Anda di halaman 1dari 5

PENGELOLAAN KEGAWATDARURATAN BENCANA 4Cs

(COMMAND, CONTROL, COORDINATION, COMMUNICATION)

A. COMMAND
Sistem Komando Tanggap Darurat Bencana adalah suatu sistem penanganan
darurat bencana yang digunakan oleh semua instansi/lembaga dengan mengintegrasikan
pemanfaatan sumberdaya manusia, peralatan dan anggaran.
Komando Tanggap Darurat Bencana adalah organisasi penanganan tanggap darurat
bencana yang dipimpin oleh seorang Komandan Tanggap Darurat Bencana dan dibantu
oleh Staf Komando dan Staf Umum, memiliki struktur organisasi standar yang menganut
satu komando dengan mata rantai dan garis komando yang jelas dan memiliki satu kesatuan
komando dalam mengkoordinasikan instansi/lembaga/organisasi terkait untuk pengerahan
sumberdaya.
Sistematika Pedoman Komando Tanggap Darurat Bencana ini disusun dengan
sistematika sebagai berikut:
1. Pendahuluan
2. Tahapan pembentukan komando tanggap darurat bencana
3. Organisasi dan tata kerja komando tanggap darurat bencana
4. Pola penyelenggaran sistem komando tanggap darurat bencana
5. Evaluasi dan pelaporan
6. Penutup.

Tahapan pembentukan komando tanggap darurat bencana dibawah ini adalah:

1. Terbentuknya Komando Tanggap Darurat Bencana meliputi tahapan yang terdiri dari:
a. Informasi Kejadian Awal
b. Penugasan Tim Reaksi Cepat (TRC)
c. Penetapan Status/Tingkat Bencana
d. Pembentukan Komando Tanggap Darurat Bencana
B. COORDINATION
Koordinasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah perihal mengatur
suatu organisasi atau kegiatan sehingga peraturan dan tindakan yang akan dilaksanakan
tidak saling bertentangan atau simpang siur. Dalam pengertian lain, koordinasi merupakan
usaha untuk mengharmoniskan atau menserasikan seluruh kegiatan sehingga dapat
mencapai tujuan yang diharapkan. Keharmonisan dan keserasian selalu diciptakan baik
terhadap tugas-tugas yang bersifat teknis, komersial, finansial, personalia maupun
administrasi.
Menurut UU No. 24 tahun 2007 tentang bencana bahwa kegiatan koordinasi
merupakan salah satu fungsi Unsur Pelaksana Penanggulangan Bencana. Unsur pelaksana
juga melaksanakan fungsi komando dan sebagai pelaksana dalam penyelenggaraan
penanggulangan bencana.
Menurut Handayaningrat (2005), koordinasi mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Bahwa tanggungjawab koordinasi adalah terletak pada pimpinan. Koordinasi adalah
merupakan tugas pimpinan. Koordinasi sering disamakan dengan kata koperasi yang
sebenarnya mempunyai arti yang berbeda. Pimpinan tidak mungkin mengadakan
koordinasi apabila tidak melakukan kerjasama. Kerjasama merupakan suatu syarat
yang sangat penting dalam membantu pelaksanaan koordinasi.
2. Adanya proses (continues process). Karena koordinasi adalah pekerjaan
pimpinan yang bersifat berkesinambungan dan harus dikembangkan sehingga
tujuan dapat tercapai dengan baik.
3. Pengaturan secara teratur usaha kelompok. Koordinasi adalah konsep yang
ditetapkan di dalam kelompok, bukan terhadap usaha individu, sejumlah individu
yang bekerjasama, dengan koordinasi menghasilkan suatu usaha kelompok yang
sangat penting untuk mencapai efisiensi dalam melaksanakan kegiatan
organisasi. Adanya tumpang tindih, kekaburan dalam tugas-tugas pekerjaan
merupakan pertanda kurang sempurnanya koordinasi.
4. konsep kesatuan tindakan adalah merupakan inti dari koordinasi. Kesatuan
usaha, berarti bahwa harus mengatur sedemikian rupa usaha-usaha tiap kegiatan
individu sehingga terdapat keserasian di dalam mencapai hasil.
5. Tujuan koordinasi adalah tujuan bersama, kesatuan dari usaha meminta suatu
pengertian kepada semua individu, agar ikut serta melaksanakan tujuan sebagai
kelompok kerja.
Koordinasi adalah proses pengintegrasian (penggabungan yang padu) dari
semua tujuan dan kegiatan anggota satuan-satuan letaknya boleh terpisah berjauhan
di lingkup organisasi masing-masing, dapat menghasilkan suatu hasil optimal yang
disetujui bersama.
C. CONTROL
Control dalam bencana berbentuk pengawasan dan Pelaporan Penanggulangan
Bencana.
1. Pengawasan Pengawasan terhadap seluruh proses penanggulangan bencana dilakukan
oleh Pemerintah dan pemerintah daerah.
2. Pemantauan dan pelaporan dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan
Badan Penanggulangan Bencana Daerah serta instansi terkait.
3. Setelah kegiatan selesai, yaitu setelah selesainya status menimbang, Undang-undang
Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. 32 keadaan darurat,
pengelola bantuan Dana Siap Pakai harus melaporkan semua kegiatan dan laporan
pertanggung jawaban keuangan kepada Kepala Badan Nasional Penanggulangan
Bencana.
4. Kegiatan pengawasan yang dimaksud adalah kegiatan yang bertujuan untuk
mengurangi atau menghindari masalah yang berhubungan dengan penyalahgunaan
wewenang dan segala bentuk penyimpangan lainnya, yang dapat berakibat pada
pemborosan keuangan negara.
5. Badan Nasional Penanggulangan Bencana bersama dengan instansi/lembaga terkait
secara selektif memantau pelaksanaan penggunaan Dana Siap Pakai mulai dari proses
pelaksanaan administrasi sampai dengan fisik kegiatan.
6. Pemantauan terhadap penggunaan Dana Siap Pakai di daerah dilakukan oleh pejabat
yang ditunjuk oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana bersama dengan
pejabat yang ditunjuk oleh Gubernur/Kepala BPBD tingkat Provinsi dan
Bupati/Walikota/Ketua Badan Penanggulangan Bencana Daerah tingkat
Kabupaten/Kota.
D. COMMUNICATION
Tahapan komunikasi dalam bencana:
1. Pada tahap sebelum kejadian bencana maka aspek komunikasi akan mencakup
informasi yang akurat, koordinasi dan aspek kerjasama terutama kepada masyarakat
yang rentan atas peristiwa bencana.
2. Pada tahap kejadian bencana keempat aspek : komunikasi, informasi, kerjasama dan
koordinasi merupakan kunci sukses penangana bencana, terutama untuk penanganan
korban dan menghindari resiko lebih lanjut.
3. Pada tahap setelah bencana rekonstruksi dan pemulihan pasca situasi bencana adalah
tahap penting untuk membangun kembali korban bencana dan memastikan untuk
mengurangi resiko apabila terjadi peristiwa serupa dikemudian hari. Dan yang sangat
penting adalah mitigasi, dalam tahapan ini, seluruh potensi komunikasi menjadi
penting untuk memastikan pencegahan dan pengurangan resiko, yang tentu pendekatan
yang tepat adalah konprehensif, sistemik dan terintegrasi antar lembaga, komponen
maupun stakeholder yang ada.
Secara lebih luas, selain lembaga yang menangani bencana (BNPB), keterlibatan
stakeholder seperti media, industri, politisi dan berbagai komponen masyarakat/
lembaganya menjadi sangat penting. Sedemikan penting agar keterlibatan mereka
terutama pada peristiwa bencana dan juga pada mitigasi,
Komunikasi Bencana: tahap pemulihan, tidak digunakan sebagai ajang pencitraan
yang akhirnya menjadikan bencana dan korban bencana sebagai obyek semata, namun
justru secara substansial memang membantu korban bencana dan meminimalisasi
resiko yang ada/ yang akan terjadi. Pada sisi lain pemberitaan di media atas bencana
letusan gunung Merapi, juga sempat menunjukkan adanya tumpukan bantuan yang
mubazir, karena tumpang tindih dan system informasi yang tidak baik, atau sebaliknya
kejadian bencana gempa di Mentawai dan b
sebelum, selama dan pasca bencana Katrina tersebut. Prizzia (hal 93 – 94)
menambahkan mengenai lemahnya koordinasi dengan sektor swasta/ perusahaan dan
juga media, yang pada dasarnya menjadi partner penting dalam manajemen bencana.
DAFTAR PUSTAKA

Budi S.2012. Komunikasi Bencana: Aspek Sistem (Koordinasi, Informasi dan


Kerjasama) Jurnal Komunikasi, Volume 1, Nomor 4.
Peraturan kepala badan nasional penanggulangan bencana Nomor 10 tahun 2008
tentang pedoman komando tanggap darurat bencana.
UndangUndang No.24 Tahun 2007 tetang Penanggulangan Bencana.
https://www.bphn.go.id/data/documents/AE%20UU%20NO%2024%20Tahun%
202007%20Tentang%20Penanggulangan%20Bencana.pdf diakses tanggal 20
november 2019.