Anda di halaman 1dari 7

INVESTOR INSTITUSIONAL, INVESTOR ASING DAN KREDITUR

CORPORATE GOVERNANCE

Dosen Pengampu: Dr. Ni Made Dwi Ratnadi, S.E., M.Si., Ak. CA.

Kelompok 9

Ni Kadek Ani Jumariati (1707532004)

Ni Luh Rosa Aprilianti (1707532015)

Ni Komang Megi Megayani (1707532032)

PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI REGULER DENPASAR

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

2019
Pengertian dan Peran Investor Institusional
Investor Institusional adalah investor yang berupa lembaga institusi yang sudah
berbadan hukum seperti reksa dana, asuransi, dana pensiun, bank, dan lain sebagainya.
Cara investor institusional untuk berperan serta dalam mendorong penerapan GCG
adalah dengan melakukan investasi yang bertanggung jawab dengan membuat kebijakan
hanya akan melakukan penempatan investasi pada perusahaan-perusahaan yang menerapkan
GCG, dan tentu secara konsisten menerapkan kebijakan tersebut dalam melakukan investasi.
Dengan cara ini, institusi tersebut bertanggung jawab terhadap masyarakat yang dana-nya
mereka kelola, karena dana tersebut hanya di investasikan pada perusahaan-perusahaan yang
memang dapat dipercaya, sehingga risiko hilangnya dana masyarakat karena penempatan
yang salah menjadi lebih kecil, dan di lain pihak, perusahaan yang sahamnya diperdagangkan
di bursa juga menjadi lebih memberi perhatian terhadap penerapan GCG karena dengan
menerapkan GCG secara konsisten, saham mereka menjadi lirikan investor dan masuk dalam
daftar saham yang desirable atau ingin dimiliki oleh investor, lebih jauh hal ini akan
menaikan nilai saham yang secara tidak langsung juga menaikan nilai perusahaan.
Tentu untuk bisa menerapkan investasi yang bertanggung jawab dibutuhkan usaha
tambahan oleh investor institusional, karena harus ada fungsi di dalam institusi tersebut yang
bertanggung jawab melakukan analisis secara berkesinambungan terhadap penerapan GCG
perusahaan-perusahaan target dengan menggunakan acuan yang benar sebagai dasar
penerapan GCG.

Pengertian dan Peran Investor Asing


Pengertian investor asing adalah investor yang berasal dari luar negeri dimana
instrumen investasi itu dikelola, diterbitkan dan diperdagangkan. Contohnya : Saham BUMN
dikuasai 20% oleh investor Cina, maka investor asing di sini adalah investor Cina.
Adapun peran dari Investor Asing, yaitu:
1. Investasi asing akan menciptakan perusahaan-perusahaan baru, memperluas pasar
atau merangsang penelitian dan pengembangan teknologi lokal yang baru.
2. Investasi asing akan meningkatkan daya saing industri ekspor, dan merangsang
ekonomi lokal melalui pasar kedua (sektor keuangan) dan ketiga (sektor
jasa/pelayanan).
3. Investasi asing akan meningkatkan pajak pendapatan dan menambah pendapatan
lokal/nasional, serta memperkuat nilai mata uang lokal untuk pembiayaan impor.

1
Pengertian dan Peran Kreditur dalam GCG
Kreditur adalah pihak (perorangan, organisasi, perusahaan atau pemerintah) yang
memiliki tagihan kepada pihak lain (pihak kedua) atas properti atau layanan jasa yang
diberikannya (biasanya dalam bentuk kontrak atau perjanjian) di mana diperjanjikan bahwa
pihak kedua tersebut akan mengembalikan properti yang nilainya sama atau jasa. Pihak kedua
ini disebut sebagai peminjam atau yang berhutang. Secara singkat dapat dikatakan bahwa
kreditur adalah pihak yang memberikan kredit atau pinjaman kepada pihak lainnya.
Kreditur dalam hal ini contohnya bank, bank harus dapat menilai apakah perusahaan
yang mengajukan permintaan kredit mampu mengembalikan pinjaman atau tidak. Kreditur
akan menolak usulan kredit dari suatu perusahaan bila informasi akuntansi perusahaan itu
meragukan atau tidak menunjukkan perkembangan yang positif.
Perusahaan yang mempunyai leverage tinggi mempunyai kewajiban lebih untuk
memenuhi kebutuhan informasi kreditur jangka panjang. Dengan semakin tinggi leverage,
yang mana akan menambah beban untuk program corporate social responsibility menjadi
terbatas atau semakin tinggi leverage, maka semakin rendah program CSR.

GCG dalam Pasar Modal


Secara formal, pasar modal dapat didefinisikan sebagai pasar dimana berbagai
instrument keuangan jangka panjang bisa diperjual belikan, baik dalam bentuk hutang
maupun modal sendiri, baik yang terbitkan oleh pemerintah maupun perusahaan swasta.
Keberadaan pasar modal ditentukan oleh lembaga-lembaga penunjang pasar modal, antara
lain: Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan, Bursa Efek, Lembaga Kliring,
Investor, Akuntan public, Notaris, dan Konsultan hukum.
Pasar modal berkembang baik jika penerapan GCG-nya konsisten. Corporate
governance bukan hanya sebagai aksesoris, tetapi melekat sebagai nilai-nilai yang menjadi
pedoman berperilaku. Keberhasilannya sangat ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu struktur
kepemilikan, hukum dan enforcement, sistem ekonomi, sosial, budaya, proses, serta ukuran.
GCG merupakan sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan guna menciptakan
nilai tambah (value added) untuk semua stakeholder. Konsep ini menekankan pada dua hal
yakni:
1. Pentingnya hak pemegang saham untuk memperoleh informasi dengan benar dan
tepat pada waktunya

2
2. Kewajiban perusahaan untuk melakukan pengungkapan secara akurat, tepat waktu,
transparan terhadap semua informasi kinerja perusahaan, kepemilikan, dan
stakeholder.
Fungsi dan peran Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam
LK) suatu negara sangat strategis, karena lembaga inilah yang diberi wewenang oleh
pemerintah untuk mengawasi semua lembaga terkait dan membuat berbagai peraturan yang
harus dipatuhi oleh semua lembaga terkait agar kegiatan pasar modal di bursa dapat berjalan
secara adil, efektif, dan efisien. Jadi, fungsi Bapepam LK dalam hal ini adalah memastikan
agar semua lembaga penunjang yang terkait dibursa menjalankan tata kelola lembaga
masing-masing secara sehat dan mematuhi peraturan yang berlaku, termasuk seperangkat
peraturan yang dikeluarkan oleh Bapepam LK.

Implementasi GCG pada Emiten dan Perusahaan Publik


Penerapan tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG) di
Indonesia sudah mengalami perbaikan dibandingkan ketika awal diperkenalkan pasca krisis
ekonomi pada 1998. Ketika itu, perusahaan-perusahaan masih enggan menerapkan prinsip-
prinsip GCG yang diwajibkan oleh regulator. Tapi, saat ini sudah banyak perusahaan
memandang GCG tidak lagi sebagai keharusan, melainkan suatu kebutuhan. Pergeseran cara
pandang tersebut dipengaruhi oleh sejumlah manfaat setelah menerapkan prinsip-prinsip
GCG. Dengan penerapan GCG, perusahaan dapat mendulang berbagai manfaat dan
sekaligus dapat mendorong kinerja keuangan karena pengambilan keputusan yang sehat.
Dengan implementasi GCG, pimpinan perusahaan harus mengambil keputusan yang
didasarkan pada keseimbangan dan akuntabilitas. Dengan demikian pengambilan keputusan
diharapkan dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan. Perusahaan yang menerapkan
GCG akan dinilai lebih menarik oleh perbankan, sehingga perusahaan bisa mendapatkan
kemudahan pembiayaan. Perusahaan yang mengimplementasikan GCG juga akan lebih
dipercaya oleh investor dan sangat menentukan minat investasi. Perusahaan yang tercatat di
bursa efek atau emiten akan tercipta kepercayaan, dan hal itu akan mendorong investor
membeli saham perusahaan tersebut. Sebaliknya, perusuhaan publik yang tata kelolanya
tidak baik maka sahamnya akan dihindari oleh para pemodal. Tumbuhnya kepercayaan
investor kepada emiten dapat mendongkrak jumlah investor yang masuk ke pasar modal.
Setidaknya, ada lima prinsip GCG yang bisa dijadikan pedoman oleh para pelaku
bisnis, yaitu keterbukaan informasi (transparency), akuntabilitas (accountability),
pertanggungjawaban (responsibility), kemandirian (independency), dan kesetaraan dan

3
kewajaran (fairness) yang biasanya diakronimkan menjadi TARIF. Perusahaan-perusahaan
yang menjalankan prinsip keterbukaan informasi dituntut untuk menyediakan informasi yang
cukup, akurat, tepat waktu kepada semua pemangku kepentingan. Perusahaan yang
menerapkan prinsip akuntabilitas secara efektif mensyaratkan adanya kejelasan akan fungsi,
hak, kewajiban, wewenang serta tanggung jawab antara pemegang saham, dewan komisaris,
dan dewan direksi. Sementara itu, prinsip pertanggung jawaban mengharuskan kepatuhan
perusahaan terhadap peraturan yang berlaku, di antaranya masalah pajak, hubungan
industrial, kesehatan dan keselamatan keria, perlindungan lingkungan hidup, memelihara
lingkungan bisnis yang kondusif bersama masyarakat dan sebagainya. Prinsip kemandirian
mensyaratkan agar perusahaan dikelola secara profesional tanpa ada benturan kepentingan
dan tanpa tekanan atau intervensi dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan-
peraturan yang berlaku. Prinsip kesetaraan dan kewajaran menuntut adanya perlakuan yang
adil dalam memenuhi hak para pemangku kepentingn (stakeholders) sesuai dengan peraturan
perundangan yang berlaku.

Kasus Bank Global


Secara kronologisnya, kasus Bank Global mulai tercatat pada 31 Mei 2004
dimana Surat Bank Indonesia No 6/38/DPwB11/Rahasia perihal Tingkat Kesehatan
Bank Global, yang menerangkan Bank Global tergolong bank sehat, dan pada 10 September
2004, Bank Global dinyatakan sebagai bank umum peserta penjamin pemerintah oleh Depkeu
Unit Pelaksana Penjamin Pemerintah. Namun pada 13 Desember 2004 Bank Global
kemudian dinyatakan dalam status Bank Beku Kegiatan Usaha (BBKU).
Kemudian pada 13 Januari 2005 Bank Global telah dicabut izin usahanya
oleh Gubernur BI berdasarkan Keputusan Gubernur BI No 7/2/Kep.GBI/2005. Setelah
dicabut, Menkeu RI meminta kepada BPKP untuk melakukan verifikasi atas data informasi
kewajiban Bank Global dan menyampaikan ke Menkeu. Lalu pada 7 November 2005,
Menkeu telah meminta nasabah Bank Global untuk mengajukan tagihan atas kewajiban Bank
Global, di mana pengajuan tagihan itu disampaikan paling lambat 21 November 2005.
Namun pada 28 Maret 2006, Menkeu mengeluarkan surat keputusan SR-47/MK.01/2006 soal
penyelesaian penjamiman nasbah eks PT Bank Global Internasional ternyata tidak dijamin.
Akibat putusan itu, nasabah Bank Global melakukan somasi kepada Menkeu untuk
mengeluarkan putusan pencairan simpanan pada 8 Agustus 2006. Karena tidak ditanggapi,
maka nasabah Bank Global mengajukan gugatan ke PTUN Jakarta pada 2 Maret 2007, yang
kemudian berlanjut sampai PK MA.

4
Dalam Kasus ini PT Bank Global telah melanggar prinsip Good Corporate
Governance yang telah ditetapkan, diantaranya adalah Transperency dan Akuntabilitas.
Sebagai perusahaan terbuka, semestinya Bank Global transparan dan menerapkan dengan
seksama asas good corporate governance. Tak boleh ada informasi material yang
disembunyikan. Penurunan CAR dari 44,84 % per September 2004 menjadi minus 39 %
dalam tempo dua bulan menunjukkan ada informasi material yang disembunyikan. Para
investor yang hanya mengandalkan data September 2004 tentu akan terkecoh.
Kehancuran Bank Global disebabkan oleh sebuah kolusi antara pengelola Bank Global
dengan Prudence Asset Management (PAM). Bank Global memperdagangkan surat berharga
yang disebut reksadana, di mana para pembelinya adalah nasabah bank itu. Karena reksadana
yang dijual bernama prudence, wajar saja jika orang langsung menghubungkan dengan PAM.
Meski pihak PAM membantah, masyarakat cenderung berpendapat bahwa reksadana
prudence diterbitkan oleh PAM.
Keroposnya pengelolaan manajemen perbankan kita, kelemahan struktural dalam
pengelolaan usaha bank sebagai lembaga kepercayaan, kurangnya transparansi dan
pemahaman nasabah terhadap laporan keuangan bank bersangkutan, serta kelemahan
infrastruktur pengawasan bank, kerapkali menjadi kendala hampir kebanyakan bank di
Indonesia. Mungkin hal ini juga tidak terlepas dari kondisi perbankan nasional secara
menyeluruh.
Sehatnya sebuah bank tidak hanya berpatokan pada aset (modal) semata, tetapi juga
harus memperhitungkan faktor manajemen risiko yang meliputi delapan faktor, yakni risiko
kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko hukum, risiko strategi, risiko
kepatuhan dan risiko reputasi. Tidak sedikit para bankir yang tidak bisa mengelola
manajemen risiko dengan baik, sehingga terjadi pelanggaran prinsip kehati-hatian bank. Yang
terpenting dari kasus-kasus pembekuan bank adalah pembelajaran bagi pemilik maupun
pengurus bank untuk bercermin diri dalam pengelolaan keuangan dan manajemen perbankan
agar tidak menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang ada, serta diharuskan menerapkan
prudent banking. Lebih khusus lagi, bagi para nasabah agar tidak gegabah dan senantiasa
berhati-hati jika ingin menempatkan dananya pada lembaga perbankan maupun lembaga
keuangan lainnya.

5
DAFTAR PUSTAKA

https://www.scribd.com/doc/289452113/CSR-Peran-Investor-dan-Kreditur (diakses pada 10


November 2019, pukul 22.00 WITA)

https://mitb23.com/blog/good-corporate-governance-dalam-pasar-modal/ (diakses pada 10


November 2019, pukul 22.10 WITA)

https://id.scribd.com/document/404673944/cg-implementasi-terhadap-emiten-dan-
perusahaan-publik (diakses pada 10 November 2019, pukul 22.20 WITA)

http://greatariana.blogspot.com/2013/07/analisa-kasus-bank-global-bab-1.html?m=1(diakses
pada 10 November 2019, pukul 22.45 WITA)

http://www.definisimenurutparaahli.com/pengertian-investor-dan-investee/ (diakses pada 11


November 2019, pukul 10.45 WITA)

https://zahiraccountingbanyuwangi.wordpress.com/2017/10/27/pengertian-debitur-dan-
kreditur/ (diakses pada 11 November 2019, pukul 10.55 WITA)