Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sebagian besar bayi baru lahir yang terlahir dari ibu yang menderita suatu
penyakit, tidak menunjukkan gejala sakit pada saat dilahirkan atau beberapa
waktu setelah lahir. Bukan berarti bayi baru lahir tersebut aman dari gangguan
akibat dari penyakit yang diderita ibu. Hal tersebut dapat menimbulkan akibat
yang merugikan dan dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas bayi
Salah satu masalah yang sering dijumpai adalah ibu dengan HIV/AIDS
mengingat jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia setiap tahunnya terdapat
9000 kehamilan dengan HIV positif yang dapat ditularkan kepada bayinya. Lebih
dari 90% bayi terinfeksi HIV tertular dari ibu HIV positif. Penularan tersebut dapat
terjadi pada masa kehamilan, saat persalinan dan selama menyusui.
Pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak (PPIA) atau Prevention of Mother-
to-Child HIV Transmission (PMTCT) merupakan intervensi untuk mencegah
penularan tersebut (Kemenkes RI, 2015).
Bayi yang lahir dengan HIV memiliki mortalitas yang lebih tinggi dan tanpa
pengobatan rata-rata hanya mampu bertahan sampai usia 2 tahun. Sistem imun
bayi yang lahir dengan HIV bersifat imatur dan virus dengan mudah menyebar ke
organ-organ sehingga kelainan akan muncul lebih awal dan lebih berat. Gejala
akan timbul akibat infeksi oportuistik. Infeksi ini dapat timbul akibat infeksi
mikroba (bakteri, jamur, virus) yang berasal dari luar tubuh maupun yang berasal
dari dalam tubuh. (Ismoedjianto et al., 2013)
Selain HIV, penyakit yang sering kita ditemui pada ibu hamil dan dapat
ditransmisikan kepada bayinya adalah hepatitis B. Menurut Rinkesdas 2013,
prevalensi hepatitis 1,2% dari penduduk di Indonesia, dimana 1-5% merupakan
ibu hamil dengan virus hepatitis B. Indonesia merupakan negara endemis tinggi
hepatitis B dengan prevalensi HBsAg positif di populasi antara 7 – 10%. Pada
kondisi seperti ini, transmisi vertikal dari ibu ke bayi memegang peran penting. Di
lain pihak, terdapat perbedaan natural history antara infeksi hepatitis B yang
terjadi pada awal kehidupan dengan infeksi hepatitis B yang terjadi pada masa
dewasa. Infeksi yang terjadi sejak awal kehidupan atau bahkan sejak dalam
kandungan, membawa risiko kronisitas sebesar 80 – 90%. Infeksi pada masa
dewasa yang disebabkan oleh transmisi horisontal, mempunyai risiko kronisitas
hanya sebesar 5% (Pujiarto, 2000)

1
1.2 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk melaporkan dan
membahas kasus mengenai tatalaksana bayi baru lahir dari Ibu dengan HIV
dan Hepatitis B positif.

2
BAB II
LAPORAN KASUS

2.1 Identitas
Nama penderita : By. Ny. R.
` Umur / tanggal lahir : 2 hari
Jenis kelamin : Perempuan
Suku, bangsa : Jawa, Indonesia
Alamat : Tawangsari, Garum, Blitar
No RM/Reg : 243455
2.2 Anamnesis
Anamnesis didapatkan dari ibu dan ayah pasien, dilakukan di ruang ponek
RSUD Ngudi Waluyo Wlingi-Blitar

2.2.1 Keluhan Utama


Bayi baru lahir dari Ibu dengan HIV dan Heptitis B reaktif.

2.2.2 Riwayat Penyakit Sekarang


Bayi perempuan lahir di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi-Blitar secara sectio
caesaria transperitoneum atas indikasi G1PoooAbooo gravida 38-39 minggu +
HIV dan HbSAg reaktif. Lahir dengan berat badan 2550 gram dan panjang badan
lahir 48 cm. Apgar skor 7/9, bayi langsung menangis, tonus otot kuat dengan air
ketuban berwarna jernih.

2.2.3 Riwayat Maternal dan Kehamilan


Merupakan kehamilan pertama, Ibu ANC rutin di bidan sejak usia
kehamilan 4 bulan. Di awal kehamilan mengalami mual dan muntah namun
masih dalam tarap normal, keluhan perdarahan pervaginam (-), tidak ada
demam, kedua tungkai tidak bengkak, keluhan nyeri saat buang air kecil (-),
keputihan (-), ibu tidak merokok, tidak minum jamu-jamuan dan tidak minum
alkohol, Riwayat diabetes dan hipertensi disangkal.
Ibu merupakan penderita HIV postif diketahui sejak 2 tahun yang lalu dan
rutin kontrol ke RSSA serta mendapatkan obat ARV rutin. Ibu riwayat
berhubungan badan dengan pacar saat sebelum menikah dengan suami saat ini.
Status hepatitis B positif baru diketahui saat skreening sebelum melahirkan di RS
Wlingi Blitar. Riwayat ibu dengan batuk-batuk lama disangkal.

3
2.2.4 Riwayat Penyakit Keluarga
Ibu pasien merupakan penderita HIV dan Hepatitis reaktif, ayah pasien
belum dilakukan pemeriksaan. Riwayat keganasan, alergi pada keluaraga
disangkal.

2.2.5 Riwayat Nutrisi


Bayi dari semenjak lahir tidak mendapatkan ASI dan hanya mendapatkan
susu formula diberikan setiap 2 jam sekali,

2.2.6 Riwayat Imunisasi


Saat bayi lahir mendapatkan injeksi hepatitis B imunoglobulin (HBIG),
vaksin Hepatitis Bo dan injeksi Vitamin K 1 mg.

2.2.7 Riwayat Sosial Ekonomi


Ayah, usia 38 tahun, pendidikan terakhir SMA, sebagai pekerja swasta.
Ibu, usia 32 tahun, Ibu Rumah tangga ,pendidikan terakhir SMA. Penghasilan
perbulan Rp. 2.000.000- tiap bulan. Penderita merupakan anak pertama.
Kesan sosial ekonomi : menengah kebawah

2.3. Pemeriksaan Fisik


Keadaan umum: gerak tangis cukup , napas spontan
Tanda Vital
HR : 134 x/menit, reguler RR : 44 kali/menit, reguler
Nadi : reguler, kuat Temperatur: 36,8 oC
SaO2 : 97%
Kepala : normosefali, caput sucsadenum (-), sefalhematom (-)
Wajah : fasies dismorfik (-)
Mata : conjunctiva anemis (-), sklera ikterik (-)
Telinga : discharge (-)/(-)
Hidung : nafas cuping (-), discharge (-)/(-)
Mulut : sianosis (-)
Leher : web neck, pembesaran KGB (-)
Toraks : pectus ekskavatum/carinatum (-), pergerakan simetris, retraksi (-)
Paru : vesikuler/vesikuler, Rhonki -/-, wheezing -/-
Jantung : iktus kordis tak tampak, iktus kordis teraba di sela iga IV 1 cm lateral
garis medioklavicularis kiri, Bunyi jantung I dan II normal, irama
reguler, tidak ada gallop ataupun murmur.
Abdomen : supel, Bising usus normal, meteorismus (-), hepar tak terababa
pembesaran, lien tidak teraba pembesaran

4
Ekstremitas : superior inferior
dekstra / sinistra dekstra / sinistra
Pucat : -/- -/-
Sianosis : -/- -/-
Edema : -/- -/-
Capillary refill : <2” <2

Anthropometri

Berat Badan : 2550 gram

Panjang Badan : 48 cm

Lingkar Kepala : 34 cm

Lingkar dada : 31 cm

Ballard skor : 37 ~ (UK 38 minggu)

Maturitas Neuromuskular Maturitas Fisik


Sikap tubuh :4 Kulit :3
Persegi jendela :2 Lanugo :4
Recoil Lengan :2 Permukaan Plantar :4
Sudut Poplitea :3 Payudara :3
Tanda Selempang :3 Mata/Telinga :3
Tumit Ke kuping :3 Genitalia :3

5
Gambar 2.1 Kurva Lubschenco sesuai Persentil 10-25 (sesuasi masa kehamilan)

2.4. Pemeriksaan Penunjang

PEMERIKSAAN NILAI NORMAL Hasil


Hb 12-15 gr% 16,1
Hematokrit 35-47% 48,2
Eritrosit 3,9-5,6 juta/mmk 5,85
MCH 27-32 pg 92
MCV 76-96 Fl 37,7
MCHC 29-36 g/dl 33,8
Lekosit 4-11 ribu/mmk 14.200
Hitung jenis
Granulosit 45-70% 52,9
Limfosit 25-40% 37,6
Monosit 4-7% 9

Trombosit 150-400 rb/mmk 311.000

6
2.5. Daftar Permasalahan

Daftar Masalah

Bayi dari Ibu HIV positif

Bayi dari Ibu HIV positif

2.6. Diagnosis

1. ATERM/ SMK
2. BIHA
3. BAYI IBU HEPATITIS B POSITIF

2.7. Terapi

 O2 ruangan
 im. Vit K 1 mg
 ODS salep mata kloramfenikol ue
 Im. Hepatitis Bo 0,5 cc
 im. HBIG
 po. Zidovudine 2x10 mg (4 mg/kg/x)
 termoregulasi
 rawat tali pusat
 Diet Susu Formula 12 x 10-15 cc (naik bertahap)

KIE Keluarga :

- Menjelaskan kepada orang tua mengenai keadaan anak, bahwa anak


berisiko tertular infeksi virus HIV dan hepatitis B dari ibunya.
- Menjelaskan bahwa anak mendapatkan injeksi HBIG dan vaksin
hepatitis Bo untuk mengurangi risiko terjadinya hepatitis kronis dan
sirosis hepatis yang merupakan komplikasi dari ineksi virus hepatitis
- Menjelaskan bahwa anak mendapatkan peroral zidovudin untuk
profilaksis HIV, dikarenakan bayi risiko tinggi terinfeksi HIV dari
ibunya. Prpofilaskis zidovudin diberikan selama 6 minggu. Selain itu

7
anak disarankan untuk diperiksa PCR HIV untuk memastikan status
HIV-nya.
- Menjelaskan bahwa penularan HIV juga dapat melalui ASI saat anak
menetek, oleh karena itu orang tua setuju untuk tidak diberikan ASI
pada anak. Sebagai penggantinya diberikan susu formula.
- Menjelaskan resiko dan tanda/gejala HIV danbahaya HIV yang dapat
menurunkan imunitas sehingga anak mudah terkena infeksi
opportunistik.
- Untuk pencegahan infeksi opportunistik PCP, anakakan mendapatkan
po. Cotrimoksazole setelah usia 6 minggu.
- Disarankan bahwa anak setelah KRS harus sering kontrol untuk
pemantauan terutama status gizi dan tumbuh kembang pasien.

PROGNOSIS

1. Quo ad vitam : ad bonam


2. Quo ad sanam : ad bonam
3. Quo ad fungsionam : ad bonam

8
BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Human Imunodefisiensi Virus (HIV)


3.1.1 Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA)
Berdasarkan periode transmisi, risiko penularan HIV dari ibu ke bayi tanpa
intervensi PPIA terbanyak pada periode persalinan (10-20%), diikuti periode post
natal saat menyusui (10-15%) dan periode prenatal atau kehamilan (5-10%).
Sebagian besar (90%) infeksi HIV pada bayi disebabkan penularan dari ibu,
hanya sekitar 10% yang terjadi karena proses transfusi. Dengan intervensi
pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi (PPIA) yang baik maka risiko
penularan HIV dari ibu ke bayi sebesar 25 hingga 45% bisa ditekan menjadi
kurang dari 2%. Intervensi tersebut meliputi 4 konsep dasar: (1) Mengurangi
jumlah ibu hamil dengan HIV positif, (2) Menurunkan viral load serendah-
rendahnya, (3) Meminimalkan paparan janin/bayi terhadap darah dan cairan
tubuh ibu HIV positif, dan (4) Mengoptimalkan kesehatan dari ibu dengan HIV
positif (Gondo, 2012)..Hal penting dalam program PPIA adalah sebagai berikut :
1. Pemberian ARV pada Ibu
Pemberian highly active anti retroviral therapy (HAART) untuk mencegah
transmisi HIV diberikan sesegera mungkin setelah diagnosis HIV tanpa melihat
umur kehamilan, kadar CD4 maupun stadium klinis ibu. Bila ibu telah
mendapatkan 3 jenis ARV sejak awal kehamilan, maka risiko transmisi HIV ke
bayi tanpa memandang cara persalinan kurang lebih sebesar 1%
(Towsend et al. 2008).
Pada kasus ini status HIV ibu penderita sudah diketahui sejak 2 tahun
sebelum melahirkan dan ibu rutin kontrol di bagian penyakit dalam serta
mendapatkan terapi ARV sejak 1 tahun sebelum dan selama kehamilan.

2. Cara Persalinan
Pada rekomendasi terdahulu, operasi sectio caesaria elektif harus
dilakukan pada semua ibu hamil dengan HIV positif. Tindakan sectio caesaria
saja (tanpa penggunaan ARV selama kehamilan) bila dilaksanakan secara elektif
sebelum terjadinya ruptur membran dan persalinan dapat menurunkan resiko
transmisi HIV yang terjadi akibat proses persalinan hingga 50-87%. Tingginya
resiko komplikasi setelah persalinan operatif membuat dilakukannya penelitian
mengenai efektivitas persalinan sectio. Persalinan operatif elektif dikatakan tidak

9
memberikan tambahan manfaat terhadap MTCT bila ibu memiliki kadar virus
dalam plasma yang tidak terdeteksi. Di negara maju yang dapat melaksanakan
pemeriksaan PCR RNA HIV secara rutin hanya menyarankan persalinan operatif
elektif bila ibu memiliki kadar viral load >1000 kopi/ml pada trimester
ketigakehamilan, bila tidak ada data mengenai PCR RNA HIV atau atas indikasi
obstetrik. Sedangkan dalam Guideline prevention mother to child tranmision
(PMTCT) Thailand 2010, persalinan operatif elektif direkomendasikan pada ibu
HIV postif hamil 38 minggu yang belum pernah mendapatkan ARV sebelumnya,
mendapatkan ARV (3 jenis) tetapi < 4 minggu sebelum persalinan, mempunyai
kepatuhan minum ARV yang jelek, atau bila memiliki kadar HIV RNA > 1000 kopi
pada minggu ke 36 kehamilan (Puspitasari dan Utomo, 2013).
Pada kasus ini, proses persalinan dilakukan secara sectio caesaria untuk
mengurangi terjadinya MTCT. Hal ini sudah sesuai dengan program PMTCT dari
WHO dengan harapan dapat menurunkan resiko transmisi HIV yang terjadi
akibat proses persalinan hingga 50-87%..

3. Pemberian Profilaksis ARV pada Bayi


Pemberian ARV pada bayi bertujuan sebagai profilaksis paska pajanan
untuk menurunkan resiko transmisi HIV dari Ibu. Pemberian paling efektif bila
diberikan sesegera mungkin setelah bayi lahir (<6-12 jam). Pemberian tersebut
tidak bermanfaat bila diberikan setelah usia > 48 jam (WHO, 2014). Regimen
yang banyak digunakan saat ini adalah Zidovudin monoterapi dengan dosis 4
mg/kg/kali setiap 12 jam, selama 4 hingga 6 minggu. WHO juga
merekomendasikan pilihan ARV lain pada bayi yaitu Nevirapin 2 mg/kg/hari,
selama 4-6 minggu, bila ibunya mendapatkan 3 jenis ARV selama hamil.
Pemberian Nevirapin dosis tunggalsaja tidak dianjurkan pada bayi karena
efektivitasnya lebih rendah dan meningkatkan resiko resistensi terhadap
nevirapin pada bayi bila kelak terinfeksi HIV. Dosis ARV untuk bayi yang
disederhanakan dapat dilihat pada tabel berikut.
Bila diagnosis HIV pada ibu dibuat saat persalinan atau setelah bayi lahir
(Ibu tidak minum ARV atau minum < 1 bulan), maka pada bayi pemberian
kombinasi 3 jenis ARV didapatkan lebih efektif menurunkan resiko transmisi HIV
dari ibu daripada Zidovudin monoterapi (Puspitasari dan Utomo, 2013).

10
Tabel 3.1 Rekomendasi Dosis Zidovudin Pada Bayi yang Disederhanakan
(WHO, 2010)
Umur bayi Dosis harian zidovudin
Lahir dampai umur 6 minggu
- berat badan lahir 2000-2499 gr
10 mg 2 x sehari
- berat badan lahir >2500 gr
15 mg 2x sehari

Tabel 3.2 Rekomendasi Pemberian ARV Pada Bayi Dimana Ibu Belum
Pernah Mendapat ARV Selama Hamil atau Persalinan
Rekomendasi ARV pada bayi
WHO, 2010 ZDV 4 mg/kgbb/dosis, tiap 12 jam selama 4-6 minggu
atau
NVP 2 mg/kgbb/dosis tiap 24 jam selama 4-6 minggu
CDC, 2011 ZDV 4 mg/kgbb/dosis, tiap 12 jam selama 6 minggu +
NVP 12 mg/dosis (8 mg/dosis bila BBL 1,5-2 kg) pada
saat lahir, 48 jam dari dosis I dan 96 jam dari dosis II
atau
ZDV + nelfinavir (NFV) + 3 TC selama 6 minggu
Thailand, 2010 ZDV 4 mg/kgbb/dosis, tiap 12 jam selama 4 minggu + 3
TC 2 mg/kgbb/dosis tiap 12 jam selama 4 minggu + NVP
2 mg/kgbb/dosis tiap 24 jam selama 1 minggu,
dilanjutkan 4 mg/kgbb/dosis selama 1 mingg (total 2
minggu)
Dikutip dari: (Puspitasari dan Utomo, 2013)
Pada kasus ini, ibu dari pasien telah mendapatkan terapi ARV selama
kehamilan, sehingga bayi yang lahir langsung mendapatkan peroral Zidovudin
dengan dosis 4 mg/kgbb/x yang diberikan dua kali sehari. Terapi ini sesuai
dengan rekomendasi yang disarankan oleh WHO untuk pemberian zidovudin
sebagai profilaksis selama 6 minggu, menunggu ibu memeriksakan PCR HIV
pada bayinya.

4. Pemilihan Makanan pada Bayi dan Menyusui


Pemberian ARV pada ibu atau bayi selama menyusui dapat menurunkan
transmisi HIV melalui ASI dari 15% menjadi 3%. Oleh karenanya Ibu hamil HIV
positif perlu mendapat konseling sehubungan dengan keputusannya untuk
menggunakan susu formula ataupun ASI eksklusif. Untuk mengurangi risiko
penularan, Ibu HIV positif bisa memberikan susu formula kepada bayinya.
Pemberian susu formula harus memenuhi 5 persyaratan AFASS dari WHO

11
(Acceptable= mudah diterima, Feasible= mudah dilakukan, Affordable= harga
terjangkau, Sustainable= berkelanjutan, Safe= aman penggunaannya). Pada
daerah tertentu dimana pemberian susu formula tidak memenuhi persyaratan
AFASS maka WHO merekomendasikan pemberian ASI selama 6 bulan
(Kemenkes RI, 2015).
Di daerah yang dapat memenuhi kriteria AFASS, tidak ada lagi risiko
transmisi HIV setelah persalinan, sehingga negara maju tetap
merekomendasikan susu formula sebagai pilihan utama. Bila Ibu HIV yang saat
melahirkan telah meminum ARV teratur, memiliki CD4 baik dan Viral load < 50
kopi/ml pada 2 kali pemeriksaan berturut-turut , CDC memberikan pertimbangan
khusus bila ibu ingin menyusui bayinya mengingat risiko transmisi melalui ASI
pada kelompok ini sebesar 0,1%. (Puspitasari dan Utomo, 2013)
Pada kasus ini, penderita hanya mendapatkan susu formula saja, dan ibu
pasien tetap melanjutkan pengobatannya dengan ARV.

3.1.2 Penegakan Diagnosis HIV


Untuk menegakan diagnosis klinis HIV (biasanya setelah umur 6 minggu)
digunakan uji virologis. Uji virologis direkomendasikan untuk mendiagnosis anak
berumur < 18 bulan. Uji tersebut harus memiliki sensitivitas minimal 98% dan
spesifisitas 98% dengan cara yang sama seperti uji serologis. Uji virologis yang
dianjurkan adalah PCR HIV DNA dan PCR HIV RNA (viral load, VL) pada plasma
(Kemenkes RI, 2014).
Bayi yang diketahui terpajan HIV sejak lahir dianjurkan untuk diperiksa
dengan uji virologis pada umur 4 – 6 minggu atau waktu tercepat yang mampu
dilaksanakan. Pada kasus bayi dengan pemeriksaan virologis pertama hasilnya
positif maka terapi ARV harus segera dimulai; pada saat yang sama dilakukan
pengambilan sampel darah kedua untuk pemeriksaan uji virologis kedua
(Kemenkes RI, 2014).
Bila ada anak berumur < 18 bulan dan dipikirkan terinfeksi HIV, tetapi
perangkat laboratorium untuk PCR HIV tidak tersedia, maka diagnosis presumptif
infeksi HIV secara klinis dapat dilakukan. Hal ini karena antibodi HIV ibu dapat
ditransfer secara maternal dan dapat bertahan selama 18 bulan sehingga
pemeriksaan dengan antibodi HIV memberikan interpretasi yang sulit
(Kemenkes RI, 2014).

12
Gambar 3.1. Alur diagnosis Bayi Ibu dengan HIV/AIDS (BIHA)

Diagnosis pada anak > 18 bulan memakai cara yang sama dengan uji
HIV pada orang dewasa. Perhatian khusus untuk anak yang masih mendapat
ASI pada saat tes dilakukan, uji HIV baru dapat diinterpretasi dengan baik bila
ASI sudah dihentikan selama > 6 minggu. Pada umur > 18 bulan ASI bukan lagi
sumber nutrisi utama. Oleh karena itu cukup aman bila ibu diminta untuk
menghentikan ASI sebelum dilakukan diagnosis HIV.

13
Gambar 3.2 Kriteria menegakan diagnosis presumptif HIV pada anak < 18 bulan.
Apabila memenuhi minimal 1 kriteria mayor dan 1 kriteria minor atau 2 kriteria minor
maka pasien dikatakan presumtif HIV. (Dikutip dari: World Health Organizatioin.
Pedoman Tatalaksana Infeksi HIV pada Anak dan Terapi Antiretroviral di Indonesia.
Kemenkes RI, 2014).

Bila pasien HIV tidak mendapat terapi, terdapat 2 pola perjalanan


penyakit pada bayi dan anak yang terinfeksi HIV.
a. Kelompok rapid progressor
Pada kelompok ini keadaan imunodefisiensi berat bisa terjadi dalam satu
tahun dan akan meninggal sebelum usia 4 tahun, dan rata-rata usia kematiannya
terjadi pada usia 11 bulan. Kelompok rapid progressor terjadi pada 15 – 20%
penderita HIV pada bayi dan anak. Kematian yang terjadi oleh karena infeksi
bakteri yang serius, seperti Pneumocystis carinii pneumonia (PCP), ensefalopati
dan kegagalan tumbuh dini. Jika gejala muncul secara dini dan mengalami
progress secara cepat, maka dapat diprediksi kemungkinan hidupnya lebih
singkat
b. Kelompok slow progressor
Kelompok ini terjadi pada 80 - 85% bayi dan anak yang terinfeksi HIV.
Kelompok ini mulai terjadi gejala lebih lambat dan lebih ringan serta dapat
bertahan hidup lebih dari 5 tahun. Perjalanan infeksi HIV menyerupai orang
dewasa (Soemakto, 2010).
Anak berumur < 2 tahun bila terdiagnosis infeksi HIV maka terindikasi
untuk mendapat pengobatan ARV sesegera mungkin. Indikasi untuk memulai
pengobatan ARV pada anak dengan infeksi HIV dapat dilihat pada Tabel berikut

14
Tabel 3.3 Indikasi Memulai ARV

Berdasarkan ketersediaan obat, terdapat 3 kombinasi paduan ARV.


Paduan lini pertama yang direkomendasikan adalah 2 Nucleoside reverse
transcriptase inhibitor (NRTI) + 1 Non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor
(NNRTI). Gunakan lamivudin (3TC) sebagai NRTI pertama yang dapat
dikombinasikan dengan Zidovudin (AZT), stavudin (d4T) atau Tenofovir (TDF).
Adapun untuk NNRTI dapat dipilih nevirapin (NRV) atau Efavirenz (EFP)
(Kemenkes RI, 2014).

3.1.3 Pencegahan Infeksi Oportunistik


Pada bayi yang lahir dari ibu HIV/AIDS mempunyai risiko tertular HIV
yang akan menekan kekebalan tubuhnya. Karena itu pentinguntuk memberikan
pencegahan infeksi oprtunistik
a. Pencegahan PCP
Pneumonitis Carinii pneumonia (PCP) merupakan radang paru yang
sering terjadi pada penderita imunokompromais. Bayi yang berisiko
terinfeksi HIV harus diberikan profilaksis Kotrimoksazol dosis 4-6
mg/kgbb/kali (dosis TMP), 1 kali/ hari sejakusia 6 mingu sampai infeksi
HIV pada bayi dapat disingkirkan atau umur 12 bulan. Bila ternyata bayi
didignosis HIV positif maka kotrimoksazol harus dilanjutkan .
cotrimoksazol berfungsi untuk mencegah infeksi saluran napas, saluran
cerna dan toksoplasmosis. Bila alergi terhadap kotrimoksazol dapat
diberikan Dapson 2 mg/kgbb, ix/hari atau 4 mg/kgbb 1 x/minggu (WHO,
2010).

15
b. Imunisasi
Prinsip imunisasi pada bayi yang lahir dari ibu HIV adalah hampir sama
dengan bayi sehat, dengan memperhatikan terhadap vaksin hidup (BCG,
polio oral, campak, MMR, Varicella). Vaksin hidup (seperti BCG, polio
oral) tidak boleh diberikan bila terdapat gejala infeksi HIV pada bayi. BCG
diberikan pada usia dini (mulai 2 bulan) pada anak yang tanpa gejala.
Imunisasi yang lain dapat mengikuti Depkes atau jadwal IDAI. Jadwal
imunisasi pada bayi dengan HIV yang disarankan oleh WHO,2008
terdapat pad tabel berikut.

Tabel 3.4 Jadwal imunisasi Bayi atau Anak dengan HIV

Vaksin Infeksi HIV Infeksi HIV Waktu optimal imunisasi


asimptomatik simptomatik
BCG Ya Tidak Minggu ke 4-8
DPT Ya Ya Minggu ke 8,12,16
OPV Ya Tidak Minggu ke 0,8,12,16
Campak Ya Tidak Bulan ke-9
Hep B Ya Ya Seperti pada anak sehat
Tetanus Ya Ya
toksoid

3.2 Hepatitis B
3.2.1 Faktor Resiko
Penularan infeksi VHB dapat terjadi dengan 2 cara, yaitu penularan
horizontal dan vertikal. Penularan horizontal VHB dapat terjadi melalui berbagai
cara yaitu penularan perkutan, melalui selaput lendir atau mukosa (Merry,2001).
Mother-to-child-transmission (MTCT) terjadi dari seorang ibu hamil yang
menderita hepatitis B akut atau pengidap persisten HBV kepada bayi yang
dikandungnya atau dilahirkannya. Penularan HBV vertikal dapat dibagi menjadi
penularan HBV in-utero, penularan perinatal dan penularan post natal. Penularan
HBV in-utero ini sampai sekarang belum diketahui dengan pasti, karena salah
satu fungsi dari plasenta adalah proteksi terhadap bakteri atau virus. Bayi
dikatakan mengalami infeksi in-utero jika dalam 1 bulan postpartum sudah
menunjukkan HbsAg positif.
Faktor resiko terbesar terjadinya infeksi HBV pada bayi adalah melalui
transfer perinatal dari ibu dengan status HBsAg positif. Resiko akan menjadi
lebih besar apabila sang ibu juga berstatus HbeAg positif. 70-90% dari anak-
anak mereka akan tumbuh dengan infeksi HBV kronis apabila tidak diterapi.

16
Pada masa neonatus, antigen Hepatitis B muncul dalam darah 2.5% bayi-bayi
yang lahir dari ibu yang telah terinfeksi. Hal ini menunjukkan bahwa penyebaran
infeksi dapat terjadi pula intra uterine. Dalam beberapa kasus, antigenemia baru
timbul kemudian. Hal ini menunjukkan bahwa infeksi terjadi pada saat janin
melewati jalan lahir. Virus yang terdapat dalam cairan amnion, kotoran, dan
darah ibu dapat merupakan sumber infeksi (Zhang, 2004).

3.2.2 Persalinan pada ibu HbsAg positif


Pada tatalaksana terminasi kehamilan tidak ada yang membedakan
dengan ibuhamil dengan kondisi sehat, proses kelahiran dilakukan atas indikasi
obstetrik. Aspek yang perlu ditimbangkan ialah tatalaksana terkait dengan
kemungkinan terjadinya transmisi vertikal virus penyebabnya, karena hal ini
dapat berpengaruh pada morbiditas dan mortalitas anak di hari kehamilan.
` Menurut American College of Gastroenterology (ACG) dan American
Association for the Study of Liver Disease (AASLD) sangat merekomendasikan
inisiasi antivirus pada pasien dengan viremia yang tinggi pada 28-32 minggu ke
hamilan untuk mengurangi MTCT. Tenofovir dan telbivudin tetap menjadi terapi
lini pertama. Selain itu, dapat juga diberikan lamivudin kepada ibu sebelum
melahirkan (100 mg/hari dalam trisemester ketiga) (Laksmi et.al, 2008)
Persalinan pada ibu hamil dengan titer HBV tinggi (3,5 pg /mL) atau
HBeAg positif lebih baik SC pada persalinan yang lebih dari 14 jam. Pada infeksi
akut persalinan pervaginam usahakan dengan trauma sekecil mungkin. Infeksi
HBV yang ditularkan pada bayi yang lahir dengan operasi caesar elektif memiliki
persentase yang lebih kecil (1,4%), dibandingkan dengan persalinan pervaginam
(3,4%) atau operasi caesar darurat (4,2%) (Ajeng & Putu, 2017).
Pada kasus ini bayi dilahirkan secara sectio caesaria dikarenakan selain
ibu dengan hepatitis B positif, ibu juga menderita HIV positif.

3.2.3 Tatalaksana Bayi Lahir Dari Ibu Hepatitis B Positif


Pada bayi yang lahir dari ibu denganhepatitis B positif, Pedoman Nasional
di Indonesia dan WHO merekomendasikan sebaiknya HBIg dan vaksin Hepatitis
B diberikan secara intra muskular dengan dosis 0,5 ml, selambat lambatnya 24
jam setelah persalinan untuk mendapatkan efektifitas yang lebih tinggi. Apabila
status HBsAg ibu tidak diketahui, maka bayi preterm dan BBLR harus divaksin
Hepatitis B dalam 12 jam pertama setelah kelahirannya. (Jill, 2005) Karena
reaksi antibodi bayi dengan berat badan lahir kurang dari 2000 gram masih

17
kurang bila dibandingkan dengan bayi dengan berat badan lahir lebih dari 2000
gram, maka bayi-bayi kecil tersebut juga harus mendapat vaksin HBIG dalam 12
jam pertama setelah kelahirannya. Bayi-bayi dengan berat badan lahir 2000
gram atau lebih dapat menerima vaksin HBIG secepatnya setelah status HBsAg
positif ibu diketahui, namun sebaiknya vaksin diberikan sebelum tujuh hari
setelah kelahiran bayi tersebut (Pujiarto, 2000).
Apabila diketahui bahwa ibu dengan HBsAg positif, maka seluruh bayi
preterm, tidak tergantung berapapun berat badan lahirnya, harus menerima
vaksin Hepatitis dan HBIG dalam 12 jam setelah kelahirannya. Bayi dengan berat
badan lahir 2000 gram atau lebih dapat menerima vaksin Hepatitis B sesuai
dengan jadwal, namun tetap harus diperiksakan kadar antibodi anti-HBs dan
kadar HBsAg nya dalam jangka waktu 3 bulan setelah melengkapi vaksinasinya.
Jika kedua tes tersebut memberikan hasil negatif, maka bayi tersebut dapat
diberikan tambahan 3 dosis vaksin Hepatitis B (ulangan) dengan interval 2 bulan
dan tetap memeriksakan kadar antibodi anti-HBs dan HBsAg nya. Jika kedua tes
tersebut tetap memberikan hasil negatif, maka anak tersebut dikategorikan tidak
terinfeksi Hepatitis B, namun tetap dipertimbangkan sebagai anak yang tidak
berespon terhadap vaksinasi. Tidak dianjurkan pemberian vaksin tambahan. (Jill,
2005; Matondang, 2008)
Bayi dengan berat badan kurang dari 2000 gram dan lahir dari ibu dengan
HBsAg positif mendapatkan vaksinasi Hepatitis B dalam 12 jam pertama setelah
kelahiran, dan 3 dosis tambahan vaksin Hepatitis B harus diberikan sejak bayi
berusia 1 bulan. Vaksin kombinasi yang mengandung komponen Hepatitis B
belum diuji keefektifannya jika diberikan pada bayi yang lahir dari ibu dengan
HBsAg positif. Semua bayi dengan ibu HBsAg positif harus diperiksan kadar
antibodi terhadap antigen Hepatitis B permukaan (anti-HBS, atau Hepatitis B
surface antigen) dan HBsAg pada usia 9 bulan dan 15 bulan, sesudah
melengkapi serial imunisasi HBV. Beberapa pendapat mengatakan bahwa tes
serologis terhadap antigen dan antibodi tersebut dapat dilakukan 1-3 bulan
setelah selesai melaksanakan serial imunisasi Hepatitis B (Snyder, 2000).

Tabel 3.5. Tatalaksana Pemberian Vaksin Hepatitis B dan HBIG


berdasarkan status Hepatitis B Ibu

18
Status Bayi dgn berat >= 2000 gram Bayi dengan berat < 2000 gram
Maternal
HbsAg (+) Vaksin Hepatitis B dan HBIG dalamVaksin Hepatitis B dan HBIG dalam
positif 12 jam setelah kelahiran 12 jam setelah kelahiran
Vaksinasi sebanyak 3 kali, yaituVaksinasi sebanyak 4 kali, yaitu pada
pada usia 0, 2, dan 6 bulan usia 0, 1, 2-3 bulan, dan 6-7 bulan
Periksa kadar anti HBs dan HBsAgPeriksa kadar anti HBs dan HBsAg
pada usia 9 dan 15 bulan pada usia 9 dan 15 bulan
Jika HBsAg dan anti HBs pada bayiJika HBsAg dan anti HBs pada bayi
negatif (-), berikan vaksinasi ulang 3negatif (-), berikan vaksinasi ulang 3
kali dengan interval 2 bulan,kali dengan interval 2 bulan,
kemudian kembali periksa. kemudian kembali periksa
HBsAg Vaksin Hepatitis B (dalam 12 hari) Vaksin Hepatitis B dan HBIG dalam
tidak dan HBIG (dalam 7 hari) jika hasil12 jam.
diketahui tes menunjukkan ibu HBsAg +.
Segera periksa kadar HBsAg ibu Jika hasil tes HbsAg ibu belum
diketahui dalam 12 jam, berikan bayi
vaksin HBIG.
HBsAg Sebaiknya tetap lakukan vaksinasiVaksinasi Hepatitis B pertama dalam
negatif (-) Hepatitis B segera setelah lahir 30 hari setelah kelahiran jika
keadaan klinis baik.
Vaksinasi 3 kali pada usia 0-2 bulan,Vaksinasi 3 kali pada usia 1-2 bulan,
1-4 bulan, dan 6-18 bulan. 2-4 bulan, dan 5-18 bulan.
Vaksinasi kombinasi Hepatitis BVaksinasi kombinasi Hepatitis B
lainnya dapat diberikan dalam waktulainnya dapat diberikan dalam waktu
6-8 minggu. 6-8 minggu
Tidak diperlukan tes ulang terhadapTidak diperlukan tes ulang terhadap
kadar anti HBs dan HbsAg kadar anti HBs dan HbsAg

Menurut meta-analisis terkini pemberian segera vaksin baik berupa


rekombinan maupun vaksin plasma yang diikuti pengulangan pada bulan kedua
dan keenam sejak kelahiran bayilahir dari ibu dengan HBsAg positif dapat
mengurangi kejadian dari Hepatitis B bila dibandingkan dengan pemberian
placebo (RR 0,28, 95% CI 0,20-0,40), sedangkan vaksinasi ditambah pemberian
HBIg mengurangi kejadian lebih banyak lagi (RR 0,54, 95% CI 0,41-0,73). Angka
dari penelitian ini menegaskan pemberian vaksinasi dapat menurunkan kejadian
sebanyak hampir 30%, sedangkan pemberian vaksin ditambah HBIg dapat
menurunkan angka kejadian hingga 50% (Lee, 2006).
Banyak alasan yang mendukung pemberian vaksin Hepatitis tersebut.
Bayi-bayi preterm yang dirawat di rumah sakit seringkali terpapar oleh berbagai
produk darah melalui prosedur-prosedur bedah yang secara teoritis tentu saja

19
meningkatkan predisposisi terkena infeksi. Pemberian vaksin lebih awal juga
akan memperbaiki jika status maternal HBsAg positif dan juga menghindarkan
terpaparnya bayi dari anggota keluarga lainnya yang juga HBsAg positif. Hal ini
juga menyingkirkan kemungkinan adanya demam yang disebabkan oleh
pemberian vaksin lainnya (Ranuh IGN, 2014).
Usia kehamilan kurang bulan dan kurangnya berat badan lahir bukan
merupakan pertimbangan untuk menunda vaksinasi Hepatitis B. Beberapa ahli
menganjurkan untuk tetap melakukan tes serologis 1-3 bulan setelah melengkapi
jadwal imunisasi dasar (Ranuh IGN, 2014)
Imunisasi sesuai jadwal pada anak-anak dengan suspek kontak positif
adalah cara preventif utama untuk mencegah transmisi. Untuk mengurangi dan
menghilangkan terjadinya transmisi Hepatitis B sedini mungkin, maka dibutuhkan
imunisasi yang sifatnya universal. Secara teoritis, vaksinasi Hepatitis B
dianjurkan pada semua anak sebagai bagian dari salah satu jadwal imunisasi
rutin, dan semua anak yang belum divaksinasi sebelumnya, sebaiknya divaksin
sebelum berumur 11 atau 12 tahun (Ranuh IGN, 2014).
Imunoprofilaksis dengan vaksin Hepatitis B dan Imunoglobulin Hepatitis B
segera setelah terjadinya kontak dapat mencegah terjadinya infeksi setelah
terjadi kontak dengan virus Hepatitis B. Sangat penting dilakukan tes serologis
pada semua wanita hamil untuk mengidentifikasi apakah bayi yang dikandung
membutuhkan profilaksis awal, tepat setelah kelahirannya untuk mencegah
infeksi Hepatitis B yang terjadi melalui transmisi perinatal. (Pujiarto, 2000)

20
BAB III
KESIMPULAN

 Faktor resiko terbesar terjadinya infeksi HIV dan HBV pada bayi adalah
melalui transfer perinatal dari ibu dengan status HIV dan HBsAg positif.
 Transmisi virus dari ibu ke bayi dapat terjadi pada masa intra uterine, pada
masa perinatal, dan pada masa postnatal.
 Pencegahan transmisi HIV dari ibu ke bayi meliputi pemberian ARV pada ibu,
cara persalinan dengan sectio, pemberian profilaksis ARV pada bayi dan
pilihan pemberian makanan atau menyusui
 Imunisasi pada bayi dengan ibu dari ibu HIV/AIDS memerlukan
perhatiankhusus pada vaksin hidup seperti BCG polio oral tidak boleh
diberikan pada bayi dengan gejala simptomatik HIV.
 Bayi preterm maupun aterm yang lahir dari ibu dengan HBsAg positif, maka
tidak tergantung berapapun berat badan lahirnya, harus menerima vaksin
Hepatitis dan HBIG dalam 12 jam setelah kelahirannya.

21
DAFTAR PUSTAKA

Gondo H. Prevention mother to child HIV infection transmission. Lect fac Med.
2010. 1-16.
Ismoedijanto, Lenny, Dwiyanti. Infeksi opportunistik pada anak dalam Pediatric
infection disease weekend. 2013: 51-73.
Kemenkes RI. Pedoman penerapan terapi HIV pada anak. Jakarta: Bakti
Husada; 2014.
Kemenkes RI. Pedoman manajemen program pencegahan penularan HIV dan
sifilis dari ibu ke anak. Jakarta : Bakti Husada; 2015.
Laksmi, Purwita W, Mansjoer A, Alwi I, Setiati S. Penyakit-penyakit pada
kehamilan. Interna Publishing. 2008. 393-405.
Lee, Chuanfang et al. Effect of hepatitis B immunisation in newborn infants of
mothers positive for hepatitis B surface antigen: systematic review and
meta-analysis. British Medical Journal. 2006;(10)11-136.
Matondang CS, Akib AAP. Hepatitis B, eds. Ikterus Pada Neonatus, FKUI. 2008:
73-79.
Merry, V. Pengelolaan Hepatitis B Dalam Kehamilan dan Persalinan [Tesis].
Semarang : Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas
Diponegoro, 2001.
Puspitasari dan Utomo. Pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak (PPIA)
pencegahan pada bayi, dalam Pediatric infection disease weekend. 2013:
35-46.
Pujiarto PS, et.al. Bayi Terlahir dari Ibu Pengidap Hepatitis B, eds. Sari Pediatri,
IDAI. 2000:(2)48-9.
Ranuh IGN. Vaksin Hepatitis B, IDAI. 2014: 7-14.
Susanto JC, Mexitalia M, Nasar SS. Malnutrisi akut berat dan terapi nurisi
berbasis komunitas. In: Sjarif DR, Lestari ED, Mexitalia M, Nasar SS, eds.
Buku ajar nutrisi pediatrik dan penyakit metabolik. Jakarta: IDAI; 2011.
Snyder JD, Pickering LK. Viral hepatitis. In: Kliegman RM, Jenson HB..Nelson
Textbook of Pediatrics. 16th ed. Philadelphia: WB Saunders. 2000:768-
73.
Towsend C, Cortina B, Peckham, Ruiter, Tyall, Tookey P, 2008. Low rates of
mother to child transmission of HIV following effective
pregnancyintervention in the United Kingdomand Ireland 2000-2006.
AIDS. 2008; 22:973-81.

22
WHO. Antiretroviral Therapy for HIV in Infants and Children: Towards Universal
Access In: Recommendations for a public health approach. Austria: WHO
Press; 2011.
WHO. Pedoman Tatalaksana Infeksi HIV pada Anak dan Terapi Antiretroviral di
Indonesia. Jakarta: Bakti Husada; 2014.
Zhang. Mechanism of intrauterine infection of hepatitis B virus. 2006:(22)973-81.

23