Anda di halaman 1dari 23

Tugas Individu

Mata Kuliah : Fisiologi Kerja dan Pencegahan Penyakit Akibat Kerja

Fisiologi Logam Berat

DISUSUN OLEH:

ABDUL HAIRIN (P1800216003)

KONSENTRASI KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat
dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Fisiologi Kerja dan
Pencegahan Penyakit Akibat Kerja
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari kesempurnaan,
maka dari itu saya mengharap kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini.

Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kemajuan ilmu
pengetahuan dan menjadi motivasi untuk meningkatkan daya juang mahasiswa/i pada masa
kini dan yang akan datang.

Makassar, Mei 2017

Penulis
BAB I

Pendahuluan

a. Latar Belakang
Logam secara alami terdapat dialam dan digunakan sebagai bahan baku
berbagai jenis industri yang memproduksi berbagai kebutuhan manusia. benda yang
berasal dari logam banyak digunakan dalam kehidupan sehari – hari antara lain untuk
alat perlengkapan rumah tangga memberi warna terang pada perkakas, sebagai pelarut
emas dan lain-lain
Dengan meningkatnya industrilisasi dimana banyak yang menggunakan unsur
logam sebagai bahan baku, meningkatkan resiko terjadinya pencemaran lingkungan
yang berdampak pada terhadap kesehatan baik pada manusia, hewan, tanaman. selain
itu pekerja yang bekerja menggunakan logam atau memproduksi logam sangat
berisiko terjadinya gangguan kesehatan akibat logam tersebut
Efek toksik dari logam berat dapat menghalangi kerja enzim yang berakibat
menggangu metabolisme tubuh, menyebabkan alergi, bersifat mutagen, teratogen atau
karsinogen bagi manusia sehingga dapat menyebabkan penyakit kecacatan atau
bahkan kematian

b. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah
Pengertian Logam Berat, jenis-jenis logam berat, serta fisiologi logam berat didalam
tubuh.

c. Tujuan Penulisan Makalah


1. Untuk mengetahui pengertian dari logam berat
2. Untuk mengetahui Jenis- jenis logam berat
3. Untuk mengetahui fisiologi logam berat di dalam tubuh
4. Untuk mengetahui faktor resiko logam berat pada pekerjaan
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi dan penggolongan logam berat Logam Berat


Logam berat adalah logam-logam toksik yang mempunyai densitas 5
gr/cm3 atau lima kali lebih besar daripada densitas air. Logam berat masih
termasuk dalam golongan dengan kriteria yang sama dengan logam-logam lain.
Terdapat 80 jenis logam berat dari 109 unsur kimia yang ada di bumi. Logam-
logam ini dibagi menjadi dua jenis yaitu:
1. Logam berat essensial; yakni logam dalam jumlah tertentu yang sangat
dibutuhkan oleh organisme. Dalam jumlah berlebihan, logam tersebut dapat
menimbulkan efek toksik atau beracun. Contohnya adalah seng (Zn), tembaga
(Cu), besi (Fe), kobalt (Co), mangan (Mn) dan sebagainya.
2. Logam berat tidak essensial; yakni logam yang keberadaaanya dalam tubuh
masih belum diketahui manfaatnya, bahkan bersifat toksik. Contohnya adalah
timbal (Pb), merkuri (Hg), kadmium (Cd), krom (Cr), arsen (As) dan lain-lain.
Logam berat dapat menimbulkan efek gangguan kesehatan pada manusia,
tergantung pada bagian mana logam berat tersebut yang terikat pada tubuh serta
besarnya dosis paparan. Efek toksik dari logam berat mampu menghalangi kerja
enzim sehingga mengganggu metabolisme tubuh, menyebabkan alergi, bersifat
mutagen, teratogen atau karsinogen bagi manusia maupun hewan.
Menurut Darmono (1995) sifat logam berat sangat unik, tidak dapat
dihancurkan secara alami dan cenderung terakumulasi dalam rantai makanan
melalui proses biomagnifikasi. Pencemaran logam berat ini menimbulkan
berbagai permasalahan diantaranya.
1. Berhubungan dengan estetika (perubahan bau, warna dan rasa air),
2. Berbahaya bagi kehidupan tanaman dan binatang,
3. Berbahaya bagi kesehatan manusia,
4. Menyebabkan kerusakan pada ekosistem.
B. Jenis - jenis Logam Berat
Beberapa jenis logam berat yang dapat menyebabkan penyakit (Depkes RI,
2012) antara lain adalah :
1. Timbal
2. Merkuri
3. Arsen
4. Cadmium
5. Chrom

C. Fisiologi Logam Berat Di dalam Tubuh


1. Logam Timbal (Pb)
Logam timbal (Pb) merupakan logam yang lunak dan berwarna cokelat
kehitaman serta mudah dimurnikan dari pertambangan. Bahaya yang
ditimbulkan oleh penggunaan Pb ini adalah sering menyebabkan keracunan.
Logam Pb dapat masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan, makanan, dan
minuman. Accidental poisoning seperti termakannya senyawa timbal dalam
konsentrasi tinggi dapat mengakibatkan gejala keracunan timbal seperti iritasi
gastrointestinal akut, rasa logam pada mulut, muntah, sakit perut, dan diare. Pb
dapat mempengaruhi sistem saraf, inteligensia, dan pertumbuhan. Pb di dalam
tubuh menyebabkan hambatan pada aktivitas kerja sistem enzim. Efek logam
Pb pada kesehatan manusia adalah menimbulkan kerusakan otak, kejang-
kejang, gangguan tingkah laku, dan bahkan kematian.

Patofisiolgi Toksisitas Timbal


Orang dewasa mengabsorpsi Pb sebesar 5-15% dari keseluruhan Pb
yang dicerna, sedangkan anak-anak mengabsorpsi Pb lebih besar, yaitu 41,5%.
Pb dapat menghambat aktivitas enzim yang terlibat dalam pembentukan
hemoglobin (Hb). Proses masuknya timbal ke dalam tubuh dapat melalui
makanan dan minuman, udara, dan penetrasi pada kulit. Penyerapan lewat
kulit ini dapat terjadi disebabkan karena senyawa ini dapat larut dalam minyak
dan lemak (Palar, 2008). Berikut ini adalah skema akumulasi paparan timbal
yang masuk ke dalam tubuh manusia :
Menurut Naria (2005), kira-kira 40% dari timbal yang masuk
melalui pernafasan, diabsorbsi sampai ke saluran pernafasan. Sekitar 5-10%
dari senyawa timbal yang masuk diserap oleh saluran gastrointestinal.
Menurut Ardyanto (2005), timah hitam dan senyawanya masuk ke dalam
tubuh manusia melalui saluran pernafasan dan saluran pencernaan,
sedangkan absorbsi melalui kulit sangat kecil sehingga dapat diabaikan.
Bahaya yang ditimbulkan oleh Pb tergantung oleh ukuran partikelnya.
Partikel yang lebih kecil dari 10 µg dapat tertahan di paru-paru, sedangkan
partikel yang lebih besar mengendap di saluran nafas bagian atas.
Absorbsi Pb melalui saluran pernafasan dipengaruhi oleh tiga proses
yaitu deposisi, pembersihan mukosiliar, dan pembersihan alveolar. Deposisi
terjadi di nasofaring, saluran trakeobronkhial, dan alveolus. Deposisi
tergantung pada ukuran partikel Pb volume pernafasan dan daya larut.
Partikel yang lebih besar banyak di deposit pada saluran pernafasan bagian
atas dibanding partikel yang lebih kecil (DeRoos dan OSHA dalam
Ardyanto, 2005).
Tidak semua Pb yang terisap atau tertelan ke dalam tubuh akan
tertinggal di dalam tubuh. Kira-kira 5-10% dari jumlah yang tertelan akan
diabsorbsi melalui saluran pencernaan, dan sekitar 30% dari jumlah yang
terisap melalui hidung akan diabsorbsi melalui saluran pernafasan. Hanya
sekitar 5% dari 30% yang terabsorbsi melalui saluran pernafasan akan
tertinggal di dalam tubuh karena dipengaruhi oleh ukuran partikel-
partikelnya.
Timah hitam yang diabsorsi diangkut oleh darah ke organ-organ
tubuh sebanyak 95% Pb dalam Timah hitam darah diikat oleh eritrosit.
Sebagian Pb plasma dalam bentuk yang dapat berdifusi dan diperkirakan
dalam keseimbangan dengan pool Pb tubuh lainnya. Yang dibagi menjadi
dua yaitu ke jaringan lunak (sumsum tulang, sistim saraf, ginjal, hati) dan
ke jaringan keras (tulang, kuku, rambut, gigi (Palar, 2008).
Ekskresi Pb melalui beberapa cara, yang terpenting adalah melalui
ginjal dan saluran cerna. Ekskresi Pb melalui urine sebanyak 75 – 80%,
melalui feces 15% dan lainnya melalui empedu, keringat, rambut, dan kuku
(Palar,1994). Ekskresi Pb melalui saluran cerna dipengaruhi oleh saluran
aktif dan pasif kelenjar saliva, pankreas dan kelenjar lainnya di dinding
usus, regenerasi sel epitel, dan ekskresi empedu. Sedangkan Proses eksresi
Pb melalui ginjal adalah melalui filtrasiglomerulus. Kadar Pb dalam urine
merupakan cerminan pajanan baru sehingga pemeriksaan Pb urine dipakai
untuk pajanan okupasional (Goldstein danKippen dalam Ardyanto, 2005).

Patogenesis Timbal Pada Organ Tubuh


Timbal (Pb) adalah logam toksik yang bersifat komulatif sehingga
mekanisme toksisitasnya dibedakan menurut organ yang dipengaruhi yaitu :
1. Risiko timbal (Pb) pada sistem hemopoietik.
Timbal (Pb) mempengaruhi sistem darah dengan cara:memperlambat
pematangan normal sel darah merah (eritrosit) dalam sumsum tulang
yang menyebabkan terjadinya mempengaruhi kelangsungan hidup sel
darah merah. Eritrosit yang diberi perlakuan dengan timbal (Pb),
memperlihatkan peningkatan tekanan osmosis dan kelemahan
pergerakan.

2. Risiko Timbal (Pb) pada Sistem Saraf.


Sistem saraf merupakan sistem yang paling sensitif terhadap daya
racun . Risiko dari keracunan keracunan timbal (Pb) dapat
menimbulkan keruskan pada otak. Penyakit-penyaakit yang
berhubungan dengan otak sebagai akibat dari keracunan timbal (Pb)
adalah epilepsi, halusinasi, kerusakan pada otak besar dan delirium,
yaitu sejenis penyakit gula. Sistem saraf yang kena pengaruh timbal
(Pb) dengan konsentrasi timbal dalam darah diatas 80 μg / 100 ml,
dapat terjadi ensefalopati. Kerusakan saraf motorik menyebabkan
kelumpuhan saraf lanjutan dikenal dengan lead palsy. Keracunan
kandungan timbal (Pb) dapat merusak saraf mata pada anak-anak dan
berakhir pada kebutaan.

3. Risiko Timbal (Pb) pada Sistem ginjal.


Senyawa timbal (Pb) yang terlarut dalam darah dibawa ke seluruh
system tubuh . Sirkulasi darah masuk ke glomerolus merupakan
bagian dari ginjal. Timbal (Pb) yang terlarut dalam darah akan
berpindah ke sistem urinaria (ginjal) sehingga dapat mengakibatkan
terjadinya kerusakan pada ginjal. Kerusakan terjadi karena
terbentuknya intranuclear inclusion bodies disertai dengan
gejala aminociduria, yaitu terjadinya kelebihan asam amino dalam
urine. Nefropatis (kerusakan nefron pada ginjal) dapat di deteksi dari
ketidak seimbangnya fungsi renal dan sering diikuti hipertensi.

4. Risiko Timbal (Pb) pada Sistem Gastrointestinal.


Gejala awal muncul pada konsentrasi timbal (Pb) dalam darah sekitar
80 μg / 100 ml, gejala-gejala tersebut meliputi kurangnya nafsu
makan, gangguan pencernaaan, gangguan epigastrik setelah makan,
sembelit dan diare. Jika kadar timbal (Pb) dalam darah melebihi 100
μg / 100 ml, maka kecenderungan untuk munculnya gejala lebih parah
lagi, yaitu bagian perut kolik terus menerus dan sembelit yang lebih
parah. Jika gejala ini tidak segera ditangani, maka akan muncul kolik
yang lebih spesifik.

5. Risiko Timbal (Pb) pada Sistem Kardiovaskuler.


Tahap akut keracuan timbal (Pb) khususnya pada pasien yang
menderita kolik, tekanan darah akan naik. Jika terjadi hal demikian,
maka pasien tersebut akan mengalami hipotonia. Kemungkinan
kerusakan miokardial harus diperhatikan. Dalam penelitian ditemukan
jenis kelainan perubahan elektrokardiografis pada 70 % dari total
pasien yang ditangani. Temuan utama dari penelitian
adalah takhikardia, atrial disritmia, gelombang T dan atau sudut QRS-T
yang melebar secara tidak normal.

6. Risiko Timbal (Pb) pada Sistem Reproduksi dan Endokrin.


Efek reproduktif meliputi berkurangnya tingkat kesuburan bagi wanita
maupun pria yang terkontaminasi Timbal (Pb), logam tersebut juga
dapat melewati placenta sehingga dapat menyebabkan kelainan pada
janin. Dapat menimbulkan berat badan lahir rendah dan prematur.
Timbal (Pb) juga dapat menyebabkan kelainan pada fungsi tiroid
dengan mencegah masuknya iodine.

7. Risiko Karsinogenik.
Tahap awal proses terjadinya kanker adanya kerusakan DNA yang
menyebabkan peningkatan lesi genetik herediter yang menetap atau
disebut mutasi. Timbal (Pb) diperkirakan mempunyai sifat toksik pada
gen sehingga dapat mempengaruhi terjadinya kerusakan DNA / mutasi
gen dalam kultur sel mamalia. Patogenesis kanker otak akibat terpapar
timbal (Pb) adalah sebagai berikut : timbal (Pb) masuk kedalam darah
melalui makanan dan akan tersimpan dalam organ tubuh yang
mengakibatkan gangguan sintesis DNA, proliferensi sel yang
membentuk nodul selanjutnya berkembang menjadi tumor ganas.

Pencegahan dan Penanganan pada Logam Timbal


1. Tindakan perlindungan individual
 Pakaian pelindung harus dipilih secara spesifik untuk tempat
bekerja, tergantung konsentrasi dan jumlah bahan berbahaya yang
ditangani. Daya tahan pakaian pelindung kimia harus dipastikan
dari masing-masing suplier.
 Tindakan higienis
Segera ganti pakaian yang terkontaminasi. Gunakan krim
pelindung kulit. Cuci tangan dan muka setelah bekerja dengan
bahan tersebut.
 Perlindungan mata/wajah
Kacamata-pengaman
 Pelindung tangan

2. Tindakan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K)


 Setelah terhirup: hirup udara segar.Jika napas terhenti: berikan
napas buatan mulut ke mulut atau secara mekanik. Berikan masker
oksigen jika mungkin. Segera hubungi dokter.
 Setelah kontak pada kulit: cuci dengan air yang banyak. Lepaskan
pakaian yang terkontaminasi. Periksakan ke dokter.
 Setelah kontak dengan mata : bilas dengan air yang banyak dengan
kelopak mata terbuka lebar. Hubungi dokter mata jika diperlukan.
 Setelah tertelan: segera beri korban minum air putih (dua gelas
paling banyak). Periksakan ke dokter

2. Merkuri(Hg)
Merkuri Hg) merupakan cairan yang berwarna putih keperakan, mudah
menguap pada suhu ruangan, tidak larut dalam air tetapi larut dalam asam
nitrat dan mudah larut dalam lemak. Hg mudah larut dan bersenyawa dengan
logam lain kecuali dengan besi dan paltinum
Merkuri masuk ke dalam tubuh terutama melalui paru-paru, 80%
diabsorbsi oleh tubuh dan larut dalam lemak. Selain itu logam air raksajuga
dapat tertelan melalui saluran cerna. Beberapa merkuri organikdan anorganik
dapat diabsorbsi melalui kulit.

Merkuri terdiri dari 3 (tiga) jenis, yaitu:


a. Merkuri Elemental
Merkuri elemental 80% masuk melalui saluran pernafasan.Sumber merkuri
jenis elemental antara lain: Amalgam, Termometer, barometer, pekerja
industri keramik, pekerja pabrik chlorine, pekerja industry lampu mercury.
Distribusi jaringan merkuri elemental ke SSP, ginjal Ekskresi merkuri
lebih banyak melalui urine dari pada feces.
b. Merkuri Organik
Merkuri Organik masuk melalui saluran pencernaan. Sumber merkuri
organic: pestisida, fungisida, antiseptic, bakterisida. Distribusi merkuri
organik dalam tubuh ke organ ginjal Ekskresi merkuri lebih banyak
melalui urine dari pada feces.
c. Merkuri anorganik
Merkuri anorganik 7 - 15% masuk melalui saluran pencernaan Sumber
anorganik : pembuat pewarna, peledak, kembang api, pembuat Vinyl
chloride. Distribusi merkuri anorganik melalui ginjal Ekskresi merkuri
anorganik melalui ginjal dan saluran pencernaan. Hampir 90% di
ekskresikan melalui feces

Patofisiologi Merkuri Dalam Tubuh


Merkuri membentuk berbagai senyawa anorganik (seperti oksida,
klorida, dan nitrat) dan organic (alkil dan aril).Logam merkuri dan uap
merkuri termasuk kedalam merkuri anorganik (Palar, 2004). Adapun
mekanisme kerja merkuri dalam tubuh adalah sebagai berikut :
1. Absorbsi
Merkuri masuk ke dalam tubuh terutama melalui paru-paru dalam bentuk
uap atau debu. Sekitar 80% uap merkuri yang terinhalasi akan diabsorbsi
dapat menembus membran paru-parumenyebabkan bronchitis, sampai
rusaknya paru-paru.. Absorbsi merkuri logam yang tertelan dari saluran
cerna hanya dalam jumlah kecil yang dapat di abaikan, sedangkan
senyawa merkuri larut air mudah diabsorbsi. Beberapa senyawa merkuri
organik dan anorganik dapat diabsorbsi melalui kulit.
2. Biotransformasi
Unsur merkuri yang diabsorbsi dengan cepat dioksidasi menjadi ion
Hg2+, yang memiliki afinitas berikatan dengan substrat-substrat yang
kaya gugus tersebut. Merkuri ditemukan dalam ginjal (terikat pada
metalotionen) dan hati. Merkuri dapat melewati darah, otak, dan plesenta.
Metal merkuri mempunyai afinitas yang kuat terhadap otak. Sekitar 90%
merkuri darah terdapat dalam eritrosit. Metabolisme senyawa alkil
merkuri serupa dengan metabolisme merkuri logam atau senyawa
anorganiknya. Senyawa fenil dan metoksietil merkuri di metabolisme
dengan lambat.
3. Ekskresi
Sementara unsur merkuri dan senyawa anorganiknya di eliminasi lebih
banyak melalui kemih daripada feses, senyawa merkuri anorganik
terutama diekskresi melalui feses sampai 90%. Waktu paruh biologis
merkuri anorganik mendekati 6 minggu.
Keracunan akut yang disebabkan oleh logam merkuri umumnya terjadi
pada pekerja-pekerja industri, pertambangan, dan pertanian, yang
menggunakan merkuri sebagai bahan baku, katalis dan pembentuk amalgam
atau pestisida. Keracunan akut yang ditimbulkan oleh logam merkuri dapat
diketahui dengan mengamati gejala-gejala berupa : Peradangan pada tekak
(pharyngitis), dyspaghia, rasa sakit pada bagian perut, mual-mual dan muntah,
murus disertai dengan darah dan shok. Bila gejala-gejala awal ini tidak segera
diatasi, penderita selanjutnya akan mengalami pembengkakan pada kelenjar
ludah, radang pada ginjal (nephritis), dan radang pada hati (hepatitis).

Efek Terhadap Kesehatan


Keracunan akut.
- Keracunan akut terjadi akibat pajanan jangka pendek uap/debumerkuri
konsentrasi tinggi.
- Keracunan akut Merkuri Elemental dapat menyebabkan penyakit Acute
Interstitial Pneumonitis, Bronchitis dan Broncholitis. Umumnya penyakit
ini disertai gejala rasasesak, nyeri pada dada, sulit bernafas & batuk, rasa
logam, nausea, nyeri abdomen, muntah, diare, sakit kepala, kadang-
kadang albuminuria dan dapat menyebabkan kematian.
- Biasanya setelah 3-4 hari, kelenjar saliva bengkak, ginggivitis dan timbul
garis merkuri, juga gejala gastroenteritis dan nephritis.

Keracunan kronik
- Keracunan kronik dapat terjadi akibat pajanan melalui inhalasi atau ingesti
dan diperberat melalui absorpsi kulit. Gejala timbul beberapa minggu-
tahun setelah pajanan.
- Pajanan rendah akan menimbulkan gejala patoneurologik/patopsikologik,
berupa tremor, gangguan kepribadian, parkinsonism, demensia dan
kelainan gusi.
- Pada pajanan tinggi akan menyebabkan gangguan pada mulut (stomatitis),
neuropati perifer, ginjal, gastroenteritis dan sistem respirasi.

Pencegahan dan penanganan Merkuri


a. Penanganan dan penyimpanan
- Jika kena mata, segera bilas dengan banyak air dan dapatkan
bantuan medis. bahan ini dan atau wadah harus dibuang sebagai
limbah berbahaya.
- Hindari pelepasan /tumpah dilingkungan. rujuklah petunjuk
khusus/lembar data keselamatan
- Ventilasi yang baik
b. Alat Pelindung Diri
- Gunakan peralatan pelindungan pribadi sebagaimana dibutuhkan
Pakai pakaian pelindung, sarung tangan dan pelindung mata dan
wajah yang sesuai. jika terjadi kecelakaan atau merasa tidak enak
badan segera dapatkan bantuan medis
c. Tumpahan dan Bocoran
- Hindari pelepasan kelingkungan
d. Pertolongan pertama
- Jika tertelan, berkumurlah, jangan memancing muntah
- Jika terkena mata, bilas secara hati-hati dengan air selama
beberapa menit. lepas lensa kontak, jika digunakan dan mudah
melakukannya
-
3. logam Arsen (As)
Arsen (As) adalah suatu metaloid berkilau seperti perak, tidak berbau,
tidak memiliki rasa. As merupakan senyawa alami sebagai bagian dari tanah,
air dan batuan, terdapat dalam biji besi dan batubara, tersebar luas dialam
dalam jumlah sedikit.
Toksisitas senyawa arsenik sangat bervariasi. Minimal dosis akut
arsenik yang mematikan pada orang dewasa diperkirakan 70-200 mg atau 1
mg/kg/hari. Sebagian besar melaporkan keracunan arsenik tidak disebabkan
oleh unsur arsenik, tapi oleh salah satu senyawa arsen, terutama arsenik
trioksida, yang sekitar 500 kali lebih beracun daripada arsenikum murni.
Kebanyakan kasus keracunan akut dan kronik disebabkan oleh Arsen
trioksida. Arsen juga potensial bersifat karsinogenik dan koka sinogenik

Absorbsi, Metabolisme dan Ekskresi Arsen


Bahan kimia arsen dapat masuk ke dalam tubuh melalui saluran
pencernaan makanan, saluran pernafasan serta melalui kulit walaupun
jumlahnya sangat terbatas. Arsen yang masuk ke dalam peredaran darah dapat
ditimbun dalam organ seperti hati, ginjal, otot, tulang, kulit dan rambut.
Arsenik trioksid yang dapat disimpan di kuku dan rambut dapat
mempengaruhi enzim yang berperan dalam rantai respirasi, metabolisme
glutation ataupun enzim yang berperan dalam proses perbaikan DNA yang
rusak. Didalam tubuh arsenik bervalensi lima dapat berubah menjadi arsenik
bervalensi tiga. Hasil metabolisme dari arsenik bervalensi 3 adalah asam
dimetil arsenik dan asam mono metil arsenik yang keduanya dapat diekskresi
melalui urine. dan sedikit melalui feses. ekskresi arsen minimum terjadi dalam
6 jam pertama, 25% dalam 24 jam dan 75% alam 7 hari setelah pajanan.

Patogenesis toksisitas arsen


 Toksisitas akut arsen biasanya memperlihatkan gejala sakit perut, gejala
tersebut disebabkan oleh adanya vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah)
yang akan mengakibatkan terbentuknya vesikel (lepuh) pada lapisan
submukose lambung dan usus. Gangguan tersebut mengakibatkan rasa
mual, muntah, diare (kadang bercampur darah) dan sakit perut yang
sangat. Bau napas seperti bawang putih, diare profus menyebabkan
banyak cairan tubuh keluar sehingga menyebabkan gejala hipontesi.
Terjadinya diare profus menyebabakan banyak larutan protein terbuang
keluar tubuh,sehingga mengakibatkan usus ridak berfungsi normal
(enteropati). Arsen juga dapat menyebabkan peningkatan aktivitas mitotik
pada sel hati. Gas arsenik dapat mengakibatkan hemolisis dalam waktu 3-
4 jam dan mengakibatkan nekrosis tubulus ginjal akut sehingga terjadi
kegagalan ginjal.
 Tanda-tanda toksisitas As yang akut juga terlihat jelas ialah dengan
ditemukannya gejala rambut rontok kebotakan (alopesia) , tidak
berfungsinya saraf tepi yang ditandai dengan kelumpukan anggota gerak
bagian bawah,kaki lemas,persendian tangan lumpuh, dan daya reflex
menurun
 Toksisitas kronis gejala akan timbul dalm waktu 2 sampai 8 minggu sejak
penderita mulai mengonsumsi air yang terkontaminasi tersebut. Gejala
yang jelas terlihat adalah adanya kelainan pada kulit dan kuku, terciri
dengan adanya hyperkeratosis, hiperpigmentasi, dermatitis dengan
terkelupasnya kulit dan adanya warna putih pada persambungan kulit dan
kuku. Toksisitas As kronik juga dapat meningkatkan penyebab risiko
terjadinya kanker pada kulit, paru-paru, hati (liver-angiosarkoma),
kantung kencing, ginjal, dan kolon

Pencegahan dan Penanganan Logam Arsen


1. Kontrol Teknik:
Gunakan selungkup selama proses, ventilasi pembuangan lokal, atau
kontrol teknik lainnya untuk menjaga agar udara tidak dibawah tingkat
yang tidak direkomendasikan
Batas pemaparan Jika pengguna bekerja menghasilkan debu, asap atau
kabut, gunakan ventilasi untuk tetap terpapar kontaminan udaraDibawah
batas paparan.
2, Perlindungan Pribadi: Kacamata pengaman. Jas laboratorium. Debu
respirator Pastikan untuk menggunakan respirator yang disetujui /
bersertifikat atau yang setara.Sarung tangan.
3. Perlindungan Pribadi dalam Kasus Tumpahan Besar:
Kacamata Splash. Pakaian lengkap Debu respirator Sepatu boot Sarung
tangan. Alat bantu pernafasan mandiri harus digunakan untuk
menghindariMenghirup produk. Pakaian pelindung yang disarankan
mungkin tidak cukup; Berkonsultasi dengan Ahli sebelum menangani
produk ini
4. Logam Cadmium (Cd)
Cadmium (Cc) adalah logam lunak berwarna putih keperakan,
mengkilap, mudah dibentuk, tidak larut dalam basa. Terdapat pada kerak bumi
bersama biji seng (Zn), timbal (Pb) dan tembaga.
Dalam industri digunakan untuk memberikan sifat tahan karat pada
baja, besi dan material lain. Juga digunakan sebagai pewarna dan stabilizer
plastik.

Metabolisme (Absorbsi, Distribusi dan Ekskresi) Kadmium dalam Tubuh


Keracunan akut yang disebabkan oleh kadmium ini dapat terjadi pada
pekerja di industri-industri yang berkaitan dengan logam ini. Keracunan akut
terjadi karena pada pekerja terkena paparan uap logam kadmium (Cd) atau
kadmium oksida (CdO). Keracunan bersifat kronis yang disebabkan oleh daya
racun yang dibawa oleh logam kadmium, terjadi dalam selang waktu yang
sangat pajan. Peristiwa ini terjadi karena kadmium masuk ke dalam tubuh
dalam jumlah yang kecil sehingga dapat ditolerir tubuh pada saat tersebut
(Palar, 2008).
Kadmium dapat masuk ke dalam tubuh hewan atau manusia melalui
berbagai cara, yaitu:
b. Dari udara yang tercemar, misalnya asap rokok dan asap pembakaran batu
bara
c. Melalui wadah/tempat berlapis kadmium yang digunakan untuk tempat
makanan atau minuman
d. Melalui kontaminasi perairan dan hasil perairan yang tercemar Kadmium
Melalui rantai makanan
e. Melalui konsumsi daging yang diberi obat anthelminthes yang
mengandung kadmium.
Absorpsi kadmium melalui gastrointestinal lebih rendah dibandingkan
absorpsi melalui respirasi, yaitu sekitar 5-8%. Absorpsi kadmium meningkat
bila terjadi defisiensi kalsium (Ca), besi (Fe) dan rendah protein dalam
makanan. Defisiensi kalsium akan merangsang sintesis ikatan Ca-protein
sehingga akan meningkatkan absorpsi kadmium, sedangkan kecukupan seng
dalam makanan dapat menurunkan absorpsi kadmium. Hal ini diduga karena
seng merangsang produksi metalotionin (Widowati,2008).
Kadmium ditransformasikan dalam darah yang berikatan dengan sel
darah merah yang memilki protein berat molekul rendah, yaitu metalotionin
(MT) yang memilki berat molekul 6000, banyak mengandung sulfhidril, dan
dapat mengikat 11% kadmium dan seng. Metalotionin (MT) memiliki daya
ikat yang sama terhadap beberapa jenis logam berat sehingga kandungan
logam berat bebas dalam jaringan berkurang. Kemungkinan besar pengaruh
toksisitas kadmium disebabkan oleh interaksi antara kadmium dan protein
tersebut sehingga memunculkan hambatan terhadap aktivitas kerja enzim.
Metalotionin merupakan protein yang sangat peka dan akurat sebagai
indikator pencemaran. Hal itu didasarkan pada suatu fenomena alam dimana
logamlogam bisa terikat di dalam jaringan tubuh organisme karena adanya
protein (polipeptida) yang 26-33% mengandung sistein.
Setelah toksik memasuki darah, toksik didistribusikan dengan cepat ke
seluruh tubuh. Pengikat oksigen dalam jaringan bisa menyebabkan lebih
tingginya kadar toksikan dalam jaringan tersebut. Kadmium memilki afinitas
yang kuat terhadap hati dan ginjal. Kadar kadmium pada hati dan ginjal
bervariasi tergantung pada kadar total kadmium dalam tubuh. Apabila
metalotionin (MT) hepar dan ginjal tidak mampu lagi melakukan
detoksifikasi, maka akan terjadi kerusakan hati dan ginjal (Widowati, 2008).
Kadmium memiliki afinitas yang kuat terhadap ginjal dan hati. Pada
umumnya, sekitar 50-75% kadmium dalam tubuh terdapat pada kedua organ
tersebut. Kadmium dalam tubuh akan dibuang melalui feces sekitar 3-4
minggu setelah terpapar kadmium dan melalui urin. Pada manusia, sebagian
besar kadmium diekskresikan melalui urin, sedangkan pada hewan sebagian
besar kadmium diekskresikan melalui feces (Widowati, 2008)

Efek terhadap Kesehatan


Keracunan akut
- Radang tenggorokan, nyeri kepala, mialgia, mual dan rasa logam
- Bronkitis
- Pneumonitis kimia pulminan dengan gejala demam, batuk, sesak nafas.
rasa penuh di dada, gagal nafas sampai kematian
- Gagal ginjal akut (Acute Renal Failure) dan gangguan fungsi hati
Keracunan Kronik
- Sindrom Fanconi : aminoaciduria, glikosuria, hiperkalsiuria, fosfaturia
dan proteinuria
- Nefrolitiasis, Nefropati (ICD.10, N14.0)
- Kerapuhan tulang mirip dengan osteomalacia karena terjadinya gangguan
daya keseimbangan kandungan kalsium (Ca) dan fosfat (P) dalam ginjal
disertai nyeri tulang (Itai-itai disease)
- Anosmia dan anemia
- Karsinogenik : kanker paru dan kanker prostat
- Hipertrofi jantung
- Lingkaran pada pangkal gigi

Pencegahan dan pengendalian cadmium


1. Tindakan perlindungan individual
- Pakaian pelindung harus dipilih secara spesifik untuk tempat bekerja,
tergantung konsentrasi dan jumlah bahan berbahaya yang ditangani.
Daya tahan pakaian pelindung kimia harus dipastikan dari masing-
masing suplier.
- Tindakan higienis
Segera ganti pakaian yang terkontaminasi. Gunakan krim pelindung
kulit. Cuci tangan dan muka setelah bekerja dengan bahan tersebut.
- Perlindungan mata/wajah
- Kacamata-pengaman
- Pelindung tangan
2. Tindakan pencegahan pribadi, peralatan pelindung dan prosedur darurat
- Nasihat untuk personel nondarurat Hindari terjadinya pembentukan dan
inhalasi debu dalam semua keadaan. Hindari kontak dengan bahan.
Pastikan ventilasi memadai. Evakuasi dari daerah bahaya, amati
prosedur darurat, hubungi ahli
3. Tindakan pencegahan untuk melindungi lingkungan
- Jangan membuang ke saluran pembuangan.
4. Tindakan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K)
- Pemberi pertolongan pertama harus melindungi dirinya.
- Setelah terhirup: berikan udara segar. Segera berikan pernapasan
buatan mekanik. Jika diperlukan berikan masker oksigen. Segera
hubungi dokter.
- Setelah kontak pada kulit: cuci dengan air yang banyak. Lepaskan
pakaian yang terkontaminasi. Cari dan dapatkan bantuan medis.
- Setelah kontak pada mata : bilaslah dengan air yang banyak. Hubungi
dokter mata.
- Jika tertelan: beri air minum (paling banyak dua gelas). Segera cari
anjuran pengobatan. Hanya di dalam kasus khusus, jika pertolongan
tidak tersedia dalam satu jam, rangsang untuk muntah (hanya jika
korban tidak sadarkan diri), telan karbon aktif and konsultasikan
kepada dokter secepatnya.
-
5. logam Chromium (Cr)
Chr (kromium) adalah suatu logam putih keras yang relatif tidak stabil
dan mudah teroksidasi, dapat dipoles menjadi mengkilap. Perpaduan Kromium
dengan besi dan nikel menghasilkan baja tahan karat. Krom merupakan
mineral esensial yang berperan dalam metabolisme karbihidrat dan lipida.
Kromium banyak digunakan sebagai pelapis pada ornamen-ornamen
bangunan, komponen kendaraan, seperti knalpot pada sepeda motor, maupun
sebagai pelapis perhiasan seperti emas, emas yang dilapisi oleh kromium ini
lebih dikenal dengan sebutan emas putih.
Khromium sendiri sebetulnya tidak toksik, tetapi senyawanya sangat
iritan dan korosif. Inhalasi khromium dapat menimbulkan kerusakan pada
tulang hidung. Di dalam paru-paru, khromium ini dapat menimbulkan kanker.
Sebagai logam berat, khrom termasuk logam yang mempunyai daya racun
tinggi. Daya racun yang dimiliki oleh khrom ditentukan oleh valensi ionnya.
Logam Cr6+ merupakan bentuk yang paling banyak dipelajari sifat racunnya
dikarenakan Cr6+ merupakan toxic yang sangat kuat dan dapat mengakibatkan
terjadinya keracunan akut dan keracunan kronis. (Soemirat, 2002).

Fungsi Krom
- Menjaga keseimbangan kadar gula darah dan meningkatkan efisiensi kerja
insulin.
- Chromium sering disebut sebagai “Glucose Tolerance Factor”(faktor
pengendali kadar gula darah) dibutuhkan pada proses pengolahan glukosa
menjadi energi.
- Membantu menurunkan berat badan dengan cara membakar lemak
menjadi energi.
- Menurunkan kolesterol dan trigliserid sehingga dapat menjaga kesehatan
jantung.
- Meningkatkan massa otot sehingga dapat membentuk otot yang ideal.
- Membantu sintesa kolesterol, lemak dan protein serta
meningkatkan jaringan otot

Metabolisme Dan Absorpsi


Absorpsi krom dibantu oleh asam-asam amino yang mencegah krom
mengendap dalam usus halus, ekresi melalui urin yg dipengaruhi oleh
konsumsi gula sederhana yg tinggi, aktivitas fisik berat atau traumafisik, krom
diangkut oleh tranferi, bila kejenuhan transferin tinggi,krom diangkut oleh
albumin

Efek terhadap kesehatan


Keracunan Akut
a. Akibat tertelan; bisa menyebabkan perdarahan saluran cerna, nekrosis
hati, nekrosis tubuler ginjal sampai kematian.
b. Bila terhirup menyebabkan reaksi alergi, kehilangan suara dada
sesak/sesak nafas, wheezing, batuk, sakit kepala/pusing, bersin, kongesti
paru, kerusakan ginjal.
c. Bila mengenai mata dapat terjadi konjungtivitis mata rasa terbakar,
kerusakan kornea sampai terjadi kebutaan Kontak dengan kulit
menimbulkan dermatitis kontak iritan. dermatitis kontak alergika,mual,
muntah, kerusakan ginjal, koma.
Keracunan Kronik
- Ulkus, perdarahan dan erosi pada septum nasi.
- Iritasi pada saluran nafas dapat menyebabkan batuk, nyeridada dan sesak
nafas (rhinitis, emfisema, bronkitis, faringitis, dll)
- Hemolisis
- Pada foto terlihat pembesaran daerah hilar dan kelenjar limfe
- Pneumokoniosis nodular dan nonnodular.
- Dermatitis alergik dan iritant, ulkus kulit tanpa nyeri (Chrom Holes).
- Pada darah dapat terjadi; leukositosis, eosinofilia kadang terjadi
leukopenia.
- Rasa penciuman hilang
- Perubahan warna pada gigi
- Radang konjungtiva, lakrimasi dan warns merah gelap disekitar kornea.
- Kanker paru, kanker pada mulut.
-
Pencegahan dan pengendalian Chromium
1. Tindakan perlindungan individual
- Pakaian pelindung harus dipilih secara spesifik untuk tempat bekerja,
tergantung konsentrasi dan jumlah bahan berbahaya yang ditangani.
Daya tahan pakaian pelindung kimia harus dipastikan dari masing-
masing suplier.
- Tindakan higienis : Segera ganti pakaian yang terkontaminasi.
Gunakan krim pelindung kulit. Cuci tangan dan muka setelah bekerja
dengan bahan tersebut.
- Perlindungan mata/wajah : Kacamata-pengaman
- Pelindung tangan : Sarung Tangan Karet
2. Tindakan terhadap tumpahan dan bocoran
- Hindari terjadinya pembentukan dan inhasi debu dalam semua keadaan.
hindari kontak dengan bahan, pastikan ventilasi memadai, evakuasi
dari daerah berbahaya. amati prosedur darurat dan hubungi ahli
3. Tindakan pertolongan pertama pada kecelakaan
- Terhirup : hirup udara segar’
- Setelah kontak pada kulit : cuci dengan air banyak, lepaskan pakaina
yang terkontaminasi cari dan dapatkan bantuan medis
- Setelah kontak dengan mata : bilaslah dengan air yang banyak :
hubungi dokter mata
- Setelah tertelan segera beri korban minum air putih (dua gelas paling
banyak) periksa dke dokter setal itu berikan : arang aktif : (20-40 g
10% slurry
BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Logam berat adalah logam-logam toksik yang mempunyai densitas 5 gr/cm3 atau
lima kali lebih besar daripada densitas air. Logam berat masih termasuk dalam
golongan dengan kriteria yang sama dengan logam-logam lain. Logam-logam ini
dibagi menjadi dua jenis yaitu:
- Logam berat essensial; yakni logam dalam jumlah tertentu yang sangat
dibutuhkan oleh organisme. Dalam jumlah berlebihan, logam tersebut dapat
menimbulkan efek toksik atau beracun. Contohnya adalah seng (Zn), tembaga
(Cu), besi (Fe), kobalt (Co), mangan (Mn) dan sebagainya.
- Logam berat tidak essensial; yakni logam yang keberadaaanya dalam tubuh
masih belum diketahui manfaatnya, bahkan bersifat toksik. Contohnya adalah
timbal (Pb), merkuri (Hg), kadmium (Cd), krom (Cr), arsen (As) dan lain-lain.

2. Jalur Pemaparan.
Jalur Pemaparan adalah alur masuknya zat kimia kedalam tubuh, jalur pemaparan
ada beberapa jenis dan tife pemaparan itu sendiri dapat mempengaruhi toksisitas
zat kimia. Ada tiga jalur pokok pemaparan,
a. Paparan melalui kulit/dermal
b. Paparan Melalui Ingesti/Pencernaan
c. Paparan Melalui Inhalasi

B. Saran
- Bagi para pekerja yang beresiko terpapar dengan logam berat untuk selalu
mengunakan APD selama berkerja guna menghindari mengurangi resiko
keterpaparan yang dapat menyebabkan pemyakit akibat kerja, kecacatan dan
bahkan kematian
- Kepada Perusahan/industri yang produksi atau menggunakan logam berat sebagai
campuran dalam proses prodduksi agar tidak membuang sisa pengelohan limbah
logam berat kelingkungan sekitar mengingat bahaya yang ditimbulkan terhadap
manusia, hewan serta lingkungan ekosistem.
DAFTAR PUSTAKA

Alfian Zul 2006 Merkuri antara Manfaat dan Efek Penggunaannya Bagi Kesehatan
dan Lingkungan, Universitas Sumatra Utara. Medan

Buku Ajar Toksikologi Umum 2006. Jurusan Farmasi Fakultas matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Udayana, Bali

Direktorat Bina Kesehatan Kerja dan Olahraga. 2012. Pedoman Tatalaksana Penyakit
Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan. Kementerian Kesehatan RI.

Widyastuti P, 2002. Bahaya Kimia Pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan


(Hazardous Chemicals in Human and Enviroment Health) Penerbit Buku
Kedokteran, ECG.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/56200/Chapter%20II.pdf?sequ
ence=4 di unduh tamggal 20 Mei 2017

http://mukono.blog.unair.ac.id/2009/09/09/arsen-as-dampak-terhadap-kesehatan-
serta-penanggulangannya-prof-drdrhjmukonomsmph/ di unduh tamggal 20
Mei 2017