Anda di halaman 1dari 10

Seleksi Itik Magelang Jantan Berdasarkan Sifat Produksi Dan Reproduksi

Keturunannya Di Balai Pembibitan Dan Budidaya Ternak Non Ruminansia Di


Banyubiru, Ambarawa, Kabupaten Semarang

(Selection of MaleMagelang Duck Based on Productive and ReproductiveTraits of


Offspring in Balai Pembibitan Dan Budidaya Ternak Non RuminansiaBanyubiru,
Ambarawa, SemarangRegency).

M. A. Ro q*, Sutiyono** dan E. Kurnianto**


*) Mahasiswa Program Studi S1 PeternakanUniversitas Diponegoro
**) Pengajar Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro
Kampus drh. R. Soedjono Koesoemowardjojo Tembalang Semarang 50275
Email: ainurswp@gmail.com

ABSTRAK
Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh bobot badan induk dan
pejantanterhadap fertilitas, daya tetas, bobot tetas dan bobot itik muda umur 8 minggu.Penelitian
ini dilaksanakan pada bulan Oktober-November 2015 bertempat di Desa Ngrapah, Kecamatan
Banyubiru, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.Materi yang digunakan dalam
penelitian ini adalah 35 ekor itik Magelang generasi pertama (G1) yang terdiri dari 30 ekor betina
dan 5 ekor jantan berumur 6 bulan, yang ditempatkan pada 5 flock dengan perbandingan nisbah
perkawinan (mating ratio) 1:6 dan Itik Magelang generasi kedua (G2) yang diperoleh dari
perkawinan itik Magelang G1. Materi dibagi menjadi 5 flock dengan pembagian bobot badan
masing-masing 1,47-1,7 kg flock A, 1,72-1,8 kg flock B, 1,86-1,91 kg flock C, 1,94-2,02 kg flock D
dan 2,02-2,45 kg flock E. Parameter penelitian adalah fertilitas G1, daya tetas G1, bobot tetas G2
dan bobot badan itik G2 umur 8 minggu. Data dianalisis dengan menggunakan analisis ragam
dengan data yang tidak sama (unbalance data). Nilai pemuliaan setiap jantan diduga untuk
mengetahui pejantan yang mempunyai mutu genetiknya.Hasil penelitian menunjukkan bahwa
tidak ada perbedaan pengaruh bobot badan induk dan pejantanterhadap fertilitas, daya tetas,
bobot tetas dan bobot itik muda umur 8 minggu. Berdasarkan total nilai Estimated Breeding Value
(EBV) urutan pejantan yang terbaik adalah D, C, E, B dan A. Disimpulkan hasil perhitungan EBV
menunjukkan bahwa pejantan D mempunyai kualitas genetik terbaik.

Kata kunci: Itik Magelang, Bobot Badan, Produksi, Reproduksi dan Estimated Breeding Value

ABSTRACT
The objective of this research was to analyze the influence of parent body weight on
fertility, hatchability, hatching weight and weight of young duck at 8 weeks. This research was
conducted from October to November 2015 located at Ngrapah Village, Banyubiru Sub-district,
Ambarawa, Semarang Regency, Central Java. The material used in this study was 35 first-
generation Magelang ducks (G1) consisting of 30 female and 5 males aged 6 months and placed in
5 flocks with mating ratio of male : female wis 1 : 6. The material was divided into 5 flocks with the
weight of flock was each 1.47-1.7 kg flock A, 1.72-1.8 kg flock B, 1.86-1.91 kg flock C, 1.94-2 , 02 kg
flock D and 2.02-2.45 kg flock E. The research parameters were fertility of G1, hatchability of G1,
hatching weight of G2 and body weight of G2 at 8 weeks old. The data were analyzed by using
variance analysis with unbalance data.Estimated Breeding Value (EBV) of each male was
calculated to know the genetic capasity. The results showed that there was no difference in the
effect of parent body weight to fertility, hatchability, hatching weight at G2 and weight of young duck
at 8 weeks old. Mean while the total value of the best estimate of EBVwas D, C, E, B and A
respectirely. It can be concluded, male in flock D showed the best genetic quality compared to other
males.

Keywords: Magelang Ducks, body weight, production, reproduction, estimated breeding value.

M. A. Rofiq*, Sutiyono** dan E. Kurnianto** : Seleksi Itik Magelang Jantan Berdasarkan Sifat Produksi Dan Reproduksi Keturunannya 47
PENDAHULUAN pejantan.Uji zuriat dapat dilakukan
Itik magelang merupakan salah dengan mengetahui potensi genetik dari
satu jenis itik asli Indonesia yang berasal jantan melalui bobot tetas dan bobot itik
dari Kabupaten Magelang Provinsi Jawa muda umur 8 minggu keturunannya.
Tengah yang cukup dikenal di dunia Pintaka et al. (2014) bahwa uji zuriat
peternakan. Itik Magelang merupakan digunakan untuk mengetahui
salah satu satu penghasil produk unggas keunggulan genetik pejantan yang
air yang mempunyai potensi besar untuk diwariskan pada keturunannya.
dikembangkan. Hal tersebut karena itik Berdasarkan uraian diatas bahwa
Magelang memiliki nilai ekonomis yang bo bot bad an induk dan pejantan
t i ngg i dan m em i liki keunggulan memberikan pengaruh terhadap
dibandingkan dengan itik lainnya, produksi telur dan anak, maka dilakukan
khususnya dalam hal produktivitas telur penelitian untuk mencari bobot badan
dan daya adaptasi yang tinggi terhadap induk dan pejantan itik Magelang yang
lingkungan yang baru,sehinggabanyak mempunyai fertilitas, daya tetas, bobot
dikembangkan didaerah lain. Tingginya tetas dan bobot itik muda umur 8 minggu
permintaan terhadap kebutuhan pangan yang baik. Penelitian bertujuan untuk
berupa telur dan dagingmengalami mengetahui pengaruh bobot badan induk
kendala dalam hal ketersediaan secara dan pejantanterhadap fertilitas, daya
kontinyu.Untuk memenuhi ketersediaan tetas, bobot tetas dan bobot itik muda
bahan pangan telur dan daging, salah umur 8 minggu.
satunya dengan meningkatkan kualitas
genetik dari induk dan jantan sebagai
MATERI DAN METODE
bibit itik.Setioko et al. (1997)
Waktu dan tempat penelitian
menyatakan bahwa bibit itik yang
Penelitian seleksi itik Magelang
berkualitas dapat digunakan sebagai
jantan berdasarkan sifat produksi dan
induk dan pejantan untuk peternak kecil
reproduksi keturunannyadilaksanakan
p ed e sa an. Sya rat bibit itik yang
pada bulan Oktober-November 2015
berkualitas memiliki tubuh besar, bulu
bertempat di Desa Ngrapah, Kecamatan
mengkilap dan bersih, tingkah laku gesit
Banyubiru, Ambarawa, Kabupaten
dan aktif, memiliki mata yang jernih dan
Semarang, Jawa Tengah.
terang, berumur produktif minimal 8
bulan sampai 2 tahun dan bobot badan Materi Penelitian
1,5-2 kg (Cahyono, 2011). Materi yang digunakan dalam
Usaha mendapatkan bibit itik penelitian ini adalah 35 ekor itik
yang bermutu dan peningkatan Magelang generasi pertama (G1) yang
produksi, maka perlu dilakukan program terdiri dari 30 ekor betina dan 5 ekor
seleksi terhadap induk dan pejantan pejantan masing-masing berumur 6
yang memiliki bobot badan berbeda bulan, yang ditempatkan pada 5 flock
yang dapat menghasilkan fertilitas, daya dengan perbandingan jantan dan betina
tetas, bobot tetas dan bobot itik umur 8 (mating ratio) 1:6. Penempatan materi
minggu terbaik.Lestari et al. (2013) pada masing-masing flock dibedakan
menyatakan bahwa bobot badan induk sesuai dengan bobot badan yang rendah
dan pejantan mempengaruhi bobot sampai tinggi dari induk dan jantan itik
telur.Pejantan memiliki peranan paling Magelang. Alat yang digunakan yaitu egg
penting dalam program seleksi karena tray, timbangan elektrik 4 digit, kabel
seekor pejantan dapat digunakan untuk ties,lampu, kain kelambu, mesin setter,
m eng awi n i sek e l ompok betina, mesin hatcher dan alat tulis.
sehingga perlu dilakukan uji zuriat pada

48 , Vol. 36, No. 1 Maret 2018


Metode Penelitian analisis ragam dengan data yang tidak
Penelitian ini dilakukan dengan sama (unbalance data) dan bila ada
cara observasional data, dengan perbedaan nyata maka dilakukan uji
melakukan pengamatan perbedaan Duncan menurut prosedur Steel dan
bobot badan induk dan pejantan itik To r r i e ( 1 9 9 3 ) , s e d a n g k a n u j i n i l a i
Magelang berumur 6 bulan. Pembagian pemuliaan (EBV) untuk mengetahui
kelompok bobot badan itik tiap flock pejantan terbaik (Kurnianto, 2012).
sebagai berikut 1,47-1,7 kg flock A,
1,72-1,8 kg flock B, 1,86-1,91 kg flock C, Heritabilitas
1,94-2,02 kg flock D dan 2,02-2,45 kg Heritabilitas dengan rumus sebagai
flock E.Parameter yang diamati dalam berikut :
penelitian ini sebagai berikut :

Fertilitas
Perhitungan fertilitas digunakan Keterangan :
rumus menurut North and Bell (1990)
sebagai berikut :
Jumlah telur yang fertil
Fertilitas = x 100%
jumlah yang ditetaskan
Daya tetas Nilai Pemuliaan
Untuk perhitungan daya tetas Estimated Breeding Value (EBV)
digunakan rumus menurut North and dihitung menggunakan rumus berikut :
Bell (1990) sebagai berikut :
Jumlah telur yang menetas
DT = x 100%
jumlah telur yang fertil
Bobot tetas Keterangan :
Bobot tetas didapatkan pada hari n : jumlah anak
2
ke-28 setelah telur di mesin hatcher h : heritabilitas sifat
menetas. Pemeriksaan dilakukan setiap t : intraclass correlation,
12 jam sekali untuk memastikan bahwa besarnya = 0,25 h2
Day Old Duck (DOD) yang sudah Pi : rata-rata produksi dari ternak
menetas dan kering bulunya dapat yang sedang dihitung EBV-nya
ditimbang. Pp : rata-rata produksi dari ternak-
ternak pembanding (ternak-
Bobot badan itik generasi kedua (G2) ternak lain yang berproduksi
umur 8 minggu pada tempat dan waktu yang
Bobot badan itik Magelang G2 sama).
umur 8 minggu didapatkan dari
penimbangan yang dilakukan pagi hari Penilaian EBV untuk seleksi pejantan
atau sebelum itik diberi makan, pada yang tertinggi mendapatkan nilai 5,
saat itik Magelang G2 berumur 8 berturut-turut sampai EBV pejantan yang
minggu. terendah mendapatkan nilai 1.
Analisis Data HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis data fertilitas, daya tetas, Fertilitas
bobot tetas dan bobot itik G2 umur 8 Hasil penelitian dapat diketahui
minggu dianalisis menggunakan bahwa fertilitas yang dihasilkan oleh

M. A. Rofiq*, Sutiyono** dan E. Kurnianto** : Seleksi Itik Magelang Jantan Berdasarkan Sifat Produksi Dan Reproduksi Keturunannya 47
bobot badan induk dan pejantan (Tabel b er bed a s eh ingg a fertilitas yang
1) menunjukkan hasil yang tidak berbeda dihasilkan tidak berbeda.Black (2005)
nyata.Tidak terdapat perbedaan nyata menyatakan tinggi rendahnya fertilitas
antar flock, dikarenakan tingkah laku disebabkan oleh kualitas sperma
perkawinan pada induk dan pejantan.Umur induk dan pejantan yang
p e j a n t a n . Bobot badan induk dan digunakan pada tiap flocktidak berbeda
pejantan yang berbeda tidak yaitu 6 bulan sehingga fertilitas yang
mempengaruhi aktivitas perkawinan dihasilkan tidak berbeda antar flock.
s ehing g a t ing k at fertilitas yang Menurut Suryana et al. (2013), umur itik
dihasilkan tidak berbeda. Menurut yang bervariasi dapat mempengaruhi
Tomlison et al. (1999), bobot tubuh produksi telur.
ternak sangat berpengaruh terhadap Rataan fertilitas telur yang terdapat
aktivitas ternak di dalam kandang, pada Tabel 1.tertinggi pada flock C yaitu
termasuk dalam aktivitas perkawinan 70,80%. Menurut Imam et al. (2013),
antara jantan dan betina. fertilitas pada itik Magelang antara 85,97-
Faktor lain yang mempengaruhi 91,19%. Fertilitas pada itik persilangan
adalah nutrisi yang dikonsumsi antar Mojosari dan Alabio sebesar 85,6%
induk dan pejantan tidak berbeda. Tinggi (Suryana et al., 2013). Wibowo dan
rendahnya fertilitas sangat ditentukan Juarini (2008) melaporkan hasil fertilitas
oleh tingkat nutris pakan yang pada itik lokal di Blitar yakni sebesar
dikonsumsi induk ( Iriyanti et al ., 80,35%.
2007).Pejantan yang memiliki bobot Sari et al.(2011) menyatakan fertilitas
b a d a n b e s a r, s e d a n g d a n k e c i l pada itik pegangan yaitu 60%.
mempunyai kualitas sperma yang tidak

Tabel 1.Bobot pejantan dan induk itik Magelang berbagai kelompok dan rata-rata fertilitas,
daya tetas, bobot tetas dan bobot itik umur 8 minggu Itik Magelang yang dihasilkan.

Sumber Data Primer, 2016.


Keterangan :
BP : Bobot Badan Pejantan
BI : Bobot Badan Induk
Fer : Fertilitas
DT : Daya Tetas
BT : Bobot Tetas
BIU : Bobot Badan Itik Umur 8
minggu

48 , Vol. 36, No. 1 Maret 2018


Daya Tetas berlebihan (lebih tinggi dari 14%),
Hasil penelitian dapat diketahui sehingga dapat menyebabkan kematian
bahwa daya tetas yang dihasilkan oleh embrio karena dehidrasi. Suhu di bawah
bobot badan induk dan pejantan yang optimal menurunkan daya tetas karena
berbeda (Tabel 1) menunjukkan hasil berkurangnya kehilangan air (<12%),
yang tidak berbeda nyata.Tidak terdapat yang menyebabkan over-hidrasi embrio
perbedaan pada daya tetas itik yang dan gangguan pertukaran gas (Nurika et
dihasilkan disebabkan oleh fertilitas al., 2015).
yang tidak berbeda pada perlakuan Rataan daya tetas telur itik
perbedaan bobot badan pejantan dan menurut Ismoyowati et al. (2011), daya
induk. Menurut Meliyati et al. (2012), tetas itik magelang sebesar 46,9%. Daya
fertilitas yang tinggi diperlukan untuk tetas pada itik Magelang yang diberi
menghasilkan dan meningkatkan daya penambahan vitamin A sintetik dalam
tetas, walaupun tidak selalu pakan yaitu 47,52-51,07% (Imam et al.,
mengakibatkan daya tetas meningkat. 2013). Penelitian Suryana et al. (2013)
Faktor lain yang menyebabkan tidak mengemukakan bahwa daya tetas pada
adanya perbedaan nyata daya tetas itik Mojosari Alabio yaitu 43,6%. Daya
terhadap bobot badan induk dan tetas telur pada itik Alabio dan
pejantan, disebabkan oleh pemberian persilangan Cihateup Alabio dengan
ransum yang tidak berbeda antar flock bahan alami alam yaitu 55,21% dan
sehingga nutrisi telur yang digunakan 65,37% (Riza, 2015). Siella et al. (2013)
untuk perkembangan embrio sama. menyatakan daya tetas telur pada itik
Ahyodi et al. (2014) menyatakan kualitas Mojosari adalah 62%. Wibowo dan
ransum yang sama mengakibatkan Juarini (2008) melaporkan hasil daya
kualitas nutrisi yang digunakan untuk tetas pada itik lokal di Blitar yakni
metabalisme embrio di dalam telur sebesar 70,7%.
perk em bang annya relatif sama
sehingga memberikan kualitas daya Bobot Tetas
tetas yang sama. Genetik pada induk Hasil penelitian dapat diketahui
dan pejantan berasal dari tetua yang bahwa bobot tetas yang dihasilkan oleh
tidak berbeda, walaupun terdapat bobot badan induk dan pejantan yang
perbedaan bobot badan induk dan berbeda (Tabel 1) menunjukkan hasil
pejantan antar flock satu dengan yang yang tidak berbeda nyata.Tidak terdapat
lain sehingga daya tetas tidak berbeda. perbedaan nyata disebabkan oleh bobot
Daya tetas dipengaruhi oleh faktor ba dan induk dan pejantan yang
genetik, umur induk, kebersihan telur, digunakan seleksi memiliki performans
ukuran telur, suhu, kelembaban dan yang tidak berbeda jauh dan dari genetik
fertilitas telur (Sutiyono et al., 2006). yang tidak berbeda, sehingga daya tetas
Suhu dalam mesin hatcher dan yang dihasilkan tidak berbeda jauh.
setter yang digunakan untuk Menurut Lestari et al. (2013), bobot tetas
menetaskan telur tidak berbeda antar dipengaruhi oleh penyimpanan telur,
flock sehingga daya tetas yang faktor genetik, umur induk, kebersihan
dihasilkan tidak berbeda. Suhu dalam telur, dan ukuran telur. Bobot badan
mesin tetas merupakan salah satu faktor induk dan pejantan yang berbeda antar
terpenting yang dapat mempengaruhi flock menghasilkan bobot telur yang
perkembangan embrio, daya tetas dan bervariasi sehingga mempengaruhi
performan setelah menetas.Suhu bobot tetas itik. Bobot telur yang
inkubasi yang lebih tinggi dari optimal dihasilkan berkorelasi positif dengan
mengakibatkan telur kehilangan air yang bobot induk dan pejantan (Meisji et al.,

M. A. Rofiq*, Sutiyono** dan E. Kurnianto** : Seleksi Itik Magelang Jantan Berdasarkan Sifat Produksi Dan Reproduksi Keturunannya 51
2011). Faktor lain yang mempengaruhi
Susut tetas telur juga dapat tidak adanya perbedaan bobot badan itik
mempengaruhi bobot tetas.Tingginya umur 8 minggu adalah kualitas dan
s us ut t et as m enunj ukkan adanya kuantitas pakan yang tidak berbeda antar
p e rk em b a ng a n d a n metabolisme flock berupa vitamin, mineral, protein dan
embrio, yaitu terdapat pertukaran gas kalsium yang terkandung dalam pakan.
vital oksigen dan karbondioksida serta Kualitas konsumsi itik dengan bobot
penguapan air yang tinggi. Menurut badan kecil, sedang dan besar
Ahyodi et al. (2014), susut tetas yang menghasilkan bobot tetas itik yang besar,
tinggi menunjukkan adanya sedang dan kecil tetap dapat
p e rk em b a ng a n d a n metabolisme menghasilkan bobot itik umur 8 minggu
embrio, yaitu dengan adanya pertukaran yang tidak berbeda karena kualitas dan
gas vital oksigen dan karbondioksida kuantitas pakan yang dikonsumsi.
serta penguapan air yang tinggi, Menurut Purba dan Ketaren (2011), bobot
sehingga mengurangi bobot tetas. badan dipengaruhi oleh kualitas dan
Menurut Pamungkas et al. (2013), bobot kuantitas pakan yang dikonsumsi,
tetas pada itik Mojosari 39,82 g, itik dengan demikian perbedaan kandungan
Magelang 55,93 g, itik tegal 48,72 g dan zat-zat makanan pada pakan dan
itik Manila 63,54 g. Bobot tetas pada banyaknya pakan yang dikonsumsi akan
penelitian yang dilakukan (Lestari et al., memberik an peng aruh terhadap
2013) pada itik Mojosari 36 g, entok pertambahan bobot badan yang
38,99 g dan itik Magelang 41,7 g. Bobot dihasilkan karena kandungan zat-zat
tetas pada itik Alabio 38,85 g dan pakan yang seimbang dan cukup sesuai
persilangan itik Cihateup Alabio 43,66 g dengan kebutuhan sangat diperlukan
( Riza , 20 15). Bobot tetas pada untuk pertumbuhan yang optimal.
penelitian (Nikmatul et al., 2013) tentang Bobot itik umur 8 minggu juga
tingkat pertumbuhan dan konversi dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang
pakan yaitu 41,72 g pada itik Magelang. mempengaruhi tingkat konsumsi makan
Nurika (2015) melaporkan bobot tetas itik, sehingga tidak terdapat perbedaan
pada itik Pajajaran 42,36 g, itik Rambon a nt ar anak ya ng dihasilkan tiap
41,39 g dan itik Cihateup 40,98 g. flock.Faktor lingkungan berpengaruh
pada tingkat konsumsi pakan itik, seperti
Bobot Itik Umur 8 Minggu temperatur.Semakin tinggi temperatur
Hasil penelitian ini dapat diketahui li ngk ung an dapat menyebabkan
bahwa bobot itik umur 8 minggu yang konsumsi pakan itik semakin rendah
dihasilkan oleh bobot badan induk dan (Wulandari et al., 2015).Manajemen
p e j a n t a n y a n g b e r b e d a ( Ta b e l pemeliharaan yang tidak berbeda pada
1)menunjukkan hasil yang tidak berbeda itik generasi kedua (G2) umur 8 minggu
nyata.Bobot itik umur 8 minggu tidak berpengaruh pada bobot badannya.
berbeda disebabkan pewarisan genetik Menurut Pamungkas et al. (2013),
dari bobot badan induk dan pejantan manajemen pemeliharaan yang baik
yang diturunkan tidak berbeda sehingga dapat mendukung memaksimalkan
tidak terdapat perbedaan bobot itik umur pertumbuhan ternak tersebut.Menurut
8 minggu. Menurut Meisji et al. (2012), Pamungkas et al. (2013), bobot badan itik
pertumbuhan dipengaruhi oleh genetik, umur 8 minggu 693,26±29,61 g untuk itik
genetik ternak menentukan kemampuan Magelang, 809,08±73,64 g untuk itik
yang dimiliki oleh ternak tersebut seperti Mojosari, 801,38±5,53 g untuk itik Tegal,
sifat yang diturunkan oleh keturunannya dan 1119,86±284,69 g untuk itik Manila.
dan warna bulu. Syaifudin et al.(2015) melaporkan bobot

52 , Vol. 36, No. 1 Maret 2018


itik umur 8 minggu pada itik Alabio jantan persilangan itik Mojosari dan itik Alabio
1263,56 gram dan betina 1185,93 gram. yaitu 1463,22 g (Purba dan Ketaren,
Bobot itik umur 8 minggu pada 2011).

Sumber: Data Primer, 2016

Heritabilitas bobot tetas dan bobot itik umur 8 minggu,


Pada Tabel 2.menunjukkan nilai mungkin disebabkan pengaruh gen non
heritabilitas bobot tetas dan bobot itik aditif (gen dominan dan epistasis)
umur 8 minggu termasuk rendah. mengalami peningkatan karena gen non
Menurut Kurnianto (2012), heritabilitas aditif pada umumnya tidak tanggap
dikategorikan rendah (lowly heritable) terhadap seleksi namun mempunyai
yaitu 0 sampai 0,15, sedang (moderately pengaruh khusus yang merupakan dasar
heritable) yaitu 0,15 sampai 0,30 dan heterosis pada perkawinan. Gen aditif
tinggi (highly heritable) yaitu ≥ 0,30. adalah gen yang bersifat menambah
Heritabilitas bobot tetas dan bobot itik atau mengurangi terlepas dari macam
umur 8 minggu lebih banyak dipengaruhi pasangan atau alel ganda yang sudah
oleh keragaman lingkungan.Susanti dan ada (Soeroso et al., 2009).
Prasetyo (2008) menyatakan Nilai Heritabilitas bobot tetas itik
keragaman dalam sifat-sifat reproduksi Magelang pada penelitian ini termasuk
dan produksi lebih banyak dipengaruhi d a lam k at eg ori rendah. Menurut
oleh keragaman lingkungan dan hanya Purwantini et al. (2016), nilai heritabilitas
sedikit yang dipengaruhi oleh bobot tetas itik Magelang sebesar 0,49.
keragaman genotip. Nilai heritabilitas bobot itik umur 8 minggu
Nilai heritabilitas bobot tetas dan pada penelitian ini termasuk dalam
bobot itik umur 8 minggu sebesar 0,047 kategori rendah.Penelitian Prasetyo dan
dan 0,021, memberikan pengertian Susanti (2007) tentang pedugaan
bahwa 4,7 persen dan 2,1 persen ragam parameter genetik bobot hidup itik
fenotip disebabkan oleh keragaman Mojosari dan Alabio didapatkan nilai
genetik aditif dan nilai termasuk kurang. heritabilitas bobot itik umur 8 minggu
Kurangnya keragaman gen aditif pada sebesar 0,081 dan 0,076.
Tabel 3. Nilai EBV berdasarkan bobot tetas dan bobot umur itik 8 minggu dari berbagai
pejantan.

Keterangan: nom: Nominal hasil perhitungan EBV


n: Nilai berdasarkan urutan hasil perhitungan EBV pejantan

M. A. Rofiq*, Sutiyono** dan E. Kurnianto** : Seleksi Itik Magelang Jantan Berdasarkan Sifat Produksi Dan Reproduksi Keturunannya 53
Uji Zuriat yang diturunkan pada keturunanya
Hasil perhitungan EBVbobot tetas sehingga dapat menghasilkan keturunan
menunjukkan bobot tetas tertinggi pada yang terbaik. Bobot badan merupakan
pejantan D daripada pejantan C, B, E salah satu sifat kuantitatif dari ternak
dan A (Tabel 3).Tingginya EBV pejantan yang bisa digunakan untuk proses
D menunjukkan bahwa bobot tetas yang seleksi selain sifat kualitatif, sehingga
dihasilkan dari pejantan D dapat dapat diketahui bibit itik yang terbaik.
digunakan sebagai bibit itik.Bobot tetas Bobot badan, pertumbuhan dan
itik yang tinggi dapat menghasilkan produktivitas merupakan sifat kuantitatif
bobot pertumbuhan yang tinggi pula genetik ternak yang sangat diperlukan
sehingga dapat menghasilkan jumlah untuk melakukan seleksi (Mahfudz et al.,
produksi daging tinggi yang dapat 2005).
meningkatkan pendapatan ekonomi
peternak, selain itu dapat menghemat KESIMPULAN
pakan yang dikonsumsi ternak karena
bobot tetas itik yang tinggi. Menurut Berdasarkan Estimated Breeding
Komarudin et al. (2008), terdapat Value bobot tetas dan bobot itik umur 8
korelasi antara bobot tetas ayam dengan minggu urutan pejantan dari yang terbaik
bobot hiduppada umur 42 hari. Pada adalah pejantan D, C, E, B dan A.
ayam broiler, penambahan satu gram
bobot tetas akanmeningkatkan bobot DAFTAR PUSTAKA
hidup umur 42 hari sebesar 10 gram.
Bobot badan itik umur 8 minggu Ahyodi, F., K. Nova dan T. Kurtini. 2014.
berdasarkan perhitungan nilai EBV Pengaruh bobot telur terhadap
(Tabel 3) menunjukkan bahwa pejantan fertilitas, susut tetas, daya tetas,
D lebih baik daripada pejantan C, E, B dan bobot tetas telur kalkun. J.
dan A. Pejantan D menunjukkan bahwa Ilmiah Peternakan Terpadu. 2(1):
keturunannya bisa digunakan untuk 19-25.
menghasilkan daging yang dapat
memenuhi kebutuhan daging hewan Black, J.M. 2005.The ecology of social
dipasaran. Menurut Purba dan Ketaren behaviour. In: Ducks, geese and
( 2 0 11 ) , k e t e r s e d i a a n b i b i t y a n g swans of the world, Ed. J. Kear.
berkualitas baik dan khusus sebagai Oxford University Press.
sumber daging dimasyarakat masih Cahyono, B. 2011. Pembibitan Itik.
kurang. Penebar Swadaya. Jakarta.
Berdasarkan total penilaian bobot Imam, S., R. Muryani dan L.D. Mahfudz.
tetas dan bobot itik umur 8 minggu dapat 2013. Pengaruh penambahan
diketahui bahwa pejantan pada flock D vitamin a sintetik dalam
lebih baik daripada pejantan B, C, E dan pakanterhadap fertilitas, daya
A. Hal ini dapat terlihat dari sifat bobot tetas, dan mortalitasembrio telur
tetas dan bobot itik 8 minggu pejantan D itik Magelang pembibityang
lebih unggul dari pejantan lain. Pejantan dipelihara secara in situ. Anim.
D dengan bobot rata-rata 1,85 (Tabel 1) Agric.J.. 2 (3): 104-115.
merupakan calon pejantan dengan Iriyanti, N., Zuprizal, T. Yuwanta dan S.
bobot badan terbaik, sehingga dapat Ke m a n. 2 00 7. Penggunaan
mendukung program pemerintah untuk vitamin E dalam pakan terhadap
menyediakan bibit unggul. Menurut fertilitas, daya tetas dan bobot
Pintaka et al. (2014), calon pejantan tetas telur ayam kampong. Anim.
yang baik dapat dilihat dari sifat-sifat Produc.. 9 (1): 36-39.

54 , Vol. 36, No. 1 Maret 2018


Ismoyowati, Tugiyanti, E. Saleh, D.M. jantan (Cairrina Moschata).
Roesdiyanto dan M. Mufti. 2011. Jurnal Ilmiah Peternakan. 1(2):
Kualitas semen entok dan fertilitas 718– 725.
telur itik magelang dan mojosari North, M.O and D.D. Bell. 1990.
yang diinseminasi menggunakan Commercial Chicken Production
semen entok. Prosiding Seminar M a n u a l . 4 t h E d . Av i B o o k ,
Nasional.Purwokerto.15 Oktober Nostrand Reinhold, New York.
2011.168-174. Nurika, N.M., D. Garnida dan A.
K o m a r u d i n , R u k i m a s i h d a n P. S . Mushawwir. 2015. Susut telur,
Hardjosworo. 2008. Performa lama dan bobot tetas itik lokal
p roduk si itik berdasarkan (anas sp.)Berdasarkan pola
kelompokbobot tetas kecil, besar pengaturan temperaturmesin
dan campuran. Seminar tetas. Studentse-journal
Nasional Teknologi Peternakan Universitas Padjadjaran. 4(30):
dan Veteriner. Bogor. 11-12 1-11.
November 2008. 604-610. Pamungkas, R.S., Ismoyowati dan S.A.
Kurnianto, E. 2012. Ilmu Pemuliaan Santosa. 2013. Kajian bobot
Te r n a k . U P T U n d i p P r e s s . tetas, bobot badan umur 4 dan 8
Semarang. minggu serta korelasinya pada
Lestari, E., Ismoyowati dan Sukardi. berbagai itik lokal (Anas
2013. Korelasi antara bobot telur plathyrynchos) dan itik manila
dengan bobot tetas dan (Cairina moscata) jantan. J. Ilmiah
perbedaan susut pada telur Peternakan. 1 (2) : 488 - 500.
entok (Cairrina moschata) dan Pintaka, W. B.P., Sumadi, T. Hartatik dan
itik (Anas plathyrhinchos). J. H. Saumar. 2014. Simulasi uji
Ilmiah Peternakan. 1(1): 163 - zuriat pada sifat pertumbuhan
169. sapi Aceh(progeny test simulation
Meisji L. S., R.R. Noor, P.S. Hardjosworo for growth traits in Aceh cattle). J.
dan C. Nisa. 2011. Keragaan Ilmu Ternak. 1(3) : 12-16.
telur tetas itik Pegangan. J. Purba, M dan P.P. Ketaren. 2011.
Sains Peternakan Indonesia. Konsumsi dan konversi pakan itik
6(2): 97-102. lok a l j a nt an umur delapan
Meisji L. S., R.R. Noor, P.S. Hardjosworo minggudengan penambahan
dan C. Nisa. 2012. Kajian santoquin dan vitamin E dalam
k arak t eri st ik b iologis itik p a k a n . J . I l m u Te r n a k d a n
pegagan Sumatra Selatan.J. Veteriner. 16(4): 280-287.
Lahan SubOptima 1(2): 170- Purwantini, D., Ismoyowati dan S.A.
176. Santosa. 2016. Estimation of
Meliyati, N., K. Nova dan D. Septinova. selection accuracy and responses
2012. Pengaruh umur telur tetas of the production characteristics
itik Mojosari dengan penetasan using different selection intensity
kombinasi terhadap fertilitas dan in Magelang duck. J. of the
daya tetas. Jurnal Ilmiah Indonesian Tropic. Anim. Agric.
Peternakan Terpadu. 1(1):16-24. 41(2):70-76.
Nikmatul, A., Ismoyowati dan N. Iriyanti. Riza, N.A. 2015. Daya tetas telur itik
2013. Tingkat pertumbuhan dan Alabio dan persilanganCihateup-
konversi pakan pada berbagai Alabio dengan bahansanitasi
itik lokal jantan (Anas alami.Institut Pertanian Bogor.
Plathyrhinchos) dan itik manila Bogor. (Skripsi).

M. A. Rofiq*, Sutiyono** dan E. Kurnianto** : Seleksi Itik Magelang Jantan Berdasarkan Sifat Produksi Dan Reproduksi Keturunannya 55
Sari, M. L., R.R. Noor, P. S. Hardjosworo Susanti, T dan L.H. Prasetyo. 2008.
dan C. Nisa. 2011. Keragaan telur Pendugaan parameter genetik
tetas itik pegagan. J. Sains sifat-sifatproduksi telur itik Alabio.
Peternakan Indonesia. 6(2): 97 – Seminar Nasional Teknologi
102. Peternakan dan Veteriner. Bogor.
Setioko, A.R. 1997. Prospek dan kendala 11-12 November 2008.588-592.
p e t er nak an itik gembala di Sutiyono, S. Riyadi, dan S. Kismiati.
Indonesia.Seminar Nasional 2006. Fertilitas dan Daya Tetas
Peternakan dan veteriner. Bogor. Telur dari Ayam Petelur Hasil
18-19 Desember 1997.254-261. I n s e m i n a s i B u a t a n
Siella, M.N., Ismoyowati dan I.H. Menggunakan Semen Ayam
Sulistyawan. 2013. Pengaruh K a m p u ng ya ng Diencerkan
temperatur terhadap daya tetas Deng an Bahan Berbeda.
dan hasil tetas telur itik (anas Fakultas Peternakan Universitas
Platyrinchos). J. Ilmiah Diponegoro. Semarang. (Skripsi)
Peternakan. 1(1): 347-352. Syaifudin, Rukmiasih, dan R. Afnan.
Soeroso, S., Y. Duma dan S. Mozin. 2015. Performa itik albino jantan
2009. Nilai heritabilitas dan dan betina bedasarkan
korelasigenetik sifat pengelompokan bobot tetas. J.
pertumbuhan dari silangan ayam Ilmu Produksi dan Teknologi Hasil
lokal dengan ayam Bangkok. Peternakan. 3(2): 83-88.
Agroland. 16(1): 219-226. Tomlison, C., G.M. Mace, J.M. Black and
Suryana dan M. Yasin. 2013. Studi N. Hewston. 1999. Improving the
tingkah laku pada itik Alabio management of a highly inbred
(Anas Platyrhynchos Borneo)di species: the case of the white-
Kalimantan Selatan. Seminar winged wood duck in captivity.
N a s i o n a l I n o v a s i Te k n o l o g i Wildfowl. 42(1): 123-133.
Pertanian. 22-38 Wibowo, B. dan E. Juarini. 2008.
Suryana, Sholih, N. H., H. Kurniawan, Sustenabilitas usaha penetasan
Suprijono, dan R. Qomariah. telur itik diBlitar, jawa timur.
2 0 1 3 . Seminar Nasional Teknologi
Pengaruh perbandingan jantan- Peternakan dan Veterine.Bogor.
betina terhadap fertilitas dan 11-12 November 2008.735-741.
d a y a t e t a s Wulandari, D., Sunarno dan T. R.
telur itik di Kabupaten Hulu Saraswati. 2015. Perbedaan
S u n g a i Te n g a h K a l i m a n t a n somatometri Itik Tegal, Itik
S e l a t a n . B a l a i Magelangdan Itik Pengging.
Pengkajian Teknologi Pertanian. Bioma. 17(2): 94-101.
Kalimantan Selatan.
Susanti, T dan L.H. Prasetyo. 2007.
Pendugaan parameter genetik
bobot hidup itik Alabio dan
Mojosari padaperiode starter. J.
Ilmu Ternak dan Veteriner. 12(3):
212-217.

56 , Vol. 36, No. 1 Maret 2018