Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sistem pengobatan tradisional bukan sekedar sebagai fenomena medis dan
ekonomi, tetapi lebih luas lagi yaitu sebagai fenomena sosial budaya. Hal ini terjadi
dalam kehidupan masyarakat, terutama kehidupan yang menyangkut kesehatan individu
maupun masyarakat. Masyarakat awam atau pakar cenderung memandang pengobatan
tradisional dari perspektif ekonomi dan medis saja, jarang atau malahan belum ada
penelitian yang lebih khusus melalui perspektif sosial dan budaya dengan cara terjun
langsung dalam kehidupan masyarakat, misalnya dengan mengukur sejauh mana
pengobatan dan obat-obatan tradisonal dipandang sebagai kebutuhan perawatan
kesehatan oleh masyarakat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Azwar Agoes (1996: vii)
bahwa pengobatan dan obat tradisional telah menyatu dengan masyarakat, digunakan
dalam mengatasi berbagai masalah kesehatan baik di desa maupun di kota. Selanjutnya
dikatakan Azwar Agoes bahwa kemampuan masyarakat untuk mengobati sendiri,
mengenal gejala penyakit dan memelihara kesehatan perlu ditingkatkan dalam rangka
mencapai kesehatan bagi semua.
Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan ternyata tidak mampu begitu saja
menghilangkan arti pengobatan tradisional. Dewasa ini pengobatan dengan cara-cara
tradisional semakin popular baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Organisasi
Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) telah menyadari pentingnya
pengobatan tradisional untuk penduduk dunia umumnya. Untuk mengembangkan
kenaikan perluasan secara rasional keselamatan penggunaan secara efektif untuk semua
penduduk di dunia diwaktu kini maupun mendatang (Akrele, 1993:1).
Dua dari tiga dasar kebijaksanaan dari Program Pengobatan Tradisional ( The
Traditional Medicine Programme) yang diadopsi oleh The World Health Assembly and
The Regional Committes menggambarkan adanya perhatian terhadap kenyataan bahwa,
(1) umumnya penduduk dunia tergantung pada pengobatan tradisional untuk perawatan
kesehatan yang pertama; (2) tenaga kerja diwakili oleh ahli pengobatan tradisional adalah
sumber yang sangat potensial dari penyampaian perawatan kesehatan (Akrele, 1993:1).
Penyembuh tradisional di seantero dunia berpraktik pengobatan humoral.
Sebagian besar bentuk institusi dan pendidikan profesi telah disesuaikan dengan tradisi
pengobatan asli, seperti di Cina, India, Jepang, Srilangka, dan negara-negara lain
(Leslie,1977:1). Di Vietnam dan India ada dua institusi pendidkan kedokteran, yaitu
modern dan tradisional. Dua jurusan yang berbeda itu mempunyai derajat yang sama.
Pengobatan seperti di Cina, Ayurveda Hindu, pengobatan Islam Unani Tibbi, dikenal dan
didukung oleh pemerintah nasional masing-masing (Foster/Anderson, 1986:57).
Pengobatan cina secara kuat telah mempengaruhi institusi kesehatan di Korea, Jepang,
dan bagian Asia Tenggara. Ayurveda (yang artinya pengetahuan hidup) sasaran
pengaruhnya telah ada di Tibet, Birma dan Asia Tenggara ( Leslie, 1977:3)
Berbeda dari negara-negara di Asia Tenggara, seperti disebutkan di atas, cara-cara
pengobatan tradisional dan cara pengobatan modern dilakukan dalam system pelayanan
kesehatan formal. Di Indonesia, upaya pengobatan tradisional hanya dan masih berperan
pada tingkat rumah tangga dan tingkat masyarakat. Pada tingkat pertama fasilitas
pelayanan, tingkat rujukan pertama dan rujukan yang lebih tinggi upaya pelayanan
kesehatan dilakukan melalui fasilitas pelayanan kesehatan modern (formal); sedangkan
pada tingkat rumah tangga pelayanan kesehatan oleh individu dan keluarga memegang
peran utama ( Soesilo, 1996;9)
Dalam sistem kepercayaan sehubungan dengan penyembuhan penyakit, peranan
dukun menjadi penting. Menjadi penyembuh dapat diperoleh melalui belajar dan
keturunan. Namun umumnya menjadi penyembuh diperoleh melalui keturunan
berdasarkan sistem kekerabatan melalui garis keturunan sejenis. Penyembuhan laki-laki
akan menurunkan ilmunya kepada salah satu ahli warisnya yang sama jenis kelaminnya.
Hal ini berlangsung terus menerus dari dahulu sampai sekarang. Di samping diwariskan
secara turun-temurun, tetapi calon penyembuh biasanya melaksanakan ritual secara ketat
agar ilmunya menjadi sempurna.
Satu hal yang telah berubah sekarang adalah sebutan dukun yang lebih dikenal
dengan sebutan penyembuh alternatif, namun dalam praktiknya mereka masih melakukan
praktik yang sama dengan praktik dukun. Keduanya secara ilmiah cenderung disebut
sebagai penyembuh tradisional ( Traditional Healer) dalam sistem kesehatan tradisional
(ethno-medicine).
Walaupun ada perubahan sebutan untuk penyembuh, tetapi dalam praktiknya
mereka masih melakukan hal yang sama baik pada cara penyembuhan yang dilakukan
oleh penyembuh masa dulu dan sekarang. Masalah yang dikemukan disini meliputi:
Apakah cara pencapaian kesempurnaan ilmu untuk menyembuhkan penyakit masih
dilakoni oleh penyembuh sekarang yang telah hidup dalam arus globalisasi? Jika masih,
bagaimana penyembuh melakukan ritual untuk mencapai kesempurnaan ilmunya? Di
samping itu, bagaimana praktik penyembuhan dengan pijat refleksi dan praktik
penyembuhan transfer penyakit dengan media binatang?

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, bisa dirumuskan suatu masalah yaitu:
1. Definisi pijat refleksi dan transfer penyakit dengan media binatang
2. Sejarah pijat refleksi dan transfer penyakit dengan media binatang
3. Bagaimana praktik atau langkah-langkah dalam penyembuhan dengan pijat refleksi
dan transfer penyakit dengan media binatang?
4. Apa manfaat serta tujuan dari Teknik penyembuhan dengan pijat refleksi dan
penyembuhan transfer penyakit dengan media binatang?
5. Apa dampak-dampak dari penyembuhan dengan pijat refleksi dan penyembuhan
transfer penyakit dengan media binatang?
6. Apa saja faktor-faktor penghambat dan faktor pendorong dari Teknik penyembuhan
dengan pijat refleksi dan penyembuhan transfer penyakit dengan media binatang?
7. Bagaimana pandangan medis terhadap penyembuhan penyakit dengan pijat refleksi
dan penyembuhan transfer penyakit dengan media binatang?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui dan membahas lebih dalam
terkait penyembuhan penyakit secara tradisional dengan pijat refleksi dan penyembuhan
transfer penyakit dengan media binatang.
BAB II
2.1 Pijat Refleksi
Pijat refleksi adalah suatu cara pengobatan penyakit melalui titik pusat urat saraf
bersangkutan ( berhubungan) dengan organ- organ tubuh tertentu. Dengan kata lain
adalah penyembuhan penyakit melalui pijat urat saraf untuk mempelancar
peredaran darah.
Pijat refleksi adalah cara memijat tangan, kaki, Dan anghota tubuh Yang lainnya
dengan mengarah ke titik pusat urat- saraf. Di dalam aktivitas kita sehari hari tiap
manusia menjalani profesinya masing- masing, ada Yang profesinya menjadi guru,
polisi, dokter bahkan sampe ke petani. Dari profesi di atas pasti setelah pulanh
beraktifitas tubuh kita terasa lelah, pegal, Dan semangat kerja jadibterganggu. Di
seluruh tubuh manusia terdapat banyak sekali daerah- daerah refleksi misalnya
tangan tangan mempunyai hubungan Yang erat dengan organ tubuh Yang lain

2.1.1 Sejarah Pijat Refleks

Reflexology sebenarnya sudah ada sejak ribuan tahun lalu dijaman peradaban
Mesir kuno, namun hingga abad 19 belum ada perkembangan yang berarti hingga
seorang wanita bernama Eunice Ingham mengembangkan ilmu ini. Eunice Ingham
lahir di South Dakota pada tahun 1889, seorang fisioterapis yang bekerja pada Dr
Joe Shelby Riley. Dr Riley merupakan kolega Dr Fitzgerald salah seorang ilmuwan
yang telah mengenalkan Zona Therapy, sebuah teori yang menyatakan tubuh
manusia terbagi beberapa zona dimana satu bagian tubuh terhubung dengan bagian
tubuh yang lain. Eunice Ingham meneliti dan mengembangkan Terapi Zona pada
tahun 1930- an. Meluangkan waktu berjam-jam setiap harinya untuk mencari
hubungan setiap titik pada kaki dengan anatomi tubuh lainnya. Mulai mencoba
pada kaki orang-orang lain menggunakan jempol dan jari-jari untuk menekan
seperti orang memijat.

Dia yakin lewat treatment yang telah dilakukannya ada manfaat yang didapat,
oleh karena itu Eunice berencana menulis sebuah buku dan akan keliling
Amerika untuk mengenalkan hal ini lewat seminar kesehatan. Lewat perjalanan
penelitian yang panjang akhirnya terbitlah buku pertama Eunice yang
berjudul Stories The Feet Can Tell pada tahun 1938. Eunice Ingham terus
melakukan perjalanan dibelahan dunia lainnya untuk mengenalkan terapinya
dalam seminar-seminar kesehatan, kepada praktisi kesehatan lainnya hingga
beberapa tahun kemudian bergabung dengan saudaranya Dwight Byers dimana
Dwight bertugas yang melakukan seminar pelatihan dan mendirikan
International of Reflexology untuk melindungi hak tulisan original Eunice
Ingham diseluruh dunia.
Eunice Ingham meninggal dunia pada usia 85 tahun pada Desember 1974.
Seluruh hidupnya didedikasikan untuk membantu orang lain dan punya
komitmen kuat untuk mengenalkan manfaat reflexology. Sebenarnya ada ahli
lain yang turut mengembangkan reflexology, namun Eunice memang paling
fenomenal mengembangkan ilmu reflexology modern seperti yang dikenal saat
ini. Jadi sudah selayaknya beliau mendapat gelar kehormatan "Mother of
Reflexology"

2.1.2 Langkah – langkah Refleksi Pijat


Pijat refleksi sebagai metode penyembuhan tradisional model H merupakan
metode untuk mendeteksi penyakit pasien, mendiagnosis dan untuk kemudian
menentukan penyakit dan terapinya. Gambar berikut yang melukiskan deteksi
dengan pijat refleksi untuk menentukan penyakit. Cara yang digambarkan ini dari
hasil observasi, pemantauan proses pemijatan dan penjelasan dari H seperti gambar
berikut.
2.1.3 MANFAAT REFLEKSI
Refleksi kaki merupakan salah satu pengobatan alami yang terpercaya dalam
mengatasi beberapa masalah kesehatan yang sangat sering terjadi pada setiap
manusia. Seperti:
a. Menghilangkan Pegal-Pegal
Masalah gangguan kesehatan yang paling sering dialami oleh setiap manusia
adalah masalah pegal-pegal pada tubuh. Tubuh memiliki sistem ketahanan yang
cukup kuat untuk mengatasi berbagai masalah tubuh. Jika tubuh beraktifitas sangat
berlebihan dan tubuh tidak lagi dapat bekerja secara maksimal, maka secara
otomatis tubuh akan terasa pegal-pegal. Untuk mengatasi kondisi yang dibilang
bukan penyakit serius, Refleksi Kaki adalah pilihan yang sangat tepat.

b. Menghilangkan Kram dan Kesemutan


Kram dan Kesemutan menjadi salah satu hal yang dapat mengganggu aktivitas
dan salah satu peristiwa yang sangat mengganggu. Kram dan kesemutan pada
bagian tubuh memang bukanlah suatu kondisi yang sangat serius, jika diabaikan
akan berakibat fatal. Jika hal ini terjadi pada anda, sebaiknya lakukan perawatan
secara alami yaitu dengan cara RefleksI. Refleksi dipercaya dapat mengatasi
masalah ini dengan baik.
c. Menjaga Kesehatan Tulang
Tulang merupakan salah satu bagian yang terpenting pada tubuh manusia. Agar
tulang menjadi lebih kuat dan juga sehat, tidak hanya mengkonsumsi makanan dan
minuman yang baik untuk tulang melainkan Refleksi juga dapat membantu
menjaga kesehatan tulang.
d. Membuat Tubuh menjadi Lebih Segar
Dalam setiap aktifitas yang sangat melelahkan, secara otomatis tubuh akan
mengeluarkan banyak Ion atau Cairan yang dikeluarkan dengan bentuk keringat.
Dengan kurangnya cairan dalam tubuh, tubuh akan terasa tidak berdaya seperti
lemas. Untuk mendapatkan kembali cairan tubuh yang hilang, tidak hanya
meminum banyak air dan makanan yang bermanfaat, akan tetapi proses Refleksi
juga sangat membantu tubuh akan terasa lebih segar dan bugar.
e. Memperlancar Peredaran Darah
Refleksi memiliki berbagai macam manfaat bagi tubuh yang diantaranya adalah
memperlancar peredaran darah. Jika aliran dalam tubuh lancar, maka darah dalam
tubuh dapat menjadi lebih optimal sehingga tubuh terhindar dari berbagai macam
penyakit beresiko.
f. Mencegah Berbagai Penyakit Berbahaya
Ada banyak hal yang sangat penting dari Refleksi kaki dan juga sangat
menguntungkan tubuh sehingga tubuh terhindar dari berbagai macam jenis penyakit
seperti kanker, darah tinggi, asam urat, diabetes, kolesterol dan pusing-pusing.
Untuk meyakinkan Artikel yang ada di atas, banyak dari usaha-usaha yang
bergerak dibidang jasa yang menawarkan banyak keuntungan bagi tubuh terutama
bagi kesehatan tubuh secara alami dan tidak beresiko malah sebaliknya.

2.1.4 Dampak Refleksi Pijat

a. Dampak positif pijat refleksi


1) Mengatasi nyeri
Manfaat pijat refleksi yang pertama adalah untuk mengatasi berbagai jenis
nyeri.Nyeri yang dimaksud termasuk nyeri punggung, migrain, sakit kepala, sakit
leher, dan nyeri lainnya. Pijat refleksi dipercaya dapat membantu mengurangi
ketegangan otot yang mungkin menjadi pemicu nyeri tersebut.
2) Mengurangi stres
Pijat refleksi dapat membantu mengurangi stres dengan cara memicu tubuh
melepaskan lebih banyak serotonin.
pada titik tertentu dapat memicu kelenjar pada otak yang mengatur produksi
neurotransmitter serotonin. Setelah serotonin yang dikenal sebagai hormon
bahagian dilepaskan, rasa stres dan cemas dapat berkurang.
3) Meningkatkan fungsi saraf
Manfaat pijat refleksi selanjutnya adalah dapat membantu meningkatkan fungsi
saraf.
Pijat refleksi dipercaya mampu merangsang lebih dari 7.000 ujung titik saraf yang
berbeda. Hal ini dipercaya dapat membantu merangsang saraf yang sensitivitasnya
berkurang karena faktor usia. Pijat refleksi kaki dipercaya dapat meningkatkan
fungsi saraf sehingga fungsi ekstremitas bawah juga meningkat.
4) Melancarkan sirkulasi darah
Pijat refleksi juga dapat membantu melancarkan sirkulasi darah dalam tubuh.
Darah membawa oksigen yang diangkut ke seluruh tubuh. Asupan oksigen ini
dibutuhkan oleh setiap organ tubuh agar dapat menjalankan fungsinya dengan baik.
Maka dari itu, sirkulasi darah yang lancar sangat penting untuk menjaga fungsi
berbagai organ tubuh.
Selain menjaga fungsi organ, manfaat pijat refleksi satu ini juga membantu
menjaga metabolisme tubuh dan juga regenerasi sel.
5) Meningkatkan kesuburan
Pijat refleksi tidak secara langsung dapat meningkatkan kesuburan, namun tetap
menjadi salah satu cara yang banyak dicoba untuk meningkatkan kemungkinan
kehamilan.
Wanita yang melakukan pijat refleksi dianggap lebih sehat dan dapat memiliki
kondisi tubuh yang lebih baik untuk mempersiapkan kehamilan. Pijat refleksi juga
dipercaya dapat berpengaruh pada siklus menstruasi, ovulasi, dan juga
keseimbangan hormon
6) Mengatasi gangguan tidur
Tidur cukup yang berkualitas sangat menentukan kesehatan seseorang.
Apabila Anda memiliki masalah tidur, pijat refleksi dapat menjadi salah satu cara
Anda untuk mengatasi masalah tersebut. Seperti yang sudah disebutkan
sebelumnya, pijat refleksi dapat membantu Anda lebih rileks dan dapat
menurunkan stres. Hal ini juga dapat membantu Anda untuk mendapatkan kualitas
tidur yang lebih baik.
7) Menurunkan tekanan darah
Tekanan darah tinggi adalah kondisi yang tidak dapat dianggap sepele karena
dapat memicu berbagai penyakit lain, seperti penyakit kardiovaskular.
Beberapa titik papa pijat refleksi kaki dipercaya dapat membantu menurunkan
tekanan darah. Selain menurunkan tekanan darah, titik ini juga dapat membantu
menurunkan kecemasan serta meningkatkan mood.
8) Mengatasi gejala PMS dan menopause
Mengatasi gejala PMS dan menopause juga menjadi salah satu manfaat pijat
refleksi kaki.
Baik PMS maupun menopause merupakan kondisi yang berhubungan dengan
ketidakseimbangan hormon. Sebelumnya sudah disebutkan bahwa manfaat pijat
refleksi salah satunya adalah membantu mengatasi ketidakseimbangan hormon.
9) Membantu mengatasi kanker
Manfaat pijat refleksi memang tidak dapat secara langsung membantu
menyembuhkan kanker, namun pijat refleksi dapat membantu mengatasi beberapa
efek samping dari pengobatan kanker.
Terapi seperti kemoterapi atau terapi radiasi dapat menyebabkan efek samping
seperti masalah pencernaan, muntah, hingga kecemasan. Pijat refleksi dapat
membantu mengurangi efek samping tersebut dan membantu pasien agar dapat
tidur lebih nyenyak.
Pijat refleksi juga dipercaya dapat merangsang aktivitas antioksidan sehingga
membantu memperlambat penyebaran kanker.
10) Baik untuk kesehatan tangan atau kaki
Manfaat pijat refleksi yang terakhir juga tidak kalah penting yaitu dapat
meningkatkan kesehatan tangan dan kaki.
Pijat refleksi tidak hanya memberikan efek pada berbagai organ di dalam tubuh,
tapi tentu juga memberikan efek pada bagian tubuh yang dipijat itu sendiri. Pijat
refleksi kaki dapat merangsang otot kaki dan mengurangi rasa sakit pada
pergelangan kaki dan tumit. Pijat ini juga dapat mengurangi kekakuan otot pada
tangan maupun kaki.
b. Dampak Negatif pijat refleksi
1) Kerusakan Saraf
Banyak pakar yang memperingatkan bahwa pijat dapat menyebabkan kerusakan
saraf, meskipun jarang dilakukan. Richard Brassaw dari situs Disability Happens
mengutip penelitian yang dilakukan oleh Arizona May Clinic yang mengungkapkan
bahwa pijat terlalu dalam dan kencang bisa menyebabkan kerusakan saraf di area
leher dan bahu. Kerusakan bisa terjadi jika terapis memberikan tekanan pijat yang
berlebihan.
2) Alergi
Saat melakukan pijat, banyak terapis yang memadukannya dengan minyak pijat,
lotion atau minyak aromaterapi yang ternyata bisa memicu reaksi alergi. Hal ini
bisa diatasi dengan mencoba terlebih dulu minyak pijat pada punggung tangan
untuk mengetahui adanya reaksi alergi, sebelum akhirnya diaplikasikan ke seluruh
tubuh Anda.
3) Gula Darah Rendah
The University of Maryland Medical Center (UMMC) menyarankan agar
penderita diabetes untuk memeriksa tekanan gula darah sehabis pijat. Terapi pijat
terkadang bisa membuat tekanan gula darah menurun. UMMC juga
merekomendasikan bahwa penderita diabetes yang suka pijat secara rutin, juga
harus membuat grafik untuk melihat pola dari gula darahnya.

4) Gumpalan Darah
Terapi pijat bisa berbahaya bagi mereka yang memiliki gumpalan darah dalam
tubuh. Dengan pijat, gumpalan darah tersebut bisa berpindah tempat ke jantung
atau otak sehingga dapat menyebabkan serangan jantung dan stroke. Hal tersebut
dikemukakan oleh situs kesehatan Body Worker.
5) Cidera
Terapis pijat yang kurang profesional bisa berpeluang memberikan luka selama
perawatan. Namun spesialis rehabilitasi fisik Dr Robert Gotlin, yang bekerja di
Beth Israel Medical Center di New York, mengatakan bahwa masalah biasanya
muncul ketika orang yang dipijat sudah luka atau bermasalah. Cidera akibat terapis
yang tak profesional, cenderung berisiko rendah karena sebelum menjadi terapi
mereka harus mendapatkan lisensi yang sah dan Anda berhak untuk melihat lisensi
tersebut.
6) Rasa Sakit
Beberapa jenis teknik pijat bisa menimbulkan rasa nyeri sehari setelah melakukan
pemijatan. Teknik pijat melibatkan berbagai tekanan, baik lembut dan kuat.
Biasanya teknik itu bertujuan untuk mengobati luka atau jaringan otot. Pijat
seharusnya tidak menyakitkan, terlepas dari apapun teknik pijatannya. Jika saat
dipijat Anda merasakan sakit, sebaiknya segera beritahu terapis agar ia dapat
memberikan tekanan yang bisa ditolerir oleh tubuh.
7) Kulit dan Otot Tidak Sensitif
Ketika pijatan tidak tepat atau salah sasaran maka akan berakibat tingkat
kesensitifan kulit dan otot Anda akan berkurang atau bahkan hilang sama sekali.
Dengan kata lain, kita tidak lagi bisa merespon sentuhan dengan baik. Hal ini dapat
menjadi gangguan yang cukup merugikan, terutama bagi Anda yang sudah
berumah tangga.

2.1.5 Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pemilihan terhadap Pijat Refleksi

a. Faktor Pengetahuan
Pijat refleksi adalah alternatif pengobatan lain yang tidak sama dengan dukun.

b. Faktor Budaya
Manusia pada dasarnya adalah makhluk budaya yang harus membudayakan
dirinya terhadap kebutuhan dasarnya, dimana kebudayaan merupakan keseluruhan
yang kompleks yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, tingkah
laku, kebiasaan, kesenian, moral, hukum, adatistiadat dan kemampuan-
kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat (Mubarak,
2009). Umumnya responden menyatakan bahwa terapi alternatif pijat refleksi
dipilih karena merupakan dari kebudayaan kuno yang sudah diakui oleh
kebanyakan orang sehingga mereka percaya terapi alternatif pijat refleksi dapat
menyembuhkan keluhan yang diderita mereka.

c. Faktor Psikologi
Dibutuhkan pendekatan yang holistik dalam menghadapi individu yang
membutuhkan pelayanan kesehatan (Maramis, 2006). Berdasarkan hasil penelitian
diperoleh data dari aspek faktor psikologi umumnya klien memilih terapi
alternatif pijat refleksi menyatakan mereka merasa nyaman setelah melakukan
pijat refleksi dan selama pijat refleksi tidak ada keluhan yang dirasakan.

d. Faktor Persepsi tentang Sakit dan Penyakit


Hasil penelitian menggambarkan tentang persepsi sakit dan penyakit, mereka
menyatakan bahwa terapi alternatif pijat refleksi dan medis merupakan terapi
yang saling melengkapi untuk kesehatan
.
e. Faktor Ekonomi
Penyebab klien memilih terapi alternatif pijat refleksi karena biayanya yang
murah dan waktu reaksi dari terapi alternatif pijat refleksi yang dirasakan cepat.

f. Faktor Manfaat dan Keberhasilan


Menurut Nirmala (2004) dan Pamungkas (2009) menjelaskan seseorang yang
hanya sekali pijat belum tentu dapat sembuh dari penyakitnya, namun diperlukan
waktu yang cukup dan biasanya sakit dapat berangsur-angsur sembuh atau
berkurang dengan rajin pijat. Tujuan utama dari terapi alternatif pijat refleksi ini
untuk kebugaran, tetapi secara tidak langsung dapat mencegah penyakit. Biasanya
setelah melakukan pijat refleksi, penyakit jarang kambuh
g. Faktor Kejenuhan terhadap Pelayanan Medis
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data bahwa faktor kejenuhan terhadap
pelayanan medis merupakan alasan responden untuk memilih terapi ini. Mereka
sudah sering berobat ke dokter sebelum mencoba terapi alternatif pijat refleksi,
namun mereka merasa jenuh dan mereka tidak puas dengan terapi komunikasi dari
pelayanan kesehatan medis.
Responden juga mengeluhkan proses terapi yang terlalu lama dari pelayanan
medis. Hal itu menyebabkan mereka bosan menerima peran sebagai pasien, dan
ingin segera mengakhirinya. Oleh karena itu klien berusaha mencari alternative
terapi lain yang mempercepat penyembuhannya atau hanya memperingan rasa
sakitnya (Foster dan Anderson, 1986)
2.2 Transfer penyakit media binatang
Suatu ritual penyembuhan tradisional yang menggunakan media berupa
binatang untuk mentransfer penyakit pasien. media binatang dapat berupa kelinci,
bulus, anjing dan kambing.

2.2.1 Sejarah Transfer penyakit media binatang

Transfer penyakit melalui media Pada awalnya, media yang digunakan


kelinci dan bulus. Namun karena kelinci semakin lama semakin berkurang dan
pasien juga menginginkan media yang lebih besar agar cepat sembuh, maka
digunakanlah kambing dan anjing sebagai media transfer penyakit. Biasanya
kambing dan anjing digunakan untuk penyakit yang sudah berat /kronik.
Pemilihan jenis binatang ini didasari oleh laksa yaitu daya tampung organ tubuh
yang cukup besar sebagai media. Di antara kambing atau anjing, tidak ada
perbedaan tingkatan jenis penyakit. Anjing digunakan sebagai media transfer
jika pasien tidak mampu membeli kambing, yang harganya memang jauh lebih
mahal. Dari segi daya tampung, anjing tidak begitu jauh berbeda dengan
kambing.

Kelinci digunakan untuk penyakit yang lebih ringan dengan pertimbangan


laksa untuk transfer penyakit lebih sedikit. Keli nci juga digunakan sebagai
media pembersihan, artinya jika sesudah melakukan transfer kambing atau
anjing, selanjutnya transfer digunakan kelinci untuk membersihkan sisa -sisa
penyakit yang masih ada. Ada satu lagi binatang yang digunakan untuk proses
transfer penyakit yaitu bulus. Biasanya bulus digunakan untuk penyakit jantung.
Namun tidak semua pasien dengan penyakit jantung menggunakan bulus karena
binatang ini sulit diperoleh. Penggunaan bulus sebagai media penyembuhan
didasari oleh pertimbangan bahwa b ulus dikenal memiliki energi yang cukup
besar. Bulus hidup di dua alam yaitu darat dan air.

Penggunaan media air sebagai media penyembuhan juga muncul karena


masyarakat membutuhkan sesuatu yang nyata ketika berobat. Minyak Jafaron
yang selama penyembuhan juga digunakan, merupakan media untuk
memberikan sugesti kepada pasien. Sugesti penting karena melalui sugesti
seseorang bisa ditumbuhkan kepercayaannya. Inilah yang menjadi dasar utama
penyembuhan holistik di TT oleh S dan kawan-kawan. Pemilihan binatang
sebagai media didasari oleh pertimbangan ekonomi. Semakin besar laksa suatu
binatang, maka transfer penyakit bisa lebih total, sehingga paguyuban memilih
kambing, anjing dan kelinci sebagai media transfer.

Transfer Kambing dan Anjing, transfer penyakit dengan media ada dua
macam, meliputi: transfer kambing dan anjing. Prosesi transfer kambing dan
anjing dilakukan di pendopo tempat penyembuhan TT.
2.2.2 Langkah Penyembuhan Penyakit Media Binatang
Transfer penyakit melalui media. Pada awalnya, media yang digunakan
kelinci dan bulus. Namun karena kelinci semakin lama semakin berkurang
dan pasien juga menginginkan media yang lebih besar agar cepat sembuh,
maka digunakanlah kambing dan anjing sebagai media transfer penyakit.
Biasanya kambing dan anjing digunakan untuk penyakit yang sudah berat
/kronik. Pemilihan jenis binatang ini didasari oleh laksa yaitu daya tampung
organ tubuh yang cukup besar sebagai media. Di antara kambing atau anjing,
tidak ada perbedaan tingkatan jenis penyakit. Anjing digunakan sebagai
media transfer jika pasien tidak mampu membeli kambing, yang harganya
memang jauh lebih mahal. Dari segi daya tampung, anjing tidak begitu jauh
berbeda dengan kambing.
Kelinci digunakan untuk penyakit yang lebih ringan dengan
pertimbangan laksa untuk transfer penyakit lebih sedikit. Keli nci juga
digunakan sebagai media pembersihan, artinya jika sesudah melakukan
transfer kambing atau anjing, selanjutnya transfer digunakan kelinci untuk
membersihkan sisa -sisa penyakit yang masih ada. Ada satu lagi binatang
yang digunakan untuk proses trans fer penyakit yaitu bulus. Biasanya bulus
digunakan untuk penyakit jantung. Namun tidak semua pasien dengan
penyakit jantung menggunakan bulus karena binatang ini sulit diperoleh.
Penggunaan bulus sebagai media penyembuhan didasari oleh pertimbangan
bahwa b ulus dikenal memiliki energi yang cukup besar. Bulus hidup di dua
alam yaitu darat dan air.
Penggunaan media air sebagai media penyembuhan juga muncul karena
masyarakat membutuhkan sesuatu yang nyata ketika berobat. Minyak
Jafaron yang selama penyembuhan juga digunakan, merupakan media untuk
memberikan sugesti kepada pasien. Sugesti penting karena melalui sugesti
seseorang bisa ditumbuhkan kepercayaannya. Inilah yang menjadi dasar
utama penyembuhan holistik di TT oleh S dan kawan-kawan. Pemilihan
binatang sebagai media didasari oleh pertimbangan ekonomi. Semakin besar
laksa suatu binatang, maka transfer penyakit bisa lebih total, sehingga
paguyuban memilih kambing, anjing dan kelinci sebagai media transfer.
Transfer Kambing dan Anjing, transfer penyakit dengan media ada dua
macam, meliputi: transfer kambing dan anjing. Prosesi transfer kambing dan
anjing dilakukan di pendopo tempat penyembuhan TT. Sebelum ritual
dimulai, ada beberapa persiapan yang harus dilakukan. Pertama, tikar
panjang digelar menghadap ke arah Timur. Di setiap ujung tikar
ditaruh empat anglo kecil dengan tiga buah dupa di setiap anglonya.
Keempat anglo ini berfungsi sebagai “pagar”. Di depan tikar tersebut juga
ditaruh sebuah anglo besar
lengkap dengan arang, kemenyan dan dupa. Saat anglo tersebut
dinyalakan, penyembuh meneteskan minyak Jafaron kedalamnya beberapa
kali. Kambing atau anjing yang digunakan diikat ke empat kakinya dan
diletakkan di dekat anglo besar. Untuk prosesi pentransferan ini sendiri,
dilakukan oleh 2 -4 penyembuh. Satu orang memegang binatang tersebut
(kambing/anjing), satu atau dua orang berada di belakang pasien, satu orang
lagi sebagai pemimpin upacara. Pasien duduk di tikar dengan posisi duduk
timpuh atau bersila kemudian diberi minyak Jafaron di bagian dahinya oleh
pemimpin upacara. Pasien ditanya agamanya dan disuruh berdoa menurut
keyakinannya. Jika pasien yang sakit hanya diwakili foto, maka di kartu
pasien dan foto tersebut juga diberi minyak Jafaron. Hal ini untuk
menambah konsentrasi pasien dalam penyembuhan.

Ketika upacara berlangsung, seorang penyembuh mulai berkonsentrasi


untuk melakukan ritual. Ia berdiri menghadap ke Timur dengan
menjentikkan jari satu kali atau tiga kali untuk memanggil kekuatan gaib.
Kemudian ia memulai gerakan -gerakan tangan seperti orang menari dan
memegang kepala kambing atau anjing yang digunakan sebagai media,
sambil berdoa bagi pasien yang diwakili foto. Pemimpin upacara
memegang foto pasien sambil berdoa. Posisi Jongkok sambil memegang
kepala kambing/anjing, kemudian berpindah ke perut, kembali ke kepala
dan ke perut. Selesai memegang bagian tubuh kambing atau anjing,
pemimpin upacara menggerak -gerakkan dupa yang ada di anglo besar,
memutar mengelilingi kepala dan seluruh tubuh kambing atau anjing
tersebut beberapa kali.. Setelah itu kambing atau anjing disembelih oleh
petugas lain. Selesai disembelih, dibuka bagian tubuhnya dan dikeluarkan
organ -organ kambing atau anjing oleh petugas. Pasien yang melakukan
transfer disuruh untuk mendekat ke kambing atau anjing, untuk
mendengarkan pen jelasan dari petugas.
Penjelasan mengenai bagian organ binatang sebagai media transfer, jika di
bagian jantung terdapat sayatan, menandakan pasien menderita sakit.
Apabila di bagian hati terdapat warna putih seperti butiran beras dan keras,
warna putih me nandakan penyakit yang diderita oleh pasien. Demikian juga
penyembuh menjelaskan warna organ. Organ yang segar dan masih bagus
berwarna merah marun menunjukkan sehat. Sebaliknya jika berwarna
keunguan atau warna lain menandakan organ tersebut tidak sehat. Ginjal
bisa diibaratkan penyaring darah, sehingga jika diiris dengan pisau
seharusnya darah akan mengucur keluar. Sebaliknya, jika organ diiris tidak
mengeluarkan darah berarti ginjal tidak bisa berfungsi dengan baik. Di
bagian usus, jika terdapat batu ker ikil, menunjukkan di tubuh pasien ada
penyakit.
Prosesi selanjutnya, pelarungan organ tersebut di sungai harus dilakukan
secara perlahan - lahan atau dengan cara yang halus, tidak boleh dibuang
atau dilempar dari atas jembatan. Organ yang ada di dalam plastik harus
dikeluarkan, dipegang dengan kedua tangan dan secara perlahan
dihanyutkan. Saat dipegang, pasien harus berdoa sesuai dengan
keyakinannya. Bagi pasien yang tidak bisa datang dalam proses
penyembuhan atau penyembuhan melalui foto, pihak keluarga yang
mewakili harus mengucapkan nama lengkap pasien saat melarung organ ke
sungai.
Biasanya setelah transfer, penyembuh meminta kepada pasien untuk
datang tiga hari lagi guna melihat perubahan yang terjadi. Namun jika
dirasakan sudah cukup, maka tidak perlu dilakukan transfer. Setelah
transfer dengan media kambing atau anjing, penyembuhan berikutnya
dilakukan dengan transfer kelinci untuk membersihkan penyakit yang
masih tertinggal di tubuh pasien. Banyak atau tidaknya transfer yang
dilakukan tergantung dari ke yakinan pasien. Jika pasien yakin akan
mendapatkan kesembuhan, dengan 2 -3 kali transfer, biasanya sembuh.
Proses transfer dengan kambing dan anjing dapat dilihat pada gambar 3.
Transfer Kelinci, biasanya dilakukan secara bersama -sama dari beberapa
pasien. Setelah semua persyaratan terpenuhi, pasien dipanggil ke ruangan
yang digunakan untuk terapi. Di dalam ruangan tersebut, setiap pasien diberi
kelinci. Cara memegang kelinci oleh pasien yaitu tangan kanan dan tangan
kiri masing -masing memegang kaki depan da n kaki belakang kelinci
sehingga kelinci dalam posisi telentang. Kemudian penyembuh mengoleskan
minyak Jafaron di bagian kening dan perut kelinci serta di kening pasien.
Sebelum memulai transfer, penyembuh memberitahu apa yang harus
dilakukan oleh pasien. Sambil memejamkan mata, pasien diminta untuk
berdoa, sesuai dengan agamanya masing-masing. Ketika pasien tengah
berdoa, penyembuh juga melakukan hal yang sama, mengucapkan doa
disertai dengan gerakan -gerakan tangan dan tubuh guna mengumpulkan
energi yang d ibutuhkan untuk transfer. Gerakan -gerakan ini hanya
dilakukan selama + 5 menit. Penyembuh kemudian mendatangi pasien satu
persatu. Penyembuh memegang perut kelinci sebentar, sembari membaca
sekilas catatan kesehatan pasien untuk didoakan lagi oleh penyembu h.
Gambar 3.

Transfer kambing dan anjing: 1 -2 upacara transfer penyakit pasien ke


binatang. 3 -4. penyembelihan. 5. mengeringkan darah. 6.
mengeluarkan organ. 7. melarung
organ
Sumber : foto yang diambil oleh penulis (bagian dari data disertasi penulis,
2008)

Setelah ritual transfer selesai, pasien pergi ke halaman belakang untuk


melakukan penyembelihan kelinci. Setiap pasien tetap memegang kelincinya
masing -masing.

Penyembelihan kelinci dilaku kan di bawah pohon. Di sana ada lubang


khusus untuk menampung darah kelinci. Penyembelihan dilakukan oleh
petugas yang bertugas membuka perut kelinci. Satu persatu pasien
menyodorkan kelincinya. Pasien tetap memegang sendiri kelincinya ketika
penyembelihan dilakukan. Kepala kelinci dipegang oleh petugas, sedangkan
kaki belakang kelinci dipegang oleh pasien sendiri. Setelah penyembelihan
selesai, pasien membawa kelinci tersebut kepada petugas yang lain agar
organ kelincinya bisa dikeluarkan. Pada waktu membu ka perut kelinci,
petugas meminta kepada pasien untuk tetap memegang kaki depan kelinci,
sedangkan kaki belakang dipegang oleh petugas. Posisi kelinci tetap
telentang.
Setelah semua isi perut kelinci dikeluarkan, penyembuh menjelaskan
setiap organ tubuh yang ada dengan penjelasan yang sama untuk transfer
kambing dan anjing. Organ kelinci dimasukkan ke dalam kantung plastik
berwarna hitam dan harus tetap dibiarkan terbuka. Bagian kulit dan daging
kelinci tetap dibiarkan berada di luar, ditumpuk jadi satu de ngan kelinci-
kelinci yang lain.
Denyut jantung kelinci minimal berhenti setelah dua jam, namun bisa juga
lebih dari empat jam. Hal ini tergantung dengan berat atau ringannya
penyakit pasien.
“Pernah ada pasien yang denyut jantung kelincinya baru berhenti setelah 24 jam
dan pasien tersebut benar-benar menunggu di pendopo dengan setia”, kata
petugas. Proses penyembuhan dengan kelinci tampak dalam Gambar

2.2.3 Manfaat dan tujuan transfer penyakit pada binatang

a. Tujuan
1) Untuk mengetahui apa penyakit yang diderita pasien
2) Supaya penyakit sembuh tanpa harus ke rumah sakit
3) Agar waktu penyembuhan tidak terlalu lama
4) Dapat menyembuhkan semua penyakit

b. Manfaat
1) Metode pengobatan dengan memindahkan penyakit ke hewan ini lebih
efektif, efisien dan aman.
2) dapat menyembuhkan / menghilangkan semua jenis penyakit, baik penyakit
medis ataupun non medis.
3) Metode ini tidak ada efek sampingnya, tidak dengan operasi atau tidak
meminum obat-obatan tertentu

2.2.4 Dampak Transfer Penyakit Media Binatang


a. tipu muslihat
Setidaknya ada 4 (empat) poin yang harus kita diperhatikan dalam masalah ini..

Pertama : Cara seperti ini tentu saja belum terjamah oleh pengobatan modern..

Kedua : Mendzolimi hewan dan mendapat ancaman dilaknat oleh Allah ta’ala..
‫ي َعبَّاس ابْن َو َعن‬
َ ‫للَاه َرض‬ َّ َ ‫ي أ َ َّن ; َع ْن هه َما‬
َّ ‫قَا َل – وسلم عليه هللا صلى – اَلنَّب‬: – “‫شيْئا تَتَّخذهوا َل‬
َ ‫فيه‬
‫لرو هح‬ َ
ُّ ‫همسْلم َر َواهه – ”غ ََرضا ا‬

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwasanya


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah menjadikan hewan
yang bernyawa itu sebagai sasaran.” [HR. Muslim no. 1957]

Imam Nawawi menjelaskan, “Larangan dalam hadits ini sampai tingkatan


haram. Untuk itulah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam riwayat Ibnu
Umar bersabda, “Allah melaknat orang yang melakukan ini, karena ini adalah
penyiksaan terhadap binatang.” [Syarh Nawawi ‘ala Shahih Muslim 13/108]

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,

‫شيْئا ات َّ َخذَ َمن لَعَنَ وسلم عليه هللا صلى هللا رسو َل إ َّن‬
َ ‫الر ْو هح فيْه‬
ُّ ‫غ َْرضا‬

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah melaknat orang


yang menjadikan makhluk bernyawa sebagai sasaran.” [Muttafaq ‘alaih]

Ketiga : Korban dukun asli..

Praktik pengobatan seperti ini tidak lain dan tidak bukan hanyalah konspirasi
iblis melalui tangan-tangan dukun.

Berdasarkan pengalaman praktisi ruqyah syar’iyyah, ada pengakuan dari jin


mengenai “keberhasilan” pengobatan tersebut..

Yakni terdapat dua kelompok jin yang bertugas dalam hal ini..

Satu kelompok jin masuk ke tubuh hewan untuk menyakiti dan merusak
bagian-bagian atau organ-organ tubuh sesuai dengan organ tubuh pasien yang
diduga sakit..

Kelompok jin yang lainnya bertugas masuk ke tubuh pasien untuk menahan
syaraf-syaraf rasa sakit pada organnya sehingga pasien tidak lagi merasakan
sakit dan menganggapnya sudah sembuh..

Keempat : Korban dukun palsu..

Bisa jadi yang Anda kunjungi hanyalah dukun palsu. Sedangkan Anda telah
mengeluarkan biaya yang tidak sedikit..

b. Bahaya perdukunan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

‫ساحرا أَ ْو كَاهنا أَت َى َم ْن‬ َ َ‫صلَّى هم َح َّمد َعلَى أ ه ْنز َل ب َما َكفَ َر فَقَدْ يَقه ْوله؛ ب َما ف‬
َ ‫صدَّقَهه‬ َ ‫سلَّ َم َعلَيْه هللاه‬
َ ‫َو‬
“Barangsiapa mendatangi dukun atau tukang sihir lalu mempercayai apa yang
dikatakannya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

[HR. Al-Bazzar, 5/315 no. 1931 dari Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu dan
sanadnya dinilai shahih oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya 1/393 dan al-Albani
dalam Shahihul Jami’ 2/956]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah memberikan ancaman


walaupun hanya sekedar bertanya kepada dukun :

‫سأَلَهه َع َّرافا أَت َى َم ْن‬ َ َ‫لَ ْيلَة أ َ ْربَعين‬


َ ‫ص ََلة لَهه ت ه ْقبَ ْل لَ ْم‬
َ َ‫ش ْيء؛ َع ْن ف‬

“Barangsiapa mendatangi peramal lalu ia bertanya tentang sesuatu kepadanya,


maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh malam.”

[HR. Muslim, 4/1751 no. 2230 dari sebagian istri Rasul shallallahu ‘alaihi wa
sallam]

2.2.5 Faktor-Faktor Penghambat dan Pendorong Transfer Penyakit Media


Binatang
a. Faktor pengetahuan dan pengalaman
Menurut Suchman (Foster 1986:184-191), dua hal yang dianggap
cukup berpengaruh dalam pengambilan keputusan terhadap pemilihan jenis
pengobatan ialah pengetahuan dan pengalaman. Ketika pengetahuan
seseorang terhadap penyakit sangatlah minim bisa jadi ia akan membuat
keputusan memilih pengobatan yang kurang tepat untuk mengatasi
penyakitnya. Sebaliknya ketika seseorang mengerti dengan baik tentang
penyakit yang diderita, maka keputusankeputusan berobat yang diambil
akan memberikan manfaat bagi dirinya.
Beberapa keputusan tentang masalah kesehatan juga diambil
berdasarkan pengalaman, dimana ketika seseorang merasa memiliki
pengalaman buruk terhadap suatu jenis pengobatan tertentu, maka ada
kecenderungan ia tidak akan menggunakan pengobatan tersebut untuk kedua
kalinya (Lumenta 1989:95-96). Faktor pengetahuan dan pengalaman
dijadikan dasar oleh seseorang ketika memutuskan untuk memilih jenis
pengobatan yang dianggap sesuai. Sebelum memilih, pada umumnya ia dan
keluarga akan melihat seberapa parah penyakit yang dideritanya,
berdasarkan gejala. Dari gejala-gejala yang timbul, ia kemudian akan
mencari pertolongan ke tempat pengobatan yang dianggap dapat
memulihkan kondisinya. Jika mereka kemudian tidak yakin dengan suatu
jenis pengobatan tertentu, maka mereka akan mencoba untuk menggunakan
jenis pengobatan lainnya.
b. Tingkat keparahan penyakit
Menurut James C. Young (Kasniyah 1983:28-33, Kasniyah 1983:34-
39, Dyson 1988:21), tingkat keparahan penyakit merupakan bahan
pertimbangan utama dalam pemilihan jenis perawatan kesehatan. Begitu
juga dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kasniyah dalam
penanggulangan penyakit anak-anak pada masyarakat pedesaan Jawa pada
tahun 1983 dan penelitian yang dilakukan Dyson mengenai pola tingkah
laku masyarakat dalam mencari kesembuhan pada tahun 1988.
Pada kasus pemilihan penggunaan pengobatan transfer penyakit
sebagai alternatif atau komplementer dari pengobatan medis-modern juga
dipengaruhi oleh tingkat keparahan penyakit yang dapat dilihat dari gejala
penyakitnya dan lama menderita penyakit tersebut. Hal ini mengakibatkan
penderita mencari berbagai alternatif dan akhirnya menjatuhkan pilihannya
kepada pengobatan transfer penyakit.
c. Kepercayaan atau keyakinan akan keefektifan pengobatan

Salah satu kriteria yang digunakan seseorang untuk memilih jenis


pengobatan ialah berdasarkan pada keyakinan akan keefektifan dari sistem
perawatan kesehatan tersebut. Umumnya seseorang akan membandingkan
keefektifan antara pengobatan yang satu dengan yang lain termasuk
pengobatan tradisional dengan pengobatan medis-modern. Keyakinan
tentang keefektifan suatu jenis pengobatan biasanya muncul dari
pengalaman khusus, ataupun pengetahuan yang berkaitan dengan metode
pengobatan tersebut, karena keyakinan atau kepercayaan dapat tumbuh jika
berulangkali mendapatkan informasi yang sama (Sarwono 1993:14).
Keputusan untuk melakukan pengobatan juga dibuat berdasarkan pada
pengalaman dan kebiasaan seseorang di masa lalu. Oleh karena itu,
keyakinan terhadap keefektifan pengobatan sifatnya sangat subjektif,
bergantung pada pengalaman dan pengetahuan masing-masing individu.

d. Faktor ekonomi
Faktor ekonomi mempunyai peranan besar dalam pengambilan keputusan
akan pemilihan jenis perawatan kesehatan. Beralihnya penggunaan medis-
modern ke pengobatan alternatif dikarenakan besarnya biaya yang harus
dikeluarkan pasien ketika berobat ke rumah sakit, sementara Pengobatan
transfer penyakit “A” yang tidak memungut biaya, atau hanya memberikan
biaya sukarela baik terhadap penyakit berat atau ringan, anak kecil atau
dewasa, membuat seseorang memilih untuk melakukan pengobatan di sana
karena orang yang berobat bebas menentukan biaya pengobatan sesuai
dengan kemampuannya.
e. Faktor social
Dalam rangka menentukan jenis pengobatan yang akan dipilih,
seseorang akan mencari informasi mengenai keberhasilan terhadap orang-
orang yang mengalami gejala yang sama ketika melakukan pengobatan
tersebut sebelumnya. Informasi tentang pengobatan tersebut diperoleh para
informan melalui dua cara, yaitu: dorongan dari kerabat untuk menggunakan
pengobatan tersebut, sehingga tidak sanggup menolak saran tersebut,
dan/atau informasi didapatkan dengan cara getok tular. Dorongan Kerabat
Foster dan Anderson (2006:49) menyatakan bahwa pada masyarakat non-
Barat, pengambilan keputusan akan jenis perawatan kesehatan dipengaruhi
oleh kerabat maupun orang-orang terdekat dari penderita sakit. Ketika salah
satu anggota keluarga ada yang sakit, maka anggota keluarga yang lain serta
orang-orang terdekat turut memberikan pilihan terhadap jenis pengobatan
yang digunakan.
BAB III
3.1 KESIMPULAN
Sistem pengobatan tradisional merupakan fenomena sosial budaya yang telah
menyatu dalam kehidupan masyarakat. Sistem tersebut sekarang digunakan oleh
masyarakat untuk mengatasi berbagai penyakit baik di desa maupun di kota-kota
besar. Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan tidak mampu menghilangkan
arti pengobatan tradisional, dan tenaga kerja yang diwakili oleh ahli pengobatan
tradisional adalah sumber yang sangat potensial dari perawatan kesehatan.
Di negara-negara seperti Cina, India, Vietnam, Jepang dan Srilangka, pen
gobatan tradisional telah diakui dan dijadikan lembaga resmi secara nasional oleh
pemerintah negara -negara tersebut. Di Indonesia, rupa-rupanya praktik
pengobatan tradisional secara resmi belum mendapat pengakuan dari lembaga
pemerintah. Namun pengobatan tradisional semakin berkembang sekarang
walaupun masih dalam tingkat rumah tangga dan masyarakat.
Semakin maraknya penyembuhan tradisional, berbagai praktik pijat refleksi
dan transfer penyakit melalui binatang sebenarnya telah ada sejak dahulu,
sekarang menjadi diminati lagi oleh masyarakat untuk alternatif solusi perawatan
penyakit. Para penyembuh sendiri biasanya mendapat kepandaian tersebut melalui
belajar, namun terutama justru karena bakat yang menurun dari garis keturunan
baik melalui garis patrilineal maupun matrilineal.
Pijat refleksi adalah cara memijat tangan dan kaki serta anggota tubuh yang
lain dengan mengarah pada titik pusat urat-urat saraf. Banyak cara untuk memijat
ada yang menekan keras, sedang, dan ringan.Pijat refleksi sebagai metode
penyembuhan tradisional model H merupakan metode untuk mendeteksi penyakit
pasien, mendiagnosis dan untuk kemudian menentukan penyakit dan terapinya.
Memijat ada juga yang mengunakan beras tujuannya agar beras tersebut bisa
menekan terus menerus pada daerah yang sakit. Ada juga yang mengunakan
benda yang tumpul, ada juga yang mengunakan api rokok yang agak di dekat kan
pada daerah yang sakit dan di ulangi beberapa kali tapi awas jangan sampe
terbakar.Memijat bisa juga menggunakan minyak. Hal ini bertujuan agar kulit
tidak lecet ketika di pijat.
Tradisi pengobatan dengan menggunakan hewan di dalam masyarakat salah
satunya adalah transfer penyakit dengan media binatang. Pengobatan ini
menggunakan berbagai jenis hewan yang terdapat di sekitarnya. Tradisi tersebut
kemungkinan sudah berlangsung dari generasi ke generasi.
Tidak ada dasar yang pasti (logika) mengenai pengobatan tersebut. Beberapa
alasan dilakukannya pengobatan dengan hewan yaitu karena tradisi/ kebiasaan dan
adanya unsur mistis. Logika yang lain ialah logika transisi, yaitu menganggap hal-
hal yang ada pada hewan dapat diambil dan dimanfaatkan pada manusia

3.2 SARAN dan KRITIKAN


Kami menyadari bahwa makalah kami masih jauh dari kata sempurna,
kedepannya kami akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang
makalah di atas dengan sumber - sumber yang lebih banyak yang tentunya dapat
di pertanggung jawabkan.
Untuk saran bisa berisi kritik atau saran terhadap penulisan dan juga bisa
untuk menanggapi terhadap kesimpulan dari bahasan makalah yang telah kami
jelaskan. Untuk bagian terakhir dari makalah adalah daftar pustaka. Semoga
dengan adanya makalah kami dapat menambah ilmu pengetahuan kita semua.
DAFTAR PUSTAKA
Agoes, A. (1996) Antropologi Kesehatan Indonesia Jilid I, Pengobatan Tradisional .
Jakarta: Buku Kedokteran B.G.C.
Foster, G.M. & Anderson, B. (1986) Antropologi Kesehatan . UI Press: Jakarta.
Leslie, C. (ed). (1977) Asian Medical Systems , a Comperatif Study. Berkeley: University of
California Press.
Mark. S. (tanpa tahun) Penemuan Baru Kesembuhan Melalui Pijat Refleksi . Surabaya:
MAWAR.
Ngunyen (1995) CHROMASSI: A Therapy Advice System Based On Chrono Massage and
Acupression Using the Metho d of Zi Wu Liu Zhu. Medinfo 8(2):998. Shi, P.Y. (1995)
Traditional Chinese Medicine (TCM) Expert System in Postpartum Nursing. Medinfo
8(2):1032.
Winston, C.M., Patel, V., Musonza,T., & Nyathi, Z. (1995) A Community Survey of Traditional
Practitioners in High Density Suburbs of Harere. Cent-Afr-J-Med 41(9):278-283.