. Pasien dengan kasus True Emergency. Yaitu pasien yang tiba – tiba berada
dalam keadaan gawat darurat atau akan menjadi gawat dan terancam
nyawanya atau anggota badannya ( akan menjadi cacat) bila tidak mendapat
pertolongan secepatnya.
2. Pasien dengan kasus False Emergency. Yaitu pasien dengan:
 Keadaan gawat tetapi tidak memerlukan tindakan darurat
 Keadaan gawat tetapi tidak mengancam nyawa dan anggota
badannya.
 Keadaan tidak gawat dan tidak darurat.

B. Batasan Operasional
1. Instalasi Gawat Darurat Adalah unit pelayanan di rumah sakit yang
memberikan pelayanan pertama pada pasien dengan ancaman kematian dan
kecacatan secara terpadu dengan melibatkan berbagai multidisiplin.
2. Triage. Adalah pengelompokan korban yang berdasarkan atas berat ringannya
trauma / penyakit serta kecepatan penanganan / pemindahannya.
3. Prioritas.
Adalah penentuan mana yang harus didahulukan mengenai penanganan dan
pemindahan yang mengacu tingkat ancaman jiwa yang timbul.
4. Survey Primer Adalah deteksi cepat dan koreksi segera terhadap kondisi yang
mengancam jiwa.
5. Survey Sekunder Adalah melengkapi survei primer dengan mencari perubahan
– perubahan anatomi yang akan berkembang menjadi semakin parah dan
memperberat perubahan fungsi vital yang ada berakhir dengan mengancam
jiwa bila tidak segera diatasi.
6. Pasien Gawat darurat adalah Pasien yang tiba-tiba berada dalam keadaan
gawat atau akan menjadi gawat dan terancam nyawanya atau anggota
badannya ( akan menjadi cacat ) bila tidak mendapat pertolongan secepatnya.
7. Pasien Gawat Tidak Darurat adalah Pasien berada dalam keadaan gawat
tetapi tidak memerlukan tindakan darurat misalnya kanker stadium lanjut.
8. Pasien Darurat Tidak Gawat adalah Pasien akibat musibah yang datang tiba –
tiba tetapi tidak mengancam nyawa dan anggota badannya, misalnya luka
sayat dangkal.
9. Pasien Tidak Gawat Tidak Darurat. Misalnya pasien dengan ulcus tropium ,
TBC kulit , dan sebagainya.
10. Kecelakaan ( Accident ) adalah Suatu kejadian dimana terjadi interaksi
berbagai faktor yang datangnya mendadak, tidak dikehendaki sehingga
menimbulkan cedera fisik, mental dan sosial.
Kecelakaan dan cedera dapat diklasifikasikan menurut :
a. Tempat kejadian :
i. Kecelakaan lalu lintas.
ii. Kecelakaan di lingkungan rumah tangga.
iii. Kecelakaan di lingkungan pekerjaan.
iv. Kecelakaan di sekolah.
v. Kecelakaan di tempat – tempat umum lain seperti halnya : tempat
rekreasi, perbelanjaan, di area olah raga, dan lain – lain.
b. Mekanisme kejadian: Tertumbuk, jatuh, terpotong, tercekik oleh benda
asing, tersengat, terbakar baik karena efek kimia, fisik maupun listrik atau
radiasi.
c. Waktu kejadian
1. Waktu perjalanan ( travelling / transport time )
2. Waktu bekerja, waktu sekolah, waktu bermain dan lain – lain.

11. Cidera.
Masalah kesehatan yang didapat / dialami sebagai akibat kecelakaan.
12. Bencana.
Peristiwa atau rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam dan atau
manusia yang mengakibatkan korban dan penderitaaan manusia, kerugian harta
benda, kerusakan lingkungan, kerusakan sarana dan prasarana umum serta
menimbulkan gangguan terhadap tata kehidupan masyarakat dan pembangunan
nasional yang memerlukan pertolongan dan bantuan.
Kematian dapat terjadi bila seseorang mengalami kerusakan atau kegagalan
dari salah satu system / organ di bawah ini, yaitu :
A. Susunan saraf pusat.
B. Pernafasan.
C. Kardiovaskuler.
D. Hati.
E. Ginjal.
F. Pancreas.
Kegagalan ( kerusakan ) System / organ tersebut dapat disebabkan oleh :
1. Trauma / cedera,
2. Infeksi,
3. Keracunan ( poisoning ),
4. Degerenerasi ( failure),
5. Asfiksi,
6. Kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah besar ( excessive loss of water
and electrolit ),
7. Dan lain-lain.
Kegagalan sistim susunan saraf pusat, kardiovaskuler, pernafasan dan hipoglikemia
dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat ( 4 – 6 ), sedangkan kegagalan
sistim/organ yang lain dapat menyebabkan kematian dalam waktu yang lama.
Dengan demikian keberhasilan Penanggulangan Penderita Gawat Darurat (PPGD)
dalam mencegah kematian dan cacat ditentukan oleh :
1. Kecepatan menemukan penderita gawat darurat.
2. Kecepatan meminta pertolongan.
3. Kecepatan dan kualitas pertolongan yang diberikan.
4. Ditempat kejadian.
5. Dalam perjalanan ke rumah sakit.
6. Pertolongan selanjutnya secara mantap di rumah sakit.

D. Landasan Hukum :
1. Undang – undang No 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan
2. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No 436 / Menkes / SK / VI / 1993
tentang berlakunya Standar Pelayanan di Rumah Sakit
3. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No 0701 / YANMED / RSKS / GDE / VII
/ 1991 Tentang Pedoman Pelayanan Gawat Darurat
4. Undang – undang No 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran
5. Undang – undang No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen

BAB 2
STANDAR KETENAGAAN.
A. Kualifikasi SDM.
1. Pola ketenagaan dan kualifikasi SDM IGD adalah :

Kualifikasi
Nomor Nama Jabatan Formal Keterangan

As Men Pelayanan SKp / SKM / Bersertifikat


1 Keperawatan Setingkat BLS/BTCLS/PPGD

D III Bersertifikat
2 Ka Ru IGD Keperawatan BLS/BTCLS/PPGD

Ka Instalasi Gawat Bersertifikat ACLS/ATLS


3 Darurat Dokter Umum

D III Bersertifikat
4 Perawat Pelaksana IGD Keperawatan BLS/BTCLS/PPGD

Bersertifikat ACLS/ATLS
5 Dokter IGD Dokter Umum


6 TPK SMU

B. Distribusi Ketenagaan
Pola pengaturan ketenagaan Instalasi Gawat Darurat yaitu :
1. Untuk Dinas Pagi :
Petugas yang berdinas pagi terdiri dari petugas shift dan petugas Administrasi
serta Kepala Ruangan dengan rincian sebagai berikut:
1) yang bertugas sejumlah 4 ( Empat ) orang dengan standar minimal
bersertifikat BTCLS.
2) Petugas Administrasi berjumlah dua orang dengan persyaratan pendidikan
minimal SMA.
3) Kepala Ruangan
2. Untuk Dinas Sore :yang bertugas sejumlah 4 ( Empat ) orang dengan standar
minimal bersertifikat BTCLS.
Kategori :
- 1 orang Penanggung Jawab Shift.
- 3 orang Pelaksana.
3. Untuk Dinas Malam : yang bertugas sejumlah 4 (Empat) orang dengan standar
minimal bersertifikat BLS.
Kategori :
- 1 orang Penanggung Jawab Shift.
- 3 orang Pelaksana

Pengaturan Jaga.
1. Pengaturan Jaga Perawat IGD.
 Pengaturan jadwal dinas perawat IGD dibuat dan di pertanggung jawabkan
oleh Kepala Ruang (Karu) IGD dan disetujui oleh Kasie Pengendalian
Instalasi.
 Jadwal dinas dibuat untuk jangka waktu satu bulan dan direalisasikan ke
perawat pelaksana IGD setiap satu bulan..
 Setiap tugas jaga / shift harus ada perawat penanggung jawab shift ( PJ
Shift) dengan syarat pendidikan minimal D III Keperawatan dan masa kerja
minimal 2 tahun, serta memiliki sertifikat tentang kegawat daruratan.
 Jadwal dinas terbagi atas dinas pagi, dinas sore, dinas malam, lepas
malam, libur dan cuti selama dua hari.
 Apabila ada tenaga perawat jaga karena sesuatu hal sehingga tidak dapat
jaga sesuai jadwal yang telah ditetapkan ( terencana ), maka perawat yang
bersangkutan harus memberitahu Karu IGD : 2 jam sebelum dinas pagi, 4
jam sebelum dinas sore atau dinas malam. Sebelum memberitahu Karu
IGD, diharapkan perawat yang bersangkutan sudah mencari perawat
pengganti, Apabila perawat yang bersangkutan tidak mendapatkan perawat
pengganti, maka KaRu IGD akan mencari tenaga perawat pengganti yaitu
perawat yang hari itu libur atau perawat IGD yang tinggal di dekat rumah
sakit.
 Apabila ada tenaga perawat tiba – tiba tidak dapat jaga sesuai jadwal yang
telah ditetapkan ( tidak terencana ), maka KaRu IGD akan mencari perawat
pengganti yang hari itu libur atau perawat IGD yang tinggal di dekat rumah
sakit. Apabila perawat pengganti tidak di dapatkan, maka perawat yang
dinas pada shift sebelumnya wajib untuk menggantikan.(Prosedur
pengaturan jadwal dinas perawat IGD sesuai SOP terlampir).

2. Pengaturan Jaga Dokter IGD


 Pengaturan jadwal dokter jaga IGD menjadi tanggung jawab Koordinator
dokter IGD dan disetujui oleh Kasie Pelayanan Medik.
 Jadwal dokter jaga IGD dibuat untuk jangka waktu 1 bulan serta sudah
diedarkan ke unit terkait dan dokter jaga yang bersangkutan 1 minggu
sebelum jaga di mulai.
 Apabila dokter jaga IGD karena sesuatu hal sehingga tidak dapat jaga
sesuai dengan jadwal yang telah di tetapkan maka :
A. Untuk yang terencana, dokter yang bersangkutan harus
menginformasikan ke Koordinator paling lambat 3 hari sebelum tanggal
jaga, serta dokter tersebut wajib menunjuk dokter jaga
B. Untuk yang tidak terencana, dokter yang bersangkutan harus
menginformasikan ke Koordinator dan di harapkan dokter tersebut
sudah menunjuk dokter jaga pengganti, apabila dokter jaga pengganti
tidak didapatkan, maka Ka Instalasi Gawat Darurat wajib untuk
mencarikan dokter jaga pengganti, yaitu digantikan oleh dokter jaga
yang pada saat itu libur atau dirangkap oleh dokter jaga ruangan.
Apabila dokter jaga pengganti tidak di dapatkan maka dokter jaga shift
sebelumnya wajib untuk menggantikan.( Prosedur pengaturan jadwal
jaga dokter IGD sesuai SOP terlampir).
C. Untuk yang tidak terencana, dokter yang bersangkutan harus
menginformasikan ke Koordinator dan di harapkan dokter tersebut
sudah menunjuk dokter jaga pengganti, apabila dokter jaga pengganti
tidak didapatkan, maka Ka Instalasi Gawat Darurat wajib untuk
mencarikan dokter jaga pengganti, yaitu digantikan oleh dokter jaga
yang pada saat itu libur atau dirangkap oleh dokter jaga ruangan.
Apabila dokter jaga pengganti tidak di dapatkan maka dokter jaga shift
sebelumnya wajib untuk menggantikan.( Prosedur pengaturan jadwal
jaga dokter IGD sesuai SOP terlampir).

III. Pengaturan Jadwal Dokter Konsulen


 Pengaturan jadwal jaga dokter konsulen menjadi tanggung jawab Kepala
Bidang Pelayanan Medik setelah berkoordinasi dengan masing-masing
Kelompok Staf Medik.
 Jadwal jaga dokter konsulen dibuat untuk jangka waktu 3 bulan serta sudah
diedarkan ke unit terkait dan dokter konsulen yang bersangkutan 1 minggu
sebelum jaga di mulai.
 Apabila dokter konsulen jaga karena sesuatu hal sehingga tidak dapat jaga
sesuai dengan jadwal yang telah di tetapkan maka :
 Untuk yang terencana, dokter yang bersangkutan harus menginformasikan
ke Kabid Pelayanan atau ke petugas sekretariat paling lambat 3 hari
sebelum tanggal jaga, serta dokter tersebut wajib menunjuk dokter jaga
konsulen pengganti.
 Untuk yang tidak terencana, dokter yang bersangkutan harus
menginformasikan ke Kabid Pelayanan atau ke petugas sekretariat dan di
harapkan dokter tersebut sudah menunjuk dokter jaga konsulen pengganti,
apabila dokter jaga pengganti tidak didapatkan, maka Manager Pelayanan
wajib untuk mencarikan dokter jaga konsulen pengganti.( Prosedur
pengaturan jadwal jaga dokter konsulen sesuai SOP terlampir).

BAB III
STANDAR FASILITAS.

A. Standar Fasilitas
1. Fasilitas & Sarana.
IGD RSUD Munyang Kute berlokasi di lantai I gedung utama yang terdiri dari
ruangan Triase, ruang resusitasi , ruang tindakan bedah , ruangan tindakan non
bedah dan ruangan observasi.
Ruangan resusitasi terdiri dari 1 ( satu ) tempat tidur , ruangan tindakan bedah
terdiri dari satu (1 ) tempat tidur, ruangan tindakan non bedah terdiri dari 2 ( dua
) tempat tidur, ruangan observasi terdiri dari 2 ( dua ) tempat tidur.
2. Peralatan.
Peralatan yang tersedia di IGD mengacu kepada buku pedoman pelayanan
Gawat Darurat Departermen Kesehatan RI untuk penunjang kegiatan pelayanan
terhadap pasien Gawat darurat.
3. Alat yang harus tersedia adalah bersifat life saving untuk kasus kegawatan
jantung seperti monitor dan defribrilator.
Alat – alat untuk ruang resusitasi :
1. Mesin suction ( 1 set ),
2. Oxigen lengkap dengan flowmeter ( 1 set ),
3. Laringoskope anak & dewasa ( 1 set ),
4. Spuit semua ukuran ( masing – masing 10 buah ).
5. Oropharingeal air way ( sesuai kebutuhan ).
6. Infus set / transfusi set ( 5 / 5 buah ).
7. Brandcard fungsional diatur posisi trendelenberg, ada gantungan infus &
penghalang ( 1 buah ).
8. Gunting besar (1 buah ).
9. Defribrilator ( 1 buah ).
10. Monitor EKG ( 1 buah ).
11. Trolly Emergency yang berisi alat – alat untuk melakukan resusitasi ( 1 buah ).
12. Papan resusitasi ( 1 buah ).
13. Ambu bag ( 1 buah ).
14. Stetoskop ( 1 buah ).
15. Tensi meter ( 1 buah ).
16. Thermometer ( 1 buah ).
17. Tiang Infus ( 1 buah ).

Alat – alat untuk ruang tindakan bedah.


1. Bidai segala ukuran untuk tungkai, lengan, leher, tulang punggung (1 set ).
2. Verban segala ukuran :
 4 x 5 em ( 5 buah ),
 4 x10 em ( 5 buah ).
3. Vena seksi set ( 1 set ).
4. Extraksi kuku set ( 2 set ).
5. Hecting set ( 5 set ).
6. Benang – benang / jarum segala jenis dan ukuran:
 Cat gut 2/0 dan 3/0 ( 1 buah ),
 Silk Black 2/0 ( 1 buah ), 3/0 ( 1 buah ),
 Jarum ( 1 set ).
7. Lampu sorot ( 1 buah ).
8. Kassa ( 1 tromel ).
9. Cirkumsisi set ( 1 set ).
10. Ganti verban set ( 3 set ).
11. Stomach tube / NGT :
 Nomer 12 ( 3 buah );
 Nomer 16 ( 3 buah );
 Nomer 18 ( 2 buah )..
12. Spekulum hidung ( 2 buah ).
13. Spuit sesuai kebutuhan :
 5 cc ( 5 buah ),
 2.5 cc ( 5 buah ).
14. Infus set ( 1 buah ).
15. Dower Catheter segala ukuran : – Nomer 16 ( 2 buah ),- Nomer 18 ( 2 buah ).
16. Emergency lamp ( 1 buah ).
17. Stetoskop ( 1 buah )
18. Tensimeter ( 1 buah )
19. Thermometer ( 1 buah )
20. Elastis verban sesuai kebutuhan :- 6 inchi ( 1 buah ),- 4 inchi ( 2 buah ),- 3 inchi
( 1 buah ).
21. Tiang infus ( 2 buah )

Alat – alat untuk ruang tindakan non bedah :


9. Stomach tube / NGT : – Nomer 16 ( 2 buah ),- Nomer 18 ( 2 buah ),- Nomer 12 (
3 buah ).
10. Urine bag ( 3 buah ).
11. Otoscope ( 1 buah )
12. Nebulizer ( 1 buah )
13. Mesin EKG ( 1 buah )
14. Infus set ( 1 buah )
15. IV catheter semua nomer ( 1 set )
16. Spuit sesuai kebutuhan :
 1 cc ( 5 buah ),
 2.5 cc ( 5 buah ),
 5 cc ( 5 buah ),
 10 cc ( 5 buah ),
 20 cc ( 3 buah ),
 50 cc ( 3 buah ),
17. Tensimeter ( 1 buah ).
18. Stetoskop ( 1 buah ).
19. Thermometer ( 1 buah ).
20. Tiang infus ( 1 buah ).

Alat – alat untuk ruang observasi :


1. Tensi meter ( 1 buah ).
2. Oxygen lengkap dengan flow meter ( 1 buah ).
3. Termometer ( 1 buah ).
4. Stetoskop ( 1 buah ).
5. Standar infus ( 1 buah ).
6. Infus set ( 1 set ).
7. IV catheter segala ukuran ( 1 set ).
8. Spuit sesuai kebutuhan :
 1 cc ( 5 buah ),
 2.5 cc ( 5 buah ),
 5 cc ( 5 buah ),
 10 cc ( 5 buah ),
 20 cc ( 3 buah ),
 50 cc ( 3 buah ).

Alat – alat dalam trolly emergency :


1. Obat Life saving ( terlampir pada standar obat IGD RS.
2. Obat penunjang ( terlampir pada standar obat IGD RS.

Alat – alat kesehatan.


1. Ambu bag / Air viva untuk dewasa & anak ( 1 buah / 1 buah ).
2. Oropharingeal airway : – Nomer 3 ( 2 buah ),- Nomer 4 ( 2 buah ).
3. Laringoscope dewasa & anak ( 1 set ).
4. Magyl forcep.
5. Face mask ( 1 buah )
6. Urine bag non steril ( 5 buah ).
7. Spuit semua ukuran.
8. Infus set ( 1 set).
9. Slang oksigen sesuai kebutuhan
10. Stomach tube / NGT :
 Nomer 16 ( 2 buah ).
 Nomer 18 ( 2 buah ).
 Nomer 12 ( 3 buah ).
12. IV catheter sesuai kebutuhan :
 Nomer 18 Cath / Terumo ( 2 / 2 buah ).
 Nomer 20 Cath / Terumo ( 2 / 16 buah ).
 Nomer 22 Cathy / terumo ( 2 / 11 buah ).
13. Suction catheter segala ukuran :
 Nomer 10 ( 3 buah ).
 Nomer 12 ( 2 buah )
Ambulance
Untuk menunjang pelayanan terhadap pasien RSUD Munyang Kute saat ini
memiliki 4 ( empat ) unit ambulance yang kegiatannya berada dalam koordinasi IGD
dan bagian umum.
Fasilitas & Sarana untuk Ambulance
1. Perlengkapan Ambulance
2. Ac
3. Sirine
4. Lampu rotater
5. Sabuk pengaman
6. Sumber listrik / stop kontak
7. Lemari untuk alat medis
8. Lampu ruangan
9. Wastafel

Alat & Obat untuk Ambulance.


1. Tabung Oksigen ( 1 buah )
2. Mesin suction ( 1 buah )
3. Monitor EKG 1 buah )
4. Stretcher ( 1 buah )
5. Scope ( 2 buah )
6. Piala ginjal ( 5 buah )
7. Tas Emergency yang berisi :
 Obat – obat untuk life saving (Cairan infus : RL, NaCL 0,9 % ( 5 / 10 kolf )
 Senter ( 2 buah )
 Stetoskop ( 3 buah )
 Tensimeter ( 1 buah )
 Tongue Spatel ( 1 buah )
 Infus set ( 1 buah )
 IV chateter ( Nomer 20 , 18 : 2 : 2 )
 Spuit semua ukuran ( masing- masing 2 buah ).
Standar Obat IGD RS

OBAT LIVE SAVING


1. Injeksi

No Nama Obat Satuan Jumlah Jenis Oba

Anti asmatic dan COPD


1. Aminophilin Ampul 14 preparations

2 Atropin sulfat Ampul 125 Anti spasmodics

3 Diazepam Ampul 5 Minor Transquillizer

4 Ephinephrin Ampul 2 Asnastetic lokal & general

5 Lasik Ampul 16 Diuretics

6 Lidocain Ampul 94 Anastetic lokal

7 Metro clopramide Ampul 5 Anti emetik

8 Nicholin 250 mg Ampul 2 Neuroprotector

9 Novalgin Ampul 5 Analgetik

10 Orodexon Ampul 4 Anti inflamasi

11 Phenobarbital Ampul 2 Sedatif

12 Pethidine Ampul 2 Sedatif

13 Pulmicortn Naspv Ampul 8 Broncodilator

14 Transamin Ampul 7 Haemostatics

15 Vit k Ampul 2 Anti perdarahan


16 ATS 1500 u Ampul 10 Anti tetanus

17 Kallium clorida Flacon 6 Elektrolit

1. Tablet

Jenis Obat
No Nama Obat Satuan Jumlah

Anti hypertensi/
1. Adalat 5 mg Tablet 10 Betabloker

Anti hypertensi /
2. Adalat 10 mg Tablet 10 Betabloker

3. Cedocard 5 mg Tablet 8 Anti anginal

4. Nitrobat Tablet 10 Nitrogliserida

c. Cairan Infus

Jenis Obat
No Nama Obat Satuan Jumlah

1. Asering Kolf 4

2. Dextrose 5 % 250 ml Kolf 2

3. Dextrose 5 % 500 ml Kolf 8

4 Dextrose 10 % 500ml Kolf 5

5. Dextrose In Saline 0,225 Kolf 2


6. Dextrose 0,5 Darrow Kolf 3

7. Kaen 3 B Kolf 1

8. Kaen 3 A Kolf 1

9. Larutan 2 A Kolf 7

10. Manitol 250 cc Kolf 2

11. Nacl 0,9 % 250 ml Kolf 1

12. Nacl 0,9 % 500 ml Kolh 5

13. Nacl 3 % Kolf 1

14. Ringer Dextrose Kolf 6

15 Ringer Lactat Kolf 13

16. Ringer Solution Kolf 2

17. Dex 40 % 25 ml Flalon 6

# Suppositoria

Jenis Obat
No Nama Obat Satuan Jumlah

1. Amicain Supp Supp 2 Anti emetik

2. Primperan sup Child Supp 3 Anti emetik

3. Primperan Sup Adult Supp 1 Anti emetik

Anti piretik,
4. Paracetamol Sup Supp 1 Analgetik
Anti piretik,
5. Propyretic 160 mg Supp 1 Analgetik

Anti piretik ,
6. Proris Sup Supp 6 Analgetik

7. Stesolid 5 mg rect Tube 5 Sedatif

8. Stesolid 10 mg rect Tube 7 Sedatif

2. OBAT PENUNJANG
3. Injeksi

No Nama Obat Satuan Jumlah Jenis Obat

1. Cedantron Ampul 5 Antiemetik

2. Calsium gluconas Ampul 3 Vitamin (elektrolit)

3. Sotatik Ampul 8 Anti emetik

1. Obat tablet

Jenis Obat
No Nama Obat Satuan Jumlah

Anti coagulans, anti


1. Aspilet Tablet 7 trombotics

2. Isorbid Tablet 2 Cardiac drugs

3. Norit Tablet 15
BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN

A. TATA LAKSANA PELAYANAN TRIASE


 Sistem Triage: Proses di mana seorang klinisi menilai tingkat urgensi
pasien.
 Triage: sistem triase adalah struktur dasar di mana semua pasien yang
datang dikategorikan ke dalam kelompok tertentu dengan menggunakan
standar skala penilaian urgensi atau struktur .
 Re-triase: status klinis adalah merupakan kondisi yang dinamis. Jika terjadi
perubahan status klinis yang akan berdampak pada perubahan kategori
triase, atau jika didapatkan informasi tambahan tentang kondisi pasien yang
akan mempengaruhi urgensi (lihat di bawah), maka triage ulang harus
dilakukan. Ketika seorang pasien kembali diprioritaskan, kode triase awal dan
kode triase selanjutnya harus didokumentasikan. Alasan untuk melakukan
triage ulang juga harus didokumentasikan.
 Urgensi: Urgensi ditentukan berdasarkan kondisi klinis pasien dan
digunakan untuk menentukan kecepatan intervensi yang diperlukan untuk
mencapai hasil yang optimal. Tingkat Urgensi adalah tingkat keparahan atau
kompleksitas suatu penyakit atau cedera. Sebagai contoh, pasien mungkin
akan diprioritaskan ke peringkat urgensi yang lebih rendah karena mereka
dinilai lcukup aman bagi mereka untuk menunggu penilaian emergensi,
walaupun mereka mungkin masih memerlukan rawat inap di rumah sakit
untuk kondisi mereka atau mempunyai kondisi morbiditas yang signifikan dan
resiko kematian.

Rumah sakit melaksanakan proses triase berbasis bukti untuk memprioritaskan


pasien sesuai dengan kegawatannya menggunakan ATS (Australian Triage Scale)

INDIKATOR
WAKTU TUNGGU
KATEGORI AMBANG
MAKSIMUM
KINERJA
ATS 1 Segera 100%
ATS 2 10 menit 80%
ATS 3 30 menit 75%
ATS 4 60 menit 70%
ATS 5 120 menit 70%
a. ATS 1 (Immediately life-threatening) Keadaan mengancam kehidupan, harus
segera di lakukan tindakan.

Gambaran Klinis :

1. Henti jantung
2. Henti napas
3. Distress pernapasan
4. Frekuensi pernapasan < 10x/menit
5. Sesak nafas berat
6. Tekanan darah < 80 mmHg atau syok pada anak dan bayi
7. Tidak ada respon/ respon hanya dengan rangsang nyeri (GCS <9)
8. Kejang yang sedang berlangsung
9. Gangguan jiwa, dengan ancaman kekerasan yang segera
10. Overdosis obat intravena atau hipoventilasi

b. ATS 2 (Imminently life-threatening) Ancaman terhadap kehidupan / organ


tubuh akan rusak atau gagal jika tidak di lakukan tindakan dalam 10 menit.

Gambaran klinis :

1. Risiko gangguan jalan napas, ngorok berat


2. Sesak napas
3. Sirkulasi terganggu :
 Kulit dingin , perfusi buruk
 HR < 50 atau > 150 x/menit
 Hipotensi
 Kehilangan banyak darah
 Nyeri dada
4. Nyeri hebat dengan penyebab lain
5. BSL < 2 mmol/lt
6. GCS < 13, penurunan respon
7. Hemiparese/ dysphasia mendadak
8. Demam dengan tanda-tanda kejang
9. Asam atau basa yang mengenai mata
10. Multipel trauma, trauma lokal berat (fraktur berat, amputasi)
11. Riwayat risiko tinggi (pemakaian sedative tau obat toksik lainnya)
12. Keracunan
13. Nyeri hebat pada kehamilan di luar kandungan (extra uterine gravidarum)
14. Kasus psikiatri :
 Kekerasan/ agresivitas
 Ancaman terhadap diri sendiri
 Kecanduan
c. ATS 3 (Potentially life-threatening or important time-critical treatment or severe
pain) Pemeriksaan dan pengobatan dimulai dalam waktu 30 menit dan
berpotensi mengancam kehidupan.

Gambaran klinis :

1. Hipertensi berat
2. Kehilangan banyak darah
3. Napas pendek
4. Saturasi oksigen 90-95%
5. BSL > 16 mmol/lt
6. Demam dengan sebab lain misalnya daya tahan tubuh menurun, reaksi
steroid
7. Muntah persisten
8. Dehidrasi
9. Cedera kepala
10. Nyeri hebat karena sabab lain sehigga memerlukan obat analgesik
11. Nyeri dada bukan karena penyakit jantung
12. Nyeri perut pada pasien > 65 tahun
13. Cedera ekstremitas sedang (deformitas, laserasi berat)
14. Terganggunya sensasi raba pada ekstremitas (denyut nadi tidak teraba)
15. Trauma dengan riwayat risiko tinggi
16. Anak-anak berisiko
17. Kasus- kasus psikiatri :
 Stress berat sehingga berisiko melukai diri sendiri
 Psikotik akut
 Kecanduan/ potensi untuk menyerang
18. Riwayat kejang
d. ATS 4 (Potentially life-serious or situational urgency or significant complexity)
Pemeriksaan dan pengobatan dimulai dalam waktu 60 menit dan
berpotensi mengancam kehidupan.

Gambaran klinis :

1. Perdarahan sedang
2. Apirasi benda asing, tidak ada distress pernapasan
3. Cedera dada tanpa gangguan pernapasan
4. Cedera kepala ringan tanpa penurunan kesadaran
5. Nyeri sedang
6. Muntah atau diare tanpa dehidrasi
7. Visus normal, adanya inflamasi atau benda asing pada mata
8. Trauma ekstremitas ringan, pergelangan kaki terkilir
9. Nyeri abdomen tidak spesifik
10. Kasus- kasus psikiatri :
 Masalah kesehatan mental
 Dalam pengawasan dan tidak ada risiko langsung terhadap diri sendiri
atau orang lain

e. ATS 5 (Less urgent) Penilaian dan pengobatan dimulai dalam waktu 120
menit.

Gambaran klinis :

1. Nyeri ringan
2. Risiko ringan dan tidak ada gejala klinis
3. Gejala ringan dari sakit yang stabil
4. Gejala ringan dari kondisi risiko rendah
5. Luka lecet yang ringan (tidak memerlukan penjahitan luka)
6. Imunisasi
7. Kasus – kasus psikiatri :
 Gejala kronik

Krisis sosial, secara klinis pasien sehat.


B. TATA LAKSANA PELAYANAN VISUM ET REPERTUM
Petugas Penanggung Jawab
 Petugas Rekam Medis
 Dokter jaga IGD
Perangkat Kerja
 Formulir Visum Et Repertum IGD
Tata Laksana Pelayanan Visum Et Repertum
1. Petugas IGD menerima surat permintaan visum et repertum dari pihak
penyidik/kepolisian
2. Surat permintaan visum et repertum diserahkan kebagian rekam medik
3. Petugas rekam medik menyerahkan status medis pasien kepada dokter
jaga yang menangani pasien terkait
4. Dokter yang bertanggungjawab membuat visum dan menyerahkannya
kepada rekam medik
5. Setelah visum et repertum diselesaikan oleh rekam medik maka lembar
yang asli diberikan pada pihak penyidik/kepolisian

C. TATALAKSANA PELAYANAN DEATH ON ARRIVAL ( DOA )


Petugas Penanggung Jawab
 Dokter jaga IGD
 Petugas Satpam
 Perangkat Kerja
Perangkat kerja
 Senter
 Stetoscope
 EKG
 Surat Kematian
Tata Laksana Death On Arrival IGD ( DOA )
1. Pasien dilakukan triase dan pemeriksaan oleh dokter jaga IGD
2. Bila dokter sudah menyatakan meninggal, maka dilakukan perawatan
jenazah
3. Dokter jaga IGD membuat surat keterangan meninggal
4. Jenazah dipindahkan / diserah terimakan ke bagian pemulasaran jenazah
untuk selanjutnya diserahkan kepada keluarga/Pennggungjawab
BAB V
KESELAMATAN PASIEN

Keselamatan pasien Adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat


asuhan pasien lebih aman. Sistem tersebut meliputi :
 Asesmen resiko
 Identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien
 Pelaporan dan analisis insiden
 Kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya
 Implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko

Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh :


 Kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan
 Tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil

Tujuan
 Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit
 Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat
 Menurunkan Kejadian Tidak Diharapkan ( KTD ) di rumah sakit
 Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi
pengulangan Kejadian Tidak Diharapkan ( KTD )

KEJADIAN TIDAK DIHARAPKAN ( KTD ) ADVERSE EVENT :


Adalah suatu kejadian yang tidak diharapkan, yang mengakibatkan cedera
pasien akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang
seharusnya diambil, dan bukan karena penyakit dasarnya atau kondisi pasien.
Cedera dapat diakibatkan oleh kesalahan medis atau bukan kesalahan medis
karena tidak dapat dicegah

KTD yang tidak dapat dicegah Unpreventable Adverse Event :


Suatu KTD yang terjadi akibat komplikasi yang tidak dapat dicegah dengan
pengetahuan mutakhir
KEJADIAN NYARIS CEDERA ( KNC ) Near Miss :
Adalah suatu kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan ( commission )
atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (omission ), yang dapat
mencederai pasien, tetapi cedera serius tidak terjadi :
 Karena “ keberuntungan”
 Karena “ pencegahan ”
 Karena “ peringanan ”

KESALAHAN MEDIS Medical Errors:


Adalah kesalahan yang terjadi dalam proses asuhan medis yang
mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera pada pasien

KEJADIAN SENTINEL Sentinel Event :


Adalah suatu KTD yang mengakibatkan kematian atau cedera yang serius;
biasanya dipakai untuk kejadian yang sangat tidak diharapkan atau tidak dapat
diterima, seperti : operasi pada bagian tubuh yang salah.

TATA LAKSANA
1. Memberikan pertolongan pertama sesuai dengan kondisi yang terjadi pada
pasien
2. Melaporkan pada dokter jaga IGD
3. Memberikan tindakan sesuai dengan instruksi dokter jaga
4. Mengobservasi keadaan umum pasien
5. Mendokumentasikan kejadian tersebut pada formulir “ Pelaporan Insiden
Keselamatan”
BAB VII
KESELAMATAN KERJA.
A. Pendahuluan
HIV / AIDS telah menjadi ancaman global. Ancaman penyebaran HIV menjadi
lebih tinggi karena pengidap HIV tidak menampakkan gejal. Setiap hari ribuan anak
berusia kurang dari 15 tahun dan 14.000 penduduk berusia 15 – 49 tahun terinfeksi
HIV. Dari keseluruhan kasus baru 25% terjadi di Negara – negara berkembang yang
belum mampu menyelenggarakan kegiatan penanggulangan yang memadai.
Angka pengidap HIV di Indonesia terus meningkat, dengan peningkatan kasus
yang sangat bermakna. Ledakan kasus HIV / AIDS terjadi akibat masuknya kasus
secara langsung ke masyarakat melalui penduduk migran, sementara potensi
penularan dimasyarakat cukup tinggi (misalnya melalui perilaku seks bebas tanpa
pelingdung, pelayanan kesehatan yang belum aman karena belum ditetapkannya
kewaspadaan umum dengan baik, penggunaan bersama peralatan menembus kulit :
tato, tindik, dll).
Penyakit Hepatitis B dan C, yang keduanya potensial untuk menular melalui
tindakan pada pelayanan kesehatan. Sebagai ilustrasi dikemukakan bahwa menurut
data PMI angka kesakitan hepatitis B di Indonesia pada pendonor sebesar 2,08%
pada tahun 1998 dan angka kesakitan hepatitis C dimasyarakat menurut perkiraan
WHO adalah 2,10%. Kedua penyakit ini sering tidak dapat dikenali secara klinis
karena tidak memberikan gejala.
Dengan munculnya penyebaran penyakit tersebut diatas memperkuat
keinginan untuk mengembangkan dan menjalankan prosedur yang bisa melindungi
semua pihak dari penyebaran infeksi. Upaya pencegahan penyebaran infeksi
dikenal melalui “ Kewaspadaan Umum “ atau “Universal Precaution” yaitu dimulai
sejak dikenalnya infeksi nosokomial yang terus menjadi ancaman bagi “Petugas
Kesehatan”.
Tenaga kesehatan sebagai ujung tombak yang melayani dan melakukan
kontak langsung dengan pasien dalam waktu 24 jam secara terus menerus tentunya
mempunyai resiko terpajan infeksi, oleh sebab itu tenaga kesehatan wajib menjaga
kesehatan dan keselamatan darinya dari resiko tertular penyakit agar dapat bekerja
maksimal.
B. Tujuan
1. Petugas kesehatan didalam menjalankan tugas dan kewajibannya dapat
melindungi diri sendiri, pasien dan masyarakat dari penyebaran infeksi.
2. Petugas kesehatan didalam menjalankan tugas dan kewajibannya mempunyai
resiko tinggi terinfeksi penyakit menular dilingkungan tempat kerjanya, untuk
menghindarkan paparan tersebut, setiap petugas harus menerapkan prinsip
“Universal Precaution”.
 Tindakan yang beresiko terpajan
 Cuci tangan yang kurang benar.
 Penggunaan sarung tangan yang kurang tepat.
 Penutupan kembali jarum suntik secara tidak aman.
 Pembuangan peralatan tajam secara tidak aman.
 Tehnik dekontaminasi dan sterilisasi peralatan kurang tepat.
 Praktek kebersihan ruangan yang belum memadai.

D. Prinsip Keselamatan Kerja


Prinsip utama prosedur Universal Precaution dalam kaitan keselamatan kerja
adalah menjaga higiene sanitasi individu, higiene sanitasi ruangan dan sterilisasi
peralatan. Ketiga prinsip tesebut dijabarkan menjadi 5 (lima) kegiatan pokok yaitu :
1. Cuci tangan guna mencegah infeksi silang
2. Pemakaian alat pelindung diantaranya pemakaian sarung tangan guna
mencegah kontak dengan darah serta cairan infeksi yang lain.
3. Pengelolaan alat kesehatan bekas pakai
4. Pengelolaan jarum dan alat tajam untuk mencegah perlukaan
5. Pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan.
BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU;
Indikator mutu yang digunakan di RSUD Munyang Kute dalam memberikan
pelayanan adalah Emergency Respon Time (Waktu Tanggap Pelayanan Darurat ≤5
menit).
Dalam pelaksanaan indikator mutu menggunakan kurva harian dalam format
tersendiri dan dievaluasi serta dilaporkan setiap bulan pada panitia mutu dan
direktur pelayanan.