Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai perairan pantai
yang luas. Indonesia juga memiliki tiga ekosistem pantai, meliputi ekosistem
bakau, ekosistem lamun, dan ekosistem terumbu karang. Karena hal tersebut,
menjadikan Indonesia memiliki kekayaan biota laut yang berlimpah, salah
satu diantaranya adalah Cnidaria.

Cnidaria adalah filum hewan yang sangat sederhana. Kata Cnidaria


berasal dari kata Cnido yang memiliki arti penyengat karena sesuai dengan
cirinya yang memiliki sel penyengat. Sel penyengat terdapat pada tentakel
yang terdapat disekitar mulutnya. Sebagian Cnidaria hidup soliter sedangkan
sebagian lagi ada yang hidup secara berkoloni. Tubuhnya simetris radial, jika
dipotong tubuhnya melalui sumbu tubuh maka akan mendapat beberapa
bagian yang sama.

Namun, pengetahuan mengenai filum ini sangatlah minim. Karena itu,


dibuatkannya makalah ini bertujuan untuk menambah wawasan bagi pembaca.
Sehingga pembaca dapat mengetahui sedikit tentang filum Cnidaria.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan filum Cnidaria?

2. Bagaimana karakteristik dari hewan yang berfilum Cnidaria?

3. Bagaimana pengelompokan filum Cnidaria?

4. Apa saja manfaat atau peranan hewan dengan filum Cnidaria?

1
1.3 Tujuan

1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Avertebrata Air.

2. Untuk mengedukasi pembaca agar lebih mengenal tentang Cnidaria.

3. Untuk memberitahu pembaca manfaat dari filum Cnidaria.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Deskripsi Cnidaria

Cnidaria adalah filum hewan yang memiliki tubuh sangat sederhana.


Kata Cnidaria berasal dari kata cnido yang berarti penyengat, karena sesuai
dengan cirinya yang memiliki sel penyengat. Sel penyengat terletak pada
tantakel yang terdapat disekitar mulutnya. Terdapat 10.000 spesies Cnidaria
yang sebagian besar hidup di laut, kecuali sejenis hydra yang hidup di air
tawar.

Cnidaria merupakan hewan bersel banyak atau multiseluler. Sruktur


tubuhnya terdiri dari : radial simetris, dipoblastik yang terdiri dari ektoderm
dan endoderm juga terdapat rongga (mesoglea) antara lapisan ektoderm dan
endoderm. Bentuk tubuh ada yang menyerupai tabung (polip) menepel pada
susbtrat (sesil) dan ada pula yang menyerupai mangkok (medusa) yang dapat
berenang bebas (motil).
Di atas tubuh terdapat mulut dan tentakel untuk menangkap mangsa dan
bergerak. Pada lapisan luar ektodermis tentakel terdapat sel racun
(knidoblast) atau sel penyengat (nematosis).

2.2 Pencernaan Cnidaria

Cnidaria mempunyai rongga gastrovaskuler untuk proses pencernaan.


Cnidaria mendapat makanan dengan berbagai cara: predasi atau berburu
mangsa, menyerap zat organik yang larut di air, menyaring partikel makanan
di air, dan mendapatkan nutrisi dari alga simbiotik di dalam selnya.
Kebanyakan Cnidaria mendapatkan makanan lewat predasi, beberapa
Cnidaria yang bersimbiosis dengan alga memberikan perlindungan, karbon
dioksida dan tempat yang terkena cahaya matahari bagi alganya.

Cnidaria menggunakan knidositnya untuk melumpuhkan mangsanya


kemudian dimasukkan kedalam mulut menggunakan tentakelnya, setelah
masuk rongga pencernaan, sel kelenjar di gastroderm mensekresikan enzim

3
untuk mencerna makanan, nutrisi yang didapatkan disalurkan ke seluruh
tubuh menggunakan aliran air yang dikontrol silia di gastroderm atau gerakan
otot. Nutrisi dikirimkan ke lapisan sel terluar lewat difusi. Sisa makanan yang
tidak dapat dicerna dikeluarkan lewat mulut juga menggunakan aliran air.

2.3 Pernafasan Cnidaria

Cnidaria tidak punya organ pernafasan, tapi bernafas lewat kedua lapisan
sel dengan menyerap oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida ke
sekitarnya. Beberapa Cnidaria yang bersimbiosis dengan alga fotosintetik
dapat mengalami kelebihan oksigen yang berakibat fatal, sehingga mereka
memproduksi antioksidan untuk menetralisir oksigen yang berlebih.

2.4 Sistem Saraf Pusat Cnidaria

Cnidaria tidak punya otak atau sistem saraf pusat. Akan tetapi mereka
punya jaring saraf yang terdiri dari neuron yang dapat merespon pada
berbagai rangsangan. Knidositnya memiliki silia yang dapat mendeteksi
kontak fisik dan indra yang dapat mendeteksi zat kimia seperti bau,
kombinasi ini memungkinkan knidosit menembak sasaran yang tepat.
Knidosit juga terangsang dan ikut menembak apabila knidosit di dekatnya
juga menembak.

Medusa dan hewan berkoloni seperti sifonofor dan chondrofor


mempunyai indra keseimbangan untuk mengontrol kecepatan dan kemiringan
tubuh yaitu statosista, ruangan penuh rambut yang mendeteksi gerakan
mineral statolit. Jika tubuh miring, statolit akan bergerak dan merangsang
rambut di statosista untuk mengirim sinyal agar hewan tersebut
menyeimbangkan tubuhnya kembali. Kebanyakan spesies memiliki oseli atau
organ mirip mata namun lebih sederhana yang mampu mendeteksi sumber
cahaya. Akan tetapi Cubozoa memiliki mata sejati lengkap dengan retina,
kornea, dan lensa. Walaupun matanya mungkin tidak mampu membuat
gambar, tapi Cubozoa dapat dengan jelas mendeteksi arah datangnya cahaya
dan mendeteksi objek.

4
2.5 Reproduksi Cnidaria

Cnidaria mengalami reproduksi dengan daur hidup antara bentuk polip


dan medusa. Pada Schypozoa (Ubur-ubur) dan Cubozoa (Ubur-ubur kotak),
larvanya berenang sampai mendapatkan tempat yang cocok untuk menempel,
kemudian larva tumbuh menjadi polip. Polip tumbuh besar sampai dewasa
kemudian menarik tentakelnya serta memotong tubuhnya secara horizontal,
proses ini disebut strobilasi. Bagian yang terpotong berenang bebas sebagai
medusa muda. Medusa tumbuh sampai dewasa sedangkan polip melanjutkan
proses strobilasi. Medusa dewasa memiliki kelenjar reproduksi di
gastroderm-nya, kelenjar ini dapat menghasilkan sel telur atau sperma yang
dapat dikeluarkan saat musim kawin tiba. Telur yang dibuahi menjadi larva
dan memulai daur hidupnya lagi.

Peristiwa bergantinya cara reproduksi dari seksual (tahap medusa) ke


aseksual (tahap polip) atau sebaliknya disebut metagenesis, proses ini juga
dapat ditemukan pada beberapa tumbuhan misalnya lumut, dimana cara
reproduksinya berganti dari pembuatan spora yang aseksual ke pembuatan
gamet yang seksual.

Banyak Cnidaria yang menghilangkan salah satu tahap diatas, misalnya


beberapa Schypozoa tidak punya tahap polip, sehingga larvanya langsung
tumbuh menjadi medusa muda. Polip Cubozoa hanya menghasilkan satu
medusa. Hydrozoa lebih beragam, beberapa tidak mengalami tahap polip,
sedangkan yang lain seperti Hydra tidak punya tahap medusa. Anthozoa tidak
mengalami tahap medusa tapi menggunakan polip yang bertunas

2.6 Pergerakan Cnidaria

Medusa bergerak menggunakan otot yang menarik tubuhnya, sehingga


air di dalam rongga tubuhnya akan keluar dan mendorongnya, mesogleanya
yang elastis mengembalikan bentuknya seperti semula dan Cnidaria dapat
mengulangi gerakannya lagi.

Sedangkan polip dapat bergerak lamban dengan merayap seperti siput


atau meroda seperti teknik senam lantai.

5
2.7 Regenerasi Cnidaria

Semua Cnidaria mampu


beregenerasi, mereka dapat
menggunakan kemampuan ini untuk
bereproduksi secara aseksual. Medusa
memiliki kemampuan regeneraasi
terbatas, tapi polip mampu
melakukannya secara penuh. Sehingga
polip seperti koral mampu tumbuh
kembali walaupun dihancurkan predator.

Gambar 1. Daur hidup Cnidaria 1-


3 Larva mencari tempat menempel 4-8 Polip
tumbuh 9-11 Strobilasi 12-14 Medusa tumbuh

2.8 Klasifikasi Cnidaria

Dulu Cnidaria dikelempokkan bersama Ctenophora dalam satu filum,


yaitu Coelenterata. Akan tetapi mereka akhirnya dipisah setelah banyak
ditemukan perbedaan. Cnidaria dibagi menjadi beberapa kelas:

1. Schypozoa
Schypozoa berasal dari Bahasa Yunani skyphos (σκύφος), sejenis
cangkir dengan dua pegangan karena bentuk medusanya mirip cangkir
terbalik. Juga disebut dengan ubur-ubur sejati agar tidak dibingungkan
dengan hewan lain yang juga disebut ubur-ubur misalnya Ctenophora atau
Cubozoa.

Gambar 2. Aurelia aurita atau Ubur-ubur bulan,


salah satu anggota Schypozoa

Umumnya mereka berukuran 2


sampai 40 cm, tapi ubur-ubur yang lebih
besar bisa mencapai 1-2 meter, misalnya
spesies terbesarnya Cyanea

6
capillata atau lebih dikenal dengan Surai singa. Schypozoa dapat
ditemukan di lautan di seluruh dunia, dari permukaan sampai laut dalam.
Schypozoa tidak ditemukan di air tawar. Schypozoa memakan beragam
makanan seperti Krustasea atau Ikan yang mereka buru menggunakan
organel nematosista.

2. Cubozoa

Cubozoa atau dikenal dengan nama ubur-ubur kotak, dinamakan


seperti itu karena medusanya berbentuk kotak. Cubozoa lebih cepat dari
ubur-ubur lainnya dan juga jauh lebih
berbahaya, anggotanya seperti Chironex
fleckeri, Carukia barnesi dan Malo
kingi sangat terkenal akan bisanya dan
terkenal sebagai salah satu hewan laut
paling berbahaya di dunia, sengatan
hewan tersebut mampu menyebabkan
kematian bagi manusia.

Gambar 3. Chironex fleckeri, salah satu


anggota Cubozoa

Sistem saraf dan inderanya lebih canggih dari ubur-ubur lain,


jika lainnya hanya memiliki oseli sederhana untuk mengetahui
sumber cahaya, Cubozoa memiliki mata lengkap yang dapat
digunakan untuk menghindari penghalang atau berenang dengan
cepat, berkat hal itu dibandingkan ubur-ubur lain Cubozoa lebih
aktif untuk berburu mangsa, yaitu ikan kecil. Cubozoa berukuran
kecil sekitar 20-30 cm tapi tentakelnya dapat mencapai 3 meter.
Cubozoa dapat ditemukan di Samudera Pasifik, Atlantik dan
Hindia.

7
3. Hydrozoa

Hydrozoa adalah kelompok yang beraneka ragam, beberapa ada yang


berupa hewan tunggal, beberapa
berupa koloni yang terdiri dari hewan-
hewan kecil (zooid) yang bergabung
membentuk hewan tunggal,
kebanyakan hidup dilaut walaupun ada
yang tinggal di air tawar.

Gambar 4. Tubularia indivisa, salah satu


anggota hydrozoa yang berkoloni

Polip yang berkoloni terhubung oleh hidrokaulus yang berbentuk


batang dan koloni tersebut terikat ke dasar dengan stolon yang mirip akar,
sehingga sekilas polip hydrozoa terlihat seperti tanaman. Pada umumnya,
koloni hydrozoa berukuran kecil, tetapi beberapa spesies seperti sifonofor
mencapai beberapa meter, polip dan hidrokaulusnya dilindungi oleh
protein bernama perisarkus.

Sedangkan bentuk medusa berukuran jauh lebih kecil dari ubur-ubur


lain hanya berdiameter sekitar 0,5 - 6 cm, walaupun kebanyakan hydrozoa
memiliki tahap medusa, tidak semuanya dapat berenang bebas, di beberapa
spesies hanya bertindak sebagai tunas. Sekilas medusa hydrozoa mirip
dengan schypozoa.

4. Anthozoa
Anthozoa berasal dari Bahasa
Yunani anthos (άνθος) yang berarti bunga,
karena kebanyakan mirip bunga. Mereka
adalah kelompok yang seluruh
anggotanya berupa polip tanpa tahap
medusa. Mereka bereproduksi secara
seksual dengan mengeluarkan sperma dan

Gambar 5. Dendronephthya klunzingeri,


salah satu anggota Anthozoa

8
sel telur yang kemudian menjadi larva yang akan tumbuh menjadi
polip baru, ada juga yang bereproduksi secara aseksual menggunakan
tunas. Anggotanya berjumlah lebih dari 6000 spesies, jauh lebih banyak
dibanding kelompok Cnidaria lain. Seperti Cnidaria lain mereka memiliki
rongga mulut yang dikelilingi tentakel yang kaya akan knidosit untuk
berburu mangsa. Beberapa ada yang bersimbiosis dengan alga
fotosintetik. Anggotanya yang terkenal antara lain anemon laut dan koral,
mereka salah satu pembentuk terumbu karang.

5. Staurozoa
Staurozoa dengan satu-satunya ordo
yaitu Stauromedusa sering disebut dengan
ubur-ubur bertangkai. Mereka dianggap
sebagai bagian dari Schypozoa, tapi riset
genetik terbaru menyatakan bahwa mereka
adalah kelas tersendiri.

Gambar 6. Haliclystus antarcticus, salah


satu anggota Staurozoa

Mereka memiliki keunikan dari Cnidaria lain dengan tidak adanya


perubahan dari tahap polip ke medusa atau sebaliknya, mereka terlihat
seperti medusa yang menempel dengan gaya hidup yang mirip polip,
karena itu mereka disebut ubur-ubur berangkai. Umumnya mereka
memiliki tubuh seperti terompet dengan tangkai untuk menempel
ditengahnya. Kebanyakan anggotanya ditemukan di yang perairan dingin
dekat pantai. Stauromedusa bereproduksi secara seksual dengan
menghasilkan sel telur atau sperma yang nantinya menjadi larva yang
akan menempel di tempat yang cocok dan tumbuh menjadi staurozoa
baru yang menempel, tidak seperti Schypozoa mereka tidak mengalami
strobilasi, tapi mereka berkembang langsung menjadi individu dewasa.

9
6. Myxozoa dan Polypodiozoa

Tidak seperti Cnidaria lainnya


hewan ini adalah parasit yang
membutuhkan inang untuk bertahan
hidup. Myxozoa dulunya dianggap
sebagai protozoa, riset terus
dilakukan dan akhirnya mereka
dimasukkan ke filum Cnidaria.

Gambar 7. Myxobolus cerebralis, salah satu anggota Myxozoa

Sekarang Myxozoa dianggap sebagai turunan dari ubur-ubur yang


dapat hidup sendiri dengan berenang bebas yang berevolusi menjadi daur
hidupnya) mikroskopis yang terdiri dari hanya beberapa sel saja. Mereka
berukuran antara 10 μm sampai 20 μm, mereka menjadikan ikan, cacing
atau bryozoa sebagai inangnya. Myxozoa tinggal di perairan laut maupun
air tawar. Myxozoa terdiri dari 1300 spesies.

Sedangkan Polipodiozoa adalah parasit endoseluler (di dalam sel)


yang menyerang telur ikan sturgeon atau sejenisnya. Satu-satunya
anggota kelompok ini
adalah Polypodium hydriforme.

Polypodium dianggap sebagai


Cnidaria karena memiliki nematosista,
tapi karakteristik sangat berbeda
dengan Cnidaria lain. Polypodium
tinggal di air tawar.

Gambar 8. Polypodium hydriforme


2.9 Pemanfaatan Cnidaria

Cnidaria tersebar di perairan di seluruh dunia, baik di perairan tawar


maupun laut. Tetapi, banyak dari mereka yang bergantung pada alga
fotosintetik yang membutuhkan cahaya matahari untuk membuat nutrisi dan

10
energi, sehingga mereka tinggal di perairan yang dangkal. Koral pembentuk
karang persebarannya terbatas di perairan tropis. Sedangkan staurozoa
terbatas di perairan dingin seperti lingkar kutub utara. Cnidaria ukurannya
bervariasi dari yang mikroskopis seperti Myxozoa sampai berukuran
berdiameter 2 m seperti Surai singa.

Mangsa cnidaria beragam, dari plankton sampai hewan yang lebih besar
dari mereka seperti ikan dan arthropoda, hal ini mungkin karena mereka
mempunyai senjata knidosit. Beberapa cnidaria bersifat parasit. Beberapa
bersimbiosis dengan alga fotosintetik atau menyerap nutrisi yang larut di air.
Predator dari cnidaria antara lain: siput laut yang dapat memasang
nematosista ke tubuh mereka sebagai pertahanan diri, bintang laut dan
ikan kepe-kepe yang dapat merusak koral, serta kura-kura yang memakan
ubur-ubur. Beberapa juga melakukan hubungan simbiosis seperti anemon laut
dan ikan badut.

Terumbu karang adalah salah satu ekosistem terpenting di dunia.


Cnidaria penyusun terumbu karang berasal dari kelas Anthozoa dan
Hydrozoa.Terumbu karang penting bagi manusia terutama yang tinggal di
pantai, karena pantai mereka dapat terlindungi dari ombak yang terhalang
oleh terumbu karang. Terumbu karang menjadi sumber pendapatan bagi
penduduk sekitar, untuk pariwisata atau tempat memancing. Akan tetapi,
aktivitas manusia dapat merusak ekosistem terumbu karang dengan berbagai
cara: misalnya menggunakan peledak untuk menangkap ikan atau menangkap
ikan-ikan yang masih muda sebagai ikan hias di akuarium.

Ubur-ubur juga dapat digunakan sebagai sumber makanan, industri


makanan dari ubur-ubur dapat ditemukan di China dan Asia tenggara, ubur-
ubur untuk dimakan juga diimpor ke Jepang. Ubur-ubur yang dapat dimakan
adalah dari ordo Rhizostomae, misalnya ubur-ubur meriam (Stomolophus
meleagris) dan ubur-ubur api (Rhopilema esculentum). Ubur-ubur biasanya
dikeringkan sebelum dimasak.

Ubur-ubur juga berbahaya bagi manusia terutama dari kelas cubozoa,


anggotanya seperti Chironex fleckeri, Carukia barnesi dan Malo

11
kingi terkenal akan bisanya dan terkenal sebagai salah satu hewan laut paling
berbahaya di dunia, sengatan hewan tersebut mampu menyebabkan kematian
bagi manusia. Perawatan di rumah sakit biasanya diperlukan untuk merawat
sengatan hewan tersebut.

12
DATAR PUSTAKA

https://id.wikipedia.org/wiki/Cnidaria

https://www.academia.edu/8663657/MAKALAH_EKOLOGI_HEWAN_Ekologi
_Cnidaria_Aurelia_aurita_Kelompok_2_Suci_Aulia_Putri_14177051

https://tatangsma.com/2015/02/ciri-ciri-filum-cnidaria-atau-coelenterata.html

https://www.academia.edu/8663657/MAKALAH_EKOLOGI_HEWAN_Ekologi
_Cnidaria_Aurelia_aurita_Kelompok_2_Suci_Aulia_Putri_14177051

13