Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

TERAPI KOMPLEMENTER

OLEH :

KELOMPOK 7

KELAS C, SEMESTER 5

Fine C. Potalangi 17061133

Lydia Lintong 17061170

Windy Kristianto 17061050

Angelita Karambut 17061088

Daniel Miojo 17061128

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS KATOLIK DE LA SALLE MANADO

2019

1
KATA PENGANTAR

Rasa syukur kami panjatkan ke hadiran Allah Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan karunianya sehingga makalah ini dapat diselesaikan.

Kami menyadari makalah ini tentunya masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu kami mengharap saran dan kritik yang membangun demi sempurnanya
modul ini. Akhirnya kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat.

Manado, September 2019

Kelompok 7

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................... 2

DAFTAR ISI ........................................................................................ 3

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ................................................................................ 4

B. Rumusan Masalah ........................................................................... 5

C. Tujuan.............................................................................................. 5

BAB II PEMBAHASAN

1. Konsep Terapi Komplementer…………………………………….6


2. Klasifikasi terapi komplementer…………………………………..6
3. Hubungan Terapi Komplementer dengan Keperawatan Paliatif ….11

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan...................................................................................... 14

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................ .15

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Terapi di keperawatan adalah konsep diri sebagai penyembuhan harus dipahami
dan dialami oleh setiap perawat untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
dalam arahan atau konseling pasien dalam penggunaan berbagai terapi. Terapi
Komplementer ini sudah dikenal secara luas serta telah digunakan sejak dulu dalam
dunia kesehatan. Namun, dalam beberapa survei yang telah dilakukan mengenai
penggunaan terapi komplementer, cakupan terapi komplementer sendiri masih agak
terbatas.
Thomas Friedman (2005) mengatakan saat ini, dunia kesehatan, termasuk salah
satunya praktisi keperawatan masih bingung tentang apa itu terapi komplementer.
Memperluas pengetahuan tentang perspektif obat pelengkap seperti terapi
komplementer, dilakukan oleh sebagian orang-orang dalam beberapa budaya di dunia
yaitu sangat penting untuk perawatan kesehatan yang kompeten. Dengan demikian
sangat penting bagi perawat profesional kesehatan untuk melakukan penilaian holistik
pasien mereka untuk menentukan arah yang luas dari penyembuhan praktek-praktek
yang akan mereka jalankan.
Perkembangan terapi komplementer akhir-akhir ini menjadi sorotan banyak
negara. Pengobatan komplementer atau alternatif menjadi bagian penting dalam
pelayanan kesehatan di Amerika Serikat dan negara lainnya (Snyder & Lindquis, 2002).
Estimasi di Amerika Serikat 627 juta orang adalah pengguna terapi alternatif dan 386
juta orang yang mengunjungi praktik konvensional (Smith et al., 2004). Data lain
menyebutkan terjadi peningkatan jumlah pengguna terapi komplementer di Amerika
dari 33% pada tahun 1991 menjadi 42% di tahun 1997. Kemudian meurut Snyder &
Lindquis (2002) yaitu klien yang menggunakan terapi komplemeter memiliki beberapa
alasan. Salah satu alasannya adalah filosofi holistik pada terapi komplementer, yaitu
adanya harmoni dalam diri dan promosi kesehatan dalam terapi komplementer. Alasan
lainnya karena klien ingin terlibat untuk pengambilan keputusan dalam pengobatan dan
peningkatan kualitas hidup dibandingkan sebelumnya. Sejumlah 82% klien melaporkan
adanya reaksi efek samping dari pengobatan konvensional yang diterima menyebabkan
memilih terapi komplementer.

4
Kemudian perawatan paliatif merupakan bagian penting dalam perawatan
pasien yang terminal yang dapat dilakukan secara sederhana, seringkali prioritas utama
adalah kualitas hidup dan bukan kesembuhan dari penyakit pasien. Tujuan perawatan
paliatif adalah meningkatkan kualitas hidup dan menganggap kematian sebagai prose
normal, tidak mempercepat atau menunda keamatian, menghilangkan nyeri dan
keluhan lain yang mengganggu, menjaga keseimbangan psikologis dan spiritual,
mengusahakan agar penderita tetap aktif sampai akhir hayatnya dan mengusahakan
membantu mengatasi duka cita pada keluarga. Reaksi emosional pada klien paliatif
tersebut ada lima yaitu denail, anger, bergaining, depression dan acceptance (Kubler-
Ross,2003).
Berdasarkan latar belakang diatas, terapi komplementer pada pasien paliatif yaitu
dengancara penanggulangan penyakit yang dilakukan sebagai pendukung kepada
pengobatan medis konvensional atau sebagai pengobatan pilihan lain diluar pengobatan
medis yang Konvensional.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan terapi komplementer?
2. Apa klasifikasi terapi komplementer?
3. Bagaimana hubungan terapi komplementer dengan perawatan paliatif ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui maksud dari terapi komplementer.
2. Untuk mengetahui klasifikasi terapi komplementer.
3. Untuk mengetahui hubungan terapi komplementer dengan perawatan paliatif.

BAB II

5
PEMBAHASAN

1. Konsep Terapi Komplementer


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), terapi adalah usaha untuk
memulihkan kesehatan orang yang sedang sakit, pengobatan penyakit, perawatan
penyakit. Komplementer adalah bersifat melengkapi, bersifat menyempurnakan.
Pengobatan komplementer dilakukan dengan tujuan melengkapi pengobatan medis
konvensional dan bersifat rasional yang tidak bertentangan dengan nilai dan hukum
kesehatan di Indonesia.
Standar praktek pengobatan komplementer telah diatur dalam Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia.Menurut WHO (World Health Organization),
pengobatan komplementer adalah pengobatan non-konvensional yang bukan berasal
dari negara yang bersangkutan, sehingga untuk Indonesia jamu misalnya, bukan
termasuk pengobatan komplementer tetapi merupakan pengobatan tradisional.
Pengobatan tradisional yang dimaksud adalah pengobatan yang sudah dari zaman
dahulu digunakan dan diturunkan secara turun – temurun pada suatu negara. Terapi
komplementer adalah sebuah kelompok dari macam - macam sistem pengobatan dan
perawatan kesehatan, praktik dan produk yang secara umum tidak menjadi bagian dari
pengobatan konvensional (Widyatuti, 2012).

2. Klasifikasi terapi komplementer


1) Sistem medis alternatif
a. Akupuntur
Akupuntur merupakan salah satu komponen dari obat tradisional Cina. Hal
ini didasarkan pada keyakinan di qi (kekuatan hidup), yang merupakan energi yang
mengalir melalui tubuh sepanjang jalur yang dikenal sebagai meridian. Setiap
ketidakseimbangan dalam qi diduga mengakibatkan kesulitan atau penyakit. Ada
12 meridian utama diyakini sebagai titik akupuntur yang sesuai dengan setiap
bagian tubuh dan organ. Untuk menyeimbangkan aliran qi, jarum sekali pakai yang
sangat halus dimasukkan ke dalam acupoints di bawah kulit. Dasar biologis dari qi
belum ditemukan, namun diperkirakan bahwa akupuntur menstimulus endorfin

6
dan neurotransmiter lain di otak. Akupunktur telah terbukti efektif untuk nyeri dan
kemoterapi terkait mual dan muntah.
Risiko akupunktur berhubungan dengan ketidaknyamanan ringan. Hanya
jarum sekali pakai yang digunakan. Hal ini penting untuk mengetahuiseorang
praktisi akupuntur yang berkualitas. Ahli akupunktur harus memiliki pengalaman
sebelumnya dengan pasien kanker. Di New York State ahli akupunktur harus
memiliki lisensi dan harus memiliki 40 sampai 50 jam pelatihan.
Kontraindikasi akupuntur pada lymphedema (risiko infeksi), alat pacu
jantung (tidak ada electroacupuncture; bisa mengganggu irama jantung), dan
kehamilan (perlu menghindari titik-titik tertentu yang bisa merangsang rahim).
Dana-Farber Cancer Institute di Boston, kontraindikasi akupunktur adalah ANC
<500 / µL, trombosit <25.000 / µl, demam neutropenia, situs metastasis, situs
iradiasi (berkelanjutan untuk 4 minggu setelah), INR> 3,5-4,0, dan transplantasi
sel induk (2 minggu sebelum 3 bulan setelah itu). Akupuntur tidak akan
mengganggu obat nyeri.
b. Akupresur
Akupresur adalah teknik pengobatan Cina tradisional yang didasarkan pada
ide-ide yang sama seperti akupunktur. Akupresur melibatkan penempatan tekanan
fisik dengan tangan pada titik-titik akupuntur yang berbeda pada permukaan tubuh.
Ada tiga titik akpresur yang perawat dapat gunakan atau ajarkan pada pasien
kanker untk menstimulasi diri. Titik pada usus besar dapat diakses oleh
pasien/keluarga/perawat. Lokasi bagian berdaging dari kedua tangan antara ibu jari
dan jari telunjuk dan kemudian tekan dengan ibu jari tangan berlawanan sampai
pasien merasakan tekanan. Titik perut terletak di sisi lateral lutut antara patella dan
puncak tibia. Titik mual dan muntahterletak dua inci proksimal ke puncak
melintang dari pergelangan tangan antara dua tendon. Tekan dengan ibu jari secara
melingkar selama 1 sampai 2 menit.
2) Mind-body medicine
a. Meditasi
Meditasi adalah pengaturan perhatian oleh diri sendiri secara sengaja. Ada
dua kategori meditasi: konsentrasi dan kesadaran. Metode konsentrasi
menumbuhkan kemanunggalan perhatian dan mulai dengan mantra (suara diulang,
kata, atau frase) seperti dalam meditasi transendental. Praktek pengurangan stres

7
berbasis kesadaran mulai dengan pengamatan pikiran, emosi, dan sensasi tanpa
penilaian yang muncul di bidang kesadaran.
Meditasi telah membantu untuk pasien kanker yang sakit parah untuk
menghilangkan rasa sakit fisik dan emosional. Banyak pasien kanker meninggal
menemukan bahwa ketenangan dan tenang pada meditasi menimbulkan perasaan
yang mendalam dari penerimaan, kesejahteraan, dan kedamaian batin. Sebuah studi
yang dilakukan pada 51 pasien rawat jalan dengan nyeri kronis dengan program
10-minggu menunjukkan penurunan 50% rasa sakit. Meditasi mengurangi tingkat
stres yang berpotensi dapat mengurangi pengalaman rasa sakit.
b. Hipnosis
Hipnosis adalah keadaan penuh perhatian, konsentrasi reseptif ditandai
dengan perubahan sensori, keadaan psikologis diubah, dan minim fungsi motorik.
Instruksi yang biasa diberikan menyarankan relaksasi fisik seperti mengambang
bersama dengan gambar yang mengalihkan perhatian dari rasa sakit. Hipnosis
dapat diinduksi dalam beberapa menit untuk mempertahankan analgesia yang
sedang berlangsung dan relaksasi dalam menghadapi tekanan emosional dan fisik.
Ada bukti dari tinjauan sistematis bahwa hipnosis dapat membantu mengurangi
kecemasan dan nyeri pada pasien kanker yang terminal.
c. Guided imagery
Ini mengalihkan fokus mental dari rangsangan menyakitkan untuk
pengalaman yang lebih menyenangkan, gambaran, dan relaksasi. Guided imagery
adalah intervensi yang perawat dapat lakukan dengan pengaturan yang berbeda
(rumah sakit, rumah, hospice), dapat digunakan dengan pasien dan keluarga untuk
mengurangi rasa sakit dan kecemasan.
d. Pelatihan relaksasi
Pelatihan relaksasi melibatkan napas dalam, relaksasi otot progresif, dan
pencitraan. Modalitas ini telah menghasilkan penurunan yang signifikan dalam
nyeri secara subjektif pada pasien dengan kanker stadium lanjut.
e. Terapi distraksi
Terapi distraksi adalah teknik di mana rangsangan sensorik diberikan
kepada pasien dalam rangka untuk mengalihkan perhatian mereka dari pengalaman
yang tidak menyenangkan. Misalnya dengan melihat pemandangan alam, video
game, dll.
f. Terapi musik
8
Terapi musik adalah pengunaan music yang diatur/dikontrol untuk
perubahan klinis. Terapi musik digunakan untuk mengurangi rasa sakit dan
penderitaan. Ada perbedaan antara penggunaan musik dan terapi musik. Terapi
musik menggunakan bakat dari seorang profesional terlatih yang memfasilitasi
kontak pasien, interaksi, kesadaran diri, dan ekspresi diri melalui alat musik.
Sebuah sesi terapi musik dapat seperti mendengarkan, bernyanyi, bermain drum,
mengembangkan lirik, atau merekam untuk keluarga. Musik yang disediakan oleh
terapis musik telah terbukti lebih efektif daripada penggunaan pra rekaman musik
sendiri dalam mengurangi skor kecemasan.
a. Terapi Seni
Terapi seni menggunakan proses kreatif untuk memungkinkan kesadaran
dan ekspresi emosi individu. Untuk pasien kanker, seringkali sulit untuk
mengungkapkan secara verbal apa yang dirasakan seseorang tentang diagnosis,
rawat inap, pengobatan, penyakit berulang, keluarga, dan kematian. Ini adalah seni
itu sendiri yang memfasilitasi kesadaran emosi dan pengurangan gejala melalui
penggunaan bahan-bahan seni. Beberapa penelitian telah meneliti penggunaan
terapi seni dalam mengendalikan gejala kanker.
Dalam sebuah penelitian pasien kanker, sebagian besar dengan leukemia
dan limfoma, terapi seni menyediakan penurunan signifikan secara statistik pada
rasa sakit dan gejala umum lainnya, kecuali untuk mual. Dengan menggunakan
garis tubuh dan pastel berwarna dan spidol, pasien kanker yang membantu untuk
memvisualisasikan rasa sakit mereka, mengkomunikasikan emosi mereka,
berurusan dengan citra tubuh, dan mencari makna dan spiritualitas.
3) Manipulative and body-based practices
a. Pijat atau massase
Pada pasien kanker, sentuhan membuat koneksi, kenyamanan, dan
peningkatan kualitas hidup. Sentuhan berupa pijat menjadi bagian dari perawatan
sehari-hari yang diberikan kepada setiap pasien yang dirawat di rumah sakit. Terapi
pijat digunakan untuk meringankan gejala pada pasien kanker. Ini menggunakan
teknik manual menggosok, membelai, menekan, atau memijat jaringan lunak tubuh
untuk mempengaruhi seluruh tubuh. Pada suatu waktu, pijat itu diduga
menyebabkan penyebaran kanker dengan meningkatkan sirkulasi sistemik. Sampai
saat ini tidak ada bukti untuk mendukung ini. Sentuhan dapat menjadi intervensi
terhadap nyeri. Berbagai penjelasan untuk efektivitas pijat telah diusulkan:
9
pengurangan ketegangan otot, meningkatkan sirkulasi, relaksasi umum, dan efek
memelihara sentuh.
Pijat umumnya aman untuk pasien kanker, tetapi membutuhkan modifikasi
teknik khusus untuk pasien individu. Ada kontraindikasi khusus untuk pasien
hamil. Hal ini kontraindikasi pada daerah dengan metastase tulang (untuk risiko
patah atau pecah tulang) atau tumor (untuk risiko perdarahan); untuk pasien dengan
jumlah trombosit dari <50.000 (untuk risiko memar); di titik bekuan darah (untuk
risiko melepas trombus dalam vena), dan di situs bedah atau ruam. Pijat dalam
jaringan tidak boleh diberikan pada pasien dengan kanker; tekanan ringan adalah
pijat yang paling tepat untuk pasien ini. Izin terapis pijat terlatih yang telah
memiliki pengalaman dengan pasien kanker.
b. Gentle massase
Untuk memberikan kenyamanan tempatkan telapak tangan seluas mungkin
dengan seluruh tangan berkontak dengan bagian tubuh pasien seperti lengan atau
punggung. Jangan menggunakan ujung jari atau jempol karena dapat memberikan
banyak tekanan terlalu spesifik. Tekanan harus ringan dan tersebar luas. Pilihan
pola pijat bias seperti lingkaran, dua lingkaran, oval, atau dua oval besar. Hal ini
penting untuk memindahkan tangan pada kecepatan dan tekanan yang konsisten.
c. Refleksi
Refleksi adalah terapi sentuh yang didasarkan pada keyakinan bahwa ada
titik refleks atau titik energi pada kaki, tangan, dan telinga yang sesuai dengan
setiap kelenjar, organ, dan bagian tubuh. Dengan stimulasi terampil dari daerah-
daerah dan poin dengan tangan, jari, dan teknik praktis, sistem tubuh yang
difasilitasi untuk keseimbangan yang lebih besar. Ini memfasilitasi pasien dalam
keadaan yang lebih santai di mana mereka dapat fokus pada kesehatan daripada
penyakit. Hal ini digunakan untuk menstimulasi relaksasi dan tidur, untuk
mengurangi kecemasan, untuk mencegah dan mengurangi neuropati perifer
sekunder untuk kemoterapi, dan untuk mengurangi pengalaman rasa sakit secara
keseluruhan. Refleksi kaki adalah noninvasif, dapat dilakukan dalam pengaturan
apapun, tidak memerlukan peralatan, dan tidak mengganggu privasi pasien.
Refleksi harus dihindari jika pasien memiliki trombosis vena di kaki /
tangan untuk mencegah bergerak dari trombus ke dalam sirkulasi. Kontraindikasi
lainnya adalah infeksi, ruam, memar, luka, dan lymphedema kaki atau kaki.
Perawat dan orang awam dapat diajarkan pijat refleksi. Keluarga dapat diajarkan
10
untuk melakukan refleksi untuk mengurangi rasa sakit dan kecemasan pada
keluarganya yang sakit.
4) Energy medicine (Reiki)
Reiki adalah energi getaran atau halus paling sering difasilitasi oleh sentuhan
yang sangat ringan. Rei berarti yang universal atau energi tertinggi, dan ki berarti
energi kekuatan hidup. Terapi Reiki diduga mendukung kesejahteraan kita dan untuk
memperkuat kemampuan alami kita untuk menyembuhkan dengan mendorong
keseimbangan dalam tubuh, pikiran, dan jiwa.
Reiki yang ditawarkan oleh seorang praktisi Reiki dilatih untuk individu dan
melibatkan penempatan tangan yang sangat ringan pada tubuh pasien: kepala hingga
ujung kaki, depan dan belakang, dan di titik nyeri jika ditoleransi. Sentuhan lembut
dari Reiki adalah menenangkan, dan menstimlasi relaksasi yang mendalam. Hal ini
dapat diberikan kepada setiap pasien karena sentuhan yang sangat ringan. Sebagian
besar pasien kanker dapat menerima Reiki. Karena itu adalah sentuhan ringan, tidak
menimbulkan rasa tidak nyaman. Selama pasien terbuka untuk menerima sentuhan
yang sangat ringan, dapat dilakukan.
5) Biological Based Practice
Karena terapi komplementer adalah pengobatan untuk mendukung pengobatan
medis atau konvensional. Jadi herbal, vitamin dan suplemen yang diberikan akan
berinteraksi dengan obat-obatan yang di berikan oleh dokter atau tenaga medis lainnya.
Namun, adanya interaksi antara obat herbal, vitamin, atau suplemen dengan obat-
obatan harus diwaspadai.
Contoh pengobatan komplementer dalam bentuk herbal yaitu herbal Sinshe
Fengshui, yaitu metode pengobatan yang memadukan obat-obatan herbal yang
berkhasiat tinggi dengan resep pengobatan Cina Kuno yang telah berusia ribuan tahun.
Selain itu ada tanaman herbal, yaitu gingseng yang berasal dari daerah pegunungan
Cina Utara yang bermanfaat untuk pengobatan yang bisa untuk menyegarkan tubuh
dan jiwa juga bermanfaat dalam menyembuhkan berbagai penyakit dan gangguan
lainya.

3. Hubungan Terapi Komplementer dengan Keperawatan Paliatif


Masyarakat cenderung menggunakan terapi komplementer karena banyak
terapi yang menjanjikan kesembuhan 100% dan bisa mengobati berbagai jenis
11
penyakit namun belum banyak penelitian yang membuktikannya. Salah satu
penyakit paliatif yang bisa dilakukan terapi komplementer adalah penyakit kanker.
Pengobatan kanker yang baik harus memenuhi fungsi menyembuhkan (kuratif),
mengurangi rasa sakit (paliatif) dan mencegah timbulnya kembali (preventif).
Pengobatan komplementer alternatif adalah salah satu pelayanan kesehatan yang
akhir-akhir ini banyak diminati oleh masyarakat maupun kalangan kedokteran
konvensional (Hasanah & Widowati, 2016).
Pada penelitian yang dilakukan oleh Irawan, Rahayuwati & Yani (2017)
menunjukkan bahwa pengguna terapi modern sering mengeluh mual muntah
terutama pasca kemoterapi. Pengguna terapi modern dan komplementer (pijat)
mengatakan penggunaan pijat mengurangi lelah dan nyeri pasca terapi modern
dilakukan. Pengguna terapi modern dan komplementer (herbal) mengatakan
penggunaan herbal mengurangi mual muntah dan mempercepat penyembuhan
pasca terapi modern dilakukan. Pengguna terapi modern dan komplementer (herbal
dan pijat) mengatakan penggunaan herbal dan pijat untuk mengurangi efek samping
terapi modern.
Hasil penelitian yang lain menunjukkan terapi modern telah terbukti secara
medis dan gejala-gejala yang ditimbulkan oleh penyakit kanker dapat dikurangi
dengan terapi modern dan komplementer sehingga secara global kualitas hidup
penderita kanker meningkat.
Salah satu dari terapi komplementer yang dapat digunakan pada keperawatan
paliatif adalah akupuntur. Akupunktur yang digunakan pada terapi kanker bukan
ditujukan untuk mengobati penyakit kankernya karena penusukan pada lesi
merupakan kontraindikasi. Hal ini dilakukan untuk pengobatan paliatif yaitu
mengurangi nyeri kronis, mengurangi efek samping kemoterapi ataupun radioterapi
seperti nyeri, mual, muntah, serta mengurangi dosis obat anti-nyeri sehingga
kualitas hidup penderita dapat ditingkatkan.
Pelayanan kesehatan komplementer alternatif merupakan pelayanan yang
menggabungkan pelayanan konvensional dengan kesehatan tradisional dan atau
hanya sebagai alternatif menggunakan pelayanan kesehatan tradisional, terintegrasi
dalam pelayanan kesehatan formal. Keberhasilan masuknya obat tradisional ke
dalam sistem pelayanan kesehatan formal hanya dapat dicapai apabila terdapat
kemajuan yang besar dari para klinisi untuk menerima dan menggunakan obat
tradisional (Hasanah & Widowati, 2016).
12
Penyelenggaran pengobatan komplementer alternatif diatur dalam standar
pelayanan medik herbal menurut Keputusan Menteri Kesehatan
No.121/Menkes/SK/II/2008 yang meliputi melakukan anamnesis; melakukan
pemeriksaan meliputi pemeriksaan fisik (inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi)
maupun Jamu pada pemeriksaan penunjang (laboratorium, radiologi, EKG);
menegakkan diagnosis secara ilmu kedokteran; memberikan obat herbal hanya pada
pasien dewasa; pemberian terapi berdasarkan hasil diagnosis yang telah ditegakkan;
penggunaan obat herbal dilakukan dengan menggunakan tanaman berkhasiat obat
sebagai contoh yang selama ini telah digunakan di beberapa rumah sakit dan
PDPKT; mencatat setiap intervensi (dosis, bentuk sediaan, cara pemberian) dan
hasil pelayanan yang meliputi setiap kejadian atau perubahan yang terjadi pada
pasien termasuk efek samping (Kepmenkes, 2008).
Beberapa fakta yang kita jumpai pada masyarakat akhir-akhir ini adalah
kecenderungan kembali ke alam dan terapi alternatif. Dengan banyaknya pilihan
tanaman obat yang ditawarkan, mahalnya biaya pengobatan keperawatan paliatif
secara konvensional, ketidakberhasilan dan banyaknya penyulit sampingan dalam
pengobatan konvensional, serta adanya kasus paliatif yang dapat disembuhkan
dengan tanaman obat mendorong makin banyak masyarakat yang memilih
pengobatan alternatif antara lain dengan tanaman obat dan terapi komplementer
sebagai cara untuk pengobatan (Hasanah & Widowati, 2016).

13
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Terapi medis adalah meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup pasien.
Optimalisasi terapi medis harus aman, efektif, pemilihan terapi secara bijak dan
pelayanan kesehatan secara akurat serta adanya kesepakatan antara pasien dan
pemberi pelayanan berdasarkan informasi terkini. Terapi komplementer merupakan
terapi holistis atau terapi nonbiomedis. Hasil penelitian tentang psikoneuroimunologi
mengungkapkan bahwa proses interaktif pada manusia dengan tubuh, pikiran, dan
interaksi sosial mempengaruhi kesejahteraan seseorang dapat dipengaruhi oleh terapi
komplementer secara garis besar di dasarkan sebagai kategori terapi pikiran
penghubung tubuh (mind – body terapies) sementara terapi biomedis lebih banyak
mempengaruhi seluruh tubuh dan berfokus pada dampak terapi terhadap respon tubuh
dan psikis terutama pada pasien paliatif yang bertujuan untuk meningkatkan quality
of life.

14
DAFTAR PUSTAKA
https://id.scribd.com/document/390529085/Terapi-Komplementer-Paliatif-7

https://dokumen.tips/download/link/manajemen-nyeri-kanker-dengan-terapi-komplementer

15