Anda di halaman 1dari 3

Tujuan Pelaporan Keuangan dan Laporan Keuangan Ideal

Tujuan pelaporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi keuangan mengenai


pelaporan entitas yang berguna bagi pengguna laporan keuangan seperti investor, kreditor dalam
pengambilan keputusan. Laporan Keuangan ideal seharusnya dapat memberikan informasi yang
berguna dalam pengambilan keputusan sehingga harus memenuhi karakteristik kualitatif yakni
relevan dan andal. Relevan di sini berarti informasi dalam laporan keuangan tepat waktu sehingga
dapat digunakan pengguna untuk mengoreksi kondisi masa lalu (feedback value) dan memprediksi
kondisi masa depan (predictive value). Kemudian, laporan keuangan juga dapat diandalkan dimana
informasi disajikan secara jujur, dapat diverifikasi dan netral.
Walaupun informasi yang disajikan telah relevan, namun apabila dalam penyajiannya tidak
dapat diandalkan maka dapat menyesatkan pengguna informasi. Oleh karena itu, kualitas laporan
keuangan dapat dilihat dari pemberian pemahaman bagi pengguna laporan keuangan tentang
informasi akuntansi perusahaan sehingga laporan keuangan tersebut rekevan dan andal dalam
pengambilan keputusan.

Sekilas Tentang PSAK 70 : Akuntansi Aset dan Liabilitas Pengampunan Pajak


Latar belakang penerbitan PSAK 70 berawal dari penerbitan Undang-Undang Nomor 11
Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak pada tanggal 11 Juli 2016 dan Peraturan Menteri
Keuangan Republik Indonesia No.118/PMK.03/2016 tentang pelaksanaan Undang-Undang No 11
tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak. Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) IAI
mengesahkan PSAK 70 Akuntansi Aset dan Liabilitas Pengampunan Pajak pada tanggal 14
September 2016 yangmana “didapuk” sebagai bentuk nyata dukungan Ikatan Akuntan Indonesia
(IAI) atas program pengampunan pajak. PSAK ini memberikan panduan bagi entitas untuk
menyusun pelaporan keuangan paska pemberlakuan Undang-Undang Pengampunan Pajak. PSAK
70 ini akan memandu wajib pajak yang mengikuti program pengampunan pajak agar terhindar dari
berbagai kesalahan akuntansi dan pelaporan keuangan yang mungkin timbul di kemudian hari.
PSAK ini mengatur bagaimana mencatat aset dan liabilitas dari hasil pengampunan pajak.
Ada dua opsi yang diberikan oleh PSAK ini untuk mengukur, menyajikan serta
mengungkapkan aset dan liabilitas pengampunan pajak. Yang pertama, entitas mengikuti standar
akuntansi yang berlaku dan mengakui aset atau liabilitas pengampunan pajak sesuai dengan
ketentuan PSAK yang ada, yakni PSAK 25 dimana dilakukan koreksi atas saldo laba (Retained
Earning) dan laporan keuangan disajikan kembali. Yang kedua, entitas mengikuti ketentuan
khusus dalam PSAK 70 yakni mengakui aset dan liabilitas sebesar jumlah asset dan liabilitas yang
dilaporkan dalam Surat Keterangan Pengampunan Pajak (SKPP). Apabila terdapat selisih antara
asset dan liabilitas, selisih tersebut masuk sebagai tambahan modal yang disetor. Entitas
menerapkan pengakuan dan pengukuran secara prospektif yang berarti laporan keuangan untuk
periode sebelum pengungkapan tidak perlu disajikan kembali. Pengukuran setelah pengakuan awal
aset dan liabilitas pengampunan pajak mengacu pada SAK yang relevan. Entitas diperkenankan
tetapi tidak diharuskan untuk mengukur kembali aset dan liabilitas pengampunan pajak
berdasarkan nilai wajar sesuai dengan SAK pada tanggal Surat Keterangan.
Penyajian dan pengungkapan aset pengampunan pajak dan liabilitas pengampunan pajak juga
diatur dalam PSAK 70. Entitas menyajikan aset dan liabilitas pengampunan pajak secara terpisah
dari aset dan liabilitas lainnya dalam laporan posisi keuangan. Entitas menyajikan aset
pengampunan pajak dan liabilkitas pengampunan pajak sesuai klasifikasi aset lancar dan tidak
lancar serta liabilitas jangka pendek dan panjang.

Analisis Regulatory Capture Theory dalam PSAK 70


PSAK 70 dinilai sebagai bentuk pedoman simplifikasi pelaporan keuangan karena program
Pengampunan Pajak. PSAK 70 mengakomodasi asset yang tidak diketahui kapan diperoleh.
Apabila menggunakan PSAK 25, entitas harus menyajikan laporan keuangan kembali sampai
periode diperolehkan asset yang tentu akan “menyusahkan” entitas jika asset tersebut diperoleh
bertahun-tahun yang lalu. Akan tetapi jika “menilik” tujuan laporan keuangan dimana harus
memberikan informasi yang relevan dan andal dalam pengambilan keputusan, PSAK 70
menciderai karakteristik kualitatif laporan keuangan. PSAK 70 mengijinkan entitas untuk tidak
melakukan retrospektif atas koreksi laba sehingga informasi keuangan tidak lengkap dan tidak
dapat diperbandingkan antar tahun. Kemudian, PSAK 70 mengijinkan entitas untuk mengukur
asset dan liabilitas berdasarkan Surat Keterangan Pengampunan Pajak (SKPP) yang mana dasar
pengukuran menggunakan dasar pertimbangan entitas. Hal ini jelas tidak sesuai dengan
karakteristik andal. Informasi yang disajikan tidak disajikan dengan sebenar-benarnya. Dan yang
ketiga, ketika ada selisih antara asset dan liabilitas pengampunan pajak, selisih tersebut masuk
dalam tambahan modal disetor. Aset telah dimiliki bertahun – tahun sebelumnya dan tidak
diungkap namun PSAK 70 mengijinkan entitas untuk mencatat seakan – akan asset tersebut
diperoleh pada tahun diterbitkan SKPP. Menurut pendapat saya, PSAK 70 ini sama halnya dengan
memberikan fasilitas pelaporan keuangan kepada entitas untuk mereduksi informasi keuangan,
merugikan pengguna informasi laporan keuangan dan menguntungkan beberapa pemangku
kepentingan. Pihak yang diuntungkan adalah pemerintah, dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak
dan Kantor Akuntan Publik.
Kesalahan penyajian komponen laporan keuangan telah dikomodir oleh PSAK 25 namun
kemudian muncul PSAK 70 terkait akuntansi asset dan liabilitas pengampunan pajak. Seperti yang
dijelaskan sebelumnya, PSAK 70 memisahkan aset tersebut dari existing asset and liabilities
sehingga memudahkan DJP dalam melakukan pengawasan. DJP dapat mengawasi aset
pengampunan pajak yang mungkin hasil repatriasi agar tidak keluar negeri sesuai dengan Undang-
undang Pengampunan Pajak pasal 45. DJP sangat dimungkinkan dalam mempengaruhi penerbitan
PSAK 70 karena tidak sedikit anggota Kementerian Keuangan, dalam hal ini DJP yang menjadi
anggota IAI.
Pihak lain yang diuntungkan dengan adanya PSAK 70 dan diduga mempengaruhi
penerbitan PSAK 70 ini adalah Kantor Akuntan Publik. Kantor Akuntan Publik, dalam hal ini,
auditor memiliki tanggung jawab untuk memberikan opini atas kewajaran laporan keuangan klien.
Namun ketika klien mengungkapkan asset dan liabilitas yang belum disajikan dan diungkapkan
dalam laporan keuangan serta memgoreksi saldo laba sehingga laporan keuangan disajikan
kembali, hal tersebut dapat menciderai kepercayaan masyarakat terhada kredibilitas KAP karena
tidak mampu mengungkap asset dan liabilitas yang disembunyikan klien, yang mungkin saja
bberjumlah material dan merupakan missapropriation atau fraud. Sehingga sangat dimungkinkan
penerbitan PSAK 70 juga merupakan “pesanan” dari KAP yang mana auditor eksternal tidak
sedikit yang menjabat di IAI.
Berdasarkan data dan informasi yang ada, penerbitan PSAK 70 ini merujuk ke teori
Regulatory Capture Theory karena adanya “penunggangan” kepentingan ke setter standart dalam
hal ini IAI. Teori ini mengungkapkan bahwa regulasi standar akuntansi dapat diintervensi oleh
beberapa pemangku kepentingan sehingga tidak netral. Dalam hal ini, yang melakukan intervensi
dalam penerbitan PSAK 7 adalah pemerintah (Direktorat Jenderal Pajak) dan Kantor Akuntan
Publik (KAP)