Anda di halaman 1dari 2

Nama : I Gusti Ngurah Gede Arbi Kencana

Nim : 1609511098

Kelas : A

RINGKASAN

“ Diagnosis Sistem Perkencingan”

Keperluan Pemeriksaan :

Sejarah penyakit, Pemeriksaan Fisik yaitu meliputi inspeksi dan palpasi,


Tanda dan Gejala klinis, Pemeriksaan Laboratorium : hematologi/darah rutin,
urinalisis, BUN (blood urea nitrogen), kreatinin serum, kliren kreatinin, kultur
urin, elektrolit serum, kemudian yaitu Pemeriksaan Radiologi, USG, Biopsi ginjal,
Cystocopy/endoscopy, dan MRI

1. Anamnesis
Sangat penting diketahui dan tidak boleh diabaikan karena dari
anamnesis mungkin sudah didapat diagnose yang defenitif. Jika anamnesis
yang inklomplit/salah maka diagnose akan salah, anamnesis yang lengkap
perlu ditanyakan kepada pemilik.
Pertanyaan yang berkaitan dengan system perkencingan yaitu :
a. Konsumsi Air
Pada penyakit ginjal kronik, muntah,diare, pyometra, DM, DI,
pemberian obat diuretik, glukokortikoid, sodium klorida, temperatur
tinggi, penyakit liver, latihan berat terjadi peningkatan konsumsi air.
b. Output Urine
Polydipsia tetapi mikturisi normal, terjadi kehilangan cairan pada
sistem pencernaan atau pernafasan, hewan kencing sering pada malam
hari (nokturia) umumnya mengalamai polyuria dan polydipsia
c. Frekwensi Kencing
Jika frekwensi kencing tidak teratur disebut polakiuria dan
nyeri/kesakitan saat kencing disebut dysuria yang merupakan
gangguan VU, urethra, Anuria adalah hewan tidak pernah kencing.
Oliguria adalah sedikit kencing karena disebabkan oleh konsumsi air
yang sedikit atau obstruksi partial pada urethra, VU

2. Pemeriksaan Fisik Sistem Perkencingan


Palpasi pada Ginjal hanya dapat dilakukan pada kucing, sedangkan
pada anjing tidak dapat dipalpasi kecuali pada ras kecil. Palpasi dapat
dilaakukan pada posisi berdiri, rebah lateral, rebah ventral dengan / tanpa
tranquilizer/ sedatif. Tujusn dilakukannya palpasi adalah dapat
menentukan ukuran, konsistensi, kehalusan permukaan, bentuk dan ada
tidaknya rasa sakit. Urethra anjing betina tidak bisa dipalpasi. orificium
urethra luar dapat diinspeksi dengan bantuaan spekulum. Pada Anjing
jantan dapat dilakukan inspeksi pada orificium urethra dan palpasi

3. Gejala Klinis
 Dermatitis kronis
 Lesi pada daerah mulut
 Bau yg jelek dari daerah mulut
 Gaya berjalan yg tidak normal/kiposis
 Muntah dan diare kronis
 Kencing berdarah
 Kesakitan saat kencing
4. Pemeriksaan Laboratorium
Yang pertama adalah Tes fungsi ginjal yaitu BUN, Kreatinin
serum, Kliren kreatinin, biasanya terjadi kenaikan bila ada gangguan pada
system perkencingan dan selanjutnya Urinalisis dimana jika saat
pemeriksaan urine terdapat eritrosit, leukosit, albumin, sel epitel, kristal
maka hewan tersebut mengalami gangguan perkencingan.
5. Pemeriksaan Radiografi
Plain Radiografi (radiografi langsung tanpa kontras) jika terjadi
kecurigaan adanya obstruksi/batu pada system perkencingan. Kontras
radiografi (IVP, Urografin) disuntikan secara intravena setelah itu difoto
untuk mengetahui anatomi perkencingan, untuk mengetahui fungsi ginjal
secara semikuantitatif dapat digunakan IVP.