Anda di halaman 1dari 14

TUGAS

METODOLOGI PENELITIAN
KUANTITATIF
“GAMBARAN PENGETAHUAN MAHASISWA TEKNOLOGI LABORATORIUM
MEDIK TINGKAT III B TERHADAP CARA MENCUCI TANGAN YANG BENAR”

OLEH :

KELOMPOK I

Muh. Amiruddin (P00341017078)


Ardiati La Buhari (P00341017051)
Idris
Asrya Ningsi (P00341017053) Muh. Ramadhan (P00341017080)

Nur Arafah (P00341017083)


Astari Sida Dewi (P00341017054)
Saputri
Asti Arini (P00341017055) Putri Yanti Syam (P00341017086)

Atika Febriana (P00341017057) Rahmatia (P00341017087)

Rizky Amalia (P00341017090)


Ayu Meilani Saputri (P00341017059)
Putri
Dinar Periyanti (P00341017060) Shamsul (P00341017091)

Fahira Dipayanthi (P00341017063) Sitti Masyitha (P00341017093)

Haerun Saputra (P00341017066) Suci Rahmawati (P00341017083)

Herlini (P00341017068) Wildayanti (P00341017099)

Yolanda Aprilia (P003410170100)


Karlina (P00341017073)
Olelejap

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INONDESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KENDARI
JURUSAN TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK
TINGKAT 3B
2019
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Cuci tangan sering dianggap sebagai hal yang sepele di masyarakat, padahal cuci
tangan bisa memberi kontribusi pada peningkatan status kesehatan masyarakat.
Berdasarkan fenomena yang ada terlihat bahwa anak-anak usia sekolah mempunyai
kebiasaan kurang memperhatikan perlunya cuci tangan dalam kehidupan sehari-hari,
terutama ketika di lingkungan sekolah. Mereka biasanya langsung makan makanan yang
mereka beli di sekitar sekolah tanpa cuci tangan terlebih dahulu, padahal sebelumnya
mereka bermain-main. Perilaku tersebut tentunya berpengaruh dan dapat memberikan
kontribusi dalam terjadinya penyakit diare Cuci tangan merupakan tehnik dasar yang
paling penting dalam pencegahan dan pengontrolan penularan infeksi. Penelitian yang
dilakukan oleh Luby, Agboatwalla, Sharker. dan Hoekstra Bowen, Kenah. (2009),
mengatakan bahwa cuci tangan dengan sabun secara konsisten dapat mengurangi diare
dan penyakit pernafasan Cuci tangan pakai sabun (CTPS) dapat mengurangi diare
sebanyak 31 % dan menurunkan penyakit infeksi saluran nafas atas (ISPA) sebanyak 21
%. Riset global juga menunjukkan bahwa kebiasaaan CTPS tidak hanya mengurangi,
tapi mencegah kejadian diare hingga 50 % dan ISPA hingga 45 % (Fajriyati, 2013).
Penelitian oleh Burton, Cobb Donachie, Judah, Curtis, dan Schmidit (2011)
menunjukkan bahwa cuci tangan dengan menggunakan sabun lebih efektif dalam
memindahkan kuman dibandingkan dengan cuci tangan hanya dengan mengggunakan
air.
Berdasarkan uraian diatas peneliti tetarik untuk melakukan penelitian mengenai
Gambaran Pengetahuan Mahasiswa Teknologi Laboratorium Medik tingkat III B
Terhadap Cara Mencuci Tangan Yang Benar.
B. RUMUSAN MASALAH
Apakah mahasiswa Teknologi Laboratorium Medik Tingakt IIIB mengetahui cara
mencuci tangan yang benar?
C. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa Teknologi Laboratorium
Medik tingkat III B terhadap cara mencuci tangan yang benar
2. Tujuan Khusus
Untuk mengetahuijumlah mahasiswa Teknologi Laboratorium Medik tingkat III
B yang mengetahui cara mencuci tangan yang benar
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Perilaku Mencuci Tangan

Perilaku adalah respon atau reaksi individu terhadap stimulasi yang berasal dari luar
atau dari dalam dirinya ( Ali, 2010). Pengertian perilaku menurut Skiner dalam
(Notoatmodjo, 2007). perilaku kesehatan secara umum adalah suatu respon seseorang
(organisme) terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit penyakit, sistem
pelayanan kesehatan, makanan dan minuman, serta lingkungan.

Mencuci tangan adalah salah satu tindakan sanitasi dengan membersihkan tangan dan
jari jemari dengan menggunakan air ataupun cairan lainnya oleh manusia dengan tujuan
untuk menjadi bersih, sebagai bagian dari ritual keagamaan, ataupun tujuan-tujuan
lainnya.Perilaku mencuci tangan berbeda dengan perilaku cuci tangan yang merujuk pada
kata kiasan. Mencuci tangan baru dikenal pada akhir abad ke 19 dengan tujuan
menjadi sehat saat perilaku dan pelayanan jasa sanitasi menjadi penyebab penurunan
tajam angka kematian dari penyakit menular yang terdapat pada negara-negara kaya
(maju). Perilaku ini diperkenalkan bersamaan dengan ini isolasi dan pemberlakuan teknik
membuang kotoran yang aman dan penyediaan air bersih dalam jumlah yang mencukupi
(Proverawati, A dan Rahmawati, E (2012).

1. Pengetahuan

a. Pengertian
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk
terbentuknya tindakan seseorang. Dari pengalaman pengertia ternyata perilaku
yang didsari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak
didasari oleh pengetahuan (Notoadmodjo, 2003 dalam Wawan dan Dewi,
2011)

b. Tingkat pengetahuan

Pengetahuan dalam aspek kognitif menurut (Notoatmodjo, 2003 dalam


Wawan dan Dewi, 2011), dibagi menjadi 6 tingkatan, yaitu:

1) Tahu (know)
Tahu diartikan mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, dari
seluruh bahan yang telah dipelajar. Termasuk kedalam tingkat ini adalah
mengingat kembali sesuatu yang bersifat spesifik dari seluruh bahan yang
dipelajari. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling
rendah. Kasta kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang
dipelajari yang artinya hanya sekedar tahu.

2) Memahami (Comprehension)
Memahami ini diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara
benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi ke
kondisi sebenarnya. Orang yang telah paham terhadap obyek atau materi harus
dapat menjelaskan, menyebutkan terhadap obyek yang dipelajari.
3) Aplikasi (Aplikation)
Kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada
situasi atau kondisi yang sebenarnya. Aplikasi disini dapat diartikan
sebagai aplikasi atau hukum- hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya
dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya dengan menggunakan rumus
statistik dalam perhitungan- perhitungan hasil penelitian, dapat menggunakan
prinsip- prinsip siklus pemecahan masalah dari kasus kesehatan yang
diberikan.

4) Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu
objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur
organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.

5) Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukkan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun
formulasi baru dari formulasi-formulsi yang ada.

6) Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian suatu kriteria yang
ditentukan sendiri atau menggunakan kriteri-kriteria yang sudah ada.
2. Sikap

Sikap (attitude) merupakan konsep paling penting dalam psikologis sosial yang
membahas unsur sikap sebagai individu maupun kelompok. Banyak kajian
dilakukan untuk merumuskan pengertian sikap, proses terbentuknya sikap, maupun
perubahan. Banyak pula penelitian telah dilakukan terhadap sikap kaitannya dengan
efek perannya dalam pembentukan karakter dan sistem hubungan antar kelompok
serta pilihan-pilihan yang ditentukan berdasarkan lingkungan dan pengaruhnya
terhadap perubahan (Wawan dan Dewi, 2011).

a. Sifat Sikap

Sifat sikap menurut Wawan dan Dewi (2011) yaitu:

1) Sikap positif kecenderungan tindakan adalah mendekati, menyenangi,


mengharapkan objek tertentu.

2) Sikap negatif terdapat tercenderungan untuk menjauhi, menghindari,


membenci, tidak menyukai objek tertentu.

b. Indikator untuk sikap kesehatan menurut Notoatmodjo (2012) adalah:

1) Sikap terhadap sakit dan penyakit

Adalah bagaimana atau pendapat seseorang terhadap: gejala atau tanda-


tanda penyakit, penyebab penyakit, cara penularan penyakit, cara
pencegahan penyakit, dan sebagainya.

2) Sikap cara pemeliharaan dan cara hidup sehat

Adalah penilaian atau pendapat seseorang terhadap cara-cara memelihara


dan cara-cara (berperilaku) hidup sehat. Dengan perkataan lain pendapat atau
penilaian terhadap makanan, minuman, olahraga, relaksasi (istirahat) atau
istirahat cukup, dan sebagainya bagi kesehatan.

3) Sikap terhadap kesehatan lingkungan

Adalah pendapat atau penilaian seseorang terhadap lingkungan dan


pengaruhnya terhadap kesehatan. Misalnya pendapat atau penilaian terhadap
air bersih, pembangunan limbah, polusi dan sebagainya.
B. Praktik mencuci tangan

1. Pengertian mencuci tangan

Mencuci tangan adalah membersihkan tangan dari kotoran, mulai dari ujung jari
hingga siku dan lengan atas dengan cara tertentu sesuai kebutuhan (Kusyati, dkk,
2012).

2. Tujuan mencuci tangan menurut Kusyati,dkk, (2012), yaitu:

a. Mengurangi mikroorganisme pada tangan dan mencegah kontaminasi.


b. Mencegah atau mengurangi peristiwa infeksi.
c. Memelihara tekstur dan integritas kulit tangan dengan tepat.
3. Manfaat mencuci tangan menurut Perry & Potter (2006) yaitu:

a. Membunuh kuman penyakit yang ada ditangan


b. Tangan menjadi bersih dan bebas dari kuman
c. Mencegah penularan penyakit
d. Mengurangi penyebab penyebaran infeksi
e. Mengurangi perpindahan mikroorganisme dari spesimen feses ke tangan.
4. Tahap-tahap mencuci tangan menurut Kusyati, dkk, (2012) yaitu:
a. Basahi kedua telapak tangan anda dengan air mengalir dan tuang sabun
ke telapak tangan. Selanjutnya, gosok kedua telapak tangan ke arah depan dan
belakang.

b. Gosok punggung tangan anda dan masukkan jari anda di sela jari secara
bergantian.
c. Masukkan jari kanan anda ke sela jari kiri untuk membersihkan sela jari.

d. Gosok ujung jari dengan mengatupkan jari tangan kanan dan


menggosokkannya ke telapak tangan kiri. Lakukan prosedur yang sama pada
tangan yang kiri.

e. Gosok dan putar ibu jari secara bergantian.


f. Gosokkan ujung kuku tangan kanan ke telapak tangan kiri.Lakukan
secara bergantian.

5. Dampak mencuci tangan

Dampak yang terjadi pada anak jika tidak dibiasakan untuk mencuci
tangan maka akan mempermudah masuknya bibit penyakit kedalam
tubuh, hal ini akan mengakibatkan anak mudah terkena penyakit seperti diare,
cacingan, infeksi tangan dan mulut maupun ISPA (Chuluq, dkk, 2013).

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tema :

“Gambaran Pengetahuan Mahasiswa Teknologi Laboratorium Medik tingkat III B


Terhadap Cara Mencuci Tangan Yang Benar”

B. Tujuan :
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa Teknologi Laboratorium Medik
tingkat III B terhadap cara mencuci tangan yang benar
2. Tujuan khusus
Untuk mengetahuijumlah mahasiswa Teknologi Laboratorium Medik tingkat III B
yang mengetahui cara mencuci tangan yang benar.

C. Pustaka:

Mita. 2016. SOP 6 langkah mencuci tangan menurut WHO. Jambi: Puskesmas Putri Ayu
1. Kerangka Konsep

PERILAKU MENCUCI TANGAN

AGAR TERHINDAR
KEBIASAAN DARI KUMAN PENGETAHUAN

Takut kotor Terhindar dari penyakit

Keterangan:

Variabel yang diteliti =

Variabel yang tidak diteliti =


Ta
2. Metode Penelitian

a. Rancangan Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian survei deskriptif
b. Tempat dan Waktu Penelitian
1) Tempat penelitian
Penelitian dilaksanakan di kampus Poltekkes kemenkes Kendari Jurusan
Teknologi Laboratorium Medik
2) Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan tanggal 2 November – 3 November 2019

c. Populasi dan Sampel


a. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah Mahasiswa Teknologi Laboratorium
Medik tingkat 3B sebanyak 44 orang.
b. Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa TLM tingkat 3B sebanyak 12
orang
c. Cara Penarikan sampel
Cara penarikan sampel yaitu simple random sampling.

d. Definisi

DAFTAR
VARIABEL INDIKATOR METODE
PUSTAKA
6 langkah cuci tangan:

1. Ratakan hand rub di kedua


telapak tangan
2. Gosok punggung dan sela –
sela jari tangan kiri dengan
tangan kanan dan sebaliknya.
3. Gosok dengan kedua telapak
Pengetahuan dan sela-sela jari.
KUISIONER
SOP cuci 4. Jari-jari dari kedua tangan WHO
TERSTRUKTUR
tangan saling mengunci.
5. Gosok ibu jari kiri berputar
dalam genggaman tangan
kanan dan lakukan sebaliknya.
6. Gosok dengan memutar ujung
jari-jari tangan kanan di
telapak tangan kiri dan
sebaliknya.
e. Pengolahan Data
Data dikategorikan dalam dua kelompok:
1) Tahu jika SOP terpenuhi
2) Tidak tahu jika selain jawaban di atas

f. Metode Analisis data


Data dianalisis secara deskriptif menggunakan tabel distribusi frekuensi

g. Instrumen Penelitian
Kuesioner

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL
Tabel Distirbusi Frekuensi

SOP Cuci Tangan N %


Tahu 9 75
Tidak Tahu 3 25
Jumlah 12 100
Berdasarkan tabel distribusi frekuensi diatas menunjukan mahasiswa yang
mengetahui cara mencuci tangan yang benar berjumlah 9 orang (75%). Sedangkan
mahasiswa yang tidak mengetahui cara mencuci tangan yang benar berjumlah 3 orang
(25%).
B. PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil wawancara quisioner yang di berikan kepada responden atau
mahasiswa Teknologi Laboratorium Medik (TLM) tingkat III B dengan total 2 pertanyaan.
Tingkat pengetahuan responden dikatakan Tahu apabila SOP terpenuhi dan dikatakan tidak
tahu jika SOP tidak terpenuhi. Dari hasil wawancara kuisioner didapatkan hasil dari 12
responden sebanyak 9 orang (75%) atau 3/4 tahu cara mencuci tangan, dan 3 orang (25%)
atau 1/4 tidak tahu cara mencuci tangan.
Diketahui bahwa di jurusan Analis kesehatan pernah diberikan pembelajaran
tentang SOP mencuci tangan. Ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang SOP cuci
tangan penting untuk di ketahui. Pengetahuan merupakan salah satu pendorong seseorang
merubah perilaku. Menurut Maufur (2008) dalam Khoiruddin et al (2015), bahwa
pengetahuan adalah sesuatu atau semua yang diketahui atau dipahami atas dasar
kemampuan kita berpikir, merasa, maupun mengindera, baik diperoleh secara sengaja
maupun tidak sengaja. Didapatkannya mahasiswa yang tahu SOP mencuci tangan dan
mahasiswa yang tidak tahu SOP mencuci tangan dikarenakan tingkat pengetahuan setiap
mahasiswa berbeda. Hal ini disebabkan kurangnya perhatian mahasiswa saat pembelajaran
tentang SOP cuci tangan berlangsung.