Anda di halaman 1dari 12

TITRASI ASIDIMETRI-ALKALIMETRI

(TITRASI ASAM-BASA)
Sabtu, Juni 02, 2012 | Label: analisa kualitatif dan kuantitatif

BAB 4
TITRASI ASIDIMETRI-ALKALIMETRI
(TITRASI ASAM-BASA)

Pengertian
Titrasi asam-basa sering disebut asidimetri-alkalimetri, yaitu titrasi yang
menyangkut asam dan basa. Reaksi yang dibahas mengenai reaksi dengan asam dan/atau
basa, diantaranya:
1. Asam kuat-basa kuat
2. asam kuat-basa lemah
3. asam lemah-basa kuat
4. asam kuat-garam dari asam lemah
5. basa kuat-garam dari basa lemah
Ada beberapa pendapat mengenai pengertian asam dan basa, yaitu :

Asam dan basa menurut Arrhenius

Asam adalah zat yang terdissosiasi dalam air membentuk ion hidrogen (H+) sedangkan basa
adalah zat yang terdissosiasi dalam air membentuk ion hidroksida (OH-).
Contoh :
HCl dalam air akan membentuk ion H+ dan Cl-, oleh karena itu HCl merupakan suatu asam.
HCl H+ + Cl-
NaOH dalam air akan membentuk ion Na+ dan OH-, oleh karena itu
NaOH merupakan suatu basa.
NaOH Na+ + OH-

Asam dan basa menurut Broensted dan Lowry


Asam merupakan zat yang cendrung memberikan sebuah proton (H+), sedangkan basa adalah
zat yang cendrung menerima sebuah proton (H+).
Contoh : asam asetat (CH3COOH), cendrung untuk melepaskan proton (H+) yang ada pada
gugus karboksilatnya, dimana :
CH3COOH  CH3COO- + H+
Sehingga asam asetat adalah suatu asam.

Asam dan basa menurut Lewis

Asam adalah zat yang menerima sepasang elektron, atau dikenal juga dengan akseptor
elektron, sedangkan basa adalah zat yang memberikan sepasang elektron, atau dikenal juga
dengan donor elektron.
Contoh :

asam lewis basa lewis

KLASIFIKASI ASAM DAN BASA


Secara garis besar, asam dan basa dapat diklasifikasikan berdasarkan kemampuan
ionisasinya dan berdasarkan kekuatan.
1. Berdasarkan kemampuan ionisasinya, asam dan basa dikelompokkan atas:
Asam dan basa monoprotik :
Asam dan basa yang dapat melepaskan satu ion H+ atau OH- (dikenal juga dengan ionisasi
primer).
Contoh :
Asam monoprotik : HCl, HNO3, CH3COOH, dll
Basa monoprotik : NaOH, KOH, dll
Asam dan Basa diprotik :
Asam dan basa yang dapat melepaskan dua ion H+ atau OH- (dikenal juga dengan ionisasi
sekunder).
Contoh :
Asam diprotik : H2SO4, H2CO3, H2C2O4, dll
Basa diprotik : Ca(OH)2, Mg(OH)2, dll
Asam dan basa poliprotik :
Asam dan basa yang dapat melepaskan 3 atau lebih ion H+ atau OH- (dikenal juga dengan
ionisasi tersier)
Contoh :
Asam poliprotik : H3PO4

2. Berdasarkan kekuatannya, asam dan basa dibedakan atas :


Asam/basa kuat :

Asam atau basa yang terdissosiasi hampir sempurna di dalam air

Asam atau basa lemah :


Asam atau basa yang terdissosiasi sebagian di dalam air.
Contoh :
HCl merupakan suatu asam kuat, sebab hampir semua molekul HCl akan terdissosiasi
menjadi ion H+ dan Cl-.
HCl  H+ + Cl-
>90%
Sementara itu CH3COOH merupakan suatu asam lemah, sebab hanya sebagian dari molekul
CH3COOH yang terdissosiasi menjadi ion H+ dan CH3COO-.
CH3COOH ===== CH3COO- + H+
+ 1,3%
Kekuatan relatif asam dan basa tergantung pada :
Kekuatan relatif asam/basa yang terbentuk.
Suatu asam akan terdissosiasi membentuk suatu basa konjugasi. Semakin kuat suatu asam,
maka akan basa konjugasi yang terbentuk akan semakin lemah.
Demikian pula sebaliknya, semakin kuat suatu basa, makin lemah asam konjugasi yang
terbentuk dan semakin lemah suatu basa, maka akan semakin kuat asam konjugasi yang
terbentuk.
Contoh :
HCl  H+ + Cl-
Asam kuat basa konjugasi
(basa lemah)

CH3COOH ===== CH3COO- + H+


Asam lemah basa konjugasi
(basa kuat)

NaOH  Na+ + OH-


Basa kuat Asam konjugasi
(asam lemah)

NH4OH ===== NH4+ + OH-


Basa lemah asam konjugasi
(asam kuat)

Kemampuan Ionisasinya :
Asam :
Untuk asam poliprotik (dapat terionisasi beberapa kali), maka ionisasi pertama dapat
berlangsung lebih mudah dibandingkan ionisasi kedua maupun ketiga, sedangkan ionisasi
kedua lebih mudah dari ionisasi ketiga. Semakin mudah suatu asam terionisasi maka semakin
kuat asam tersebut. Karena itu asam dengan ionisasi pertama lenih kuat dibandingkan asam
dengan ionisasi kedua maupun ketiga.

Contoh :

Ionisasi pertama (primer)

Ionisasi kedua (sekunder)


Ionisasi ketiga (tersier)
Dari ketiga asam diatas, urutan kekuatan asamnya adalah :
H3PO4 > H2PO4- > HPO4-3
Untuk asam-asam yang mempunyai atom-atom non logam yang sama, maka kekuatan
asamnya tergantung pada bilangan oksidasi ion non logamnya. Semakin besar bilangan
oksidasi non logamnya, semakin kuat asamnya.
Contoh :
Asam H2SO4 dan H2SO3.
Bilangan oksidasi S pada H2SO4 = +6, sedangkanbilangan oksidasi S pada H2SO3 = +4, maka
kekuatan asamnya :
H2SO4 > H2SO3

Basa :
Kekuatan basa tergantung pada ion positifnya.
semakin besar ukuran ion positifnya, maka kekuatan basa akan semakin besar.
Semakin kecil muatan ion positinya kekuatan basanya akan semakin besar.

Contohnya :
Ion positif K+ lebih besar ukurannya dari ion Na+, akibatnya basa KOH lebih kuat dari NaOH
Ukuran ion Na+ lebih kecil daripada ion Mg+2, akibatnya basa NaOH lebih kuat daripada basa
Mg(OH)2.
Tabel 1. Kekuatan relatif dari beberapa asam/basa
Contoh Asam/Basa % Ionisasi
Asam Kuat > 90 %
HCl > 90 %
HBr > 90 %
HI > 90 %
HNO3 > 90 %
H2SO4 > 60 %
Asam Lemah
H3PO4 27
H2SO3 20
HNO2 1,5
CH3COOH 1,3
H2CO3 0,2
Basa Kuat
NaOH > 90 %
KOH > 90 %
Ca(OH)2 100 %
Mg(OH)2 100 %
Basa Lemah
NH3 1,3 (pada 18oC)

DISSOSIASI AIR

Air mengalami ionisasi membentuk ion H3O+ dan OH-. Karena itu air dapat
bertindak sebagai asam atau basa. Persamaan reaksi kesetimbangan asam-basa pada air
adalah :
H2O + H2 O ==== H3O+ + OH-
Asam 1 basa 1 asam 2 basa 2
Asam 1 dan basa 2 merupakan suatu pasangan asam-basa konjugasi, demikian juga halnya
basa 1 dan asam 2. Basa 2 merupakan basa konjugasi dari asam 1 sedangkan asam 2
merupakan asam konjugasi dari basa 1.
Jadi :
Basa konjugasi adalah :
Basa yang terbentuk akibat berpindahnya proton dari suatu asam.
Asam konjugasi adalah :
Asam yang terbentuk akibat masuknya suatu proton ke dalam suatu basa.
Jadi dalam hal ini terjadi serah terima proton dari satu molekul H2O ke molekul H2O yang
lain.

H2O + H2 O ==== H3O+ + OH-

Dari persamaan reaksi kesetimbangan air tersebut, didapatkan bahwa


konstanta kesetimbangan kimianya adalah :

Atau :
KC [H2O] = [H3O+][OH-]
Nilai [H2O] dapat dianggap tetap karena berwujud cair.
Bila Kc x [H2O] = Kw, maka persamaan diatas akan menjadi :
Kw = [H3O+][OH-]
Pada suhu 25oC, diketahui bahwa [H3O+] = 1,0 x 10-7 M.
Sedangkan dari persamaan reaksi kesetimbangannya diketahui [H3O+]=[OH-].
Akibatnya :
Kw = [H3O+][OH-]
= (1,0 x 10-7) x (1,0 x 10-7)
= 1,0 x 10-14
pKw = - log Kw
= -log 1,0 x 10-14
= 14
Dari nilai [H3O+] dan [OH-] ini kita dapat menentukan apakah suatu larutan bersifat asam,
basa atau netral.
Larutan asam : bila [H3O+]>[OH-]
Larutan netral : bila [H3O+]=[OH-]
Larutan basa : bila [H3O+]<[OH-]
Selain itu keasaman suatu larutan bisa dinyatakan dalam skala pH,
Dimana :
pH = - log [H3O+] atau
[H3O+] = 10-pH
Air adalah larutan yang bersifat netral,
dimana [H3O+]=[OH-]= 1,0 x 10-7,
maka air mempunyai pH :
pH air = -log [H3O+]
= - log 1,0 x 10-7
=7
Dengan demikian dengan cara yang sama akan di dapatkan bahwa :
Larutan asam : punya pH < 7
Larutan netral : punya pH = 7
Larutan basa : punya pH > 7

Indikator Asam-Basa

Indikator asam-basa digunakan untuk mengatahui apakah suatu larutan asam, basa atau
netral. Indikator asam basa merupakan zat yang dapat mengalami perubahan warna dalam
suatu rentang pH yang spesifik.
Tabel 2. Contoh beberapa indicator asam-basa

NAMA TRAYEK pH PERUBAHAN WARNA


1. Asam pikrat 0,1-0,8 Tidak berwarna-kuning
2. Hijau bromkresol 3,8-5,4 Kuning-biru
3. Biru bromtimol 6,0-7,6 Kuning-biru
4. lakmus 4,5-8,3 Merah-biru
5. Fenolftalein 8,2-10,0 Tidak berwarna-merah
6. Kuning alizarin 10,1-12,0 Tidak berwarna-jingga

pH LARUTAN ASAM KUAT DAN BASA KUAT


Asam Kuat :
pH dihitung dari konsentrasi [H3O+] yang ada dalam larutan,
dimana : pH = -log [H3O+] atau : pH = -log [H+]
[H+] = a. M
Dimana a = valensi asam
M = Konsentrasi asam (Molar)
Basa Kuat :
pOH dihitung dari konsentrasi [OH-] yang ada dalam larutan,
Dimana : pOH = -log [OH-]
[OH-] = b. M
Dimana b = valensi basa
M = Konsentrasi basa (Molar)
Dalam kesetimbangan air telah diketahui :
Kw = [H3O+][OH-]
-log Kw = -log [H3O+] + -log [OH-]
pKw = pH + pOH
Karena pKw = 14, maka
pH + pOH = 14
Jadi untuk basa kuat, didapatkan bahwa :
pH = 14 + log [OH-]

KESETIMBANGAN ASAM LEMAH DAN BASA LEMAH

Kesetimbangan Asam Lemah

Suatu asam lemah mengalami ionisasi dengan persamaan kesetimbangan reaksi :


HA + H2O ===== H3O+ + A-

Dengan konstanta protolisa asam :

pH larutan asam lemah sangat tergantung dari nilai Ka ini, dimana dapat didefinisikan :
[H3O+] = (Ka c)½
sehingga :
pH = - ½ (log Ka + log c)
Semakin besar nilai Ka suatu asam semakin kuat keasamannya.
Kesetimbangan Basa Lemah

Suatu basa lemah mengalami ionisasi dengan persamaan kesetimbangan reaksi :


B + H2O ===== BH+ + OH-

Dengan konstanta protolisa asam :

pH larutan basa lemah sangat tergantung dari nilai Kb ini.


Dimana dapat didefinisikan :
[OH-] = (Kb c)½
sehingga :
pOH = -½ (log Kb + log c)
pH = 14 + ½ (log Kb + log c)
Semakin besar nilai Kb, semakin kuat sifat kebasaannya.
Hubungan Ka dan Kb
Terdapat hubungan yang erat antara nilai Ka dan Kb suatu asam/basa.
Dimana : Ka Kb = [H3O+][OH-]
= Kw = 10-14
maka :
-log Ka - log Kb = -log [H3O+]- log (OH-]
pKa + pKb = pH + pOH
= pKw = 14

LARUTAN BUFFER

Larutan buffer :
Larutan yang mampu mempertahankan pH meskipun pada larutan tersebut ditambahkan
sedikit asam maupun basa.
Larutan buffer merupakan campuran dari : Suatu asam lemah dengan basa konjugasinya
(garamnya) atau Suatu basa lemah dengan asam konjugasinya (garamnya)
Contoh :
1. Buffer asetat (campuran CH3COOH dengan CH3COONa)
CH3COOH + H2O ==== CH3COO- + H3O+
2. Buffer format (campuran HCOOH dengan HCOONa)
HCOOH + H2O ==== HCOO- + H3O+
Suatu buffer dapat mempertahankan pH dengan cara menetralisir asam atau basa yang
ditambahkan pada larutan. Jika larutan buffer ditambah sedikit asam, maka asam yang
ditambahkan akan bereaksi dengan basa konjugasi dari asam lemah yang terdapat dalam
larutan buffer.
Contoh :
Buffer asetat + larutan HCl, maka akan berlangsung reaksi netralisasi sbb:
CH3COONa+ + HCl === CH3COOH + NaCl
basa konjugasi
dari buffer
Jika larutan buffer ditambah sedikit basa, maka basa yang ditambahkan akan bereaksi dengan
asam lemah yang terdapat dalam larutan buffer.
Contoh :
CH3COOH + NaOH ==== CH3COONa + H2O
asam lemah
dari buffer

pH Larutan Buffer

pH dari larutan buffer dapat ditentukan dengan rumus :

Jadi perbandingan konsentrasi dari asam lemah dan garamnya sangat menentukan pH dari
larutan buffer.
Proses pengenceran tidak akan mempengaruhi pH larutan buffer, sebab dengan pengenceran,
baik konsentrasi garam maupun asam akan berubah secara bersamaan, sehingga
perbandingan konsentrasinya akan tetap.
Kurva Titrasi
Kurva titrasi dapat diperoleh dengan menghitung pH larutan selama titrasi berlangsung.
Untuk itu dibedakan empat daerah titrasi:
1. titik awal titrasi, yakni sebelum titrasi dimulai, jadi pH yang diukur adalah pH titrat.
2. Daerah sebelum titik ekivalen, pH yang diukur adalah pH larutan campuran antara titrat dan
titran
3. Daerah saat titik ekivalen, saat jumlah mol titrat tepat habis bereaksi dengan jumlah mol
titran
4. Daerah setelah titik ekivalen, pH yang diukur adalah pH larutan campuran antara titrat dan
titran.
Titrasi Asam kuat oleh basa kuat
Misalnya 20 ml HCL 0,1M dititrasi oleh NaOH 0,1M:

1. Awal Titrasi, pH larutan asam kuat [H+] = a. M

[H+] = 1. 0,1 pH=-log [H+] pH= -log 0,1 maka pH=1


2. sebelum titik ekivalen (volume NaOH kurang dari 20ml misal 5ml), larutan berisi garam dan
sisa asam kuat, sehingga pH larutan diitung berdasarkan pH larutan sisa asam kuat.
HCl + NaOH NaCl + H2O
Awal : 2mmol 0,5mmol - -
Bereaksi: 0,5mmol 0,5mmol 0,5mmol 0,5mmol
Sisa: 1,5mmol - 0,5mmol 0,5mmol

pH=-log [H+] pH=-log [HCl] pH=-log[1,5mmol/Vol larutan]


pH=-log1,5/25 pH=-log0,06 pH=1,2218

3. saat titik ekivalen, pH larutan sama dengan 7


4. setelah titik ekivalen (volume NaOH lebih dari 20ml misal 22ml), larutan berisi garam dan
sisa basa kuat, jadi pH dihitung berdasarkan pH larutan sisa basa kuat.
HCl + NaOH NaCl + H2O
Awal : 2mmol 2,2mmol - -
Bereaksi: 2mmol 2mmol 2mmol 2mmol
Sisa: - 0,2mmol 2mmol 2mmol

pOH=-log [OH-] pOH=-log [NaOH]


pOH=-log [0,2mmol/Vol larutan]
pOH=-log0,2/42 pOH=-log4,7619x10-3 pOH=2,322
pH= 14-pOH pH= 14 – 2,322 pH=11,678

Titrasi Asam lemah oleh basa kuat


Misalnya 20 ml CH3COOH 0,1M Ka=1x10-5 dititrasi oleh NaOH 0,1M:

1. Awal Titrasi, pH larutan asam lemah [H+] = √ Ka. M

[H+] =√1x10-5. 0,1 pH=-log [H+] pH= -log√1x10-5. 0,1


maka pH=-log 10-3 pH=3
2. sebelum titik ekivalen (volume NaOH kurang dari 20ml misal 5ml), larutan berisi garam dan
sisa asam kuat, sehingga pH larutan dihitung berdasarkan pH larutan sisa asam kuat.
CH3COOH + NaOH
CH3COONa + H2O
Awal : 2mmol 0,5mmol - -
Bereaksi: 0,5mmol 0,5mmol 0,5mmol 0,5mmol
Sisa: 1,5mmol - 0,5mmol 0,5mmol
pH dihitung berdasarkan larutan buffer asam, yaitu

pH=-log ka x –log (1,5/25)/(0,5/25) pH=-log3 x 10 -5


pH=4,523

3. saat titik ekivalen, pH larutan dihitung berdasar hidrolisis


4. setelah titik ekivalen (volume NaOH lebih dari 20ml misal 22ml), larutan berisi garam dan
sisa basa kuat, jadi pH dihitung berdasarkan pH larutan sisa basa kuat.
HCl + NaOH NaCl + H2O
Awal : 2mmol 2,2mmol - -
Bereaksi: 2mmol 2mmol 2mmol 2mmol
Sisa: - 0,2mmol 2mmol 2mmol

pOH=-log [OH-] pOH=-log [NaOH]


pOH=-log [0,2mmol/Vol larutan]
pOH=-log0,2/42 pOH=-log4,7619x10-3 pOH=2,322
pH= 14-pOH pH= 14 – 2,322 pH=11,678

Latihan Soal
1. Jika dilakukan titrasi asam lemah oleh basa kuat, ada beberapa indikator yang disiapkan, yaitu
jingga metil, biru bromtimol dan fenolftalein. Indikator mana yang paling tepat digunakan,
sertakan alasannya.
2. Larutan HCl 0,0900M sebanyak 40,00ml diencerkan menjadi 100ml dengan air dan dititrasi
dengan NaOH 0,1000M. Hitunglah pH setelah penambahan titran (dalam mililiter) sebagai
berikut:
a. 00,00ml b. 10,00ml c.18,00ml d. 30,00ml
e. 35,95ml f. 36,00ml g. 36,05ml h. 40,00ml
Buatlah kurva titrasinya!