Anda di halaman 1dari 16

I.

Judul
Uji Penglihatan
II. Tujuan Praktikum
1. Mengetahui uji refleks pupil pada mata
2. Mengetahui uji buta warna dan ketajaman penglihatan
III. Dasar Teori
Pupil adalah celah lingkaran yang dibentuk oleh iris, dibelakang iris terdapat lensa.
Pupil dapat mengecil pada saat akomodasi dan kontriksi. Akomodasi adalah kemampuan
lensa mata untuk mencembung akibat kontraksi otot siliaris. Otot siliaris dapat
merenggang dan mengendorkan selaput yang menggantungkan lensa. Akomodasi dapat
menyebabkan daya pembiasan lensa bertambah kuat. Selain akomodasi, terjadi konversi
sumbu penglihatan dan kontriksi pupil bila seseorang melihat benda yang dekat.
Mengecilnya pupil karena cahaya ialah lebarnya pupil diatur oleh iris sesuai dengan
intensitas cahaya yang diterima oleh mata. Ditempat gelap dimana intensitas cahaya yang
kecil maka pupil akan membesar, agar cahaya dapat lebih banyak masuk ke mata.
Ditempat yang terang, dimana intensitas cahaya yang tinggi, maka pupil akan mengecil,
agar cahaya yang masuk sedikit. Refleks pada pupil yang sering disebut refleks pupus,
distimulasi oleh cahaya. Refleks pupil dapat dilihat dari mengecil dan membesarnya pupil.
Pengaturan pupil ini bekerja dengan cara :
1. Rangsangan saraf parasimpatis, merangsang otot sfingter pupil, sehingga
memperkecil saraf pupil ------ > Miosis
2. Rangsangan saraf simpatis, merangsang serabut radial iris dan menimbulkan
(pembesaran pupil) ------ > Midriosis
Daya akomodasi mata diatur melalui saraf parasimpatis, perangsangan saraf
parasimpatis menimbulkan kontraksi otot siliaris yang selanjutnya akan mengendurkan
gligamen lensa dan meningkatkan daya bias. Dengan meningkatkan daya bias, mata
mampu melihat objek lebih dekat dibanding waktu daya biasnya rendah. Akibatnya
dengan mendekatnya objek kearah mata frekuensi impuls parasimpatis ke otot siliaris
progresif ditingkatkan agar objek tetap dilihat dengan jelas.
Penglihatan pada manusia melibatkan deteksi gelombang cahaya yang sangat sempit
dengan panjang gelombang sekitar 400 sampai 740nm. Panjang gelombang terpendek
dipersepsi sebagai warna biru. Dan panjang gelombang terpanjang di persepsi sebagai
warna merah. Mata memilki fotoreseptor yang mampu mendeteksi cahaya, tetapi sebelum
cahaya mengenai reseptor yang bertanggung jawab untuk deteksi ini, cahaya harus
difokuskan ke retina (ketebalan 200µm) oleh kornea dan lensa.(Guyton and Hall,2012)
Penglihatan bergantung pada stimulasi fotoreseptor retina oleh cahaya. Benda-benda
tertentu di lingkungan, misalnya matahari, api, dan bola lampu, memancarkan cahaya.
Pigmen-pigmen di berbagai benda secara selektif menyerap panjang gelombang tertentu
cahaya yang datang dari sumber-sumber cahaya, dan panjang gelombang yang tidak
diserap dipantulkan dari permukaan benda. Berkas-berkas cahaya yang dipantulkan inilah
yang memungkinkan kita melihat benda tersebut. Suatu benda yang tampak biru menyerap
panjang gelombang cahaya merah dan hijau yang lebih panjang dan memantulkan panjang
gelombang biru yang lebih pendek, yang dapat diserap oleh fotopigmen di sel-sel kerucut
biru mata, sehingga terjadi pengaktifan sel-sel tersebut (At a Glance Fisiologi 209).
Mata merupakan struktur khusus tempat reseptor. Reseptor peka cahaya yang
penting untuk persepsi penglihatan yaitu, sel kerucut dan sel batang ditemukan di lapisan
retina. Iris mengontrol ukuran pupil dan mengatur jumlah cahaya yang diperbolehkan
masuk kemata. Kornea dan lensa adalah struktur sefraktif utama yang membelokkan
berkas cahaya masuk agar bayangan terfokus di retina (At a Glance Fisiologi 209).
Retina merupakan bagian mata yang peka terhadap cahaya,mengandung sel-sel
kerucut yang berfungsi untuk penglihatan warna dan sel-sel batang yang terutama
berfungsi untuk penglihatan dalam gelap (Guyton and Hall, 2006).
Visus adalah ketajaman penglihatan atau kemampuan untuk melihat suatu objek
pada jarak tertentu bila dibandingkan dengan penglihatan normal. Pemeriksaan visus dapat
dilakukan dengan menggunakan Optotype Snellen, kartu cincin Landolt, atau pun kartu uji
E. Optotype Snellen terdiri atas sederetan huruf dengan ukuran berbeda dan bertingkat
serta disusun dalam baris mendatar. Huruf yang teratas adalah yang besar, semakin ke
bawah ukuran hurufnya semakin kecil. Tajam penglihatan dinyatakan dalam pecahan,
dapat ditulis dengan rumus:
V = Visus
V=d
d = Jarak antara optotype dengan mata yang diperiksa
D
D = Jarak sejauh mana huruf-huruf masih dapat dibaca oleh
Mata
Pada orang normal dapat membaca 20/20, artinya orang tersebut mampu membaca
huruf sama halnya dengan orang normal, yakni 20 kaki atau 6m. Selain itu, penglihatan
normal pun mampu membaca 20/10, 20/15, 20/20, dan 20/25. Untuk penglihatan hampir
normal dapat membaca 20/30, 15/25, 20/40, 20/50, 20/60, dan 20/70. Sedangkan orang
yang mampu membaca 20/80, 20/100, dan 20/125, memiliki penglihatan low vision
sedang. Low vision berat mampu membaca 20/200, 20/300, dan 20/400.
Buta warna karena herediter dibagi menjadi tiga: monokromasi (buta warna total),
dikromasi (hanya dua sel kerucut yang berfungsi), dan anomalus trikromasi (tiga sel
kerucut berfungsi, salah satunya kurang baik). Dari semua jenis buta warna, kasus yang
paling umum adalah anomalus trikromasi, khususnya deutranomali, yang mencapai angka
5% dari pria. Sebenarnya, penyebab buta warna tidak hanya karena ada kelainan pada
kromosom X, namun dapat mempunyai kaitan dengan 19 kromosom dan gen-gen lain
yang berbeda. Beberapa penyakit yang diturunkan seperti distrofi sel kerucut dan
akromatopsia juga dapat menyebabkan seseorang menjadi buta warna (Anonim, 2008).
Menurut (Guyton and Hall,2012) Metode Ishihara yaitu metode yang dapat dipakai
untuk menentukan dengan cepat suatu kelainan buta warna didasarkan pada pengunaan
kartu bertitik-titik. Kartu ini disusun dengan menyatukan titik-titik yang mempunyai
bermacam-macam warna. Merupakan pemeriksaan untuk penglihatan warna dengan
memakai satu seri gambar titik bola kecil dengan warna dan besar berbeda (gambar
pseudokromatik), sehingga dalam keseluruhan terlihat warna pucat dan menyukarkan
pasien dengan kelainan penglihatan warna melihatnya. Penderita buta warna atau dengan
kelainan penglihatan warna dapat melihat sebagian ataupun sama sekali tidak dapat
melihat gambaran yang diperlihatkan. Pada pemeriksaan pasien diminta melihat dan
mengenali tanda gambar yang diperlihatkan dalam waktu 10 detik (Guyton and
Hall,2012).
Penyakit tertentu dapat terjadi ganguan penglihatan warna seperti buta warna merah
dan hijau pada atrofi saraf optik, optik neuropati toksi dengan pengecualian neuropati
iskemik, glaukoma dengan atrofi optik yang memberikan ganguan penglihatan biru kuning
(Guyton and Hall,2012).
Gen buta warna terkait dengan dengan kromosom X (X-linked genes). Jadi
kemungkinan seorang pria yang memiliki genotif XY untuk terkena buta warna secara
turunan lebih besar dibandingkan wanita yang bergenotif XX untuk terkena buta warna.
Jika hanya terkait pada salah satu kromosom X nya saja, wanita disebut carrier atau
pembawa, yang bisa menurunkan gen buta warna pada anak-anaknya. Menurut salah satu
riset 5-8% pria dan 0,5% wanita dilahirkan buta warna. Dan 99% penderita buta warna
termasuk dikromasi, protanopia, dan deuteranopia (Nina Karina, 2007).
Dua gen yang berhubungan dengan munculnya buta warna adalah OPN1LW (Opsin
1 Long Wave), yang menyandi pigmen merah dan OPN1MW (Opsin 1 Middle Wave),
yang menyandi pigmen hijau (Samir S. Deeb dan Arno G. Motulsky, 2005). Buta warna
dapat juga ditemukan pada penyakit makula, saraf optik, sedang pada kelainan retina
ditemukan cacat relative penglihatan warna biru dan kuning sedang kelainan saraf optik
memberikan kelainan melihat warna merah dan hijau (Ilyas, 2008).
Buta warna Merah atau Hijau. Bila mata tidak mempunyai sekelompok sel dengan
warna lainnya. Sebagai contoh warna hijau,kuning,jingga tua, dan merah adalah warna-
warna dengan panjang gelombang antara 525-675 nanometer, yang secara normal
dibedakan oleh sel kerucut merah dan hijau. Jika salah satu dari sel kerucut itu hilang
seseorang tidak dapat menggunakan mekanisme ini untuk melihat keempat warna tersebut,
orang ini khususnya tidak dapat membedakan warna merah dan hijau (Guyton and Hall,
2012).
Orang yang tidak mempunyai sel kurucut merah disebut protanopia, seluruh
sprektum penglihatan secara akhir panjang gelombang akan panjang karena kurangnya sel
kerucut merah (Guyton and Hall, 2012).
Orang yang tidak mempunyai sel kerucut hijau disebut deuteranopia, orang ini
mempunyai lebar spektum panjang gelombang yang benar-benar normal sebab tersedia sel
kerucut merah untuk mendeteksi panjang gelombang warna merah yang panjang (Guyton
and Hall, 2012).

IV. Alat dan Bahan


No Nama Alat dan Dokumentasi Fungsi
Bahan
1 Probandus Sebagai orang yang
melakukan
praktikum.
2 Optotype van snellen Untuk mendeteksi
tajam penglihatan
seseorang.

3 Buku Ishihara Untuk menguji buta


warna pada mata
probandus atau
praktikkan dengan
menebak angka atau
huruf

V. Prosedur Kerja
 Visus 4,5 meter
No Prosedur Kerja Dokumentasi

Probandus berdiri pada jarak 4,5 meter dari


1 Optotype van snellen dan tinggi mata horizontal
dengan Optotype van snellen

Salah satu mata ditutup secara bergantian kanan


terlebih dahulu atau kiri dan membaca huruf pada
2
Optotype van snellen paling bawah sampai atas
dengan berurutan
Salah satu teman membantu menunjuk huruf di
3 Ototype van snellen di depan kemudian mencatat
data hasil pengamatan dari mata kanan dan kiri

 Visus 6 meter
No Prosedur Kerja Dokumentasi

Probandus berdiri pada jarak 6 meter dari


1 Optotype van snellen dan tinggi mata horizontal
dengan Optotype van snellen

Salah satu mata ditutup secara bergantian kanan


terlebih dahulu atau kiri dan membaca huruf pada
2
Optotype van snellen paling bawah sampai atas
dengan berurutan
Salah satu teman membantu menunjuk huruf di
3 Ototype van snellen di depan kemudian mencatat
data hasil pengamatan dari mata kanan dan kiri

 Buku Ishihara
No Prosedur Kerja Dokumentasi

Pada ruangan yang memiliki penerangan yang


cukup, probandus membaca nomor atau huruf
1
dalam gambaran-gambaran buku ishihara dalam
waktu maksimal 10 detik.

Mencatat data hasil dan menentukan kelainan


2 yang ditemukan menurut buku petunjuk yang
terdapat dalam buku tersebut.

VI. Hasil Pengamatan


A) Visus 4,5 meter
NO NAMA JENIS VISUS DOKUMENTASI
PROBANDUS KELAMIN
1 Dina PEREMPUAN 15/25

2 Rifqiatul PEREMPUAN 15/20

3 Ach. Junaedi LAKI LAKI 15/20

4 Oktavia PEREMPUAN 15/15

B) Visus 6 meter
NO NAMA JENIS VISUS DOKUMENTASI
PROBANDUS KELAMIN

1 Dina PEREMPUAN 15/25

2 Rifqiatul PEREMPUAN 15/20


3 Ach. Junaedi LAKI LAKI 15/20

4 Oktavia PEREMPUAN 15/15

C) Buta Warna
NO NAMA JENIS BUTA DOKUMENTASI
PROBANDUS KELAMIN WARNA

1 Dina PEREMPUAN Normal

2 Rifqiatul PEREMPUAN Normal

3 Ach. Junaedi LAKI LAKI Normal


4 Oktavia PEREMPUAN Normal

VII. Pembahasan
Pada praktikum kali ini yakni membahas tentang uji pengilahatan yang bertujuan
untuk mengetahui uji refleks pupil dan uji buta warna serta ketajaman penglihatan.
Pemeriksaan tajam penglihatan merupakan pemeriksaan fungsi mata. Gangguan
penglihatan memerlukan pemeriksaan untuk mengetahui sebab kelainan mata yang
mengakibatkan turunnya tajam penglihatan. Tajam penglihatan perlu dicatat pada setiap
mata yang memberikan keluhan mata. Untuk mengetahui tajam penglihatan seseorang
dapat dilakukan dengan kartu Snellen dan bila penglihatan kurang maka tajam penglihatan
diukur dengan menentukan kemampuan melihat jumlah jari (hitung jari), ataupun proyeksi
sinar. Untuk besarnya kemampuan mata membedakan bentuk dan rincian benda
ditentukan dengan kemampuan melihat benda terkecil yang masih dapat dilihat pada jarak
tertentu (Ilyas, 2009).
Biasanya pemeriksaan tajam penglihatan ditentukan dengan melihat kemampuan
membaca huruf-huruf berbagai ukuran pada jarak baku untuk kartu. Pasiennya dinyatakan
dengan angka pecahan seperti 20/20 untuk penglihatan normal. Pada keadaan ini, mata
dapat melihat huruf pada jarak 20 kaki yang seharusnya dapat dilihat pada jarak tersebut.
Tajam penglihatan normal rata-rata bervariasi antara 6/4 hingga 6/6 (atau 20/15 atau 20/20
kaki). Tajam penglihatan maksimum berada di daerah fovea, sedangkan beberapa faktor
seperti penerangan umum, kontras, berbagai uji warna, waktu papar, dan kelainan refraksi
mata dapat merubah tajam penglihatan mata (Ilyas, 2009).
Pada orang normal dapat membaca 20/20, artinya orang tersebut mampu membaca
huruf sama halnya dengan orang normal, yakni 20 kaki atau 6m. Selain itu, penglihatan
normal pun mampu membaca 20/10, 20/15, 20/20, dan 20/25. Untuk penglihatan hampir
normal dapat membaca 20/30, 15/25, 20/40, 20/50, 20/60, dan 20/70. Sedangkan orang
yang mampu membaca 20/80, 20/100, dan 20/125, memiliki penglihatan low vision
sedang. Low vision berat mampu membaca 20/200, 20/300, dan 20/400.
Menurut Sherwood (2004), Iris mengandung dua kelompok jaringan otot polos,
satu sirkuler (serat-serat otot berjalan melingkar didalam iris) dan yang lain radial
(serat-seratnya berjalan keluar dari batas pupil seperti jari-jari roda sepeda). Karena serat-
serat otot memendek saat berkontraksi, pupil mengecil apabila otot sirkuler berkontraksi
dan membentuk cincin yang lebih kecil. Refleks konstraksi pupil ini terjadi pada cahaya
terang untuk mengurangi jumlah cahaya yang masuk kemata. Dilatasi pupil terjadi pada
cahaya temaram (suram) untuk meningkatkan jumlah cahaya yang masuk. Komponen
aferen lengkung refleks yang mengatur konstriksi pupil terhadap rangsang cahaya atau
refleks akomodasi pada penglihatan dekat adalah nervus optikus. Saraf eferen merupakan
bagian dari saraf parasimpatis dan mencapai serabut otot polos pupilokonstriktor (otot
sirkuler) melalui nervus okulomotorius (III). Saraf simpatis mempersarafi serabut otot
pupilodilator (otot radial), yang mencapai mata (dari ganglion servikal superior)
melalui pleksus simpatis pada dinding arteri karotis internal (Sherwood,2004).
Ketika pupil sebelah kanan/kiri diberi sinar kemudian antara kedua mata diberi
batas maka respon pupil yang dihasilkan adalah pupil yang disinari akan menjadi lebih
kecil sedangkan pada mata sebelahnya meskipun tidak terkena cahaya tetapi pupil
terlihat ikut mengecil. Hal ini karena antara mata kanan dan kiri terdapat hubungan/jaras
persyarafan, otot serta terdapat refleks pupil. Pada refleks pupil ini, cahaya yang masuk
pada pupil kanan/ kiri akan diteruskan oleh serabut saraf ke arah kolikulus superior, saraf
akan berakhir pada nukleus area pretektal. Kemudian neuron interkalasi yang
menghubungkan antara mata kanan dan kiri menyentuh nukleus Eidinger-Westphal dari
kedua sisi menyebabkan refleks cahaya bersifat konsensual. Sehingga otot pada pupil
mata yang tidak diberi cahaya ikut berkontraksi dan pupil ikut mengecil.
Setiap probandus memiliki ketajaman penglihatan masing-masing. Pada kelompok
kami adanya hal ini dikarenakan peristiwa mata normal dan miopi. Pada mata normal
probandus dapat melihat dengan jelas huruf terkecil dalam papan huruf tersebut sedangkan
pada mata miopi ketika tidak memakai kacamata, huruf-huruf tersebut sama sekali tidak
terlihat atau samar. Ketika probandus miopi memakai kacamata baru huruf-huruf terkecil
itu dapat terlihat jelas, hal ini terjadi karena bantuan lensa cekung yang dipakai oleh
probandus miopi. Perbedaan ini dipengaruhi oleh jatuhnya bayangan benda yang tepat
pada retina (mata normal) atau didepan retina (mata miopi).
Pada praktikum ini, tujuan yang ingin dicapai praktikan yaitu untuk mengetahui
cara pemeriksaan visus dan memeriksa visus pada alat penglihatan. Pemeriksaan visus ini
dilakukan pada 4 probandus dengan menggunakan alat optotype dari snellen yang
diletakkan pada jarak 4,5 meter dan dengan menggunakan 1 mata, probandus diminta
untuk membaca huruf demi huruf. Setelah itu, melakukan hal yang sama namun jaraknya
diubah menjadi 6 meter. Kemudian probandus diminta untuk menutup salah satu matanya
dengan tangan namun tidak boleh ditekan, karena akan mempengaruhi ketajaman mata.
Pemeriksaan ketajaman mata (visus) di lakukan dengan menggunakan rumus yaitu V = d
/D
V = Visus
V=d
d = Jarak antara optotype dengan mata yang diperiksa
D
D = Jarak sejauh mana huruf-huruf masih dapat dibaca oleh
Mata
Pada praktikum dalam mengamati visus dengan cara melihat alat dengan jarak
tertentu dan apabila tidak terlihat, maka probandus maju beberapa langkah hingga
terlihat huruf yang ada pada alat tersebut. Jarak inilah yang disebut D. Probandus
dikatakan mampu untuk melihat dengan normal ketika probandus memiliki visus
sebesar 6/15 atau 6/20 untuk jarak 6 m dan 5/15 atau 5/20 untuk jarak 5 m.
Untuk pengamatan visus pada jarak 4,5 meter dengan 1 mata terbuka di peroleh
data pada probandus pertama yaitu Kiki di peroleh hasil visus sebesar 15/20, pada
probandus kedua yaitu Dina diperoleh hasil visus sebesar 15/25, pada probandus
ketiga yaitu Juned diperoleh hasil visus sebesar 15/20, begitupun pada probandus
terakhir di peroleh hasil visus sebesar 15/15. Dari seluruh pengamatan pada praktikum
visus ini di peroleh data bahwa semua probandus memiliki ketajaman penglihatan
yang baik atau dapat di katakan normal.
Pada pengamatan visus berikutnya dilakukan pada jarak 6 meter dengan keadaan
salah satu mata terbuka dan mata satunya tertutup. Dari pengamatan ini di peroleh data
visus dari 2 probandus yaitu sebesar 15/20 dan 1 probandus menunjukan hasil visus
sebesar 15/25, dan 1 probandus menunjukkan hasil visus sebesar 15/15. Perbedaan ini
tidak terlalu mempengaruhi karena baik hasil visus sebesar 15/15, 15/20, maupun 15/25
masih terdapat pada batas ketajaman penglihatan normal.
Berdasarkan hasil praktikum seluruh probandus memiliki pupil normal. Artinya
memiliki kepekaan terhadap refleks cahaya, reflek konsensual serta refleks akomodasi.
Ketika mata probandus disinari oleh cahaya dari arah samping maka bentuk pupil tampak
mengecil sedangkan ketika cahaya dihilangkan maka pupil akan membesar kembali. Hal
ini karena pupil terletak pada bagian tengah iris. Iris mengandung dua kelompok jaringan
otot polos yaitu otot sirkuler dan otot radial. Otot-otot ini memanjang hingga bagian
pupil. Ketika ada rangsang cahaya maka syaraf okulomotorius (III) yang melewati iris
dan pupil merangsang otot sirkuler berkontraksi membentuk lingkaran kecil sehingga
pupil terlihat mengecil. Sedangkan ketika cahaya dihilangkan maka otot radialis akan
relaksasi (memanjang) sehingga pupil membesar.
Buta warna adalah istilah umum untuk gangguan persepsi warna. Penderita buta
warna kesulitan membedakan nuansa warna atau buta terhadap warna tertentu. Buta warna
tidak dapat disembuhkan. Menurut statistik, sekitar 9% laki-laki dan 0,5% perempuan
menyandang buta warna. Masalah mereka terutama adalah membedakan nuansa hijau
(deuteranomali) atau nuansa merah (protanomali) dan kebutaan warna hijau (deuteranopia)
atau warna merah (protanopia). Kesulitan atau kebutaan terhadap warna biru dan buta
warna total sangat jarang terjadi.
Retina mata memiliki hampir tujuh juta sel fotoreseptor yang terdiri dari dua jenis
sel yaitu sel batang dan sel kerucut. yang terkonsentrasi di bagian tengahnya yang disebut
makula. Sel batang sangat sensitif terhadap cahaya, dan dapat menangkap cahaya yang
lemah seperti cahaya dari bintang di malam hari, tetapi sel itu tidak dapat membedakan
warna. Berkat sel batang kita dapat melihat hal-hal di sekitar kita di malam hari, tetapi
hanya dalam nuansa hitam, abu-abu, dan putih. Sel kerucut dapat melihat detail obyek
lebih rinci dan membedakan warna tetapi hanya bereaksi terhadap cahaya terang. Kedua
jenis sel tersebut berfungsi saling melengkapi sehingga kita bisa memiliki penglihatan
yang tajam, rinci, dan beraneka warna. Ada tiga jenis sel kerucut pada retina yang
masing-masing berisi pigmen visual (opsin) yang berbeda sehingga bereaksi terhadap
panjang gelombang cahaya yang berbeda : merah, hijau dan biru. Sel kerucut menangkap
gelombang cahaya sesuai dengan pigmen masing-masing dan meneruskannya dalam
bentuk sinyal transmisi listrik ke otak. Otak kemudian mengolah dan menggabungkan
sinyal warna merah, hijau dan biru dari retina ke tayangan warna tertentu. Karena
perbedaan intensitas dari masing-masing warna pokok tersebut, kita dapat membedakan
jutaan warna. Gangguan penerimaan cahaya pada satu jenis atau lebih sel kerucut di retina
berdampak langsung pada persepsi warna di otak.
Penyebab buta warna yaitu karena tidak adanya sel kerucut. Seseorang yang buta
warna memiliki cacat atau kekurangan satu atau lebih jenis sel kerucut. Selain itu buta
warna juga dapat disebabkan oleh faktor genetik. Karena gen untuk pigmen visual merah
dan hijau terdapat pada kromosom X, buta warna merah atau hijau umumnya terjadi pada
laki-laki. Tidak seperti wanita, laki-laki hanya memiliki satu kromosom X sehingga tidak
ada salinan cadangan yang bisa mengganti gen cacat yang sesuai. Oleh karena itu laki-laki
memiliki resiko lebih besar untuk buta warna dibanding perempuan yang memiliki dua
kromosom X.
Selain itu Cedera otak atau stroke dapat mengganggu pengolahan warna di otak. Jika
buta warna baru terjadi di usia remaja atau dewasa, penyebabnya adalah penyakit di
makula, misalnya karena degenerasi makula atau kerusakan saraf optik di belakangnya.
Buta warna dapat dites dengan tes Ishihara, dimana lingkaran – lingkaran berwarna
yang beberapa diantaranya dirancang agar ada tulisan tertentu yang hanya dapat dilihat
atau tidak dapat dilihat oleh penderita buta warna. Hasil pengamatan pada Uji Buta Warna
mendapatkan hasil bahwa probandus dapat menebak buku ishara dengan benar dan tepat,
itu menandakan bahwa semua penglihatan probandus normal.
Menurut (Guyton and Hall,2012) Metode Ishihara yaitu metode yang dapat dipakai
untuk menentukan dengan cepat suatu kelainan buta warna didasarkan pada pengunaan
kartu bertitik-titik. Kartu ini disusun dengan menyatukan titik-titik yang mempunyai
bermacam-macam warna. Merupakan pemeriksaan untuk penglihatan warna dengan
memakai satu seri gambar titik bola kecil dengan warna dan besar berbeda (gambar
pseudokromatik), sehingga dalam keseluruhan terlihat warna pucat dan menyukarkan
pasien dengan kelainan penglihatan warna melihatnya. Penderita buta warna atau dengan
kelainan penglihatan warna dapat melihat sebagian ataupun sama sekali tidak dapat
melihat gambaran yang diperlihatkan. Pada pemeriksaan pasien diminta melihat dan
mengenali tanda gambar yang diperlihatkan dalam waktu 10 detik (Guyton and
Hall,2012).
Penyakit tertentu dapat terjadi ganguan penglihatan warna seperti buta warna merah
dan hijau pada atrofi saraf optik, optik neuropati toksi dengan pengecualian neuropati
iskemik, glaukoma dengan atrofi optik yang memberikan ganguan penglihatan biru kuning
(Guyton and Hall,2012).
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penglihatan menurut Dyer dan Morris
(1990), adalah pertama faktor usia. Dengan bertambahnya usia menyebabkan lensa mata
berangsur-angsur kehilangan elastisitasnya, dan agak kesulitan melihat pada jarak dekat.
Hal ini akan menyebabkan ketidaknyamanan penglihatan ketika mengerjakan sesuatu
pada jarak dekat, demikian pula penglihatan jauh.Kedua faktor penerangan. Luminansi
adalah banyaknya cahaya yang dipantulkan oleh permukaan objek. Jumlah sumber
cahaya yang tersedia juga mempengaruhi kepekaan mata terhadap warna tertentu.
Tingkat luminansi juga akan mempengaruhi kemampuan mata melihat objek gambar dan
pada usia tua diperlukan intensitas penerangan lebih besar untuk melihat objek gambar.
Semakin besar luminansi dari sebuah objek, rincian objek yang dapat dilihat oleh mata
juga akan semakin bertambah. Ketiga adalah faktor silau (glare). Menurut Grandjean
(1988), silau adalah suatu proses adaptasi yang berlebihan pada mata sebagai akibat dari
retina terkena sinar yang berlebihan. Keempat adalah faktor ukuran pupil. Agar jumlah
sinar yang diterima oleh retina sesuai, maka otot iris akan mengatur ukuran pupil. Lubang
pupil juga dipengaruhi oleh memfokusnya lensa mata, mengecil ketika lensa mata
memfokus pada objek yang dekat. Kelima adalah faktor sudut dan ketajaman penglihatan.
Sudut penglihatan ( visual angle) didefinisikan sebagai sudut yang berhadapan dengan
objek pada mata.
VIII. Kesimpulan
Pada praktikum kali ini yakni membahas tentang Uji Penglihatan yang bertujuan
untuk mengetahui uji refleks pupil pada mata dan mengetahui uji buta warna dan
ketajaman penglihatan. Kesimpulan yang kami dapatkan dari praktikum visus dan buta
warna ini ialah, kami sebagai mahasiswa dapat mengetahui cara dan tujuan dengan
dilakukannya praktikum visus dan buta warna ini. Selain itu, kami juga dapat mengetahui
sejauh mana ketajaman mata kami dengan melakukan tes visus dan mengetahui apakah
salah satu dari kami menderita buta warna atau tidak. Terdapat tiga jenis refleks pupil
yaitu refleks cahaya, reflex konsensual, refleks pupil mata akibat akomodasi. Ketika
ada rangsang cahaya maka syaraf okulomotorius (III) yang melewati iris dan pupil
merangsang otot sirkuler berkontraksi membentuk lingkaran kecil sehingga pupil
terlihat mengecil. Sedangkan ketika cahaya dihilangkan maka otot radialis akan
relaksasi (memanjang) sehingga pupil membesar.
Kemudian neuron interkalasi yang menghubungkan antara mata kanan dan kiri
menyentuh nukleus Eidinger-Westphal dari kedua sisi menyebabkan refleks cahaya
bersifat konsensual. Sehingga otot pada pupil mata yang tidak diberi cahaya ikut
berkontraksi dan pupil ikut mengecil. Cara yang digunakan yaitu mengidentifikasi
angka atau huruf dengan latar belakang warna tertentu, yaitu menggunakan Ishihara
test. Dari seluruh probandus dikategorikan normal karena mampu menyebutkan warna
dan tulisan dengan cepat dan benar.

IX. Daftar Pustaka


Tim Anatomi Fisiologi Manusia. 2018. Petunjuk Praktikum Anatomi Fisiologi Manusia.
Jember : FKIP Biologi Universitas Muhammadiyah Jember.
Hasibuan, Chintya. 2017. Laporan Prakt Anatomi Fisiologi Manusia Telinga.
https://www.academia.edu/29941723/LAPORAN_PRAK_ANATOMI_FISIOLOGI
_MANUSIA_TELINGA (diakses pada tanggal 18 Novemebr 2019)
Maksum, Farida. 2017. Laporan Fisiologi Modul Indra.
https://www.academia.edu/7425380/LAPORAN_fisiologi_modul_indra (diakses
pada tangal 19 November 2019)
Nurma. 2013. Laporan Praktikum Anfisman-6.
https://id.scribd.com/doc/145262859/laporan-praktikum-anfisman-6 (diakses pada
tanggal 18 November 2019)
Azhari, Yassinthya. 2015. Hasil Praktikum Pengukuran Fisiologi 2015.
https://www.academia.edu/35545719/Hasil_Praktikum_Pengukuran_Fisiologi_2015
_ (diakses pada tanggal 18 November 2019)