Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH KEPERAWATAN GERONTIK

“Terapi Aktivitas Pada Lansia”

Oleh :

KELOMPOK 7
3A

Chyntia Fulmi Yolanda (173110


Hasri Rahmayati (173110168)
Heru Mulianse (17311069)
Mulia Ilahi (173110

DOSEN PEMBIMBING :
Ns. Lola Felnanda Amri, S.Kep, M.Kep

D-III KEPERAWATAN PADANG


POLITEKKES KEMENKES RI PADANG
TP. 2019/2020
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang mana atas berkat dan
rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Terapi Aktivitas Pada
Lansia” dapat diselesaikan dengan baik.
Pada kesempatan ini kami ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
memberikan bimbingan serta dukungan dalam menyelesaikan makalah ini, baik dari segi moral
maupun materil.
Kami menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu kami berharap kritik
dan saran yang bersifat membangun untuk perbaikan di masa yang akan datang. Akhir kata kami
mengharapkan makalah ini dapat diterima dan bermanfaat bagi banyak pihak.

Padang, 31 Juli 2019

Kelompok 7
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan
1.4 Manfaat

BAB I ISI

2.1 Pengertian Terapi Aktivitas Kelompok


2.2 Kerangka Teoritis Terapi Aktivitas Kelompok
2.3 Tujuan Terapi Aktifitas Kelompok
2.4 Prinsip Terapi Aktivitas Kelompok
2.5 Jenis Terapi Aktivitas Kelompok
2.6 Manfaat Terapi Aktivitas Kelompok
2.7 Proposal Aktivitas Kelompok Pada Lansia

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan
3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Memasuki usia tua berarti mengalami kemunduran dimana seperti pendengaran
kurang jelas, penglihatan semakin memburuk dan daya tahan tubuh menurun. Penurunan
sensori-persepsi dapat dipengaruhi oleh hal-hal yang mana salah satunya bisa berakibat
depresi. Masalah tersebut dapat dibantu melalui terapi aktivitas kelompok. Terapi
aktifitas kelompok merupakan salah satu terapi modalitas yang dilakukan perawat kepada
kelompok lansia yang mempunyai masalah keperawatan yang sama. Aktivitas
diguanakan sebagai terapi dan kelompok digunakan sebagai target asuhan. Di dalam
kelompok terjadi dinamika interaksi yang saling bergantung, saling membutuhkan dan
menjadi laboratorium tempat lansia melatih perilaku baru yang adaptif untuk
memperbaiki perilaku lama yang maladaptif.
Terapi aktvitas kelompok diartikan sebagai suatu aktifitas yang digunakan di
dalam kelompok seperti membaca puisi, seni, musik, menari dan literature. Aktivitas
disini diartikan sebagai stimulus dan persepsi. Stimulus yang disediakan : baca
artikel/majalah, buku/puisi, menonton acara TV (ini merupakan stimulus yang
disediakan) : stimulus dari pengalaman masa lalu yang menghasilkan proses persepsi
lansia yang maladaptif atau destruktif,misalnya kemarahan, kebencian, putus hubungan,
pandangan negatif padaorang,dan halusinasi. Kemudian dilatih persepsi lansia terhadap
stimulus. Dengan TAK itu sendiri memerlukan terapi dengan sejumlah pasien dengan
waktu yang sama. Manfaat terapi aktivitas kelompok adalah agar lansia dapat kembali
belajar bagaimana cara bersosialisasi karena kelompok ini berfungsi sebagai tempat
berbagi pengalaman dan membantu satu sama lain untuk menemukan cara menyelesaikan
masalah yang diakibatkan oleh paparan stimulus kepadanya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian Terapi Aktivitas Kelompok?
2. Bagaimana Kerangka Teoritis Terapi Aktivitas Kelompok?
3. Apa Tujuan Terapi Aktifitas Kelompok?
4. Bagaimana Prinsip Terapi Aktivitas Kelompok?
5. Apa Jenis Terapi Aktivitas Kelompok ?
6. Bagaimana Manfaat Terapi Aktivitas Kelompok ?
7. Bagaimana proposal aktivitas kelompok pada lansia?

1.3 Tujuan
1. Tujuan Umum :
Mahasiswa mampu mengetahui terapi aktivitas pada lansia.
2. Tujuan kusus :
1) Untuk mengetahui pengertian terapi aktivitas kelompok.
2) Untuk mengetahui kerangka teoritis terapi aktivitas kelompok.
3) Untuk mengetahui tujuan terapi aktifitas kelompok.
4) Untuk mengetahui prinsip terapi aktivitas kelompok.
5) Untuk mengetahui jenis terapi aktivitas kelompok.
6) Untuk mengetahui manfaat terapi aktivitas kelompok .
7) Untuk mengetahui proposal aktivitas kelompok pada lansia.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Terapi Aktivitas Kelompok


Kelompok adalah kumpulan individu yang mempunyai hubungan satu dengan
yang lain, saing bergantungan , serta mempunyai norma yang sama. Manusia adalah
makhluk sosial, hidup berkelompok, dan saling berhubungan untuk memenuhi kebutuhan
sosial. Kebutuhan sosial dimaksud antara lain rasa menjadi milik orang lain atau
keluarga, kebutuhan pengakauan orang lain, kebutuhan penghargaan orang lain dan
kebutuhan percayaan diri.
Terapi aktifitas kelompok (TAK) merupakan terapi yang bertujuan mengubah
perilaku pasien dengan memanfaatkan dinamika kelompok. Cara ini cukup efektif karena
didalam kelompok akan terjadi interaksi satu dengan yang lain, saling mempengaruhi,
saling bergantung, dan terjalin satu persetujuan norma yang diakui bersama, sehingga
terbentuk suatu sistem sosial yang khas yang didalamnya terdapat interaksi, interelasi,
dan interdependensi.
Terapi Aktifitas Kelompok (TAK) bertujuan memberikan fungsi terapi bagi
anggotanya, yang setiap anggota berkesempatan untuk menerima dan memberikan umpan
balik terhadap anggota yang lain, mencoba cara baru untuk meningkatkan respon sosial,
serta harga diri. Keuntungan lain yang diperoleh anggota kelompok yaitu adanya
dukungan pendidikan, meningktakan kemampuan pemecahan masalah dan meningkatkan
hubungan interpersonal.

2.2 Kerangka Teoritis Terapi Aktivitas Kelompok


a. Model Focal Conflict
Menurut Whitakers dan Liebermen, terapi kelompok lebih berfokus pada
kelompok lebih berfokus pada kelompok dari pada individu. Prinsipnya adalah terapi
kelompok ini dikembangkan berdasarkan konflik yang tidak disadari. Pengalaman
kelompok secara berkesinambungan muncul, yang kemudian konflik dikonfrontir
untuk pemecahan masalah. Tugas terapis membantu anggota kelompok memahami
konflik dan mencapai penyelesaian konflik.
Menurut model ini pimpinan kelompok (leader) harus mefasilitasi dan
memberikan kesempatan pada anggota untuk mengekspresikan perasaan dan
mendiskusikannya untuk penyelesaian masalah. Contohnya, adanya perbedaan
pendapat antar anggota, cara masalah ditangggapi anggota dan pemimpin
mengarahkan alternatif penyelesaian masalah.

b. Model Komunikasi
Model komunikasi menggunakan prinsip komunikasi dan komunikasi terapeutik.
Diasumsikan bahwa disfungsi atau komunikasi tidak efektif dalam kelompok akan
menyebabkan ketidakpuasan anggota kelompok, umpan balik tidak adekuat, dan
kohesi atau keterpaduan kelompok menurun.
Model ini bertujuan membantu meningkatkan keterampilan interpersonal dan
sosial anggota kelompok. Selain itu, teori komunikasi membantu anggota
merealisasikan bagaimana mereka berkomunikasi secara nonverbal dan mengajarkan
cara berkomunikasi lebih efektif. Selanjutnya, leader juga perlu menjelaskan secara
singkat prinsip-prinsip komunikasi dan cara menggunakan didalam kelompok, serta
mengalisis proses komunikasi tersebut.

c. Model Interpersonal
Sullivan mengemukakan bahwa semua tingkah laku (pikiran, perasaan dan
tindakan) digambarkan melalui hubungan interpersonal. Contohnya, interaksi dalam
kelompok dapat dipandang sebagai proses sebab akibat, yang perasaan dan tingkah
laku satu anggota merupakan akibat dari tingkah laku anggota lain.
Melalui proses ini, kesalahan persepsi dapat dikoreksi dan perilaku sosial yang
efektif untuk dipelajari.perasaan cemas dan keseian merupakan sasaran untuk
mengindentifikasi dan mengubah perilaku. Contohnya, tujuan salah satu terapi
aktivitas kelompok untuk meningkatkan hubungan interpersonal.
d. Model Psikodrama
Model ini memotivasi anggota kelompok untuk berakting sesuai dengan peristiwa
yang baru terjadi atau peristiwa yang lalu. Anggota memainkan peran sesuai dengan
peristiwa yang pernah dialami.
Psikodrama ini dilakukan secara spontan dan memberi kesempatan pada anggota
untuk berakting diluar situasi spesifik yang pernah terjadi.

2.3 Tujuan Terapi Aktifitas Kelompok


1. Terapeutik
Meningkatkan kemampuan pasien, memfasilitasi proses interaksi,membangkitkan
untuk kemajuan fungsi kognitif dan efektif, serta mempelajari cara baru dalam
mengatasi masalah dan melakukan sosialisasi.
2. Rehabilitatif
Meningkatkan kemampuan mengekspresikan diri, kemampuan berempati,
meningkatkan kemampuan sosial, serta tanggung jawabnya dalam hubungan
interpersonal.

Depkes RI mengemukakan tujuan terapi aktivitas kelompok secara rinci sebagai


berikut:

1. Tujuan Umum
a) Meningkatkan kemampuan menguji kenyataan yaitu memperoleh pemahaman
dan cara membedakan sesuatu yang nyata dan khayalan.
b) Meningkatkan sosialisasi dengan memberikan kesempatan untuk berkumpul,
berkomunikasi dengan orang lain, saling memperhatikan memberikan tanggapan
terhadap pandapat maupun perasaan orang lain.
c) Meningkatkan kesadaran hubungan antar reaksi emosional diri sendiri dengan
prilaku defensif yaitu suatu cara untuk menghindarkan diri dari rasa tidak enak
karena merasa diri tidak berharga atau ditolak.
d) Membangkitkan motivasi bagi kemajuan fungsi-fungsi psikologis seperti fungsi
kognitif dan afektif.
2. Tujuan Khusus
a) Meningkatkan identifikasi diri, dimana setiap orang mempunyai identifikasi diri
tentang mengenal dirinya di dalam lingkungannya.
b) Penyaluran emosi, merupakan suatu kesempatan yang sangat dibutuhkan oleh
seseorang untuk menjaga kesehatan mentalnya. Di dalam kelompok akan ada
waktu bagi anggotanya untuk menyalurkan emosinya untuk didengar dan
dimengerti oleh anggota kelompok lainnya.
c) Meningkatkan keterampilan hubungan sosial untuk kehidupan sehari-hari,
terdapat kesempatan bagi anggota kelompok untuk saling berkomunikasi yang
memungkinkan peningkatan hubungan sosial dalam kesehariannya.

2.4 Prinsip Terapi Aktivitas Kelompok


Prinsip di dalam memilih pasien yang ikut dalam terapi aktivitas kelompok adalah
dengan homogenitas, yang dijelaskan pada poin-poin berikut ini:
1. Gejala Yang Sama
Misalnya saja dalam terapi aktivitas kelompok tersebut dikhususkan untuk pasien
penderita depresi, halusinasi, atau lainnya. Setiap terapi aktivitas kelompok tentunya
memiliki tujuan masing-masing yang spesifik untuk anggotanya. Setiap tujuan
tersebut tentunya dapat dicapai jika pasien-pasien di dalamnya memiliki gejala atau
masalah yang sama. Sehingga nantinya pasien-pasien di dalam kelompok tersebut
dapat bekerja sama dalam proses terapi.
2. Kategori Sama
Disini mengartikan jika pasien yang memiliki skor hampir sama dari kategorisasi.
Pasien yang dapat diikutkan ke dalam terapi aktivitas kelompok merupakan pasien
yang akut dengan skor rendah hingga pasien pada tahap pro motion. Bila dalam
sebuah terapi pasien-pasien di dalamnya memiliki skor yang hampir sama tentu saja
tujuan dalam terapi akan tercapai dengan mudah.
3. Jenis Kelamin Sama
Pengalaman dalam terapi aktivitas kelompok yang dijalani pasien dengan
memiliki gejala yang sama, biasanya laki-laki akan mendominasi dibandingkan
dengan kaum perempuan. Sehingga akan lebih baik jika dibedakan.
4. Kelompok Umur Hampir Sama
Tingkat perkembangan pasien yang sama nantinya akan lebih memudahkan
interaksi yang terjadi antara pasien satu sama lainnya.
5. Jumlah Anggota Yang Efektif
Jumlah anggota kelompok di dalam sebuah terapi tentunya harus efektif. Jumlah
yang efektif biasanya sekitar 7-10 orang di dalamnya. Jika terlalu banyak pasien di
dalamnya maka tujuan terapi akan terasa sulit untuk dicapai karena kondisinya akan
terlalu ramai dan kurangnya perhatian terapis untuk pasien. Namun jika terlalu sedikit
maka tentu saja interaksi yang terjadi akan terasa sepi dan tujuan menjadi sulit
tercapai.

2.5 Jenis Terapi Aktivitas Kelompok


1. Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Stimulasi Sensori
Aktivitas digunakan untuk memberikan stimulasi pada sensori pasien berupa
ekspresi emosi/perasaan melalui gerakan tubuh, ekspresi muka, dan ucapan. Biasanya
pasien yang tidak mau berkomunikasi secara verbal akan terangsang sensoris emosi
dan perasaannya melalui aktivitas tertentu.
Aktivitas tersebut berupa :
1) TAK stimulasi sensori suara, misalnya mendengarkan musik
2) TAK stimulasi sensori menggambar
3) TAK stimulasi sensori menonton TV / video

Aktivitas dan indikasi, aktivitas stimulasi sensoris dapat berupa stimulus


terhadap penglihatan, pendengaran dan lain-lain, seperti gambar, video, tarian, dan
nyanyian.Klien yang mempunyai indkasi TAK-Stimulasi sensoris adalah klien isolasi
sosial, menarik diri, jarga diri rendah yang disertai dengan kurang komunikasi verbal.

2. Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Orientasi Realitas


Pasien diorientasikan pada kenyataan yang ada disekitar pasien yaitu diri sendiri,
orang lain yang ada disekeliling pasien ata orang yang dekat dengan pasien, serta
lingkungan yang pernah mempunyai hubunan dengan pasien pada saat ini dan masa
yang lalu.
Aktivitasnya adalah sebagai berikut :
1) Sesi I : pengenalan orang
2) Sesi II : pengenalan tempat
3) Sesi III : pengenalan waktu

Aktivitas dan indikasi, aktivitas yang dilakukan tiga sesi berupa aktivitas
pengenalan orang, tempat dan waktu. Klien yang mempunyai indikasi TAK orientasi
realitas adalah klien halusinasi; dimensia; kebingungan; tidak kenal dirinya; salah
mengenal orang lain; tempat dan waktu.

3. Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Sosialisasi


Pasien dibantu untuk melakukan sosialisasi dengan individu yang ada disekitar
pasien. Sosialisasi dapat pula dilakukan secara bertahap dari interpersonal, kelompok,
dan massa.
Aktivitas yang diberikan antara lain :
1) Sesi I : menyebutkan jati diri
2) Sesi II : mengenali jati diri anggota kelompok
3) Sesi III : bercakap-cakap dengan anggota kelompok
4) Sesi IV : menyampaikan dan membicarakan topik percakapan
5) Sesi V : menyampaikan dan membicarakan masalah pribadi dengan orang lain
6) Sesi VI : bekerja sama dalam permainan sosialisasi kelompok
7) Sesi VII : menyampaikan pendapat tentang manfaat kegiatan TAK sosialisasi
yang telah dilakukan

Aktivitas dan indikasi, Aktivitas TAKS dilakukan untuk sesi yang melatih
kemampuan sosialisasi klien. Klien yang mempunyai indikasi TAKS adalah klien
dengan gangguan hubungan sosial berikut :

1) Klien menarik diri yang telah mulai melakukan interaksi interpersonal


2) Klien kerusakan komunikasi verbal yang telah berespons sesuai dengan stimulasi
4. Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Stimulasi Persepsi
Pasien dilatih untuk mempersepsikan stimulus yang disediakan atau stimulus
yang pernah dialami. Kemampuan persepsi pasien dievaluasi dan ditingkatkan pada
tiap sesi. Dalam proses ini diharapkan respon pasien terhadap berbagai stimulus
dalam kehidupan menjadi adaptif.
Aktivitas yang diberikan antara lain :
1) Sesi I : menonton TV
2) Sesi II : membaca majalah / koran / artikel
3) Sesi III : gambar
4) Sesi IV :
a) Mengenal perilaku kekerasan yang biasa dilakukan
b) Mencegah perilaku kekerasan melalui kegiatan fisik
c) Mencegah perilaku kekerasan melalui interaksi asertif
d) Mencegah perilaku kekerasan melalui kepatuhan minum obat
e) Mencegah perilaku kekerasan melalui kegiatan ibadah

Aktivitas dan indikasi, aktivitas dibagi dalam empat bagian, yaitu


mempersiapkan stimulasi nyata sehari-hari, stimulasi nyata yang dialami dalam
kehidupan, stimulasi yang tidak nyata dan respons yang dialami dalam kehidupan,
serta stimulasi nyata yang mengakibatkan harga diri rendah.

2.6 Manfaat Terapi Aktivitas Kelompok


Ada bebrapa manfaat yang bisa dirasakan bagi kaum lansia yang mengikuti terapi
aktivitas kelompok, antara lain adalah :
1. Agar anggota di dalam kelompok tersebut merasa diakui, dimiliki, serta dihargai
eksistensinya oleh anggota lainnya di dalam kelompok
2. Membantu agar anggota kelompok lain yang berhubungan satu sama lainnya dan
merubah sikap dan perilaku yang maladaptive dan destrkutif
3. Sebagai tempat yang digunakan untuk berbagi pengalamn serta saling memantau satu
sama lainnya yang dipertuntukkan untuk menemukan solusi menyelsaikan masalah
BAB IV
PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK

Topik : TAK Stimulasi Sensoris

Sesi ke :I

Terapis : 4 Orang Mahasiswa

Sasaran : Lansia berusia 60-80 tahun

A. Pengertian
Terapi aktivitas kelompok terdapat beberapa jenis salah satunya yaitu Terapi
aktvitas kelompok (TAK) : stimulus sensoris. Terapi aktvitas kelompok (TAK) : stimulus
sensoris adalah upaya menstimulasi semua pancaindra (sensori) agar memberi respons
yang adekuat.

B. Tujuan
1. Tujuan umum
Klien dapat berespon terhadap stimulus pancaindra yang diberikan.
2. Tujuan kusus
1) Kien mampu mengenali musik yang didengar
2) Klien mampu memberi respons musik yang didengar.
3) Kien mampu menceritakan perasaannya setelah mendengarkan musik

C. Kriteria Anggota Kelompok


1. Klien dapat kooperatif dan mau bekerja sama.
2. Klien mau mengikuti terapi aktivitas kelompok.
D. Proses Seleksi
1. Mengidentifikasi klien yang masuk kriteria.
2. Membuat kontrak dengan klien.
a) Menjelaskan tujuan kegiatan.
b) Menjelaskan tempat dan waktu kegiatan.
c) Membuat perjanjian mengikuti peraturan dalam terapi aktivitas kelompok.
d) Menjelaskan akan bergabung dengan klien lain dalam melakukan terapi aktivitas
kelompok

E. Uraian Struktur Kegiatan


1. Hari / Tanggal : Senin / 5 Agustus 2019
2. Tempat Kegiatan : Ruangan TAK
3. Waktu Kegiatan : 10.00 – 10.50 WIB
4. Metode Kegiatan : - Diskusi Kelompok
- Demonstrasi Kelompok
5. Anggota Kelompok :
a. Ny K
b. Ny L
c. Ny M
d. Ny N
e. Ny O
F. Alat
1. Papan tulis dan alat tulis
2. Buku catatan dan pulpen
3. Laptop dan speker

G. Metode
1. Dinamika kelompok
2. Diskusi dan tanya jawab
3. Bermain peran atau simulasi
4. Sharing persepsi
H. Pengorganisasian Kelompok

Leader : Heru Mulianse

Co. Leader : Hasri rahmayati

Observer : Chyntia Fulmi Yolanda

Fasilitator : Muia Ilahi

Peran masing – masing anggota kelompok

1. Leader
Tugas :
a) Memimpin jalannya TAK
b) Mengarahkan anggota
c) Bertanggung jawab terhadap kelancaran kegiatan TAK

2. Co. Leader
Tugas :
a) Menyampaikan informasi fasilitator pada leader
b) Mengingatkan leader apabila permainan menyimpang
c) Mengingatkan leader tentang lama waktu pelaksanaan kegiatan
d) Mampu bekerjasama yang baik dengan leader

3. Fasilitator
Tugas :
a) Memotivasi peserta dalam aktivitas kelompok
b) Memotivasi anggota dalam ekspresi perasaan setelah kegiatan
c) Mengatur posisi kelompok dalam lingkungan untuk melaksanakan kegiatan
d) Membimbing kelompok selama permainan diskusi
e) Membantu leader dalam melaksanakan kegiatan
f) Bertanggung jawab terhadap program antisipasi masalah
4. Observer
Tugas :
a) Mencatat dan mengamati respon klien jalannya aktivitas terapi peserta yang
aktif dan pasif
b) Mengevaluasi jalannya TAK

I. SETTING TEMPAT

Keterangan :

= Lansia = Co leader = Fasilitator

= Fasilitator = Leader
J. Mekanisme Kegiatan Tak

No Waktu Kegiatan Terapis Kegiatan Peserta


1. - Perencanaan :
a. Memilih klien yang memiliki perilaku -
kekerasan yang sudah koperatif.
b. Membuat kontrak dengan klien
c. Mempersiapkan alat dan tempat -
pertemuan -

2. 15 menit Orientasi
a. Salam terapeutik :
1) Salam mulai dari terapis, perkenalan 1) Menjawab salam
nama dan panggilan terapis.
b. Evaluasi atau Validasi :
1) Menanyakan perasaan lansia saat ini 2) Mendengarkan dan
terapis menjawab pertanyaan
2) Menanyakan tentang sejak kapan 3) Mendengarkan dan
lansia merasakan penurunan daya menjawab pertanyaan
ingat dan fungsi pendengaran.
3) Menanyakan apa saja kegiatan yang 4) Menjawab pertanyaan
telah dilakukan lansia
c. Kontak
1) Menjelaskan tujuan kegiatan
2) Menjelaskan aturan main sebagai 5) Mendengarkan dan
berikut : memperhatikan.
 Jika ada lansia yang akan
meninggalkan kelompok harus
minta izin kepada terapis
 Lama kegiatan 45 menit
 Setiap lansia mengikuti kegiatan
dari awal sampai akhir 6) Memperhatikan dan
 Jika peserta merasa kurang jelas memahami.
dengan penjelaskan leader,dapat
menanyakan kepada leader
dengan menunjuk tangan terlebih
dahulu.
 Peserta hadir di tempat 5 menit
sebelum kegiatan berlangsung.
3 25 menit Tahap Kerja
a. Terapis mengajak lansia untuk saling 1) Mengikuti kegiatan
memperkenalkan diri (nama panjang, sesuai aturan main.
dan nama panggilan) dimulai secara
berurutan searah jarum jam. 2) Melaksanakan antisipasi
b. Setiap lansia selesai memperkenalkan masalah yang ditemukan
diri, terapis mengajak semua lansia terapis (jika ada).
untuk bertepuk tangan.
c. Terapis menjelaskan bahwa akan 3) Berperan aktif dalam
diputar lagu, lansia boleh tepuk tangan melakukan permainan
atau boleh menari sesuai dengan irama
lagu. Setelah lagu selesai lansia akan
diminta menceritakan isi dari lagu
tersebut dan perasaan lansia setelah
mendengar lagu.
d. Terapis memutar lagu, lansia
mendengar, boleh berjoget atau
tepuk tangan (kira-kira 15 menit).
Musik yang diputar boleh diulang
beberapa kali. Terapis mengobservasi
respons lansia terhadap musik
e. Secara bergiliran, lansia diminta
menceritakan isi lagu/mengungkapkan
perasaannya selama dirawat
/pengalaman hidup. Sampai semua
lansia mendapatkan giliran.
f. Terapis memberikan pujian, setiap
lansia selesai menceritakan
perasaannya, dan mengajak lansia
bertepuk tangan.
g. Terapis dan lansia bernyanyi bersama.
3 10 menit Tahap terminasi
a. Evaluasi : 1) Mengungkapkan
1) Mahasiswa menanyakan perasaan pendapat
lansia setelah mengikuti kegiatan 2) Menyetujui atau
2) Memberikan pujian atas keberhasilan memberi pendapat
lansia. tentang rencana
b. Rencana tindak lanjut terapis selanjutnya.
1) Meminta lansia untuk mengulang hal yang
sama dengan salah satu teman dan
menganjurkan klien untuk
mendengarkan musik yang disukai dan
bermakna dalam kehidupannya.
c. Kontrak yang akan datang
Terapis mengakhiri kegiatan dan
mengingatkan kepada lansia
untuk melakukan kegiatan yang dapat
dilakukan
K. PROSES EVALUASI
1. Evaluasi Struktur
a) peserta hadir sesuai dengan kriteria
b) setting tempat sesuai rencana
c) peserta dapat mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir dengan tertib

2. Evaluasi Proses
a) Klien tidak meninggalkan tempat saat kegiatan berlangsung
b) Klien dapat mengikuti peraturan permainan yang telah ditetapkan
c) Klien berpartisipasi secara aktif dalam permainan
d) Pengorganisasian dapat terlaksana sesuai rencana

3. Evaluasi Hasil
1) Kien mampu mengenali musik yang didengar
2) Klien mampu memberi respons musik yang didengar.
3) Kien mampu menceritakan perasaannya setelah mendengarkan musik

L. DOKUMENTASI
Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan proses
keperawatan tiap klien. Contoh : klien mampu mengenal dan merespon musik yang
didengar serta menceritakan perasaannya setelah mendengar musik.
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Terapi aktifitas kelompok (TAK) merupakan terapi yang bertujuan mengubah
perilaku pasien dengan memanfaatkan dinamika kelompok. TAK bertujuan memberikan
fungsi terapi bagi anggotanya, yang setiap anggota berkesempatan untuk menerima dan
memberikan umpan balik terhadap anggota yang lain, mencoba cara baru untuk
meningkatkan respon sosial, serta harga diri. Keuntungan lain yang diperoleh anggota
kelompok yaitu adanya dukungan pendidikan, meningktakan kemampuan pemecahan
masalah dan meningkatkan hubungan interpersonal. Kerangka teoritis terapi aktivitas
kelompok yaitu, model focal conflict, model komunikasi, model interpersonal dan model
psikodrama. Prinsip di dalam memilih pasien yang ikut dalam terapi aktivitas kelompok
adalah dengan homogenitas. Jenis terapi aktivitas kelompok yaitu, terapi aktivitas
kelompok stimulasi sensori, terapi aktivitas kelompok orientasi realitas, terapi aktivitas
kelompok sosialisasi dan terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi.

4.2 Saran
Diharapkan kepada pembaca dapat memahami dan mengerti materi tentang
Terapi Aktivitas Kelompok pada Lansia. Semoga keperawatan gerontik kedepan
memberikan harapan yang cerah pada perkembang keperawatan gerontik di Indonesia.
Selain itu diharapkan juga kepada pembaca dapat memberikan masukkan kepada
kelompok agar bisa menjadi pelajaran bagi kelompok.
DAFTAR PUSTAKA

Anda mungkin juga menyukai