Anda di halaman 1dari 16

TRADISI ADAT JAWA DALAM PROSESI MITONI

ATAU TINGKEPAN
Makalah ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Hukum Adat
Dosen Pembimbing : ANDRE KOSWARA, SH. MH

OLEH :
KHAERUL AMIN
KELAS : A2
NIM: 151316035

SEKOLAH TINGGI ILMU HUKUM RAHMANIYAH SEKAYU


2016
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya
penulisdapat menyelesaikan makalah yang berjudul “TRADISI ADAT JAWA DALAM
PROSESI MITONI ATAU TINGKEPAN”. Shalawat dan salam selalu tercurah kepada
Rasulullah Muhammad SAW juga keluarga, para sahabat dan kita sebagai umatnya.
Terima kasih kepada teman - teman yang telah membantu penulis dalam proses
pembuatan makalah ini sehingga dapat terselesaikan. Penulis sadar, bahwa makalah yang
penulis buat ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan
saran yang membangun dari para pembaca untuk kesempurnaan makalah ini. Akhirnya,
penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terkait dalam proses
pembuatan makalah ini. Semoga dapat bermanfaat bagi para mahasiswa khususnya dan
para pembaca umumnya.

Sekayu, 20 Mei 2016


DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i
KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1
A. Latar Belakang .................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .............................................................................. 3
C. Tujuan Penulisan .............................................................................. 3
D. Manfaat Penulisan ........................................................................... 3
BAB II TRADISI ADAT JAWA PROSES MITONI ATAU TINGKEBAN ... 4
A. Asal Usul Mitoni Atau Tingkeban ................................................. 4
B. Proses Mitoni Atau Tingkeban ....................................................... 6
C. Kronologi Mitoni Atau Tingkeban ................................................ 1
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................... 18
A. Kesimpulan ..................................................................................... 19
B. Saran ............................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 21
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Upacara Tingkepan adalah salah satu tradisi masyarakat Jawa, upacara ini disebut juga
mitoni berasal dari kata pitu yang artinya tujuh, upacara ini dilaksanakan pada usia
kehamilan tujuh bulan dan pada kehamilan pertama kali. Upacara ini bermakna bahwa
pendidikan bukan saja setelah dewasa akan tetapi semenjak benih tertanam di dalam
rahim ibu. Dalam upacara ini sang ibu yang sedang hamil di mandikan dengan air
kembang setaman dan di sertai doa yang bertujuan untuk memohon kepada Tuhan YME
agar selalu diberikan rahmat dan berkah sehingga bayi yang akan dilahirkan selamat dan
sehat. Setiap orang tua pasti mengharapkan anak yang bakal lahir kelak menjadi anak
yang baik dan dapat memenuhi harapan mereka terhadapnya. Apalagi sebagai seorang
muslim dan muslimah, harapan ditanamkan setinggi-tinggi agar anak yang bakal lahir
akan menjadi hamba Allah yang sholih dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Upacara
adat tujuh bulanan yang dilakukan oleh sepasang suami istri yang beragama Islam, juga
dimaksudkan untuk kebaikan bagi anak yang dikandung. Dan tidaklah mereka melakukan
upacara tersebut melainkan untuk tujuan kebaikan dan keselamatan, harapan mereka agar
anak yang akan lahir menjadi anak yang sholih, menjadi hamba Allah yang jujur,
bermanfaat bagi agama dan bangsa. Suatu tujuan yang mulia sebenarnya, yang andai
ditimbang dengan perasaan, rasanya baik juga upacara itu diadakan.

Dari berbagai simbol tindakan dan sesaji ritual tingkeban/mitoni demikian, memang
tampak bahwa masyarakat Jawa memiliki harapan-harapan keselamatan. Masyarakat
Jawa menganggap mitoni sebagai ritual yang patut diperhatikan secara khusus. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa makna dan fungsi cultural selamatan mitoni adalah
untuk mewariskan tradisi leluhur, agar tidak kesiku (mendapatkan marabahaya) dan
untuk menjaga keseimbangan, keselarasan, kebahagiaan, dan keselamatan (slamet, ora
ono apo-apo) hidup yaitu kondisi aman tenteram tanpa gangguan makhluk lain atau alam
sekitar. Selain itu, tradisi tujuh bulanan (tingkeban/mitoni) menunjukkan karakter
masyarakat Jawa yang berpikir asosiatif. Hakikatnya, tradisi ini adalah memohon
keselamatan kepada Allah SWT. (Tuhan Yang Maha kuasa). Sebagaimana ungkapan:
““jabang bayi lahir sageto welujeng selamet ampunenten alangan sak tunggal penopo”.
Anak yang dikandung akan terlahir dengan gangsar (mudah), sehat, selamat, fisik yang
sempurna, tidak ada gangguan apa-apa. Ini sebenarnya menggambarkan budi pekerti
Jawa yang selalu memproses diri melalui tazkiyatun nafsi (penyucian diri) untuk
memohon kepada yang Maha Kuasa. Artinya, wujud pengabdian diri kepada Allah SWT.
(Tuhan Yang Maha Kuasa).

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana Asal-Usul Mitoni Atau Tingkeban ?
2. Bagaiman Prosesi Mitoni Atau Tingkeban ?
3. Bagaimana Kronologis Mitoni Atau Tingkeban ?

C. TUJUAN PENULISAN
Tujuan Penulisan Makalah ini Untuk mengetahui Asal Usul Tradisi Mitoni atau
Tingkeban, Mengetahui Prosesi Mitoni.

D. MANFAAT PENULISAN
Hasil Penulisan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pembaca dalam mengetahui
prosesi mitoni adat jawa dan diharapkan dapat menambah wawasan serta ilmu
pengetahuan pembaca mengenai macam-macam upacara mitoni
BAB II
TRADISI ADAT JAWA DALAM PROSESI MITONI ATAU TINGKEPAN

A. ASAL – USUL MITONI ATAU TINGKEBAN

Ritual mitoni atau tingkeban telah ada sejak zaman kuno. Menurut penuturan yang
diceritakan secara turun temurun, asal usulnya Sepasang suami istri, Ki Sedya dan Niken
Satingkeb, pernah punya anak sembilan kali, tetapi semuanya tidak ada yang berumur
panjang. Mereka telah meminta bantuan banyak orang pintar, dukun, tetapi belum juga
berhasil. Karena sudah tak tahan lagi mengahadapi derita berat dan panjang, kedua suami
istri itu memberanikan diri memohon pertolongan dari Jayabaya, sang ratu yang terkenal
sakti dan bijak.
Raja Jayabaya yang bijak dan yang sangat dekat dengan rakyatnya, dengan senang hati
memberi bantuan kepada rakyatnya yang menderita. Beginilah sikap ratu masa dahulu.
Kedua suami istri, dinasihati supaya melakukan ritual, caranya : Sebagai syarat pokok,
mereka harus rajin manyembah kepada Gusti, selalu berbuat yang baik dan suka
menolong dan welas asih kepada sesama. Berdoa dengan khusuk, memohon kepada
Tuhan. Mereka harus menyucikan diri, Menyembah kepada Gusti, Tuhan dan mandi suci
dengan air yang berasal dari tujuh sumber. Kemudian berpasrah diri lahir batin. Sesudah
itu memohon kepada Gusti, Tuhan, apa yang menjadi kehendak mereka, terutama untuk
kesehatan dan kesejahteraan si bayi. Dalam ritual itu sebaiknya diadakan sesaji untuk
penguat doa dan penolak bala, supaya mendapat berkah Gusti, Tuhan.
Rupanya, Tuhan memperkenankan permohonan mereka. Ki Sedya dan Niken
Satingkeb mendapatkan momongan yang sehat dan berumur panjang.Untuk mengingat
Niken Satingkeb, upacara mitoni juga disebut Tingkeban. Mitoni sendiri berasal dari kata
pitu atau tujuh. Hal itu karena mitoni diadakan ketika usia kandungan masuk tujuh bulan.
Ritual ini bertujuan agar calon bayi dan ibu selalu mendapatkan keselamatan. Ada
beberapa rangkaian upacara yang dilakukan dalam mitoni, yaitu siraman sebagai simbol,
memasukkan telor ayam kampung ke dalam kain calon ibu oleh sang suami, ganti
busana, memasukkan kelapa gading muda, memutus lawe/lilitan benang/janur,
memecahkan periuk dan gayung, minum jamu sorongan, dan nyolong endhog (mencuri
telur). Rangkaian upacara itu dipercaya sebagai prosesi pengusiran marabahaya dan
petaka dari ibu dan calon bayinya. Ritual mitoni sarat dengan simbolisasi. Upacara
siraman, misalnya, adalah simbol pembersihan atas segala kejahatan dari bapak dan ibu si
calon bayi. Sedangkan memasukkan telur ayam kampung ke dalam kain calon ibu adalah
perwujudan dari harapan agar bayi bisa dilahirkan tanpa hambatan yang berarti.
Memasukkan kelapa gading muda ke dalam sarung dari perut atas calon ibu ke bawah
adalah simbolisasi agar tidak ada aral melintang yang menghalangi kelahiran si bayi.
Setelah itu calon ibu akan berganti pakaian dengan kain 7 motif. Para tamu diminta
untuk memilih kain yang paling cocok dengan calon ibu. Sedangkan pemutusan
lawe/lilitan benang atau janur yang dilakukan setelah pergantian kain masih bermakna
agar kelahiran berjalan dengan lancar. Lilitan itu harus diputus oleh suami. Pemecahan
gayung atau periuk mengandung makna agar saat nanti sang ibu mengandung lagi,
diharapkan kehamilannya berjalan dengan lancar. Sedangkan upacara minum jamu
sorongan (dorongan) berarti bayi bisa lahir dengan cepat dan lancar seperti disurung
(didorong). Dan yang terakhir, mencuri endhog atau telur, merupakan perwujudan atas
keinginan calon bapak agar proses kelahiran berjalan dengan cepat, secepat maling yang
mencuri.

Untuk melakukan mitoni, harus dipilih hari yang benar-benar bagus dan membawa
berkah. Orang Jawa memiliki perhitungan khusus dalam menentukan hari baik dan hari
yang dianggap kurang baik. Selain itu, biasanya mitoni digelar pada siang atau sore hari.
Hari yang dianggap baik adalah Senin siang sampai malam serta Jumat siang sampai
Jumat malam.Mitoni tidak bisa dilakukan pada sembarang tempat. Dulu mitoni biasa
dilakukan di pasren atau tempat bagi para petani untuk memuja Dewi Sri, Dewi
Kemakmuran bagi para petani. Namun mengingat dewasa ini sangat jarang ditemui
pasren, maka mitoni dilakukan di ruang tengah atau ruang keluarga selama ruangan itu
cukup besar untuk menampung banyak tamu. Anggota keluarga yang tertua seringkali
dipercaya untuk memimpin pelaksanaan mitoni. Setelah melakukan serangkaian upacara,
para tamu yang hadir diajak untuk memanjatkan doa bersama-sama demi keselamatan ibu
dan calon bayinya. Tak lupa setelah itu mereka akan diberi berkat untuk dibawa pulang.
Berkat itu biasanya berisi nasi lengkap beserta lauk pauknya.

B. PROSESI MITONI ATAU TINGKEBAN


1 Persyaratan Mitoni atau Tingkeban
a. Bubur 7 macam : Kombinasi 7 macam, bubur merah, bubur putih, merah ditumpangi
putih, putih ditumpangi merah, putih disilang merah, merah disilang putih, baro-baro
(bubur putih diatasnya dikasih parutan kelapa dan sisiran gula jawa).Bubur putih
dimakan oleh sang Ayah. Bubur merah dimakan sang Ibu. Bubur yang lain dimakan
sekeluarga.
b. Gudangan Mateng (sayurnya direbus) :Bahan ; Sayur 7 macam; harus ada kangkung
dan kacang. Nasi Megono ; Nasi dicampur bumbu gudangan pedes lalu dikukus.Jajan
Pasar, biasanya berisi 7 macam makanan jajanan pasar tradisional. Rujak, bumbunya
pedas dengan 7 macam buah-buahan. Ampyang, ampyang kacang, ampyang wijen dll
(7 macam ampyang). Apabila kesulitan mendapatkan 7 macam ampyang, boleh
sedapatnya saja.
c. Aneka Ragam Kolo, Kolo kependem (kacang tanah, singkong, talas), kolo
gumantung (pepaya), kolo merambat (ubi/ketela rambat); kacang tanah, singkong,
talas, ketela, pepaya. direbus kecuali pepaya. Pepaya yang sudah masak. Masing-
masing jenis kolo tidak harus semua, tetapi bisa dipilih salah satu saja. Misalnya kolo
kependhem; ambil saja salah satu misalnya kacang tanah. Jika kesulitn mencari kolo
yang lain; yang penting ada dua macam kolo ; yakni cangelo; kacang tanah + ketela
(ubi jalar). Ketan ; dikukus lalu dibikin bulatan sebesar bola bekel. warna putih,
merah, hijau, coklat, kuning. Tumpeng nasi putih. telur ayam 7 butir. pisang raja dan
pisang raja pulut masing-masing satu lirang/sisir.Tumpeng tujuh macam warna;
tumpeng dibuat kecil-kecil dengan warna yang berbeda-beda. Bahan nasi biasa yang
diwarnai.
d. Tumpeng ditaruh di atas kalo (saringan santan yang baru). Bawahnya tumpeng
dialasi daun pisang. Di bawah kalo dialasi cobek agar kalo tidak ngglimpang. Sisa
potongan daun pisang diletakkan di antara cobek dan pantat kalo. Sayur 7 macam
direbus diletakkan mengelilingi tumpeng, letakkan bumbu gudangannya melingkari
tumpeng juga. Telur ayam (boleh ayam kampung atau ayam petelur) jumlahnya 7 butir,
direbus lalu dikupas, diletakkan mengelilingi tumpeng. Masing-masing telur boleh di
belah jadi dua. Pucuk tumpeng dikasih sate yang berisi ; cabe merah, bawang merah,
telur utuh dikupas kulitnya, cabe merah besar, tancapkan vertikal. Tusuk satenya dari
bambu, posisi berdiri di atas pucuk tumpeng; urutan dari bawah cabe merah besar posisi
horisontal, bawang merah dikupas, telur kupas utuh, bawang merah lagi, paling atas cabe
merah besar posisi vertikal.Pisang, jajan pasar, 7 macam kolo, dan 7 macam ampyang
ditata dalam satu wadah tersendiri, namanya tambir atau tampah tanpa bingkai yg
lebar.Tambirnya juga yg baru, jangan bekas. Tampah “pantatnya” rata datar,sedangkan
tambir pantatnya sedikit agak cembung. Tumpeng tujuh warna mini, ditaruh mengelilingi
tumpeng besar. Boleh diletakkan di atas sayuran yang mengelilingi tumpeng besar.
Setelah ubo rampe semua selesai disiapkan, maka dimulailah berdoa. Doa boleh
dengan tata cara atau agama masing-masing. Inilah fleksibilitas dan toleransi dalam
ajaran Jawa.Berikut ini contoh doa menurut tradisi Jawa;Diucapkan oleh orang tua jabang
bayi (ayah dan ibu), “Niat ingsun nylameti jabang bayi, supaya kalis ing rubeda, nir ing
sambikala, saka kersaning Gusti Allah. Dadiyo bocah kang bisa mikul dhuwur mendhem
jero wong tuwa, migunani marang sesama, ambeg utama, yen lanang kadya Raden
Komajaya, yen wadon kadya Dewi Komaratih..kabeh saka kersaning Gusti Allah. Dalam
tradisi Jawa, yang membuat bumbu rujak dilakukan oleh ibu jabang bayi. Jika bumbunya
rasanya asin, biasanya jabang bayi lahir perempuan. Bila tidak kasinen (kebanyakan
garam), biasanya lahir laki-laki. Akan tetapi karna teknologi medis sudah sedemikian
canggih, sampai ditemukan USG empat dimensi, jenis kelamin bayi sudah dapat
diketahui lebih dini. Acara mitoni atau tingkeban yang kami paparkan di atas adalah
tatacara sederhana. Akan tetapi bukan berarti tidak absah, hanya tidak lengkap saja.
Sedangkan tatacara yang lengkap yang biasanya masih dilakukan di kraton-kraton dan
masyarakat Jawa yang masih kuat memegang tradisi. Rangkaian acara untuk upacara
mitoni secara lengkap urut-urutannya yaitu : Siraman, memasukkan telor ayam kampung
di dalam kain calon ibu dilakukan oleh calon bapak, ganti baju tujuh kali, brojolan
(memasukkan kelapa gading muda), memutus benang lawe atau lilitan benang (atau
janur), memecah wajan dan gayung, mencuri telor dan terakhir kendhuri. Sesaji Sesaji
sangat penting didalam setiap upacara tradisonal. Sebenarnya maksud dan tujuan sesaji
adalah seperti sebuah doa. Kalau doa diucapkan dengan kata-kata, sedangkan sesaji
diungkapkan melalui sesaji yang berupa berbagai bunga, dedaunan dan hasil bumi yang
lain.
Tujuan sesaji adalah : Mengagungkan asma Gusti, Tuhan dan merupakan permohonan
tulus kepada Gusti supaya memberikan berkah dan perlindungan. Mengingat dan
menghormati para pinisepuh, supaya mendapat tempat tentram dialam keabadian. Supaya
upacara berjalan lancar dan sukses, tidak diganggu oleh apapun, termasuk orang-orang
dan mahluk-mahluk halus jahat.

2. Tata Cara Mitoni Atau Tingkeban


a. Siraman atau mandi
Siraman atau mandi merupakan simbol upacara sebagai pernyataan tanda
pembersihan diri, baik fisik maupun jiwa. Pembersihan secara simbolis ini bertujuan
membebaskan calon ibu dari dosa-dosa sehingga kalau kelak si calon ibu melahirkan
anak tidak mempunyai beban moral sehingga proses kelahirannya menjadi lancar.
Upacara siraman dilakukan di kamar mandi dan dipimpin oleh dukun atau anggota
keluarga yang dianggap sebagai yang tertua.
Setelah siraman selesai, dilanjutkan dengan upacara memasukan telur ayam dan
cengkir gading. Calon ayah memasukan telur ayam mentah ke dalam sarung/kain
yang di kenakan oleh calon ibu melalui perut sampai pecah kemudian menyusul
kedua cengkir gading di teroboskan dari atas ke dalam kain yang di pakai calon ibu
sambil di terima di bawah oleh calon nenek dan kelapa gading tersebut di gendong
oleh calon nenek dan di letak kan sementara di kamar. Hal ini merupakan symbol
harapan semoga bayi akan lahir dengan mudah tanpa ada halangan.

b. Upacara Ganti Pakaian


Calon Ibu mengenakan kain putih sebagai dasar pakaian pertama, kain tersebut
melambangkan bahwa bayi yang akan di lahirkan adalah suci dan mendapat berkah
dari Tuhan YME. Calon Ibu berganti baju 6 kali dengan di iringi pertanyaan “ sudah
pantas belum?”, dan di jawab oleh ibu ibu yang hadir “ belum pantas” sampai yang
terakhir ke tujuh kali di jawab “ pantas”.

c. Upacara Angrem
Setelah upacara ganti busana Calon ibu duduk di atas tumpukan baju dan kain yang
tadi habis di gunakan. Hal ini memiliki symbol bahwa calon ibu akan selalu menjaga
kehamilan dan anak yang di kandungnya dengan hati hati dan penuh kasih sayang.
Calon Ayah menyuapi calon Ibu dengan nasi tumpeng dan bubur merah putih sebagai
symbol kasih sayang seorang suami dan calon ayah.

d. Upacara Mecah Kelapa


Kelapa gading yang tadi di bawa ke kamar, kembali di gendong oleh calon nenek
untuk di bawa keluar dan di letak kan dalam posisi terbalik (gambar tidak terlihat)
untuk di pecah, Kelapa gading nya berjumlah 2 dan masing masing di gambari tokoh
Wayang Kamajaya dan Kamaratih. Calon ayah memilih salah satu dari kedua kelapa
tersebut
Apabila calon ayah memilih Kamajaya maka bayi akan lahir Laki laki, sedangkan
jika memilih Kamaratih akan lahir perempuan ( hal ini hanya pengharapan saja,
belum merupakan suatu kesungguhan)

e. Dodol Rujak
Pada upacara ini, calon ibu membuat rujak di dampingi oleh calon ayah, para tamu
yang hadir membeli nya dengan menggunakan kereweng sebagai mata uang. Makna
dari upacara ini agar kelak anak yang di lahirkan mendapat banyak rejeki dan dapat
menghidupi keluarga nya.

C. KRONOLOGI MITONI ATAU TINGKEBAN


1. Waktu Pelaksanaan
Waktu Pelaksanaan acara antara pukul 9.00 sampai dengan pukul 11.00 Calon ibu
mandi dan cuci rambut yang bersih, mencerminkan kemauan yang suci dan bersih.
Kira-kira pukul 15.00 - 16.00, upacara tingkepan dapat dimulai, menurut
kepercayaan pada jam-jam itulah bidadari turun mandi. undangan sebaiknya
dicantumkan lebih awal pukul 14.30 WIB.

2. Hari Pelaksanaan
Hari pelaksanaan biasanyan dipilih hari Rabu atau hari Sabtu, tanggal 14 dan 15
tanggal jawa, menurut kepercayaan agar bayi yang dilahirkan memiliki cahaya yang
bersinar, dan menjadi anak yang cerdas.
3. Pelaksana yang menyirami/memandikan
Pelaksaan siraman/memandikan biasanya dilakukan oleh para Ibu - ibu yang jumlahnya
tujuh orang, yang terdiri dari sesepuh terdekat. Upacara dipimpin oleh ibu yang sudah
berpengalaman. Disebuah ruangan yang telah disiapkan untuk upacara pendandanan,
beberapa ibu dengan disaksikan hadirin, mendandani calon ibu dengan beberapa motif
kain batik dan lurik. Ada 6/enam motif kain batik, antara lain motif kesatrian,
melambangkan sikap satria; wahyu tumurun, yaitu wahyu yang menurunkan kehidupan
mulia, sidomukti ,maksudnya hidup makmur, sidoluhur-berbudi luhur dsb. Pendandanan
Calon Ibu Satu per satu kain batik itu dikenakan, tetapi tidak ada yang sreg, sesuai. Lalu
yang ketujuh dikenakan kain lurik bermotif lasem, dengan semangat para hadirin
berseru : Ya, ini cocok! Lurik adalah bahan yang sederhana tetapi kuat, motif lasem
mewujudkan perajutan kasih yang bahagia, tahan lama. Begitulah perlambang positif dari
upacara pendandanan.
4. Perlengkapan yang diperlukan,
Perlengkapan yang diperlukan dalam Satu meja yang ditutup dengan kain putih bersih,
Di atasnya ditutup lagi dengan bangun tolak, kain sindur, kain lurik, Yuyu sekandang,
mayang mekak atau letrek, daun dadap srep, daun kluwih, daun alang-alang. Bahan
bahan tersebut untuk lambaran waktu siraman.
5. Perlengkapan
Perlengkapan lain yang dibutuhkan adalah Bokor di isi air tujuh mata air, dan kembang
setaman untuk siraman. Batok (tempurung) sebagai gayung siraman (Ciduk), Boreh
untuk mengosok badan penganti sabun, Kendi dipergunakan untuk memandikan paling
akhir. Dua anduk kecil untuk menyeka dan mengeringkan badan setelah siraman. Dua
setengah meter kain mori dipergunakan setelah selesai siraman. Sebutir telur ayam
kampung dibungkus plastik Dua cengkir gading yang digambari Kamajaya dan
Kamaratih atau Arjuna dan Dewi Wara Sembodro. Busana Nyamping aneka ragam, dua
meter lawe atau janur kuning Baju dalam dan nampan untuk tempat kebaya dan tujuh
nyamping, dan stagen diatur rapi. Perlengkapan Kejawen kakung dengan satu pasang
kain truntum. Calon ayah dan ibu berpakain komplet kejawen, calon ibu dengan rambut
terurai dan tanpa perhiasan.
6. Selamatan/ Sesaji Tingkepan
Selamatan/ sesaji Tingkepan biasanya adalah nasi Tumpeng Robyong dengan kuluban,
telur ayam rebus, ikan asin yang digoreng. Peyon atau pleret adonan kue/nogosari diberi
warna-warni dibungkus plastik, kemudian dikukus. Satu Pasang Ayam bekakah (Ingkung
panggang), Ketupat Lepet (Ketupat dibelah diisi bumbu), Bermacam-buah-buahan, Jajan
Pasar dan Pala Pendem (Ubi-ubian). Arang-arang kembang satu gelas ketan hitam goring
sangan Bubur Putih satu piring Bubur Merah satu Piring, Bubur Sengkala satu
piring,Bubur Procot/ Ketan Procot, ketan dikaru santan, setelah masak dibungkus dengan
daun/janur kuning yang memanjang tidak boleh dipotong atau dibiting. Nasi Kuning
ditaburi telur dadar, ikan teri goring, ayam,rempah, Dawet Ayu (cendol, santan dengan
gula jawa) Rujak Manis terdiri dari tujuh macam buah, Perlengkapan selamatan
Tingkepan diatas, dibacakan doa untuk keselamatan seluruh keluarga. Kemudian
dinikmati, bersama tamu undangan dengan minum dawet ayu, sebagai penutup. Sajen
tumpeng, maknanya adalah pemujaan (memule) pada arwah leluhur yang sudah tiada.
Para leluhur setelah tiada bertempat tinggal di tempat yang tinggi, di gunung-gunung.
Sajen jenang abang, jenang putih, melambangkan benih pria dan wanita yang bersatu
dalam wujud bayi yang akan lahir. Sajen berupa sega gudangan, mengandung makna agar
calon bayi selalu dalam keadaan segar.Cengkir gading (kelapa muda yang berwarna
kuning), yang diberi gambar Kamajaya dan Dewi Ratih, mempunyai makna agar kelak
kalau bayi lahir lelaki akan tampan dan mempunyai sifat luhur Kamajaya. Kalau bayi
lahir perempuan akan secantik dan mempunyai sifat-sifat seluhur Dewi Ratih.
Benang lawe atau daun kelapa muda yang disebut janur yang dipotong, maknanya adalah
mematahkan segala bencana yang menghadang kelahiran bayi. Kain dalam tujuh motif
melambangkan kebaikan yang diharapkan bagi ibu yang mengandung tujuh bulan dan
bagi si anak kelak kalau sudah lahir. Sajen dhawet mempunyai makna agar kelak
bayiyang sedang dikandung mudah kelahirannya. Sajen berupa telur yang nantinya
dipecah mengandung makna berupa ramalan, bahwa kalau telur pecah maka bayi yang
lahir perempuan, bila telur tidak pecah maka bayi yang lahir nantinya adalah laki-laki.
BAB III
KESIMPULAN

A. KESIMPULAN
Tradisi adat Jawa tujuh bulanan (tingkeban/mitoni) merupakan bagian dari budi
pekerti Jawa yang memiliki makna filosofis dalam kehidupan. Tradisi ini memang
merupakan kombinasi ajaran baik dari Hindu, Kejawen bahkan Islam sebagai agama
yang dianut oleh mayoritas suku Jawa di Desa Sidomulyo. Namun, sebagaimana hasil
penelitian penulis, tradisi ini sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam, yaitu
permohonan kepada Allah Swt. dalam rangka keselamatan dan kebahagiaan melalui laku
suci (proses penyucian diri) dari berbagai kotoran dan noda dosa yang selama ini telah
dilakukan.

Paling tidak, dari tradisi ini terkandung nilai-nilai filosofis dalam kehidupan, antara
lain: pertama, melestarikan tradisi leluhur dalam rangka memohon keselamatan. Hal ini
tentunya memiliki nilai yang istimewa karena melestarikan budaya yang baik merupakan
kekayaan khazanah dalam kehidupan. Dalam qaedah ushul fikh disebutkan “al-
muhafazhah ‘ala qadim ash-shalih, wal ahdzu bil jadidi al-ashlih” (Melestarikan tradisi
lama yang baik, dan mengambil tradisi baru yang lebih baik). Kedua, menjaga
keseimbangan, keselarasan, kebahagiaan, dan keselamatan (slamet, ora ono apo-apo).
Ketiga, karakter masyarakat Jawa yang berpikir asosiatif. Keempat, proses penyucian diri
(tazkiyatun nafsi) ketika memohon kepada Allah Swt. (Tuhan Yang Maha Kuasa )

DAFTAR PUSTAKA

Jagadkejawen. upacara-ritual mitoni ( Online )


( http://jagadkejawen.com/id/upacara-ritual/mitoni, di akses tanggal 8 Desember 2012 )
Almuslimah. 2008. acara-tujuh-bulan-kehamilan-islamikah. (Online)
(http://almuslimah.wordpress.com/2008/06/04/acara-tujuh-bulan-kehamilan-islamikah/ ,
diakses tanggal 8 Desember 2012 )
makalahmajannaii.2012. tradisi-adat-jawa-tujuh-bulanan.html. (Online)
(http://makalahmajannaii.blogspot.com/2012/04/tradisi-adat-jawa-tujuh-
bulanan.html , di akses tanggal 8 Desember 2012 )
Momthink. 2011. upacara-mitoni-atau-nujuh-bulanan./.(Online)
(http://momthink.wordpress.com/2011/05/05/upacara-mitoni-atau-nujuh-bulanan/,
diakses tanggal 8 Desember 2012 )