Anda di halaman 1dari 17

Co-Asistensi Bidang Kesmavet Karantina

TEKNIK SAMPLING

MUHAMMAD IQBAL DJAMIL


C024181020
IRFAN ZUHDI
C024181004

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2019
Kesmavet 28 Januari 2019

1. Pendahuluan
Karantina adalah tempat pengasingan dan/atau tindakan sebagai upaya
pencegahan masuk dan tersebarnya hama dan penyakit atau organisme pengganggu
dari luar negeri dan dari suatu area ke area lain di dalam negeri atau keluarnya dari
dalam wilayah negara Republik Indonesia. Karantina hewan dan tumbuhan adalah
tindakan sebagai upaya pencegahan masuk dari tersebarnya hama dari penyakit
hewan, hama dari penyakit ikan, atau organisme pengganggu tumbuhan dari luar
negeri dan dari suatu area ke area lain di dalam negeri, atau keluarnya dari dalam
wilayah negara Republik Indonesia.
Balai Besar Karantina Pertanian Makassar adalah salah satu Unit Pelaksana
Teknis (UPT) dari Badan Karantina Pertanian berdasarkan Peraturan Menteri
Pertanian (Permentan) Nomor 22/Permentan/OT.140/4/2008 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Karantina Pertanian. Dalam Struktur
Organisasi Balai Besar Karantina Pertanian Makassar terdiri atas Kepala Balai,
Bagian Umum, Bidang Karantina Hewan, Bidang Karantina Tumbuhan, Bidang
Pengawasan dan Penindakan, serta Kelompok Jabatan Fungsional. Balai Besar
Karantina Pertanian Makassar dalam mengemban tugas dan fungsinya
bertanggungjawab terhadap 9 (sembilan) wilayah kerja yang ada dibawahnya terdiri
dari Wilayah kerja Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, Pelabuhan Laut
Paotere Pelabuhan Laut Soekarno Hatta Makassar, Kantor Pos Makassar, Pelabuhan
Laut Bulukumba, Pelabuhan Laut Jeneponto, Pelabuhan Laut Bajoe, Sinjai dan
Wilayah kerja Selayar.
Adapun tugas dan fungsi yang diemban oleh kantor Balai Besar Karantina
Pertanian Makassar salah satunya adalah memberikan pelayanan tindakan karantina
hewan di semua wilayah kerja yang dibawahinya baik pelayanan teknis berupa
pemeriksaan kesehatan pada hewan atau produk hewan dalam rangka memastikan
bahwa hewan dan produk hewan dalam keadaan sehat atau bebas dari HPHK
sehingga tidak beresiko terjadi penyebaran hama penyakit hewan karantina ke
daerah tujuan, serta pelayanan administrasi terhadap media pembawa HPHK yang
akan keluar maupun masuk wilayah Propinsi Sulawesi Selatan.

2
Kesmavet 28 Januari 2019

2. Pembahasan
Dari 9 (sembilan) Wilayah Kerja kantor Balai Karantina Pertanian Makassar,
Wilayah Kerja Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin yang memiliki
tantangan terberat dibandingkan dengan Wilayah Kerja yang lainnya, tantangan
tersebut berupa:
a. Frekuensi kegiatan lalu lintas media pembawa HPHK paling tinggi dibanding
dengan Wilayah Kerja yang lain karena kegiatannya mengikuti jadwal
penerbangan pesawat komersial yang ada di Bandar Udara Internasional Sultan
Hasanuddin mulai dari pagi sampai tengah malam setiap hari dari hari Senin
sampai hari Minggu sehingga menuntut petugas untuk selalu siaga selama ada
aktivitas penerbangan.
b. Jumlah petugas fungsional karantina hewan yang bertugas di wilayah kerja
Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin sampai saat ini masih terbatas
untuk memberikan pelayanan karantina hewan baik teknis maupun administrasi,
sangatlah tidak sebanding dengan jumlah jam dan hari dari kegiatan
penerbangan yang harus diawasi.
c. Disisi lain masyarakat yang akan membawa hewan atau produk hewan baik
yang keluar maupun masuk melalui Bandar Udara Internasional Sultan
Hasanuddin mengharapkan bisa mendapatkan pelayanan karantina hewan secara
profesional setiap saat diperlukan dengan cepat, mudah, lancar, nyaman,
transparan, terjangkau dan mendapat jaminan kepastian dari petugas pelayanan.

Hambatan-Hambatan Pengawasan Karantina Tumbuhan dan Hewan Dalam


pelaksanaan tugasnya di lapangan kiranya masih terdapat berbagai macam hambatan
yang ditemui oleh Balai Besar Karantina Tumbuhan dan Hewan yang dapat
daiuraikan sebagai berikut :
1. Personil Tenaga personil belum mampu untuk mengungkapkan temuana-temuan
yang menonjol akibat kurangnya penguasaan mengenai materi, terutama di bidang
teknis (pemeriksaan) mengingat tenaga personil yang mempunyai bidang keahlian
pada satu hal sangat kurang, misalnya tenaga yang memahami masalah tumbuhan
dan hewan dan sebagainya. Dari tenaga personil yang ada dirasakan sangat

3
Kesmavet 28 Januari 2019

kurang sekali, mengingat banyaknya jumlah jenis tumbuhan dan hewan yang akan
diawasi dan diproses. Jika dibandingkan dengan keadaan dan situasi serta luas
wilayah kerja/bidang pengawasan Balai Besar Karantina Tumbuhan dan Hewan,
maka idealnya aparat pengawasan yang harus ada di daerah Balai Besar Karantina
Tumbuhan dan Hewan dapat disesuaikan.
2. Sarana pendukung operaisonal dalam menjalankan tugasnya para pemeriksa pada
Balai Besar Karantina Tumbuhan dan Hewan pada umumnya peralatanyang
dipergunakan kurang didukung oleh teknologi yang canggih sehingga
mengakibatkan pemeriksaan terhadap tumbuhan dan hewan yang membahayakan
bagi kesehatan kurang dapat diperiksa dengan hasil yang maksimal.
3. Tindak lanjut hambatan yang dirasakan lainnya adalah saeringnya tindak lanjut
hasil pemeriksaan kurang ditanggapi/tidak ditanggapi oleh pihak yang menjadi
obyek yang diperiksa, sehingga aparat pengawasan Balai Besar Karantina
Tumbuhan dan Hewan seolah-olah dianggap bekerja hanya untuk main-main dan
menjadikan objek yang diperiksa meremehkan aparat pengawasan.
4. Mentalitas aparat yang diperiksa adanya objek yang diperiksa (khususnya
tumbuhan dan hewan) dimana pemilik tumbuhan dan hewan atau suatu badan
usaha belum menyadari betapa pentingnya arti pengawasan sehingga mereka
merasa antipati apabila pihak Balai Besar Karantina Tumbuhan dan Hewan
melakukan pemeriksaan dan mengakibatkan ditemuinya kesulitan-kesulitan yang
seharusnya tidak terjadi dalam proses pemeriksaan.

 Perlakuan Dan Pengamatan Terhadap Media Pembawa


Ketepatan dan kecermatan dalam menangani media pembawa HPHK harus
dimulai dari kegiatan pengambilan contoh untuk tujuan pemeriksaan kesehatan
media pembawa, karena hal tersebut akan mempengaruhi keseluruhan hasil
tindakan pemeriksaan media pembawa hingga keputusan tindakan karantina
selanjutnya. Akurasi yang optimal terhadap hasil pemeriksaan kesehatan media
pembawa, akan sangat ditentukan oleh teknik pengambilan contoh yang tepat
dengan mengacu kepada standar internasional yang berlaku.

4
Kesmavet 28 Januari 2019

Pada prinsipnya, tindakan pemeriksaan kesehatan media pembawa dilakukan


terhadap keseluruhan barang kiriman (consignment). Namun hal tersebut seringkali
sulit dilakukan karena beberapa alasan, antara lain:
1. Secara teknis pemasukan/pengeluaran media pembawa dalam volume yang
sangat besar tidak memungkinkan untuk dilakukannya pemeriksaan kesehatan
terhadap seluruh media pembawa tersebut.
2. Adanya keterbatasan waktu, biaya, sumber daya manusia, dan sarana
pemeriksaan kesehatan di UPT Karantina Pertanian juga membatasi untuk
dilakukannya pemeriksaan kesehatan terhadap keseluruhan media pembawa
tersebut.
3. Apabila ditinjau dari segi ketelitian, pemeriksaan kesehatan dengan
menggunakan unit contoh diyakini lebih teliti daripada pemeriksaan terhadap
keseluruhan media pembawa.
Pada prinsipnya, penentuan lot didasarkan pada homogenitas (keseragaman)
barang kiriman, seperti area asal produk atau varietas (daerah produksi di negara
asal). Saat akan menentukan lot contoh, barang kiriman tersebut harus dapat
dipastikan homogenitasnya maupun indikasi heterogenitasnya (keragaman), antara
lain keragaman jenis dan ukuran kemasan, maupun tanda dan/atau keterangan pada
kemasan. Selain itu, petugas pengambil contoh juga harus memastikan bahwa
kondisi barang kiriman masih utuh dan tidak rusak, dengan melakukan pemeriksaan
terhadap tanda-tanda yang terdapat pada pada kemasan, antara lain segel kemasan,
ukuran maksimum kemasan, homogenitas, dan sajian lot media pembawa.

 Petunjuk Umum Pengambilan Sampel/Spesimen


Petunjuk umum tentang tehnik dan tata cara pengambilan sampel/spesimen
pada hewan dan bahan asal hewan serta hasil bahan asal hewan untuk tujuan
pemeriksaan fisik dan pengujian di laboratorium harus mempertimbangkan hal-hal
sebagai berikut :
a. perencanaan pengambilan sampel/spesimen;
b. petugas pengambilan sampel/spesimen;
c. prosedur pengambilan sampel/spesimen;
d. peralatan yang digunakan;

5
Kesmavet 28 Januari 2019

e. lokasi dan titik pengambilan sampel/spesimen;


f. frekuensi pengambilan sampel/spesimen;
g. keselamatan kerja;
h. dokumentasi yang terkait.

1. Lokasi dan Waktu Pelaksanaan


Kegiatan monitoring dapat dilaksanakan di daerah pemasukan pada Instalasi
Karantina Hewan dan terhadap hewan atau bahan asal hewan dan hasil bahan asal
hewan di daerah penyebaran eks pemasukan seperti di wilayah provinsi,
kabupaten/kota, kecamatan dan desa sesuai dengan tujuan monitoring yang
diinginkan. Sedangkan waktu pelaksanaan monitoring dapat dilakukan setelah
sebulan, tiga bulan, enam bulan dan setahun, atau sewaktu-waktu setelah
penyebaran sesuai kasus atau kebutuhan yang diinginkan.
2. Jenis dan Katagori Sampel
Jenis sampel dan atau spesimen yang diambil adalah :
a. Dari hewan dapat berupa darah dan komponennya (plasma,serum) dan cairan
(ekskreta, sekreta) serta bahan lainya sesuai kebutuhan;
b. Dari bahan asal hewan dan hasil bahan asal hewan dapat berupa jaringan, organ
dan sebagainya dalam bentuk segar, beku atau kemasan tergantung dari tujuan
pemeriksaan dan pengujian laboratoris.
Dalam penanganan sampel dan atau spesimen yang akan diuji dapat digolongkan
dalam katagori :
a. Katagori I yaitu sampel dan atau spesimen yang dikirim secara rutin untuk
pemeriksaan tanpa ada kecurigaan terhadap HPHK golongan I dan berhubungan
dengan persyaratan ekspor-impor dan tidak berbahaya (noninfectious).
b. Katagori II yaitu sampel dan atau spesimen yang dikirim untuk konfirmasiHPHK
golongan II atau untuk kepentingan pencegahan terhadap HPHK Golongan I dan
berbahaya bagi hewan/manusia.
c. Katagori III yaitu sampel dan atau spesimen untuk konfirmasi terhadap adanya
dugaan kuat terhadap HPHK golongan I dan sangat berbahaya bagi
hewan/manusia.

6
Kesmavet 28 Januari 2019

 Pengambilan Sampel
Sampel BAH dan HBAH
Sampel yang diambil dari BAH dan HBAH (daging/karkas segar/beku
dapat berupa contoh permukaan (surface samples) dan sampel jaringan (deep
tissue samples). Sampel permukaan digunakan untuk pengujian
mikrobiologis, misalnya jumlah mikroorganisme pada permukaan
daging/karkas (cfu/cm2 atau cfu/karkas ayam). Sampel permukaan ini
bersifat non-destruktif, artinya sampel tidak dirusak atau dihancurkan
(homogenisasi) dalam pemeriksaan atau pengujian. Contoh permukaan dapat
dilaksanakan dengan tiga cara, yaitu:
a. Swab Cara ini digunakan untuk permukaan daging/karkas segar (panas atau
dingin). Kapas bergagang (cotton swab) steril diusapkan pada permukaan
daging/karkas dengan luas tertentu, umumnya 25 atau 50 cm2. Kemudian
kapas bergagang tersebut dimasukkan ke dalam tabung/wadah berisi
larutan pengencer steril.
b. Excision
Cara ini digunakan untuk permukaan daging beku. Contoh diambil dengan
menggunakan cork borrer yang ditusukkan ke dalam daging (kurang lebih
2 mm dari permukaan). Perlu diperhitungkan luas permukaan yang
diambil dan jumlah larutan pengencer, sehingga diperoleh jumlah
mikroorganisme per cm2.
c. Rinse technique
Cara ini biasanya digunakan untuk contoh kecil (maksimum 2 kg),
misalnya karkas ayam, sosis, dan lain-lain. Contoh tersebut ditimbang
secara aseptik dan dimasukkan ke dalam plastik steril yang besarnya
memadai, lalu tambahkan larutan pengencer steril sebanyak 9 kali berat
contoh.
Sampel jaringan diambil dari daging/karkas dengan menggunakan
skalpel atau gunting dan pinset dengan kedalaman 0,5 sampai 1,0 cm dari
permukaan daging/karkas, atau mengambil seluruh jaringan. Sampel yang
telah diambil dimasukkan ke dalam wadah tertentu yang telah disiapkan.

7
Kesmavet 28 Januari 2019

Pada wadah diberikan label yang memberikan keterangan/ informasi terhadap


sampel.

Pengambilan Sampel untuk Produk Terkemas


Prosedur pengambilan Sampel
a Tentukan tujuan pangambilan sampel apakah untuk inspeksi atau untuk
pengujian.
b Rancangan pengambilan sampel yang dapat digunakan adalah
berdasarkan AQL 6,5 dari Codex (FAO/WHO Codex Alimentarius
Sampling Plans for prepackaged Foods).
c Data yang diperlukan adalah: ukuran wadah terkecil; inspection level, lot
size (jumlah lot) atau N; jumlah sampel yang diperlukan; kriteria jumlah
unit sampel cacat atau yang tidak sesuai standar dan parameter atau
persyaratan lainnya.

Pengambilan Sampel/Spesimen Untuk Analisa Mikrobiologi


Klasifikasi kriteria jumlah sampel, penetapan dan penerimaan hasil uji
berdasarkan tingkat bahayanya serta kondisi setelah pengambilan sampel
dapat dilihat pada table dibawah :

8
Kesmavet 28 Januari 2019

Keterangan : n = jumlah sampel yang diuji.


c = jumlah maksimum sampel yang diperbolehkan
menghasilkan hasil uji lebih tinggi dari yang
ditetapkan.
Penetapan Penerimaan Produk untuk pengujian mikrobiologi, perlu
ditetapkan prosedur dan kriteria penetapan suatu sampel/spesimen diterima
atau tidak diterima/tolak. Dalam penetapan penerimaan produk yang perlu
diperhatikan adalah ’n” yaitu jumlah unit sampel yang diuji dan ”c” yaitu
jumlah maksimum unit sampel yang diperbolehkan menghasilkan uji lebih
tinggi atau melebihi dari ”m”. Dalam penetapan ini dikenal dua sistem
yaitu:
a. Sistem Dua Kelas (Two-class plan) Pemeriksaan dengan sistem dua kelas
diklasifikasikan diterima atau ditolak (jika jumlah mikroorganismenya
melebihi yang disyaratkan). Sisten dua kelas digunakan untuk
pemeriksaan mikroorganisme yang sangat berbahaya atau cukup
berbahaya secara langsung terhadap kesehatan dan berpotensi untuk
menyebar secara luas di dalam produk. Misalnya bakteri patogen
Escherichia coli, Salmonella spp, Shigella spp, Clostridium botulinum,
Listeria monocytogenes.
b. Sistem Tiga Kelas (Three-class plan) Sistem tiga kelas digunakan untuk
pemeriksaan mikroorganisme yang tidak atau rendah risiko bahayanya
secara langsung terhadap kesehatan atau cukup berbahaya secara
langsung tetapi penyebarannya di dalam produk terbatas. Misalnya
mikroorganisme aerobic, mikrorganisme psychrothrop, bakteri asam
laktat, kapang (kecuali mikotoksin), koliform dan thermotolerant
coliform. Hasil pemeriksaan pada sistem tiga kelas diklasifikasikan
diterima dan ditolak (jika jumlah mikroorganisme > M, kualitas baik jika
>m dan kualitas marjinal jika antara m dan M). Sistem tiga kelas
dipengaruhi juga oleh besarnya n dan c. Unit sampel yang diambil harus
mewakili tiga kelas yang menghasilkan jumlah mikroorganisme 0
sampai m, m sampai M, dan lebih besar dari M.

9
Kesmavet 28 Januari 2019

Pengambilan Sampel Untuk Menduga Prevalensi Suatu Penyakit Dan


Mendeteksi Penyakit Pada Populasi
Dalam hubungannya dengan monitoring ada dua jenis data dasar yang
harus dihimpun yaitu data umum peternakan dan data epidemiologi, seperti
data populasi, data lokasi dan data penyakit. Didalam menentukan besaran
sampel tergantung kepada tujuan dari monitoring yaitu untuk menduga
prevalensi suatu penyakit dan mendeteksi keberadaan suatu penyakit di
dalam populasi. Dalam rangka monitoring tersebut diperlukan data yaitu
tingkat prevalensi dugaan (P), galat atau penyimpangan (L), serta tingkat
kepercayaan yang diharapkan.
1. Untuk menduga prevalensi suatu penyakit didalam populasi, maka
besaran sampel (n) yang dibutuhkan dapat diperoleh dengan rumus dan
tabel 9 sebagai berikut:
’’n” untuk tingkat kepercayaan 95% : 4 PQ / L2
dimana P = tingkat prevalensi dugaan
L = Tingkat galat /penyimpangan
Q=1–P
Bila n > 10% dari populasi maka :
𝟏
n2 =
𝟏/𝐧𝟏+𝟏/𝐍

2. Untuk mendeteksi keberadaan suatu penyakit dalam populasi, maka


besaran sampel (n) yang dibutuhkan dapat diperoleh dengan rumus
sebagai berikut:
n = [1 – (1 – a)1/D][N – (D – 1)/2]
dimana n= jumlah sampel
a= tingkat kepercayaan
N= jumlah populasi
D= perkiraan jumlah hewan sakit dalam populasi
Prevalensi (P) = D/N

10
Kesmavet 28 Januari 2019

 Klasifikasi Teknik Sampling


Syarat utama yang menjadikan sampel itu dikatakan baik apabila sampel itu
memiliki sifat representatif. Untuk memenuhi syarat tersebut maka diperlukan cara
pengambilan sampel yang baik pula. Pengambilan sampel dalam penelitian dapat
dilakukan dengan berbagai teknik (sampling techniques). Adapun teknik
pengambilan sampel secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua teknik, yaitu
nonprobability sampling dan probability sampling.

Pengambilan sampel Non-Probabilitas dan Probabilitas


Suatu sampel yang diambil tanpa adanya probabilitas yang diketahui mengenai
termasuknya satuan-satuan individu dalam populasi, dikenal sebagai sampel non-
probabilitas. Sampel seperti ini mungkin akan berguna dalam pengambilan keputusan
tetapi ketidakpastian mengenai kekuatan dari sampel akan menggangu kepercayaan
pemakai terhadap hasil.
Jika bagian terbatas suatu populasi secara menyeluruh dilibatkan dalam sampel
dalam suatu cara tertentu yang mana pencantuman satuan-satuan individual dalam
populasi dapat dinyatakan sebagai probabilitas yang diketahui, hal ini dikenal sebagai
pengambilan sampel probabilitas. Pengambilan sampel sederhana secara acak dalam
popupulasi adalah jenis tertentu dari pengambilan sampel probabilitas di mana setiap
item dalam populasi mememiliki kesempatan yang sama untuk dipilih.
Dengan pengambilan sampel probabilitas, ketidakpastian masih terjadi terhadap
kesimpulan-kesimpulan yang dibuat tentang keseluruhan populasi. Akan tetapi,
perbedaan penting adalah bahwa ketidakpastian dapat diukur dan dinyatakan dalam
bentuk probabilitas kebenarannya. Kemudian, pengambilan sampel probabilitas tidak

11
Kesmavet 28 Januari 2019

menghilangkan ketidakpastian yang berhubungan dengan pengambilan sampel dari


suatu populasi tetapi mengijinkan pensurvai untuk menyatakan bahwa ketidakpastian
sebagai suatu pengukuran probabilitas. Hal ini adalah perbedaan penting karena
mengijinkan pensurvai untuk menyatakan kesimpulannya dalam bentuk suatu tingkat
kepercayaan yang diketahui.

1. Nonprobability Sampling
Dalam nonprobability sampling, peneliti dapat sesukanya atau secara sadar
memutuskan apakan elemen-elemen masuk ke dalam sampel. Artinya, kemugkinan
atau peluang seseorang atau benda untuk terpilih menjadi anggota sampel tidak
diketahui. Hal ini dikarenakan pada teknik ini terlalu percaya pada pendapat pribadi
peneliti dari pada kesempatan untuk memilih elemen-elemen. Dalam teknik ini juga
kurang memperhitungkan penilaian secara objektif dari sampel yang diperoleh secara
tepat.
Adapun yang tergolong dalam teknik nonprobability sampling meliputi; a)
convenience sampling, b) judgmental sampling, c) quota sampling, dan d) snowball
sampling. Masing-masing teknik tersebvut akan dijelaskan sebagai berikut :
a. Convenience Sampling ( Sampel Secara Kebetulan)
Convenience sampling sering juga disebut sebagai accidental sampling
technique. Dalam teknik sampling ini, yang diambil sebagai anggota sampel
adalah orang-orang yang mudah ditemui atau yang berada pada waktu yang tepat,
mudah ditemui dan dijangkau. Responden diambil biasanya karena mereka
diharapkan berada pada waktu dan tempat yang tepat.
b. Judgmental Sampling (Sampel Menurut Tujuan)
Judgmental sampling atau disebut purposive sampling merupakan salah satu
bentuk dari convenience sampling. Dalam teknik ini sampel dipilih berdasarkan
penilaian atau pandangan dari para ahli berdasarkan tujuan dan maksud penelitian.
Peneliti memilih elemen-elemen yang dimasukan dalam sampel, karena dia
percaya bahwa elemen-elemen tersebut adalah wakil dari populasi. Perlu dicatat
bahwa dengan memilih jenis penarikan sample pertimbangan, seorang peneliti
sudah harus siap untuk menghadapi ketidakpastian dalam hal bobot dan arah
sample. Sebuah pertimbangan tidak memerlukan definisi. Yang utama hanyalah
validasi pertimbangan. Dalam praktik, penarikan sample pertimbangan tidak
banyak dipergunakan oleh peneliti.

12
Kesmavet 28 Januari 2019

c. Quota Sampling (Sampel Beradasarkan Jumlah)


Quota sampling mungkin kelihatan seperti two-stage restricted judgmental
sampling. Tahap pertama terdiri dari pengembangan kategori kontrol atau quota
dari elemen-elemen populasi. Untuk mengembangkan dan membuat quota ini,
peneliti mendaftar karakteristik kontrol yang relevan dan menentukan distribusi
dari karakteristik ini dalam populasi target. Karakteristik kontrol yang relevan
misalnya, jenis kelamin, umur dan ras diidentifikasi berdasarkan penilaian
peneliti. Teknik ini seringkali mirip dengan teknik stratified random sampling,
kecuali tanpa menggunakan teknik acak. Dengan kata lain, quota sampling
menyatakan bnahwa komposisi dari sampel adalah sama dengan komposisi
populasi yang berkaitan dengan karakteristik minat. Tahap kedua, elemen-elemen
sampel dipilih berdasarkan convenience atau judgment. Setelah quota-quota
tersebut dikelompokkan, terdapat kebebasan untuk memilih elemen-elemen untuk
dimasukan dalam sampel. Satu-satunya persyaratan adalah elemen-elemen
tersebut dipilih untuk disesuaikan dengan karakteristik kontrol. Dalam proses ini
peneliti secara eksplisit berupaya memperoleh sample yang serupa dengan
populasi yang didasari suatu tolok ukur, karakteristik pengendalian, yang sudah
ditentukan sebelumnya..
d. Snowball Sampling (Sampel Seperti Bola Salju)
Dalam snowball sampling, pertama-tama kelompok responden dipilih secara
random. Setelah diwawancarai, responden-responden ini disuruh untuk
mengidentifikasi responden-responden lain yang merupakan bagian dari populasi
target. Tujuan utama dari snowball sampling adalah untuk menafsirkan
karakteristik yang jarang terjadi dalam populasi. Keuntungan dari snowball
sampling adalah adanya peningkatan kecenderungan menempatkan
karakteristikkarakteristik yang diinginkan dalam populasi.

2. Probability Sampling
Pengambilan sampel dengan cara ini dilakukan secara random atau acak. Periset
pemasaran perlu mengetahui teknik-teknik dimana dia dapat memilih suatu sampel
untuk setiap unit dalam populasi memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih. Jika
setiap unit dalam populasi diberi suatu angka yang berbeda, suatu roda seimbang yang
sempurna dengan angka-angka terhadapnya paralel dengan angka-angka dari populasi
dapat dibangun dan hasil pemutaran (pilihannya) dicatat. Jika roda berputar sebanyak

13
Kesmavet 28 Januari 2019

item dalam sampel, setiap item dalam populasi yang akan diikutkan dalam sampel
akan diidentifikasi.
Probability sampling dapat digolongkan menjadi simple random sampling,
systematic random sampling, stratified sampling, dan cluster sampling.
a. Simple Random Sampling
Dalam simple random sampling, masing-masing elemen populasi
mempunyai kemungkinan pemilihan yang sama. selanjutnya setiap kemungkinan
sampel dari ukuran tertentu ini mempunyai kemungkinan yang sama untuk dipilih.
Hal ini berarti setiap elemen dipilih dengan bebas dari setiap elemen lainnya.
Sampelnya diperoleh dengan prosedur random dari kerangka sampling. Metode
ini hampir sama dengan sistem lotre, yang nama-namanya ditempatkan dala suatu
wadah, dan wadah tersebut dikocok-kocok. Nama dari pemenangnya diambil
dengan cara yang tidak mengandung bias. Untuk melakukan simple random
sampling, peneliti dapat membuat kerangka sampling yang mana masing-masing
elemennya dikelompokkan dalam nomor pengidentifikasian yang unik. Sebagai
contoh, kita memiliki 500 elemen populasi, sedangkan yang akan dipilih adalah
sebanyak 50, maka setiap elemen mempunyai peluang 0,1 untuk dipilih.
b. Systematic sampling
Dalam systematic sampling, sampel dipilih dengan cara menyeleksi poin-
poin random awal dan kemudian mengambil beberapa nomor tertentu untuk
mendapatkan kerangka sampling.interval sampling (i) ditentukan dengan cara
membagi ukuran populasi (N) dengan ukuran sampel (n) dan meletakan disekitar
bilangan-bilangan bulat yang terdekat.
c. Stratified Sampling
Stratified sampling (sampel bertingkat) merupakan suatu proses dua langkah
yang mana populasi dibagi dalam sub populasi atau strata/tingkatan. Artinya,
peneliti harus mengetahui bahwa dalam populasi ada strata, klas, lapisan, atau ras,
misalnya ada klas pegawai negeri, mahasiswa, dan petani. Strata tersebut harus
bersifat mutually exclusive dan elemen-elemen dalam setiap populasi seharusnya
dikelompokkan menjadi satu dan hanya satu strata tidak ada elemen populasi yang
dihilangkan.
d. Cluster Sampling
Berbeda dengan teknik-teknik sampling sebelumnya, dalam teknik sampling
ini yang menjadi unit sampling dalam kerangka sampling adalah kelompok-

14
Kesmavet 28 Januari 2019

kelompok, bukan individu atau unsur-unsur sampling itu sendiri. Dalam cluster
sampling, populasi target pertama-tama dibagi ke dalam sub kelompok atau
cluster yang eksklusif. Kemudian sampel acak dari cluster tersebut dipilih
berdasarkan teknik probability sampling, misalnya dengan menggunakan random
sampling. Perbedaan pokok dari cluster sampling dengan sampling bertingkat
adalah dalam cluster sampling hanya sampel dari sub populasi (cluster) yang
dipilih, sedangkan pada sampling bertingkat semua sub populasi (strata) dipilih
untuk sampling/pengambilan sampel lebih lanjut. Tujuan utama dari cluster
sampling adalah untuk meningkatkan ketepatan.

Referensi :
Amirullah, 2015. Pengantar Manajemen “Populasi Dan Sampel (Pemahaman, Jenis
dan Teknik)”. Mitra Wacana Media. Jakarta. Hal : 67-80
Badan Karantina Pertanian, 2007. Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian
Nomor: 2897.a/PD.670.320/L/10/07, Tentang Pedoman Pengambilan
Sampel dalam rangka Monitoring Hama dan Penyakit Hewan Karantina
pada Hewan dan Bahan Asal Hewan serta Hasil Bahan asal Hewan di
daerah pemasukan/pengeluaran dan daerah penyebaran eks pemasukan.
Jakarta: Departemen Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta.

15
Kesmavet 28 Januari 2019

LAMPIRAN

16
Kesmavet 28 Januari 2019

17