Anda di halaman 1dari 24

SUMBER 1 : https://nuruddinmh.wordpress.

com/2012/11/18/kebisingan-dan-pencegahannya/
Alat Pelindung Diri / Alat Pelindung pendengaran
Pemakaian Alat pelindung pendengaran adalah upaya terakhir dalam upaya pencegahan
gangguan pendengaran, ada 2 jenis :
1. Ear plug / sumbat telinga
2. Ear muff / tutup telinga

Setiap Alat Pelindung Pendengaran memiliki nilai NRR (Noise Reduction Rate), secara prinsip
Kebisingan yang akan diterima telinga kita adalah :

Kebisingan (dBA) = Kebisingan area kerja (dBA) – NRR (dBC)

Namun pengurangan dengan rumus diatas tidak tepat, gunakan safety faktor 50%, dengan
mempertimbangkan kualitas serta cara penggunaannya yang tidak tepat, sehingga rumus diatas
menjadi

Kebisingan (dBA) = Kebisingan area kerja (dBA) – [(NRR-7)*50%]


Apabila dengan rumus tersebut Kebisingan masih >85 dBA, maka gunakan pelindung ganda yaitu
ear plug dan ear muff, untuk perhitungan – pilih NRR terbesar dari Ear plug atau ear muff,
kemudian hitung dengan rumus :

Kebisingan (dBA) = Kebisingan area kerja (dBA) – [(NRR-7)*50%] – 5

Hal yang penting dalam Alat Pelindung Pendengaran ini adalah berikan pelatihan penggunaannya
yang tepat, gambar dibawah adalah contoh penggunaan Alat Pelindung Pendengaran
Faktor yang perlu diperhatikan dalam pemilihan Alat Pelindung Pendengaran adalah :
1. Dapat melindungi pekerja dari kebisingan
2. Nyaman diapakai dan efisien
3. Cocok dengan Alat Pelindung diri yang lainnya misal helm dan kacamata
3. Masih bisa berkomunikasi ketika digunakan, karena jika berlebihan dapat menimbulkan
bahaya lainnya misal tidak dapat mendengar isyarat atau sirene tanda bahaya.

Training Motivasi
Berikan penjelasan ke karyawan tentang akibat kebisingan serta bagaimana cara mencegahnya,
buktikan bahwa tidak ada orang yang kebal terhadap kebisingan dengan memberikan data
catatan rekam medis audiometri serta data pengukuran area kerja.
Pelatihan dengan metoda visualisasi adalah cara yang efektif untuk menjelaskan ke karyawan.
Pemeliharaan Catatan
Pelihara data pengukuran area kerja, audiometri test karyawan dan evaluasi secara berkala.
Lakukan upaya teknis untuk area kerja yang memiliki tingkat kebisingan melebihi NAB.

SUMBER2:http://healthsafetyprotection.com/alat-pelindung-pendengaran-hearing-
protection/#page-content

 Apa jenis pelindung pendengaran (hearing protection) yang tersedia?

Ada tiga jenis alat pelindung pendengaran (hearing protection), yaitu:

1. Ear Plug dimasukkan untuk memblokir saluran telinga. Ear plug berbentuk premolded
(preformed) atau moldable (busa). Ear plug umumnya dijual sebagai produk sekali pakai
(disposable) atau dapat digunakan kembali (reusable).

2. Semi-insert ear plugs à terdiri dari dua ear plug yang dipasang diujung head band.

3. Ear muff Penutup telinga yang terbuat dari bahan yang lembut yang dapat menurunkan
kebisingan dengan cara menutupi semua bagian telinga dan ditahan/dipegang oleh head
band.

 Bagaimana cara memilih alat pelindung pendengaran (hearing protection) yang


tepat?

Pilihan alat pelindung pendengaran sangat tergantung pada sejumlah faktor termasuk tingkat
kebisingan, kenyamanan, dan kesesuaian alat pelindung pendengaran bagi pekerja dan
lingkungannya. Yang paling penting, alat pelindung pendengaran harus memberikan pengurangan
kebisingan yang diinginkan. Jika paparan kebisingan adalah intermiten, maka ear muff lebih tepat
digunakan, karena mungkin kurang nyaman untuk memasukan dan mengeluarkan ear plug.

 Bagaimana saya bisa mengetahui berapa besar alat pelindung pendengaran bisa
mengurangi paparan kebisingan?

Produsen memberikan informasi tentang kemampuan pengurangan kebisingan dari alat pelindung
pendengaran atau dikenal dengan NRR (Noise Reduction Rating). Nilai NRR didasarkan pada
pengurangan kebisingan yang diperoleh dalam kondisi laboratorium.

 Bagaimana cara menggunakan nilai NRR untuk menentukan perlindungan yang


diberikan oleh alat pelindung pendengaran (hearing protection)?

NIOSH merekomendasikan menggunakan data sesuai dengan subjek berdasarkan ANSI S12.6-
1997 untuk memperkirakan redaman kebisingan pelindung pendengaran.

Jika data sesuai subjek tidak tersedia, NIOSH merekomendasikan de-rating pelindung
pendengaran dengan faktor yang sesuai dengan data yang tersedia. Secara khusus, NIOSH
merekomendasikan bahwa label NRRs akan de-rated sebagai berikut:

• Ear Muff – Kurangi 25% dari label NRR produsen


• Formable ear plug – Kurangi 50% dari label NRR produsen
• Semua jenis ear plug yang lain – Kurangi 70% dari label NRR produsen
Actual Noise Reduction Rating (NRR) juga dapat dihitung dengan rumus berikut:
Actual NRR = (NRR – 7) / 2
Contoh:

NRR = 29dB (dari label manufaktur)

Actual NRR = (NRR – 7) / 2

Actual NRR = (29 – 7)/ 2 = 11 dB

Maka actual NRR dari alat pelindung tersebut adalah 11 dB.


 Apa keuntungan dan keterbatasan dari ear plug dan ear muff?

Ear plug dapat diproduksi secara massal atau secara individu dibentuk agar sesuai dengan telinga,
dan ear plug dapat digunakan kembali atau sekali pakai. Di sisi positif, ear plug mudah digunakan,
lebih murah dari pada ear muff, dan lebih nyaman dalam wilayah kerja panas atau lembab. Di sisi
negatif, ear plug kurang memberikan perlindungan jika dibandingkan dengan ear muff, dan tidak
boleh digunakan di daerah yang memiliki tingkat kebisingan lebih dari 105 dB. Ear plug tidak
terlihat saat digunakan sebagaimana halnya ear muff sehingga pengawas tidak mudah untuk
melihat apakah pekerja memakainya. Dan ear plug harus benar dimasukkan untuk memberikan
perlindungan yang memadai.

Ear Muff dapat bervariasi berdasarkan bahan, kedalaman penutup, dan kekuatan ikat kepala (head
band). Penutup yang lebih dalam dan lebih berat, akan semakin memberikan perlindungan yang
lebih baik. Ikat kepala harus cukup erat dan kuat untuk mempertahankan posisi yang stabil, namun
tidak terlalu ketat untuk kenyamanan. Di sisi positif, ear muff biasanya dapat memberikan
perlindungan lebih besar dari pada ear plugs. Ear muff lebih mudah untuk menyesuaikan,
umumnya lebih tahan lama dari ear plugs, dan ear muff memiliki bagian yang dapat diganti. Di
sisi negatif, ear muff lebih mahal, dan sering kurang nyaman daripada ear plugs, khususnya di
wilayah kerja panas. Di daerah di mana tingkat kebisingan yang sangat tinggi, ear muff dan ear
plug dapat dipakai bersama-sama untuk memberikan perlindungan yang lebih baik.

Tabel berikut merangkum perbedaan antara ear plugs dan ear muff:

Ear Plugs Ear Muff

Keuntungan:

 kecil dan mudah dibawa


Keuntungan:
 Nyaman untuk digunakan dengan
peralatan perlindungan pribadi lainnya  Variabilitas atunuasi antar pengguna
(bisa dikenakan dengan ear muff) sedikit.

 Llebih nyaman dipakai untuk waktu yang  Dirancang sedemikian rupa sehingga satu
lama di tempat yang panas atau lembab. ukuran cocok semua ukuran kepala.
 Nyaman untuk digunakan di daerah kerja  Mudah terlihat di kejauhan untuk
terbatas membantu dalam pemantauan
penggunaan

 Tidak mudah salah tempat atau hilang

 Dapat dipakai pada pekerja dengan


infeksi telinga ringan

Kerugian: Kerugian:

 Mmbutuhkan lebih banyak waktu untuk  Kurang portable dan lebih berat

menyesuaikan.  Kurang nyaman untuk digunakan dengan

 Lebih sulit untuk memasukkan dan peralatan pelindung pribadi lainnya.

mengeluarkan  Kurang nyaman di tempat yang panas dan

 Memerlukan praktik kebersihan yang lembab.

baik  Kurang nyaman untuk digunakan di

 Dapat mengiritasi saluran telinga daerah kerja terbatas

 Mudah salah penempatan  Dapat terganggu jika memakai kacamata


keselamatan: aka ada celah antara seal ear
 Lebih sulit untuk melihat dan memantau
muff dengan kulit karena terganjal frame
penggunaan
kaca mata yang berakibat penurunan
perlindungan pendengaran

Mengapa begitu penting preferensi pengguna?

Aspek manusia dalam pemilihan alat perlindungan pendengaran (hearing protection) adalah sangat
penting karena alat pelindungan pendengaran akan efektif jika digunakan secara benar oleh
pengguna. Mungkin beberapa orang tidak cocok dengan jenis tertentu dari alat pelindung; setiap
manusia berbeda, anatomi telinga dan saluran telinga dapat bervariasi secara signifikan dari orang
ke orang.
Sebaiknya management menyediakan beberapa jenis alat perlindungan pendengaran (hearing
protection) sehingga para pekerja dapat memilih yang sesuai dengan mereka. Harap selalu diingat
faktor keselamatan dan hygiene dalam memilih alat pelindung pendengaran. Artinya, jenis tertentu
dari pelindung tidak boleh digunakan jika tingkat kebisingan yang terlalu tinggi atau jika terbukti
tidak memadai dari sudut pandang higienis. Sebagai contoh, ear plugs yang digunakan berulang
ulang tanpa memperhatikan kebersihan, dapat memasukkan kotoran dan bakteri ke dalam telinga,
dan dapat menyebabkan infeksi telinga.

Intinya adalah jika pekerja merasa tidak cocok dengan jenis alat perlindungan (misalnya, tidak
nyaman, tidak terlalu pas, atau tidak praktis), mereka tidak akan memakainya.

Apa yang harus diketahui tentang fit dari alat pelindung pendengaran (hearing protection)?

Ikuti instruksi manufaktur. Untuk ear plug, misalnya, telinga harus ditarik ke luar dan ke atas
dengan tangan yang berlawanan untuk memperbesar dan meluruskan saluran telinga, dan
masukkan ear plug dengan tangan yang bersih. Pastikan ear plug masuk dan menutup saluran
telinga secara maksimal, atau penutup ear muff menutup rapat dan menempel dikulit secara
maksimal.

Apa yang terjadi pada tingkat perlindungan ketika alat pelindung pendengaran hanya
digunakan untuk periode waktu yang singkat?

Dalam rangka untuk mendapatkan manfaat penuh, pelindung pendengaran harus dikenakan
sepanjang waktu selama bekerja dalam kebisingan. Jika pelindung pendengaran dikeluarkan hanya
untuk jangka waktu pendek, perlindungan secara substansial berkurang. Tabel berikut memberikan
perlindungan maksimum yang disediakan untuk non-kontinyu penggunaan alat pelindung yang
dipasang “100%” fit melindungi. Sebagai contoh jika seseorang melepas pelindung pendengaran
selama 5 menit dalam pergeseran 8-jam, perlindungan maksimal akan menjadi 20 dB. Tabel
berikut memberikan contoh-contoh lainnya.

Perlindungan Maksimum dari Penggunaan

Alat Pelindung Pendengaran Secara Tidak Kontinu


Persen Waktu PemakaianMaksimum Perlindungan

50% 3 dB

60% 4 dB

70% 5 dB

80% 7 dB

90% 10 dB

95% 13 dB

99% 20 dB

99.9% 30 dB

Maka gunakanlah selalu secara penuh waktu alat pelindung pendengaran untuk mendapatkan
perlindungan maksimum.

 Bagaimana merawat alat perlindungan pendengaran?

a) Ikuti petunjuk produsen.

b) Periksa secara teratur untuk memeriksa kerusakan dan keausan.

c) Ganti bantal telinga atau colokan yang tidak lentur lagi.

d) Ganti unit head band apabila sudah longgar sehingga penutup telingga tidak menempel
dengan sempurna.

e) Bongkar ear muff untuk dibersihkan.

f) Cuci ear muff dengan deterjen cair ringan di air hangat, dan kemudian bilas dengan air
hangat. Pastikan bahwa bahan peredam suara di dalam penutup telingga tidak basah.

g) Gunakan sikat yang halus untuk menghilangkan minyak dan kotoran yang dapat
mengeraskan bahan penutup telinga.
SUMBER 3 : https://repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/12026/2/F08bsa.pdf

Salah satunya dengan menggunakan alat pelindung telinga (APT). alat pelindung telinga di tempat
kerja yang bising adalah suatu hal yang harus ada dan harus tersedia, hal ini untuk menjaga
kesehatan tenaga kerja khususnya kesehatan terhadap pendengaran. Dalam buku Kesehatan dan
Keselamatan Kerja (1984), menjelaskan bahwa fungsi alat pelindung telinga adalah menurunkan
intensitas kebisingan yang mencapai alat pendengaran. Pengurangan intensitas kebisingan dari alat
pelindung telinga ini tergantung dari macamnya, cara pemakaiannya, serta keteraturan
penggunaannya dari alat pelindung telinga. Berikut ini berbagai jenis alat pelindung telinga dengan
tingkat peredaman kebisingan berdasarkan kisaran frekuensi, seperti Tabel 10.

Tabel 10. Peredaman kebisingan berbagai jenis pelindung telinga

(*) Angka dalam kurung menyatakan penyimpangan (deviasi)


Menurut jenisnya, alat pelindung telinga terbagi menjadi 3 jenis, yaitu:

1) Sumbat telinga (ear plug), dapat dibuat dari kapas, plastik, karet alami dan sintetis. Pengurangan
tekanan bising pada sumbat telinga ini adalah sekitar 8-30 dB(A). Namun hal tersebut tergantung
pada longgar tidaknya pemasangan sumbat telinga yang menutupi lubang telinga. Daya proteksi
alat ini kurang baik untuk tingkat bising di atas 100 dB(A), alat tidak dapat dipakai bila ada infeksi
pada telinga, penggunaan alat sukar dimonitor karena dari jauh tidak terlihat, harus disediakan
berbagai ukuran dan akan mudah hilang karena kecil, serta perlu perawatan untuk menjaga
kebersihan alat. Berikut ini beberapa jenis ear plug berdasarkan reduksi tingkat kebisingannya
dapat dilihat pada Tabel 11 ini.

Tabel 11. APT Jenis Ear Plug berdasarkan reduksi tingkat kebisingan

2) Tutup telinga (ear muff), dapat dipakai pada tekanan bising sampai dengan 110 dB(A) karena
dapat mengurangi tekanan bising sekitar 25 – 40 dB(A), dapat digunakan walaupun terdapat
infeksi pada telinga dan cukup disediakan satu ukuran, tidak mudah hilang serta mudah dimonitor
pemakaiannya karena dapat dilihat dari luar. Kerugian alat ini adalah tidak nyaman dalam
penggunaan yang lama di lingkungan yang panas dan menggannggu penggunaan alat pelindung
diri lainnya. Kombinasi antara tutup telinga dan sumbat telinga dianjurkan penggunaannya untuk
tekanan kebisingan antara 120 – 125 dB(A). Berikut ini beberapa jenis ear muff berdasarkan
reduksi tingkat kebisingannya dapat dilihat pada Tabel 12 ini.

Tabel 12. APT Jenis Ear Muff berdasarkan reduksi tingkat kebisingan

3) Helmet, dapat mengurangi tingkat bising sekitar 40 – 50 dB(A) dan mengurangi masuknya
gelombang suara melalui getaran tulang kepala. Kerugian alat ini adalah mahal dan tidak nyaman
penggunaannya karena berat dan besar. Berikut ini beberapa jenis helmet berdasarkan reduksi
tingkat kebisingannya dapat dilihat pada Tabel 13 ini.

Tabel 13. APT Jenis Helmet berdasarkan reduksi tingkat kebisingan


Berdasarkan intensitas kebisingan yang terjadi di PG Bungamayang, maka diperlukan peredaman
kebisingan sampai batas aman dan nyaman. Salah satu cara meredam kebisingan yaitu dengan
menggunakan alat pelindung telinga. Intensitas kebisingan yang terjadi pada stasiun masakan
cukup tinggi, maka penggunaan APT jenis sumbat telinga (ear plug) disarankan bagi pekerja di
stasiun masakan mengingat intensitas kebisingan tertinggi dekat pada vacuum pan masakan
berkisar antara 91.28 dB(A) hingga 93.80 dB(A), seperti gambar jenis ear plug yang terdapat pada
Tabel 11 memiliki daya reduksi kebisingan antara 21–31 dB(A) misalnya Disposable Foam Ear
Plugs. Pada stasiun putaran, beberapa pekerja khususnya yang mengoperasikan mesin putaran
Broadbent 6 dan 7, dan mesin TSK Centrifugal 3 di unit puteran HGF sangat perlu menggunakan
alat pelindung telinga berjenis APT kombinasi antara tutup telinga (ear muff) dan sumbat telinga
(ear plug) sangat disarankan mengingat intensitas kebisingan tertinggi pada stasiun putaran
mencapai berkisar antara 98.73 dB(A) hingga 102.46 dB(A), seperti gambar jenis ear plug pada
Tabel 11 dan ear muff Tabel 12 memiliki daya reduksi kebisingan antara 21 – 31 dB(A) untuk
jenis ear plug misalnya Disposable Foam Ear Plugs dan 20 – 30 dB(A) untuk ear muff misalnya
ApexTM 30 Muff. Sedangkan pada stasiun power house sangat disarankan penggunaan APT 49
jenis ear plug yang terdapat pada Tabel 11 memiliki daya reduksi kebisingan antara 21–31 dB(A)
misalnya Disposable Foam Ear Plugs, mengingat intensitas kebisingan tertinggi pada stasiun
power house mencapai 84.43 dB(A) sampai dengan 100 dB(A). Penggunaan APT jenis helmet
maupun APT kombinasi antara tutup telinga (ear muff) dan sumbat telinga (ear plug) dapat
mengurangi kebisingan hingga 50 dB(A). Menurut penjelasan hasil wawancara dengan seseorang
pekerja pabrik, bahwa beberapa pekerja di stasiun-stasiun telah menggunakan APT yang paling
sederhana dengan kapas (acoustic wool). Kapas ini digunakan pekerja tersebut kira-kira sesuai
dengan besar lubang telinga dan penggunaan sumbat telinga kapas ini menjadi suatu kebiasaan
yang cukup baik di antara sebagian para pekerja. Menurut Wiyadi (1987), Sumbat telinga kapas
ini dapat mengurangi intensitas kebisingan berkisar antara 10 dB(A) sampai 15 dB(A) pada
frekuensi kurang dari 1000 Hz, dan mengurangi kebisingan 25 dB(A) sampai 30 dB(A) untuk
frekuensi di atas 1800 Hz. Namun kebiasaan tersebut dapat berakibat negatif bagi pekerja sendiri,
misalnya setelah pulang kerja kadang-kadang pekerja terlupa untuk melepaskan sumbat kapas
yang telah digunakan pada saat bekerja sehingga sumbat kapas tersebut akhirnya mengeras hingga
seperti batu. Dengan penjelasan tersebut, maka pekerja yang mengalami peristiwa itu segera
dibawa ke dokter dan harus menjalani operasi pada telinga yang tersumbat kapas keras. Namun,
apabila dilihat dari peristiwa tersebut dan pola penyebaran intensitas kebisingan yang terjadi pada
masingmasing stasiun berkisar antara 84.43 – 102.46 dB(A), maka sumbat telinga menggunakan
kapas sangat tidak aman dan nyaman di lingkungan pabrik.
SUMBER 4 ITS pdf

Barrier untuk Mengatasi Kebisingan

Dalam kehidupan sehari-hari, barrier sering disebut tembok, pagar atau bangunan
yang fungsinya sebagai peredam rambatan gelombang bunyi. Adapun pertimbangan-
pertimbangan dalam merancang dan membuat barrier yang dapat digunakan sebagai
peredam bising secara maksimal, antara lain:
1. Faktor Posisi
Bunyi yang merambat dari sumber bunyi menyebar ke segala arah. Namun bunyi yang
diterima oleh bangunan umumnya adalah bunyi yang merambat secara horizontal menuju
bangunan atau pada sudut kemiringan tajam. Perambatan ini terjadi melalui medium
rambat udara di sekitar bangunan. Ada juga perambatan yang melalui tanah dapat juga
terjadi tetapi nilai perambatannya sangat kecil karena tanah memiliki nilai tingkat atenuasi
yang besar. Oleh karena itu, perambatan bunyi yang merambat dengan arah horizontal
atau merambat dengan sudut tajam akan dapat diredam oleh penghalang bising yang
berbentuk vertical
Bunyi dengan frekuensi yang amat rendah akan disertai dengan getaran hebat karena
kuatnya amplitudo yang dimiliki. Jika terjadi keadaan yang demikian maka tidak hanya elemen
vertikal bangunan yang akan berperan dalam menghambat perambatan, amun juga elemen
horizontal. Hal ini terjadi karena getaran yang cukup kuat yang menyertai bunyi tidak mampu
diredam sepenuhnya oleh tanah.
2. Faktor Peletakan
Proses peletakan sebuah penghalang kebisingan sangat mempengaruhi besarnya
peredaman yang dihasilkan untuk menahan laju gelombang bunyi. Ada beberapa kemungkinan
peletakan yang dapat dipakai dalam mendesain barrier sebagai peredam kebisingan, antara
lain:
a. Cenderung lebih mendekati sumber bunyi
Suatu penghalang kebisingan diletakkan dengan jarak tertentu dan berdiri sejajar
dengan pemukiman. Pada pemukiman yang mempunyai luas tanah yang luas, dapat
dimungkinkan penghalang tersebut diletakkan cukup jauh dari jarak barrier terhadap
pemukiman. Jika keadaannya seperti ini, maka gelombang bunyi yang merambat pada ujung
barrier sebagian akan didifraksikan lurus ke atas atau sebagian ke bawah. Karena letak
penghalang kebisingan yang berada jauh di depan pemukiman, maka difraksi gelombang
setelah mengenai penghalang tersebut tidak langsung merambat menuju pemukiman. Meskipun
tetap ada gelombang bunyi yang merambat menuju pemukiman tetapi dengan intensitas tingkat
bunyi yang relatif kecil. (Gambar 2.2a)
b. Jika posisi letak yang terjadi pada point (a)
Tidak dapat terlaksana karena terbatasnya lahan yang dimiliki, posisi letak pada point
(c) lebih disarankan dengan ketinggian barrier jauh melebihi tinggi rumah di daerah
pemukiman. Letak barrier yang lebih dekat dengan pemukiman (c) dapat lebih baik
dibandingkan dengan posisi barrier yang berada di tengah-tengah antara jalan dan pemukiman
(posisi b). Pada keadaan ini, difraksi gelombang bunyi sebagian besar langsung mengarah ke
pemukiman, walaupun dimensi barrier sudah ditinggikan.

1. Faktor Bentuk

Elemen vertikal bangunan yang letaknya terpisah dengan bangunan dapat dimanfaatkan secara
maksimal sebagai peredam gelombang bunyi jika didukung tertentu tentang bentuk.Umumnya
elemen tersebut dibuat dengan bentuk pipih tanpa lubang atau celahsupaya rambatan gelombang
bunyi tidak dapat menembus celah – celah dinding pagar tersebut. Sehingga dapat berfungsi
sebagai peredam bising secara maksimal. Selain itu juga memiliki ketinggian tertentu. Biasanya
terbuat dari material bata merah atau batako yang direkatkan dengan campuran pasir, semen, kapur
dan air. Selain pembatas yang bentuknya pipih, ada juga pembatas yang bentuknya menyerupai
gundukan tanah membentuk bukit kecil atau semacamnya. Dengan bentuk yang demikian,
efektifitas peredaman sumber bunyi bisa lebih maksimal terutama jika meredam frekuensi rendah
disertai getaran hebat. Ukurannya yang lebih besar daripada pagar dengan bentuk pipih
memungkinkan untuk dapat lebih stabil dalam menahan resonansi. Bila resonansinya dapat
diredam, maka perambatan bunyi dengan getaran besar akan semakin kecil.

2. Faktor Kerapatan Material

Material alam atau material bangunan yang memiliki berat tertentu lebih baik dalam meredam
bunyi. Berat yang dimiliki tiap-tiap material mendukung material tersebut untuk bertahan pada
posisi untuk tidak mudah mengalami resonansi sehingga bunyi yang merambat dari sumber tidak
dapat diteruskan ke posisi penerima. Semakin berat dan lapisan tebal material maka
kemampuannya dalam meredam bunyi sangat baik. Disamping itu juga bisa menekan terjadinya
resonansi karena dapat menyerap gelombang bunyi yang masuk ke pori-pori dibandingkan dengan
material yang tipis dan rungan.

3. Faktor Dimensi Ukuran atau dimensi sebuah pembatas

Sangat menentukan seberapa besar gelombang bunyi yang dapat diredam oleh pembatas tersebut.
Semakin menyeluruh dalam melingkupi bangunan maka kemampuan perlindungannya terhadap
gangguan bunyi akan semakin baik. Tetapi jika semua pagar melingkupi bangunan, kesan
estetika yang ditampilkan sangat kurang. Malah, bangunan tersebut terkesan tertutup dari
lingkungan sekitarnya. Selain itu juga laju aliran udara luar menuju ke bangunan juga akan
terbatas. Ketika tingkat kebisingan suatu kawasan melampaui ambang batas yang diperbolehkan
oleh Peraturan Menteri Negera Lingkungan Hidup no.46 tahun 1996, maka harus dilakukan
penanganan terhadap aliran rambatan bunyi tersebut. Bangunan peredam kebisingan adalah
bangunan yang berfungsi sebagai penghalang bagi kawasan yang diakibatkan oleh kebisingan
jalan raya. Jenis- jenis bangunan bising dapat berupa tembok atau pagar dengan ukuran tertentu
dan dibuat dari bahan tertentu pula tergantung dari data- data awal yang diperoleh mengenai
tingkat kebisingan yang terjadi di kawasan tersebut disertai dengan metode yang akan dipakai
untuk merancang sebuah pembatas. Bangunan peredam bising dapat berupa

1. Enclosure sumber bising

2. Enclosure penerima

3. Enclosure keduanya

Pengurangan kebisingan pada tiap sisi dinding, akan bervariasi nilainya tergantung dari
konstruksi pembuatan dinding itu sendiri. Tujuan didesain barrier adalah untuk mengurangi
kebisingan dalam bentuk bunyi bayangan. Besarnya pelemahan dengan terbentunya bayangan
telah diteliti oleh Redfearn dan dari hasil analisisnya diperoleh bahwa pelemahan bunyi tergantung
pada tinggi barrier dimana panjang gelombang bunyi lebih besar dari garis penghubung sumber
dan penerima. Umumnya, dinding pada bangunan rumah diasumsikan sebagai massa. Daerah
bayangan (shadow zone) adalah daerah yang ada di belakang penghalang kebisingan yang bagian
atasnya dibatasi oleh garis perambatan gelombang bunyi yang terbelokkan oleh bagian atas
penghalang. Daerah ini merupakan daerah pengaruh yang efektif sebagai penghalang kebisingan.
Perambatan bunyi di luar ruangan melalui udara umumnya memiliki tingkat kebisingannya
semakin menurun seiring dengan semakin jauhnya jarak penerima dengan sumber bunyi.

SUMBER 5

7 PRINSIP MEMBANGUN SISTEM PEREDAM SUARA ( NOISE BARRIER )

MASS ( Massa )

Diperlukan massa yang cukup besar agar dapat menghalangi transmisi suara. Jika memiliki massa
yang besar maka diperlukan energi yang besar untuk menggerakan dinding penghalang. Sebuah
peredam suara ( noise barrier ) yang memiliki massa lebih besar jika ditabrak oleh energi suara
maka suara cenderung memantulkan kembali kedalam ruangan, ini terjadi karena memiliki inersia
( kecenderungan semua benda fisik untuk menolak perubahan terhadap keadaan geraknya. Secara
numerik, ini diwakili oleh massa benda tersebut . Akibat sifat inersia pada material yang memiliki
massa yang besar, suara yang menabrak pada dinding penghalang sebagian besar dipantulkan
kembali kedalam ruangan dan suara yang diteruskan keluar ruangan lebih kecil. Penambahan pada
massa tidak terlalu memiliki pengaruh terhadap frekuensi rendah. Seperti yang sudah dijelaskan
diatas, setiap penambahan dua kali massa akan meningkatkan kemampuan isolasi suara sebesar 6
dB, ini kita kenal sebagai hukum massa ( Mass Law ).

STIFFNESS ( Kekakuan )
Poin kedua yang tidak kalah penting adalah mengenai stiffness ( kekakuan ). Sekalipun memiliki
massa yang cukup baik namun memiliki stiffness yang rendah maka sistem peredam suara ( noise
barrier ) tidak akan optimal, karena dinding penghalang tersebut akan bergetar sesuai dengan
frekuensi modalnya, yang memiliki kemungkinan dapat membuat struktur ikut bergetar akibat
resonansi. Begitu semua sistem peredam suara ( noise barrier ) ikut beresonansi, permukaan yang
ikut bergerak bertindak seperti diafragma dan kembali mereproduksi energi suara yang kemudian
diteruskan keluar ruangan.

DAMPING SYSTEM

Damping adalah material yang memiliki sifat untuk melembam ( lembam = sifat materi yg
menentang atau menghambat perubahan momentum atau keadaan gerak benda berkaitan dengan
inersia ). Didalam sistem CLD ( Contrained Layer Damping ), material damping berada diantara
dua material rigid ( diapit ). Peristiwa damping dapat terjadi jika pusat viscoelastic dari lapisan
tersebut mengalami pergerakan ( lihat gambar diatas ). Sewaktu dinding penghalang mengalami
perubahan bentuk ( bent ), akan terjadi gaya tarik dan tekan pada damping material sehingga
mencegah perubahan bentuk ( bent ) pada dua lapisan rigid tersebut. Energi suara akan berkurang
ketika material damping mengalami pergerakan. Energi getaran tidak diisolasi tapi dikonversi
menjadi energi panas dalam jumlah yang kecil, nilai efisiensinya tergantung pada material
damping yang terdapat didalam sistem.
Untuk ilustrasi sederhananya, dapat diperhatikan dari grafik diatas, dimana transisi dari amplifikasi
vibrasi ( penguatan getaran ) sampai pengurangan vibrasi. Pada kondisi praktikal, dengan
penambahan material damping maka terjadi pengurangan energi getaran. Dengan menggunakan
sistem CLD maka pengurangan kebisingan akan sangat efektif pada frekuensi rendah.
DECOUPLING MECHANIC ( Pemutus Rambatan Mekanis )

Dengan membuat decoupling mechanic kita bisa menambah kualitas sistem peredam suara ( noise
barrier ) yang kita bangun. Fungsi dari decoupling adalah memutus getaran yang dapat merambat
melalui struktur. Cara decoupling mechanic bekerja adalah sebagai berikut; saat suara menabrak
permukaan dinding peredam suara ( noise barrier ), hal tersebut akan menimbulkan getaran, ketika
getaran tersebut akan merambat melalui struktur rangka ke dinding lainnya, pada saat itu material
decoupling mechanic bertindak untuk mereduksi atau memutus rambatan yang akan terjadi
sehingga getaran tidak dapat diteruskan keruangan lain.

ABSORBER MATERIAL ( Material Penyerap Suara )

Keberadaan absorber material juga memiliki andil didalam sistem peredam suara ( noise barrier ).
Namun porous material memiliki keterbatasan dalam menyerap suara. Tidak semua frekuensi
mampu diserap apalagi dihalangi oleh porous material. Dengan meletakkan porous material
diantara kedua dinding ( dinding existing dan dinding peredam suara – noise barrier ) maka porous
material ini mampu meningkatkan efektifitas, prinsipnya adalah mengurangi energi suara yang
timbul akibat resonansi diantara kedua dinding tersebut. Dalam hal ini, penggunaan porous
material yang memiliki density tinggi tidak begitu significant ( bukan berarti nilai density tidak
perlu dipertimbangkan ), yang perlu dipertimbangkan adalah ketebalannya ( akan dibahas pada
artikel lainnya ). Ketebalan dari porous material akan mempengaruhi resistivitas dan resistansi
aliran udara yang berimbas pada meningkatnya impedansi akustik. Artinya ketika nilai impedansi
akustik tinggi maka hambatan perjalanan suara pun meningkat, sehingga menyebabkan kehilangan
energi suara. Energi suara tersebut mengalami friksi akibat gesekan yang terjadi dan dikonversi
menjadi energi panas.
AIR GAP ( Jeda Udara )

Air gap dalam sistem peredam suara ( noise barrier ) memiliki peranan yang cukup signifikan.
Keberadaan air gap didalam sistem peredam suara ( noise barrier ) bertindak seperti pegas atau
prinsip ini dapat disebut Mass – Air – Mass ( MAM System ). Tekanan bunyi yang timbul dari
dalam ruangan dan menabrak permukaan ruangan, dimana permukaan ruangan akan melendut (
defleksi ) kebagian dalam. Tekanan udara didalam jeda tersebut akan mendorong kembali
permukaan ruangan keluar. Fenomena tekanan udara yang mengalami kompresi ini akan bertindak
seperti pegas.

AIRTIGHT CONSTRUCTION ( Konstruksi Kedap Udara )

Kata kunci dari prinsip ini adalah dimana udara dapat mengalir, maka kesanalah suara akan pergi.
Masalah terbesar yang selalu ditemukan dilapangan adalah kegagalan konstruksi didalam
membangun sistem peredam suara ( noise barrier ) untuk memberi perhatian yang lebih detail
terhadap kemungkinan rambatan suara melalui celah-celah kecil. Ketika kontraktor menjanjikan
mereka dapat membangun dinding peredam suara dengan nilai STC sebesar 54 dan ketika mereka
sudah menyelesaikan pekerjaannya, ternyata kondisi aktual dilapangan yang tercapai hanya
34. Apa yang sebenernya terjadi?

Sebagai contoh, pernahkah kita berpikir pada celah kecil yang terdapat dibagian bawah antara
pertemuan dinding dan lantai, umumnya kita mengabaikan celah kecil pada area tersebut. Celah
15mm yang terdapat dibagian bawah sepanjang 3m sama seperti lubang yang terdapat pada
dinding dengan luas 450cm2. Dari perhitungan sederhana ini kita dapat mengerti bahwa ini adalah
masalah yang sangat serius.

Selain itu, titik lemah juga terdapat pada penempatan perangkat elektrikal yang menembus dinding
peredam suara ( noise barrier ). Pertemuan antara box perangkat dengan dinding perlu diberi
perhatian khusus. Area-area tersebut yang seringkali diabaikan didalam membuat sistem peredam
suara ( noise barrier ).

Prinsip-prinsip diatas merupakan sistem pengendalian kebisingan yang perlu diterapkan secara
menyeluruh. Ketika kita mengatakan ini adalah suatu sistem, maka kita tidak boleh mengabaikan
satu poin pun karena sistem adalah suatu rangkaian tindakan untuk membangun suatu fungsi.
SUMBER

Dapat menjadi pilihan ketika pengurangan kebisingan melalui pemilihan layout bangunan tidak
memberikan reduksi maksimal. Agar dapat membangun barrier secara tepat, beberapa faktor harus
diperhatikan, misalnya perletakan, dimensi, pemilihan material, estetika.

Tabel 2.2.1 nilai TL perkiraan untuk beberapa material umum, diuji untuk lintas spektrum
dengan frekuensi suara yang khas. Dapat digunakan sebagai panduan kasar dalam desain akustik
hambatan suara. Data merupakan laporan pengujian bahan oleh laboratorium terakreditasi

Aspek- aspek penting untuk diperhatikan dalam pembangunan noise barrier adalah sama dengan
aspek pemanfaatan pagar sebagai peredam bising yaitu posisi, perletakan, bentuk, berat dan
kerapatan material, pemilihan material, dimensi, dan Estetika.
Barrier yang sengaja dibangun untuk meredam bunyi bisa dijumpai pada garis luar site bangunan
yang berdekatan dengan jalan raya, yang banyak dilalui kendaraan besar/berat seperti jalan lingkar,
jalan tol atau highway(sebutan di negara maju)

Hal yang paling menonjol dalam rancangan noise barrier adalah pemilihan dan penggunaan aneka
material modern guna mencapai Estetika yang tinggi. Meski demikian pada beberapa keadaaan
dijumpai pula penggunaan material konvensional seperti kayu dan batu/beton.

1. Material Kayu

Meski memberikan tampilan alami sebagaimana layaknya pagar bangunan, noise barrier yang
tersusun dari kayu memiliki kekurangan dari aspek tebal dan berat material bila dibandingkan
material dari batu atau beton. Celah- celah yang terbentuk antarpapan atau lembaran kayu yang
disusun juga sangat memungkinkan terjadinya penyusupan rambatan gelombang bunyi
2. Material Batu/ bata/ beton

Seiring perkembangan dan penemuan material baru, bata, bata atau beton kini digolongkan sebagai
material konvensional. Meski begitu dilihat dari aspek berat dan tebal materialnyaa, batu, bata atau
beton merupakan material yang sangat disarankan untuk digunakan sebagai material noise barrier.

3. Material Logam

Material ini memenuhi aspek berat meski tidak selalu memenuhi aspek tebal. Logam memberikan
tampilan modern dan menghemat waktu karena fabrikasi. Permukaan nya memiliki kecendrungan
pemantul yang kuat. Sebaiknya di selesaikan dengan permukaan kasar (bergelombang, bergerigi)
agar tidak memantulkan kembali bunyi ke arah sumber secara kuat.

4. Material Kaca
Material transaparan memberikan kesan modern dan menyediakan view dari bangunan ke arah
luar. Sifat permukaan kaca yang cenderung halus dan licin memiliki kekurangan karena dapat
memantulkan kembali gelombang bunyi ke arah sumber sehingga menghasilkan akumulasi
kebisingan.