Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI PRAKTIS

KAJIAN FARMASETIK DAN PERHITUNGAN DOSIS

Disusun oleh:

Adinda Citra Amelia 11161020000076

Nadhilah Oktafiani 11161020000078

Ari Dewiyanti 11161020000084

Muhammad Maftukhin 11161020000094

Esa Fathiya Mumtaz 11161020000096

PROGRAM STUDI FARMASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

MARET/2019
DAFTAR ISI

Daftar isi………………………………………………………..1

Bab 1 Pendahuluan……………………………………………2

1.1 Latar Belakang……………………………………….2

1.2 Tujuan Praktikum……………………………………3

Bab 2 Landasan Teori…………………………………………4

Bab 3 Metodologi………………………………………………6

3.1 Resep 1………………………………………………6

3.2 Resep 2………………………………………………7

3.3 Resep 3………………………………………………8

Bab 4 Hasil dan Pembahasan…………………………………9

4.1 Hasil………………………………………………….9

4.2 Pembahasan………………………………………….13

Daftar Pustaka………………………………………………..15

1
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Resep adalah permintaan tertulis dari dokter atau dokter gigi kepada
apoteker, baik dalam bentuk paper maupun electronic untuk menyediakan dan
menyerahkan obat bagi pasien sesuai peraturan yang berlaku (Permenkes, 2014).
Resep yang benar harus berisi informasi lengkap untuk memungkinkan seorang
apoteker/ farmasis yang bersangkutan memberikan obat dan informasi yang benar
kepada pasien. Namun, dewasa ini permasalahan dalam peresepan masih banyak
ditemui.

Contoh kesalahan-kesalahan dalam resep adalah kurang lengkapnya


informasi mengenai dokter, kurang lengkapnya informasi mengenai pasien,
penulisan resep yang tidak jelas atau tidak terbaca, tidak dicantumkan paraf
penulis resep, tidak dicantumkan aturan pemakaian obat, kesalahan penulisan
dosis obat, dan tidak menuliskan rute pemberian obat. Permasalahan-
permasalahan tersebut merupakan salah satu medication error (Cahyono, 2012).
Medication error adalah kejadian yang merugikan pasien akibat pemakaian obat
yang kurang tepat. Permasalahan ini sebenarnya masih dapat dicegah oleh
apoteker/ ahli farmasis.

Seorang apoteker/ ahli farmasis harus bertindak untuk mencegah


medication error ini terjadi. Tindakan yang dapat dilakukan apoteker/ ahli
farmasis adalah melakukan pengkajian terhadap resep secara administratif,
farmasetik, dan klinis. Oleh karena itu, sebagai mahasiswa calon ahli farmasis kita
dituntut untuk memahami dalam pengkajian resep dan mengambil tindakan yang
sesuai standar pelayanan kefarmasian yang berlaku.

2
2. Tujuan praktikum

1) Mahasiswa dapat melakukan kajian farmasetika pada resep dan


menindaklanjuti resep tersebut.
2) Mahasiswa mampu melakukan perhitungan dosis.

3
BAB II

LANDASAN TEORI

Resep adalah permintaan tertulis dari dokter atau dokter gigi, kepala
Apoteker, baik dalam bentuk paper maupun elektronik untuk menyediakan
dan menyerahkan oabat bagi pasien sesuai peraturan yang berlaku
(PERMENKES No. 35 tahun 2014). Resep ditulis diatas kertas dengan ukuran
10-12 cm dan panjang 15-18 cm, hal tersebut digunakan karena resep
merupakan dokumen pemberian/penyerahan obat kepada pasien, dan
diharapkan tidak menerima permintaan resep melalui telepon.

Penulisan resep bertujuan untuk memudahkan dokter dalam pelayanan


kesehatan di bidang farmasi sekaligus meminimalkan kesalahan dalam
pemberian obat. Umumnya, rentang waktu buka instalasi farmasi/ apotek
dalam pelayanan farmasi jauh lebih panjang dari pada praktik dokter, sehingga
dengan penulisan resep diharapkan akan memudahkan pasien dalam
mengakses obat-obatan yang diperlukan sesuai dengan penyakitnya. Melalui
penulisan resep pula, peran, dan tanggung jawab dokter dalam pengawasan
distribusi obat kepada masyarakat dapat ditingkatkan karena tidak semua
golongan obat dapat diserahkan kepada masarakat secara bebas. Selain itu,
dengan adanya penulisan resep, pemberian obat lebih rasional dibandingkan
dispensing (obat diberikan sendiri oleh dokter), dokter bebas memilih obat
secara tepat, ilmiah, dan selektif. Penulisan resep juga dapat membentuk
pelayanan berorientasi kepada pasien (patient oriented) bukan material
oriented. Resep itu sendiri dapat menjadi medical record yang dapat
dipertanggungjawabkan, sifatnya rahasia.

Menurut Lia (2007), Apoteker wajib memberi informasi yang


berkaitan dengan penggunaan obat yang diserahkan kepada pasien. Informasi
meliputi cara penggunaan obat, dosis dan frekuensi pemakaian, lamanya obat
digunakan indikasi, kontra indikasi, kemungkinan efek samping dan hal-hal
lain yang diperhatikan pasien. Apabila apoteker menganggap dalam resep

4
terdapat kekeliruan atau penulisan resep yang tidak tepat, harus diberitahukan
kepada dokter penulis resep. Bila karena pertimbangannya dokter tetap pada
pendiriannya, dokter wajib membubuhkan tanda tangan atas resep. Salinan
resep harus ditanda tangani oleh apoteker

Berdasarkan Pereturan Menteri Kesehatan No. 72 Tahun 2016 tentang


Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, pengkajian resep dilakukan untuk
menganalisa adanya permasalahan yang berkaitan dengan obat, apabila
masalah terkait obat ditemukan, maka apoteker harus berkonsultasi dengan
dokter terkait yang menuliskan resep. Apoteker harus melakukan pengkajian
resep sesuai dengan persyaratan administrasi, persyaratan farmasetik
(kesesuaian farmasetik), dan persyaratan klinis baik untuk pasien rawat jalan
maupun rawat inap.

Pelayanan resep didahului dengan proses skrining resep yang dapat


ditinjau dari 3 aspek kelengkapan resep yang mencakup persyaratan
administrasi (nama pasien, nama dokter, alamat, paraf dokter, umur, berat
badan, jenis kelamin), persyaratan farmasetik (bentuk sediaan, kekuatan
sediaan, stabilitas dan kompatibilitas) dan persyaratan klinis (ketepatan
indikasi dan dosis obat, aturan, cara dan lama penggunaan obat, duplikasi
dan/atau polifarmasi, reaksi obat yang tidak diinginkan (alergi, efek samping
obat, manifestasi klinis lain), kontraindikasi dan interaksi obat). (Peraturan
Menteri Kesehatan No. 35 tahun 2014).

Pelayanan resep dimulai dari penerimaan, pemeriksaan ketersediaan,


penyiapan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai
termasuk peracikan obat, pemeriksaan, penyarahan disertai pemberiaan
informasi obat. Pada setiap tahap alur pelayanan resep dilakukan upaya untuk
mencegah terjadinya kesalahan dalam pemberiaan obat (medication error).

5
BAB III

METODOLOGI

3.1 Resep 1

dr. Budiman
SIP. 116/abc/452/2014
Ciputat Timur, Tangerang Selatan
Telp. 021321428

Tangerang Selatan, 28 Maret 2019

R/ Sanprima Forte tab No.X


S 2 dd tab 1

R/ Gitas Plus kapl No.X


S 3 dd kapl 1

R/ Rantin tab 300 mg No.VI


S 2 dd tab 1 ac

R/ New Diatab tab No.X


S 3 dd tab II

R/ Lodia tab No.V


S 3 dd tab 1

Pro : Rani
Umur : 30 th (50 kg)
Alamat : Pondok Cabe

Prosedur kerja

1. Membaca resep yang diberikan.


2. Melakukan kajian farmasetik terhadap resep, dan mencatat masalah pada
resep jika ada.

6
3.2 Resep 2

dr. Santoso
SIP. 503/1497/IV/2009
Ciputat Timur, Tangerang Selatan
Telp. 021321428

Tangerang Selatan, 28 Maret 2019

R/ Pepzol 10 mg
m.f. pulv dtd No.X
S 2 dd pulv 1 ac

R/ Vometron syr fls No.I


S 3 dd cth 1

R/ Mucos 12 mg
Ventolin 0,1 m
Triamcort ½ tab
Rhinofed 1/6 tab
Intrizin 1 mg
m.f. pulv dtd No.XX dain syr fls I
S 3 dd cth 1

Pro : Desi
Umur : 8 th (20 kg)
Alamat : Cirendeu

Prosedur kerja :

1. Mahasiswa mendapatkan resep yang diberikan oleh dosen pembimbing


praktikum.
2. Membaca resep yang diberikan.
3. Melakukan kajian farmasetik terhadap resep, dan mencatat masalah pada
resep jika ada.
4. Menentukan jumlah sediaan yang akan diambil
5. Membuat laporan

7
3.3 Resep 3

dr. Santoso
SIP. 503/1497/IV/2009
Ciputat Timur, Tangerang Selatan
Telp. 021321428

Tangerang Selatan, 28 Maret 2019

R/ Cefat Syr 125mg/5ml 60 ml fls No.I


S bdd cth 1

Pro : Yulia
Umur : 6 th (20 kg)
Alamat : Cirendeu

Prosedur kerja :

1. Mahasiswa mendapatkan resep yang diberikan oleh dosen pembimbing


praktikum.
2. Membaca resep yang diberikan.
3. Menghitung dosis obat pada resep.
4. Membuat laporan.

8
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Resep 1

Bentuk
Obat Kekuatan Sediaan Stabilitas Inkompatibel
Sediaan
Sanprima Trimetoprin 80 mg Terlindung dari
Forte Tablet Sulfometoksazol cahaya.
400 mg
Gitas Plus Hyoscine-N- Simpan pada
Butilbromida 10 suhu kamar,
Kaplet mg terlindung dari
Parasetamol 500 cahaya.
mg
Rantin Ranitidin HCl 300 Simpan pada
mg suhu 4-30oC,
Tablet terlindung dari
cahaya dan suhu
berlebih.
New Diatab Attapulgit 600 mg Dapat
menurunkan
aktivitas obat
Tablet
lain jika
diberikan
bersamaan
Lodia Loperamid HCl 2
Tablet
mg
Tabel 1.1

9
Resep 2

Obat Bentuk Kekuatan Stabilitas Inkompatibel


Sediaan Sediaan
Pepzol Tablet salut Pantoprazol Tablet tidak boleh
selaput 20 mg/tab dikunyah atau
Pantoprazol dihancurkan.
40 mg/tab Diberikan sebelum
makan.
Vometron Sirup Ondansetron 4 Simpan pada suhu
mg/5 ml kamar, terlindung
dari cahaya, panas
berlebih dan
jangan dibekukan
Mucos Tablet Ambroxol 30 Tidak boleh
mg dikunyah/digerus,
Simpan pada suhu
kamar, terlindung
dari cahaya
Ventolin Tablet Salbutamol 2 Simpan pada suhu
mg kamar dan
terlindung dari
cahaya
Triamcort Tablet Triamcinolone Jika dikonsumsi
4 mg bersamaan dengan
salbutamol dapat
meningkatkan
resiko
hiperkalemia
Rhinofed Tablet Pseudoefedrin

10
30 mg
Terfenadin 40
mg
Intrizin Tablet Cetirizine HCl Dapat dikonsumsi
10 mg dengan atau tanpa
makanan
Amoksisilin Kaplet 500 mg Tidak stabil di
dalam air.
Diberikan sebelum
makan. Simpan
pada suhu kamar.
Tabel 2.1

Obat Perhitungan Jumlah yang dibutuhkan


Pepzol 10 mg x 10 = 100 mg 5 tablet
100 mg
Pepzol 20 mg/tab =
20 mg/tab

= 5 tablet
100 mg 2.5 tablet
Pepzol 40 mg/tab =
40 mg/tab

= 2,5 tablet
Mucos 12 mg x 20 = 240 mg 8 tablet
240 mg
= 8 tablet
30 mg/tab

Ventolin 0,1 mg x 20 = 2 mg 1 tablet


2 mg
= = 1 tablet
2 mg/tab

Triamcort ½ tab x 20 = 10 tablet 10 tablet


Rhinofed 1/6 tab x 20 = 3,33 tablet 3,33 tablet
Intrizin 1 mg x 20 = 20 mg 2 tablet
20 mg
= = 2 tablet
10 mg/tab

11
Amoksisilin 125 mg x 20 = 2500 mg 5 tablet
2500 mg
= = 5 tablet
500 mg/tab

Tabel 2.2

Resep 3

Dosis Cefadroxil (Pionas) :

BB >40 Kg : 0,5–1 g/ 2x sehari

<1 tahun : 25 mg/KgBB/hari dalam dosis terbagi

1-6 tahun : 250 mg/2x sehari

>6 tahun : 500 mg/2x sehari

Dosis Cefadroxil (ISO Vol. 50) :

Dewasa : 1–2 g/hari dalam 2 dosis terbagi

Anak-anak : 25-50 mg/KgBB/hari dalam 2 dosis terbagi

Dosis Berdasarkan :

6
Umur : = = x 1–2 g/hari = 0,33–0,66 g/hari
18

20 Kg
BB : = x 1–2 g/hari = 0,285–0,571 g/hari
70 Kg

Dosis pada resep :

125 mg 250 mg
5 ml
x2 = 10 ml
per hari

12
4.2 Pembahasan

Pada praktikum kali ini, kami mengaji farmasetika pada resep yang meliputi
bentuk sediaan, kekuatan sediaan, stabilitas dan kompatibilitas. Selain itu, kami juga
mengaji dosis resep dan melakukan pencatatan untuk masalah yang terdapat pada
resep tersebut.

Pada Tabel 1.1 menjelaskan jika di resep 1 tidak terdapat masalah mengenai
bentuk sediaan, kekuatan sediaan, dan stabilitas karena hal tersebut sudah tertulis
denga jelas dalam resep 1. Akan tetapi obat New Diatab yang mengandung
Attapulgite 600mg memiliki interaksi dengan obat-obat yang lain dikarenakan
Attapulgite bekerja dengan cara menyerap gas-gas beracun, zat dan virus yang
menyebabkan diare sehingga akan mengganggu aktivitas obat lainnya.

Pada Tabel 2.1 menjelaskan jika resep 2 terdapat masalah pada pepzol. Pepzol
mengandung pantoprazol dengan kekuatan sediaan 20 dan 40 mg dengan bentuk
sediaan tablet salut selaput, yang mana tablet ini mengharapkan zat aktif (pantprazol)
tidak akan melewati lambung. Sedangkan pada resep 2, obat pepzol diminta untuk
dijadikan pulvis (puyer) yang sebenarnya tidak diperbolehkan. Selain itu terdapat
beberapa obat pada sediaan obat ke tiga di resep 2, seperti: obat Mucos yang
mengandung ambroxol (obat ini tidak diperbolehkan digerus ataupun dikunyah
karena dapat merusak dinding mukus lambung terkhusus untuk penderita peptik
ulcer), obat Triamcort yang mengandung Triamcinolon 4 mg (meningkatkan risiko
hiperkalemia dengan penggunaan ventolin yang mana ventolin mengandung
salbutamol 2 mg), dan obat amoksisilin (sediaan obat akan digerus dan kemudian
dijadikan sirup, hal ini seharusnya tidak diperbolehkan, karena amoksisilin tidak
stabil dan tidak larut di dalam air. Maka seharunya amoksisilin dibuat secara terpisah
dan tidak dicampur dengan obat pada sediaan ke tiga). Pada tabel 2.2 dijelaskan
perhitungan untuk membuat sediaan obat ke tiga yang diminta pada resep 2.

Pada resep 3, dilakukan perhitungan dosis dan didapatkan untuk dosis cefat
yang mengandung cefadroxil sirup dengan kekuatan sediaan 125 mg/5mL yang

13
diberikan dua kali sehari sudah benar. Hal ini ditunjukkan pada perhitungan di hasil
resep 3 yang mana dosis yang digunakan merupakan dosis minimal untuk anak-anak
umur 1-6 tahun dengan diagnosis infeksi saluran nafas yaitu 250 mg 2x sehari
(Pionas).

14
DAFTAR PUSTAKA

Dwiprahasto Iwan, Erna Kristin. 2008. Intervensi Pelatihan untuk Meminimalkan


Risiko Medication Error di Pusat Pelayanan Kesehatan Primer. Jurnal

http://pionas.pom.go.id/monografi/sefadroksil. Diakses pada 31 Maret 2019

Lia, Amalia. 2007. Farmasi Rumah Sakit Teori dan Penerapan. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC

Menteri Kesehatan. 2014. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


35 Tahun 2014 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Menteri
Kesehatan Republik Indonesia.

Menteri Kesehatan. 2016. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


72 Tahun 2016 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia.

Cahyono, S. B. (2012). Membangun Budaya Keselamatan Pasien dalam Praktek


Kedokteran. Yogyakarta: Kanisius.

Kementerian Kesehatan. (2014). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek

15