Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Sektor keuangan merupakan salah satu sektor yang berpengaruh dalam

operasional perusahaan (Hayati et al., 2009). Lembaga keuangan merupakan

perantara keuangan bagi industri yang ada di Indonesia. Perantara tersebut antara

pihak yang mempunyai dana lebih dan pihak yang memerlukan dana. Menurut UU

Nomor 7 Tahun 1992 tentang perbankan yang sudah disempurnakan dengan UU

Nomor 10 Tahun 1998, menjelaskan bahwa Bank Indonesia telah mengakui dua

jenis bank yang kini sepenuhnya dialihkan kepada Otoritas Jasa Keuangan yaitu

Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat.

Mengingat tingginya kebutuhan masyarakat akan peminjaman dana, Bank

Perkreditan Rakyat (BPR) menempati posisi yang penting dalam perekonomian.

Agar dapat mengayomi serta melayani masyarakat yang sulit mengakses bank

umum maka keberadaan BPR dapat membantu usaha kecil dan menengah dalam

mengembangkan usahanya. Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor

8/26/PBI/2006, BPR merupakan bank yang dalam kegiatan operasionalnya tidak

diperbolehkan melakukan kliring atau pelayanan jasa dalam lalu lintas pembayaran.

Fungsi BPR pada umumnya adalah menyimpan dana yang diperoleh dari

masyarakat dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat dalam bentuk

tabungan maupun kredit. Tugas BPR juga mencakup pemberian jasa perbankan

1
yang sasarannya tidak hanya bagi masyarakat di daerah pedesaan saja tetapi juga

memberikan jasa perbankan bagi masyarakat golongan ekonomi lemah di daerah

perkotaan (Syamsu, 2013:106).

Bali merupakan salah satu provinsi yang masyarakatnya sadar akan

pentingnya lembaga keuangan yang memudahkan usaha mereka. Kabupaten

Badung merupakan tempat yang menjadi pusat kegiatan bisnis dan menempatkan

kabupaten ini sebagai daerah yang memiliki pendapatan berkapita dan pertumbuhan

tinggi di provinsi Bali. Namun tidak dipungkiri di kabupaten Badung masih ada

masyarakat menengah kebawah, sehingga potensi pemberian kredit kepada

masyarakat cukup tinggi dan hal tersebut yang mewajibkan untuk meningkatkan

kinerja usahanya. Namun, dalam hal ini terdengar adanya isu bahwa salah satu BPR

di kabupaten Badung bermasalah dan dicabut izin usahanya oleh Otoritas Jasa

Keuangan (OJK) karena adanya praktik perbankan yang tidak sehat, yang dilakukan

baik oleh pengurus maupun pemegang saham. Akibatnya, kinerja keuangan BPR

menjadi buruk yang ditunjukkan dengan rasio KPMM yang tidak bisa memenuhi

standar yang ditetapkan sesuai aturan.

Kinerja perusahaan adalah hasil dari kegiatan manajemen. Parameter sering

digunakan untuk menilai kinerja suatu perusahaan yang dilakukan dengan

menggunakan pendekatan balance scorecard dimana informasi keuangan diambil

dari laporan keuangan atau laporan keuangan lainnya. Balance scorecard

menyajikan secara detail mengenai kerangka dan mudah dipahami oleh seluruh

personil dalam memanfaatkan beragam kinerja non keuangan guna menghasilkan

kinerja keuangan. Sehubungan dengan itu, pengukuran kinerja keuangan telah

2
dilakukan oleh Rhoades et al. (2002), dan Chaganti Damanpour (1991); Slovin dan

Sushka (1993), Khozein (2012) menyebutkan bahwa balance scorecard memiliki

keistimewaan dalam hal pengukurannya yang komprehensif, dengan menilai

kinerja dari empat perspektif, yaitu perspektif keuangan, perspektif pelanggan,

perspektif proses bisnis internal, dan perspektif pembelajaran dan pertumbuhan.

Fenomena yang terjadi saat ini adalah perubahan tatanan kehidupan

khususnya di bidang ekonomi. Krisis ekonomi yang melanda negara-negara Asia

merupakan awal terkuaknya permasalahan good corporate governance di

Indonesia. Adapun kasus yang terjadi di Indonesia mengenai kegagalan sistem tata

kelola perusahaan yaitu Lippo Bank. Melihat maraknya kasus yang dilatarbelakangi

gagalnya sistem tata kelola perusahaan. Komite Nasional Kebijakan Governance

(KNKG) pada tahun 2006 menerbitkan pedoman pelaksanaan GCG yang bertujuan

untuk mendorong perusahaan agar menciptakan sistem kelola perusahaan yang

sehat. Penerapan good corporate governance diharapkan dapat memberi manfaat

dapat meningkatkan kemampuan operasional perusahan, serta lebih meningkatkan

pelayanan kepada para pemangku kepentingan dan dengan proses pengambilan

keputusan yang lebih baik diharapkan dapat meningkatkan kinerjanya serta

corporate value dengan memperoleh dana pembiayaan yang lebih murah. Selain itu

menurut IICG dalam Utami (2011) GCG memiliki tujuan yaitu meningkatkan citra

perusahaan dimata masyarakat, menarik minat para investor, sebagai tututan dalam

persaingan global, dapat pula meminimalkan biaya penyalahgunaan wewenang

dalam perusahaan, serta meminimalkan resiko yang timbul akibat buruknya tata

kelola perusahaan.

3
Menurut KNKG, transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi,

dan kewajaran merupakan prinsip yang mendasari GCG. Penerapan prinsip-prinsip

tersebut telah dijadikan acuan oleh beberapa negara tak terkecuali negara Indonesia.

Kelima prinsip tersebut diharapkan dapat menghasilkan keputusan yang lebih

optimal dan jika tata kelola perusahaan baik, hal tersebut menunjukkan

kecenderungan tanggung jawab perusahaan yang lebih besar (Rambo, 2013). Maka

dari itu bank harus menerapkan kelima prinsip-prinsip tersebut.

Prinsip pertama yaitu, transparansi merupakan proses pengambilan keputusan

perlu dilandasi oleh pengungkapan informasi yang material serta relevan, tak

terkecuali dalam sektor perbankan. Prinsip yang kedua adalah akuntabilitas yang

menjelaskan mengenai perusahaan harus dikelola secara baik dan benar, kejelasan

sistem, serta struktur agar dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara wajar

dan transparan. Prinsip yang selanjutnya adalah responsibilitassmerupakan prinsip

yang perlu diterapkan dalam perusahaan, dalam hal ini BPR perlu dikelola

berlandaskan kepatuhan serta kesesuaian menaati peraturan perundang-undangan

dan melaksanakan tanggung jawab terhadap lingkungan maupun publik. Prinsip

yang ke empat adalah independensi yang merupakan pengambilan keputusan harus

bersifat objektif maka dari itu perusahaan harus dikelola secara independen

sehingga dalam organ perusahaan tidak saling mendominasi ataupun

mempengaruhi. Menurut Putri (2014) independensi berpengaruh positif pada

kinerja keuangan Lembaga Perkreditan Desa di Kabupaten Gianyar. Prinsip yang

kelima dari Good Corporate Governanve (GCG) adalah kewajaran.

4
Memperhatikan kepentingan para stakeholders perlu dipertimbangkan oleh

perusahaan hal tersebut harus berlandaskan asas kewajaran serta kesetaraan.

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk meneliti keterkaitan prinsip-

prinsip good corporate gorvenance yang diterapkan pada Bank Perkreditan Rakyat

(BPR) di Kabupaten Badung dengan kinerja yang bersangkutan. Berdasarkan urain

latar belakang tersebut telah mendorong penulis untuk melakukan penelitian

mengenai “PENGARUH PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP GOOD CORPORATE

GOVERNANCE PADA KINERJA BANK PERKREDITAN RAKYAT DI

KABUPATEN BADUNG”.

1.2 Rumusan Masalah Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah, maka pemasalahan yang dapat

dirumuskan dalam penelitian ini adalah:

1) Apakah transparasi berpengaruh pada kinerja Bank Perkreditan Rakyat di

Kabupaten Badung?

2) Apakah akuntabilitas berpengaruh pada kinerja Bank Perkreditan Rakyat di

Kabupaten Badung?

3) Apakah responsibilitas berpengaruh pada kinerja Bank Perkreditan Rakyat di

Kabupaten Badung?

4) Apakah independensi berpengaruh pada kinerja Bank Perkreditan Rakyat di

Kabupaten Badung?

5) Apakah kewajaran dan kesetaraan berpengaruh pada kinerja Bank Perkreditan

Rakyat di Kabupaten Badung?

5
1.3 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan latar belakang dan perumusan masalah, maka tujuan dari

penelitian ini untuk menganalisis:

1) Untuk mengetahui pengaruh transparasi pada kinerja Bank Perkreditan

Rakyat di Kabupaten Badung.

2) Untuk mengetahui pengaruh akuntabilitas pada kinerja Bank Perkreditan

Rakyat di Kabupaten Badung.

3) Untuk mengetahui pengaruh responsibilitas pada kinerja Bank Perkreditan

Rakyat di Kabupaten Badung.

4) Untuk mengetahui pengaruh independensi pada kinerja Bank Perkreditan

Rakyat di Kabupaten Badung.

5) Untuk mengetahui pengaruh kewajaran dan kesetaraan pada kinerja Bank

Perkreditan Rakyat di Kabupaten Badung.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dapat diperoleh melalui pelaksanaan penelitian ini

adalah sebagai berikut:

1) Bagi manajemen/pihak perusahaan

Penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi, pengetahuan dan

pemahaman para pemegang saham dan pihak perusahaan mengenai

penerapan prinsip-prinsip good corporate governance.

6
2) Bagi akademik

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi literature bagi teman-teman

mahasiswa yang akan menyusun skripsi atau yang akan melakukan penelitian

mengenai pengaruh penerapan prinsip-prinsip good corporate governance

pada kinerja Bank Perkreditan Rakyat di Kabupaten Badung.

3) Bagi stakeholder dan calon investor

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai penerapan

prinsip-prinsip good corporate governance terhadap kinerja sehingga dapat

digunakan sebagai acuan dalam mengambil keputusan untuk investasi.