Anda di halaman 1dari 11

Nama : Samrul Fuad Nasution

NIM : 1710246632
Semester :I
Program : Administrasi Pendidikan
Tugas : Paper

TQM (Total Quality Management)


I. DEFENISI DAN SEJARAH
a. Sejarah Singkat TQM
Evolusi gerakan total quality dimulai dari masa tahun 1920-an oleh Bapak
Manajemen Ilmiah, Frederick Winston Taylor.
Total Quality Management (TQM) yang dalam bahasa (istilah) Indonesia
disebut Total Manajemen Mutu atau Manajemen Mutu Terpadu (integrated quality
control) mempunyai Sejarah yang agak panjang. Hampir lima dekade yang lalu
istilah TQM telah tumbuh dan berkembang sebagai hasil sintesis dari berbagai
sumber. Semula ide TQM muncul pertama kah di Amerika Serikat, tetapi kemudian
diorganisasikan dan dilaksanakan di beberapa perusahaan Jepang. Khususnya setelah
Perang Dunia II, TQM ini diseminarkan sekaligus diterapkan dalam bentuk program-
program pelatihan di berbagai sektor industri. Dua orang pakar yang merupakan
"suhu" TQM, balk di Jepang maupun di Amerika Serikat adalah W. Edward Deming
dan Joseph M. Juran.
Peran Deming terutama mengajarkan betapa pentingnya pihak manajemen suatu
perusahaan harus bertanggung jawab penuh dalam penerapan sistem kualitas produk
secara total dalam menghasilkan produk yang baik dan tidak cacat. Artinya,
Deminglah yang pertama mengintroduksi TQM dengan mencegah terjadinya produk
cacat (defect product). Tentu saja Deming pun mendukung penggunaan statistik
untuk melaksanakan kendali mutu (statistical quality control).
Aspek yang paling fundamental dari manajemen ilmiah adalah adanya
pemisahan antara perencanaan dan pelaksanaan. Meskipun pembagian tugas telah
menimbulkan peningkatan besar dalam hal produktivitas, sebenarnya konsep
pembagian tugas tersebut telah menyisihkan konsep lama mengenai
keahlian/keterampilan, dimana individu yang sangat terampil melakukan semua
pekerjaan yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk yang berkualitas.
Manajemen ilmiah Taylor mengatasi hal ini dengan membuat perencanaan tugas
manajamen dan tugas tenaga kerja. Untuk mempertahankan kualitas produk dan jasa
yang dihasilkan, maka dibentuklah departemen kualitas yang terpisah.
Seiring dengan meningkatnya volume dan kompleksitas pemanufakturan,
kualitas juga menjadi hal semakin sulit. Bolue dan kompleksitas mendorong
timbulnya Quality engineering pada tahun 1920-an dan relebality engineering pada
tahun 1950-an. Quality engineering sendiri mendorong timbulnya penggunaan
metode-metode statistic dalam pengendalian kualitas, yang akhirnya mengarah pada
konsep control charts dan statistical process control. Kedua konsep terakhir ini
merupakan aspek fundamental dari total quality management.
Sekalipun konsep TQM banyak yang dipengaruhi oleh perkembangan-
perkembangan di Jepang, tetapi tidak dapat dinyatakan bahwa TQM made in Japan.
Hal ini dikarenakan banyak aspek TQM yang bersumber dari Amerika Serikat
(Schmidt dan Finniagan, 1992) dalam Bound, (et.al), 1994:61) diantaranya sebagai
berikut :
1. Manajemen ilmiah, yaitu berupaya menemukan satu cara terbaik dalam
melakukan suatu pekerjaan.
2. Dinamika kelompok, yaitu mengupayakan dan mengorganisasikan kekuatan
pengalaman kelompok.
3. Pelatihan dan pengembangan, yang merupakan investasi dalam sumber daya
manusia.
4. Motivasi berprestasi.
5. Keterlibatan karyawan
6. Sistem sosioteknikal, dimana organsisasi beroperasi sebagai sistem yang terbuka.
7. Pengembangan organisasi
8. Budaya organsiasi, yakni menyangkut keyakinan, mitos dan nilai-nilai yang
mengarahkan perilaku setiap orang dalam organisasi.
9. Teori kepemimpinan baru, yakni menginspirasikan dan memberdayakan orang
lain untuk bertindak.
10. Konsep lingking-pin dalam organisasi, yaitu membentuk tim fungsional silang
11. Perencanaan strategik
b. Defenisi TQM
Dalam era global, persaingan menjadi tajam. Perusahaan pada masa lalu hanya
bersaing pada tingkat regional dan nasional, pada masa sekarang harus menghadapi
persaingan global. Hanya perusahaan yang dapat menghasilkan kualitas barang atau
jasa yang sesuai dengan tuntutan pelanggan dapat memenangkan persaingan.
Seperti halnya dengan kualitas, defenisi TQM juga ada bermacam-macam. TQM
diartikan sebagai perpaduan semua fungsi manajemen, semua bagian dari suatu
perusahaan dan semua orang ked dalam flasfah hilistik yang dibangun berdasarkan
konsep kualitas, teamwork, produktivitas, dan kepuasan pelanggan (Ishikawa dalam
Pawitra, 1993:135). Defenisi lainnya menyatakan bahwa TQM merupakan sistem
manajemen yang mengangkat kualitas sebagai strategui usaha dan berorientasi pada
kepuasan pelanggan dengan melibatkan seluruh anggota organisasi. TQM
merupakan sistem manajemen yang berfokus pada orang/karyawan dan bertujuan
untuk terus menerus meningkatkan nilai yang diberikan pada pelanggan dengan
biaya penciptaan nilai yang lebih rendah tersebut.
Berdasarkan defenisi TQM maka dapat disimpulkan defenisi TQM adalah
seperti berikut. Total quality management merupakan suatu pendekatan dalam
menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing organisasi
melalui perbaikan terus menerus atas produk, jasa, tenaga kerja dan lingkungan.
1. TQM yaitu perpaduan semua fungsi manajemen, semua bagian dari suatu
perusahaan dan semua orang kedalam falsapah holistic yang dibangun
berdasarkan konsep kualitas, teamwork, produktivitas, dan kepuasan pelanggan
(ishikawa dalam Pawitra,1993 :135)
2. Sistem manajemen yang mengangkat kualitas sebagai strategi usaha dan
berorientasi pada kepuasan pelanggan dengan melibatkan seluruh anggota
organisasi (Santosa, 1992, p.33)
3. Pengertian lain dikemukakan oleh Drs. M.N. Nasution, M.S.c., A.P.U.
mengatakan bahwa Total Quality Management merupakan suatu pendekatan
dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing
organisasi melalui perbaikan terus-menerus atas produk, jasa, tenaga kerja,
proses, dan lingkungannya.
Dari berbagai defenisi tersebut diatas dapat diberikan sebuah definisi tentang
TQM yaitu : “Suatu Pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk
memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus menerus atas
produk, jasa, tenaga kerja, proses, dan lingkungannya.
II. KAJIAN-KAJIAN TQM
Konsep TQM
Pada dasarnya konsep TQM mengandung tiga unsur (Bounds et al. Dalam
Hessel, 2003:77) yaitu berikut ini.
1. Strategi Nilai Pelanggan
Nilai pelanggan adalah manfaat yang dapat diperoleh pelanggan atas
penggunaan barang/jasa yang dihasikan perusahaan dan pengorbanan
pelanggan untuk memperolehnya. Strategi ini merupakan perencanaan bisnis
untuk memberikan nilai bagi pelanggan termasuk karakterisktik produk, cara
penyampaian, pelayanan, dan sebagainya.
2. Sistem Organisasional
Sistem organisasional berfokus pada penyediaan nilai bagi pelanggan.
Sistem ini mencakup tenaga kerja, material, mesin/teknologi proses, metode
operasi dan pelaksanaan kerja, aliran proses kerja, arus informasi, dan
pembuatan keputusan.
3. Perbaikan Kualitas Berkelanjutan
Perbaikan kualitas diperlukan untuk menghadapi lingkungan eksternal yang
selalu berubah, terutama perubahan selera pelanggan. Konsep ini menuntut
adanya komitmen untuk melakukan pengujian kualitas produk secara kontinu.
Dengan perbaikan kualitas produk kontinu, akan dapat memuaskan
pelanggan.
Prinsip TQM
TQM merupakan suatu konsep yang berupaya melaksanakan sistem manajemen
kualitas kelas dunia. Untuk itu, diperlukan perubahan besar dalam budaya dan
sistem nilai suatu organisasi. Menurut Hensler dan Brunell (dalam Scheuing dan
Christopher, 1993: 165-166), ada empat prinsip utama dalam TQM. Keempat prinsip
tersebut adalah sebagai berikut :
1. Kepuasaan Pelanggan
Dalam TQM, konsep mengenai kualitas dan pelanggan diperluas. Kualitas tidak
hanya bermakna kesesuaian dengan spesifikasi-speseifikasi tertentu, tetapi
kualitas tersebut ditentukan oleh pelanggan. Pelanggan itu sendiri mmeliputi
pelanggan internal dan pelanggan eksternal. Kebutuhan pelanggan diusahakan
untuk dipuaskan dalam segala aspek, termasuk di dalamnya harga, keamanan,
dan ketepatan waktu. Oleh karena itu, segala aktivitas perusahaan harus
dikoordinasikan untuk memuaskan para pelanggan. Kualitas yang dihasikan
suatu perusahaan sama dengan nilai yang diberikan dalam rangka meningkatkan
kualitas hidup para pelanggan. Semakin tinggi nilai yang diberikan, maka
semakin besar pula kepuasaan pelanggan.
2. Respek terhadap Setiap Orang
Dalam perusahaan yang kualitasnya tergolong kelas dunia, setiap karyawan
dipandang sebagai individu yang memiliki talenta dan kreativitas yang khas.
Dengan demikian, karyawan merupakan sumber daya organisasi yang paling
bernilai. Oleh karena itu, setiap orang dalam organisasi diperlukan dengan baik
dan diberi kesempatan untuk terlibat dan berprestasi dalam tim pengambil
keputusan.
3. Manajemen Berdasarkan Fakta
Perusahaan kelas dunia beriorentasi pada fakta. Maksudnya, bahwa setiap
keputusan selalu didasarkan pada data, bukan sekedar pada perasaan (feeling).
Ada dua konsep pokok yang berkaitan dengan hal ini. Pertama, prioritas
(prioritization), yakni suatu konsep bahwa perbaikan tidak dapat dilakukan pada
semua aspek pada saat yang bersamaan, mengingat keterbatasan sumber daya
yang ada. Oleh karena itu, dengan menggunakan data, maka manajemen dan tim
dalam organisasi dapat memfokuskan usahanya pada situasi tertentu yang vital.
Konsep kedua variasi atau variabilitas kinerja manusia. Data statistik dapat
memberikan gambaran mengenai variabilitas yang merupakan bagian yang wajar
dari setiap sistem organisasi. Dengan demikian, manajemen dapat
memprediksikan hasil dari setiap keputusan dan tindakan yang dilakukan.
4. Perbaikan Berkesinambungan
Agar dapat sukses, setiap perusahaan perlu melakukan proses sistematis dalam
melaksanakan perbaikan secara berkesinambungan. Konsep yang berlaku di sini
adalah siklus PDCAA (plan-do-check-act-analyze), yang terdiri atas langkah-
langkah perencanaan, dan melakukan tindakan korektif terhadap hasil yang
diperoleh.
Metode TQM
Metode TQM difokuskan pada tiga pakar utama yang merupakan pionir dalam
pengembangan TQM. Mereka adalah W.Edwards Deming, Joseph M.Juran, dan
Philip B.Crosby. adapun metode mereka antara lain ialah :
1. Metode W. Edwards Deming
Banyak yang menganggap bahwa Deming adalah bapak dari gerakan total
quality management. Deming mencatat kesuksesan dalam memimpin revolusi
kualitas di Jepang, yaitu dengan memperkenalkan penggunaan teknik pemecahan
masalah dan pengendalian proses statistic (statistical prosess control=SPC). Atas
jasanya yang besar bagi industri Jepang, maka setiap tahun diberikan
penghargaan bernama Deming Prize kepada setiap perusahaan yang berprestasi
dalam hal kualitas.
Kontribusi utama yang membuat Deming terkenal adalah
a. Deming Cycle (Siklus Deming)
Siklus deming ini dikembangkan untuk menghubungkan antara operasi
dengan kebutuhan pelanggan dan memfokuskan sumber daya semua bagian
dalam perusahaan (riset, desain, operasi dan pemasaran) secara terpadu dan
sinergi unutuk memenuhi kebutuhan pelanggan (Ross, 1994 :237)
b. Empat Belas Poin Demin (Deming’s Fourteen Points)
Empat belas poin Deming (Bounds, 1994:74) ini merupakan ringkisan dari
keseluruhan pandangan W.Edwards Deming terhadap apa yang harus
dilakukan oleh suatu perusahaan untuk melakukan transisi positif dari bisnis
sebagaimana biasanya sehingga menjadi bisnis tingkat dunia.
c. Deming’s Seven Deadly Deiseases
Hal ini membicarakan tentang ringkasan dari pandangan Deming terhadap
faktor-faktor yang dapat merintangi trasnformasi menuju bisnis berkualitas.
2. Metode Joseph M.Juran
Juran mendefenisikan kualitas sebagai cocok/sesuai untuk digunakan
(fitness for use)yang mengandung pengertian bahwa suatu barang atau jasa harus
dapat memenuhi apa yang diharapkan oleh para pemakainya. Pengertian cocok
untuk digunakan ini mengandung 5 dimensi utama, yaitu kualitas desain,
kualitas kesesuaian, ketersediaan, keamanan, dan field use.
Juran mengembangkan konsep Managing Business Process Quality, yang
merupakan suatu teknik untuk melaksanakan penyempurnaan secara fungsional
silang antara lain :
a. Juran’s Three Basic Seps to Progress
Tiga langkah ini digunakan sebagai dasar untuk mencapai kualitas dunia.
Yaitu titik diminishing retun dalam hubungan antar kualitas dan daya saing.
Ketiga langkah itu ialah :
1. Mencapai perbaikan terstruktur atas dasar kesinambungan yang
dikombinasikan dengan dedikasi dan keadaan yang mendesak
2. Mengadakan program pelatihan secara luas
3. Membentuk komitmen dan kepemimpinan pada tingkat manajemen yang
lebih tinggi
b. Juran’s Ten Steps to Quality Improvement
Dalam hal ini ada 10 langkah dalam memperbaiki kualitas menurut Juran
(Ross, 1994 : 8) meliputi sebagai berikut :
1. Membentuk kesadaran terhadap kebutuhan akan perbaikan dan peluang
untuk melakukan perbaikan
2. Menetapkan tujuan perbaikan
3. Mengorganisasikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
4. Menyediakan pelatihan
5. Melaksanakan proyek-proyek yang diajukan untuk pemecahan masalah
6. Melaporkan perkembangan
7. Memberikan penghargaan
8. Mengkomunikasikan hasil-hasil yang dicapai
9. Menyimpan dan mempertahankan hasil yang dicapai
10. Memelihara momentum dengan melakukan perbaikan dalam sistem.
c. The Pareto Principle
Menurut prinsip ini, organisasi harus memusatkan energinya pada penyisihan
sumber masalah yang sedikit tetapi vital (vital few sources), yang
menyebabkan sebagian besar masalah.
d. The Juran Trilogy
Dalam metode ini juran mengklasifikasikannya pada beberapa bagian :
1. Perencanaan kualitas
2. Pengendalian kualitas
3. Perbaikan kualitas
3. Metode Philip B. Grosby
Grosby terkenal dengan anjuran manajemen zeno defect dan pencegahan yang
menentang tingkat kualitas yang dapat diterima secara statistik (acceptable
quality level). Ia juga dikenal dengan quality vaccine dan Crosby’s Fourteen
Steps to Quality Improvement.
Dalil-dalil manejemen yang diutarakn Grosby ialah :
a. Dalil Manajemen Kualitas Crosby
Yang menjadi dalil antara lain :
1. Defenisi kualitas adalah salam dengan persyaratan
Maksutnya sedikit saja dari suatu persyaratan dari kemampuan intelektual
yang ditetapkan sekoalah tidak terpenuhi maka seseorang dikatakan tidak
berkualitas.
2. Sistem Kualitas adalah pencegahan
Maksutnya adalah sebuah tindakan pencegahan terhadap siswa diawal
sudah lebih dahulu dilakukan antisipasi agar tidak terjadi perbedaan
dikemudian hari.
3. Kerusakan nol (zero defect) merupakan standar kinerja yang harus
digunakan.
Tingkat kerusakan nol akan dapat diterapkan bila sejak awal berdiri
sebuah sekolah sudah melakukan pengelolaan secara baik dan
berkelanjutkan.
4. Ukura kualitas adalah price of non-conformance
Kualitas sesuatu yang harus dapat diukur.
b. Crosby’s Quality Vaccine
Hal ini terdiri dari tiga unsur, yaitu determinasi (determination), pendidikan
(education), dan pelaksanaan (implementation).
Determinasi adalah suatu sikap dari manajemen untuk tidak menerima proses,
produk atau jasa yang tidak memenuhi persayaratan, seperti reject, serap,
lead delivery, wrong shipment, dan lain-lain.
Menurut Crosby, setiap perusahaan harus divaksinasi agar memiliki antibody
untuk melawan ketidak sesuaian terhadap persyaratan (non-conformances).
Ketidak sesuaian itu merupakan sebab,sehingga harus dicegah dan
dihilangkan. Dalam menyiapkan vaksinasi perusahaan perlu membuat lima
unsure yaitu :
1. Integritas
2. Sistem
3. Komunikasi
4. Operasi
5. kebijaksanaan
c. Crosby’s Fourteen Steps to Quality Improvement
Artinya adalah empat belas langkah untuk perbaikan kualitas menurut Grosby
Yang akan memberikan kemajuan terhadap suatu instansi.
III. ANALISIS
Dari berbagai jurnal di Indonesia yang membahas tentang kajian-kajian TQM sangat
banyak di publikasikan karena memiliki kajian-kajian tentang manajemen yang
membangun sebuah perusahaan atau pendidikan karena unsur-unsur penunjang
dalam mengelola secara sistematis sangat efektif, sehingga dapat memberikan output
yang baik dalam sebuah pengelolaan manajemen terpadu.
Dalam buku Manajemen Mutu Terpadu (TQM) karangan Drs. M.Nur Nasution,
M.Sc, APU. Ada 10 unsur utama sebagai penunjang pada TQM antara lain ialah :
1. Fokus Pelanggan
Yang dikatakan fokus pelanggan ialah pelanggan internal maupun pelanggan
eksternal. Pelanggan internal berperan besar dalam menentukan kualitas kerja,
proses, dan lingkungan yang berhubungan dengan produk atau jasa. Sedangkan
pelanggan eksternal menentukan kualitas produk atau jasa yang disampaikan
kepada mereka.
2. Obsesi terhadap kualitas
Yaitu pelanggan internal dan eksternal menentukan kualitas. Maka organisasi
atau pendidikan harus terobsesi untuk memenuhi atau melebihi apa yang
ditentukan. Maka semua karyawan pada setiap level berusaha melaksanakan
setiap aspek pekerjaan berdasarkan perspektif. Maka berlaku prinsif ‘good
enough is good enough’
3. Pendekatan Ilmiah
Yaitu upaya untuk mendesain dan dalam proses pengambilan keputusan dan
pemecahan masalah yang berkaitan dengan pekerjaan yang di desain tersebut.
Maka dijadikan sebagai penyusun patok duga (benchmark), memantau prestasi,
dan melaksanakan perbaikan.
4. Komitmen jangka Panjang
Yaitu suatu paradigma dalam mengubah budaya lama agar suatu sistem dapat
berjalan dengan lancer.
5. Kerja Sama Tim (Teamwork)
Yaitu sebagai penunjang dalam menyatukan kemitraan yang bertujuan untuk
sukses bersama dengan cita-cita bersama.
6. Perbaikan Sistem Secara Berkesinambungan
Ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas produksi karena dapat terjaga secara
berkesinambungan.
7. Pendidikan dan Pelatihan
Hal ini berguna dalam meningkatkan kualitas karyawan dalam satu instansi atau
organisasi yang semestinya harus di dorong untuk terus belajar. Guna
meningkatkan keterampilan teknis dan keahlian professional masing-masing
individu terus meningkat seiring perkembangan zaman. Karena pendidikan itu
tidak pernah berhenti.
8. Kebebasan yang Terkendali
Yaitu sebuah pengambilan keputusan bersama tiap-tiap orang akan lebih
memberikan rasa tanggung jawab yang besar, karena diberikan kesempatan untuk
menentukan bagaimana mencarai jalan keluar dari sebuah masalah berdasarkan
prosedur yang ditetapkan. Sebab semakin banyak yang memberikan masukan
maka semakin banyak jalan keluar dalam pemecahan sebuah masaalah.
9. Kesatuan Tujuan
Yaitu kesepakatan yang dibuat dengan pihak manajemen dan karyawan dalam
pengambilan sebuah keputusan, bukan dengan menggunakan ego personal
ataupun kepentingan kelompok tertentu.
10. Adanya Keterlibatan dan Pemberdayaan Karyawan
Dalam pelibatan karyawan dalam pengambilan keputan member 2 manfaat. Yaitu
Pertama meningkatkan kemungkinan dihasilkannya keputusan yang baik,
rencana yang baik, atau perbaikan yang lebih efektif, karena mencakup
pandangan dan pemikiran dari berbagai pihak yang langsung berhubungan
dengan situasi kerja. Kedua meningkatkan rasa memiliki dan tanggung jawab
atas keputusan dengan melibatkan orang-orang yang harus melaksanakannya.
Dari uraian diatas terlihat dengan jelas, bahwa TQM bila diterapkan dalam
dunia pendidikan maka akan dapat berdampak positif. Karena dalam TQM hampir
semua lingkup kerja dapat terkaper dengan mudah, sehingga segala komponen yang
terlibat dalam instasi pendidikan dapat difungsikan dengan baik, dan mampu memahami
tupoksi masing-masing. Dalam dunia kerja sangat dibutuhkan kualitas, untuk
mendapatkan kualitas tidaklah mudah, maka konsep yang diberiakan TQM akan dapat
memberikan solusi dalam pemecahan persoalan-persoalan yang timbul di lingkungan
kerja.
Dalam dunia pendidikan Manajemen Mutu Terpadu (TQM) dapat memberikan
kepercayaan bagi masyarakat untuk menitipkan anaknya di pendidikan yang
menerapkan TQM karena berdampak terhadap outputnya, sistem ini akan membangun
paradigma baru dalam memberikan solusi-solusi terhadap rendahnya mutu pendidikan
pada sebagian sekolah. Maka menurut pandangan saya dalam upaya mewujutkan
pendidikan yang memiliki kualitas atau mutu kiranya dapat menerapkan TQM sebagai
sistem terpadu yang dapat memberikan solusi-solusi dalam pemecahan permasalah yang
timbul di instansi pendidikan.