Anda di halaman 1dari 3

Pemerintah Aceh Utara Pacu Pembangunan

Sektor Pertanian

KLASTER PADI Bupati Aceh Utara H Muhammad Thaib didampingi Deputy Kepala
Perwakilan Bank Indonesia Lhokseumawe Achmad P Subarkah melakukan
penanaman perdana program klaster ketahanan pangan padi seluas 10 hektare
metode System of Rice Intensification (SRI) di Desa Lhok Kuyun, Kecamatan Sawang
Aceh Utara.

PEMERINTAH Kabupaten Aceh Utara di bawah kendali H Muhammad Thaib dan Drs
HM Jamil MKes terus memacu pola pembangunan pertanian terutama sektor tanaman
padi, pasalnya selama ini sektor tersebut menjadi tulang punggung kehidupan
masyarakat. Jika tanaman padi terganggu maka dipastikan ketahanan pangan
masyarakat ikut terganggu.

Oleh karena itu, upaya agar pertanaman padi terus meningkat, Bupati H Muhammad
Thaib bersama wakilnya Drs HM Jamil MKes terus melakukan terobosan di antaranya
melakukan kerjasama dengan Perwakilan (Pwk) Bank Indonesia (BI) Lhokseumawe
mengembangkan pola tanam padi dengan metode System of Rice
Intensification (SRI), dipusatkan di Desa Lhok Kuyun, Kecamatan Sawang, seluas 10
hektare menggunakan pupuk semi organik.
Selama ini pola tanam yang dilakukan petani masih bersifat manual, akibatnya hasil
panen belum memuaskan yakni rata-rata 6,2 ton per hektare. Sedangkan metode SRI
seperti yang telah dikembangkan di sejumlah daerah di Indonesia bisa mencapai 8 ton
per hektare.

�Untuk tahap awal kegiatan pengembangan dipusatkan di Desa Lhok Kuyun,


Kecamatan Sawang seluas 10 hektare yang melibatkan 49 orang sebagai anggota
kelompok Mon Siroen diketuai Zaki Fuad, dan ini menjadi pilot project untuk
meningkatkan produktivitas padi di Aceh Utara. Keberhasilan ini akan menjadi tolok
ukur untuk dikembangkan di seluruh sentra pertanian padi di Aceh Utara,� ungkap
Bupati H Muhammad Thaib yang didampingi Kadis Pertanian Tanaman Pangan
Aceh Utara Ir Mukhtaruddin.

Kepala PWk BI Lhokseumawe Ahmad Farid dalam kesempatan itu mengatakan, BI


akan memberikan bantuan bersifat teknis. �Seperti memfasilitasi dalam rangka studi
banding, penguatan kelembagaan kelompok dan kegiatan sosialisasi cara
penanaman padi pola SRI,� ucapnya.

Disebutkan, areal sekitar 10 hektare lahan sawah tersebut akan dinamai Klaster
Ketahanan Pangan Padi. �Klaster Ketahanan Pangan Padi bisa dijadikan pilot project
pola tanam SRI di Aceh Utara, sehingga keberhasilan pola tanam untuk meningkatkan
produktivitas petani bisa berkembang di seluruh kawasan sentra padi di Aceh Utara.
Dan diharapkan di masa mendatang Aceh Utara sudah bisa menjalankan pola SRI
dan menjadi salah satu lumbung padi di Aceh,� katanya.
Berdasarkan sumber data BPS tahun 2012, Provinsi Aceh mempunyai luas wilayah
persawahan tanaman padi mencapai 405.076 hektare dengan total produksi padi
sebanyak 1.772.961 ton/tahun dengan rata-rata produktivitas lahan mencapai 4,66
ton/hektare.

Pada periode yang sama Kabupaten Aceh Utara mempunyai kapasitas produksi
cukup besar, menempati urutan pertama di Provinsi Aceh dari 23 kabupaten/kota.
Produksi Aceh Utara mencapai 263.887 ton/tahun dengan luas tanam 61.578
hektare atau rata-rata produksi 4,72 ton/hektare.

Luas areal lahan sawah di Aceh Utara jumlahnya cukup besar, namun belum mampu
menghasilkan produksi padi secara maksimal. Maka solusi yang harus dilakukan
adalah dengan pola tanam SRI, soalnya di daerah luar Aceh pola SRI sudah
berkembang dan mampu menghasilkan panen padi mencapai 8 sampai 11 ton per
hektare. Bupati Muhammad Thaib bertekad pertanian padi di Aceh Utara lebih baik
dibanding produksi padi di daerah lain di Aceh.

Kepala BI Lhokseumawe Ahmad Farid diwakili Deputy Achmad P Subarkah saat


melakukan launching program tersebut belum lama ini mengatakan, strategi kebijakan
dan tugas pokok BI di daerah salah satunya memberikan saran kepada pemerintah
daerah mengenai kebijakan ekonomi dan keuangan daerah, yang didukung dengan
penyediaan informasi berdasarkan riset serta memfasilitasi mengendalian inflasi,
pemberdayaan sektor riil dan UMKM.

Dipilihnya metode SRI, karena dapat meningkatkan produktivitas dan layak


dikembangkan di daerah Aceh Utara khususnya Kecamatan Sawang. �Memang
metode SRI merupakan pola tanam relatif baru di Aceh Utara, namun SRI dikenal
lebih alamiah dan unggul, soalnya hemat biaya, hemat air, hemat waktu, ramah
lingkungan dan produktivitas tinggi,� tambah Achmad P Subarkah.
Diakui, selama ini petani padi di Aceh Utara masih menggunakan pola instan tanpa
memperdulikan betapa jenuhnya tanah karena pupuk sintetis, akibatnya tanah hampir
mati dan tandus.

Di sisi lain Bupati Aceh Utara H Muhammad Thaib berharap agar petani di Aceh Utara
harus bisa melakukan inovasi cerdas terhadap pengembangan produksi padi.
�Teknologi pertanian terutama padi selama ini terus berkembang secara cepat,
bahkan di daerah lain hasil produksi padi terus mengalami peningkatan, sehingga kita
juga harus bisa melakukan hal yang sama� urainya.

Dikatakan lagi, tugas Pemerintah Aceh Utara saat ini terus melakukan pembangunan
saluran irigasi diseluruh sentra pertanian padi di Aceh Utara. �Mudah-mudahan mega
proyek waduk krueng kereutoe secepatnya segera terwujud,� katanya.

Di Aceh Utara, tambah Muhammad Thaib, total areal produktif mencapai 61.000
hektare dan sekitar 45.000 hektare adalah lahan sawah dan sekitar 12.000 hektare
sudah digarap oleh petani, sisanya masih banyak mengalami kendala di antaranya
belum meratanya saluran irigasi.

Ketua Kelompok Tani Mon Siroen Zaki Fuad bertekad Kecamatan Sawang dalam
waktu tidak lama sudah menjadi sentra pola tanam SRI, apalagi dengan dukungan
Pemerintah Aceh Utara dan pihak BI Lhokseumawe yang akan terus melakukan
pendampingan terhadap petani termasuk pola pengelolaan keuangan petani,
sehingga petani mampu menghasilkan produksi tinggi.