Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

DENGAN DIAGNOSA MEDIS VERTIGO

DI RUMAH PELAYANAN SOSIAL LANSIA PUCANG GADING SEMARANG

Disusun oleh:

MUHAMMAD BURHANUL FIRDAUS


20901800062

PROGRAM PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNGSEMARANG
2019
A. LATAR BELAKANG

Indonesia termasuk dalam lima besar negara dengan jumlah lanjut usia
terbanyak di dunia (Depkes, 2015). Hasil Sensus Penduduk (SP) 2010 menunjukkan
bahwa penduduk Indonesia memiliki harapan untuk hiduphingga menca pai usia 70,7
tahun. Hal tersebut jauh lebih baik dari angka harapan hidup tiga atau empat dekade
sebelumnya, yaitu dibawah 60 tahun. Menurut WHO (2013), lanjut usia dibagi menjadi
empat kriteria yaitu usia pertengahan 45 sampai 59 tahun, lanjut usia (elderly) antara
60 sampai 74 tahun, lanjut usia tua (old) antara 75 sampai 90 tahun, usia sangat tua
(very old) diatas 90 tahun. Menua adalah proses alami yang terjadi dalam kehidupan
manusia. Penuaan akan terjadi hampir pada semua sistem tubuh, namun tidak semua
sistem tubuh mengalami kemunduran fungsi pada waktu yang sama (Nugroho, 2008).
Salah satu contoh kemunduran yang terjadi adalah munculnya gangguan sistem
vestibular, gangguan ini menjadi salah satu faktor meningkatnya rasa pusing.
Vertigo dapat digolongkan sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan
atau gangguan orientasi di ruangan. Banyak system atau organ tubuh yang ikut terlibat
dalam mengatur dan mempertahankan keseimbangan tubuh kita. Keseimbangan diatur
oleh integrasi berbagai sistem diantaranya sistem vestibular, system visual dan system
somato sensorik (propioseptik). Untuk memperetahankan keseimbangan diruangan,
maka sedikitnya 2 dari 3 sistem system tersebut diatas harus difungsikan dengan baik.
Pada vertigo, penderita merasa atau melihat lingkunganya bergerak atau dirinya
bergerak terhadap lingkungannya. Gerakan yang dialami biasanya berputar namun
kadang berbentuk linier seperti mau jatuh atau rasa ditarik menjauhi bidang vertikal.
Pada penderita vertigo kadang-kadang dapat kita saksikan adanya nistagmus.
Nistagmus yaitu gerak ritmik yang involunter dari pada bolamata. (Lumban Tobing.
S.M, 2013).
Vertigo adalah sensasi berputar atau pusing yang merupakan suatu gejala,
penderita merasakan benda-benda disekitarnya bergerak gerak memutar atau bergerak
naik turun karena gangguan pada sistem keseimbangan. (Arsyad Soepardi efiaty dan
Nurbaiti, 2012).
B. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum:
Mengetahui gambaran tentang penyakit vertigo pada lansia
2. Tujuan Khusus:
a. Mengetahui definisi vertigo pada lansia
b. Mengetahui tanda gejala vertigo pada lansia
c. Mengetahui penyebab vertigo pada lansia
d. Mengetahui klasifikasi vertigo
e. Mengetahui pathways vertigo pada lansia
f. Mengetahui Patofisiologi vertigo pada lansia
g. Mengetahui pemeriksaan penunjang vertigo pada lansia
h. Mengetahui penatalaksanaan vertigo pada lansia
i. Mengetahui Komplikasi vertigo pada lansia
j. Mengetahui diagnosa keperawatan dan intervensi vertigo pada lanisa
LANDASAN TEORI VERTIGO

A. DEFINISI
Vertigo dapat digolongkan sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau
gangguan orientasi di ruangan. Banyak system atau organ tubuh yang ikut terlibat dalam
mengatur dan mempertahankan keseimbangan tubuh kita. Keseimbangan diatur oleh
integrasi berbagai sistem diantaranya sistem vestibular, system visual dan system somato
sensorik (propioseptik). Untuk memperetahankan keseimbangan diruangan, maka
sedikitnya 2 dari 3 sistem system tersebut diatas harus difungsikan dengan baik. Pada
vertigo, penderita merasa atau melihat lingkunganya bergerak atau dirinya bergerak
terhadap lingkungannya. Gerakan yang dialami biasanya berputar namun kadang berbentuk
linier seperti mau jatuh atau rasa ditarik menjauhi bidang vertikal. Pada penderita vertigo
kadang-kadang dapat kita saksikan adanya nistagmus. Nistagmus yaitu gerak ritmik yang
involunter dari pada bolamata. (Lumban Tobing. S.M, 2013).
Vertigo adalah sensasi berputar atau pusing yang merupakan suatu gejala, penderita
merasakan benda-benda disekitarnya bergerak gerak memutar atau bergerak naik turun
karena gangguan pada sistem keseimbangan. (Arsyad Soepardi efiaty dan Nurbaiti, 2012).

B. MANIFESTASI KLINK
Manifestasi klinis pada klien dengan vertigo yaitu Perasaan berputar yang kadang-
kadang disertai gejala sehubungan dengan reak dan lembab yaitu mual, muntah, rasa kepala
berat, nafsu makan turun, lelah, lidah pucat dengan selaput putih lengket, nadi lemah,
puyeng (dizziness), nyeri kepala, penglihatan kabur, tinitus, mulut pahit, mata merah,
mudah tersinggung, gelisah, lidah merah dengan selaput tipis.
Pasien Vertigo akan mengeluh jika posisi kepala berubah pada suatu keadaan tertentu.
Pasien akan merasa berputar atau merasa sekelilingnya berputar jika akan ke tempat tidur,
berguling dari satu sisi ke sisi lainnya, bangkit dari tempat tidur di pagi hari, mencapai
sesuatu yang tinggi atau jika kepala digerakkan ke belakang. Biasanya vertigo hanya
berlangsung 5-10 detik. Kadang-kadang disertai rasa mual dan seringkali pasien merasa
cemas.Penderita biasanya dapat mengenali keadaan ini dan berusaha menghindarinya
dengan tidak melakukan gerakan yang dapat menimbulkan vertigo. Vertigo tidak akan
terjadi jika kepala tegak lurus atau berputar secara aksial tanpa ekstensi, pada hampir
sebagian besar pasien, vertigo akan berkurang dan akhirnya berhenti secara spontan dalam
beberapa hari atau beberapa bulan, tetapi kadang-kadang dapat juga sampai beberapa tahun.
Pada anamnesis, pasien mengeluhkan kepala terasa pusing berputar pada perubahan
posisi kepala dengan posisi tertentu. Secara klinis vertigo terjadi pada perubahan posisi
kepala dan akan berkurang serta akhirnya berhenti secara spontan setelah beberapa waktu.
Pada pemeriksaan THT secara umum tidak didapatkan kelainan berarti, dan pada uji kalori
tidak ada paresis kanal.
Uji posisi dapat membantu mendiagnosa vertigo, yang paling baik adalah dengan
melakukan manuver Hallpike : penderita duduk tegak, kepalanya dipegang pada kedua sisi
oleh pemeriksa, lalu kepala dijatuhkan mendadak sambil menengok ke satu sisi. Pada tes
ini akan didapatkan nistagmus posisi dengan gejala :
1. Penderita vertigo akan merasakan sensasi gerakan seperti berputar, baik dirinya sendiri
atau lingkungan.
2. Merasakan mual yang luar biasa.
3. Sering muntah sebagai akibat dari rasa mual.
4. Gerakan mata yang abnormal.
5. Tiba - tiba muncul keringat dingin.
6. Telinga sering terasa berdenging.
7. Mengalami kesulitan bicara.
8. Mengalami kesulitan berjalan karena merasakan sensasi gerakan berputar.
9. Pada keadaan tertentu, penderita juga bisa mengalami ganguuan penglihatan

C. ETIOLOGI
a) Otologi 24-61% kasus.
1. Benigna Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV).
2. Meniere Desease
3. Parese N VIII Uni/bilateral.
4. Otitis Media.
b) Neurologik 23-30% kasus.
1. Gangguan serebrovaskuler batang otak/ serebelum.
2. Ataksia karena neuropati.
3. Gangguan visus.
4. Gangguan serebelum.
5. Gangguan sirkulasi LCS.
6. Multiple sclerosis.
7. Vertigo servikal.
c) Interna kurang lebih 33% karena gangguan kardiovaskuler.
1. Tekanan darah naik turun.
2. Aritmia kordis.
3. Penyakit coroner.
4. Infeksi.
5. Glikemia.
6. Intoksikasi Obat: Nifedipin, Benzodiazepin, Xanax,
d) Psikiatrik > 50% kasus.
1. Fobia.
2. Anxietas.
3. Psikosomatis.
e) Fisiologik.
1. Melihat turun dari ketinggian.

D. KLASIFIKASI
Berdasarkan gejala klinisnya, vertigo dapat dibagi atas beberapa kelompok:
a) Vertigo paroksismal Yaitu vertigo yang serangannya datang mendadak, berlangsung
beberapa menitatau hari, kemudian menghilang sempurna; tetapi suatu ketika serangan
tersebutdapat muncul lagi. Di antara serangan, penderita sama sekali bebas
keluhan.Vertigo jenis ini dibedakan menjadi : Yang disertai keluhan telinga : Termasuk
kelompok ini adalah : Morbus Meniere, Arakhnoiditis pontoserebelaris, Sindrom
Lermoyes, Sindrom Cogan, tumor fossa cranii posterior, kelainan gigi/ odontogen.
Yang tanpa disertai keluhan telinga : Termasuk di sini adalah : Serangan iskemi sepintas
arteriavertebrobasilaris, Epilepsi, Migren ekuivalen, Vertigo pada anak (Vertigode
L’enfance), Labirin picu (trigger labyrinth). Yang timbulnya dipengaruhi oleh
perubahan posisi :Termasuk di sini adalah : Vertigo posisional paroksismal laten,
Vertigo posisional paroksismal benigna.

b) Vertigo kronis Yaitu vertigo yang menetap, keluhannya konstan tanpa (Cermin
DuniaKedokteran No. 144, 2004: 47) serangan akut, dibedakan menjadi: Yang disertai
keluhan telinga : Otitis media kronika, meningitis Tb,labirintitis kronis, Lues serebri,
lesi labirin akibat bahan ototoksik, tumor serebelopontin.Tanpa keluhan telinga :
Kontusio serebri, ensefalitis pontis, sindrom pascakomosio, pelagra, siringobulbi,
hipoglikemi, sklerosis multipel, kelainanokuler, intoksikasi obat, kelainan psikis,
kelainan kardiovaskuler, kelainanendokrin. Vertigo yang dipengaruhi posisi : Hipotensi
ortostatik, Vertigo servikalis.

Vertigo yang serangannya mendadak/akut, kemudian berangsur-angsur


mengurang, dibedakan menjadi
a) Disertai keluhan telinga : Trauma labirin, herpes zoster otikus, labirintitisakuta,
perdarahan labirin, neuritis n.VIII, cedera pada auditivainterna/arteria
vestibulokoklearis.
b) Tanpa keluhan telinga : Neuronitis vestibularis, sindrom arteriavestibularis anterior,
ensefalitis vestibularis, vertigo epidemika, sklerosismultipleks, hematobulbi, sumbatan
arteria serebeli inferior posterior.

E. PATHWAYS
F. PATOFISIOLOGI
Vertigo disebabkan dari berbagai hal antara lain dari otologi seperti meniere, parese N
VIII, otitis media. Dari berbagai jenis penyakit yang terjadi pada telinga tersebut
menimbulkan gangguan keseimbangan pada saraf ke VIII, dapat terjadi karena penyebaran
bakteri maupun virus (otitis media).
Selain dari segi otologi, vertigo juga disebabkan karena neurologik. Seperti gangguan
visus, multiple sklerosis, gangguan serebelum, dan penyakit neurologik lainnya. Selain
saraf ke VIII yang terganggu, vertigo juga diakibatkan oleh terganggunya saraf III, IV, dan
VI yang menyebabkan terganggunya penglihatan sehingga mata menjadi kabur dan
menyebabkan sempoyongan jika berjalan dan merespon saraf ke VIII dalam
mempertahankan keseimbangan.
Hipertensi dan tekanan darah yang tidak stabil (tekanan darah naik turun). Tekanan
yang tinggi diteruskan hingga ke pembuluh darah di telinga, akibatnya fungsi telinga akan
keseimbangan terganggudan menimbulkan vertigo. Begitupula dengan tekanan darah yang
rendah dapat mengurangi pasokan darah ke pembuluh darah di telinga sehingga dapat
menyebabkan parese N VIII.
Psikiatrik meliputi depresi, fobia, ansietas, psikosomatis yang dapat mempengaruhi
tekanan darah pada seseorang. Sehingga menimbulkan tekanan darah naik turun dan dapat
menimbulkan vertigo dengan perjalanannya seperti diatas. Selain itu faktor fisiologi juga
dapat menimbulkan gangguan keseimbangan. Karena persepsi seseorang berbeda-beda.
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Meliputi uji tes keberadaan bakteri melalui laboratorium, sedangkan untuk pemeriksaan
diagnostik yang penting untuk dilakukan pada klien dengan kasus vertigo antara lain:
1. Pemeriksaan fisik.
a. Pemeriksaan mata.
b. Pemeriksaan alat keseimbangan tubuh.
c. Pemeriksaan neurologic.
d. Pemeriksaan otologik.
e. Pemeriksaan fisik umum.
2. Pemeriksaan khusus.
a. ENG.
b. Audiometri dan BAEP.
c. Psikiatrik.
3. Pemeriksaan tambahan.
a. Radiologik dan Imaging.
b. EEG, EM.

H. PENATALAKSANAAN
a. Penatalaksanaan Medis.
Beberapa terapi yang dapat diberikan adalah terapi dengan obat-obatan seperti :
1) Anti kolinergik.
2) Sulfas Atropin : 0,4 mg/im.
3) Scopolamin : 0,6 mg IV bisa diulang tiap 3 jam.
a. Simpatomimetika.
1) Epidame 1,5 mg IV bisa diulang tiap 30 menit.
2) Menghambat aktivitas nukleus vestibuler.
b. Golongan antihistamin, Golongan ini, yang menghambat aktivitas nukleus
vestibularis adalah:
1) Diphenhidramin: 1,5 mg/im/oral bisa diulang tiap 2 jam.
2) Dimenhidrinat: 50-100 mg/ 6 jam.

Jika terapi di atas tidak dapat mengatasi kelainan yang diderita dianjurkan untuk
terapi bedah. Terapi menurut (Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004: 48) Terdiri
dari :

1. Terapi kausal: sebagian besar kausa vertigo tidak diketahui penyebabnya, sehingga
terapi biasanya bersifat simtomatik. Terapi kausal disesuaikan dengan faktor
penyebabnya.
2. Terapi simtomatik: ditujukan kepada 2 gejala utama yaitu rasa berputar dan gejala
otonomnya. Pemilihan obat-obat anti vertigo tergantung pada efek obat
bersangkutan, berat ringan vertigo dan fasenya. Misalnya pada fase akut dapat
diberikan obat penenang untuk menghilangkan rasa cemas, disamping anti vertigo
lainnya.
3. Terapi Rehabilitasi: Bertujuan untuk membangkitkan dan meningkatkan
kompensasi sentral dan habituasi pada pasien dengan gangguan vestibuler.
Beberapa bentuk latihan yang dapat dilakukan adalah latihan vestibuler, latihan
visual vestibuler atau latihan berjalan.

c. Penatalaksanaan Keperawatan.
1. Karena gerakan kepala memperhebat vertigo, pasien harus dibiarkan berbaring diam
dalam kamar gelap selama 1-2 hari pertama.
2. Fiksasi visual cenderung menghambat nistagmus dan mengurangi perasaan
subyektif vertigo pada pasien dengan gangguan vestibular perifer, misalnya
neuronitis vestibularis. Pasien dapat merasakan bahwa dengan memfiksir pandangan
mata pada suatu obyek yang dekat, misalnya sebuah gambar atau jari yang
direntangkan ke depan, temyata lebih enak daripada berbaring dengan kedua mata
ditutup.
3. Karena aktivitas intelektual atau konsentrasi mental dapat memudahkan terjadinya
ver-tigo, maka rasa tidak enak dapat diperkecil dengan relaksasi mental disertai
fiksasi visual yang kuat.
4. Bila mual dan muntah berat, cairan intravena harus diberikan untuk mencegah
dehidrasi.
5. Bila vertigo tidak hilang. Banyak pasien dengan gangguan vestibular perifer akut
yang belum dapat memperoleh perbaikan dramatis pada hari pertama atau kedua.
Pasien merasa sakit berat dan sangat takut mendapat serangan berikutnya. Sisi
penting dari terapi pada kondisi ini adalah pernyataan yang meyakinkan pasien
bahwa neuronitis vestibularis dan sebagian besar gangguan vestibular akut lainnya
adalah jinak dan dapat sembuh. Dokter harus menjelaskan bahwa kemampuan otak
untuk beradaptasi akan membuat vertigo menghilang setelah beberapa hari.
6. Latihan vestibular dapat dimulai beberapa hari setelah gejala akut mereda. Latihan
ini untuk rnemperkuat mekanisme kompensasi sistem saraf pusat untuk gangguan
vestibu-lar akut.

I. KOMPLIKASI
1. Cidera fisik
Pasien dengan vertigo ditandai dengan kehilangan keseimbangan akibat
terganggunya saraf VIII (Vestibularis), sehingga pasien tidak mampu mempertahankan
diri untuk tetap berdiri dan berjalan.
2. Kelemahan otot.
Pasien yang mengalami vertigo seringkali tidak melakukan aktivitas. Mereka
lebih sering untuk berbaring atau tiduran, sehingga berbaring yang terlalu lama dan
gerak yang terbatas dapat menyebabkan kelemahan otot.
J. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko jatuh b.d kerusakan keseimbangan (N. VIII)
2. Intoleransi aktivitas b.d tirah baring
3. Resiko kurang nutrisi b.d tidak adekuatnya input makanan
4. Gangguan persepsi pendengaran b.d tinitus
5. Koping individu tidak efektif b.d metode koping tidak adekuat

K. INTERVENSI

a) Resiko jatuh b.d Kerusakan keseimbangan


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam masalah risiko jatuh
dapat teratasi.
Kriteria Hasil :
1) Klien dapat mempertahankan keseimbangan tubuhnya
2) Klien dapat mengantisipasi resiko terjadinya jatuh
Intervensi Rasional
1. Kaji tingkat energi yang dimiliki 1. Energi yang besar dapat
klien memberikan keseimbangan
2. Berikan terapi ringan untuk pada tubuh saat istirahat
mempertahankan kesimbangan 2. Salah satu terapi ringan adalah
3. Ajarkan penggunaan alat-alat menggerakan bola mata, jika
alternatif dan atau alat-alat bantu sudah terbiasa dilakukan,
untuk aktivitas klien. pusing akan berkurang.
4. Berikan pengobatan nyeri 3. Mengantisipasi dan
(pusing) sebelum aktivitas meminimalkan resiko jatuh.
4. Nyeri yang berkurang dapat
meminimalisasi terjadinya
jatuh.

b) Intoleransi aktivitas b.d tirah baring


Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam masalah intoleransi
aktivitas dapat teratasi.
Kriteria Hasil :
1) Meyadari keterbatasan energi
2) Klien dapat termotivasi dalam melakukan aktivitas
3) Menyeimbangkan aktivitas dan istirahat
4) Tingkat daya tahan adekuat untuk beraktivitas
Intervensi Rasional
1. Kaji respon emosi, sosial, 1. Respon emosi, sosial, dan
dan spiritual terhadap spiritual mempengaruhi kehendak
aktivitas klien dalam melakukan aktivitas
2. Berikan motivasi pada 2. Klien dapat bersemangat untuk
klien untuk melakukan melakukan aktivitas
aktivitas 3. Energi yang tidak stabil dapat
3. Ajarkan tentang menghambat dalam melakukan
pengaturan aktivitas dan aktivitas, sehingga perlu
teknik manajemen waktu dilakukan manajemen waktu
untuk mencegah 4. Terapi okupasi dapat menentukan
kelelahan. tindakan alternatif dalam
4. Kolaborasi dengan ahli melakukan aktivitas.
terapi okupasi

c) Risiko kurang nutrisi b.d tidak adekuatnya input makanan


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam maslah kurang nutrisi
dapat sedikit teratasi.
Kriteria Hasil :
1) Klien tidak merasa mual muntah
2) Nafsu makan meningkat
3) BB stabil atau bertahan
Intervensi Rasional
1. Kaji kebiasaan makan 1. Kebiasaan makan yang disukai
yang disukai klien dapat meningkatkan nafsu makan
2. Pantau input dan output 2. Untuk memantau status nutrisi
pada klien pada klien
3. Ajarkan untuk makan 3. Mempertahankan status nutisi
sedikit tapi sering pada klien agar dapat meningkat
4. Kolaborasi dengan ahli atau stabil.
gizi 4. Ahli gizi dapat menentukan
makanan yang tepat untuk
meningkatkan kebutuhan nutrisi
pada klien.

d) Gangguan persepsi pendengaran b.d tinitus


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam maslah gangguan
perepsi sensori pendengaran dapat teratasi.
Kriteria Hasil :
1) Klien dapat memfokuskan pendengaran
2) Tidak terjadi tinitus yang berkelanjutan
3) Pendengaran adekuat
Intervensi Rasional
1. Kaji tingkat pendengaran 1. Mengetahui tingkat
pada klien kemaksimalan pendengaran pada
2. Lakukan tes rinne, weber, klien untuk menentukan terapi
atau swabah untuk yang tepat.
mengetahui 2. Mengetahui keabnormalan yang
keseimbangan terjadi akibat tinitus
pendengaran saat terjadi 3. Mempertahankan keadekuatan
tinitus pendengaran
3. Ajarkan untuk 4. Memaksimalkan pendengaran
memfokuskan pada klien
pendengaran saat terjadi
tinitus
4. Kolaborasi penggunaan
alat bantu pendengaran

e) Koping individu tidak efektif b.d metode koping tidak adekuat


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam masalah koping
individu tidak efektif dapat teratsi.
Kriteria Hasil :
1) Klien dapat menyadari bahwa dirinya mengalami gangguan pendengaran
2) Klien dapat mengatasi dengan tindakan mandiri
Intervensi Rasional
1. Kaji kemampuan klien 1. Mengetahui batas maksimal
dalam mempertahankan kemampuan pendengaran klien
keadekuatan pendengaran 2. Klien tidak mengalami depresi
2. Berikan motivasi dalam akibat keadaan fisiknya
menerima keadaan 3. Pusing yang terjadi dapat
fisiknya memunculkan tinitus
3. Ajarkan cara mengatasi 4. Obat untuk mengatasi tinitus.
masalah pendengaran
akibat pusing yang
diderita
4. Kolaborasi pemberian
antidepresan sedatif,
neurotonik, atau
transquilizer serta vitamin
dan mineral.
DAFTAR PUSTAKA

Arsyad soepardi, efiaty dan Nurbaiti.2002. Buku ajar ilmu kesehatan telingahidung tenggorok
kepala leher edisi ke lima. Jakarta : Gaya Baru
Lumbantobing, SM. Vertigo Tujuh Keliling. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Jakarta 2013
Santosa, Budi.2015.Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006.Alih bahasa.Jakarta
: Prima Medika
Wilkinson, Judith M.2017.Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan
Kriteria Hasil NOC.Jakarta : EGC
Pitriono Zinbe.2013. Asuhan Keperawatan Vertigo