Anda di halaman 1dari 44

LAPORAN TUTORIAL

BLOK 20 MODUL 3 “MANAJEMEN KEUANGAN”

Insisivus 3

Tutor : Drg. Hidayati, MKM

Ketua : Rahma Fuaddiah

Sekretaris Meja : Putri Amelia

Sekretaris Papan : Rinny Maryusa

Anggota :

Ridha Dian Lestari

Kuntum Khaira Ummah

Egy Permatasari Helmy

M. Iqbal

Harlisa Puspa Wati

Fika Melinda Putri

Ulfa Rizalni

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS ANDALAS

2019

1
MODUL 3

MANAJEMEN KEUANGAN

Skenario 3

KLINIK GIGI MODERN

Drg. Sari,Drg. Linda,Drg. Fani berencana akan membuat klinik gigi modern ang
dikelola secara profesional. Dalam membuat perencanaan ini mereka berkonsultasi dengan
drg. Bagas yang juga seorang ahli ekonomi kesehatan. Drg. Bagas mulai menghitung berapa
biaya investasi,biaya operasional,biaya pemeliharaan untuk klinik ini. Setelah diperoleh
jumlah modal yang dibutuhkan,drg. Bagas mulai menghitung unit cost,perkiraan break event
point. Mereka bertiga merencanakan klinik gigi ini harus dijalankan dengan manajemen
keuangan yang baik sesuai dengan prinsip akuntansi,segala transaksi harus tercatat dengan
rapi dan diakhir tahun agar dapat dibuatkan laporan keuangaannya dan diketahui laporan laba
ruginya. Sesuai dengan keinginan pemilik modal,drg. Bagas juga diminta membuatkan
rencana kegiatan ,rencana anggaran dan menyusun strategi untuk memperoleh keuntungan.
Salah satu strategi yang terpikirkan oleh drg. Bagas adalah membuat kerjasama dengan pihak
lain dalam menetapkan sistem pembayaran kesehatan bagi pasien yang akan berobat di klinik
gigi ini. Dapatkah anda membantu drg. Bagas membuat masterplan klinik gigi modern ini.

2
LANGKAH 7 JUMPS

Langkah 1. Mengklarifikasi terminologi yang tidak diketahui dan mendefinisikan hal-


hal yang dapat menimbulkan kesalahan interpretasi.
1. Biaya investasi : Biaya yang masa kegunaannya dapat berlangsung untuk waktu yang
relatif lama ,biasanya lebih dari 1 tahun
2. Biaya operasional : Biaya yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan dalam suatu
proses produksi dan memiliki sifat habis pakai dalam kurun waktu yang relatif
singkat,biasanya kurang dari 1 tahun.
3. Break event point (BEP) : Titik impas,dimana posisi jumlah pendapatan dan biaya
sama atau seimbang sehingga tidak terdapat keuntungan atau kerugian dalam suatu
perusahaan.
4. Biaya pemeliharaan : Biaya yang dikeluarkan untuk mempertahankan nilai suatu
barang investasi agar terus berfungsi.
5. Unit cost : Biaya per unit produk atau per pelayanan.
6. Laporan laba rugi : Laporan keuangan yang didasarkanatas pemasukan dan
pengeluaran sehingga memperoleh laba rugi.
7. Master plan : Pedoman dalam pembangunan dan pengembangan suatu tempat atau
daerah yang mencakup seluruh kebutuhan dan penggunaan tanah serta ruang untuk
kegiatan-kegiatan penunjang.

Langkah 2. Menentukan masalah

1. Apa hal utama yang harus dipersiapkan drg untuk membuka klinik gigi modern ?
2. Apa tujuan menghitung biaya investasi,biaya operasional,biaya pemeliharaan ?
3. Apa saja yang dihitung dalam biaya investasi,biaya operasional,biaya pemeliharaan ?
4. Bagaimana cara menghitung biaya investasi ?
5. Apa tujuan perhitungan unit cost ?

3
6. Apa tujuan dari perkiraan break event point ?
7. Bagaimana cara menghitung unit cost dan BEP ?
8. Apa saja komponen perhitungan dasar BEP ?
9. Apa saja prinsip akuntansi ?
10. Apa fungsi pembuatan laporan keuangan ?
11. Apa saja isi laporan keuangan ?
12. Apa manfaat dilakukan perencanaan anggaran ?
13. Pihak apa saja yang bisa dilakukan kerjasama ?
14. Apa saja sistem pembayaran kesehatan ?
15. Apa tujuan pembuatan master plan ?
16. Apa manfaat ekonomi kesehatan pada sektor pelayanan kesehatan?

Langkah 3. Menganalisa masalah melalui brain storming dengan menggunakan prior


knowledge

1. Apa hal utama yang harus dipersiapkan drg untuk membuka klinik gigi modern ?
 Rencana untuk pembuatan klinik
 Modal
 SDM yang memadai
 Lokasi yang strategis
 Competitor
 Promosi kesehatan yang tepat
 Penuhi regulasi
2. Apa tujuan menghitung biaya investasi,biaya operasional,biaya pemeliharaan ?
 Untuk mengetahui pengendalian biaya agar biaya yang dialokasikan tepat
 Untuk menghitung laba atau rugi dengan melihat pengeluaran dan pemasukan
 Untuk mematok pasien yang harus diberikan layanan
3. Apa saja yang dihitung dalam biaya investasi,biaya operasional,biaya pemeliharaan ?

4
 Biaya investasi : biaya pembangunan gedung,biaya alat medis dan non
medis,biaya tanah.
 Biaya operasional : biaya obat dan bahas medis,gaji pegawai,air dan listrik
 Biaya pemeliharaan : biaya pemeliharaan gedung,biaya pemeliharaan
kendaraan,biaya pemeliharaan alat medis
4. Bagaimana cara menghitung biaya investasi ?
Annual invesment cost (AIC)
𝐼𝐼𝐶 𝑥 (1+𝐼 )𝑡
AIC = 𝐿

IIC : initial invesment cost


t : lama pakai
L : masa pakai
5. Apa tujuan perhitungan unit cost ?
 Untuk memudahkan pembuatan strategi anggaran
 Untuk memonitor efisiensi kerja di suatu bisnis yang dijalankan
 Untuk mengetahui informasi biaya per item
 Untuk mengalokasi biaya
6. Apa tujuan dari perkiraan break event point ?
 Untuk menekan biaya produksi atau operasional
 Untuk menentukan harga produk atau pelayanan
 Untuk meningkatkan volume kegiatan semaksimal mungkin
 Untuk mengetahui jumlah penjualan minimun
 Untuk mengetahui jumlah penjualan yang diuntungkan
 Untuk menganalisis unit produksi
 Untuk menentukan harga suatu produk yang dikeluarkan
7. Bagaimana cara menghitung unit cost dan BEP ?
𝑇𝐶
Unit cost = 𝑄

5
Keterangan :
TC = FC + VC
Q = Kuantitas atau kapasitas

BEP = Q x P = FC + VC
𝐹𝐶+𝑉𝐶
Q = 𝑃

Keterangan :
Q : jumlah kapasitas
P : harga jual
8. Apa saja komponen perhitungan dasar BEP ?
 Fixed cost (FC)
Biaya yang tetap atau konstan jika adanya tindakan produksi atau meskipun
perusahaan tidak berproduksi
 Variabel cost (VC)
Biaya perunit yang sifatnya dinamis tergantung dari tindakan volume
produksinya. Jika produksi yang direncanakan meningkat,berarti variabel cost
pasti akan meningkat.
 Selling price
Harga jual per unit barang atau jasa yang telah di produksi.
9. Apa saja prinsip akuntansi ?
 Entitas ekonomi
 Periode akuntansi
 Satuan moneter
 Biaya history
 Akuntansi akrual
 Konservatif
 Pengukuran pendapatan

6
 Periode waktu
 Pengungkapan penuh
 Kesinambungan usaha
 Prinsip materialitas
 Prinsip konsisten
10. Apa fungsi pembuatan laporan keuangan ?
 Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah aktiva yang dimiliki oleh
perusahaan.
 Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah kewajiban dan modal yang
dimiliki oleh perusahaan.
 Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah pendapatan yang diperoleh
pada suatu periode tertentu.
 Memberikan informasi tentang jumlah biaya dan jenis biaya yang dikeluarkan
oleh perusahaan dalam suatu periode tertentu.
 Memberikan informasi tentang perubahan-perubahan yang terjadi terhadap
aktiva,pasiva,dan modal perusahaan
 Memberikan informsi tentang catatan-catatan atas laporan keuangan.
11. Apa saja isi laporan keuangan ?
 Laporan laba-rugi
Digunakan untuk mengetahui apakah perusahaan mengalami keuntungan atau
kerugian dalam periode tertentu.
 Laporan perubahan modal
Digunakan untuk mengetahui apakah modal perusahaan bertambah atau
berkurang dalam satu periode.
 Neraca
Digunakan untuk mengetahui jumlah harta,utang,dan modal perusahaan dalaam
satu periode
 Laporan arus kas

7
Digunakan untuk mengetahui berapa pertambahan ataupun pengurangan kas
perusahaan dalam satu periode tertentu.
12. Apa manfaat dilakukan perencanaan anggaran ?
 Supaya tidak terjadi kekurangan dalam pengeluaran
 Sebagai gambaran dalam pemasukan atau pengeluaran di laporan keuangan.
13. Pihak apa saja yang bisa dilakukan kerjasama ?
 pemerintah : BPJS
 swasta : healt insurance
 kerjasama antar provinsi dengan sesama profesi
14. Apa saja sistem pembayaran kesehatan ?
 Claim
 Paket pelayanan
 Kapitasi
 Out of pocket
15. Apa tujuan pembuatan master plan ?
 Memperoleh keterpaduan antara rencana pengembangan program pelayanan
dengan rencana pengembangan fisik yang dapat diandalkan baik dalam jangka
panjang,jangka menengah,maupun jangka pendek
 Sebagai kerangka dasar bagi pengembangan bangunan serta infrastruktur
dilingkungan.
 Sebagai monitoring tahapan-tahapan pembangunan yang akan digunakan
16. Apa manfaat ekonomi kesehatan pada sektor pelayanan kesehatan?
 Membantu pengalokasian dana
 Efektif
 Memilih teknologi yang lebih murah
 Mendapatkan evaluasi pelayanan kesehatan

8
Langkah 4. Membuat skema atau diagram dari komponen-komponen permasalahan
dan mencari korelasi dan interaksi antar masing-masing komponen untuk membuat
solusi secara terintegrasi

Drg. Sari, Drg. Linda,


Drg. Fani

Merencanakan
pembuatan klinik

Sesuai ekonomi
9
kesehatan
Break event point

Langkah 5. Memformulasikan tujuan pembelajaran.

1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan teori biaya


2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan break event point
3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan laporan keuangan
4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan sistem pembiayaan kesehatan
5. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan time value of money

10
Langkah 6. Mengumpulkan informasi di perpustakaan, internet, dan lain-lain.

Langkah 7. Sintesa dan uji informasi yang telah diperoleh

A. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan teori biaya

Biaya adalah nilai sejumlah input (faktor produksi) yang dipakai untuk
menghasilkan suatu produk/output (Jacobalis, 1989). Biaya adalah nilai suatu pengorbanan
yang dikeluarkan (dipakai) untuk memperoleh suatu hasil dalam mencapai tujuan tertentu,
dengan demikian disini pengorbanan itu dapat diukur dengan uang (Depkes, 1977).
Pengorbanan itu dapat berupa uang, barang, tenaga, waktu maupun kesempatan.

Menurut Mulyadi (2003), biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi yang diukur
dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan
tertentu.

Biaya dalam pengertian produksi ialah semua beban yang harus ditanggung oleh
produsen untuk menghasilkan suatu produksi, sehingga biaya produksi adalah beban yang
harus ditanggung oleh produsen dalam bentuk uang untuk menghasilkan suatu barang.
Secara sederhana biaya produksi dapat dicerminkan oleh uang yang dikeluarkan untuk
mendapatkan sejumlah input (Sugiato, 2002).

Menurut Soeharno (2006:97) biaya produksi adalah total nilai dari input dalam
kegiatan produksi untuk menghasilkan suatu produk baik barang atau jasa. Kegiatan
produksi dan biaya adalah hal yang tidak terpisahkan. Biaya memiliki pengaruh terhadap
tingkat suatu produksi. Setiap pengusaha harus dapat menghitung biaya produksi agar
dapat menetapkan harga pokok barang yang dihasilkan. Dalam kegiatan produksi,
diperlukan faktor-faktor produksi, seperti tenaga kerja, tanah, listrik, bahan baku, dan lain-
lain (Sugiato, 2002). Perusahaan akan mengganti penggunaan faktor produksi tersebut
dalam bentuk gaji, uang sewa, harga listrik, hargan bahan baku, dan lain-lain. Keseluruhan
beban atau pengorbanan yang dikeluarkan oleh produsen untuk kegiatan produksi inilah
yang biasa disebut dengan biaya produksi.

11
Untuk menetapkan biaya produksi memerlukan kecermatan karena ada yang
mudah diidentifikasikan, tetapi ada juga yang sulit diidentifikasikan hitungannya sehingga
untuk memudahknnya terdapat unsur-unsur sebagai faktor yang mempengaruhi usaha
untuk meminimalkan biaya produksi (Pindyck, 2014). Biaya produksi dapat meliputi
beberapa unsur sebagai berikut:

1. Bahan baku atau bahan dasar termasuk bahan setengah jadi


2. Uang modal sewa
3. Bahan-bahan pembantu atau penolong
4. Biaya penunjang seperti biaya angkut, biaya administrasi,
pemeliharaan, biaya listrik, biaya keamanan dan asuransi
5. Upah tenaga kerja dari tenaga kerja kuli hingga direktur
6. Penyusutan peralatan produksi
7. Biaya pemasaran seperti biaya iklan
8. Pajak
Secara umum unsur biaya tersebut dapat kelompokan atas tiga komponen biaya
sebagai berikut (Sari, 2014).

1. Komponen biaya bahan, meliputi semua bahan yang berkaitan


langsung dengan produksi.
2. Komponen biaya gaji / upah tenaga kerja
3. Komponen biaya umum (biaya over head pabrik) meliputi semua
pengorbanan yang menunjang terselenggaranya proses produksi.

Terkait dengan biaya produksi, ada beberapa konsep biaya yang perlu diperlu
diketahui, antara lain sebagai berikut (Soeharno, 2006.)

1. Biaya Langsung dan Biaya Tak langsung


Biaya langsung adalah biaya yang dapat dihitung untuk setiap unit output
yang dihasilkan. Termasuk biaya langsung misalnya adalah biaya membeli
bahan baku, biaya tenaga kerja, yang langsung menangani produksi. Adapun

12
biaya tak langsung adalah biaya yang dikeluarkan, tetapi tidak bisa dihitung
untuk setiap unit produk yang dihasilkan karena adanya unsur-unsur biaya
penggunaan fasilitas bersama.
2. Biaya Eksplisit dan Biaya Implisit
Biaya ekslplisit adalah biaya yang secara nyata dikeluarkan perusahaan,
misalnya pengeluran untuk membeli bahan baku untuk produksi, untuk
membayar tenaga langsung yang berkaitan dengan produksi atau sebagainya.
Adapun biaya implisit adalah nilai dari input yang dimiliki perusahaan yang
digunakan dalam proses produksi, tetapi tidak sebagai pengeluaran yang nyata
yang dikeluarkan perusahaan
3. Biaya Kesempatan dan Biaya Historis
Biaya kesempatan(Oppoturnity Cost) adalah nilai dari sumber-sumber
ekonomi dalam penggunaan alternative yang paling baik. Sumber-sumber
ekonomi termasuk factor produksi, misalnya bahan baku, tenaga kerja, dapat
digunakan secara alternative. Misalnya bahan baku tadi berupa kayu, apabila
kayu tersebut telah digunakan untuk nenghasilkan suatu barang lan dengan
kayu tersebut. Nilai kesempatan yang hilang ini merupakan biaya kesempatan.
Biaya kesempatan tercermin dari harga factor produksi tersebut di pasar.
Biaya historis adalah biaya yang dikeluarkan perusahaan pada waktu membeli
factor produksi (input). Misalkan input tersebut disimpan lalu dikemudian hari
digunakan dalam proses produksi makamenurut biaya historis adalah sama
pada waktu factor produksi itu dibeli. Sebagai contoh harga satu sak semen
yang saat dibelii adalh Rp. 25.000. Kemudian semen digunakan satu bulan
kemudian saat harga satu sak semen dipasaran adalah Rp. 30.000. Menurut
konsep biaya historis, biaya perhitungan pada saat semen di beli Rp. 25.000.
Namun menurut konsep biaya kesempatan biaya diperhitungkan pada saat
semen digunakan Rp. 30.000
4. Biaya Incremental

13
Biaya incremental adalah biaya yang timbul sebagai akibat adanya
keputusan yang telah dibuat. Dengan melihat adanya perubahan biaya total
dengan demikian, biaya incremental dapat berupa biaya tetap atau biaya
variabel, atau kedua-duanya. Sma halny dengan biaya relevan yakni
merupakan biaya-biaya yang akan dibebankan bila suatu keputusan telah
dilakukan. Dengan demikian, biaya relevan adalah incremental cost
5. Biaya Variabel dan Biaya Tetap
Biaya variabel adalah biaya yang besarnya tergantung pada output yang
dihasilkan. Misalnya, biaya bahan untuk menghasilkan suatu produk. Semakin
banyak produk yang dihasilkan maka semakin banyak nahan yan digunakan
sehingga biayanya semakin besar.
Biaya tetap adalah biaya yang tidak tergantung pada banyak sedikitnya produk
yang dihasilkan. Misalnya, biaya penyusutan mesin, biaya penysutan ini tidak
bergantung apakah mesin digunkan pada kapasitas penuh, setengah kapasitas,
atau bahkan tidak digunakan, biaya tetap harus dikeluarkan sebesar
penyusutan yang ditetapkan pertahunnya.

Klasifikasi Biaya Produksi

Beberapa kriteria untuk keperluan analisis, konsep biaya dikelompokkan


sebagai berikut. :

Pembagian Biaya Berdasarkan Pengaruhnya pada Skala Produksi

Menurut Pindyck, 2014, berikut adalah pembagian biaya berdasarkan


pengaruhnya pada skala produksi adalah sebagai berikut

1. Biaya tetap (fixed cost = FC


Biaya tetap (fixed cost = FC), yaitu biaya yang nilainya secara relatif tidak
dipengaruhi oleh besarnya jumlah produksi (output). Biaya ini harus tetap
dikeluarkan walaupun tidak ada pelayanan. Contoh FC adalah nilai dari

14
gedung yang digunakan, nilai dari peralatan (besar) kedokteran, ataupun nilai
tanah. Nilai gedung dimasukan dalam FC sebab biaya gedung yang
digunakan tidak berubah baik ketika pelayanannya meningkat maupun
menurun, demikian pula dengan alat kedokteran. Biaya stetoskop relatif tetap,
baik untuk memeriksa dua pasien maupun sepuluh pasien. Artinya biaya
untuk memeriksa dengan suatu alat pada dua pasien sama dengan biaya untuk
memeriksa sepuluh pasien. Dengan demikian biaya alat adalah tetap dan tidak
berubah meskipun jumlah pasien yang dilayani berubah.

2. Biaya variabel (variabel cost = VC)


Biaya variabel (variabel cost = VC), adalah biaya yang nilainya dipengaruhi
oleh banyaknya output. Contoh yang termasuk dalam VC adalah biaya obat,
biaya makan, biaya alat tulis kantor, biaya pemeliharaan. Biaya obat dan
makanan dimasukan dalam VC karena jumlah biaya tersebut secara langsung
dipengaruhi oleh banyaknya pelayanan yang diberikan. Biaya obat dan
makanan untuk melayani dua pasien akan berbeda dengan biaya obat dan
makanan untuk melayani sepuluh pasien, dengan demikian besarnya biaya
obat atau makanan akan selalu berpengaruh secara langsung oleh banyaknya
pasien yang dilayani. Pada umumnya besar volume produksi sudah
direncanakan secara rutin, oleh sebab itu, VC sering juga disebut dengan
biaya rutin. Dalam praktek sering kali dialami kesulitan untuk membedakan
secara tegas apakah suatu biaya termasuk FC atau VC. Contoh dalam
menentukan gaji pegawai misalnya gaji pegawai dimasukan dalam FC atau
VC. Gaji pegawai terkadang tidak dipengaruhi oleh besarnya output terutama
pada fasilitas pemerintah. Dalam praktek misalnya, penambahan (kenaikan
gaji) atau pengurangan gaji pegawai terutama pada fasilitas pemerintah, tidak
semudah seperti penurunan dan penambahan output pelayanan. Berdasarkan
teori, biaya pegawai sebenarnya dipengaruhi oleh besarnya output.

15
Total cost adalah jumlah dari fixed cost ditambah variabel cost.

TC = TF + V

Pembagian Biaya Berdasarkan Lama Penggunaannya

Menurut Soeharno (2006), berikut adalah pembagian biaya berdasarkan lama


penggunaannya adalah sebagai berikut :

1) Biaya investasi
Biaya investasi adalah biaya yang masa kegunaannya dapat berlangsung
untuk waktu yang relatif lama. Biasanya waktu untuk biaya investasi
ditetapkan lebih dari satu tahun. Batas satu tahun ditetapkan atas dasar
kebiasaan merencanakan dan merealisasi anggaran untuk jangka waktu satu
tahun. Biaya investasi ini biasanya berhubungan dengan pembangunan atau
pengembangan infrastruktur fisik dan kapasitas produksi (alat produksi).
Contoh yang termasuk dalam biaya investasi antara lain biaya pembangunan
gedung, biaya pembelian mobil, biaya pembelian peralatan besar dan
sebagainya.

Beberapa instansi, penetapan apakah suatu biaya termasuk biaya investasi


atau tidak dilakukan dengan melihat harga (nilai) suatu barang. Pada
umumnya besar biaya investasi sudah ditetapkan sebelumnya. Misalnya, jika
batas yang ditentukan adalah Rp. 100.000,- maka barang yang nilainya
kurang dari Rp. 100.000,- tidak termasuk dalam biaya investasi, meskipum
penggunaannya dapat lebih dari satu (biaya tersebut dimasukan dalam biaya
operasional).

Biaya investasi dihitung dari nilai barang investasi yang disetahunkan (AIC
atau biaya depresiasi atau biaya penyusutan). Nilai barang investasi dalam

16
analisis biaya harus memperhitungkan (1) harga satuan (nilai awal barang)
masing-masing jenis barang investasi, (2) lama pemakaian barang tersebut,
(3) laju inflasi (tingkat bunga bank) dan (4) umur ekonomis barang tersebut.

Biaya penyusutan (depreciation cost), adalah biaya yang timbul akibat


terjadinya pengurangan nilai barang investasi (asset) sebagai akibat
penggunaannya dalam proses produksi. Setiap barang investasi yang dipakai
dalam proses produksi akan mengalami penyusutan nilai, baik karena makin
usang atau karena mengalami kerusakan fisik. Nilai penyusutan barang
investasi, seperti gedung, kendaraan, dan peralatan, disebut sebagai biaya
penyusutan.

Salah satu metode yang paling umum digunakan untuk menghitung


penyusutan adalah metode penyusutan garis lurus (straight line method)
dimana jumlah historis yang sama dikurangi setiap tahun. Pada umumnya
analisis biaya dilakukan untuk satu kurun waktu tertentu, misalnya satu tahun
anggaran, maka untuk itu perlu dicari nilai biaya investasi setahun, sehingga
biaya investasi itu dapat digabung dengan biaya operasional.

Nilai biaya investasi satu tahun ini disebut nilai tahunan biaya investasi
(Annualized Investment Cost = AIC). Besarnya nilai tahunan dari biaya
investasi tersebut dipengaruhi oleh nilai uang (inflasi) serta waktu pakai dan
masa hidup suatu barang investasi.

AIC = IIC (1 + I)t

2) Biaya operasional (operasional cost)

17
Biaya operasional (operasional cost) adalah biaya yang diperlukan untuk
melaksanakan kegiatan dalam suatu proses produksi dan memiliki sifat habis
pakai dalam kurun waktu yang relatif singkat (kurang dari satu tahun).Contoh
yang termasuk dalam biaya operasional antara lain biaya obat, biaya makan,
gaji pegawai, air dan listrik.

Konsep yang sering dipakai secara bersamaan dengan biaya operasional yaitu
biaya pemeliharaan (mantainance cost). Biaya pemeliharaan adalah biaya
yang dikeluarkan untuk mempertahankan nilai suatu barang investasi agar
dapat terus berfungsi, misalnya biaya pemeliharaan gedung dan pemeliharaan
kendaraan. Antara biaya operasional dan biaya pemeliharaan dalam praktek
sering disatukan menjadi biaya operasional dan pemeliharaan (operational
and mantainance cost).

Biaya operasional dan pemeliharaan, dengan sifatnya yang habis pakai pada
umumnya dikeluarkan secara berulang karena itu biaya pemeliharaan sering
disebut sebagai biaya berulang (recurrent cost). Contoh biaya operasional
seperti biaya pegawai (gaji), biaya obat dan bahan medis, biaya listrik dan air,
biaya bahan kantor (ATK), biaya telepon, biaya pemeliharaan barang
investasi. Untuk biaya listrik dan air, biaya bahan kantor (ATK), biaya
telepon, biaya pemeliharaan barang investasi dikenal dengan sebutan
overhead atau biaya umum. Contoh biaya pemeliharaan seperti biaya yang
dikeluarkan untuk mempertahankan nilai suatu barang agar terus berfungsi.
Misalnya biaya pemeliharaan gedung, biaya pemeliharaan alat medis dan
pemeliharaan kendaraan.
3) Biaya total (total cost)
Biaya Tota (total Cost= TC), adalah jumlah dari biaya investasi
ditambah biaya operasional.

18
TC = IC + OC

Pembagian Biaya berdasarkan Fungsi atau Aktifitas Sumber Biaya

1. Biaya langsung (direct cost), adalah biaya yang dibedakan pada sumber biaya
yang mempunyai fungsi (aktifitas) langsung terhadap output. Contoh : gaji
perawat, biaya obat-obatan, biaya peralatan medis.
2. Biaya tidak langsung (indirect cost), adalah biaya yang dibebankan pada
sumber biaya yang mempunyai fungsi penunjang (aktivitas tak langsung)
terhadap output. Contohnya adalah gaji bagian administrasi, gaji direktur,
biaya ATK, TU, biaya peralatan non medis.
3. Total cost, merupakan penjumlahan dari direct cost ditambah indirect cost.
TC = Direct C + Indirect C
4. Unit cost, adalah biaya yang dihitung untuk menghasilkan satu satuan produk
(misalnya satu jenis pelayanan). Secara sederhana unit cost dapat diartikan
sebagi biaya per unit produk atau biaya per pelayanan. Unit cost didefinisikan
sebagai hasil pembagian antara total cost yang dibutuhkan dengan jumlah unit
produk yang dihasilkan. Dalam menghitung unit cost harus ditetapkan terlebih
dahulu besaran produk (cakupan pelayanan). Unit cost sering kali disamakan
dengan biaya rata-rata (average cost). Tinggi rendahnya unit cost suatu produk
tidak saja dipengaruhi oleh besarnya TC tetapi juga dipengaruhi oleh besarnya
pelayanan. Makin tinggi utilitas dengan demikian makin besar jumlah output
akan semakin kecil unit cost pelayanan.
5. Incremental cost adalah biaya yang timbul akibat adanya pertambahan atau
pengurangan output, biasanya merupakan hasil dari kegiatan produksi atau
operasi. Incremental cost juga merupakan biaya yang terjadi sebagai akibat
dari suatu keputusan. Incremental cost diukur dari berubahnya IC karena suatu
keputusan, oleh sebab itu sifatnya bisa variabel, bisa juga fixed. Contohnya

19
adalah penambahan biaya total produksi karena keputusan manajemen untuk
penambahan tenaga kerja dan bahan baku.
6. Marginal cost adalah kenaikan biaya yang harus dikeluarkan perusahaan
sebagai akibat kenaikan satu output, perbedaanya dengan incremental cost
adalah terletak pada aspek yang memberi perubahan pada total cost, jika pada
incremental cost perubahan total cost dipengaruhi oleh perubahan keputusan,
pada marginal cost perubahan total cost dipengaruhi oleh penambahan satu
unit produk atau selanjutnya. Contohnya adalah perusahaan harus menambah
anggaran biaya produksi dikarenakan adanya penambahan permintaan dari
orderer yang sebelumnya memesan.
7. Recurring cost (biaya terulang) adalah biaya yang besarnya sama yang harus
dibayarkan lagi dengan adanya tambahan suatu aktivitas yang menghasilkan
produk (output) yang sama. Setiap penambahan 1 unit output, biaya yang
ditanggung berulang atau bertambah sebesar biaya per unitnya. Contohnya
adalah mesin photo copy digunakan atau tidak, perusahaan akan membayar
uang sewa mesin photo copy sebesar Rp. 1 juta per bulannya.
8. Unrecurring cost (biaya tak berulang) adalah biaya yang hanya muncul satu
kali, artinya tidak ada sesuatu yang ditambahkan setelah biaya ini dikeluarkan.
Contohnya adalah biaya yang dikeluarkan untuk membeli tanah.
9. Sunk cost ialah biaya yang telah dikeluarkan atau diterima sebelum terjadinya
suatu keputusan. Contoh dari sunk cost ialah biaya yang dikeluarkan untuk
rapat dan penelitian.

Perhitungan Biaya Satuan Rata-Rata

Biaya satuan atau (Unit Cost) disebut juga biaya rata-rata (Average Cost)
merupakan biaya yang diperlukan atau dikeluarkan untuk menghasilkan satu
satuan produk (barang atau jasa) atau dalam bidang kesehatan biaya ini dihitung
untuk setiap pelayanan (Sugiarto, 2005). Dalam analisis biaya rumah sakit untuk

20
perhitungan biaya satuan perlu diketahui secara rinci jenis produk dan jenis
pelayanan yang dihasilkan oleh unit-unit produksi (Wina, 2012).

Menurut Sugiato (2005) setiap satuan produk dipengaruhi oleh biaya total dan
besarnya produk/layanan. Jenis biaya satuan ada 2, yaitu:

1. Biaya Satuan Aktual


Biaya aktual yaitu biaya yang dikeluarkan unit produksi pelayanan kesehatan
berdasarkan pengeluaran nyata untuk menghasilkan suatu output besaran
produk pelayanan kesehatan dalam kurun waktu tertentu. Besarnya biaya
satuan aktual diperoleh dari membagi biaya total (TC) dengan jumlah output
yang dihasilkan (Q), didapatkan dengan rumus:
UC = TC / Q

Keterangan:
TC = biaya total di unit produksi bersangkutan
Q = jumlah output

2. Biaya Satuan Normatif


Biaya yang diperlukan untuk menghasilkan suatu jenis pelayanan kesehatan
menurut standar baku dengan melihat kapasitas dan utilisasinya, didapatkan
dengan rumus:
𝐹𝐶 VC
UC = +
𝐾𝑎𝑝 𝑄

Keterangan:
UC = Unit cost normative
FC = Fixed cost, biaya tetap yang diperlukan untuk beroperasi
Kap = Kapasitas produksi pusat biaya tersebut dalam setahun

21
VC = Variabel cost termasuk didalamnya biaya obat/bahan medis bahan pakai habis.

Secara umum biaya satuan diperoleh dengan cara membagi biaya total (Total
Cost=TC) dengan jumlah output atau total produksi (Quantity= Q) atau TC/Q .
Dari pengertian ini biaya satuan dipengaruhi oleh besarnya biaya total yang
mencerminkan tinggi rendahnya fungsi produksi di unit pelayanan tersebut serta
tingkat utilisasi-nya. Makin tinggi tingkat utilisasi maka makin besar juga
jumlah Q dan makin kecil jumlah biaya satuan suatu pelayanan. Sebaliknya
makin rendah tingkat utilisasi-nya maka makin kecil jumlah Q dan akan
semakin besar jumlah biaya satuan suatu pelayanannya (Wita,2012). sesuai
dengan rumus:

AC = TC / Q atau AC = FC + TC

Agar perbandingan dapat dilakukan, ukuran efisiensi harus sebagai Unit Cost.

Unit Cost adalah hasil dari total biaya dibagi jumlah unit pelayanan.

B. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan break event point

Break Even Point (BEP) adalah suatu keadaan perusahaan dimana dengan
keadaan tersebut perusahaan tidak mengalami kerugian juga perusahaan tidak
mendapatkan laba sehingga terjadi keseimbangan atauimpas. hal ini bisa terjadi
bila perusahaan dalam pengoperasiannya menggunakan biaya tetap dan volume
penjualannya hanya cukup untuk menutup biaya tetap dan biaya variable
(Syarifuddin Alwi, 1990 : 239 dalam Marhaeni, 2011).

Break even point dapat diartikan sebagai suatu titik atau keadaan dimana
perusahaan didalam operasinya tidak memperoleh keuntungan dan juga tidak
menderita kerugian, dengan kata lain dalam keadaan tersebut keuntungan atau
kerugian adalah sama dengan nol menurut Syamsuddin (2007:90 dalam Parade
2013). Sedangkan pengertian break even point menurut Adisaputro (2007:93

22
Parade 2013) adalah suatu keadaan dimana penghasilan dari penjualan hanya
cukup untuk menutup biaya, baik yang bersifat variabel maupun yang bersifat
tetap. Dengan kata lain keadaan break even point menunjukkan jumlah laba sama
dengan nol atau bahwa penghasilan total sama dengan biaya total. Tujuan titik
impas adalah untuk mencari tingkat aktivitas dimana pendapatan dari hasil
penjualan sama dengan jumlah semua biaya variabel dan biaya tetap.

Dari beberapa pengertian diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa titik impas
adalah suatu keadaan dimana pendapatan dan jumlah biaya yang dikeluarkan
dalam suatu perusahaan sama besarnya, dalam arti perusahaan tersebut tidak
mendapatkan laba dan tidak menderita kerugian. Dalam perencanaan BEP juga
dibutuhkan analisis break even point yang merupakan teknik analisa pendekatan
perencanaan laba sama dengan total biaya dan penghasilan penjualan.

Manfaat Analisis Break Even Point

Analisis break even secara umum dapat memberikan informasi kepada


pimpinan, bagaimana pola hubungan antara volume penjualan, cost/biaya, dan
tingkat keuntungan yang akan diperoleh pada level penjualan tertentu. Dalam
analisis BEP terdapat manfaat bagi manajemen antara lain:

1. Membantu pengendalian melalui anggaran (budgetery control). Membantu


menunjukkan perubahan apabila ada yang diperlukan untuk menjadikan biaya
selaras dengan pendapatan.
2. Meningkatkan dan menyeimbangkan penjualan. Berlaku sebagai sinyal
peringatan untuk menggugah manajemen terhadap kemungkinan kesulitan
dalam program penjualan. Jika penjualan secara relatif tidak cukup tinggi
dibandingkan dengan biasanya seperti semestinya, kenyataan ini akan
diperhatikan. Dengan demikian akan tersedia cukup waktu guna
mengevaluasi kembali teknik penjualan.

23
3. Menganalisa dampak volume penjualan. Memberi jawaban atas pertanyaan
seperti:
a. Berapa banyak volume penjualan saat ini bisa berkurang sebelum industri
menderita rugi?
b. Berapa kenaikan laba bila ada kenaikan volume penjualan?
4. Menganalisis harga jual dan dampak perubahan biaya. Menunjukkan
pengaruh yang mungkin terjadi atas laba akibat perubahan harga jual yang
disertai oleh perubahan lain, sebagai contoh:
a. Perubahan apa yang dapat diharapkan dalam laba jika terjadi perubahan
harga dengan asumsi semua faktor lainnya tetap/konstan?
b. Jika harga barang dikurangi apa kombinasi perubahanvolume dan biaya
yang paling praktis untuk diberikan dan apa pengaruh bersih kombinasi
industri tersebut terhadap laba?
c. Demikian pula jika harga naik apa kombinasi perubahan dan
pengaruhnya terhadap laba yang layak untuk diharapkan?
5. Merundingkan upah. Membantu manajemen karena:
a. Menunjukkan dengan cepat kemungkinan pengaruh perubahan usulan
gaji terhadap laba (dianggap tidak ada perubahan efisiensi karyawan)
b. Memberikan bantuan dalam menentukan kemungkinan penghematan
efisiensi yang dapat melindungi posisi laba indusri

24
Menganalisa bauran produk. Memungkinkan dilakukan pengujian krisis atas
bauran produk. Analisa impas untuk tiap jalur produk merupakan bantuan
yang berharga dalam menentukan produk mana yang mungkin harus
dihapuskan.
6. Menilai keputusan-keputusan kapitulasi dan ekspansi lanjutan memberi
sarana guna menilai terlebih dahulu usulan belanja barang modal yang dapat
mengubah struktur biaya industri.
7. Menganalisa margin pengamanan sebagai cadangan margin pengaman dan
cara untuk mempengaruhi melalui pengamanan.

Asumsi-Asumsi Analisis Break Even Point (BEP)

Analisis break even point membutuhkan asumsi tertentu sebagai dasarnya. Asumsi-
asumsi itu menurut Adisaputro (2007:95) adalah:

1. Bahwa biaya pada berbagai tingkat kegiatan dapat diperkirakan


jumlahnyasecara tepat. Dengan demikian perubahan tingkat produksi dapat
dijabarkan menjadi perubahan tingkat biaya.
2. Biaya yang diperkirakan itu dapat dipisahkan mana yang bersifat variabel dan
mana yang merupakan beban tetap. Analisa break even hanya dapat dihitung
bilamana sebagian biaya merupakan bebanm tetap.
3. Tingkat penjualan sama dengan tingkat produksi, artinya apa yang diproduksi
dianggap terjual habis. Dengan demikian tingkat persediaan barang jadi tidak
mengalami perubahan, atau perusahaan sama sekali tidak menyediakan stock
barang jadi.
4. Harga jual produk perusahaan pada berbagai tingkat penjualan tidak
mengalami perubahan.
5. Efisiensi perusahaan pada berbagai tingkat kegiatan juga tidak berubah.
6. Perusahaan dianggap seakan-akan hanya menjual satu macam produk akhir.
Bilamana dalam kenyataannya produk yang dibuat lebih dari satu macam,
maka sales mix dipertahankan tetap sama

25
Rumusan untuk menghitung BEP = titik impas

𝐹𝐶
BEP Unit =
( 𝑃 − 𝑉𝐶 )

𝐹𝐶
BEP Rupiah =
1 − ( 𝑉𝐶⁄𝑃)

C. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan laporan keuangan


Laporan keuangan dapat dengan jelas memperlihatkan gambaran kondisi
keuangan dari perusahaan. Laporan keuangan yang merupakan hasil dari kegiatan
operasi normal perusahaan akan memberikan informasi keuangan yang berguna bagi
entitas-entitas di dalam perusahaan itu sendiri maupun entitas-entitas lain diluar
perusahaan.
Ikatan Akuntan Indonesia (2012:5) mengemukakan pengertian laporan keuangan
yaitu :
Laporan keuangan merupakan struktur yang menyajikan posisi keuangan dan kinerja
keuangan dalam sebuah entitas.Tujuan umum dari laporan keuangan ini untuk
kepentingan umum adalah penyajian informasi mengenai posisi keuangan (financial
position), kinerja keuangan (financial performance), dan arus kas (cash flow) dari
entitas yang sangat berguna untuk membuat keputusan ekonomis bagi para
penggunanya.Untuk dapat mencapai tujuan ini, laporan keuangan menyediakan
informasi mengenai elemen dari entitas yang terdiri dari aset, kewajiban, networth,
beban, dan pendapatan (termasuk gain dan loss), perubahan ekuitas dan arus kas.
Informasi tersebut diikuti dengan catatan, akan membantu pengguna memprediksi
arus kas masa depan.
Menurut Munawir (2010:5), pada umumnya laporan keuangan itu terdiri dari neraca
dan perhitungan laba-rugi serta laporan perubahan ekuitas. Neraca
menunjukkan/menggambarkan jumlah aset, kewajiban dan ekuitas dari suatu
perusahaan pada tanggal tertentu. Sedangkan perhitungan (laporan) laba- rugi
memperlihatkan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan serta beban yang
terjadi selama periode tertentu, dan laporan perubahan ekuitas menunjukkan sumber

26
dan penggunaan atau alasan-alasan yang menyebabkan perubahan ekuitas
perusahaan. Menurut Harahap (2009:105), laporan keuangan menggambarkan
kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka
waktu tertentu. Adapun jenis laporan keuangan yang lazim dikenal adalah neraca,
laporan laba-rugi atau hasil usaha, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas,
laporan posisi keuangan.Sedangkan menurut Gitman (2012:44) adalah:

“Annual report that publicly owned corporations must provide to


stockholders; it summarizes and documents the firms financial 2activities
during the past year”.

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan untuk


perusahaan terdiri dari laporan-laporan yang melaporkan posisi keuangan
perusahaan pada suatu waktu tertentu, yang dilaporkan dalam neraca dan
perhitungan laba-rugi serta laporan perubahan ekuitas dan laporan arus kas,
dimana neraca menunjukkan jumlah aset, kewajiban dan ekuitas perusahaan.
Laporan laba-rugi menunjukkan hasil operasi perusahaan selama periode tertentu.
Sedangkan laporan perubahan ekuitas menunjukkan sumber dan penggunaan atau
alasan-alasan yang menyebabkan perubahan ekuitas perusahaan

Tujuan laporan keuangan


1. Informasi posisi laporan keuangan yang dihasilkan dari kinerja dan aset
perusahaan sangat dibutuhkan oleh para pemakai laporan keuangan, sebagai
bahan evaluasi dan perbandingan untuk melihat dampak keuangan yang timbul
dari keputusan ekonomis yang diambilnya.
2. Informasi keuangan perusahaan diperlukan juga untuk menilai dan meramalkan
apakah perusahaan di masa sekarang dan di masa yang akan datang sehingga
akan menghasilkan keuntungan yang sama atau lebih menguntungkan.
3. Informasi perubahan posisi keuangan perusahaan bermanfaat untuk menilai
aktivitas investasi, pendanaan dan operasi perusahaan selama periode tertentu.
Selain untuk menilai kemampuan perusahaan, laporan keuangan juga bertujuan
sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi.

Karakteristik Laporan Keuangan

27
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2009:5-8), laporan keuangan yang
berguna bagi pemakai informasi bahwa harus terdapat empat karakteristik
kualitatif pokok yaitu dapat dipahami, relevan, keandalan, dan dapat
diperbandingkan.

1. Dapat dipahami

Kualitas penting informasi yang ditampung dalam laporan keuangan adalah


kemudahannya untuk segera dapat dipahami oleh pemakai.Untuk maksud ini,
pemakai diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai tentang aktivitas
ekonomi dan bisnis, akuntansi, serta kemauan untuk mempelajari informasi dengan
ketekunan yang wajar. Namun demikian, informasi kompleks yang seharusnya
dimasukkan dalam laporan keuangan tidak dapat dikeluarkan hanya atas dasar
pertimbangan bahwa informasi tesebut terlalu sulit untuk dapat dipahami oleh
pemakai tertentu.

2. Relevan

Informasi harus relevan untuk memenuhi kebutuhan pemakai dalam proses


pengambilan keputusan. Informasi memiliki kualitas relevan kalau dapat
mempengaruhi keputusan ekonomi pemakai dengan membantu mereka
mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini atau masa depan, menegaskan, atau
mengkoreksi hasil evaluasi mereka dimasa lalu. Peran informasi dalam peramalan
(predictive) dan penegasan (confirmatory) berkaitan satu sama lain. Misalnya
informasi struktur dan besarnya aset yang dimiliki bermanfaat bagi pemakai ketika
mereka berusaha meramalkan kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan
peluang dan bereaksi terhadap situasi yang merugikan. Informasi yang sama juga
berperan dalam memberikan penegasan (confirmatory role) terhadap prediksi yang
lalu, misalnya tentang bagaimana struktur keuangan perusahaan diharapkan
tersusun atau tentang hasil dari operasi yang direncanakan. Informasi posisi
keuangan dan kinerja di masa lalu seringkali digunakan sebagai dasar untuk
memprediksi posisi keuangan dan kinerja masa depan dan hal-hal lain yang
langsung menarik perhatian pemakai, seperti pembayaran dividen dan upah,
pergerakan harga sekuritas dan kemampuan perusahaan untuk memenuhi
komitmennya ketika jatuh tempo. Untuk memiliki nilai prediktif, informasi tidak
perlu harus dalam bentuk ramalan eksplisit.Namun demikian, kemampuan laporan

28
keuangan untuk membuat prediksi dapat ditingkatkan dengan penampilan
informasi tentang transaksi dan peristiwa masa lalu.Misalnya nilai prediktif laporan
laba-rugi dapat ditingkatkan kalau akun-akun penghasilan atau badan yang tidak
biasa, abnormal dan jarang terjadi diungkapkan secara terpisah.

3. Keandalan

Informasi juga harus andal (reliable). Informasi memiliki kualitas andal jika bebas
dari pengertian yang menyesatkan, material, dan dapat diandalkan pemakaiannya
sebagai penyajian yang tulus atau jujur dari yang seharusnya disajikan atau yang
secara wajar diharapkan dapat disajikan. Informasi mungkin relevan tetapi jika
hakekat atau penyajiannya tidak dapat diandalkan maka penggunaan informasi
tersebut secara potensial dapat menyesatkan. Misalnya jika tindakan hukum masih
dipersengkatakan, mungkin tidak tepat bagi perusahaan untuk mengakui jumlah
seluruh tuntutan tersebut dalam neraca, meskipun mungkin tepat untuk
mengungkapkan jumlah serta keadaan dari tuntutan tersebut.

a) Penyajian jujur
Informasi harus digambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa lainnya yang
seharusnya disajikan atau yang secara wajar dapat diharapkan untuk
disajikan.Jadi misalnya, neraca harus menggambarkan dengan jujur transaksi
serta peristiwa lainnya dalam bentuk aset, kewajiban dan ekuitas perusahaan
pada tanggal pelaporan yang memenuhi kriteria pengakuan.

b) Substansi mengungguli bentuk


Jika informasi dimaksudkan untuk menyajikan dengan jujur transaksi serta
peristiwa lain yang seharusnya disajikan, maka peristiwa tersebut perlu dicatat
dan disajikan sesuai dengan substansi dan realitas ekonomi dan bukan hanya
bentuk hukumnya.

c) Netralitas

Informasi harus diarahkan pada kebutuhan dan keinginan pihak tertentu. Tidak
boleh ada usaha untuk menyajikan informasi yang menguntungkan beberapa pihak,
sementara hal tersebut akan merugikan pihak lain yang mempunyai kepentingan
yang berlawanan

29
d) Pertimbangan sehat

Penyusunan laporan keuangan ada kalanya menghadapi ketidakpastian peristiwa


dan keadaan tertentu, seperti ketertagihan piutang yang diragukan, perkiraan masa
manfaat prabrik serta peralatan, dan tuntutan atas jaminan garansi yang mungkin
timbul.Ketidakpastian semacam itu diakui dengan mengungkapkan hakekat serta
tingkatnya dan dengan menggunakan pertimbangan sehat dalam penyusunan
laporan keuangan.Pertimbangan mengandung unsur kehati-hatian pada saat
melakukan perkiraan dalam kondisi ketidakpastian, sehingga aset atau penghasilan
tidak dinyatakan terlalu rendah. Namun demikian, penggunaan pertimbangan sehat
tidak diperkenankan, misalnya pembentukan cadangan tersembunyi atau
penyisihan berlebihan dan sengaja menetapkan aset atau penghasilan yang lebih
rendah atau pencatatan kewajiban atau beban yang lebih tinggi, sehingga laporan
keuangan menjadi tak netral, dan karena itu tidak memiliki kualitas andal.

e) Kelengkapan

Informasi dalam laporan keuangan harus lengkap dalam batasan materialitas dan
beban. Kesengajaan untuk tidak mengungkapkan mengakibatkan informasi menjadi
tidak benar atau menyesatkan dan karena itu tidak dapat diandalkan dan tidak
sempurna ditinjau dari segi relevansinya.

4. Dapat dibandingkan

Pemakai harus dapat membandingkan laporan keuangan perusahaan antara


periode untuk mengidentifikasi kecenderungan posisi dan kinerja keuangan.
Pemakai juga harus dapat memperbandingkan laporan keuangan antara
perusahaan untuk mengevaluasi posisi keuangan secara relatif. Oleh karena itu,
pengukuran dan penyajian dampak keuangan, transaksi, dan peristiwa lain yang
serupa harus dilakukan secara konsisten untuk perushaan bersangkutan, antar
periode perusahaan yang sama dan untuk perusahaan yang berbeda.

Jenis-Jenis Laporan Keuangan

Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2009:2), laporan keuangan yang


lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba-rugi, laporan perubahan ekuitas,
laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan.Dalam penelitian ini, penulis

30
menggunakan neraca dan laporan laba-rugi.

1. Neraca

Menurut Harahap (2009:107), neraca atau daftar neraca disebut juga laporan posisi
keuangan perusahaan. Laporan ini menggambarkan posisi aset, kewajiban dan ekuitas
pada saat tertentu. Neraca atau balance sheet adalah laporan yang menyajikan
sumber-sumber ekonomis dari suatu perusahaan atau aset kewajiban- kewajibannya
atau utang, dan hak para pemilik perusahaan yang tertanam dalam perusahaan
tersebut atau ekuitas pemilik suatu saat tertentu. Neraca harus disusun secara
sistematis sehingga dapat memberikan gambaran mengenai posisi keuangan
perusahaan. Oleh karena itu neraca tepatnya dinamakan statements of financial
position. Karena neraca merupakan potret atau gambaran keadaan pada suatu saat
tertentu maka neraca merupakan status report bukan merupakan flow report.

Menurut Riyanto (2010:19), aset dapat dibagi atas dua kelompok besar, yaitu aset
lancar adalah aset yang habis dalam satu kali perputaran dalam proses produksi dan
proses berputarnya adalah dalam waktu yang pendek (umumnya kurang dari satu
tahun). Dalam perputarannya yang satu kali ini, elemen-elemen dari aset lancar tidak
sama cepatnya ataupun tingkat perputarannya, misalnya piutang menjadinya kas
adalah lebih cepat daripada inventory (apabila penjualan dilakukan secara kredit),
karena piutang menjadi kas hanya membutuhkan satu langkah saja, sedangkan
inventory melalui piutang dahulu barulah menjadi kas.

Dengan kata lain, aset lancar ialah aset yang dapat diuangkan dalam waktu yang
pendek. Sedangkan aset tetap adalah aset yang tahan lama yang tidak atau secara
berangsur-angsur habis turut serta dalam proses produksi. Syarat lain untuk dapat
diklasifikasikan sebagai aset tetap selain aset itu dimiliki perusahaan, juga harus
digunakan dalam operasi yang bersifat permanen (aset tersebut mempunyai umum
kegunaan jangka panjang atau tidak akan habis dipakai dalam satu periode kegiatan
perusahaan).

Menurut Munawir (2010:18), hutang adalah semua kewajiban-kewajiban perusahaan


kepada pihak lain yang belum terpenuhi, dimana hutang ini merupakan sumber dana
atau modal perusahaan yang berasal dari kreditur. Hutang atau kewajiban-kewajiban
perusahaan dapat dibebankan ke dalam kewajiban lancar (kewajiban jangka pendek)

31
dan kewajiban jangka panjang. Kewajiban jangka pendek atau kewajiban lancar
adalah kewajiban keuangan perusahaan yang pelunasannya atau pembayarannya akan
dilakukan dalam jangka pendek (satu tahun sejak tanggal neraca) dengan
menggunakan aset lancar yang dimiliki perusahaan, sedangkan kewajiban jangka
panjang adalah kewajiban keuangan yang jangka waktu pembayaran (jatuh
temponya) jangka panjang (lebih dari satu tahun sejak tanggal neraca).

Menurut Riyanto (2010:240), modal sendiri merupakan ekuitas yang berasal dari
pemilik perusahaan dan tertanam di dalam perusahaan untuk waktu yang tidak
tertentu lamanya. Ekuitas dari sumber ini merupakan dana yang berasal dari pemilik
perusahaan atau dapat pula bersumber dari pendapatan atau laba yang ditahan.

2. Laporan Laba-Rugi

Menurut Munawir (2010:26), laporan laba-rugi merupakan suatu laporan yang


sistematis tentang penghasilan, beban, laba-rugi yang diperoleh oleh suatu
perusahaan selama periode tertentu. Walaupun belum ada keseragaman tentang
susunan laporan laba-rugi bagi tiap-tiap perusahaan, namun prinsip-prinsip yang
umumnya diterapkan adalah sebagai berikut:

1. Bagian yang pertama menunjukkan penghasilan yang diperoleh dari usaha pokok
perusahaan (penjualan barang dagangan atau memberikan service) diikuti
dengan harga pokok dari barang yang dijual, sehingga diperoleh laba kotor.
2. Bagian kedua menunjukkan beban-beban operasional yang terdiri dari beban
penjualan dan beban umum/administrasi (operating expenses).
3. Bagian ketiga menunjukkan hasil-hasil yang diperoleh di luar operasi pokok
perusahaan, yang diikuti dengan beban-beban yang terjadi di luar usaha pokok
perusahaan (non operating/financial income dan expenses).
4. Bagian keempat menunjukkan laba atau rugi yang insidentil (extra ordinary gain
or loss) sehingga akhirnya diperoleh laba bersih sebelum pajak pendapatan.

3. Laporan Perubahan Modal


Laporan perubahan modal adalah laporan yang menggambarkan perubahan baik
berupa peningkatan atau penurunan aktiva bersih selama satu periode. Dalam
laporan perubahan modal, juga dapat melihat penyebab dari adanya perubahan
modal tidak hanya perubahan nya saja. Beberapa data yang diperlukan untuk

32
membuat laporan ini adalah modal awal, prive atau pengambilan dana pada periode
tersebut, dan total laba atau rugi bersih yang diperoleh. Karena untuk membuat
laporan ini dibutuhkan laba-rugi maka laporan ini dibuat setelah laporan laba rugi
selesai.

4. Laporan Arus Kas


Jenis laporan keuangan yang ke empat yakni laporan arus kas atau cash flow
statement. Laporan arus kas memberikan informasi tentang aliran kas perusahaan
yang masuk dan keluar. Selain itu, laporan arus kas juga berfungsi sebagai indikator
untuk memprediksi arus kas di periode yang akan datang. Laporan arus kas
merupakan bentuk pertanggungjawaban arus kas masuk dan keluar selama periode
pelaporan. Laporan arus kas terdiri dari 3 aktivitas utamanya, berikut ketiga aktivitas
tersebut:

 Aktivitas Operasi (Operating Activities)

Aktivitas operasi merupakan laporan arus kas yang terdiri dari kegiatan operasional
perusahaan. Dengan kata lain, aktivitas ini dapat diperoleh dengan memasukkan
nilai dari pengaruh kas/bank pada transaksi yang dilibatkan dalam penentuan laba
bersih. Contohnya seperti, penjualan barang dan jasa dari pelanggan, pembelian
persediaan, dan lainnya.

 Aktivitas Investasi (Investing Activities)

Aktivitas investasi ini berkaitan dengan aktivitas arus kas yang dihasilkan dari
penjualan atau pun pembelian aktiva tetap.

 Aktivitas Pendanaan (Financing Activities)

Seperti namanya, aktivitas pendanaan merupakan aktivitas kas yang berasal dari
penambahan modal perusahaan. Untuk menghitung aktivitas ini, Anda dapat
memasukkan nilai penambahan atau pengurangan kas yang berasal dari kewajiban
jangka panjang dan ekuitas pemilik.

33
D. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan sistem pembiayaan
kesehatan

Proses pelayanan kesehatan tidak bisa dipisahkan dengan pembiayaan kesehatan.


Biaya kesehatan ialah besarnya dana yang harus disediakan untuk
menyelenggarakan dan atau memanfaatkan berbagai upaya kesehatan yang
diperlukan oleh perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat.
Berdasarkan pengertian ini, maka biaya kesehatan dapat ditinjau dari dua sudut
yaitu berdasarkan :
1. Penyedia Pelayanan Kesehatan (Health Provider)
Merupakan besarnya dana yang harus disediakan untuk dapat menyelenggarakan
upaya kesehatan, maka dilihat pengertian ini bahwa biaya kesehatan dari sudut
penyedia pelayanan adalah persoalan utama pemerintah dan ataupun pihak swasta,
yakni pihak-pihak yang akan menyelenggarakan upaya kesehatan. Besarnya dana
bagi penyedia pelayanan kesehatan lebih menunjuk kepada seluruh biaya investasi
(investment cost) serta seluruh biaya operasional (operational cost).

2. Pemakai Jasa Pelayanan (Health consumer)


Merupakan besarnya dana yang harus disediakan untuk dapat memanfaatkan jasa
pelayanan. Dalam hal ini biaya kesehatan menjadi persoalan utama para pemakai
jasa pelayanan, namun dalam batas-batas tertentu pemerintah juga turut serta, yakni
dalam rangka terjaminnya pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan bagi
masyarakat yang membutuhkannya. Besarnya dana bagi pemakai jasa pelayanan
lebih menunjuk pada jumlah uang yang harus dikeluarkan (out of pocket) untuk dapat
memanfaatkan suatu upaya kesehatan. (Azwar, A. 1999).

Pembiayaan kesehatan yang kuat, stabil dan berkesinambungan memegang peranan


yang amat vital untuk penyelenggaraan pelayanan kesehatan dalam rangka mencapai
berbagai tujuan penting dari pembangunan kesehatan di suatu negara diantaranya
adalah pemerataan pelayanan kesehatan dan akses (equitable access to health care)
dan pelayanan yang berkualitas (assured quality). Oleh karena itu reformasi
kebijakan kesehatan di suatu negara seyogyanya memberikan fokus penting kepada
kebijakan pembiayaan kesehatan untuk menjamin terselenggaranya kecukupan (ad-

34
equacy), pemerataan (equity), efisiensi (efficiency) dan efektifitas (effectiveness) dari
pembiayaan kesehatan itu sendiri. (Departemen Kesehatan RI, 2004).
Pelayanan kesehatan memiliki beberapa ciri yang tidak memungkinkan setiap
individu untuk menanggung pembiayaan pelayanan kesehatan pada saat diperlukan:
1) Kebutuhan pelayanan kesehatan muncul secara sporadik dan tidak dapat
diprediksikan, sehingga tidak mudah untuk memastikan bahwa setiap individu
mempunyai cukup uang ketika memerlukan pelayanan kesehatan.
2) Biaya pelayanan kesehatan pada kondisi tertentu juga sangat mahal, misalnya
pelayanan di rumah sakit maupun pelayanan kesehatan canggih (operasi dan
tindakan khusus lain), kondisi emergensi dan keadaan sakit jangka panjang
yang tidak akan mampu ditanggung pembiayaannya oleh masyarakat umum.
3) Orang miskin tidak saja lebih sulit menjangkau pelayanan kesehatan, tetapi juga
lebih membutuhkan pelayanan kesehatan karena rentan terjangkit berbagai
permasalahan kesehatan karena buruknya kondisi gizi, perumahan.
4) Apabila individu menderita sakit dapat mempengaruhi kemampuan untuk
berfungsi termasuk bekerja, sehingga mengurangi kemampuan membiayai.
(Departemen Kesehatan RI, 2004).

Berdasarkan karakteristik tersebut, sebuah sistem pembiayaan pelayanan kesehatan


haruslah bertujuan untuk:
1) Risk spreading, pembiayaan kesehatan harus mampu meratakan besaran resiko
biaya sepanjang waktu sehingga besaran tersebut dapat terjangkau oleh setiap rumah
tangga. Artinya sebuah sistem pembiayaan harus mampu memprediksikan resiko
kesakitan individu dan besarnya pembiayaan dalam jangka waktu tertentu (misalnya
satu tahun). Kemudian besaran tersebut diratakan atau disebarkan dalam tiap bulan
sehingga menjadi premi (iuran, tabungan) bulanan yang terjangkau.

2) Risk pooling, beberapa jenis pelayanan kesehatan (meskipun resiko rendah dan
tidak merata) dapat sangat mahal misalnya hemodialisis, operasi spesialis (jantung
koroner) yang tidak dapat ditanggung oleh tabungan individu (risk spreading).
Sistem pembiayaan harus mampu menghitung dengan mengakumulasikan resiko
suatu kesakitan dengan biaya yang mahal antar individu dalam suatu komunitas
sehingga kelompok masyarakat dengan tingkat kebutuhan rendah (tidak terjangkit

35
sakit, tidak membutuhkan pelayanan kesehatan) dapat mensubsidi kelompok
masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Secara sederhana, suatu sistem
pembiayaan akan menghitung resiko terjadinya masalah kesehatan dengan biaya
mahal dalam satu komunitas, dan menghitung besaran biaya tersebut kemudian
membaginya kepada setiap individu anggota komunitas. Sehingga sesuai dengan
prinsip solidaritas, besaran biaya pelayanan kesehatan yang mahal tidak ditanggung
dari tabungan individu tapi ditanggung bersama oleh masyarakat.
Connection between ill-health and poverty, karena adanya keterkaitan antara
kemiskinan dan kesehatan, suatu sistem pembiayaan juga harus mampu memastikan
bahwa orang miskin juga mampu pelayanan kesehatan yang layak sesuai standar dan
kebutuhan sehingga tidak harus mengeluarkan pembiayaan yang besarnya tidak
proporsional dengan pendapatan. Pada umumnya di negara miskin dan berkembang
hal ini sering terjadi. Orang miskin harus membayar biaya pelayanan kesehatan yang
tidak terjangkau oleh penghasilan mereka dan juga memperoleh pelayanan kesehatan
di bawah standar.

3) Fundamental importance of health, kesehatan merupakan kebutuhan dasar


dimana individu tidak dapat menikmati kehidupan tanpa status kesehatan yang baik

Organisasi kesehatan se-dunia (WHO) sendiri memberi fokus strategi


pembiayaan kesehatan yang memuat isu-isu pokok, tantangan, tujuan utama
kebijakan dan program aksi itu pada umumnya adalah dalam area sebagai berikut:

1) Meningkatkan investasi dan pembelanjaan publik dalam bidang kesehatan


2) Mengupayakan pencapaian kepesertaan semesta dan penguatan permeliharaan
kesehatan masyarakat miskin
3) Pengembangan skema pembiayaan praupaya termasuk didalamnya asuransi
kesehatan sosial
4) Penggalian dukungan nasional dan internasional
5) Penguatan kerangka regulasi dan intervensi fungsional
6) Pengembangan kebijakan pembiayaan kesehatan yang didasarkan pada data dan
fakta ilmiah
7) Pemantauan dan evaluasi.

36
Implementasi strategi pembiayaan kesehatan di suatu negara diarahkan kepada
beberapa hal pokok yakni; kesinambungan pembiayaan program kesehatan prioritas,
reduksi pembiayaan kesehatan secara tunai perorangan (out of pocket funding),
menghilangkan hambatan biaya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan,
pemerataan dalam akses pelayanan, peningkatan efisiensi dan efektifitas alokasi
sumber daya (resources) serta kualitas pelayanan yang memadai dan dapat diterima
pengguna jasa. Sumber dana biaya kesehatan berbeda pada beberapa negara, namun
secara garis besar berasal dari:
1. Anggaran pemerintah.
2. Anggaran masyarakat.
3. Bantuan biaya dari dalam dan luar negeri.
4. Gabungan anggaran pemerintah dan masyarakat.

Tingginya biaya kesehatan disebabkan oleh beberapa hal, beberapa yang terpenting
diantaranya sebagai berikut:

1. Tingkat inflasi
Apabila terjadi kenaikan harga di masyarakat, maka secara otomatis biaya investasi
dan juga biaya operasional pelayanan kesehatan akan meningkat pula, yang tentu
saja akan dibebankan kepada pengguna jasa.

2. Tingkat permintaan
Pada bidang kesehatan, tingkat permintaan dipengaruhi sedikitnya oleh dua faktor,
yaitu meningkatnya kuantitas penduduk yang memerlukan pelayanan kesehatan,
yang karena jumlahnya lebih atau bertambah banyak, maka biaya yang harus
disediakan meningkat pula. Faktor kedua adalah meningkatnya kualitas penduduk.
Dengan tingkat pendidikan dan penghasilan yang lebih baik, mereka akan menuntut
penyediaan layanan kesehatan yang baik pula dan hal ini membutuhkan biaya
pelayanan kesehatan yang lebih baik dan lebih besar.

3. Kemajuan ilmu dan teknologi


Sejalan dengan adanya kemajuan ilmu dan teknologi dalam penyelenggaraan
pelayanan kesehatan (penggunaan peralatan kedokteran yang modern dan canggih)
memberikan konsekuensi tersendiri, yaitu tingginya biaya yang harus dikeluarkan

37
dalam berinvestasi. Hal ini membawa akibat dibebankannya biaya investasi dan
operasional tersebut pada pemakai jasa pelayanan kesehatan.

4. Perubahan Pola Penyakit


Meningkatnya biaya kesehatan juga dipengaruhi adanya perubahan pola penyakit,
yang bergeser dari penyakit yang sifatnya akut menjadi penyakit yang bersifat kronis.
Dibandingkan dengan berbagai penyakit akut, perawatan berbagai penyakit kronis
ternyata lebih lama. Akibatnya biaya yang dikeluarkan untuk perawatan dan
penyembuhan penyakit ini akan lebih besar. Hal ini akan sangat mempengaruhi
tingginya biaya kesehatan.

5. Perubahan pola pelayanan kesehatan


Perubahan pola pelayanan kesehatan ini terjadi akibat perkembangan keilmuan dalam
bidang kedokteran sehingga terbentuk spesialisasi dan subspesialisasi yang
menyebabkan pelayanan kesehatan menjadi terkotak-kotak (fragmented health
service) dan satu sama lain seolah tidak berhubungan. Akibatnya sering terjadi
tumpang tindih atau pengulangan metoda pemeriksaan yang sama dan pemberian
obat-obatan yang dilakukan pada seorang pasien, yang tentu berdampak pada
semakin meningkatnya beban biaya yang harus ditanggung oleh pasien selaku
pengguna jasa layanan kesehatan ini. Selain itu, dengan adanya pembagian
spesialisasi dan subspesialisasi tenaga pelayanan kesehatan, menyebabkan hari
perawatan juga akan meningkat.

6. Perubahan Pola Hubungan Dokter-Pasien


Sistem kekeluargaan yang dulu mendasari hubungan dokter-pasien seakan sirna.
Dengan adanya perkembangan spesialisasi dan subspesialisasi serta penggunaan
berbagai peralatan yang ditunjang dengan kemajuan ilmu dan teknologi,
mengakibatkan meningkatnya biaya yang harus dikeluarkan oleh pasien, hal ini tentu
saja membuat pasien menuntut adanya kepastian pengobatan dan penyembuhan dari
penyakitnya. Hal ini diperberat dengan semakin tingginya tingkat pendidikan pasien
selaku pengguna jasa layanan kesehatan, yang mendorong semakin kritisnya
pemikiran dan pengetahuan mereka tentang masalah kesehatan. Hal tersebut diatas
mendorong para dokter sering melakukan pemeriksaan yang berlebihan (over
utilization), demi kepastian akan tindakan mereka dalam melakukan pengobatan dan
perawatan, dan juga dengan tujuan mengurangi kemungkinan kesalahan yang

38
dilakukan dalam mendiagnosa penyakit yang diderita pasiennya. Konsekuensi yang
terjadi adalah semakin tingginya biaya yang dibutuhkan oleh pasien untuk
mendapatkan pelayanan kesehatan.

7. Lemahnya mekanisme pengendalian biaya


Kurangnya peraturan perundang-undangan yang ditetapkan untuk mengatur dan
membatasi pemakaian biaya pelayanan kesehatan menyebabkan pemakaiannya
sering tidak terkendali, yang akhirnya akan membebani penanggung ( perusahaan )
dan masyarakat secara keseluruhan.
8. Penyalahgunaan asuransi kesehatan
Asuransi kesehatan (health insurance) sebenamya merupakan salah satu mekanisme
pengendalian biaya kesehatan, sesuai dengan anjuran yang diterapkan oleh
pemerintah. Tetapi jika diterapkan secara tidak tepat sebagaimana yang lazim
ditemukan pada bentuk yang konvensional (third party sistem) dengan sistem
mengganti biaya (reimbursement) justru akan mendorong naiknya biaya kesehatan.
(Medis Online, 2009).

Biaya kesehatan banyak macamnya, karena kesemuanya tergantung dari jenis dan
kompleksitas pelayanan kesehatan yang diselenggarakan dan atau yang
dimanfaatkan. Hanya saja disesuaikan dengan pembagian pelayanan kesehatan, maka
biaya kesehatan tersebut dapat dibedakan atas dua macam yaitu:

1) Biaya pelayanan kedokteran


Biaya yang dimaksudkan adalah yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan dan atau
memanfaatkan pelayanan kedokteran, yakni yang tujuan utamanya untuk mengobati
penyakit serta memulihkan kesehatan penderita.

2) Biaya pelayanan kesehatan masyarakat


Biaya yang dimaksud adalah yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan dan atau
memanfaatkan pelayanan kesehatan masyarakat yaitu yang tujuan utamanya untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan serta untuk mencegah penyakit.

Sama halnya dengan biaya kesehatan secara keseluruhan, maka masing-masing biaya
kesehatan ini dapat pula ditinjau dari dua sudut yaitu dari sudut penyelenggara
kesehatan (health provider) dan dari sudut pemakai jasa pelayanan (health
consumer).

39
MODEL SISTEM PEMBIAYAAN

Terdapat beberapa model sistem pembiayaan pelayanan kesehatan yang dijalankan


oleh beberapa negara, berdasarkan sumber pembiayaannya:

1. Direct Payments by Patients

Ciri utama model direct payment adalah setiap individu menanggung secara
langsung besaran biaya pelayanan kesehatan sesuai dengan tingkat penggunaannya.
Pada umumnya sistem ini akan mendorong penggunaan pelayanan kesehatan secara
lebih hati-hati, serta adanya kompetisi antara para provider pelayanan kesehatan
untuk menarik konsumen atau free market. Meskipun tampaknya sehat, namun
transaksi kesehatan pada umumnya bersifat tidak seimbang dimana pasien sebagai
konsumen tidak mampu mengenali permasalahan dan kebutuhannya, sehingga
tingkat kebutuhan dan penggunaan jasa lebih banyak diarahkan oleh provider.
Sehingga free market dalam pelayanan kesehatan tidak selalu berakhir dengan
peningkatan mutu dan efisiensi namun dapat mengarah pada penggunaan terapi yang
berlebihan

2. User payments
Dalam model ini, pasien membayar secara langsung biaya pelayanan kesehatan baik
pelayanan kesehatan pemerintah maupun swasta. Perbedaannya dengan model
informal adalah besaran dan mekanisme pembayaran, juga kelompok yang menjadi
pengecualian telah diatur secara formal oleh pemerintah dan provider. Bentuk yang
paling kompleks adalah besaran biaya yang bebeda setiap kunjungan sesuai dengan
jasa pelayanan kesehatan yang diberikan (biasanya terjadi untuk fasilitas pelayanan
kesehatan swasta). Namun model yang umum digunakan adalah ’flat rate’, dimana
besaran biaya per-episode sakit bersifat tetap.

3. Saving based
Model ini mempunyai karakteristik ‘risk spreding’ pada individu namun tidak terjadi
risk pooling antar individu. Artinya biaya kesehatan langsung, akan ditanggung oleh
individu sesuai dengan tingkat penggunaannya, namun individu tersebut
mendapatkan bantuan dalam mengelola pengumpulan dana (saving) dan
penggunaannya bilamana membutuhkan pelayanan kesehatan. Biasanya model ini
hanya mampu mencakup pelayanan kesehatan primer dan akut, bukan pelayanan

40
kesehatan yang bersifat kronis dan kompleks yang biasanya tidak bisa ditanggung
oleh setiap individu meskipun dengan mekanisme saving. Sehingga model ini tidak
dapat dijadikan model tunggal pada suatu negara, harus didukung model lain yang
menanggung biaya kesehatan lain dan pada kelompok yang lebih luas.

4. Informal
Ciri utama model ini adalah bahwa pembayaran yang dilakukan oleh individu pada
provider kesehatan formal misalnya dokter, bidan tetapi juga pada provider
kesehatan lain misalnya: mantri, dan pengobatan tradisional; tidak dilakukan secara
formal atau tidak diatur besaran, jenis dan mekanisme pembayarannya. Besaran
biaya biasanya timbul dari kesepakatan atau banyak diatur oleh provider dan juga
dapat berupa pembayaran dengan barang. Model ini biasanya muncul pada negara
berkembang dimana belum mempunyai sistem pelayanan kesehatan dan pembiayaan
yang mampu mencakup semua golongan masyarakat dan jenis pelayanan.

5. Insurance Based
Sistem pembiayaan dengan pendekatan asuransi mempunyai perbedaan utama
dimana individu tidak menanggung biaya langsung pelayanan kesehatan. Konsep
asuransi memiliki dua karakteristik khusus yaitu pengalihan resiko kesakitan pada
satu individu pada satu kelompok serta adanya sharing looses secara adil. Secara
sederhana dapat digambarkan bahwa satu kelompok individu mempunyai resiko
kesakitan yang telah diperhitungkan jenis, frekuensi dan besaran biayanya.
Keseluruhan besaran resiko tersebut diperhitungkan dan dibagi antar anggota
kelompok sebagai premi yang harus dibayarkan. Apabila anggota kelompok, maka
keseluruhan biaya pelayanan kesehatan sesuai yang diperhitungkan akan ditanggung
dari dana yang telah dikumpulkan bersama. Besaran premi dan jenis pelayanan yang
ditanggung serta mekanime pembayaran ditentukan oleh organisasi pengelola dana
asuransi.

E. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan time value of money


Pengertian Time Value of Money
Time Value of Money atau dalam bahasa Indonesia disebut nilai waktu uang adalah
merupakan suatu konsep yang menyatakan bahwa nilai uang sekarang akan lebih
berharga dari pada nilai uang masa yang akan datang atau suatu konsep yang
mengacu pada perbedaan nilai uang yang disebabkan karena perbedaaan waktu.

41
Dalam memperhitungkan, baik nilai sekarang maupun nilai yang akan datang maka
kita harus mengikutkan panjangnya waktu dan tingkat pengembalian, maka konsep
time value of money sangat penting dalam masalah keuangan baik untuk perusahaan,
lembaga maupun individu. Dalam perhitungan uang, nilai Rp. 1.000 yang diterima
saat ini akan lebih bernilai atau lebih tinggi dibandingkan dengan Rp. 1.000 yang
akan diterima dimasa akan datang. Hal sebaliknya akan berlaku apabila kita harus
membayar atau mengeluarkan uang. Banyak para mahasiswa yang
“mempraktekkan“ hal ini. Mereka cenderung untuk membayar SPP mereka pada hari
– hari terakhir batas pembayaran. Kalau jumlah yang dibayar sama besarnya,

Manfaat dari Time Value of Money

Manfaat time value of money adalah untuk mengetahui apakah investasi yang
dilakukan dapat memberikan keuntungan atau tidak. Time value of money berguna
untuk menghitung anggaran. Dengan demikian kita sebagai investor dapat
menganalisa apakah suatu proyek dapat memberikan keuntungan atau tidak.
Tentunya kita akan lebih menyukai suatu proyek yang memberikan keuntungan
setiap tahun dimulai tahun pertama sampai tahun berikutnya. Maka sudah jelas time
value of money sangat penting untuk dipahami oleh kita semua, sangat berguna dan
dibutuhkan untuk kita menilai seberapa besar nilai uang masa kini dan akan datang.

Keterbatasan dari Time Value Of Money


Keterbatasannya yaitu akan mengakibatkan masyarakat hanya menyimpan uangnya
apabila tingkat bunga bank tinggi, karena mereka menganggap jika bunga bank
tinggi maka uang yang akan mereka terima dimasa yang akan datang juga tinggi.
Time value of money tidak memperhitungkan tingkat inflasi.

Metode-Metode Yang Digunakan dalam Time Value of Money – Perhitungan Nilai


Uang Berdasarkan Waktu :
1. Bunga Tetap
Perhitungan bunga ini sangat sederhana, yang diperhitungkan dengan besarnya pokok
yang sama dan tingkat bunganya yang juga sama pada setiap waktu.

42
Walaupun pokok pinjaman pada kenyataannya sudah berkurang sebesar angsuran pokok
pinjaman namun dalam perhitungan ini tetap digunakan standar perhitungan yang sama.

2. Future Value(nilai yang akan datang)

Future Value Nilai Adalah nilai uang dimasa yang akan datang dari uang yang diterima
atau dibayarkan pada masa sekarang dengan memperhitungkan tingkat bunga setiap
periode selama jangka waktu tertentu. Future Value diasumsikan juga sebagai
nilai majemuk (compound value) dimana merupakan penjumlahan dari sejumlah uang
permulaan/pokok dengan bunga yang diperolehnya selama periode tertentu, apabila
bunga tidak diambil pada setiap saat.

3. Present Value :

Present Value (nilai sekarang) merupakan kebalikan dari compound value (nilai
majemuk) adalah besarnya jumlah uang, pada permulaan periode atas dasar tingkat
bunga tertentu dari sejumlah uang yang baru akan diterima beberapa waktu / periode
yang akan datang. Jadi present value menghitung nilai uang pada waktu sekarang bagi
sejumlah uang yang baru akan kita miliki beberapa waktu kemudian.

4. Future Value Annuity :

Adalah suatu hal yang dimanfaatkan untuk mencari nilai dari suatu penjumlahan tahun
yang akan datang dari jumlah yang diterima sekarang pada waktu yang sudah ditentukan
atau dengan kata lain penjumlahan dari future value.

5. Nilai Sekarang (Present Value) dari Annuity :

Adalah suatu bilangan yang dapat dimanfaatkan untuk mencari nilai sekarang dari suatu
penjumlahan yang diterima setiap akhir periode pada jangka waktu tertentu.

Rumus yang digunakan:

PVA = A ( PVIFA i,n )

43
Keterangan :

PVA = nilai sekarang dari suatu anuitas


A = anuitas / angsuran
i = tingkat bunga
n = jangka waktu / priode

Tabel present value of annuity (PVIFA) US $

N 10% 15% 20% 30% 40% 50%

1 0.9091 0.8696 0.8333 0.7692 0.7143 0.6667

2 1.7355 1.6257 1.5287 1.3609 1.2245 1.1111

3 2.4869 2.2832 2.1065 1.8161 1.5889 1.4074

4 3.1699 2.8550 2.5887 2.1662 1.8492 1.6049

5 3.7908 3.3522 2.9906 2.4356 2.0352 1.7366

44

Anda mungkin juga menyukai