Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PENDAHULUAN

POST PARTUM SPONTAN


DI RUANG BOUGENVIL
RSUD DR. ADHYATMA,MPH SEMARANG

Dosen Pengampu : Ns.Yuni Astuti.,M.Kep

Oleh:

1. Andaruning Sekar Kinasih 20101440117005


2. Annisa Sulistyaningtyas 20101440117011
3. Jihan Ni’maturrif’ah 20101440117042
4. Supembri 20101440117085
5. Tria Friska Ningrum 20101440117091

AKADEMI KEPERAWATAN KESDAM IV/DIPONEGORO

SEMARANG

2019
A. Definisi Post Partum
Post partum adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan kembali
sampai alat-alat kandungan kembali seperti sebelum hamil. Lama masa nifas ini
yaitu 6 – 8 minggu (Mochtar, 2008). Akan tetapi seluruh alat genital akan
kembali dalam waktu 3 bulan (Hanifa, 2007).
Nifas Adalah masa sesudah persalinan dimulai setelah kelahiran plasenta
dan berakhirnya ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum
hamil, masa nifas berlangsung selama ± 6 minggu. (Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal, 2006)
Post portum / masa nifas dibagi dalam 3 periode (Mochtar, 2008) :
1. Puerperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri
dan berjalan-jalan.
2. Purperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang
lamanya mencapainya 6 – 8 minggu.
3. Remote puerperium yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat
sempurna terutama bila selama hamil / waktu persalinan mempunyai
komplikasi.

B. PERUBAHAN FISIOLOGIS DALAM MASA NIFAS


Masa nifas merupakan masa kembalinya organ-organ reproduksi seperti
sedia kala sebelum hakil, sehongga pada masa nifas banyak sekali perubahan-
perubahan yang terjadi, diantaranya :
1. Perubahan dalam system reproduksi
a. Perubahan dalam uterus/rahim (involusi uterus)
b. Involusi tempat plasenta
c. Pengeluaran lochea
d. Perubahan pada perineum, vulva, dan vagina.
2. Laktasi / pengeluaran Air Susu Ibu
Selama kehamilan horman estrogen dan progesterone menginduksi
perkembangan alveolus dan duktus lactiferas dari dalam mamae dan juga
merangsang kolostrum sesudah kelahiran bayi ketika kadar hormone

2
esdtrogen menurun memungkinkan terjadinya kenaikan kadar hormone
prolaktin dan produksi ASI pun dimulai.
3. Perubahan system Pencernaan
Wanita mungkin menjadi lapar dan siap makan kembali dalam 1 jam atau 2
jam setelah melahirkan. Konstipasi dapat terjadi pada masa nifas awal
dikarenakan kekurangan bahan makanan selama persalinan dan
pengendalian pada fase defekasi.
4. Perubahan system perkemihan
Pembentukan air seni oleh ginjal meningkat, namun ibu sering mengalami
kesukaran dalam buang air kecil, karena :
a. Perasaan untuk ingin BAK ibu kurang meskipun bledder penuh
b. Uretra tersumbat karena perlukaan/udema pada dindingnya akibat oleh
kepala bayi
c. Ibu tidak biasa BAK dengan berbaring
5. Penebalan Sistem Muskuloskeletal
Adanya garis-garis abdomen yang tidak akan pernah menghilang dengan
sempurna. Dinding abdomen melunak setelah melahirkan karena meregang
setelah kehamilan. Perut menggantung sering dijumpai pada multipara.
6. Perubahan Sistem Endokrin
Kadar hormone-hormon plasenta, hormone plasenta laktogen (hpl) dan
chorionia gonadotropin (HCG), turun dengan cepat dalam 2 hari, hpl sudah
tidak terdeteksi lagi. Kadar estrogen dan progesterone dalam serum turun
dengan cepat dalam 3 hari pertama masa nifas. Diantara wanita menyusui,
kadar prolaktin meningkat setelah bayi disusui.
7. Perubahan Tanda-tanda Vital
Suhu badan wanita in partu tidak lebih dari 37,20C. Setelah partus dapat
naik 0,50C dari keadaan normal, tetapi tidak melebihi 38,00C sesudah 12
jam pertama melahirkan. Bila >38,00C mungkin ada infeksi. Nadi dapat
terjadi bradikardi, bila takikardi dan badan tidak panas dicurigai ada
perdarahan berlebih/ada vitrum korelis pada perdarahan. Pada beberapa

3
kasus ditemukan hipertensi dan akan menghilang dengan sendirinya apabila
tidak ada penyakit-penyakit lain dalam kira-kira 2 bulan tanpa pengobatan.
8. Perubahan system kardiovaskuler
Sistem kardiovaskuler pulih kembali ke keadaan tidak hamil dalam tempo
2 minngu pertama masa nifas. Dalam 10 hari pertama setelah melahirkan
peningkatan factor pembekuan yang terjadi selama kehamilan masih
menetap namun diimbangi oleh peningkatan aktifitas fibrinolitik.
9. Perubahan Sistem Hematologik
Leukocytosis yang diangkat sel-sel darah putih berjumlah 15.000 selama
persalinan, selanjutnya meningkat sampai 15.000 – 30.000 tanpa menjadi
patologis jika wanita tidak mengalami persalinan yang lama/panjang.
Hb, HCT, dan eritrosit jumlahmya berubah-ubah pada awal masa nifas.
10. Perubahan Psikologis Postpartum
Banyak wanita dalam minggu pertama setelah melahirkan menunjukkan
gejala-gejala depresi ringan sampai berat.

C. TANDA DAN GEJALA


1. Perubahan Fisik
a. Sistem Reproduksi
1) Uterus
2) Involusi : Kembalinya uterus ke kondisi normal setelah hamil.
No Waktu TFU Konsistensi After pain Kontraksi
1. Segera setelah Pertengahan Lembut Terjadi Keras
lahir simpisis dan
umbilicus
2. 1 jam setelah Umbilikus Keras
lahir
3. 12 jam setelah 1 cm di atas Berkurang Berkurang
lahir pusat
4. setelah 2 hari Turun 1 cm/hari Melemah
Proses ini dipercepat oleh rangsangan pada puting susu.
3) Lochea
a) Komposisi : Jaringan endometrial, darah dan limfe.

4
b) Tahap
1. Lokhea Rubra : hari ke-1 sampai hari ke 4, berwarna merah,
berisi darah segar, jaringan sisa, lemak bayi, mekonium,
lanugo.
2. Lokhea Sanguinolenta : hari ke 4 sampai hari ke 7 post
partum, berwarna merah kecoklatan dan berlendir.
3. Lokhea Serosa : hari ke 7 samapi hari ke 14 postpartum,
berwarna kuning kecoklatan, mengandung serum, leukosit,
dan robekan laserasi plasenta.
4. Lokhea Alba : minggu ke 2 samapi dengan minggu ke 6,
berwarna kuning-putih, mengandung lekosit, sel desidua,
sel epitel, sel lendir serviks, dan sel serabut jaringan yang
mati.
Bau normal seperti menstruasi, jumlah meningkat saat berdiri.
Jumlah keluaran rata-rata 240-270 ml.
4) Siklus Menstruasi
Ibu menyusui paling awal 12 minggu rata-rata 18 minggu, untuk itu
tidak menyusui akan kembali ke siklus normal.
5) Ovulasi
Ada tidaknya tergantung tingkat proluktin. Ibu menyusui mulai
ovulasi pada bulan ke-3 atau lebih. Ibu tidak menyusui mulai pada
minggu ke-6 s/d minggu ke-8. Ovulasi mungkin tidak terlambat,
dibutuhkan salah satu jenis kontrasepsi untuk mencegah kehamilan.
6) Serviks
Segera setelah lahir terjadi edema, bentuk distensi untuk beberapa
hari, struktur internal kembali dalam 2 minggu, struktur eksternal
melebar dan tampak bercelah.
7) Vagina
Nampak berugae kembali pada 3 minggu, kembali mendekati ukuran
seperti tidak hamil, dalam 6 sampai 8 minggu, bentuk ramping lebar,
produksi mukus normal dengan ovulasi.

5
8) Perineum
a) Episiotomi : Penyembuhan dalam 2 minggu

b) Laserasi
TK I : Kulit dan strukturnya dari permukaan sampai otot
TK II : Meluas sampai dengan otot perineal
TK III : Meluas sampai dengan otot spinkter
TK IV : melibatkan dinding anterior rektal
b. Payudara
Payudara membesar karena vaskularisasi dan engorgement (bengkak
karena peningkatan prolaktin pada hari I-III). Pada payudara yang
tidak disusui, engorgement akan berkurang dalam 2-3 hari, puting
mudah erektil bila dirangsang. Pada ibu yang tidak menyusui akan
mengecil pada 1-2 hari.
c. Sistem Endokrin
1) Hormon Plasenta
HCG (-) pada minggu ke-3 post partum, progesteron plasma tidak
terdeteksi dalam 72 jam post partum normal setelah siklus
menstruasi.
2) Hormon pituitary
Prolaktin serum meningkat terjadi pada 2 minggu pertama, menurun
sampai tidak ada pada ibu tidak menyusui FSH, LH, tidak ditemukan
pada minggu I post partum.
d. Sistem Kardiovaskuler
1) Tanda-tanda vital : Tekanan darah sama saat bersalin, suhu
meningkat karena dehidrasi pada awal post partum terjadi
bradikardi.
2) Volume darah
Menurun karena kehilangan darah dan kembali normal 3-4 minggu.
Persalinan normal : 200 – 500 cc, sesaria : 600 – 800 cc.

6
3) Perubahan hematologic : Ht meningkat, leukosit meningkat,
neutrophil meningkat.
4) Jantung : Kembali ke posisi normal, COP meningkat dan normal 2-
3 minggu.
e. Sistem Respirasi
Fungsi paru kembali normal, RR : 16-24 x/menit, keseimbangan asam-
basa kembali setelah 3 minggu post partum.
f. Sistem Gastrointestinal
1) Mobilitas lambung menurun sehingga timbul konstipasi.
2) Nafsu makan kembali normal.
3) Kehilangan rata-rata berat badan 5,5 kg.
g. Sistem Urinaria
1) Edema pada kandung kemih, urethra dan meatus urinarius terjadi
karena trauma.
2) Pada fungsi ginjal: proteinuria, diuresis mulai 12 jam.
3) Fungsi kembali normal dalam 4 minggu.
h. Sistem Muskuloskeletal
Terjadi relaksasi pada otot abdomen karena terjadi tarikan saat hamil.
Diastasis rekti 2-4 cm, kembali normal 6-8 minggu post partum.
i. Sistem Integumen
Hiperpigmentasi perlahan berkurang.
j. Sistem Imun
Rhesus incompability, diberikan anti RHO imunoglobin.

2. Tanda-tanda bahaya Postpartum


a. Perdarahan vagina yang hebat atau tiba-tiba bertambah banyak
b. Pengeluaran vagina yang baunya menusuk
c. Rasa sakit di bagian bawah abdomen atau punggung
d. Sakit kepala terus-menerus, nyeri ulu hati, atau masalah penglihatan
e. Pembengkakan di wajah/tangan
f. Demam, muntah, rasa sakit waktu BAK, merasa tidak enak badan

7
g. Payudara yang berubah menjadi merah, panas, dan atau terasa sakit
h. Kehilangan nafsu makan dalam waktu yang sama
i. Rasa sakit, merah, lunak, dan pembengkakan di kaki
j. Merasa sedih, merasa tidak mampu mengasuh sendiri bayinya/diri
sendiri
k. Merasa sangat letih/nafas terengah-engah

D. Perawatan Post Partum


Perawatan post partum dimulai sejak kala uri dengan menghindarkan
adanya kemungkinan perdarahan post partum dan infeksi. Bila ada laserasi jalan
lahir atau luka episiotomi, lakukan penjahitan dan perawatan luka dengan baik.
Penolong harus tetap waspada sekurang-kurangnya 1 jam post partum, untuk
mengatasi kemungkinan terjadinya perdarahan post partum. Delapan jam post
partum harus tidur telentang untuk mencegah perdarahan post partum. Sesudah
8 jam, pasien boleh miring ke kanan atau ke kiri untuk mencegah trombhosis.
Ibu dan bayi dapat ditempatkan dalam satu kamar. Pada hari seterusnya dapat
duduk dan berjalan. Diet yang diberikan harus cukup kalori, protein, cairan serta
banyak buah-buahan. Miksi atau berkemih harus secepatnya dapat dilakukan
sendiri, bila pasien belum dapat berkemih sendiri sebaiknya dilakukan
kateterisasi. Defekasi harus ada dalam 3 hari post partum. Bila ada obstipasi dan
timbul komprestase hingga vekal tertimbun di rektum, mungkin akan terjadi
febris. Bila hal ini terjadi dapat dilakukan klisma atau diberi laksan per os. Bila
pasien mengeluh adanya mules, dapat diberi analgetika atau sedatif agar dapat
istirahat. Perawatan mamae harus sudah dirawat selama kehamilan, areola
dicuci secara teratur agar tetap bersih dan lemas, setelah bersih barulah bayi
disusui.

8
9
E. Pathways
post partum Letting go phase

Estrogen & Progesteron


menurun Kehadiran
Involusi uterus anggota baru

Oksitosin meningkat Prolaktin


meningkat cemas
Kontraksi
uterus lambat Kontraksi uterus
Isapan bayi Isapan bayi
Laserasi jalan adekuat tidak adekuat
lahir
Atonia uteri Pelepasan jaringan Perubahan
endometrium pola peran
Oksitosin Pembendungan
Servik & vagina meningkat ASI
perdarahan Vol. darah turun
Lokhea
keluar Port of the entri Duktus & alveoli Payudara
Vol. Cairan turun Anemia akut kontraksi bengkak

Kurang Resiko infeksi


Perub. Perfusi Hb O2 turun perawatan Nyeri akut
jaringan efektif Tidak efektif
Ketidakefektif
hipoksia Invasi bakteri an pemberian
ASI keluar ASI tidak ASI
keluar
Kuman
Resiko syok Daya tahan mudah masuk
hipovolemik tubuh turun

Kelemahan Intoleransi Defisit


umum aktivitas perawatan diri

10
F. PENGKAJIAN
Pemeriksaan Fisik
1. Monitor Keadaan Umum Ibu
- Jam I : tiap 15 menit, jam II tiap 30 menit
- 24 jam I : tiap 4 jam
- Setelah 24 jam : tiap 8 jam
2. Monitor Tanda-tanda Vital
3. Payudara : Produksi kolustrum 48 jam pertama.
4. Uterus : Konsistensi dan tonus, posisi tinggi dan ukuran.
5. Insisi SC : Balutan dan insisi, drainase, edema, dan perubahan warna.
6. Kandung Kemih dan Output Urine : Pola berkemih, jumlah distensi, dan
nyeri.
7. Bowel : Pergerakan usus, hemoroid dan bising usus.
8. Lochea : Tipe, jumlah, bau dan adanya gumpalan.
9. Perineum : Episiotomi, laserasi dan hemoroid, memar, hematoma, edema,
discharge dan approximation. Kemerahan menandakan infeksi.
10. Ekstremitas : Tanda Homan, periksa redness, tenderness, warna.
11. Diagnostik : Jumlah darah lengkap, urinalisis.

Perubahan Psikologis
1. Peran Ibu meliputi: Kondisi Ibu, kondisi bayi, faktor sosial-ekonomi, faktor
keluarga, usia ibu, konflik peran.
2. Baby Blues: Mulai terjadinya, adakah anxietas, marah, respon depresi dan
psikosis.
3. Perubahan Psikologis
a. Perubahan peran, sebagai orang tua.
b. Attachment yang mempengaruhi dari faktor ibu, ayah dan bayi.
c. Baby Blues merupakan gangguan perasaan yang menetap, biasanya
pada hari III dimungkinkan karena turunnya hormon estrogen dan
pergeseran yang mempengaruhi emosi ibu.

11
4. Faktor-faktor Risiko
a. Duerdistensi uterus
b. Persalinan yang lama
c. Episiotomi/laserasi
d. Ruptur membran prematur
e. Kala II persalinan
f. Plasenta tertahan
g. Breast feeding

G. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut b/d agens cedera fisik (trauma perineum, proses kelahiran,
payudara bengkak, dan involusi uterus)
2. Perfusi jaringan tidak efektif b/d penurunan vol.cairan, Perubahan
afinitas/ikatan O2 dengan Hb, Penurunan konsentrasi Hb dalam darah
3. Defisit perawatan diri b/d kelemahan fisik
4. Intoleransi aktivitas b/d Kelemahan menyeluruh
5. Resiko syok hipovolemik
6. Cemas b.d perubahan dalam status peran.
7. Resiko infeksi
8. Ketidakefektifan pemberian ASI berhubungan dengan defisit pengetahuan.

12
H. Intervensi

No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


Keperawatan

1 Nyeri akut b/d Pain Level Pain Management


agens cedera Setelah dilakukan tindakan 1. Lakukan pengkajian nyeri
fisik (trauma keperawatan selama 3x24 secara komprehensif
perineum, jam nyeri dapat teratasi termasuk lokasi,
proses dengan kriteria hasil : karakteristik, durasi,
kelahiran, - Mampu mengontrol nyeri. frekuensi, kualitas dan
payudara - Melaporkan bahwa nyeri faktor presipitasi
bengkak, dan berkurang dengan 2. Observasi reaksi nonverbal
involusi uterus) menggunakan manajemen dari ketidaknyamanan
nyeri 3. Gunakan teknik komunikasi
- Mampu mengenali nyeri terapeutik untuk mengetahui
(skala, intensitas, pengalaman nyeri pasien
frekuensi dan tanda nyeri) 4. Kaji kultur yang
- Menyatakan rasa nyaman mempengaruhi respon nyeri
setelah nyeri berkurang 5. Evaluasi pengalaman nyeri
- Tanda vital dalam rentang masa lampau
normal 6. Evaluasi bersama pasien dan
tim kesehatan lain tentang
ketidakefektifan kontrol
nyeri masa lampau
7. Bantu pasien dan keluarga
untuk mencari dan
menemukan dukungan
8. Kontrol lingkungan yang
dapat mempengaruhi nyeri
seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan kebisingan

13
9. Kurangi faktor presipitasi
nyeri
10. Pilih dan lakukan
penanganan nyeri
(farmakologi, non
farmakologi dan inter
personal)
11. Kaji tipe dan sumber nyeri
untuk menentukan
intervensi
12. Ajarkan tentang teknik non
farmakologi
13. Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri
14. Evaluasi keefektifan kontrol
nyeri
15. Tingkatkan istirahat
16. Kolaborasikan dengan
dokter jika ada keluhan dan
tindakan nyeri tidak berhasil
17. Monitor penerimaan pasien
tentang manajemen nyeri

Analgesic Administration
1. Tentukan lokasi,
karakteristik, kualitas, dan
derajat nyeri sebelum
pemberian obat

14
2. Cek instruksi dokter tentang
jenis obat, dosis, dan
frekuensi
3. Cek riwayat alergi
4. Pilih analgesik yang
diperlukan atau kombinasi
dari analgesik ketika
pemberian lebih dari satu
5. Tentukan pilihan analgesik
tergantung tipe dan beratnya
nyeri
6. Tentukan analgesik pilihan,
rute pemberian, dan dosis
optimal
7. Pilih rute pemberian secara
IV, IM untuk pengobatan
nyeri secara teratur
8. Monitor vital sign sebelum
dan sesudah pemberian
analgesik pertama kali
9. Berikan analgesik tepat
waktu terutama saat nyeri
hebat
10. Evaluasi efektivitas
analgesik, tanda dan gejala
(efek samping)

15
2 Perfusi jaringan Circulation status Peripheral Sensation
tidak efektif b/d Setelah dilakukan asuhan Management (Manajemen
penurunan keperawatann kepada pasien sensasi perifer)
vol.cairan, selama 3 x 24 jam, 1. Monitor adanya daerah
Perubahan diharapkan perfusi jaringan tertentu yang hanya peka
afinitas/ikatan baik dengan kriteria hasil terhadap
O2 dengan Hb, sebagai berikut: panas/dingin/tajam/tumpul
Penurunan 1. Mendemonstrasikan 2. Monitor adanya paretese
konsentrasi Hb status sirkulasi yang 3. Instruksikan keluarga untuk
dalam darah. ditandai dengan : mengobservasi kulit jika ada
- Tekanan systole lsi atau laserasi
dandiastole dalam 4. Gunakan sarun tangan untuk
rentang yang proteksi
diharapkan 5. Batasi gerakan pada kepala,
- Tidak ada leher dan punggung
ortostatikhipertensi 6. Monitor kemampuan BAB
- Tidk ada tanda 7. Kolaborasi pemberian
tanda peningkatan analgetik
tekanan 8. Monitor adanya
intrakranial (tidak tromboplebitis
lebih dari 15 9. Diskusikan menganai
mmHg) penyebab perubahan sensasi
2. Mendemonstrasikan
kemampuan kognitif
yang ditandai dengan:
- berkomunikasi
dengan jelas dan
sesuai dengan
kemampuan

16
- menunjukkan
perhatian,
konsentrasi dan
orientasi
- memproses
informasi
- membuat keputusan
dengan benar
3. Menunjukkan fungsi
sensori motori cranial
yang utuh : tingkat
kesadaran mambaik,
tidak ada gerakan
gerakan involunter

3 Defisit Self care : Activity of Daily Self Care assistane : ADLs


perawatan diri Living (ADLs) 1. Monitor kemampuan klien
b/d kelemahan Setelah dilakukan asuhan untuk perawatan diri yang
fisik keperawatann kepada pasien mandiri.
selama 3 x 24 jam, 2. Monitor kebutuhan klien
diharapkan klien dapat untuk alat-alat bantu untuk
melakukan ADLs dengan kebersihan diri, berpakaian,
kriteria hasil sebagai berikut: berhias, toileting dan makan.
3. Sediakan bantuan sampai
- Klien terbebas dari bau klien mampu secara utuh
badan untuk melakukan self-care.
- Menyatakan 4. Dorong klien untuk
kenyamanan terhadap melakukan aktivitas sehari-
kemampuan untuk hari yang normal sesuai
melakukan ADLs kemampuan yang dimiliki.

17
- Dapat melakukan ADLS 5. Dorong untuk melakukan
dengan bantuan secara mandiri, tapi beri
bantuan ketika klien tidak
mampu melakukannya.
6. Ajarkan klien/ keluarga
untuk mendorong
kemandirian, untuk
memberikan bantuan hanya
jika pasien tidak mampu
untuk melakukannya.
7. Berikan aktivitas rutin
sehari- hari sesuai
kemampuan.
8. Pertimbangkan usia klien
jika mendorong pelaksanaan
aktivitas sehari-hari.

4 Intoleransi Energy conservation Activity Therapy


aktivitas b/d Setelah dilakukan asuhan 1. Kolaborasikan dengan
Kelemahan keperawatann kepada pasien Tenaga Rehabilitasi Medik
menyeluruh selama 3 x 24 jam, dalammerencanakan progran
diharapkan klien dapat terapi yang tepat.
toleran terhadap aktifitas 2. Bantu klien untuk
dengan kriteria hasil sebagai mengidentifikasi aktivitas
berikut: yang mampu dilakukan
- Berpartisipasi dalam 3. Bantu untuk memilih
aktivitas fisik tanpa aktivitas konsisten yangsesuai
disertai peningkatan dengan kemampuan fisik,
psikologi dan social

18
tekanan darah, nadi dan 4. Bantu untuk mengidentifikasi
RR dan mendapatkan sumber
- Mampu melakukan yang diperlukan untuk
aktivitas sehari hari aktivitas yang diinginkan
(ADLs) secara mandiri 5. Bantu untuk mendpatkan alat
bantuan aktivitas seperti kursi
roda, krek
6. Bantu untu mengidentifikasi
aktivitas yang disukai
7. Bantu klien untuk membuat
jadwal latihan diwaktu luang
8. Bantu pasien/keluarga untuk
mengidentifikasi kekurangan
dalam beraktivitas
9. Sediakan penguatan positif
bagi yang aktif beraktivitas
10. Bantu pasien untuk
mengembangkan motivasi
diri dan penguatan
11. Monitor respon fisik,
emoi, social dan spiritual

Energy Management
12. Observasi adanya
pembatasan klien dalam
melakukan aktivitas
13. Dorong anal untuk
mengungkapkan perasaan
terhadap keterbatasan
14. Kaji adanya factor yang
menyebabkan kelelahan

19
15. Monitor nutrisi dan
sumber energi tangadekuat
16. Monitor pasien akan
adanya kelelahan fisik dan
emosi secara berlebihan
17. Monitor respon
kardivaskuler terhadap
aktivitas
18. Monitor pola tidur dan
lamanya tidur/istirahat pasien

5 PK : Syok Tujuan : setelah dilakukan 1. Pantau adanya tanda dan


hipovolemik b.d tindakan keperawatan gejala syok hipovolemik
hipoksia diharapkan dapat 2. Berikan cairan melalui IV
meminimalkan terjadinya line dua jalur
syok hipovolemik 3. Kompres dingin
4. Pantau TTV
5. Pantau suhu

6 Cemas b.d Anxiety control Anxiety Reduction (penurunan


perubahan dalam Setelah dilakukan asuhan kecemasan)
status peran. keperawatann kepada pasien 1. Gunakan pendekatan yang
selama 3 x 24 jam, klien menenangkan
dapat mengontrol cemas 2. Nyatakan dengan jelas
dengan kriteria hasil sebagai harapan terhadap pelaku
berikut: pasien
- Klien mampu 3. Jelaskan semua prosedur dan
mengidentifikasi dan apa yang dirasakan selama
mengungkapkan gejala prosedur
cemas

20
- Mengidentifikasi, 4. Pahami prespektif pasien
mengungkapkan dan terhdap situasi stres
menunjukkan tehnik 5. Temani pasien untuk
untuk mengontol cemas memberikan keamanan dan
- Vital sign dalam batas mengurangi takut
normal 6. Berikan informasi faktual
- Postur tubuh, ekspresi mengenai diagnosis, tindakan
wajah, bahasa tubuh dan prognosis
tingkat aktivitas 7. Dorong keluarga untuk
menunjukkan menemani anak
berkurangnya kecemasan 8. Lakukan back / neck rub
9. Dengarkan dengan penuh
perhatian
10. Identifikasi tingkat
kecemasan
11. Bantu pasien mengenal
situasi yang menimbulkan
kecemasan
12. Dorong pasien untuk
mengungkapkan perasaan,
ketakutan, persepsi
13. Instruksikan pasien
menggunakan teknik relaksasi
14. Barikan obat untuk
mengurangi kecemasan

7 Resiko infeksi Risk control Infection Control (Kontrol


Setelah dilakukan asuhan infeksi)
keperawatann kepada pasien

21
selama 3 x 24 jam 1. Bersihkan lingkungan
diharapkan tidak terjadi setelah dipakai pasien lain
infeksi dengan kriteria hasil 2. Pertahankan teknik isolasi
sebagai berikut: 3. Batasi pengunjung bila perlu
- Klien bebas dari tanda dan 4. Instruksikan pada
gejala infeksi pengunjung untuk mencuci
- Mendeskripsikan proses tangan saat berkunjung dan
penularan penyakit, factor setelah berkunjung
yang mempengaruhi meninggalkan pasien
penularan serta 5. Gunakan sabun antimikrobia
penatalaksanaannya, untuk cuci tangan
- Menunjukkan 6. Cuci tangan setiap sebelum
kemampuan untuk dan sesudah tindakan
mencegah timbulnya kperawtan
infeksi 7. Gunakan baju, sarung tangan
- Jumlah leukosit dalam sebagai alat pelindung
batas normal 8. Pertahankan lingkungan
- Menunjukkan perilaku aseptik selama pemasangan
hidup sehat alat
9. Ganti letak IV perifer dan
line central dan dressing
sesuai dengan petunjuk
umum
10. Gunakan kateter intermiten
untuk menurunkan infeksi
kandung kencing
11. Tingktkan intake nutrisi
12. Berikan terapi antibiotik bila
perlu

22
Infection Protection (proteksi
terhadap infeksi)
1. Monitor tanda dan gejala
infeksi sistemik dan lokal
2. Monitor hitung granulosit,
WBC
3. Monitor kerentanan terhadap
infeksi
4. Batasi pengunjung
5. Saring pengunjung terhadap
penyakit menular
6. Partahankan teknik aspesis
pada pasien yang beresiko
7. Pertahankan teknik isolasi
k/p
8. Berikan perawatan kuliat
pada area epidema
9. Inspeksi kulit dan membran
mukosa terhadap kemerahan,
panas, drainase
10. Ispeksi kondisi luka / insisi
bedah
11. Dorong masukkan nutrisi
yang cukup
12. Dorong masukan cairan
13. Dorong istirahat
14. Instruksikan pasien untuk
minum antibiotik sesuai
resep
15. Ajarkan pasien dan keluarga
tanda dan gejala infeksi

23
16. Ajarkan cara menghindari
infeksi
17. Laporkan kecurigaan infeksi
18. Laporkan kultur positif

8 Ketidakefektifan Knowledge : breastfeeding Breastfeeding Assistance


pemberian asi Setelah dilakukan asuhan 1. Fasilitasi kontak ibu dengan
berhubungan keperawatann kepada pasien bayi sawal mungkin (maksimal
dengan defisit selama 3 x 24 jam 2 jam setelah lahir)
pengetahuan diharapkan pemberian asi 2. Monitor kemampuan bayi
efektif dengan kriteria hasil untuk menghisap
sebagai berikut: 3. Dorong orang tua untuk
- Klien dapat menyusui meminta perawat untuk
dengan efektif menemani saat menyusui
- Memverbalisasikan sebanyak 8-10 kali/hari
tehnik untk mengatasi 4. Sediakan kenyamanan dan
masalah menyusui privasi selama menyusui
- Bayi menandakan 5. Monitor kemampuan bayi
kepuasan menyusu untuk menggapai putting
- Ibu menunjukkan harga 6. Dorong ibu untuk tidak
diri yang positif dengan membatasi bayi menyusu
menyusui 7. Monitor integritas kulit sekitar
putting
8. Instruksikan perawatan putting
untukmencegah lecet
9. Diskusikan penggunaan pompa
ASI kalau bayi tidakmampu
menyusu
10. Monitor peningkatan
pengisian ASI

24
11. Jelaskan penggunaan susu
formula hanya jika diperlukan
12. Instruksikan ibu untuk
makan makanan bergizi selama
menyusui
13. Dorong ibu untuk minum
jika sudah merasa haus
14. Dorong ibu untuk
menghindari penggunaan
rokok danPil KB selama
menyusui
15. Anjurkan ibu untuk
memakai Bra yang nyaman,
terbuat dari cootn dan
menyokong payudara
16. Dorong ibu
untukmelanjutkan laktasi
setelah pulang bekerja/sekolah

Lactation Conseling
1. Tentukan pengetahuan dasar
tentang menyusui
2. Edukasi orang tua tentang
pemberian makan pada bayi
untuk mengambil keputusan
3. Sediakan informasi tentang
keuntungan dan kerugian
menyusui
4. Koreksi kesalahpahaman,
misinformasi, dan

25
ketidaktepatan tentang
menyusui
5. Evaluasi pengertian ibu
tentang tanda-tanda bayi ingin
menyusu (contoh: rooting,
menghisap, dan terjaga)
6. Tentukan frekuensi menyusu
berhubungan dengan
kebutuhan bayi
7. Monitor ketrampilan ibu dalam
mengunci bayi pada putting
8. Evaluasi pola menghisap dan
mengecap bayi
9. Demonstrasikan pelatihan
menghisap, sesuai keperluan
10. Instruksikan teknik-
teknik relaksasi, termasuk
masase payudara
11. Anjurkan cara
peningkatan istirahat, termasuk
pengalihan tugas-tugas rumah
tangga dan cara meminta
bantuan
12. Instruksikan tetap
mencatat lama dan frekuensi
sesi perawatan
13. Instruksikan ibu tentang
pertumbuhan bayi untuk
mengidentifikasi pola
menyusui yang normal pada
bayi

26
14. Evaluasi keadequatan
pengosongan payudara dengan
menyusui
15. Evalusi kualitas dan
penggunaan bantuan dalam
menyusui
16. Anjurkan ibu untuk
menyusui dengan dua
payudara setiap kali menyusui
17. Demonstrasikan masase
payudara dan diskusikan
keuntungannya untuk
meningkatkan suplay air susu
18. Instruksikan orang tua
bagaimana membedakan
antara ketidakcukupan suplay
susu yang dirasa dan yang
aktual
19. Anjurkan untuk pompa
payudara jika suplay susu
rendah
20. Monitor integritas kulit
putting
21. Rekomendasikan
perawatan putting
22. Monitor kemampuan
untuk mengatasi masalah
payudara buntu dengan tepat
23. Evaluasi pengertian
tentang saluran susu tersumbat
dan mastitis

27
24. Instruksikan jika
menemui gejala
masalah untuk melaporkan
kepada praktisi petugas
kesehatan
25. Tunjukkan alat-alat yang
tersedia untuk membantu
menyusui yang diikuti bedah
payudara, seperti pompa
payudara, bungkusan
penghangat, dan perlengkapan
perawatan
26. Instruksikan bagaimana
menyusui kembali, sesuai
keperluan
27. Anjurkan melanjutkan
menyusui setelah kembali
bekerja atau sekolah
28. Diskusikan tanda-tanda
kesiapan untuk menyapih
29. Instruksikan ibu untuk
berkonsultasi dengan praktisi
kesehatan sebelum menjalani
pengobatan selama menyusui,
diresepkan atau tidak
30. Anjurkan ibu untuk
menghindari pil kontrasepsi
saat menyusui
31. Diskusikan metode
alternative kontrasepsi

28
32. Anjurkan ibu untuk
menghindari rokok sat
menyusui

Teaching: Individu
1. Bangun kredibilitas pengajar,
sesuai keperluan
2. Tentukan kebutuhan
pembelajaran pasien
3. Nilai tingkat umum
pengetahuan dan pengertian
pasien
4. Nilai tingkat pendidikan pasien
5. Nilai kemampuan/
ketidakmampuan kognitif,
psikomotor, dan afektif pasien
6. Tentukan kemampuan pasien
untuk belajar informasi khusus
( contoh : tingkat
perkembangan, status fisiologi,
orientasi, nyeri, lelah,
ketidakpenuhan kebutuhan
dasar, status emosional, dan
adaptasi terhadap penyakit)
7. Tentukan motivasi pasien
untuk belajar informasi khusus
(contoh : keyakinan kesehatan,
kegagalan dalam memenuhi
suatu kebutuhan di masa
lampau, pengalaman buruk
dengan perawatan kesehatan/

29
pembelajaran, tujuan yang
berlawanan)
8. Tingkatkan kesiapan pasien
untuk belajar, sesuai keperluan
9. Susun tujuan pembelajaran
yang realistik, saling
menguntungkan dengan pasien
10. Identifikasi sasaran
pembelajaran yang perlu untuk
meraih tujuan
11. Tentukan urutan
penyajian informasi
12. Nilai gaya pembelajaran
pasien
13. Pilih metode/ strategi
pengajaran yang sesuai
14. Pilih materi pendidikan
yang sesuai
15. Sesuaikan isi dengan
kemampuan dan
ketidakmampuan kognitif,
psikomotor, dan afektif pasien
16. Sesuaikan instruksi untuk
memfasilitasi pembelajaran
17. Sediakan lingkungan
yang kondusif untuk
pembelajaran
18. Instruksikan pasien, saat
diperlukan
19. Evaluasi pencapaian
sasaran yang dinyatakan pasien

30
20. Sediakan waktu bagi
pasien untuk bertanya dan
diskusi dengan penuh
perhatian
21. Dokumentasikan isi yang
ada, materi tertulis, dan
pengertian pasien tentang
informasi atau perilaku pasien
yang mengindikasikan
pembelajaran pada catatan
medik tetap
22. Libatkan keluarga/ orang
berarti, sesuai keperluan

31
DAFTAR PUSTAKA

Badan Penerbit Universitas Diponegoro. 2006. Pelatihan Gawat Darurat Prenatal.


Semarang : CV. Grafika Karya.
Carpenito, L. J. 2007. Hand Book of Nursing Diagnosis. Edisi VI. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran, EGC.
DEPKES RI Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Jakarta. 2005. Pencegahan dan
Penanganan Perdarahan Pasca Persalinan. Jakarta : DEPKES RI
Docterman dan Bullechek. Nursing Invention Classifications (NIC). 2012.
Edition 6. United States Of America: Mosby Elseveir Acadamic Press.

Ida Maharani. 2011. Asuhan Keperawatan pada Ibu dan Anak, Jakarta : EGC
NANDA, 2015, Nursing Diagnosis: Definitions and classification, Philadelphia,
USA.
Maas, Morhead, Jhonson dan Swanson. 2012. Nursing Out Comes (NOC), United
States Of America: Mosby Elseveir Acadamic Press.
Mochtar, 2008. Perawatan Persalinan Ibu. Jakarta:Medika pustaka
Wiknjosastro, Hanifah. 2007. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawiharjo. Jakarta: PT
Bina Pustaka.

32