Anda di halaman 1dari 6

PERAYAAN NATAL ORANG MUDA KATOLIK STASI SANTO PAULUS

PARRATUSAN

MINGGU,29 DESEMBER 2019

Tema: Omk milenial Bijak dan Takut Tuhan

Penyambutan master of ceremony;MC membawakan acara dengan pertama sekali memberikan


penyambutan kepada seluruh tamu undangan.Selanjutnya MC menyampaikan tema
natal.Memberikan penjelasan mengenai kehidupan real OMK dijaman sekarang.Bagaimana
OMK tersebut dalam relasinya dengan Tuhan.Dan bagaimana OMK bertanggungjawab dan
memegang peran aktif dalam perkembangan Gereja.

MATERI DALAM ACARA PERAYAAN NATAL

1.Apa itu sigale gale?

Sigalegale adalah sebuah patung kayu yang digunakan dalam pertunjukan tari saat ritual
penguburan mayat suku Batak di Pulau Samosir, Sumatra Utara. Sigale Gale berasal dari kata
“gale” artinya lemah, lesu, lunglai.[1] Sigale Gale cukup terkenal di kalangan para turis. Selama
menari-nari, patung ini dikendalikan oleh seorang pemain dari belakang mirip boneka marionette
menggunakan tali tersembunyi yang menghubungkan bagian-bagian patung melalui podium
kayu berukir tempatnya berdiri. Hal ini memungkinkan bagian lengan, kepala dan tubuhnya
digerakkan. Konon, jumlah tali yang menggerakkan Sigale gale sama dengan jumlah urat yang
ada di tangan manusia.[2]

Daerah asal mula munculnya Sigale gale ialah daerah Toba-Holbung (Tapanuli Utara), kemudian
menyebar ke Pulau Samosir (di tengah-tengah Danau Toba). Di pulau Samosir penduduk
menyebutnya dengan sebutan Raja Manggale. Sigale gale dipergunakan pada upacara-upacara
kematian. Upacara untuk orang-orang yang meninggal tanpa mempunyai anak maupun yang
meninggal tanpa meninggalkan keturunan karena semua anaknya telah tiada.[3][4] Upacara ini
diadakan terutama apabila orang yang meninggal itu mempunyai kedudukan tinggi dalam
masyarakat,[5] seperti raja-raja, dan para tokoh masyarakat. Hal itu dilakukan dengan maksud
menyambung keturunan mereka kelak di alam baka. Pada masyarakat Batak Toba, apabila
seseorang yang mempunyai kedudukan meninggal dunia dan ia tidak mempunyai keturunan
maka dipandang rendah dan tidak membawa kebaikan. Oleh karena itu, kekayaan yang
ditinggalkannya akan dihabiskan untuk mengadakan upacara Sigale gale untuk orang yang
meninggal tersebut. Orang lain tidak akan berani mengambil harta benda milik orang tersebut,
karena takut tertular atau meninggal seperti pemiliknya.[3]

Pada masa sekarang, yakni setelah agama Kristen semakin mendalam dan meresap dalam
kehidupan masyarakat Batak di Tapanuli utara, upacara-upacara Sigale gale mulai ditinggalkan.
Menurut pandangan mereka, upacara ini dianggap sebagai upacara keagamaan parbegu, suatu
upacara yang didasarkan pada kepercayaan terhadap begu (roh dari orang yang sudah
meninggal).[3]

2.Tarian Sihutur Sanggul

Menari merupakan pendidikan rasa di dalam hati manusia yang dikembangkan menjadi sebuah identitas
sosial dan pribadi dalam etis, religius dan filosinya yang tersirat dalam pengalaman batin yang paling
dalam. Semua ini tersirat di alam Tari Sihutur Sanggul yang merupakan sebuah tari adat dari Batak Toba
yang didalamnya menceritakan tentang seorang wanita cantik yang menggunakan sanggul yang
mempunyai sikap yang tegas dan kuat.

Tarian ini umumnya ditarikan disaat penyambutan tamu dan upacara adat. Diciptakan oleh Subarne
Taho, tapi nama Si Togar pertama kali muncul dimana di dalamnya sebuah tari Tor-tor dan sampai
sekarang nama dia yang terkenal oleh masyarakat Batak Toba.
Tarian ini sebenarnya bukan sebuah tarian, tapi lebih ke musik Batak (Gondang Batak) yang kemudian
dibuat menjadi sebuah tarian yang inspirasinya dalam pembuatan tarian ini, terinspirasi terhadap
bidadari yang turun ke bumi yang kemudian ditarikan oleh wanita-wanita cantik.
Tari Sihutur Sanggul ditarikan di acara 3SKS di ISI Yogyakarta, yang merupakan gabungan atau kolaborasi
3 KKM yang ada di Himpunan Mahasiswa Jurusan Tari ISI Yogyakarta yaitu Seminar, Kedai Joged (dalam
bentuk workshop tari) dan puncaknya Sepatu Menari, yang dilaksanakan dari tanggal 16-17 November
2018.

Acara 3SKS pada tahun ini mengambil tema “Sapto Manunggal Ing Roso” yang artinya dalam acara ini
akan tampil 7 kelas dengan tarian dari 7 etnis yang berbeda mulai dari Yogyakarta, Kalimantan, Sunda,
Bali, Padang, Batak dan Jawa, dimulai pukul 20.00-23.00 wib.
Kompoisi didalam Tari Sihutur Sanggul menggambarkan tentang keseimbangan kehidupan manusia
dimana didalamnya tergambar wanita yang cantik yang bekerja keras dan saling mendukung satu sama
lain (gotong royong) sehinga terciptalah sebuah keseimbangan kekuatan wanita Batak Toba yang kuat
dan tegas dalam menghadapi kehidupan baik di dalam keluarga maupun lingkungannya.
Gerak dalam Tari Sihutur Sanggul ini menggunakan gerakan tor-tor yang artinya menghentakan kaki
secara dinamis dan gerakan tangannya yang seperti patung sigale-gale yang sangat luwes dalam menari,
disamping gerakan badan yang mendukung gerak tangan dan kaki.

3.Stand Up comedy

4.Omk Millenial zaman sekarang

5.Musik yang booming dikalangan anak muda zaman sekarang