Anda di halaman 1dari 39

1

SMF/BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI LAPORAN KASUS


FAKULTAS KEDOKTERAN AGUSTUS 2019
UNIVERSITAS NUSA CENDANA

PENANGANAN
INTRA UTERINE FETAL DEATH (IUFD)

Disusun Oleh:
Aloysius Elyakim, S.Ked
1408010058

Pembimbing:
dr. A. A. Heru Tjahyono, Sp.OG

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


SMF / BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA
RSUD PROF. DR. W. Z. JOHANNES
KUPANG
2019
2

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan kasus ini diajukan oleh:


Nama : Aloysius Elyakim, S. Ked
Nim : 1408010058

Fakultas : Kedokteran Universitas Nusa Cendana Kupang


Bagian : SMF/Bagian Obsetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran
Universitas Nusa Cendana-RSUD Prof. DR. W.Z. Johannes
Kupang
Judul : Penanganan intra uterine fetal death (IUFD)

Laporan kasus ini telah disusun dan dilaporkan dalam rangka memenuhi salah
satu syarat di SMF/Bagian Obsetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran
Universitas Nusa Cendana-RSUD Prof. DR. W.Z. Johannes Kupang

Kupang, Agustus 2019

PEMBIMBING KLINIK

dr. A. A. Heru Tjahyono, Sp.OG


3

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Intra Uterine Fetal Death (IUFD) atau kematian janin dalam rahim

(KJDR) adalah janin yang mati dalam rahim dengan berat badan 500 gram atau

lebih atau kematian janin dalam rahim pada umur kehamilan 20 minggu atau

lebih. IUFD termasuk dalam masalah angka kematian bayi (AKB) yang

merupakan salah satu indikator penting untuk menilai tingkat kesejahteraan suatu

negara. (1)

Prinsip dasar dari kematian janin merupakan hasil akhir dari gangguan

pertumbuhan janin, kegawatdaruratan janin, atau akibat infeksi yang tidak

terdiagnosis sebelumnya sehingga tidak terobati. Kematian janin dalam rahim

dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu faktor ibu, faktor janin, dan faktor

plasenta. Faktor ibu meliputi umur, kehamilan post term (>42 minggu) dan

penyakit yang diderita oleh ibu seperti anemia, preeklampsia, eklampsia, diabetes

melitus, rhesus isoimunisasi, infeksi dalam kehamilan, Ketuban Pecah Dini

(KPD), ruptura uteri, hipotensi akut ibu, Faktor fetal meliputi janin tumbuh

terhambat, kelainan kongenital, kelainan genetik, infeksi dan faktor plasenta

meliputi kelainan tali pusat, lepasnya plasenta dan vasa previa.(1,2)

Indonesia merupakan salah satu negara dengan Angka Kematian Bayi

(AKB) yang cukup tinggi yaitu 25,5% pada tahun 2016. Menurut Survey

Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 Angka Kematian

Neonatal sebesar 19/1000 kelahiran hidup, sementara tahun 2007 sebesar 19/1000

kelahiran hidup dengan demikian tidak ada penurunan berarti dibandingkan hasil
4

SDKI 2007. Target Millenium Development Goals (MDGs) keempat yaitu

penurunan angka kematian anak pada tahun 2015 dengan Neonatal Mortality Rate

sebesar 14/1000 kelahiran hidup.(2)

Data di provinsi NTT tentang lahir mati tahun 2007 yaitu 1.487 jiwa dari

71.767 kelahiran (20.7%), tahun 2008 jumlah lahir mati 1.659 dari 93.632

kelahiran (18.82%). Angka tersebut cenderung menurun, dengan kebijakan

penempatan bidan PTT di desa dan kebijakan Revolusi KIA.(3)


5

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Menurut WHO dan The American College of Obstetricians and

Gynecologists yang disebut kematian janin adalah janin yang mati dalam rahim

dengan berat badan 500 gram atau lebih atau kematian janin dalam rahim pada

kehamilan 20 minggu atau lebih. Kematian janin merupakan hasil akhir dari

gangguan pertumbuhan janin, atau akibat infeksi yang tidak terdiagnosis

sebelumnya sehingga tidak diobati.(2)

2.2 Epidemologi
Secara epidemiologi, angka IUFD biasanya dimasukkan ke dalam angka

bayi lahir mati (stillbirth rate). WHO memperkirakan angka bayi lahir mati

(stillbirth rate) secara global sekitar 2,6 juta per tahun. Sekitar 98% angka bayi

lahir mati diperkirakan terjadi di negara berkembang. (3,4)

Berdasarkan data dari United Nations Children’s Found (UNICEF) pada

tahun 2015, diperkirakan sekitar 5 juta bayi lahir di Indonesia atau sekitar 13 ribu

perhari, dimana 201 bayi lahir mati perharinya. Perkiraan angka bayi lahir mati di

Indonesia pada tahun 2015 adalah 13 per 1000 kelahiran.(10)

Kejadian IUFD meningkat pada usia maternal >35 tahun sebesar 1,5 kali

dan juga pada usia 40 tahun terjadi peningkatan kejadian IUFD pada ras Afrika-

Amerika, pada ibu infertil, riwayat bayi dengan berat badan lahir rendah, infeksi

ibu. Hal ini disebabkan karena menurunnya perfusi uteroplasenta, komplikasi

penyakit kronis selama kehamilan dan mekanisme lain yang belum jelas.(5)
6

2.3 Etiologi
Sebagian besar penelitian menunjukkan etiologi IUFD tidak diketahui

secara pasti. Hampir 50% kasus IUFD tidak ditemukan etiologi spesifiknya.

Secara umum, penyebab IUFD dapat dikelompokkan menjadi 3 faktor penyebab

yaitu faktor maternal, fetus dan plasenta.(6)

1. Faktor maternal

 Umur

Bertambahnya usia ibu, maka terjadi juga perubahan

perkembangan dari organ-organ tubuh terutama organ reproduksi.

Hal ini dapat mempengaruhi kehamilan yang tidak secara langsung

dapat mempengaruhi kehidupan janin dalam rahim. Usia

reproduksi yang baik untuk seorang ibu hamil adalah usia 20-30

tahun. Pada umur ibu yang masih muda, organ-organ reproduksi

dan emosi belum cukup matang, hal ini disebabkan adanya

kemunduran organ reproduksi secara umum.

 Paritas

Paritas yang baik adalah 2-3 anak, yang aman terhadap ancaman

mortalitas dan morbiditas baik pada ibu maupun pada janin. Ibu

hamil yang telah melahirkan lebih dari 5 kali atau grandemultipara,

mempunyai risiko tinggi dalam kehamilan seperti hipertensi,

plasenta previa, dan lain-lain yang akan dapat mengakibatkan

kematian janin.

 Penyulit / Penyakit
a) Anemia
7

Hasil konsepsi seperti janin, plasenta dan darah membutuhkan

zat besi dalam jumlah besar, biasanya 1/10 dari seluruh zat besi

dalam tubuh. Terjadinya anemia dalam kehamilan bergantung

dari jumlah persediaan zat besi dalam hati, limpa dan sumsum

tulang. Bila terjadi anemia, pengaruhnya terhadap hasil

konsepsi salah satunya adalah kematian janin dalam

kandungan.

b) Preeklampsi dan eklampsi

Pada pre-eklampsi dan eklamsi, terjadi spasme pembuluh darah

disertai dengan retensi garam dan air. Jika semua arteriola

dalam tubuh mengalami spasme, maka tekanan darah akan

naik, sebagai kompensasi tubuh terhadap kenaikan tekanan

perifer agar oksigen jaringan dapat tercukupi. Aliran darah

menurun ke plasenta dan menyebabkan gangguan pertumbuhan

janin, apabila tidak diatasi dengan baik, maka bisa

menyebabkan gawat janin dan berakibat pada kematian janin

dalam rahim.

c) Penyakit autoimun, seperti lupus eritematosus sistemik,

sindrom antifosfolipid

d) Infeksi, seperti toxoplasma, rubella, sitomegalovirus, herpes

simpleks, sifilis, frambosis

e) Gangguan hematologi, seperti hemoglobinopati, penyakit

Rhesus dan diabetes melitus (DM)


8

f) Ruptur uteri, trauma maternal, dan malnutrisi

2. Faktor fetal
Faktor fetal yang dapat menyebabkan IUFD adalah kehamilan multipel,

hydrops fetalis, kelainan kongenital, misalnya hidrosefalus kongenital atau

anensefali, kelainan genetik atau kelainan kromosom serta perkembangan

janin terhambat (Retardation/intra uteri growth restiction).(7)

3. Faktor plasental dan selaputnya

Faktor plasental yang paling mungkin mendukung terjadinya IUFD adalah

solusio plasenta, ketuban pecah dini, plasenta previa, perdarahan

fetomaternal dan insufisiensi plasental

Sedangkan, berdasarkan data dari Pusat Statistik Kesehatan

Nasional Amerika Serikat (National Center for Health Statistics) tahun

2014, penyebab kematian janin dapat dibagi menjadi 5 kelompok yaitu:(7)

a. Kematian janin oleh penyebab nonspesifik.

b. Kematian janin yang disebabkan oleh komplikasi plasenta, tali pusat dan

membran, misalnya solusio plasenta, insufisiensi plasenta,

khorioamnionitis, prolaps tali pusat.

c. Kematian janin yang disebabkan oleh komplikasi maternal, misalnya

preeklampsia, diabetes gestasional, ketuban pecah dini, kehamilan ektopik.

d. Kelainan kongenital dan kelainan kromosom, misalnya anensefali,

ensefalokel, mikrosefali, hidrosefalus kongenital, spina bifida.

e. Kematian janin yang disebabkan oleh kondisi maternal yang tidak

berhubungan dengan kehamilan, misalnya trauma, penyakit infeksi,

penyakit ginjal atau hipertensi.


9

2.4 Patofisiologi

Patofisiologi (IUFD) berupa kegagalan mekanisme unit fetomaternal yang

dapat disebabkan oleh berbagai penyebab, misalnya sindrom antifosfolipid,

insufisiensi plasenta, solusio plasenta, atau villitis kronik berat. Penyebab ini

bervariasi tergantung usia gestasi pasien.

IUFD yang terjadi pada trimester kedua lebih umum disebabkan oleh

sindrom antifosfolipid, sedangkan pada trimester akhir, kematian janin lebih

umum disebabkan oleh gangguan pada plasenta, berupa insufisiensi plasenta,

solusio plasenta, atau villitis kronik berat. Selain itu, perdarahan pada plasental

(endovaskulitis hemoragik/HEV) juga dapat menyebabkan kematian pada janin.

HEV dapat berkaitan dengan hipertensi pada kehamilan dan preeklampsia.

Gangguan-gangguan pada plasenta tersebut dapat menyebabkan terhambatnya

distribusi nutrisi pada janin sehingga terjadi dekompensasi pada janin serta

kematian.(9)

Selain akibat kehamilan, IUFD juga terjadi selama proses persalianan.

Persalinan yang lama (>2 jam) meningkatkan risiko kematian janin selama

persalinan atau sesaat setelah lahir. Parsalinana yang lama dipengaruhi oleh

banyak faktor seperti ukuran bayi yang besar yang menyebabkan distosia bahu,

pimpin persalinan yang salah, risiko amniotomi yang terlalu cepat diikuti dengan

persalinan yang lama sangat berisiko terjadinya solutio plasenta yang

menyebabkan gawat janin yang berujung kematian.(9,10)


10

2.5 Diagnosis

Untuk mendiagnosis pasti IUFD, perlu dilakukan dengan menggunakan

pemeriksaan ultrasonografi (USG) untuk menilai ada tidaknya denyut jantung

janin. Anamnesis dan pemeriksaan fisik dapat dilakukan untuk mencari faktor

risiko dan perkiraan penyebab kematian janin.(11)

1. Anamnesis

Keluhan utama dari IUFD adalah hilangnya gerakan janin.

Anamnesis harus dilakukan dengan detail untuk mengetahui faktor risiko

dan penyebab dari kematian janin di dalam rahim. Anamnesis yang dapat

digali terbagi menjadi dua kategori, yaitu keluhan ibu dan faktor risiko.

Ibu dengan IUFD umumnya datang dengan keluhan utama

hilangnya gerakan janin. Selain itu, dapat pula ditemukan nyeri perut bawah

atau perdarahan pervaginam. Selain menanyakan keluhan ibu, penting juga

menggali faktor risiko yang berhubungan dengan terjadinya IUFD, yaitu

usia ibu, riwayat obsetri, status obsetri, usia kehamilan, kehamilan tunggal

atau multiple,riwayat abortus, riwayat bayi lahir mati sebelumnya, riwayat

operasi sectio caesarea (SC), penyakit maternal, seperti riwayat hipertensi

dalam kehamilan, preeklamsia atau eklamsia, diabetes melitus, anemia atau

penyakit kronis lainnya, penyakit autoimun, infeksi, riwayat trauma dan

riwayat sosial seperti kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol selama

masa kehamilan, menggunakan obat-obatan yang bersifat teratogenik seperti

thalidomid yang digunakan sebagai antiemetik pada ibu hamil.(12)


11

2. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan keadaan umum pasien, kesadaran, tanda-tanda vital

harus tetap dilakukan. Pemeriksaan status obstetri biasanya ditemukan

tinngi fundus uteri yang tidak mengalami perubahan dari pemeriksaan

sebelumnya atau biasanya ukurannya lebih kecil dari usia kehamilan.

Evaluasi denyut jantung janin dengan menggunakan Doppler untuk

mengetahui apakah masih didapatkan adanya denyut jantung atau tidak pada

janin.(12)

3. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang utama yang dapat dilakukan untuk

menegakkan diagnosis IUFD adalah USG abdomen. Pemeriksaan USG

abdomen dapat memberikan visualisasi denyut jantng janin. Selain tidak

adanya denyut jantung janin penampakan yang dapat dilihat dari

pemeriksaan USG adalah kolapsnya tulang tengkorak janin, hydrops fetalis

atau maserasi dan terlihat adanya gas dalam organ fetus.(11.12)


12

Gambar 2.1 Patway IUFD

2.6 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan untuk IUFD tidak hanya terbatas pada pengeluaran janin,

tetapi juga harus disertai penanganan psikologis ibu dan evaluasi penyebab

kematian janin. Evaluasi penyebab kematian ini penting untuk membantu

manajemen perencanaan kehamilan di masa depan..(12)

1. Terminasi Kehamilan

Setelah diagnosis kematian janin di dalam rahim ditegakkan, maka

terminasi kehamilan sebaiknya segera dilakukan. Walau demikian,

terminasi juga harus mempertimbangkan kondisi mental ibu.


13

Terminasi kehamilan dapat dilakukan dengan induksi maupun

operasi SC. Persalinan pervaginam merupakan pilihan terbaik bila tidak

terdapat kontrindikasi, umumnya dapat terjadi 24 jam setelah dilakukan

induksi.. Persalinan secara SC dilakukan apabila ada indikasi obstetri

seperti bayi letak lintang, perdarahan ante partum karena plasenta previa

totalis, riwayat SC 2 kali atau permintaan dari pasien sendiri. (12)

i) Induksi misoprostol

Misoprostol merupakan analog postaglandin E1. Misoprostol dapat

diberikan pervaginam maupun peroral dengan dosis 50 mcg setiap 4-6

jam. induksi misoprostol tidak boleh diberikan pada pasien dengan riwayat

SC sebelumnya karena meningkatkan risiko terjadinya ruptur uteri.

ii) Induksi oksitosin

Keberhasilan sangat bergantung pada kematangan serviks, dinilai

dengan menggunakan Bishop score. Bila Bishop score ≥ 6, drip oksitosin

dalam RL atau Dextrose 5% 500 cc, dimulai 8 tetes permenit, lalu

dinaikkan 4 tetes setiap 15 menit sampai maksimal 40 tetes permenit atau

HIS adekuat.

iii) Operasi Sectio Caesarea (SC)

Operasi SC dapat dilakukan bila ada indikasi klinis dan permintaan

pasien sendiri. Selain itu, terminasi kehamilan dengan SC dapat dilakukan

pada ibu hamil dengan solusio plasenta, letak lintang atau riwayat SC 2

kali.
14

2. Evaluasi penyebab kematian janin dan pecegahan komplikasi

Sebagian besar penyebab kematian janin masih belum diketahui.

Penentuan penyebab kematian sangat penting karena dapat mempengaruhi

program kehamilan di masa depan. Penegakan kematian janin yang paling

penting adalah otopsi. Tetapi untuk melakukan otopsi melalui prosedur

yang jelas. Selain otopsi, pemeriksaan post mortem yang dapat dilakukan

adalah pemeriksaan radiologi dan pemeriksaan laboratorium seperti

HbA1c untuk menilai kadar gula dalam 3 bulan terakhir. Pemeriksaan

plasenta perlu dilakukan untuk menentukan apakah IUFD disebabkan oleh

faktor plasenta. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah

pemeriksaan kariotipe untuk mendeteksi adanya kelainan kromosom yang

berpotensi terjadi berulang pada kehamilan berikutnya.(12,13)

Kematian janin dalam rahim dalam waktu 3–4 minggu, maka

fibrinogen dapat turun sehingga menyebabkan terjadinya koagulopati yang

dapat berbahaya untuk ibu. Hal ini menyebabkan ibu dengan IUFD yang

belum diterminasi akan berisiko tinggi mengalami disseminated

intravascular coagulation (DIC), infeksi intrauterine.

Evaluasi tingkat maserasi pada janin penting dilakukan untuk

mengetahui berapa lama kematian janin terjadi.

a) Rigor Mortis (Kaku Mayat)

Berlangsung 2,5 jam setelah kematian janin kemudian otot menjadi

relaksasi.
15

b) Maserasi tingkat I

Kulit janin belum rusak tapi mudah lepas dan terjadi

gelembung-gelembung berisi cairan jernih lalu beberapa saat

kemudian berisi darah. Berlangsung sampai 48 jam setelah janin

mati.

c) Maserasi tingkat II

Tampak gelembung-gelembung mudah lepas yang berisi

cairan kecoklatan sehingga air ketuban menjadi merah coklat,

terjadi setelah 48 jam janin mati.

d) Maserasi tingkat III

Terjadi kurang lebih 3 minggu setelah janin mati. Badan

janin sangat lemas, hubungan antar tulang-tulang sangat longgar.

Edema di bawah kulit.

3. Penanganan psikologis ibu

Pasien dengan melahirkan janin mati memiliki risiko gangguan

psikologis seperti depresi atau post traumatic stress disorder (PTSD).

Konseling dengan dengan psikolog penting dilakukan.(13)

4. Perencanaan kehamilan selanjutnya

Pasien dengan IUFD yang penyebab tidak diketahui, penting untuk

memberikan edukasi mengenai kemungkinan komplikasi yang terjadi

untuk kehamilan berikutnya.(13)


16

Gambar 2.2 Alur diagnosis dan penatalaksanaan IUFD


17

2.7 Komplikasi
Kematian janin dalam rahim dalam waktu 3–4 minggu, maka fibrinogen

dapat turun sehingga menyebabkan terjadinya koagulopati yang dapat berbahaya

untuk ibu. Hal ini menyebabkan ibu dengan IUFD yang belum diterminasi akan

berisiko tinggi mengalami disseminated intravascular coagulation (DIC),

terutama pada usia yang lebih tua. Selain itu dapat menyebabkan infeksi

intrautrine dan gangguan psikolgis pada pasien.(14)

2.8 Prognosis
Bila kematian janin disebabkan oleh faktor maternal, maka harus ditangani

sebelum program untuk kehamilan berikutnya. Bila penyebab tidak diketahui

secara pasti, maka ada kemungkinan untuk untuk terjadi kematian janin berulang

di masa depan.(14)
18

BAB 3
LAPORAN KASUS

3.1 Identitas

Nama : Ny. MS

Jenis kelamin : Perempuan

Umur : 24 tahun

Tanggal lahir : 24 April 1993

Pekerjaan : PNS

Agama : Kristen Protestan

Status : Sudah menikah

Pendidikan terakhir : Strata 1 (S1)

Alamat : Bakunase

MRS melalui : VK 11 Agustus 2019 pukul 18.00 WITA

Rawat inap : Flamboyan (16/08/2019 – 19/08/2019)

No. RM : 517552

Jaminan : BPJS kelas III

3.2 Anamnesis (Autoanamnesis pada tanggal 11 Agustus 2019 di Ruang VK)

Keluhan Utama : tidak merasakan gerak janin

Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang membawa pengantar dari dokter kebidanan dan kandungan

dengan diagnosa G2P0A1 33-34 minggu T/IUFD. Pasien datang dengan keluhan

tidak merasakan gerak janin dalam 3 hari terakhir. Pasien kemudian memutuskan

untuk datang ke tempat praktek dokter spesialis kebidanan dan kandungan. Pasien
19

kemudian dilakukan USG dan dari hasil USG tidak ditemukan adanya denyut

jantung janin, sehingga menurut dokter spesialis kebidanan dan kandungan janin

dalam rahimnya sudah meninggal. Menurut pasien sendiri, sebelumnya gerakan

janinnya cukup aktif, biasanya 1 jam 2-3 kali gerakan namun dalam 3 hari terakhir

pasien tidak merasakan gerakan lagi. Pasien kemudian dirujuk ke RSUD Prof Dr.

W.Z. Johannes Kupang. Selama kehamilan ini, pasien melakukan pemeriksaan

kehamilan di Puskesmas Bakunase sebanyak 5 kali. Riwayat trauma selama

kehamilan disangkal pasien. Riwayat keguguran anak pertama pada tahun 2018

saat usia kehamilan 3 bulan. Makan dan minum baik. BAB dan BAK tidak ada

keluhan.

Riwayat Penyakit Dahulu : Hipertensi (-), Diabetes Melitus(-), Asma (-)

Riwayat Penyakit Keluarga : Hipertensi (-), Diabetes Melitus(-), Asma(-)

Riwayat Kontrasepsi : pasien tidak pernah menggunakan kontrasepsi

sebelumnya

Riwayat Ante Natal Care (ANC) : 5 kali di Puskesmas Bakunase

Riwayat imunisasi : Tetanus Toxoid 2 kali

Riwayat menarche : usia 17 tahun, siklus teratur 28 hari, lama haid 3 hari

Riwayat persalinan :

1. 3 bulan/abortus/tidak kuret/2018

2. Hamil ini : HPHT : 17/12/2018

TP : 24/9/2019

UK : 33-34 Minggu
20

3.3 Status Generalis

Keadaan Umum : baik

Kesadaran : compos mentis, GCS : E4V5M6

Tanda–tanda vital :

TD : 110/70 mmHg

HR : 80 x/menit

RR : 20 x/menit

T : 36.7 0C

SpO2 : 98 %

Kepala : Bentuk normal, rambut tidak mudah rontok

Kulit : Sianosis (-), ikterik (-)

Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), perdarahan

konjungtiva (-/-), pupil isokor ukuran diameter (2 mm/2

mm), reflek cahaya langsung (+/+)

Telinga : Deformitas daun telinga (-/-), nyeri tekan tragus (-/-),

nyeri tekan mastoid (-/-), otorea (-/-)

Hidung : Deviasi septum (-/-), epistaksis (-/-)

Mulut : Sianosis (-), bibir tampak kering, perdarahan gusi (-),

mukosa merah muda, lidah kotor

Leher : Perbesaran kelenjar tiroid (-), perbesaran KGB (-)

Toraks (bentuk) : Bentuk toraks normal, tidak tampak pelebaran vena, tidak

tampak bekas luka (scar),


21

Pulmo

Paru-paru anterior :

I : Pengembangan dada simetris saat statis dan dinamis, tidak tampak

penggunaan otot bantu pernapasan, tidak terdapat pelebaran sela iga,

sela iga mengambang.

P : Taktil fremitus kiri dan kanan simetris, tidak terdapat nyeri tekan,

tidak teraba massa

P : Sonor pada kedua lapangan paru, batas paru hepar terletak pada linea

midclavicularis ICS 8 dekstra

A : Suara nafas vesikuler, ronki, wheezing

Paru-paru posterior :

I : Pengembangan dada simetris saat statis dan dinamis

P : Taktil fremitus kiri dan kanan simetris, tidak terdapat nyeri tekan,

tidak teraba massa

P : Sonor pada kedua lapangan paru

A : Suara nafas vesikuler, ronki, wheezing

Jantung

I : Iktus kordis tidak terlihat

P : Iktus kordis teraba pada ICS 5 linea midclavicularis sinistra, thrill tidak

teraba
22

P : Batas jantung kanan : linea parasternal dekstra

Batas jantung kiri : linea midclavicularis sinistra

Pinggang jantung : ICS 3 linea parasternalis sinistra

A : S1–S2 tunggal, regular, tidak terdengar murmur ataupun gallop

Abdomen

I : cembung

A : bising usus (+) kesan normal

P : nyeri tekan abdomen (-), hepar dan lien sulit dievaluasi.

P : nyeri (-), pekak

Ekstremitas : CRT < 2 detik, akral hangat, edema tungkai (-/-)

Pemeriksaan Obstetri

 Pemeriksaan luar

I : tampak cembung (+), striae gravidarum (-)

P : TFU 22 cm

Leopold I : bulat lunak, TFU 22 cm

Leopold II : punggung kanan

Leopold III : bulat keras

Leopold IV : belum masuk pintu atas panggul (PAP), 5/5

His : -

A : DJJ : -
23

 Pemeriksaan dalam

VT : belum ada pembukaan, effacement sulit dievaluasi, KK sulit dievaluasi,

portio tebal, posterior, bagian terbawah kepala, denominator UUK sulit

dievaluasi, belum masuk bidang Hodge, ukuran panggul dalam luas.

3.3 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan laboratorium di RSUD W. Z. Yohannes Kupang
(Tanggal 11/08/2019 pukul 19.20)
Pemeriksaan Hasil Satuan Rujukkan
Darah Rutin

Hemoglobin 11,7 g/dL 12,0 – 16,0

Jumlah Eritrosit 4,15 106/uL 4,20 – 5,40

Hematokrit 35,5 % 37,0 – 47,0

MCV 85,5 fL 81,0 – 96,0

MCH 28,2 pg 27,0 – 36,0

MCHC 33,0 g/L 31,0 – 37,0

Jumlah Leukosit 7,43 103/ul 4,0 – 10,0

Eosinophil 3,2 % 1,0 – 5,0

Basofil 0,7 % 0–1

Neutrofil 60,7 % 50 – 70

Limfosit 25,7 % 20 – 40

Monosit 9.7 % 2–8

Jumlah Trombosit 212 103/uL 150 – 400

PT 9,5 detik 10,8 – 14,4

APTT 25,4 detik 26,4 – 37,6

HBsAg Non reaktif Non reaktif


24

HIV Non reaktif Non reaktif

Urinalisasi (11/08/2019, Pukul 19.20 wita)


Pemeriksaan Hasil Satuan Rujukkan
Makroskopis
Warna Kuning Kuning
Kejernihan Agak keruh Jernih
Berat Jenis 1.020 1.000-1.030
Ph 6.0 4.5-8.0
Nitrit Negatif Negatif
Protein Negatif Mg/dL Negatif
Glukosa Negatif Mg/dL Negatif
Bilirubin Negatif Mg/dL Negatif
Mikroskopis
Eritrosit Negatif /lpb Negatif
Lekosit Negatif /lpb 0-5
Silinder Negatif /lpk Negatif
Bakteri Negatif Negatif

USG Abdomen (10/08/2019)


25

3.4 Asessment

G2P0A1 33-34 minggu T/IUFD + TBJ 1550 gram

3.5 Planing

Terminasi kehamilan dengan Misoprostol 50 mcg/ 4 jam (20.30)

Pro persalinan spontan pervaginam

3.6 Follow up
26
27
28
29
30
31

Outcome :

Tanggal 15/8/2019, pukul 10.30 wita, lahir bayi laki-laki dengan BB 1500

gram, PB 44 cm, A/S 0. Dievaluasi: didapatkan adanya maserasi grade 2, kelainan

pada bayi tidak ada, lilitan tali pusat (-).

Pukul 10.40 wita, lahir placenta. Dievaluasi: tali pusat : panjang 55 cm,

hematome (-), hematome retroplacenta (-), selaput plasenta tidak utuh, diameter

kurang lebih 20-22 cm.


32

Gambar 2.3 outcome bayi dan plcenta paska persalinan


33
34
35

BAB 4
PEMBAHASAN

No Data atau Masalah Penanganan Teori


1 Pasien datang ke tempat Pasien di rujuk oleh Setelah diagnosis kematian janin di
praktik dokter dengan dokter Sp.OG ke RSUD dalam rahim ditegakkan, maka
keluhan sudah tidak Johannes Kupang terminasi kehamilan sebaiknya
segera dilakukan. Walau demikian,
merasakan gerak janin untuk dilakukan
terminasi juga harus
dakam 3 hari terakhir. terminasi kehamilan mempertimbangkan kondisi mental
Dari hasil anamnesis, ibu.
pemeriksaan fisik dan Terminasi kehamilan dapat
pemeriksaan penunjang dilakukan dengan induksi maupun
(USG), didapatkan operasi SC. Persalinan pervaginam
bahwa janin sudah umumnya dapat terjadi 24 jam
setelah dilakukan induksi.
meninggal
2 Pada tanggal 11 Dilakukan anamnesis, Untuk mendiagnosis pasti IUFD,
Agustus 2019 pasien pemeriksaan fisik dan perlu dilakukan dengan
MRS di RSUD pemeriksaan penunjang menggunakan pemeriksaan USG
Johannes dengan (DL, UL, PT/APTT, untuk menilai ada tidaknya denyut
G2P0A1, 33-34 triple eliminasi) jantung janin. Anamnesis dan
minggu, T/IUFD + TBJ pemeriksaan fisik dapat dilakukan
1550 gram untuk mencari faktor risiko dan
perkiraan penyebab kematian janin
3 Hasil pemeriksaan di Terminasi kehamilan Misoprostol merupakan analog
RSUD Johannes dengan pemberian postaglandin E1. Misoprostol dapat
menunjukkan janin misoprostol sampai diberikan pervaginam maupun
dalam kandungan sudah skor pelvik ≥ 6 peroral dengan dosis 50 mcg setiap
meninggal dilanjutkan dengan drip 4-6 jam. Bila Bishop score ≥ 6, drip
oksitosin 20 IU 28 tpm oksitosin dalam RL atau Dextrose
5% 500 cc
4 Pasien sebelumnya Pasien diedukasi dan Ibu dengan IUFD umumnya datang
mempunyai riwayat diberikan penjelasan dengan keluhan utama hilangnya
obstetri buruk yaitu mengenai gerakan janin. Selain itu, dapat pula
terjadi abortus pada kehamilannya, ditemukan nyeri perut bawah atau
kehamilan anak memberikan penjelasan perdarahan pervaginam. Selain
pertama sebaiknya dicari dulu menanyakan keluhan ibu, penting
penyebab IUFD baru juga menggali faktor risiko yang
hamil kembali serta berhubungan dengan terjadinya
36

faktor-faktor risiko IUFD, yaitu usia ibu, riwayat obsetri,


yang dapat meyebabkan status obstetri, usia kehamilan,
IUFD oleh dokter kehamilan tunggal atau multiple,
penanggung jawab riwayat abortus, riwayat bayi lahir
primer (DPJP) mati sebelumnya, riwayat operasi
sectio caesarea (SC), penyakit
maternal, seperti riwayat hipertensi
dalam kehamilan, preeklamsia atau
eklamsia, diabetes melitus, anemia
atau penyakit kronis lainnya,
penyakit autoimun, infeksi, riwayat
trauma dan riwayat sosial seperti
kebiasaan merokok dan
mengonsumsi alkohol serta konsumsi
obat-obat yang bersifat teratogenik
selama masa kehamilan
5 VT : belum ada Pematangan serviks Pematangan serviks dapat dilakukan
pembukaan, KK sulit dengan pemberian secara :
dinilai, Effacement sulit misoprostol 100 mcg/4 1. kimiawi dengan pemberian
dinilai, portio tebal, jam sampai dengan skor misoprostol dan oksitosin,
posterior, bagian pelvik ≥ 6 lalu 2. mekanis dengan pemasangan
kateter foley.
terbawah kepala, dilanjutkan dengan drip
denominator UUK sulit oksitosin 20 IU dalam
dinilai, belum masuk RL 500 CC 28 tpm
bidang Hodge, ukuran
panggul dalam luas
Pelvik skore : 0
6 Pada tanggal 15 Bayi dibersihkan, lalu Sebagian besar (50%) penyebab
Agustus 2019, pukul mengukur berat badan, kematian janin masih belum
10.30 wita, lahir bayi panjang badan, diketahui. Penentuan penyebab
dalam keadaan mengevaluasi penyebab kematian sangat penting karena
meninggal dengan jenis kematian seperti lilitan dapat mempengaruhi program
kelamin laki-laki, BB tali pusat, solutio kehamilan di masa depan.
1500 gram, PB 44 cm, plasenta, ketuban Penegakkan penyebab kematian
A/S : 0. Pada bayi mekoneal dan menilai janin yang paling penting adalah
didapatkan maserasi tingkat maserasi. otopsi. Tetapi untuk melakukan
grade 2, cacat (-), otopsi melalui prosedur yang jelas.
selaput placenta tidak Pemeriksaan plasenta perlu
lengkap,hematome dilakukan untuk menentukan apakah
retroplsenta (-), IUFD disebabkan oleh faktor plsenta.
talipusat hematome (-). Pemeriksaan lain yang dapat
dilakukan adalah pemeriksaan
37

kariotipe untuk mendeteksi adanya


kelainan kromosom yang berpotensi
terjadi berulang pada kehamilan
berikutnya
7 Penanganan post Setelah bayi lahir, Pasien dengan IUFD dengan
partum pasien seharusnya
penyebab tidak diketahui seccara
diedukasi untuk
pasti, harus dikonseling untuk
penghentian ASI agarpenggunaan alat kontrsepsi agar
tidak terjadi
ditunda kehamilan berikutnya
pembengkakan, mastitis
sebelum diketahui penyebabnya, dan
sampai abses,
penghentian ASI.
penggunaan kontrsepsi
dan konsultasi
psikologis ibu, namun
tidak dilkukan.
8 Setelah melahirkan dan Pasien pulang dalam Rata-rata lama perawatan di bangsal
dilakukan kuretase sisa kondisi baik pada hari paska persalinan dan kuretase
plasenta, pasien dirawat ke tiga paska persalinan membutuhkan waktu 3-5 hari.
di Flamboyan selama 3 dan kuretase
hari dan pulang dalam
kondisi baik
38

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan

Telah dilaporkan kasus seorang perempuan Ny. MS, umur 24 tahun dengan

diagnosa G2P0A1 33-34 minggu, T/IUFD + TBJ 1550 gram. Dengan persiapan

yang baik, dilakukan terminasi kehamilan dengan misoprostol 50 mcg/4 jam 4

kali pemberian, misoprostol 100 mcg/4 jam 8 kali pemberian dan drip oksitosin

20 IU dalam RL 500 cc 28 tpm.

Lahir bayi dengan jenis kelamin laki-laki, BB 1500 gram, PB 44 cm. Bayi

dalam keadaan meninggal, maserasi grade 2, tidak ditemukan cacat pada bayi.

Plasenta lahir dengan tertinggal sebagian selaput plasenta, hematome retro plsenta

(-), dan hematome tali pusat (-)

Dilakukan kuretase atas indikasi sisa plasenta. Tiga hari post partum,

pasien dipulangkan dalam keadaan baik.

3.2 Saran

Pada pasien dengan post partum IUFD, perlu diperhatikan:

1. Pasca persalianan, harus dievaluasi penyebab IUFD sebelum

merencanakan program kehamilan berikutnya.

2. Pemberian antibiotik, penghentian ASI, penggunaan kontrsepsi dan

konseling psikologis terhadap pasien.


39

DAFTAR PUSTAKA

1. Saifuddin A.B. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan


Neonatal. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo; (2010).
2. Kementrian Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia. (2012)
3. World Health Organization. The neglected tragedy of stillbirths. Sexual
and Reproductive Health. 2019.
4. CDC. Stillbirth: A Healthcare Professional’s Role
https://www.cdc.gov/ncbddd/still birth/documents/StillbirthFactSh eet.pdf
diakses pada tanggal 10 Agustus 2019
5. Kementerian Kesehatan RI : Laporan kinerja direktoral jendral kesehatan
masyarakat tahun 2017
6. Nappi L, Trezza F, Bufo P, Riezzo I, Turillazzi E, Borghi C, et al.
Classification of stillbirths is an ongoing dilemma. J Perinat Med. 2015.
7. National Vital Statistics Report (NVVS). Cause of fetal death: Data from
the fetal death report, 2014. National Vital Statistics Reports vol 65 no 7.
October 31 2016.
8. Salafia C, Popek E. Mechanical Pathophysiology of the placenta. Glob libr
women’s med. 2008.
9. Lawn JE, Blencowe H, Waiswa P, et al, for The Lancet Ending
Preventable Stillbirths Series study group with The Lancet Stillbirth
Epidemiology investigator group. Stillbirths: rates, risk factors, and
acceleration towards 2030. Lancet 2016.
10. Harbour R, Miller J. A new system for grading recommendations in
evidence based guidelines. BMJ 2001;323:334–6
11. Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. Late Intra Uterine
Fetal Death and Stillbirth. Green-top guideline no 55. October 2010
12. Koopmans L, Wilson T, Cacciatore J, Flenady V. Support for mothers,
fathers, and families after perinatal death. Cochrane Database of
Systematic Reviews. 2013
13. Black M, Shetty A, Bhattacharya S. Obstetric outcomes subsequent to
intrauterine death in the first pregnancy. BJOG 2008;115-269-74.