Anda di halaman 1dari 22

PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)

PROSEDUR TINDAKAN
RSUD KABUPATEN KEDIRI
2013 – 2015
Prosedur Pemeriksaan IgM anti-O9 S.typhi
( Tubex – TF )
1. Pengertian (Definisi) Adalah pemeriksaan semikuantitatif cepat (10 menit) untuk
deteksi adanya antibodi ( IgM) pada demam yang disebabkan
S.typhi.
Ig M anti-O9 adalah antibodi spesifik terhadap antigen
lipopolisakarida O9 S.typhi. IgM anti -O9 secara normal tidak ada
pada orang sehat.
2. Indikasi - Demam 5-7 hari
Pola demam yang khas adalah kenaikan tidak
langsung tinggi tetapi bertahap seperti anak
tangga (stepladder),
- Sakit kepala hebat, nyeri otot, kehilangan selera
makan (anoreksia), mual, muntah, sering sukar buang air
besar (konstipasi) dan sebaliknya dapat terjadi diare.
- Bradikardi, lidah kotor, pembesaran hati dan limpa
3. Kontra Indikasi Tidak ada
4. Persiapan - Serum pasien.
- Kit Tubex-TF
5. Prosedur Tindakan 1. Sampel serum tidak ikterik, lipemik , hemolysis.
2. Semua reagen dan sampel disiapkan pada suhu kamar (18
– 350C)
3. Kocok semua reagen sebelum digunakan.
4. Lihat bahwa sedimen sudah tercampur semua dengan
pelarutnya.
5. Pemipetan yang akurat akan mnghasilkan tes yang akurat.
6. Letakkan sumuran reaksiTubex dengan nomor sumur
terlihat di depan. Masukkan 45ul reagen coklat ke masing-
masing sumur. Reagen coklat berisi parikel yang di coated
antigen.
7. Tambahkan 45ul sampel , kontrol positif, kontrol negatif,
campur dengan pipetting 10x, hindari busa.. gunakan
masing-masing pipet tip untuk setiap sampel.
8. Inkubasi 2 menit
9. Tambahkan 90 ul reagen biru ke masing-masing sumur.
Reagen biru berisi partikel yang di coated antibodi.
10. Tutup sumuran Tubex dengan pita penutup Tubex.
Rekatkan pita dengan baik untuk menghindari keboocran.
11. Campur dengan baik selama 2 menit.
12. Letakkan sumuran Tubex pada skala warna Tubex, biarkan
selama 5 menit.
6. Pasca Prosedur Tindakan 1. Baca dan skor hasil dengan membandingkan warna dari
masing-masing supernatant dengan skala warna Tubex.,

13
dibaca 30 menit setelah separasi.
2. Skor <= 2 menunjukkan hasil negatif
3. Skor 3 , borderline
4. Skor 4, positif lemah
5. Skor 6 – 10 ,positif, indikasi kuat infeksi akut demam tifoid.
Tingkat skor menunjukkan konsentrasi anti-O9 antibodi pada
serum penderita.

7. Tingkat Evidens IV
8. Tingkat Rekomendasi C
9. Penelaah Kritis Dr. Gilang Kusdinar, SpPK
10. Indikator Prosedur Tindakan 99% indikasi kuat demam tifoid
11. Kepustakaan 1. Dong B et al. optimizing typhoid fever case definitions by
combining serological tests in a large population study in
Hechy City, China. Epidemiol Infect 2007;135:1014-1020.
2. Kawano RL..et al. comparison of serologicaltest kits for
diagnosisof typhoid feverin the Philipines. J Clin Microbiol
2007;45:246-247
3. Lim PL. et al. Onestep 2 minutes test to detect typhoid-
specific antibodies based on particle separation in tubes. J
Clin Microbiol 1998;36:2271-2278
4. Olsen SJ et al. evaluationof rapid diagnostictests of
typhoid fever. J Clin Microbiol 2004;42:1885-1889
5. Rahman M.et al. Rapid detection of early typhid fever in
endemic community childrenby the TUBEX O9 antibody
test. Diagn Microbiol Infect Dis 2007;58:275-281’
6. WHO. Background document: the diagnosis, treatment
and prevention of typhoid fevr.2003;11-
16.WHO/V7B/03.07(www.who.int/vaccines-documents/).

14
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
PROSEDUR TINDAKAN
RSUD KABUPATEN KEDIRI
2013 – 2015
Prosedur Widal
Pengertian (Definisi) Uji Widal adalah prosedur uji serologi untuk mendeteksi
adanya antibodi terhadap antigen O-somatik dan H-flagellar
dari kuman Salmonella typhi dan S.paratyphi A,B dalam
darah.
Prinsip uji Widal adalah memeriksa reaksi antara antibodi
aglutinin dalam serum penderita yang telah mengalami
pengenceran berbeda-beda terhadap antigen somatik (O)
dan flagela (H) yang ditambahkan dalam jumlah yang sama
sehingga terjadi aglutinasi. Pengenceran tertinggi yang
masih menimbulkan aglutinasi menunjukkan titer antibodi
dalam serum.
Indikasi - Demam 5-7 hari
Pola demam yang khas adalah kenaikan tidak langsung
tinggi tetapi bertahap seperti anak tangga (stepladder),
- Sakit kepala hebat, nyeri otot, kehilangan selera makan
(anoreksia), mual, muntah, sering sukar buang air besar
(konstipasi) dan sebaliknya dapat terjadi diare.
- Bradikardi, lidah kotor, pembesaran hati dan limpa
Kontra Indikasi Tidak ada
Persiapan Sampel serum
Reagen Widal O,H,PA,PB
Batang pengaduk
Mikropipet ( 20 ul, 10 ul, 5 ul)
Slide / object glass
Prosedur Tindakan 1. Disiapkan slide yang kering dan bersih dengan 4(empat)
lingkaran untuk masing-masing antigen O,H,PA dan PB.
2. Dengan mikropipet dimasukkan dalam 4 lingkran tadi :
20 ul + 1 tetes reagen -> aglutinasi (+) -> 1/100
10 ul + 1 tetes reagen -> aglutinasi (+) -> 1/200
5 ul + 1 tetes reagen -> aglutinasi (+) -> 1/400
3. Dicampur dan digoyang
Pada tiap pengenceran apabila terjadi aglutinasi maka dilanjutkan
dengan pengenceran yang lebih besar.
4 Catat dan laporkan hasil

Pasca Prosedur Tindakan PENILAIAN


Titer Widal merupakan angka kelipatan :
1/100, 1/200, 1/400
- Peningkatan titer uji Widal 4 x (selama 2-3 minggu) :
dinyatakan (+).

15
- Titer 1/200 : masih dilihat dulu dalam 1 minggu
kedepan, apakah ada kenaikan titer.
Jika ada, maka dinyatakan (+).
- Jika 1 x pemeriksaan langsung 1/400 atau 1/800,
langsung dinyatakan (+) pada pasien dengan gejala klinis
khas.
Kenaikan titer agglutinin yang tinggi pada pemeriksaan tunggal,
tidak dapat membedakan apakah infeksi tersebut merupakan
infeksi baru atau lama.

Beberapa hal yang sering diartikan salah :


1. Pemeriksaan Widal positif dianggap ada kuman dalam tubuh,
hal ini pengertian yang salah. Uji widal hanya menunjukkan
adanya antibodi terhadap kuman Salmonella.
2. Pemeriksaan Widal yang diulang setelah pengobatan dan
menunjukkan hasil positif dianggap masih menderita tifus, ini juga
pengertian yang salah.
Setelah seseorang menderita tifus dan mendapat pengobatan,
hasil uji Widal tetap positif untuk waktu yang lama sehingga uji
Widal tidak dapat digunakan sebagai acuan untuk menyatakan
kesembuhan.

Hasil ulang pemeriksaan Widal positif setelah mendapat


pengobatan tifus, bukan indikasi untuk mengulang pengobatan
bilamana tidak lagi didapatkan gejala yang sesuai.

3. Hasil uji negatif dianggap tidak menderita tifus :


Uji Widal umumnya menunjukkan hasil positif 5 hari atau lebih
setelah infeksi. Karena itu bila infeksi baru berlangsung beberapa
hari, sering kali hasilnya masih negatif dan baru akan positif
bilamana pemeriksaan diulang. Dengan demikian,hasil uji Widal
negatif,terutama pada beberapa hari pertama demam belum
dapat menyingkirkan kemungkinan tifus.

Untuk menentukan seseorang menderita demam tifoid :


1. Tetap harus didasarkan adanya gejala yang sesuai dengan
penyakit tifus.
2. Uji widal hanya sebagai pemeriksaan yang menunjang
diagnosis.
Seorang tanpa gejala,dgn uji widal positif tidak dapat dikatakan
menderita tifus.

Beberapa karakteristik penderita yang sering mengalami


”overdiagnosis tifus”, diantaranya adalah :

16
• Hasil pemeriksaan widal yang sangat tinggi pada hari ke 3-
5 saat demam.
• Dalam lingkungan satu rumah terdapat penderita demam
tinggi dalam waktu yang hampir bersamaan (dalam
waktu kurang dari 3-5 hari).
• Penderita divonis ”gejala tifus” atau ”tifus ringan”
• Demam disertai gejala batuk dan pilek pada awal penyakit
• Penderita yang sering mengalami infeksi berulang (sering
demam, batuk dan pilek)
• Penderita alergi (batuk lama, pilek lama, sinusitis, asma)
yang disertai GER (gastrooesephageal refluks) atau
sering muntah.
• Penderita tifus berulang atau penderita yang divonis tifus
lebih dari sekali
. Peningkatan nilai widal H, (widal H bukan merupakan petanda
infeksi tifus). antibodi terhadap antigen H sering dijumpai dengan
titer yang lebih tinggi, hal ini disebabkan adanya reaktifitas silang
yang luas sehingga sukar untuk diinterpretasikan. Dengan alas an
ini maka pada daerah endemis tidak dianjurkan pemeriksaan
antibodi H S.typhi, cukup pemeriksaan titer terhadap antibodi O
S.typhi, namun kenaikan titer agglutinin H masih dapat membantu
dan menegakkan diagnosis tersangka demam typhoid pada
penderita dewasa yang berasal dari daerah non endemic.
• Penderita demam berdarah
• Penderita berusia kurang dari 2 tahun , sebab
pada kelompok penderita ini kemungkinan mendapat
kontak dengan S. typhi dalam dosis subinfeksi
masih amat kecil.

Tingkat Evidens IV
Tingkat Rekomendasi C
Penelaah Kritis Dr. Gilang Kusdinar, SpPK
Indikator Prosedur Tindakan Sensitivitas 57% dan spesifisitas 83%
Kepustakaan • Cleary TG. Salmonella. Dalam : Behrman RE, Kliegman RM,
Jenson HB, Eds. Nelson Textbook of Pediatrics, edisi
16. Philadelphia : WB Saunders, 2000:842-
• 8.Tumbelaka AR, Retnosari S. Imunodiagnosis Demam
Tifoid. Dalam : Kumpulan Naskah Pendidikan
Kedokteran Berkelanjutan Ilmu Kesehatan Anak XLIV.
Jakarta : BP FKUI, 2001:65-73.
• Diagnosis of typhoid fever. Dalam : Background
document : The diagnosis, treatment and prevention
of typhoid fever. World Health Organization, 2003;7-
18.
• Parry CM. Typhoid fever. N Engl J Med 2002;347(22):1770-
82.
• Pang T. Typhoid Fever : A Continuing Problem. Dalam :

17
Pang T, Koh CL, Puthucheary SD, Eds. Typhoid Fever :
Strategies for the 90’s. Singapore : World Scientific,
1992:1-2.
• Hoffman SL. Typhoid Fever. Dalam : Strickland GT, Ed.
Hunter’s Textbook of Pediatrics, edisi 7.
Philadelphia : WB Saunders, 1991:344-58.
• Kalra SP, Naithani N, Mehta SR, Swamy AJ. Current trends
in the management of typhoid fever. MJAFI
2003;59:130-5.Lim PL, Tam FCH, Cheong YM,
Jegathesan M. One-step 2-minute test to detect
typhoid-specific antibodies based on particle
separation in tubes. J Clin Microbiol
1998;36(8):2271-8.
. Purwaningsih S, Handojo I, Prihatini, Probohoesodo
Diagnostic value of dot-enzyme-immunoassay test to detect
outer membrane protein antigen in sera of patients with
typhoid fever. Southeast Asian J Trop Med Public Health
2001;32(3):507-12. [Abstract]

18
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
PROSEDUR TINDAKAN
RSUD KABUPATEN KEDIRI
2013 – 2015
Prosedur HbA1c
Pengertian (Definisi) HbA1c adalah bahan yang terbentuk dari reaksi antara glukosa
dengan hemoglobin. HbA1c yang terbentuk akan tersimpan dan
tetap bertahan di dalam sel darah merah selama ± 3 bulan, sesuai
masa hidup sel darah merah. Jumlah HbA1c yang terbentuk,
tergantung kadar glukosa di dalam darah sehingga hasil
pemeriksaan HbA1c dapat menggambarkan rata-rata kadar
glukosa darah selama ± 3 bulan.

Indikasi Semua diabetisi sebaiknya melakukan pemeriksaan HbA1c pada


evaluasi medis pertama kali semenjak terdiagnosa menderita
diabetes, selanjutnya dapat dilakukan setiap 3 bulan sekali
sebagai bagian dari pengelolaan diabetes.

Kontra Indikasi Tidak ada


Persiapan Sampel darah EDTA (sewaktu)
Prosedur Tindakan HbA1c adalah pemeriksaan menggunakan afinitas asam boronnk
terhadap konfigurasi cis-diol hemoglobin glikosilat yang kemudian
membentuk presipitat.
Kit reagen berisi membrane filter berpori, reagen dan cairan
pencuci. Reagen berisi bahan pelisis eritrosit.. Ketika darah
dicampur denga bahan pelisis maka semua hemoglobin akan
mengalami presipitasi... Hemoglobin yang mengalami glikosilasi
diukur terhadap total hemoglobin yang merupakan prosentase
kadar HbA1c.
Cara kerja :
- 5 ul darah + konjugat asam boronik,(R1), inkubasi
2-3 menit.
- 25 ul campuran diatas masukkan dalam well 15-20 detik
kemudian tambahkan dapar pencuci (R2) - 10 detik..
- Baca dengan alat Nycocard reader.

Pasca Prosedur Tindakan Nilai HbA1c < 6.5 % kendali diabetes baik.
Nilai HbA1c 6.5 – 8 % kendali diabetes sedang.
Nilai HbA1c > 8 % kendali diabetes buruk.
Tingkat Evidens IV
Tingkat Rekomendasi C
Penelaah Kritis Dr. Gilang Kusdinar, SpPK
Indikator Prosedur Tindakan Ketelitian dan ketepatan hasil pemeriksaan 90% baik.

19
Kepustakaan 1. American iabetes Association. Executive Summary :
Standard of Medical Care. Diabetes Voice. 2010;33: S4-5.
2. Anonymous. 2010 Consensus Statement on the World
wide Standardization of HbA1c . NGSP News diunduh dari
URL http://www.ngsp.htm
3. Axis Shield. Manual Insruction : Nycocard, Sweden;2009.
4. BIO-RAD. Manual instruction: D10. France;2009
5. Guillausseau P. Assesment of HbA1c levels: flase results
due to haemoglobinopathies. Int J Metab. 2002;1:1-2.
6. Nathan D. HbA1c for Diabetes Diagnosis. Diabetes Voice.
July 2009;32:7-10.
7. Perkeni .konsensus pengelolaan dan pencegahan diabetes
mellitus tipe 2 di Indonesia.2006.
8. Slink M. Mbanya JC. Global standardization of the HbA1c
assay- the consensuscommittee recommendations.
Diabetes Voice. 2007;52:33-34.

20
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
PROSEDUR TINDAKAN
RSUD KABUPATEN KEDIRI
2013 – 2015
Prosedur Mikroalbuminuia
Pengertian (Definisi) Pemeriksaan mikroalbuminuria adalah pemeriksaan cepat uji in
vitro untuk pengukuran kadar albumin yang rendah dalam urine.

Indikasi 1. Pasien diabetes Tipe 1


Uji saring Mikroalbuminuria sebaiknya diperiksa pada masa
pubertas atau setelah 5 tahun didiagnosa diabetes tipe 1

2. Pasien diabetes Tipe 2


Uji tersebut dilakukan pada saat didiagnosa diabetes tipe 2 dan
setahun sekali sebagai bagian dari pengelolaan diabetes.

3. Penderita Hipertensi
Disarankan minimal 1-2 kali dalam setahun sebagaimana halnya
pemantauan fungsi ginjal atau sesuai dengan anjuran dokter.

Kontra Indikasi Tidak ada


Persiapan Sampel urine pertama pagi hari.
Mikropipet 50 ul
Alat Nycocard reader
Prosedur Tindakan Cara kerja :
- 50 ul sampel urine/lar.kontrol + 1 ml lar.pengencer (R1)
- Pipet 50 ul lar. Sampel ke dalam test device
biarkan meresap sempurna ke dalam
membrane (50 detik.)
- Segera tambahkan50 ul lar.pencuci R3 ke dalam test
device, biarkan meresap 50 detik..
- Baca hasil dengan Nycocard reader dalam waktu kurang
dari 5 menit.

Pasca Prosedur Tindakan Nilai normal :


- 5 – 20 ug/menit ( < 30 mg/24 jam),
- < 20 mg/l ( vol.urine normal).
Nilai meningkat :
- 30 – 300 mg/24 jam ,
- 20-200mg/l (vol.urine normal)
Tingkat Evidens IV
Tingkat Rekomendasi C
Penelaah Kritis Dr. Gilang Kusdinar, SpPK
Indikator Prosedur Tindakan
Ketelitian dan ketepatan hasil pemeriksaan 90% baik.

21
Kepustakaan ......

22
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
PROSEDUR TINDAKAN
RSUD KABUPATEN KEDIRI
2013 – 2015
Prosedur CRP ( kuantitatif)
Pengertian (Definisi) CRP adalah suatu protein fase akut yang diproduksi oleh hati
sebagai respon adanya infeksi, inflamasi atau kerusakan jaringan.
Pemeriksaan CRP kuantitatif dapat mendeteksi reaksi
inflamasi/infeksi akut secara cepat (6-7 jam setelah inflamasi).
Indikasi Keadaan infeksi akut.
Kontra Indikasi Tidak ada
Persiapan Sampel serum
Mikropipet 5 ul, 50 ul
Alat Nycocard reader
Prosedur Tindakan - 5 ul sampel/control + lar.pengencer (R1) kocok, 10 detik
- Pipet 50 ul larutan diatas masukkan ke dalam test device,
biarkan meresap 30 detik.
- Tambahkan 1 tetes konjugat R2 ke dalam test device,
biarkan meresap 30 detik.
- Tambahkan 1 tetes larutan pencuci /R3 ke dalam test
device, biarkan meresap 20 detik.
- Baca hasil dengan Nycocard reader.
Pasca Prosedur Tindakan Nilai normal : < 5 mg/l
Tingkat Evidens IV
Tingkat Rekomendasi C
Penelaah Kritis Dr. Gilang Kusdinar, SpPK
Indikator Prosedur Tindakan - Sensitivitas dan spesifisitas 90%.
CRP meningkat tajam saat terjadi inflamasi dan menurun jika
terjadi perbaikan sehingga CRP dapat untuk memonitor kondisi
infeksi pasien dan menilai efikasi terapi antibiotika
Kepustakaan ▪ SP Ballou and I. Kushner. C-Reactive Protein the Acute Phase
Response . 1999.
▪ Thomas Ng. Erythrocyte sedimentation rate & CRP on
Clinical Practice. British Journal Hosp Medicine. 1997.

23
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
PROSEDUR TINDAKAN
RSUD KABUPATEN KEDIRI
2013 – 2015
Prosedur ALBUMIN
Pengertian (Definisi) Albumin merupakan jenis protein terbanyak di dalam plasma
mencapai kadar 60%.
Fungsi adalah memberi tekanan onkotik di dalam kapiler
sehingga albumin dapat menjaga keberadaan air dalam plasma
darah dengan demikian volume darah akan tetap stabil. Bila
jumlah albumin turun maka akan terjadi penimbunan cairan
dalam jaringan (edema).
Indikasi 1. Sirosis hati
2. Sindroma nefrotik
3. Gagal ginjal kronik
4. Preeklamsia
Kontra Indikasi Tidak ada
Persiapan Sampel serum.
Alat
- Fotometer
- Mikropipet
- Blue tip
- Yellow tip
- Stop watch
- Tabung reaksi
- Reagen Albumin ( metode Brom Cresol Green)

Prosedur Tindakan Prosedur


1. Pastikan alat dan sampel kondisi siap
2. Siapkan tabung pemeriksaan
3. Dengan menggunakan mikropipet, pipet1000 ul reagen
ke dalam tabung, tambahkan 10 µl serum, campur
4.Inkubasi 10 menit
5.Langsung baca pada fotometer

Pasca Prosedur Tindakan Nilai normal 3,5 – 5 g/dl.


Tingkat Evidens IV
Tingkat Rekomendasi C
Penelaah Kritis Dr. Gilang Kusdinar, SpPK
Indikator Prosedur Tindakan
……………………………………………………………………………………………….
…………..
Kepustakaan "Physiological and pathological changes in the redox state of
human serum albumin critically influence its binding properties".
Institute of Physiological Chemistry, Center of Physiological
Medicine, Division of Gastroenterology and Hepatology,

24
Department of Internal Medicine, Medical University of Graz; K
Oettl dan R E Stauber. Diakses 2011-08-22.
"Small-volume resuscitation with hyperoncotic albumin: a
systematic review of randomized clinical trials". Klinik für
Anästhesiologie, Ludwig-Maximilians-Universität, Klinikum
Grosshadern, Hygeia Associates, Physiologisches Institut –
Vegetative Physiologie, Ludwig-Maximilians-Universität; Matthias
Jacob, Daniel Chappell, Peter Conzen, Mahlon M Wilkes, Bernhard
F Becker, dan Markus Rehm. Diakses 2011-08-21. "hyperoncotic
albumin preserved renal function and reduced intestinal edema"

25
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
PROSEDUR TINDAKAN
RSUD KABUPATEN KEDIRI
2013 – 2015
Prosedur Protein Total
Pengertian (Definisi) Protein total adalah hasil uji laboratorium yang mengukur jumlah
protein pada plasma darah atau serum darah..
Terdapat dua jenis protein yang utama di dalam serum, yaitu
albumin (dari hati ) dan globulin ( dari limpa.,
Indikasi Sirosis hati
Kontra Indikasi Tidak ada
Persiapan Sampel serum
Alat
- Fotometer
- Mikropipet
- Blue tip
- Yellow tip
- Stop watch
- Tabung reaksi
- Reagen Protein Total (metoda Biuret)

Prosedur Tindakan Prosedur


- Pastikan alat dan sampel dalam kondisi siap
- Siapkan tabung pemeriksaan
- Dengan menggunakan mikropipet, pipet 1000 ul reagen
ke dalam tambahkan 20 ul serum, campur
- Inkubasi 10 menit diluar alat
- Baca pada fotometer

Pasca Prosedur Tindakan Nilai normal 6-8 g/dl


Tingkat Evidens IV
Tingkat Rekomendasi C
Penelaah Kritis Dr. Gilang Kusdinar, SpPK
Indikator Prosedur Tindakan
……………………………………………………………………………………………….
…………..
Kepustakaan ▪ Anna Poedjiadi, Dasar-Dasar Biokimia, UI Press, Jakarta, 1994
▪ Frances K. Widmann, alih bahasa : S. Boedina Kresno, dkk.,
Tinjauan Klinis Atas Hasil Pemeriksaan Laboratorium, EGC,
Jakarta, 1992.
▪ Joyce LeFever Kee, Pedoman Pemeriksaan Laboratorium &
Diagnostik, edisi 6, EGC, Jakarta, 2007.
▪ Kratz, Alexander et. al., The Plasma Proteins, dalam :
Lewandrofwski, Kent (ed.), Clinical Chemistry : Laboratory
Management and Clinical Correlations, Lippincott William
& Wlkins, Philadelphia, USA, 2002.

26
▪ Mansjur Hawab, Pengantar Biokimia, Bayumedia Publishing,
Malang, 2003.
Ronald A. Sacher & Richard A. McPherson, alih bahasa : Brahm U.
Pendit & Dewi Wulandari, Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan
Laboratorium, Edisi 11, EGC, Jakarta, 2004.

27
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
PROSEDUR TINDAKAN
RSUD KABUPATEN KEDIRI
2013 – 2015
Prosedur Analisis Gas Darah
Pengertian (Definisi) Analisa Gas Darah (AGD) merupakan pemeriksaan untuk
mengukur keasaman (pH), jumlah oksigen, dan karbondioksida
dalam darah. Pemeriksaan ini digunakan untuk menilai fungsi
kerja paru-paru dalam menghantarkan oksigen ke dalam sirkulasi
darah dan mengambil karbondioksida dalam darah. Analisa gas
darah meliputi PO2, PCO3, pH, HCO3, dan saturasi O2.

Indikasi 1. Penyakit obstruksi paru kronik


2. Edema pulmo
3. Akut respiratori distress sindrom (ARDS)
4. Infark miokard
5. Pneumonia
6. Syok

Kontra Indikasi 1. Denyut arteri tidak terasa, pada pasien yang


mengalami koma.
2.Selulitis atau adanya infeksi terbuka atau
penyakit pembuluh darah perifer pada tempat
yang akan diperiksa
3. Adanya koagulopati (gangguan pembekuan) atau
pengobatan denganantikoagulan dosis sedang dan
tinggi merupakan kontraindikasi relative
Persiapan Alat dan Bahan untuk Pengambilan Darah Arteri
1. Disposible Spuit 2,5 cc, jarum ukuran 23 G/ 25 G 2. Penutup
jarum khusus atau gabus untuk
mencegah kontaminasi dengan udara bebas.
Udara bebas dapat mempengaruhi nilai O2 dalam
AGD arteri
3. Nierbeken/Bengkok
Digunakan untuk membuang kapas bekas pakai.
4. Antikoagulan Heparin
Untuk mencegah darah membeku.
5. Kapas Alkohol 70%
6. Plester
Digunakan untuk fiksasi akhir penutupan luka
bekas plebotomi

Prosedur Tindakan Lokasi Pengambilan Darah Arteri


1. Arteri Radialis dan Arteri Ulnaris
2. Arteri Brakialis
3. Arteri Femoralis

28
Alat dan bahan
1. Blood gas analyzer
2. Semprit 1 ml yang telah dibasahi dengan heparin
3. Darah heparin yang telah diambil dari arteri
femoralis, dibawa ke laboratorium dengan tutup
karet pada ujung jarum sambil terus
digelindingkan antara dua telapak tangan agar
suhu tetap 370C.

Prosedur
1. Pastikan alat dan sampel dalam posisi siap
2. Pada layar muncul pesan tekan 1 untuk syringe
3. Angkat tuas probe pada posisi yang benar
4. Masukkan sampel pada probe, dengan cara mendorong probe
maju ke atas sampai ada bunyi BEEP yang berarti sampling
sudah selesai
5. Pada layar akan muncul perintah : Ambil sampel dan tutup
probe
6. Alat akan melakukan proses, sementara itu pada layar akan
muncul pesan : tekan (#) untuk memasukkan data pasien
7. Tekan # untuk memindahkan kursor ke baris berikutnya
8. Tekan * untuk menutup atau EXIT
Hasil pemeriksaan akan langsung tercetak pada printer

Pasca Prosedur Tindakan Rentang nilai normal


pH : 7, 35-7, 45
pCO2 : 35-45 mmHg
pO2 : 80-100 mmHg
HCO3 : 22-26 mEq/L
BE : 0 ± 2 mEq/L
Saturasi O2 : 95 %
Tingkat Evidens IV
Tingkat Rekomendasi C
Penelaah Kritis Dr. Gilang Kusdinar, SpPK
Indikator Prosedur Tindakan - Asidosis metabolic
- Asidosis respiratorik
- Akalosis metabolic
- Alkalosis respiratorik

Kepustakaan Surahman, Pengaruh Cardiopulmonar Bypass Terhadap Jumlah


Leukosit Pada Operasi Coronary Artery Bypass Graft, Jurnal
Kedokteran, Mei 2010, Universita Diponegoro
• Pratiwi Anggi (2010). Pemeriksaan Gas Darah Arteri (Analisa
Gas Darah

29
• Yusuf Muhammad (2009). Pemeriksaan Analisa Gas Darah
• Silviana (2005). IMA (Infark Miokard Akuta). \
• Afri (2009). Analisa Gas Darah

30
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
PROSEDUR TINDAKAN
RSUD KABUPATEN KEDIRI
2013 – 2015
Prosedur Bilirubin Total
Pengertian (Definisi) Bilirubin adalah pigmen kuning yang berasal dari perombakan
heme dari hemoglobin dalam proses pemecahan eritrosit oleh sel
retikuloendotel.. Sel retikuloendotel membuat bilirubin tidak larut
dalam air; bilirubin yang disekresikan dalam darah harus diikatkan
kepada albumin untuk diangkut dalam plasma menuju hati. Di
dalam hati, hepatosit melepaskan ikatan itu dan
mengkonjugasinya dengan asam glukoronat sehingga bersifat
larut air. Proses konjugasi ini melibatkan enzim
glukoroniltransferase.

Bilirubin terkonjugasi masuk ke saluran empedu dan diekskresikan


ke usus. Selanjutnya flora usus akan mengubahnya menjadi
urobilinogen dan dibuang melalui feses serta sebagian kecil
melalui urin.
Bilirubin tak terkonjugasi yang merupakan bilirubin bebas
dinamakan bilirubin indirek atau bilirubin tidak langsung.
Bilirubin total adalah jumlah dari bilirubin terkonjugasi (direk) dan
bilirubin tak terkonjugasi (indirek)

Indikasi - Gangguan pada hati (kerusakan sel hati) atau saluran empedu
(batu atau tumor)..
- Penyakit hemolitik autoimun, transfusi, atau eritroblastosis
fatalis.
.
Kontra Indikasi Tidak ada
Persiapan Sampel serum
Alat
- Fotometer
- Mikropipet
- Blue tipe
- Yellow tipe
- Stop watch
- Tabung reaksi
Reagen Bilirubin Total

Prosedur Tindakan - Pastikan alat dan sampel kondisi siap


- Siapkan dua tabung pemeriksaan
- Pipet reagen1:200 ul + reagen 3 : 1000 ul + reagen 2:
50 ul pada tabung pertama (untuk tes)
- Pipet reagen 1 : 200 ul + reagen 3 : 1000 ul (tanpa reagen 2)

31
pada tabung kedua (untuk blanko)
- Masing2 tabung tambah serum 200 ul
- Inkubasi 5 menit + reagen 4:1000 ul
- Inkubasi 10 menit, baca pada fotometer dengan memasukkan
blanko dulu baru tes.

Pasca Prosedur Tindakan Nilai normal 0.1 – 1.2 mg/dl


Tingkat Evidens IV
Tingkat Rekomendasi C
Penelaah Kritis Dr. Gilang Kusdinar, SpPK
Indikator Prosedur Tindakan
……………………………………………………………………………………………….
…………..
Kepustakaan 1. D.N. Baron, alih bahasa : P. Andrianto, J. Gunawan, Kapita
Selekta Patologi Klinik (A Short Text Book of Clinical
Pathology), Edisi 4, EGC, Jakarta, 1990.
2. E.N. Kosasih & A.S. Kosasih, Tafsiran Hasil Pemeriksaan
Laboratorium Klinik, Edisi 2, Tangerang, 2008.
3. Frances K. Widmann, alih bahasa : S. Boedina Kresno, dkk.,
Tinjauan Klinis Atas Hasil Pemeriksaan Laboratorium, EGC,
Jakarta, 1992.
4. Joyce LeFever Kee, Pedoman Pemeriksaan Laboratorium &
Diagnostik, edisi 6, EGC, Jakarta, 2007.
Ronald A. Sacher & Richard A. McPherson, alih bahasa : Brahm U.
Pendit & Dewi Wulandari, Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan
Laboratorium, Edisi 11, EGC, Jakarta, 2004

32
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
PROSEDUR TINDAKAN
RSUD KABUPATEN KEDIRI
2013 – 2015
Prosedur HBsAg
Pengertian (Definisi) Hepatitis B adalah suatu penyakit hati yang disebabkan oleh
"Virus Hepatitis B" (VHB), suatu anggota famili Hepadnavirus[1]
yang dapat menyebabkan peradangan hati akut atau menahun
yang pada sebagian kecil kasus dapat berlanjut menjadi sirosis
hati atau kanker hati.[
HBsAg adalah petanda adanya virus Hepatitis B di dalam darah.
Indikasi Beberapa hal yang dapat menyebabkan virus Hepatitis B ini
menular.
▪ Secara vertikal, terjadi dari Ibu yang mengidap virus Hepatitis B
kepada bayi yang dilahirkan yaitu pada saat persalinan
atau segera setelah persalinan.
▪ Secara horisontal, dapat terjadi akibat penggunaan alat suntik
yang tercemar, tindik telinga, tusuk jarum, transfusi darah,
penggunaan pisau cukur dan sikat gigi secara bersama-
sama (Hanya jika penderita memiliki penyakit mulut
(sariawan, gusi berdarah,dll), Sebagai antisipasi, terhadap
darah-darah yang diterima dari pendonor akan di tes
terlebih dulu apakah darah yang diterima reaktif terhadap
Hepatitis.

Kontra Indikasi Tidak ada


Persiapan Serum penderita
Rapid test HBsAg atau
Reagen ELISA HBsAg
Mikropipet
ELISA reader
Prosedur Tindakan Rapid test :
1. Serum disiapkan.
2. Strip HBsAg dibuka kemudian dicelupkan ke dalam serum,
biarkan serum terserap sampai tanda batas.
3. Biarkan selama 2 menit.
4. Baca hasil
ELISA
1. 50 ul control normal + 50 ul peroksidase, inkubasi 80’
menit.
2. 50 ul control positif + 50 ul peroksidase, inkubasi 80
menit.
3. 50 ul serum + 50 ul peroksidase, inkubasi 80 menit
4. Ketiganya dicuci dengan lar. pencuci 5x.
5. Lar.pencuci dibuat dengan perbandingan 1:20

33
( 250 ul+10.000 ul PZ)
6. Kemudian ditambahkan 50 ul TMB A dan 50 ul TMB B,
inkubai 20 menit.
7. Kemudian tambahkan 100 ul stop solution .
8. Baca hasil pada ELISA reader.

Pasca Prosedur Tindakan Rapid test :


- tampak 2 garis : positif
- tampak 1 garis : negatif
ELISA :

Tingkat Evidens IV
Tingkat Rekomendasi C
Penelaah Kritis Dr. Gilang Kusdinar, SpPK
Indikator Prosedur Tindakan
……………………………………………………………………………………………….
…………..
Kepustakaan 1. Zuckerman AJ (1996). Hepatitis Viruses. In: Baron's Medical
Microbiology (Baron S et al, eds.) (ed. 4th ed.). Univ of
Texas Medical Branch. ISBN 0-9631172-1-1.
2. Ryan KJ; Ray CG (editors) (2004). Sherris Medical Microbiology
(ed. 4th ed.). McGraw Hill. hlm. pp. 544–51. ISBN 0-8385-
8529-9.
3.Alberts B, Johnson A, Lewis J, Raff M, Roberts K, Walter P (2002).
Molecular Biology of the Cell (ed. 4th). Garland. NCBI Bookshelf)
ISBN 0-8153-3218-1.

34