Anda di halaman 1dari 16

Tugas Mata Kuliah Metodologi Riset Akuntansi

Oleh:
Febrina astria verasvera 120620190019
Lena Herlina 120620190023
Zahra Harlianti Sujana 120620190030

Prodi Magister Akuntansi


Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Padjadjaran

2019
Skala Pengukuran
1. Pendahuluan

Dalam penelitian kuantitatif, Peneliti akan menggunakan instrument untuk


mengumpulkan data, sedangkan dalam penelitian kualitatif-naturalistic peneliti
akan lebih banyak menjadi instrument, karena dalam penelitian kualitatif
peneliti merupakan key instrument.

Instrumen penelitian digunakan untuk mengukur nilai variable yang


diteliti. Dengan demikian jumlah instrument yang akan digunakan untuk
penelitian akan tergantung pada jumlah variable yang diteliti. Bila variable
penelitiannya 5, maka jumlah instrument yang digunakan untuk penelitian juga
5. Instrumen-instrumen penelitian sudah ada yang dibakukan, tetapi masih ada
yang harus dibuat peneliti sendiri. Karena instrument penelitian akan digunakan
untuk melakukan pengukuran dengan tujuan menghasilkan data kuantitatif yang
akurat, Maka setiap instrumen harus mempunyai skala.

2. Skala Pengukuran

Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan


untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur,
sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan
menghasilkan data kuantitatif. Sebagai contoh, misalnya timbangan emas
sebagai instrumen untuk mengukur berat emas, dibuat dengan skala milligram
(mg) dan akan menghasilkan data kuantitatif berat emas dalam satuan mg bila
digunakan untuk mengukur; meteran sebagai instrument untuk mengukur
panjang dibuat dengan skala mm, dan akan menghasilkan data kuantitatif
panjang dengan satuan mm.
Dengan skala pengukuran ini, maka nilai variable yang diukur dengan
instrument tertentu dapat dinyatakan dalam bentuk angka, sehingga akan lebih
akurat, efisien dan komunikatif. Berbagai skala sikap yang dapat digunakan
untuk penelitian administrasi, pendidikan, dan social antara lain adalah :

1 Skala Likert

2 Skala Gutman

3 Skala Diferensial Tematik

4 Skala Penilaian

5 Skala Thurstone

6 Skala Bogardus.

2.1 Skala Likert

Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat,


dan persepsi seseorang atau kelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam
penelitian, fenomena sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti,
yang selanjutnya disebut sebagai variable penelitian.Dengan skala likert, maka
variable yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian
indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item
instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan. Jawaban setiap item
instrument yang menggunakan skala likert mempunyai gradasi dari sangat
setuju sampai sangat tidak setuju,yang dapat berupa kata-kata antara lain;

a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju.
e. Sangat tidak setuju
Untuk keperluan analisis kuantitatif, maka jawaban itu dapat diberi skor,
misalnya :

a. Sangat Setuju diberi skor 5


b. Setuju diberi skor 4
c. Ragu-ragu diberi skor 3
d. Tidak setuju diberi skor 2
e. Sangat tidak setuju 1

Instrumen penelitian yang menggunakan skala Likert dapat dibuat dalam


bentuk checklist ataupun pilihan ganda.

1) Contoh Bentuk Checklist


Berilah jawaban pertanyaan berikut sesuai dengan pendapat
anda, dengan cara memberi tanda ( √ ) pada kolom yang tersedia.

No Pertanyaan Jawaban
SS ST RG TS STS
1 Prosedur kerja yang baru
ituakan segera diterapkan √
di perusahaan anda
2 ………………………..

Ket :

SS = Sangat Setuju diberi skor 5

S = Setuju diberi skor 4

RG = Ragu-ragu diberi skor 3

TS = Tidak Setuju diberi skor 2

STS = Sangat Tidak Setuju diberi skor 1


2) Contoh Bentuk Pilihan Ganda
Berilah salah satu jawaban terhadap pertanyaan berikut sesuaidengan
pendapat anda, dengan cara memberi tanda lingkaran padanomor jawaban
yang tersedia.

Prosedur kerja yang baru itu akan segera diterapkan di lembaga anda ?

a) Sangat tidak setuju


b) Tidak setuju
c) Ragu-ragu
d) Setuju
e) Sangat setuju

Dengan bentuk pilihan ganda itu, maka jawaban dapat


diletakkan pada tempat yang berbeda-beda. Untuk jawaban diatas “sangat tidak
setuju” diletakkan pada jawaban nomor 1. Untuk item selanjutnya jawaban
“sangat tidak setuju” diletakkan pada jawaban nomor terakhir”.

Dalam penyusunan instrumen untuk variable tertentu, sebaiknya butir-


butir pertanyaan dibuat dalam bentuk kalimat positif, netral atau negative,
sehingga responden dapat menjawab dengan serius dan konstan.

2.2 Skala Guttman

Skala pengukuran dengan tipe ini akan didapat jawaban yang tegas,
yaitu “ya-tidak”, “benar -salah”, dan lain-lain. Penelitian menggunakan skala
Guttman dilakukan bila ingin mendapatkan jawaban yang tegas terhadap suatu
permasalahan yang ditanyakan.

Contoh:

Bagaimana pendapat anda, bila orang itu menjabat pimpinan di perusahaan ini ?

a. Setuju
b. Tidak Setuju
Skala Guttman selain dapat dibuat dalam bentuk pilihan
ganda, juga dapat dibuat dalam bentuk checklist. Jawaban dapat dibuat skor
tertinggi satu dan terendah nol. Pertanyaan yang berkenaan dengan fakta benda
bukan termasuk dalam skala pengukuran interval dikotonomi.

2.3 Skala Diferensial Tematik

Skala pengukuran yang berbentuk semantic defferential dikembangkan


oleh Osgood. Skala ini juga digunakan untuk mengukur sikap, hanya bentuknya
tidak pilihan ganda atau checklist, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum
yang jawaban “sangat positifnya” terletak di bagian kanan garis, dan jawaban
“sangat negatif” terletak di bagian kiri garis, atau sebaliknya. Data yang
diperoleh adalah data interval, dan biasanya skala ini digunakan untuk
mengukur sikap/karakteristik tertentu yang dipunyai seseorang. Contoh:

Mohon diberi nilai gaya kepemimpinan kepala sekolah:

Bersahabat 5 4 3 2 1 Tidak Bersahabat

Tepat Janji 5 4 3 2 1 Lupa Janji

Bersaudara 5 4 3 2 1 Memusuhi

Memberi Pujian 5 4 3 2 1 Mendominasi

Responden dapat memberi jawaban pada rentang jawaban yang positif


sampai dengan negatif. Hal ini tergantung kepada persepsi responden terhadap
kepada yang dinilai.

Responden yang memberi penilaian dengan angka 5, berarti persepsi


responden terhadap Kepala Sekolah itu sangat positif, sedangkan bila memberi
jawaban pada angka 3, berarti netral, dan bila memberi jawaban pada angka 1,
maka persepsi responden terhadap Kepala Sekolah sangat negatif.
2.4 Skala Penilaian

Dari ketiga skala pengukuran seperti yang telah dikemukakan, data yang
diperoleh semuanya adalah data kualitatif yang kemudian dikuantitatifkan.
Tetapi dengan skala pengukuran data mentah yang diperoleh berupa angka
kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif.

Responden menjawab, senang atau tidak senang, setuju atau tidak


setuju, pernah-tidak pernah adalah merupakan data kualitatif. Dalam skala
model skala pengukuran, responden tidak akan menjawab salah satu dari
jawaban kuantitatif yang telah disediakan. Oleh karena itu, skala pengukuran
ini lebih fleksibel, tidak terbatas untuk pengukuran sikap saja tetapi untuk
mengukur persepsi responden terhadap fenomena lainnya, seperti skala untuk
mengukur status sosial ekonomi, kelembagaan, pengetahuan, kemampuan,
proses kegiatan dan lain-lain.

Yang penting bagi penyusun instrumen dengan skala pengukuran adalah


harus dapat mengartikan setiap angka yang diberikan pada alternatif jawaban
pada setiap item instrumen. Orang tertentu memilih jawaban angka 2, tetapi
angka 2 oleh orang tertentu belum tentu sama maknanya dengan orang lain
yang juga memilih jawaban dengan angka 2. Contoh :

Seberapa baik ruang kelas di sekolah ini ?

4. Tata ruang itu sangat baik.

3. Tata ruang itu cukup baik.

2. Tata ruang itu kurang baik.

1. Tata ruang itu sangat tidak baik.


2.5 Skala Bogardus
2.5.1 Pengertian Skala Bogardus
Skala Bogardus disebut juga Bogardus Social Distance atau jarak sosial,
dicetuskan oleh E.S Bogardus pada tahun 1925. Emory S. Bogardus adalah
seorang sosiolog di Amerika Serikat yang pertamakali membakukan konsep
skala bogardus atau penjarakan sosial. Satu diantara banyak karyanya dalam
kajian sosiologi adalah penelitian tahun 1925 tentang jarak sosial yang ada di
masyarakat Amerika Serikat pada saat itu. Mulai dari situlah Skala Bogardus
dibakukan dan menjadi indikator penting dalam penelitian.

Skala Bogardus atau skala jarak sosial, secara kuantitatif skala ini
berupaya untuk mengukur “jarak sosial” antar individu (kelompok) atau sikap
penerimaan terhadap individu (kelompok) lain, mengukur tingkat jarak
seseorang yang diharapkan untuk memelihara hubungan orang dengan
kelompok lain. Dengan skala bogardus responden diminta untuk mengisi atau
menjawab pertanyaan dari tujuh pertanyaan untuk melihat jarak sosial terhadap
grup etnik lainnya, masing-masing pertanyaan akan diberi skor dan angka yang
lebih tinggi mencerminkan jarak sosial yang lebih besar (Parillo, Vincent N dan
Donoghue,Christopher : 2005).

2.5.2 Penggunaan Skala Bogardus


Skala Bogardus bersifat kumulatif yaitu individu yang menunjukkan sikap
positif terhadap item yang menunjukkan jarak sosial yang sempit dengan
sendirinya juga akan memberi respon positif terhadap hubungan yang
menunjukkan jarak sosial yang lebih lebar. Penggunaan skala ini untuk
menghitung jarak sosial atau aplikasi lainnya hanya digunakan untuk study-
study yang perlu disiapkan dalam waktu yang tidak lama dan tidak memerlukan
presisi yang terlalu tinggi.
2.5.3 Bentuk Skala Bogardus
Skala Bogardus ini berbentuk pernyataan yang umumnya berisi lima hingga
tujuh pernyataan yang mengungkapkan keintiman yang semakin kuat atau
lemah terhadap suatu kelompok. Disusun dengan menggunakan 7 kategori,
yang bergerak mulai dari yang ekstrim menerima sampai dengan yang ekstrim
menolak  Skor 1-7, dimana skor 1 menunjukkan tidak ada jarak sosial, tidak
prejudice.
Pengukuran jarak sosial dinyatakan dalam bentuk kedekatan (nearness) atau
kejauhan (farness). Bila individu menganggap ada perbedaan sosial yang kecil
terjadi kedekatan sosial (social nearness). Begitu juga sebaliknya bila dianggap
ada perbedaan sosial yang besar, maka terjadi kejauhan sosial (social farness).
Oleh karena itu, pengukuran jarak sosial dilakukan dengan memvariasikan
derajat, tingkat pemahaman dan perasaan yang muncul dalam situasi sosial
(Bogardus, 1971). Pengukuran jarak sosial umumnya dilakukan untuk
mengetahui bagaimana seorang individu (sebagai anggota suatu kelompok)
mau menerima individu atau kelompok yang berbeda. Pengukuran dilakukan
dengan memberikan sejumlah status atau situasi sosial dari kelompok yang
berbeda tersebut, lalu individu diminta untuk menentukan manakah yang
disetujuinya. Data seluruh partisipan digunakan untuk menentukan urutan
situasi tersebut dalam derajat jarak sosialnya, dari tertinggi hingga terendah.

2.5.4 Langkah Menyusun Skala Bogardus


Dalam menyusun skala bogardus seorang tokoh yang bernama Komorovsky
membagi dua kategori yang digunakan untuk menyusun skala bogardus. Dua
kategori tersebut antara lain yaitu: vertical social distance (jarak sosial vertikal)
dan horizontal social distance (jarak sosial horisontal). Jarak sosial vertikal
mengacu kepada derajat penerimaan dalam suatu hirarki kelompok sosial,
misalnya berdasarkan tingkat pekerjaan, pendidikan, atau pekerjaan. Jarak
sosial horizontal yang dimaksud oleh Komorovsky sama seperti konsep jarak
sosial yang diajukan oleh Bogardus, yaitu mengenai penilaian perbedaan antara
individu sebagai anggota suatu kelompok dengan anggota kelompok lain
(Cavan, 1971).
Cara-cara membuat skala bogardus adalah sebagai berikut:
1. Kalikan skor dengan presentasi dalam sel matriks
2. Jumlah hasil perkalian tersebut masing-masing satu suku
3. Hasil penjumlahan ini adalah skor untuk kelompok suku tersebut dan
total skor ini pula menjadi skala.

2.5.5 Skoring (Cara Penilaian)


Skala bogardus umumnya berisi lima hingga tujuh pernyataan yang
mengungkapkan keintiman yang semakin kuat atau semakin lemah terhadap
suatu kelompok. Setiap pernyataan yang ditulis dapat disepakati sebagai
pernyataan yang favourable dan pernyataan unfavourable. Setiap situasi yang
disetujui diberi skor 1 dan situasi yang tidak disetujui diskor 0. Skor partisipan
berasal dari jumlah item yang disetujui, sehingga semakin besar skornya
semakin kecil jarak sosialnya.

No FAVOURABLE SKOR UNFAVOURABLE SKOR


1 Ya 1 TIDAK 1
2 Tidak 0 Ya 0

2.5.6 Penyusunan Alat Ukur Perilaku dengan Skala


Contoh penyusunan skala yang baik dalam skala jarak sosial bogardus, skala ini
mencoba mengukur kesediaan orang kulit putih berhubungan dengan kulit
hitam.
Skala Jarak Sosial Bogardus
Pertanyaan Jawaban
1. Apakah saudara menerima orang
hitam menikah dengan saudara?
2. Apakah saudara menerima orang
hitam menjadi tetangga saudara?
3. Apakah saudara menerima kulit
hitam sebagai teman se klub?
4. Apakah saudara menerima orang
hitan bekerja dikantor saudara?
5. Apakah saudara menerima orang
hitam sebagai warga negeri ini?

Skor Total

2.5.7 Interpretasi
Dapat di interpretasikan bila seseorang setuju untuk menerima kulit putih
terhadap kulit hitam sebagai keluarga, maka ia pasti juga akan setuju untuk
menerima sebagai sahabat dan situasi lainnya yang kurang intim. Bila
seseorang kulit putih hanya setuju untuk menerima kulit hitam sebagai
tetangga, maka ia akan menerima kulit hitam pada situasi lain yang kurang
intim dibandingkan tetangga (yaitu sebagai warga negara dan turis) dan tidak
akan menerima kulit hitam pada situasi yang lebih intim dibandingkan tetangga
(teman, sahabat, dan anggota keluarga).

2.6 Skala Thurstone


2.6.1 Pengertian Skala Thrustone
Skala Thurstone merupakan salah satu skala sikap yang disusun dengan
memilih butir yang berbentuk skala interval. Setiap butir memiliki kunci skor
dan jika disusun, kunci skor menghasilkan nilai yang berjarak sama. Skala
Thurstone dibuat dalam bentuk sejumlah (40-50) pernyataan yang relevan
dengan variable yang hendak diukur kemudian sejumlah ahli (20-40) orang
menilai relevansi pernyataan itu dengan konten atau konstruk yang hendak
diukur.
Skala Thurstone meminta responden untuk memilih pertanyaan yang disetujui
dari beberapa pernyataan yang menyajikan pandangan yang berbeda-
beda. Metode pengukuran ini dikembangkan untuk menilai secara spesifik
terhadap objek atau subjek yang hendak diteliti. Skala Thurstone dilihat dari
bentuk tampilan mirip dengan skala Likert.
Perbedaannya, bila skala Likert menilai sikap dengan cara menanyakan
responden untuk menunjukkan tingkat atau derajat sangat setuju (SS), setuju
(S), tidak setuju (TS), dan sangat tidak setuju (STS) melalui pernyataan atau
pertanyaan kepada responden untuk kemudian mereka memilih di antara
pernyataan atau pertanyaan mana yang paling mendekati kecocokan jawaban
dengan pilihan sikap mereka, skala Thurstone menilai sikap dengan cara
merepresentasikan statemen tentang topik yang disusun dari yang tidak favorit,
netral, dan sangat tidak disenangi. Responden dalam hal ini dianjurkan untuk
memilih pernyataan item yang hampir mendekati atau cocok dengan pilihan
sikap mereka. Pada skala Thurstone interval yang panjangnya sama memiliki
intensitas kekuatan yang sama, sedangkan pada skala Likert tidak perlu
sama.

2.6.2 Langkah-Langkah Membuat Instrumen Dengan Menggunakan Skala


Thrustone
Pembuatan skala Thurstone dapat dilakukan dengan langkah-langkah seperti
berikut :
1. Mengumpulkan sejumlah pernyataan misalnya 50-100 tingkatan yang
merepresentasikan secara luas perbedaan tingkat, disenangi, netral, dan
tidak disenangi terhadap suatu objek atau subjek yang hendak diteliti.
2. Pernyataan ini diberikan pada sejumlah responden misal 50 orang atau
lebih yang cukup mengenal terhadap objek atau subjek agar dapat
memilih ke dalam 11 tingkatan kategori tersebut. Kategori A terdiri
atas pernyataan yang dianggap disenangi atau favorit, E F netral, dan J
K merupakan kategori tidak disenangi atau tidak favorit.
3. Klasifikasi pernyataan ke dalam kategori, dengan pertimbangan
penilaian terhadap objek atau subjek secara psikologis, tetapi hanya
merefleksikan persepsi mereka terhadap kategori pernyataan yang
disediakan.
4. Pernyataan yang nilainya menyebar dibuang, dan pernyataan yang
mempunyai nilai bersamaan digunakan untuk pembuatan skala.
5. Skor tinggi pada skala berarti mereka memiliki tingkat prasangka
terhadap sifat yang ingin diteliti. Skor terendah berarti responden
mempunyai sifat favorit terhadap sifat yang ingin diteliti.

Skala Thurstone tidak terlalu banyak digunakan sebagai instrumen di bidang


pendidikan karena model ini mempunyai beberapa kelemahan yang di
antaranya seperti berikut :
1. Memerlukan terlalu banyak pekerjaan untuk membuat skala.
2. Nilai pada skala yang telah dibuat memungkinkan pada skor sama
mempunyai sikap berbeda.
3. Nilai yang dibuat dipengaruhi oleh sikap para juri atau penilai.
4. Memerlukan tim penilai yang objektif.
2.6.3 Contoh Instrumen Dengan Menggunakan Skala Thrustone
Minat Siswa terhadap pelajaran Matematika
Nama :
Mata Pelajaran :
Kelas :
Petunjuk
Isilah angket di bawah ini dengan memberikan tanda “√” pada kolom yang
tersedia.
Pernyataan 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1
Siswa berusaha
hadir tiap
pelajaran
Matematika
Siswa berusaha
mengerjakan tugas
matematika.
Siswa dapat
menyelesaikan
tugas matematika
tepat waktu.
Siswa berusaha
mendapatkan nilai
terbaik pada
pelajaran
matematika.
Pelajaran
matematika
membosankan.
3. Kesimpulan

Dalam proses penelitian, tentu saja hal yang paling penting adalah apa yang
diteliti. Maka ketika kita ingin mengumpulkan data dari apa yang kita teliti
maka disinilah peran Skala Pengukuran dan instrumen penelitian. Ketika
peneliti sudah mengetahui apa tujuan dari penelitiannya dan apa yang ia teliti
maka yang harus diperhatikan adalah bagaimana memilih metode dan
instrumen dalam penelitian yang ia lakukan.
Daftar Pustaka

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. E.

Bandung: Alfabeta,CV.

www.academia.edu