Anda di halaman 1dari 2

Pada setting seminar, mahasiswa yang akan mengajukan proposal dikumpulkan bersama-sama

(6 – 10 orang). Setiap anggota seminar diperbolehkan bertanya. Dosen di sini ditempatkan


sebagai moderator sekaligus penguji yang akan memberikan saran-saran perbaikan.

APA YANG AKAN DITANYAKAN PADA SAAT SIDANG/SEMINAR PROPOSAL

Ada beberapa poin masalah yang akan ditanyakan meliputi :

1. Latar belakang masalah dan rumusan masalah


2. Apakah permasalahan penelitian di dukung oleh teori (relevansi teori dengan masalah
penelitian)
3. Metodologi (sampel, objek, instrumen penelitian, teknik analisis)
4. Pemaparan dan penguasaan materi proposal.

Bagian I

Pertanyaan yang biasanya diajukan :

1. Alasan pemilihan judul ???


2. Potret fenomena permasalahan yang berkembang dan apa pentingnya meneliti masalah ini ??
3. dll…

Bagian 2

Karena penelitian ilmiah harus memuat kerangka teoritis, maka masalah relevansi teori dengan
permasalahan yang diteliti akan mendapat perhatian.

Misal : penelitian tentang pengaruh kompensasi tehadap motivasi.

Paling tidak, teori yang dijadikan dasar antara lain teori motivasi, dilanjutkan dengan teori
kompensasi, dan kerangka teori yang menjelaskan bahwa ada pengaruh antara kompensasi dan
motivasi. Dapat dilengkapi juga dengan hasil penelitian sejenis.

Artinya, secara teoritis maupun bukti empiris menunjukkan permasalahan yang diajukan dalam
penelitian secara teoritis telah terdukung. Karena didukung dengan teori, maka harus
dijelaskan dengan lengkap pula kepustakaannya. Jangan sampai teori Mr. A tapi daftar
pustakanya tidak sesuai. (hati-hati yang suka COPAS tanpa tau sumbernya dengan jelas…)

Bagian 3

Alamat perusahaannya dimana ?

Subjek penelitiannya siapa aja ??

Siapa yang dijadikan sampel dan jelaskan tentang alasan pemilihan teknik sampling ??

Jelaskan sumber data primer dan sekundernya ??


Sumber datanya darimana ??

Mengapa pake instrumen ini ??

Mengapa pake teknik analisis ini trus dapet rumusnya darimana ??

Pertanyaan-pertanyaan di atas kelihatannya sederhana tapi deteksi kebohongan dapat dilihat


dari bagaimana mahasiswa menjelaskan pertanyaan yang diajukan tersebut.

Contoh berikut in memperlihatkan bagaimana kebohongan mengenai subjek penelitian dapat


menyulitkan mahasiswa ketika ditanya

Penguji : Alamat perusahaannya dimana ??

Mahasiswa : di JL. Bla.bla.bla (sambil membaca proposal)

Penguji : kamu udah dateng kesana ?? (mulai menyelidik..)

Mahasiswa : mmmm…udah pak…(agak grogi)

Penguji : mereka bersedia dijadikan subjek penelitian ???

Mahasiswa : kayaknya bersedia..(grodi dikit).

Penguji : apa yang menyebabkan mereka bersedia dijadikan subjek penelitian ??

Mahasiswa : ……..mmm

Penguji : keuntungan buat mereka apa ??

Mahasiswa : ……..mmm

Intinya..sekali berbohong, maka akan cape’ sendiri untuk terus-terusan merangkai kebohongan
untuk menutupi kebohongan di awal.

Coba kalo mahasiswa-nya benar-benar melakukan survey pendahuluan, akan mudah sekali
dijawab seperti ini :

Penguji : apa yang menyebabkan mereka bersedia dijadikan subjek penelitian ??

Mahasiswa : saya sudah berkonsultasi dengan Staff HRD bahwa mereka bersedia membantu

Penguji : keuntungan buat mereka apa ??

Mahasiswa : saya kira banyak…berhasilnya penelitian ini akan memberikan semacam

gambaran atau referensi yang berguna bagi pihak perusahaan untuk

merumuskan kebijakan di masa depan (terkait dengan masalah yang diteliti….)