Anda di halaman 1dari 34

PUL

ETIKA DAN HUKUM KESEHATAN


“HUKUM KESEHATAN”
Dosen Pengampuh : Dr. Zainudin SKM., M.Kes

Disusun Oleh :

Wildania (17 3145 261 044)


Sri Indayani (17 3145 261 032)
Asmawati Ahmad (17 3145 261 034)
Nur Sinta Rahmadani (17 3145 261 030)
Matius Sedan Pasiga (17 3145 261 015)
Sumardi (17 3145 261 019)

PRODI S1 ADMINISTRASI RUMAH SAKIT

UNIVERSITAS MEGA REZKY MAKASSAR 2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
segala rahmatnya sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai.
Tidak lupa kami ucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari pihak
yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi
maupun pikirannya.

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan


dan pengalaman bagi para pembaca, untuk kedepannya dapat memperbaiki
bentuk maupun menambah isi makalah ini agar menjadi lebih baik lagi.

Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan karena keterbasan


pengetahuan maupun pengalaman kami. Oleh karena itu kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca
agar kedepannya kami dapat menyusun makalah yang lebih baik lagi.

Makassar , 24 Maret 2019

Kelompok 2

ii
DAFTAR ISI

SAMPUL ................................................................................................................. i
KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 5
A. LATAR BELAKANG ................................................................................. 5
B. RUMUSAN MASALAH ............................................................................. 7
C. TUJUAN ...................................................................................................... 8
BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................... 9
A. RUANG LINGKUP HUKUM KESEHATAN .......................................... 19
B. PENGERTIAN HUKUM KESEHATAN ................................................... 9
C. UNDANG-UNDANG (UU) NOMOR 36 TAHUN 2014 TENTANG
TENAGA KESEHATAN TERBARU .............................................................. 17
D. POSISI HUKUM KESEHATAN DALAM HUKUM ............................... 23
E. ETIKA PROFESI ........................................ Error! Bookmark not defined.
F. KODE ETIK PROFESI .............................. Error! Bookmark not defined.
G. PERANAN ETIKA DALAM PROFESI .... Error! Bookmark not defined.
H. PRINSIP-PRINSIP ETIKA PROFESI........ Error! Bookmark not defined.
I. HUBUNGAN HUKUM ANTARA DOKTER DENGAN PASIEN ......... 25
J. HAK DAN KEWAJIBAN PASIEN DALAM TRANSAKSI
TERAUPEUTIK ............................................................................................... 27
K. HAK DAN KEWAJIBAN DOKTER DALAM MEMBERIKAN
PELAYANAN KESEHATAN ......................................................................... 29
BAB III PENUTUP ............................................................................................. 33
A. KESIMPULAN .......................................................................................... 33
B. SARAN ...................................................................................................... 33
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 34

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD


1945) mengakui dan melindungi kesehatan sebagai hak asasi setiap manusia.
Pada pasal 28H dan pasal 34 ayat (3) UUD 1945, kesehatan menjadi hak
konstitusional setiap warga negara dan menjadi tanggung jawab bagi
pemerintah untuk menyediakan pelayanan kesehatan. Pembangunan kesehatan
sebagai upaya negara untuk memberikan pelayanan kesehatan yang didukung
oleh sumber daya kesehatan, baik dari tenaga kesehatan maupn tenaga non-
kesehatan. Dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
menyatakan bahwa kesehatan merupakan keadaan sejahtera mulai dari badan,
jiwa, serta sosial yang membuat setiap orang untuk hidup produktif secara
sosial dan ekonomis. Dengan demikian, kesehatan selain menjadi hak asasi
manusia, kesehatan juga merupakan suatu investasi.

Kesehatan merupakan hak asasi manusia, selain itu kesehatan juga salah
satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita
bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam Pancasila dan Pembukaan
UUD 1945. Oleh sebab itu, setiap kegiatan dan upaya untuk meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya harus dilaksanakan
berdasarkan prinsip nondiskriminatif, partisipatif, perlindungan dan
berkelanjutan yang sangat penting artinya bagi pembentukan sumber daya
manusia Indonesia, peningkatan ketahanan dan daya saing bangsa, serta
pembangunan nasional.

Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan pemerintah


memiliki tanggung jawab dalam merencanakan, mengatur, menyelenggarakan,

5
membina, serta mengawasi penyelenggaraan upaya kesehatan yang merata dan
terjangkau oleh masyarakat.

Dalam era reformasi saat ini, hukum memegang peran penting dalam
berbagai segi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Untuk mewujudkan
derajat kesehatan yang optimal bagi setiap orang, yang merupakan bagian
integral dari kesejahteraan, diperlukan dukungan hukum bagi penyelenggaraan
berbagai kegiatan di bidang kesehatan. Perubahan konsep pemikiran
penyelenggaraan pembangunan kesehatan tidak dapat dielakkan. Pada
awalnya pembangunan kesehatan bertumpu pada upaya pengobatan penyakit
dan pemulihan kesehatan, bergeser pada penyelenggaraan upaya kesehatan
yang menyeluruh dengan penekanan pada upaya pencegahan penyakit dan
peningkatan kesehatan. Paradigma ini dikenal dalam kalangan kesehatan
sebagai paradigma sehat. Sebagai konsekuensi logis dari diterimanya
paradigma sehat maka segala kegiatan apapun harus berorientasi pada
wawasan kesehatan, tetap dilakukannya pemeliharaan dan peningkatan
kualitas individu, keluarga dan masyarakat serta lingkungan dan secara terus
menerus memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu,
merata, dan terjangkau serta mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup
sehat. Secara ringkas untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi
setiap orang maka harus secara terus menerus dilakukan perhatian yang
sungguh-sungguh bagi penyelenggaraan pembangunan nasional yang
berwawasan kesehatan, adanya jaminan atas pemeliharaan kesehatan,
ditingkatkannya profesionalisme dan dilakukannya desentralisasi bidang
kesehatan. Kegiatan-kegiatan tersebut sudah barang tentu memerlukan
perangkat hukum kesehatan yang memadai. Perangkat hukum kesehatan yang
memadai dimaksudkan agar adanya kepastian hukum dan perlindungan yang
menyeluruh baik bagi penyelenggara upaya kesehatan maupun masyarakat
penerima pelayanan kesehatan. Pertanyaan yang muncul adalah siapa saja
tenaga kesehatan itu dan keterkaitannya dengan sumpah atau kode etik tenaga
kesehatan dokter dan bidan, Dan apakah yang dimaksud dengan hukum

6
kesehatan, apa yang menjadi landasan hukum kesehatan, materi muatan
peraturan perundang-undangan bidang kesehatan, dan hukum kesehatan di
masa mendatang. Diharapkan jawaban atas pertanyaan tersebut dapat
memberikan sumbangan pemikiran, baik secara teoritikal maupun praktikal
terhadap keberadaan hukum kesehatan. Untuk itu dilakukan kajian normatif,
kajian yang mengacu pada hukum sebagai norma dengan pembatasan pada
masalah kesehatan secara umum melalui tradisi keilmuan hukum. Dalam
hubungan ini hukum kesehatan yang dikaji dibagi dalam 3 (tiga) kelompok
sesuai dengan tiga lapisan ilmu hukum yaitu dogmatik hukum, teori hukum,
dan filsafat hukum. Selanjutnya untuk memecahkan isu hukum, pertanyaan
hukum yang timbul maka digunakan pendekatan konseptual, statuta, historis,
dogmatik, dan komparatif. Namun adanya keterbatasan waktu maka kajian ini
dibatasi hanya melihat peraturan perundang-undangan bidang kesehatan.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian hukum kesehatan, landasan hukum kesehatan, dan siapa
saja tenaga kesehatan, dan etika profesi serta kode etik kesehatan?
2. Bagaimana sejarah hukum kesehatan?
3. Apa saja kelompok-kelompok dalam hukum kesehatan?
4. Bagaimana ruang lingkup dalam hukum kesehatan?
5. Apa saja fungsi dan tujuan dari hukum kesehatan?
6. Apa saja asas-asas hukum kesehatan?
7. Apa hak dan kewajiban hukum kesehatan?
8. Bagaimana posisi hukum kesehatan dalam hukum?
9. Bagaimana peranan etika dalam profesi dan prinsip-prinsip etika profesi?
10. Bagaimana hubungan hukum antara dokter dengan pasien?
11. Apa hak dan kewajiban pasien dalam transaksi teraupeutik?
12. Apa hak dan kewajiban dokter dalam memberikan pelayanan kesehatan?

7
C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan hukum kesehatan, landasan
hukum kesehatan, dan siapa saja tenaga kesehatan, dan etika profesi serta
kode etik kesehatan
2. Untuk mengetahui sejarah hukum kesehatan
3. Untuk mengetahui kelompok-kelompok dalam hukum kesehatan
4. Untuk mengetahui ruang lingkup hukum kesehatan
5. Untuk mengetahui fungsi dan tujuan dari hukum kesehtan
6. Untuk mengetahui asas-asas hukum kesehatan
7. Untuk mengetahui hak dan kewajiban hukum kesehatan
8. Untuk mengetahui posisi hukum dalam hukum kesehatan
9. Untuk mengetahui peranan etika dalam profesi dan prinsip-prinsip etika
profesi
10. Untuk mengetahui Untuk mengetahui apa hubungan hukum antara dokter
dengan pasien.
11. Untuk mengetahui apa hak dan kewajiban pasien dalam transaksi
teraupeutik.
12. Untuk mengetahui apa hak dan kewajiban dokter dalam memberikan
pelayanan kesehatan.

8
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN HUKUM KESEHATAN, LANDASAN HUKUM


KESEHATAN, DAN SIAPA SAJA TENAGA KESEHATAN, DAN
ETIKA PROFESI SERTA KODE ETIK KESEHATAN

1. Pengertian Hukum Kesehatan

Istilah hukum kesehatan (medical law) dalam negara yang menganut


sistim hukum eropa kontinental (anglo saxon) seperti, belanda , perancis
berbeda dengan health law bagi negara yang menganut sistim hukum common
law system (amerika serikat, inggris) yang dikarenakan bahwa helath law
merupakan istilah ruang lingkupanya lebih luas dibanding dengan medical law
karena sebagian orang yang menyatakan bahwa medical law adalah bagian
dari health law.
Hukum kesehatan adalah semua ketentuan-ketentuan atau peraturan
perundang-undangan di bidang kesehatan yang mengatur hak individu,
kelompok atau masyarakat sebagai penerima pelayanan kesehatan pada satu
pihak, hak dan kewajiban tenaga kesehatan dan sarana kesehatan sebagai
penyelenggara pelayanan kesehatan di pihak lain yang mengikat masing-
masing pihak dalam sebuah perjanjian terapeutik dan ketentuan-ketentuan
atau peraturan-peraturan perundang-undangan di bidang kesehatan lainnya
yang berlaku secara lokal, regional, nasional, dan internasional.
Menurut prof. Van der mijn yang mengatakan bahwa hukum kesehatan
adalah merupakan sekumpulan peraturan yang berkaitan dengan pemberian
perawatan dan juga penerapanya kepada hukum perdata, hukum pidana,
dan hukum administrasi negara.Sedangkan hukum medis (medical law) yaitu
hukum yuridis dimana dokter menjadi salah satu pihak dan bagian dari hukum
kesehatan.
Sedangkan menurut prof. H.J.J.Leneen mengatakan bahwa hukum
kesehatan adalah semua peraturan-peraturan hukum yang berhubungan

9
langsung dengan pemberian pelayanan kesehatan dan penerapanya kepada
hukum perdata, hukum pidana, dan hukum administarsi Negara.
Dari dua pengertian para ahli yang di kemukakan diatas maka hukum
kesehatan itu mencakup ruang lingkup yang lebih luas dari pada medical law.
Pada medical law berkaitan dengan segi penyembuhanyan saja, sedangkan
dalam hukum kesehatan ( health law ) meliputi tidak hanya dalm segi
penyembuhan akan tetapi juga meliputi sampai ke pemulihan pasien.
Secara ringkas kesehatan adalah :
a. Kumpulan peraturan yang mengatur tentang hal-hal yang berkaitan
dengan kesehatan
b. Seperangkat kaidah yang mengatur seluruh aspek yang berkaitan
dengan upaya dan pemeliharaan di bidang kesehatan.
c. Rangkaian peraturan perundang-undangan dalam bidang kesehatan
yang mengatur pelayanan medik dan sarana medik.
Dalam undang-undang Republik Indonesia nomor 36 Tahun 2009
Tentang Kesehatan yang di maksud dengan Upaya kesehatan adalah setiap
kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu,
terintregasi dan berkesinambungan untuk memelihara dan meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit.

2. Landasan hukum kesehatan

Hermien Hadiati Koeswadji menyatakan pada asasnya hukum kesehatan


bertumpu pada hak atas pemeliharaan kesehatan sebagai hak dasar social (the
right to health care) yang ditopang oleh 2 (dua) hak dasar individual yang
terdiri dari hak atas informasi (the right to information) dan hak untuk
menentukan nasib sendiri (the right of self determination). Sejalan dengan hal
tersebut Roscam Abing mentautkan hukum kesehatan dengan hak untuk sehat
dengan menyatakan bahwa hak atas pemeliharaan kesehatan mencakup
berbagai aspek yang merefleksikan pemberian perlindungan dan pemberian
fasilitas dalam pelaksanaannya. Untuk merealisasikan hak atas pemeliharaan
bisa juga mengandung pelaksanaan hak untuk hidup, hak atas privasi, dan hak

10
untuk memperoleh informasi. Demikian juga Leenen secara khusus,
menguraikan secara rinci tentang segala hak dasar manusia yang merupakan
dasar bagi hukum kesehatan.

3. Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam
bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau ketermpilan melalui
pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan
kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan, baik berupa pendidikan gelar-
D3, S1, S2 dan S3: pendidikan non gelar; sampai dengan pelatihan khusus
kejuruan khusus seperti Juru Imunisasi, Malaria, dsb., dan keahlian. Hal inilah
yang membedakan jenis tenaga ini dengan tenaga lainnya. Hanya mereka yang
mempunyai pendidikan atau keahlian khususlah yang boleh melakukan
pekerjaan tertentu yang berhubungan dengan jiwa dan fisik manusia, serta
lingkungannya.
Jenis tenaga kesehatan terdiri dari :

a. Perawat,

b. Perawat Gigi,

c. Bidan,

d. Fisioterapis,

e. Refraksionis Optisien,

f. Radiographer,

g. Apoteker,

h. Asisten Apoteker,

i. Analis Farmasi,

11
j. Dokter Umum,

k. Dokter Gigi,

l. Dokter Spesialis,

m. Dokter Gigi Spesialis,

n. Akupunkturis,

o. Terapis Wicara dan,

p. Okupasi Terapis.

4. Etika Profesi Dan Kode Etik Profesi

a. Etika Profesi merupakan bidang etika khusus atau terapan yang


merupakan produk dari etika sosial. Poin-poin penting dalam etika
profesi:

1) Etika profesi merupakan nilai benar-salah dan baik-buruk yang terkait


dengan pekerjaan profesional.
2) Nilai-nilai tersebut terkait dengan prinsip-prinsip profesionalisme
(kapabilitas teknis, kualitas kerja, komitmen pada profesi).
3) Dapat dirumuskan ke dalam kode etik profesional yang berlaku secara
universal

Kata hati atau niat biasa juga disebut karsa atau kehendak, kemauan. dan
isi dari karsa inilah yang akan direalisasikan oleh perbuatan. Dalam hal
merealisasikan ini ada 4 (empat) variabel yang terjadi:

1) Tujuannya baik, tetapi cara untuk mencapainya yang tidak baik.


2) Tujuannya yang tidak baik, cara mencapainya ; kelihatannya baik.

12
3) Tujuannya tidak baik, dan cara mencapainya juga tidak baik.
4) Tujuannya baik, dan cara mencapainya juga terlihat baik.

b. Kode Etik Profesi ialah tanda-tanda atau simbol-simbol yang berupa kata-
kata, tulisan atau benda yang disepakati untuk maksud-maksud tertentu,
misalnya untuk menjamin suatu berita, keputusan atau suatu kesepakatan
suatu organisasi. Kode juga dapat berarti kumpulan peraturan yang
sistematis. Kode etik ; yaitu norma atau azas yang diterima oleh suatu
kelompok tertentu sebagai landasan tingkah laku sehari-hari di masyarakat
maupun di tempat kerja.

Kode etik profesi adalah pedoman sikap, tingkah laku dan


perbuatan dalam melaksanakan tugas dan dalam kehidupan sehari-hari.
Kode etik profesi sebetulnya tidak merupakan hal yang baru. Sudah lama
diusahakan untuk mengatur tingkah laku moral suatu kelompok khusus
dalam masyarakat melalui ketentuan-ketentuan tertulis yang diharapkan
akan dipegang teguh oleh seluruh kelompok itu. Salah satu contoh yang
tertua adalah; SUMPAH HIPOKRATES, yang dipandang sebagai kode
etik pertama untuk profesi dokter. Hipokrates adalah doktren Yunani kuno
yang digelari : BAPAK ILMU KEDOKTERAN. Beliau hidup dalam abad
ke-5 SM. Menurut ahliahli sejarah belum tentu sumpah ini merupakan
buah pena Hipokrates sendiri, tetapi setidaknya berasal dari kalangan
murid-muridnya dan meneruskan semangat profesional yang diwariskan
oleh dokter Yunani ini. walaupun mempunyai riwayat eksistensi yang
sudah-sudah panjang, namun belum pernah dalam sejarah kode etik
menjadi fenomena yang begitu banyak dipraktekkan dan tersebar begitu
luas seperti sekarang ini. Jika sungguh benar zaman kita di warnai suasana
etis yang khusus, salah satu buktinya adalah peranan dan dampak kode-
kode etik ini. Profesi adalah suatu MORAL COMMUNITY
(MASYARAKAT MORAL) yang memiliki cita-cita dan nilai-nilai
bersama. Kode etik profesi dapat menjadi penyeimbang segi-segi negative
dari suatu profesi, sehingga kode etik ibarat kompas yang menunjukkan

13
arah moral bagi suatu profesi dan sekaligus juga menjamin mutu moral
profesi itu dimata masyarakat.

Kode etik bisa dilihat sebagai produk dari etika terapan, seban
dihasilkan berkat penerapan pemikiran etis atas suatu wilayah tertentu,
yaitu profesi. Tetapi setelah kode etik ada, pemikiran etis tidak berhenti.
Kode etik tidak menggantikan pemikiran etis, tapi sebaliknya selalu
didampingi refleksi etis. Supaya kode etik dapat berfungsi dengan
semestinya, salah satu syarat mutlak adalah bahwa kode etik itu dibuat
oleh profesi sendiri. Kode etik tidak akan efektif kalau di drop begitu saja
dari atas yaitu instansi pemerintah atau instansi-instansi lain; karena tidak
akan dijiwai oleh cita-cita dan nilai-nilai yang hidup dalam kalangan
profesi itu sendiri.

Instansi dari luar bisa menganjurkan membuat kode etik dan


barang kali dapat juga membantu dalam merumuskan, tetapi pembuatan
kode etik itu sendiri harus dilakukan oleh profesi yang bersangkutan.
Supaya dapat berfungsi dengan baik, kode etik itu sendiri harus menjadi
hasil SELF REGULATION (pengaturan diri) dari profesi.

Dengan membuat kode etik, profesi sendiri akan menetapkan hitam


atas putih niatnya untuk mewujudkan nilai-nilai moral yang dianggapnya
hakiki. Hal ini tidak akan pernah bisa dipaksakan dari luar. Hanya kode
etik yang berisikan nilai-nilai dan citacita yang diterima oleh profesi itu
sendiri yang bisa mendarah daging dengannya dan menjadi tumpuan
harapan untuk dilaksanakan juga dengan tekun dan konsekuen. Syarat lain
yang harus dipenuhi agar kode etik dapat berhasil dengan baik adalah
bahwa pelaksanaannya diawasi terus menerus. Pada umumnya kode etik
akan mengandung sanksi-sanksi yang dikenakan pada pelanggar kode etik.

Sanksi Pelanggaran Kode Etik :

1) Sanksi moral

14
2) Sanksi dikeluarkan dari organisasi

Kasus-kasus pelanggaran kode etik akan ditindak dan dinilai oleh


suatu dewan kehormatan atau komisi yang dibentuk khusus untuk itu.
Karena tujuannya adalah mencegah terjadinya perilaku yang tidak etis,
seringkali kode etik juga berisikan ketentuan-ketentuan profesional,
seperti kewajiban melapor jika ketahuan teman sejawat melanggar
kode etik. Ketentuan itu merupakan akibat logis dari self regulation
yang terwujud dalam kode etik; seperti kode itu berasal dari niat
profesi mengatur dirinya sendiri, demikian juga diharapkan kesediaan
profesi untuk menjalankan kontrol terhadap pelanggar. Namun
demikian, dalam praktek sehari-hari control ini tidak berjalan dengan
mulus karena rasa solidaritas tertanam kuat dalam anggotaanggota
profesi, seorang profesional mudah merasa segan melaporkan teman
sejawat yang melakukan pelanggaran.

Tetapi dengan perilaku semacam itu solidaritas antar kolega


ditempatkan di atas kode etik profesi dan dengan demikian maka kode
etik profesi itu tidak tercapai, karena tujuan yang sebenarnya adalah
menempatkan etika profesi di atas pertimbanganpertimbangan lain.
Lebih lanjut masing-masing pelaksana profesi harus memahami betul
tujuan kode etik profesi baru kemudian dapat melaksanakannya. Kode
Etik Profesi merupakan bagian dari etika profesi. Kode etik profesi
merupakan lanjutan dari norma-norma yang lebih umum yang telah
dibahas dan dirumuskan dalam etika profesi. Kode etik ini lebih
memperjelas, mempertegas dan merinci norma-norma kebentuk yang
lebih sempurna walaupun sebenarnya norma-norma tersebut sudah
tersirat dalam etika profesi. Dengan demikian kode etik profesi adalah
sistem norma atau aturan yang ditulis secara jelas dan tegas serta
terperinci tentang apa yang baik dan tidak baik, apa yang benar dan
apa yang salah dan perbuatan apa yang dilakukan dan tidak boleh
dilakukan oleh seorang professional.

15
Tujuan Kode Etik Profesi

1) Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.


2) Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.
3) Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.
4) Untuk meningkatkan mutu profesi.
5) Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
6) Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.
7) Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
8) Menentukan baku standarnya sendiri.

Adapun Fungsi Dari Kode Etik Profesi Adalah :

1) Memberikan pedoman bagi setiap anggota profesi tentang prinsip


profesionalitas yang digariskan.
2) Sebagai sarana kontrol sosial bagi masyarakat atas profesi yang
bersangkutan.
3) Mencegah campur tangan pihak di luar organisasi profesi tentang
hubungan etika dalam keanggotaan profesi. Etika profesi
sangatlah dibutuhkan dalam berbagai bidang.

Kode etik yang ada dalam masyarakat Indonesia cukup banyak dan
bervariasi. Umumnya pemilik kode etik adalah organisasi
kemasyarakatan yang bersifat nasional, misalnya Ikatan Penerbit
Indonesia (IKAPI), kode etik Ikatan Penasehat HUKUM Indonesia,
Kode Etik Jurnalistik Indonesia, Kode Etik Advokasi Indonesia dan
lain-lain. Ada sekitar tiga puluh organisasi kemasyarakatan yang telah
memiliki kode etik.
Suatu gejala agak baru adalah bahwa sekarang ini perusahaan-
perusahaan swasta cenderung membuat kode etik sendiri. Rasanya
dengan itu mereka ingin memamerkan mutu etisnya dan sekaligus

16
meningkatkan kredibilitasnya dan karena itu pada prinsipnya patut
dinilai positif.

B. SEJARAH HUKUM KESEHATAN

Pada awalnya masyarakat menganggap penyakit sebagai misteri, sehingga


tidak ada seorangpun yang dapat menjelaskan secara benar tentang mengapa suatu
penyakit menyerang seseorang dan tidak menyerang lainnya. Pemahaman yang
berkembang selalu dikaitkan dengan kekuatan yang bersifat supranatural.
Penyakit dianggap sebagai hukuman Tuhan atas orang orang yang melanggar
hukumnya atau disebabkan oeh perbuatan roh-roh jahat yang berperang melawan
dewa pelindung manusia. Pengobatannya dilakukan oleh para pendeta atau
pemuka agama melalui do’a atau upacara pengorbanan.

Pada masa itu profesi kedokteran menjadi monopoli kaum pendeta, leh
karena itu mereka merupakan kelompok yang tertutup, yang mengajarkan ilmu
kesehatan hanya di kalangan mereka sendiri serta merekrut muridnya dari
kalangan atas. Memiliki kewenangan untuk membuat undang-undang, karena
dipercayai sebagai wakil tuhan untuk membuat undang-undang di muka bumi ini.
Undang- undang yang mereka buat memberi ancaman hukuman yang berat,
misalnya hukuman potong tangan bagi seseorang yang melakukan pekerajaan
dokter dengan menggunakan metode yang menyimpang dari buku yang ditulis
sebelumnya sehingga orang enggan memasuki profesi ini.

Mesir pada tahun 2000 SM tidak hanya maju di bidang kedokteran tetapi
juga memiliki hukum kesehatan. Konsep pelayanan kesehatan sudah mulai
dikembangkan dimana penderita/pasien tidak ditarik biaya oleh petugas kesehatan
yang dibiayai oleh masyarakat. Peraturan ketat diberlakukan bagi pengobatan
yang bersifat eksperimen. Tidak ada hukuman bagi dokter atas kegagalannya
selama bku standar diikuti. Profesi kedokteran masih di dominasi kam asta
pendeta dan bau mistik tetap saja mewarnai kedokteran.

17
Sebenarnya ilmu kedokteran sudah maju di babylonia (Raja Hummurabi 2200
SM) dimana praktek pembedahan sudah mulai dikembangkan oleh para dokter,
dan sudah diatur tentang sistem imbalan jasa dokter, status pasien,besar
bayarannya (dari sinilah hukum kesehatan berasal, bukan dar mesir). Dalam kode
Hummurabi diatur ketentuan tentang kelainan dokter beserta daftar hukumnya,
mulai dari hukuman denda sampai hukuman yang mengerikan. Dan pula
ketentuan yang mengharuskan dokter mengganti budak yang mati akibat kelalaian
dokter ketika menangani budak tersebut.

Salah satu filosof yunani HIPPOCRATES (Bapak ilmu kedokteran


modern) telah berhasil menyusun landasan bagi sumpah dokter serta etika
kedokteran, yaitu:

a. Adanya pemikiran untuk melindungi masyarakat dari penipuan dan


praktek kedokteran yang bersifat coba-coba
b. Adanya keharusan dokter untuk berusaha semaksimal mungkin bagi
kesembuhan pasien serta adanya laranag untuk melakukan hal-hal yang
dapat merugikannya.
c. Adanya penghormatan terhadap makhluk insani melalui pelarangan
terhadap euthanasia dan aborsi.
d. Menekankanhubungan terapeutik sebagai hubngan dimana dokter dilarang
mengambil keuntungan.
e. Adanya keharusan memegang teguh rahasia keokteran bagi setiap dokter.

Abad 20 an telah terjadi perubahan sosial yang sangat besar, pintu


pendidikan bagi profesi kedokteran telah terbuka lebar dan dibuka dimana-mana,
kemajuan di bidang kedokteran menjadi sangat pesat, sehingga perlu dbatasi dan
dikendalikan oleh perangkat hukum untuk mengontrol profesi kedokteran. Hukum
dan etika berfungsi sebagai alat untuk menilai perilaku manusia, objek hukum
lebih menitik eratkan pada perbuatan lahir, sedang etika batin, tujuan hukum
adalah untuk kedamaian lahiriah, etika untuk kesempurnaan manusia, sanksi
hukum bersifat memaksa, etika berupa pengucilan dari masyarakat.

18
C. KELOMPOK-KELOMPOK DALAM HUKUM KESEHATAN
Hukum kesehatan dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok yaitu:
a. Hukum kesehatan yang terkait langsung dengan pelayanan kesehatan
yaitu antara lain:
a. Undang- undang No.23/1992 tentang kesehatan yang diubah
menjadi UU No. 36/2009 tentang kesehatan
b. UU No.29/2004 tentang praktek kedokteran
c. UU No. 44/2009 tentang Rumah Sakit
d. PP No.32/1996 tentang Tenaga Kesehtan
e. Permenkes 161/2010 tentang Uji Kompetensi
b. Hukum Kesehatan yang tidak secara langsung terkait dengan
pelayanan kesehatan antara lain:
a. Hukum Pidana
Pasal-pasal hukum pidana yang terkait dengan pelayanan
kesehatan. Misalnya Pasal 359 KUHP tentang kewajiban
untuk bertanggung jawab secara pidana bagi tenaga
kesehatan atau sarana kesehatan yang dalam
menyelenggarakan pelayanan kesehatan menyebabkan pasien
mengalami cacat, gangguan fungsi organ tubuh atau kematian
akibat kelalaian atau keslahan yang dilakukannya.
b. Hukum Perdata
Pasal-pasal hukum perdaa yang terkait dengan pelayanan
kesehatan. Misalnya, pasal 1365 KUHPerd mengatur tentang
kewajiban hukum untuk mengganti kerugian yang dialami
oleh pasien akibat adanya perbuatan melawan prestasi dan
perbuatan melawan hukum yang diadakan oleh tenaga
kesehatan dan sarana kesehatan memberikan pelayanan
terhadap pasien.
c. Hukum Administrasi
Ketentuan-ketentuan penyelenggara pelayanan kesehatan
baik yang dilakukan oleh tenaga kesehatan maupun oleh
sarana kesehatan yang melanggar hukum administrasi yang
menyebabkan kerugian pada pasien menjadi tanggung jawab
hukum dari penyelenggara pelayanan kesehatan tersebut.
c. Hukum Kesehatan yang berlaku secara Internasional
a. Konvens
b. Yurisprudensi
c. Hukum kebiasaan
d. Hukum Otonomi

19
a. Perda tentang kesehatan
b. Kode etik profesi

D. RUANG LINGKUP HUKUM KESEHATAN


Kemajuan iptek dibidang kesehatan telah sangat berkembang pesat dengan
di dukung oleh sarana kesehatan semakin canggih, perkembangan ini turut
mempengaruhi jasa profesionalisme di bidang kesehatan yang dari waktu ke
waktu semakin berkembang pula. dalam banyak hal yang berhubungan
denngan masalah kesehatan , sering di temui kasus-kasus yang merugikan
pasien, oleh sebab itu tidak mengherankan apabila profesi kesehatan ramai di
perbincangkan baik di kalangan masyarakat ataupun di kalangan intelektual.
Sehingga sering timbul gugatan dari pasien yang merasa dirugikan akibat
adanya kesehatan atau kelalaian yang di lakukan oleh tenaga kesehatan di
dalam melaksanakan pemberian pelayanan kesehatan, maka keadaan-keadaan
seperti inilah yang menunjukkan suatu gejala, bahwa dunia kesehatan (pelayan
kesehatan) mulai di landa krisis etik medis, bahkan juga krisis keterampilan
medis yang pada dasarnya semuanya tidak dapat tidak dapat di selesaikan
dengan kode etik etika profesi para tenaga kesehatan semata, melainkan harus
diselesaikan dengan cara yang lebih luas, yaitu melalui jalur hukum.
Munculnya kasus pelayanan kesehatan yang terjadi di tengah-tengah
lapisan masyarakat dalam hal masalah kesehatan dan banyaknya kritikan yang
muncul terhadap pelayanan kesehatan itu merupakan indikasi bahwa
kesadaran hukum oleh masyarakat dalam hal masalah kesehatan semakin
meningkat pula.
Hal ini juga yang menyebabkan masyarakat tidak mau lagi menerima
begitu saja cara pelayanan yang kurang efisien yang akan dilakukan para
tenaga medis kesehatan kepada masyaraakat, akan tetapi engin menjalani
bagaimana pemberian pelayanan kesehatan kepada masyarakat itu harus
dilakukan, serta bagaimana masyarakat harus bertindak sesuai dengan hak dan
kepentinganya apabila mereka menderita kerugian akibat dari
kelalaian pelayanan kesehatan yang pada dasarnya adalah kesalahan atau
kelalaian pelayan kesehatan merupakan suatu hal yang penting untuk di

20
bicarakan dalam hal ini yang di sebabkan akibat dari kelalaian atau kesalahan
yang dilakukan oleh tenaga kesehatan tersebut yang mempunyai dampak yang
sangat merugikan, selain merusak atau mengurangi kepercayaan masyarakat
terhadap profesi pelayanan kesehatan, juga menimbulkan kerugian terhadap
pasien atau masyarakat.
Maka untuk itu di dalam memahami ada tidak adanya kesalahan atau pun
kelalaian yang dilakukan tenaga medis ,maka hal itu harus
dihadapkan dengan kewajiban profesi disamping harus pula memperhatikan
aspek hukum yang mendasari terjadinya hubungan hukum antara dokter
dengan pasien, yang di karenakan bahwa setiap kegiatan dalam upaya untuk
memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-
tingginya dilaksanakan berdasarkan prinsipnondiskriminatif,partisipatif,dan
berkelanjutan dalam rangka pembentukan sumber daya manusia Indonesia,
serta peningkatan ketahanan dan daya saing bangsa bagi pembangunan
nasional mengingat bahwa kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah
satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-citabangsa
Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

E. FUNGSI DAN TUJUAN DARI HUKUM KESEHATAN


1. Fungsi hukum ksehatan adalah:
a. Menjaga ketertiban dalam masyarakat. Meskipun hanya mengatur tata
kehidupan di dalam sub sektor yang kecil keberadaanya dapat
memberi sumbangan yang besar bagi ketertiban masyarakat secara
keseluruhan.
b. Menyelesikan sengketa yang timbul di dalam masyarakat (khususnya
di bidang kesehatan. Benturan antara kepentingan individu dengan
kepentingan masyarakat.
c. Merekayasa masyarakat (social engineering). Jika masyarakat
menghalang-halangi dokter untuk melakukan pertolongan terhadap

21
penjahat yang luka-luka karena tembakan, maka tindakan tersebut
sebenarnya keliru dan perlu diluruskan.
Contoh lain: mengenai pandangan masyarakat yang menganggap
dokter sebagai dewa yang tidak dapat berbuat salah. Pandangan ini
juga salah, mengingat dokter adalah manusia biasa yang dapat
melakukan kesalahan didalam menjalankan profesinya, sehingga ia
perlu dihukum jika perbuatannya memang pantas untuk dihukum.
Keberadaan hukum kesehatan di sini tidak saja perlu meluruskan sikap
dan pandangan masyarakat, tetapi juga sikap dan pandangan kelompok
dokter yang sering merasa tidak senang jika berhadapan dengan proses
peradilan.
2. Tujuan Hukum Kesehatan

Tujuannya pasal 3 adalah meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan


hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang
optimal.

F. ASAS-ASAS HUKUM KESEHATAN


1. Asas perikemanusiaan yang berdasakan ketuhanan yang maha esa berarti
bahwa penyelenggara ksehatan harus dilandasi atas perikemnusiaan yang
berdasarkan ketuhanan yang maha esa dengan tidak membeda-bedakan
golongan, agama, dan bangsa.
2. Asas manfaat berarti memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi
kemanusiaan dan perikehidupan yang sehat bagi setiap warga.
3. Asas usaha bersama dan kekeluargaan berarti bahwa penyelenggaraan
kesehatan dilaksanakan melalui kegiatan yang dilakukan oleh seluruh
lapisan masyarakatt dan dijiwai oleh semangat kekeluargaan.
4. Asas adil dan merata berarti bahwa penyelenggaraan kesehatan harus
dapat memberikan pelayanan yang adil dan merata kepada segenap lapisan
masyarakat dengan biaya yang terjangkau oleh masyarakat
5. Asas perikehidupan dalam keseimbangan berarti bahwa penyelenggaraan
kesehatan harus dilaksanakan seimbang antara kepentingan individual
damn masarakat, antara fisik dan mental, antara material dan spiritul.
6. Asas kepercayaan pada kemampuan dan kekuatan sendiri berarti bahwa
penyelenggaraan kesehatan harus berlandaskan pada kepercayaan akan

22
kemampuan dan kekuatan sendiri dengan memanfaatkan potensi nasional
seluas-luasnya.

G. HAK DAN KEWAJIBAN DALAM HUKUM KESEHATAN


Setiap undang-undang selalu mengatur hak dan kewajiban, baik yang dimiliki
oleh pemerintah maupun warganya, demikian juga UU kesehatan. Hak dan
kewaiban yang dimiliki setiap warga berdasarkan pasal 4 dan 5 UUK adalah:
1. Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat
kesehatan yang optimal
2. Setiap orang berkewajiban ikut serta dalam pemeliharaan dan peningkatan
derajat esehatan perseorangan, keluarga, dan lingkungannya.
3. Sedangkan pemerintah mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai
berkut:
a. Mengatur, membina dan mengawasi penyelenggaraan upaya
kesehatan
b. Menggerakkan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan dan
pembiayaan kesehatan dengan memperhatikan fungsi sosial.
c. Bertanggung jawab meningkatkan derajat kesehatan masyarakat

H. POSISI HUKUM KESEHATAN DALAM HUKUM


Didalam setiap gerak kehidupan perlu adanya aturan-aturan hukum yang
mengikat untuk mencapai terciptanya suatu keharmonisan dalam segala
bidang, terutama dalam bidang kesehatan pada khususnya, yang diatur
didalam hukum kesehatan.

Adapun maksud dan tujuan diciptakannya hukum kesehatan adalah untuk


menjaga ketertiban didalam masyarakat, serta menyelesaikan sengketa
didalam masyarakat yang berhubungan berhubungan dengan kesehatan.
dimana objek hukum lebih menitik beratkan pada perbuatan lahir. di lihat dari
hal tersebut diatas maka hukum kesehatan tidak hanya bersifat teoritis saja,

tetapi lebih cenderung pada pengaturan kelompok profesi kedokteran dan


profesi yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan. Adapun definisi hukum
kesehatan itu dapat diartikan pula sebagai peraturan-peraturan dan keputusan
hukum yang mengatur tentang pengelolaan praktik kesehatan, serta bagian
dari hukum kesehatan yang menyangkut tentang pelayanan medis ( Satjipto
Raharjo, 1997 : 10 ). Van Der Mijn menjelaskan bahwa hukum kesehatan di

23
batasi pada hukum yang mengatur tentang produk-produk profesi kedokteran
yang disebabkan karena adanya hubungan dengan pihak lain, baik itu dengan
pasien ataupun dengan tenaga kesehatan yang lain ( Van Der Mijn, 1984 : 2 ).

I. PERANAN ETIKA DALAM PROFESI DAN PRINSIP-PRINSIP


ETIKA PROFESI

1. Peranan Etika Dalam Profesi

Nilai-nilai etika itu tidak hanya milik satu atau dua orang, atau segolongan
orang saja, tetapi milik setiap kelompok masyarakat, bahkan kelompok yang
paling kecil yaitu keluarga sampai pada suatu bangsa. Dengan nilai etika tersebut,
suatu kelompok diharapkan akan mempunyai tata nilai untuk mengatur kehidupan
bersama.
Salah satu golongan masyarakat yang mempunyai nilai-nilai yang menjadi
landasan dalam pergaulan baik dengan kelompok atau masyarakat umumnya
maupun dengan sesama anggotanya, yaitu masyarakat profesional. Golongan ini
sering menjadi pusat perhatian karena adanya tata nilai yang mengatur dan
tertuang secara tertulis (yaitu kode etik profesi) dan diharapkan menjadi pegangan
para anggotanya.
Sorotan masyarakat menjadi semakin tajam manakala perilaku-perilaku
sebagian para anggota profesi yang tidak didasarkan pada nilai-nilai pergaulan
yang telah disepakati bersama (tertuang dalam kode etik profesi), sehingga terjadi
kemerosotan etika pada masyarakat profesi tersebut. Sebagai contohnya adalah
pada profesi hukum dikenal adanya mafia peradilan, demikian juga pada profesi
dokter dengan pendirian klinik super spesialis di daerah mewah, sehingga
masyarakat miskin tidak mungkin menjamahnya.

2. Prinsip-Prinsip Etika Profesi


a. Tanggung jawab :

1) Terhadap pelaksanaan pekerjaan itu dan terhadap hasilnya.

24
2) Terhadap dampak dari profesi itu untuk kehidupan orang lain
atau masyarakat pada umumnya.

b. Keadilan; Prinsip ini menuntut kita untuk memberikan kepada


siapa saja apa yang menjadi haknya.
c. Otonomi; Prinsip ini menuntut agar setiap kaum profesional
memiliki dan di beri kebebasan dalam menjalankan profesinya.

J. HUBUNGAN HUKUM ANTARA DOKTER DENGAN PASIEN


Hubungan hukum antara dokter dengan pasien pada dasarnya adalah
merupakanperjanjian perbintenis yang di karena berupaya untuk mewujudkan
apa yang di perjanjikan kedua pihak antara dokter denganpasien, yang
sebagaimana diatur dalam pasal 1320 kitab undang hukum perdata tentang
sahnya suatu perjanjian. Ketika hubungan antara dokter dan pasien termasuk
dalam ruang lingkup perjanjian, maka apaun ketentuan – ketentuan yang di
atur pada KUHPeradata berlaku terhadap perjanjian teraupeutik, yang karena
pada dasarnya kedatangan seorang pasien kepada dokter dianggap sudah
adanya perjanjian ( mutual consent ).
Dalam tahapan perkembangan hubungan hukum antara dokter dengan
pasien di dalam memberikan pelayanan kesesahatan ini dikenal menjadi 3
tahapan perkembangan hubungan hukum yaitu sebagai berikut :
1. Hubungan aktif-pasif.
Pada tahapan hubungan ini, pasien tidak memberikan kontribusi apapun,
dimana pasien hanya menyerahkan sepenuhnya akan tindakan dokter yang
akan di lakukan dalam hal pemberian jasa kesehatan.
2. Hubungan kerja sama terpimpin.
Pada tahapan hubungan ini, sudah tampak adanya partisipasi dari pasien
dalam proses pelayanan kesehatan sekalipun peranan dokter masih bersifat
dominan di dalam menetukan tidakan – tindakan yang akan di lakukan,
pada thapan ini pula kedudukan dokter sebagai orang yang di percaya oleh
pasien masih bersifat signifikan.
3. Hubungan partisipasi bersama.

25
Pada tahapan hubungan ini, pasien menyadari bahwa dirinya, sederajat
dengan dokter dan dengan demikian apabila terbentuk suatu hubungan
hukum maka hubungan tersebut dibangun atas dasar perjanjian yang di
sepakati bersama antara pasien dengan dokter.
Menurut Lumenta hubungan antara dokter dengan pasien ada 3 ( tiga )
hubungan yanitu :
1. Hubungan patnerlistik.
2. Hubungan individualistik.
3. Hubungan kolegial.
Sedangkan menurut Veronika Komalawati bahwa hubungan antara dokter
dengan pasien di kenal dengan 3 ( tiga ) tahapan yaitu :
1. aktiviti – pasivity relation.
2. Qwidance corporation relation.
3. Mutual partisipation.
Menurut Dasen sebagai mana di kutip oleh Soejhono Soekanto ada
terdapat beberapa alasan mengapa seorang pasien mendatangi dokter, yaitu:
1. Pasien pergi kedokter semata – mata karena ada merasa sesuatu yang
membahyakan kesehatanya.
2. Pasien pergi kedoter di karenakan mengetahui bahwa dirinya sakit dan
dokter dianggap mampu intuk menyembuhkan.
3. Pasien pergi keokter guna mendapatkan pemeriksaan yang intensif dan
mengobati penyakit yang di temukan.
Di dalam hubungan hukum antara dokter dengan pasien menurut undang-
undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 TentangPraktik
Kedokteran pada pasal 52 dan pasal 53 dalam hal hak dan kewajiban pasien
ditemui hubungan hukum pasien dengan dokter yaitu :
Pasal 52 mengatakan bahwa Pasien, dalam menerima pelayanan pada praktik
kedokteran, mempunyai hak sebagai berikut :

1. Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (3);

26
a. meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain

b. mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis

c. menolak tindakan medis; dan

d. mendapatkan isi rekam medis.

2. Dan di Pasal 53 mengatakan bahwa Pasien, dalam menerima pelayanan pada


praktik kedokteran, mempunyai kewajiban sebagai berikut :

a. memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya

b. mematuhi nasihat dan petunjuk dokter atau dokter gigi

c. mematuhi ketentuan yang berlaku di sarana pelayanan kesehatan; dan

d. memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.

K. HAK DAN KEWAJIBAN PASIEN DALAM TRANSAKSI TERAUPEUTIK


Secara normatif hak dan kewajiban pasien di atur di dalam Undang -
Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 TentangPraktik
Kedokteran pada pasal 52 dan pasal 53 dalam hal hak dan kewajiban pasien
ditemui hubungan hukum pasien dengan dokter yaitu :
1. Pasal 52 mengatakan bahwa Pasien, dalam menerima pelayanan pada
praktik kedokteran, mempunyai hak sebagai berikut :
a) mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (3).
b) meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain
c) mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis
d) menolak tindakan medis; dan
e) mendapatkan isi rekam medis.
2. Dan di Pasal 53 mengatakan bahwa Pasien, dalam menerima pelayanan
pada praktik kedokteran, mempunyai kewajiban sebagai berikut :
a) memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah
kesehatannya

27
b) mematuhi nasihat dan petunjuk dokter atau dokter gigi
c) mematuhi ketentuan yang berlaku di sarana pelayanan kesehatan;
dan
d) memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.
Berkaitan dengan hak pasien untuk mendapatkan penjelasan secara
lengkap tentang tindakan medis sebagaimana yang di maksud di dalam
Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik
Kedokteran di dalam pasal 45 yang menyatakan bahwa :
1. Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan
oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien harus mendapat
persetujuan.
2. Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah
pasien mendapat penjelasan secara lengkap.
3. Penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya
mencakup :
a. diagnosis dan tata cara tindakan medis
b. tujuan tindakan medis yang dilakukan
c. alternatif tindakan lain dan risikonya
d. risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi; dan
e. prognosis terhadap tindakan yang dilakukan.
Selain dari pihak pasien yang di atur di dalam perundang – undangan
maka hak pasien juga di cantumkan di dalam peraturan Kode Etik Profesi
Kedokteran Indonesia yaitu :
1. hak untuk hidup, hak atas tubuhnya, dan hak untuk mati secara wajar.
2. Hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan standart
profesi kedokteran.
3. Hak memperoleh penjelasan secara lengkap tenetang diagnosa dan
terapi medis yang di lakukan oleh dokter di dalam mengobatinya.
4. Hak untuk menolak prosedur diagnosis dan terapi yang akan di
rencanakan, bahkan untuk menarik diri dari kontrak teraupeutik.
5. Hak atas kerahasiaan atau rekam medic yang bersifat pribadi.

28
L. HAK DAN KEWAJIBAN DOKTER DALAM MEMBERIKAN
PELAYANAN KESEHATAN
Dari sudut pandang sosiologis seorang dokter yang melakukan hubungan
atau transaksi teraupeutik, masing – masing mempunyai kedudukan dan
peranan. Kedudukan yang dimaksud disini adalah kedudukan yang berupa
wadah, hak dan kewajiban. Sedangkan peranan merupakan pelaksanaan hak –
hak dan kewajiban tersebut. Secara sederhana dapat di katakan bahwa hak itu
merupakan wewenang untuk berbuat atau tidak berbuat. Sedangkan kewajiban
adalah tugas atau beban yang harus di laksanakan.
Dahulu kedudukan doter di anggap lebih tinggi dari pasien dan oleh
karena itu perananaya lebih penting pula. Dalam perkembangan kehidupan
masyarakat hubungan dokter dengan pasien secara khusus mengalami
perubahan bentuk, hal itu di sebabkan oleh beberapa faktor, antara lainya ialah
sebagai berikut ini :
1. Kepercayaan tidak lagi tertuju kepada dokter pribadi, akan tetapi
kepada kemampuan iptek kesehatan.
2. Masyarakat menganggap bahwa tugas dokter itu bukan hanya
melakukan penyembuhan, akan tetapi juga di lakukan pada perawatan.
3. Adanya kecenderungan untuk menyatakan bahwa kesehatan bukan lagi
merupakan keadaan tanpa penyakit, akan tetapi lelbih berarti oada
kesejahteraan fisik, mental, dan sosial.
4. Semakin banyaknya perturan yang memberikan perlindungan hukum
kepada pasien, sehinggga lebih mengetahui dan memahami hak –
haknya dalam hubunganya dengan dokter.
5. Tingkat kecerdasan masyarakat menegenai kesehatan semakin
meningkat.
Menurut Leneen sebagaimana yang di kutip oleh soejono soekanto yang
menyatakan bahwa manusia itu mempunyai 2 ( dua ) macam hak asasi yaitu,
hak asasi sosial, dan hak asasi individual. Diamana batas antara keduanya
agak kabur, sehingga di perlukan suatu landasan pemikiran yang berbeda, hal
itu dikarenakan hak asasi individual mempunyai aspek sosial, hal ini berarti

29
kedua kategori hak asasi tersebut dalam kenyataanya mengungkapkan dimensi
individual dan dan sosial dari keberadaan atau existensi sesuatu hak atas
pelayanan kesehatan merupakan salah satu hak asasi sosial manusia, dengan
demikian untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik, pemerintah
telah menetapkanUndang - Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009
Tentang Kesehatan, sebagai pengganti undang – undang nomor 23 tahun 1992
tentang kesehatan, khususnya di pasal 48 yang menyatakan bahwa :
1. Penyelenggaraan upaya kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47
dilaksanakan melalui kegiatan :
a. pelayanan kesehatan
b. pelayanan kesehatan tradisional
c. peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit
d. penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan
e. kesehatan reproduksi
f. keluarga berencana
g. kesehatan sekolah
h. kesehatan olahraga
i. pelayanan kesehatan pada bencana
j. pelayanan darah
k. kesehatan gigi dan mulut
l. penanggulangan gangguan penglihatan dan gangguan pendengaran
m. kesehatan mata
n. pengamanan dan penggunaan sediaan farmasi danalat kesehatan
o. pengamanan makanan dan minuman
p. pengamanan zat adiktif; dan/atau
q. bedah mayat.
2. Penyelenggaraan upaya kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
didukung oleh sumber daya kesehatan.
Menurut Leneen kewajiban dokter dalam melaksanakan pelayanan kesehatan
dibagi menjadi 3 ( tiga ) kelompok yaitu :

30
1. Kewajiban yang timbul dari sifat peralatan medis dimana dokter harus
bertindak, harus sesuai dengan standart profesi medis.
2. Kewajiban untuk menghormati hak – hak pasien yang bersumber dari
hak asasi di bidang kesehatan.
3. Kewajiban yang berhubungan dengan fungsi sosial pemeliharaan
kesehatan.
Kewajiban dokter terhadap pasien di dalam melaksanakan pelayanan
kesehatan di atur lebih kongkrit di dalam pasal 51 Undang – Undang
Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran yang berbunyi bahwa
Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran
mempunyai kewajiban :
a) memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan
standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien.
b) merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai
keahlian atau kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu
melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan.
c) merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan
juga setelah pasien itu meninggal dunia
d) melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali
bila ia yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya;
dan
e) menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu
kedokteran atau kedokteran gigi.
Selain itu, kewajiban dokter di dalam memberikan pelayanan
kesehatan dapat juga dilihat di dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan
Nomor 34 Tahun 1983 Tentang Kode Etik Kedokteran Indonesia, yang
menytakan bahwa dokter memiliki serangkaian kewajiban yaitu :
a) kewajiban umum.
b) Kewajiban terhadap penderita.
c) Kewajiban terhadap rekan sejawat.
d) Kewajiban terhadap diri sendiri.

31
Selain dari pada kewajiban dokter di dalam memberikan pelayanan
kesehatan, dokter juga memiliki hak, sebagaimana yang di atur di dalam
pasal 50 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik
Kedokteran, yang menyatakan bahwa Dokter atau dokter gigi dalam
melaksanakan praktik kedokteran mempunyai hak :
a) memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas
sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional.
b) memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar
prosedur operasional.
c) memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau
keluarganya; dan
d) menerima imbalan jasa.

32
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Bahwa untuk menunjang masuknya arus globalisasi ini maka pemerintah
mencoba untuk lebih meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat,
hal ini untuk menjamin masyarakat dengan adanya perkembangan teknologi
yang sangat cepat sehingga permasalahan kesehatan dapat teratasi demi
kepuasan masyarakat. Kepentingan-kepentingan masyarakat akan dapat
menginginkan adanya perubahan dalam bidang pelayanan kesehatan,
meskipun dalam beberapa kasus yang terjadi saat ini membuat masyarakat
merasa lebih berhati-hati dalam memilih tempat untuk mendapatkan
pelayanan kesehatan. Dengan hadirnya Undang-Undang nomor 36 tahun 2014
tentang Dasar Hukum Kesehatan ini akan membawa perubahan dalam bidang
pelayanan kesehatan baik perseorangan maupun masyarakat, Serta
memberikan perlindungan yang maksimal bagi masyarakat.

B. SARAN
Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya
penulis akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang makalah di
atas dengan sumber-sumber yang lebih banyak yang tentunya dapat di
pertanggung jawabkan.

33
DAFTAR PUSTAKA

1. Catatan penulis dalam materi kuliah tengah semester fakultas hukum


Universitas HKBP Nommensen yang di sampaikan oleh bapak Ferry
Antoni Surbakti,SH,MH. Selaku dosen penulis untuk hukum kesehatan.
2. Nomor 29 tahun 2004 Tentang praktik kedokteran, Undang - Undang
Republik Indonesia
3. Nomor 36 tahun 2009 Tentang Kesehatan, Undang - Undang Republik
Indonesia
4. Anonim. Diktat Kuliah Etika Profesi. Yogyakarta: STMIK El Rahma.
5. Isnanto, R. Rizal. 2009. Buku Ajar Etika Profesi. Semarang: Universitas
Diponegoro.
6. Kasanah, Nur. 2013. Etika Profesi dan Profesional Bekerja. Jakarta:
Direktorat Pembianaan SMK.

34