Anda di halaman 1dari 9

KoPENGARUH MEROKOK TERHADAP AKTIVITAS FISIK

SISWA KELAS XI DI SMA NEGERI 4 CIMAHI

PROPOSAL
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar
Sarjana Keperawatan

OLEH:
SETO NURFAIZAL
C. 0105. 15. 027

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BUDI LUHUR
CIMAHI
2019
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb,

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat hidayahNya, sholawat serta salam semoga terlimpahkan
kepada junjunan Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarganya dan seluruh
pengikutnya hingga akhir zaman. Akhirnya penulis dapat menyelesaikan Prposal
Skripsi yang berjudul “Pengaruh Rokok Terhadap Aktivitas Fisik Siswa Kelas
Xi Di Sma Negeri 4 Cimahi” dengan baik dan tepat pada waktunya.
Dalam menyusun Proposal Skripsi ini penulis banyak mendapatkan
bimbingan, bantuan dan saran dari berbagai pihak, dan tidak lupa penulis
ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Ijun Rijwan, S.S.KM., M.Kes Selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan

Budi Luhur Cimahi.

2. Selaku ketua program studi Pendidikan Ners Sekolah Tinggi Ilmu

Kesehatan Budi Luhur Cimahi .

3. Bagja Aangga, S.Kep, S.Kep.,Ners.,MAN selaku Pembimbing 1 Sekolah

Tinggi Ilmu Kesehatan Budi Luhur Cimahi.

4. Supiyanto S.Pd.,MM.,M.Pd selaku Pembimbing 2 Sekolah Tinggi Ilmu

Kesehatan Budi Luhur Cimahi.

5. Seluruh dosen, staff dosen dan pengelola perpustakaan di Stikes Budi

Luhur Cimahi serta seluruh pihak yang terkait dalam penyusunan skripsi

ini.

6. Keduaorang tua ku tercinta Ayah handa Sopiandi dan Ibunda Elis Suryani

serta saudara-saudaraku yang senantiasa kuhormati dan kucintai, yang

tak henti-hentinya memberikan do’a, semangat, kasih sayang, cinta dan

semua dukungan baik moral maupun material selama penulis mengikuti

pendidikan dan penulisa skripsi ini.


7. Semua pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, namun begitu

banyak telah membantu dalam menyusun proposal skripsi ini.

8. Semoga amal baik yang diberikan mendapat balasan di dunia dan

menjadi pahala di akhirat nanti. Tidak lupa juga penulis memohon maaf

atas segala kekurangan dalam pembuatan Proposal Skripsi ini. Penulis

mengakui Proposal Skripsi ini masih banyak yang harus diperbaiki untuk

itu penulis mengharapkan keritik dan saran yang dapat membangun

untuk kemajuan ilmu dibidang kesehatan pada umumnya dan kebidanan

khususnya.

Cimahi 2019

Penulis
BAB I

A. Latar Belakang

Merokok merupakan suatu kebiasaan buruk yang sudah dikenal


sejak lama oleh hampir seluruh masyarakat di dunia dan cenderung
meningkat, terutama di kalangan remaja. Hal ini memberi makna bahwa
masalah merokok telah menjadi semakin serius, mengingat merokok
beresiko menimbulkan berbagai penyakit atau gangguan kesehatan salah
satunya hipertensi (KemenKes, 2011).
The Tobacco Atlas menyatakan jumlah konsumsi rokok di dunia pada
tahun 2014 mencapai 5,8 triliun batang dan masih terus bertambah setiap
tahunnya. Prevalensi merokok di negara maju telah menurun, namun
sebaliknya di negara berkembang. Hasil studi dalam jurnal medis The
Lancet memperlihatkan angka berhenti merokok yang rendah pada
sebagian besar negara berkembang (BBC Indonesia, 2012). Negara maju
seperti Jepang dan Singapura membuat larangan merokok di berbagai
tempat khususnya tempat wisata dan tempat-tempat umum, bahkan para
perokok dilarang merokok sambil berjalan di jalan raya.
Di Amerika, harga rokok cukup mahal dan tidak mudah didapat di
sembarang tempat. Rokok dengan mudah didapat di negara berkembang
dengan harga yang relatif murah. Iklan rokok di negara berkembang
muncul 81 kali lebih sering daripada di negara berpenghasilan tinggi
(detiktravel, 2015). Salah satu negara berkembang dengan konsumsi
rokok terbesar adalah Indonesia yang pada tahun 2014 berada di
peringkat keempat setelah China, Rusia, dan Amerika (The Tobacco
Atlas, 2015).
Indonesia menduduki posisi pertama negara dengan persentase laki-
laki perokok umur 15 tahun ke atas terbesar di dunia. Data The Tobacco
Atlas 2015 menyebutkan, 66% laki-laki di Indonesia merokok. Rusia
berada di peringkat kedua dengan 60% laki-laki perokok di atas 15 tahun.
Kemudian disusul oleh China (53%), Filipina (48%), Vietnam (47%),
Malaysia (44%), India (24%), dan Brazil (22%) (Kompas.com, 2016).
Jumlah perokok di dunia mencapai 2,8 miliar orang, dimana setiap
tahun ada 5 juta orang yang meninggal akibat penyakit yang disebabkan
oleh rokok (WHO, 2015).

Perokok di masyarakat Indonesia ternyata tidak hanya di kalangan


dewasa saja, namun sudah merambat ke kalangan remaja. Data WHO
tahun 2008 menyebutkan bahwa 63% pria adalah perokok dan 4,5%
wanita adalah perokok. Sedangkan statistik perokok dari kalangan remaja
Indonesia yaitu 24,1% remaja pria adalah perokok dan 4,0% remaja
wanita adalah perokok (WHO, 2008).
Data Riskesdas 2018 menunjukkan jumlah perokok diatas 15 tahun
sebanyak 33,8 %. Dari jumlah tersebut 62,9 % merupakan perokok laki-laki
dan 4,8% perokok permpuan (Riskesdas, 2018).
Data dari survey nasional Jumlah perokok di Indonesia tahun 2016
mencapai 90 juta jiwa. Indonesia menempati urutan tertinggi prevalensi
merokok bagi laki-laki di ASEAN yakni sebesar 67,4 persen. Kenyataan
itu diperparah semakin muda usia perokok di Indonesia. Data Komisi
Nasional (Komnas) Perlindungan Anak menunjukkan, jumlah perokok
anak di bawah umur 10 tahun di Indonesia mencapai 239.000 orang
Sebanyak-Sebanyak 19,8 persen pertama kali mencoba rokok sebelum
usia 10 tahun dan hampir 88,6 persen pertama kali mencobanya di
bawah usia 13 tahun. Kebanyakan perokok berasal dari keluarga kurang
mampu (Riskesdas, 2016).
Data dari survey nasional menjelaskan, 84,8 juta jiwa perokok di
Indonesia berpenghasilan kurang dari Rp 20.000per hari. Perokok di
Indonesia 70 persen di antaranya berasal dari kalangan keluarga miskin.
Menurut Peto et al (2014, dalam putri 2016) secara global 50%
remaja pria dan 10% remaja perempuan merupakan perokok aktif, hal ini
dapat menyebabkan kematian akibat rokok dari 5 juta orang pada tahun
2010 dan akan menjadi 10 juta dibeberapa tahun yang akan datang.Pada
tahun 2007 mencapai 34,2 (Riskesdas, 2007), kemudian pada tahun
2010 meningkat lagi menjadi 34,7 (Riskesdas, 2010).
Indonesia merupakan Negara dengan tingkat penggunaan rokok
yang cukup tinggi. Di tahun 2009, Indonesia menempati peringkat
ke-4 dunia jumlah konsumsi rokok sebanyak 260.800 rokok
(4%) (Michael Eriksen, 2012). Sementara itu untuk jumlah perokok,
Indonesia sendiri menempati urutan ke 3 pada tahun 2008 dengan jum
perokok sebanyak 65 juta perokok (WHO, 2008). Dan menurut survey
GATS 2011, peringkat Indonesia semakin bertambah menjadi peringkat 2
terbesar di dunia (Kemenkes RI, 2012).
Seperti halnya perokok yang ada di Provinsi Jawa Barat bahwa
prevalensi perokok setiap hari nya cukup tinggi. Perokok setiap hari di
provinsi Jawa Barat berkisar pada 30,9% (BPPK, 2010). Secara nasional
prevalensi perokok saat ini adalah 34,7%(Profil Kesehatan Provinsi Jawa
Barat 2012).
Setelah di identifikasi berdasarkan semua tingkatan umur di Jawa
Barat dengan umur mulai merokok setiap harinya menunjukkan remaja
dengan rentan umur 15-19 tahun memiliki prevalensi yang tinggi
mencapai 45,0% dan secara nasional juga tinggi yaitu 43,7% BPPK
(2010, dalam Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2012 ).
Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan di Brazil
menunjukan bahwa remaja yang berusia 14-19 tahun memiliki prevalensi
yang tinggi dari faktor risiko penyakit tidak menular yang diakibatkan
karena merokok, meliputi aktifitas fisik yang tidak aktif (22,2%), konsumsi
alkohol yang berlebihan 49,3%), merokok (21,7%), perilaku menetap dan
diet tidak sehat (3,1%).
Sedangkan menurut hasil penelitian yang dilakukan di universitas
Haluoleo Oleo di kota Kendari menunjukan bahwa dari 380 responden
yang merokok, sebanyak 214 responden (56,3%) yang memiliki aktifitas
fisik kurang, dan sebanyak 166 responden 43,7%) memiliki aktifitas fisik
yang aktif.
Menurut Dr. Hario Tilarso, spKO FACSM yang mengatakan bahwa bila
merokok dan karbon monoksida masuk ke paru-paru maka hemoglobin
akan lebih cepat mengikat karbon monoksida, karena aktifitas (daya
gabung) hemoglobin dan karbon monoksida lebih besar dari pada
aktifitas hemoglobin dan oksigen. Akibat oksigen tidak diserap oleh tubuh
sehingga tubuh kekurangan oksigen dalam jaringan-jaringannya. Hal ini
tentu saja merugikan terutama pada olahraga yang memerlukan oksigen
dalam kebutuhan energinya.
Berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa terdapat adanya
perbedaan aktivitas fisik antara perokok dan non perokok. Menurut studi
Klesges et al (1990) melaporkan bahwa tingkat aktivitas fisik pada
perokok lebih rendah secara signifikan jika dibandingkan dengan non-
perokok. Pada mereka yang perokok memiliki tingkat aktivitas fisik yang
lebih rendah pada saat olahraga, waktu luang, dan kegiatan aerobik
dibandingkan dengan non-perokok. Sneve dan Jorde (2008) dalam
penelitiannya melaporkan bahwa terdapat hubungan yang terbalik antara
aktivitas fisik dengan jumlah batang rokok yang dihisap, yang artinya
semakin banyak batang rokok yang dihisap semakin sedikit aktivitas fisik
yang dilakukan.
Masa remaja merupakan masa yang penuh dengan
permasalahan. Selain itu masa remaja juga merupakanmasa badai dan
tekanan (storm and stress) (Hall dalam sari 2011). Remaja juga ditandai
dengan perubahan fisik dan perkembangan seksual yang terjadi secara
cepat juga disertai bertambahnya tuntutan masyarakat. Disamping itu,
masa remaja adalah masa yang rawan oleh pengaruh-pengaruh negatif
seperti merokok, narkoba, kriminal dan kejahatan seks (Alamsyah RM
2009 dalam Zakia 2015).
Dalam rangkaian proses perkembangan individu, remaja tidak
mempunyai tempat yang jelas, tidak termasuk golongan anak, tapi tidak
pula termasuk golongan orang dewasa. Selanjutnya dikatakan remaja
masih belum mampu untuk menguasai perubahan fungsi-fungsi fisik
maupun psikisnya. Masa remaja merupakan suatu masa penyesuaian
terhadap pola-pola kehidupan baru, sedangkan emosi remaja masih
dalam keadaan tidak stabil atau masih bergejolak (Dwiyana PC dan
Wulan R 2008, dalam Zakia 2015).
Merujuk pada uraian latar belakang di atas peneliti sebagai
mahasiswa sarjana Keperawatan berkeinginan untuk memahami
pengaruh merokok terhadap aktifitas fisik, dengan menyusun sebuah
penelitian yang berpokus pada pengaruh merokok terhadap aktifitas fisik
siswa kelas XI di SMA
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan
sebagai berikut “Adakah Pengaruh Merokok Terhadap Aktivitas Fisik
Siswa Kelas Xi Di SMA”.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Pengaruh Rokok Terhadap Aktivitas Fisik Siswa
Kelas XI Di SMA Negeri 4 Cimahi.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui pengaruh merokok terhadap aktifitas fisik siswa
kelas XI.
b. Untuk mengetahui perbedaan remaja perokok dan tidak merokok
terhadap aktifitas fisik.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Institusi (STIKes Budi Luhur)
Sebagai penambah referensi bagi generasi selanjutnya dan
bahan perbandingan bagi pihak institusi dalam meningkatkan
pelayanan kesehatan.
2. Bagi Sekolah
Untuk memberikan masukan bagi pihak sekolah agar
lebih mengontrol siswa agar tidak merokok dan mempertegas
aturan merokok bagi siswa serta mengantisipasi stres yang
mungkin terjadi pada siswa dengan lebih mengaktifkan kegiatan
bimbingan dan konseling.
3. Bagi Peneliti
Dapat menambah ilmu pengetahuan baru dan pengalaman
proses belajar serta dapat menjadi pengalaman riset sebagai bekal
dalammenjalankan penelitian lebih lanjut.
4. Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi,
literatur dan kajian ilmiah bagi peneliti selanjutnya.