Anda di halaman 1dari 6

Laporan Belajar Mandiri Tutorial Skenario A Blok 28 Tahun 2019

Analisis Masalah

1. Seorang laki-laki tidak dikenal ditemukan mati di sungai Musi. Masyarakat melapor ke polisi
terdekat, lalu polisi membawa mayat ke rumah sakit untuk dilakukan visum.
a. Bagaimana koordinasi antar polisi dan dokter dalam melakukan visum?

Ketentuan standar dalam penyusunan visum et repertum


1) Pihak yang berwenang meminta keterangan ahli menurut KUHAP pasal 133 ayat
(1) adalah penyidik yang menurut PP 27/1983 adalah Pejabat Polisi Negara RI.
Sedangkan untuk kalangan militer maka Polisi Militer (POM) dikategorikan
sebagai penyidik.
2) Pihak yang berwenang membuat keterangan ahli menurut KUHAP pasal 133 ayat
(1) adalah dokter dan tidak dapat didelegasikan pada pihak lain.
3) Prosedur permintaan keterangan ahli kepada dokter telah ditentukan bahwa
permintaan oleh penyidik harus dilakukan secara tertulis yang secara tegas telah
diatur dalam KUHAP pasal 133 ayat (2).
4) Penyerahan surat keterangan ahli hanya boleh dilakukan pada Penyidik yang
memintanya sesuai dengan identitas pada surat permintaan keterangan ahli. Pihak
lain tidak dapat memintanya.

Pasal 133 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) menyebutkan:


(1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik
luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan
tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli
kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.
(2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan
secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan
luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.

Wewenang penyidik meminta keterangan ahli ini diperkuat dengan kewajiban dokter
untuk memberikannya bila diminta, seperti yang tertuang dalam pasal 179 KUHAP
sebagai berikut:
(1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagi ahli kedokteran kehakiman atau
dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.

Sanksi hukum bila dokter menolak permintaan penyidik, dapat dikenakan sanksi
pidana yang terdapat pada Pasal 216 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) :
Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang
dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi
sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberi
kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa
dengan sengaja mencegah, menghalanghalangi atau menggagalkan tindakan
guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat
bulan dua minggu atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah.

3. Wajah menggembung, kedua tangan menggenggam, tangan dan kaki tampak keriput dengan
posisi mayat terlentang. Pada mayat juga ditemukan keluar buih besar dan mudah pecah yang
keluar dari mulut dan hidung, serta pada korban ditemukan luka iris lengan bawah kanan
sepanjang 2 cm dengan dalam 0,5 cm.
a. Apa interpretasi dari hasil pemeriksaan di atas?
 Wajah menggembung 
 Kedua tangan menggenggam  cadaveric spasme, merupakan salah satu
tanda pemeriksaan luar post mortem pada korban kematian diduga akibat
tenggelam, terjadi saat korban hendak menggapai benda disekitarnya
sebagai upaya menyelamatkan diri.
 Tangan dan kaki tampak keriput  washer woman hands, merupakan
salah satu tanda pemeriksaan luar post mortem pada korban kematian
diduga akibat tenggelam
 Pada mayat juga ditemukan keluar buih besar dan mudah pecah yang
keluar dari mulut dan hidung  ditimbulkan akibat reaksi yang
ditimbulkan oleh peningkatan aktivitas pernapasn fase dispnea, Saat
tenggelam tubuh berusaha untuk mengeluarkan air melalui refleks batuk
dan juga di sertai refleks bernafas sehingga air keluar masuk saluran
pernapasan lalu seolah-olah tercampur dengan surfaktan sehingga menjadi
buih.
 Serta pada korban ditemukan luka iris lengan bawah kanan sepanjang 2
cm dengan dalam 0,5 cm  diduga akibat kekerasan benda tajam oleh
pelaku pembegalan sebelum penenggalaman.

b. Bagaimana cara memperkirakan waktu kematian pada kasus di atas?

Perkiraan waktu kematian (post mortem interval) dapat ditentukan dari tandatanda
kematian yang terdapat pada jenazah seperti livor mortis (lebam mayat), rigor
mortis (kaku mayat), dan dekomposisi (tanda pembusukan).

Pada ilustrasi kasus di atas dari pemeriksaan luar ditemukan cadaveric spasme,
termasuk kaku yang bersifat khusus.
Lebam mayat (hipostasis postmortem) adalah perubahan warna merah keunguan
pada daerah tubuh yang terjadi karena akumulasi darah dari pembuluh darah kecil
yang dipengaruhi oleh gravitasi. Lebam mayat biasanya muncul antara 30 menit
sampai 2 jam setelah kematian, biasanya mencapai perubahan warna yang
maksimal dan menetap dalam 8-12 jam. Sementara rigor mortis atau kekakuan
dari tubuh mayat setelah kematian terjadi karena menghilangnya adenosine
triphosphate (ATP) dari otot. Kaku mayat biasanya muncul 2-4 jam setelah
kematian dimulai dari otot-otot yang lebih kecil seperti rahang, dan berurutan
menyebar ke kelompok otot besar seperti pada ekstremitas atas dan ekstremitas
bawah, lengkap dalam 6-12 jam. Kaku dipertahankan selama 12 jam dan
kemudian menghilang dalam urutan yang sama. Pada kematian karena tenggelam,
rigor mortis dapat muncul menyeluruh hanya dalam 2 sampai 3 jam. Pembusukan
(dekomposisi) terbentuk oleh dua proses yaitu autolisis (penghancuran sel dan
organ oleh enzim intraseluler) dan putrefaction (disebabkan oleh bakteri dan
fermentasi), akan tampak kira-kira 24 jam pasca kematian, berupa warna
kehijauan pada perut kanan bawah, secara bertahap akan menyebar ke seluruh
perut dan dada serta menimbulkan bau busuk. Menurut hukum Casper, media
tempat mayat berada juga berperan dalam proses pembusukan. Perbandingan
kecepatan pembusukan mayat yang berada dalam udara, air, dan tanah adalah
1:2:8. Dari lebam mayat yang ditemukan menunjukkan waktu perkiraan
kematiannya antara 2-8 jam sebelum pemeriksaan luar dilakukan, sedangkan dari
kaku mayat yang ditemukan menunjukkan waktu kematiannya sekitar 4-6 jam
sebelum dilakukan pemeriksaan luar sehingga dapat ditarik irisan waktu kematian
antara 4-6 jam sebelum dilakukan pemeriksaan luar terhadap jenazah.

4. Berdasarkan informasi dari kepolisian jenazah ini diduga korban begal di atas jembatan Musi
IV.
a. Siapa saja yang dapat menjadi saksi ahli pada kasus ini?
Pihak yang berwenang membuat keterangan ahli menurut KUHAP pasal 133 ayat
(1) adalah dokter dan tidak dapat didelegasikan pada pihak lain.
Yang berperan dalam kegiatan ini adalah dokter, mulai dokter umum sampai
dokter spesialis yang pengaturannya mengacu pada Standar Prosedur Operasional
(SPO).

LEARNING ISSUE

Traumatologi

Traumatologi (dari bahasa Yunani Trauma "yang berarti luka" atau luka) adalah studi tentang
luka dan luka yang disebabkan oleh kecelakaan atau kekerasan kepada seseorang, dan terapi
bedah dan perbaikan kerusakan. Traumatologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari
tentang trauma atau perlukaan, cedera serta hubungannya dengan berbagai kekerasan
(rudapaksa), yang kelainannya terjadi pada tubuh karena adanya diskontinuitas jaringan akibat
kekerasan yang menimbulkan jejas.

Luka adalah suatu gangguan dari kondisi normal pada kulit. Didalam melakukan pemeriksaan
terhadap orang yang menderita luka akibat kekerasan, pada hakekatnya dokter diwajibkan untuk
dapat memberikan kejelasan dari permasalahan jenis luka yang terjadi, jenis kekerasan yang
menyebabkan luka, dan kualifikasi luka

Etiologi

1. Luka karena kekerasan mekanik (benda tajam, tumpul, dan senjata api).
2. Luka karena kekerasan fisik (arus listrik, petir, suhu).
3. Luka karena kekerasan kimiawi (asam, basa, logam berat)

Luka Benda Tajam

Benda-benda yang dapat mengakibatkan luka seperti ini adalah benda yang memiliki sisi tajam,
baik berupa garis maupun runcing, yang bervariasi dari alat-alat seperti golok, pisau, dan
sebagainya hingga keeping kaca, gelas, logam, sembilu bahkan tepi kertas atau rumput.

Putusnya atau rusaknya continuitas jaringan karena trauma akibat alat/senjata yang bermata
tajam dan atau berujung runcing. Luka akibat benda tajam pada umumnya mudah dibedakan dari
luka yang disebabkan oleh benda tumpul dan dari luka tembakan senjata api.

Pada kematian yang disebabkan oleh benda tajam, walaupun tetap harus dipikirkan kemungkinan
karena suatu kecelakaan; tetapi pada umumnya karena suatu peristiwa pembunuhan atau
peristiwa bunuh diri.

Ada 3 jenis luka akibat kekerasan benda tajam, yaitu :


a. Luka iris / luka sayat (incissed wound)
Adalah luka karena alat yang tepinya tajam dan timbulnya luka oleh karena alat ditekan
pada kulit dengan kekuatan relatif ringan kemudian digeserkan sepanjang kulit.
b. Luka tusuk (stab wound)
Luka akibat alat yang berujung runcing dan bermata tajam atau tumpul yang terjadi
dengan suatu tekanan tegak lurus atau serong pada permukaan tubuh. Contoh: belati,
bayonet, keris, clurit, kikir, tanduk kerbau
Selain itu, pada luka tusuk , sudut luka dapat menunjukkan perkiraan benda penyebabnya,
apakah berupa pisau bermata satu atau bermata dua.
Ukuran luka :
a. Ukuran dalam luka lebih panjang dibandingkan dengan ukuran lebar luka
b. Interpretasi hubungan antara bentuk luka dan pisau harus berhati – hati
c. Banyak terjadi oleh karena pembunuhan
c. Luka bacok (chop wound)
Adalah luka akibat benda atau alat yang berat dengan mata tajam atau agak tumpul yang terjadi
dengan suatu ayunan disertai tenaga yang cukup besar. Contoh : pedang, clurit, kapak, baling-
baling kapal.