Anda di halaman 1dari 19

TUGAS TEKNOLOGI PENETASAN DAN PEMULIAAN TERNAK UNGGAS

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PENETASAN

Dosen pengampu : Prof. Dr. Ir. H. Erman syahruddin, SU

Kelompok 1 :

1. Renot Rama Putra (1610612048)


2. M. Armi Gazalli (1710611058)
3. Isa Amanda (1710611084)

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2019
ABSTRAK
Penetasan merupakan suatu proses perkembangan embrio di dalam telur
hingga menetas, yang bertujuan untuk mendapatkan individu baru. Cara
penetasan terbagi dua yaitu penetasan alami (menggunakan induk) dan
penetasan buatan (menggunakan alat tetas telur). Sejak ribuan tahun sebelum
masehi orang berusaha dan mencoba penetasan tiruan tanpa melalui induk
unggas. Usaha – usaha tersebut antara lain dilakukan oleh orang Mesir kuno
yang pada saat itu memang sudah tinggi kebudayaannya. Usaha lain terdapat
pula didaratan Cina, Mesir sebuah alat penetas tiruan dengan memanfaatkan
sinar matahari telah dicoba orang kala itu, jauh sebelum jaman Aristoteles, dan
menghasilkan anak ayam yang cukup banyak (persentase daya tetas yang
tinggi). Penetasan buatan lebih praktis dan efisien dibandingkan penetasan
alami, penggunaan alat tetas telur memiliki kelebihan yaitu dengan kapasitas
yang lebih banyak sehingga membantu peternak dalam menjaga kontiniuitas
usahanya. Prinsip kerja alat tetas yaitu mengkondisikan panas yang ditimbulkan
oleh hasil eraman induk ayam dengan alat pemanas buatan.

Kata kunci : Penetasan, Sejarah Penetasan, Mesin tetas


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Unggas adalah jenis hewan ternak kelompok burung yang dimanfaatkan untuk
daging dan/atau telurnya serta jenis burung yang tubuhnya ditutupi oleh bulu.
Umumnya unggas merupakan bagian dari ordo Gallifores (seperti ayam dan kalkun),
dan Anseriformes (seperti bebek). Unggas adalah tipe hewan yang berkembangbiak
dengan cara bertelur.

Telur adalah suatu bentuk tempat penimbunan zat gisi seperti air, protein,
karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral yang diperlukan untuk pertumbuhan embrio
sampai menetas. Telur yang dapat ditetaskan adalah harus fertil atau yang lazim disebut
dengan telur tetas. Telur tetas merupakan telur yang sudah dibuahi oleh sel jantan. Bila
tidak dibuahi oleh sel jantan, telur tersebut disebut telur infertil atau lazim disebut telur
konsumsi, artinya telur tersebut tidak dapat menetas jika ditetaskan, melainkan hanya
untuk dikonsumsi saja. Adapun untuk menetaskan telur perlu diperhatikan hal-hal
yang menunjang keberhasilan dalam menetaskan.

Untuk memperbanyak populasi hewan unggas seperti itik, ayam, dan burung
puyuh dibutuhkan cara penetasan telur yang tepat, yaitu pengeraman telur tetas yang
akan diperbanyak. Pengeraman ini dapat terjadi jika sifat mengerami telur pada unggas
itu telah muncul. Misalnya pada ayam buras, sifat mengerami telur tampak jelas sekali.
Pada saat sifat ini muncul, ayam buras tidak akan mau lagi bertelur. Berbeda dengan
ayam ras yang sifat mengeramnya dapat diatur atau dihilangkan dari induknya.

Penetasan merupakan upaya dalam mempertahankan populasi maupun


memperbanyak jumlah daya tetas telur agar dapat diatur segala prosesnya serta dapat
menghasilkan DOC yang berkualitas baik.Penetasan dapat dilakukan baik secara alami
maupun buatan.Tingkat keberhasilan antara penetasan alami dan penetasan buatan
dipengaruhi oleh beberapa faktor, jika faktor yang berpengaruh pada daya tetastelur
penetasan buatan kurang diperhatikan tidak memungkinkan daya tetas pada penetasan
buatan yang diharapkan dapat lebih baik maka bisa justru lebih buruk dari penetasan
alami. Keberhasilan penetasan buatan tergantung banyak faktor antara lain telur tetas,
mesin tetas dan tata laksana penetasan.
Penetasan pada prinsipnya adalah menyediakan lingkungan yang sesuai untuk
perkembangan embrio unggas. Lama penetasan telur ditempat pengeraman sangat
tergantung dari jenis hewannya. Semakin kecil hewan, semakin kecil telur yang
dihasilkan. Dan, semakin tinggi suhu badan hewan, semakin pendek waktu penetasan
telurnya. Bila bentuk telur dan ukurannya seragam, waktu penetasan akan selalu
hampir bersamaan. Berbeda dengan ayam, jenis unggas lain seperti itik dan puyuh
tidak mempunyai sifat mengeram. Dahulu, untuk memperbanyak populasinya hanya
dengan seleksi alam, baik oleh induknya maupun oleh lingkungan. Namun saat ini,
dengan adanya alat penetas buatan akan mempermudah perbanyakan populasi unggas
ini.

Sudah sejak ribuan tahun sebelum masehi orang berusaha dan mencoba
penetasan tiruan tanpa melalui induk unggas. Usaha – usaha tersebut antara lain
dilakukan oleh orang Mesir kuno yang pada saat itu memang sudah tinggi
kebudayaannya. Usaha – usaha lain terdapat pula didaratan Cina, juga ribuan tahun
sebelum masehi. Di Mesir sebuah alat penetas tiruan dengan memanfaatkan sinar
matahari telah dicoba orang kala itu, jauh sebelum jaman Aristoteles, dan
menghasilkan anak ayam yang cukup banyak (persentase daya tetas yang tinggi).
Alatnya sederhana, berupa tungku – tungku yang dapat memuat ribuan telur. Mesin
tetas modern pertama kali dikembangkan di Amerika Serikat sekitar abad 17-an dan
berkembang terus hingga kini.

Di Indonesia, sebenarnya mesin tetas buatan telah ada sebelum zaman


kemerdekaan dengan prinsip dan cara pengoperasian mirip dengan mesin tetas
sekarang. Usaha itu mulai dikembangkan pada akhir tahun 1959-an dan berkembang
terus hingga kini. Walaupun masih dalam bentuk yang sederhana, tetapi Indonesia
sudah mampu membuatnya. Mulai dari kapasitas seratus hingga ribuan, karena
memang prinsipnya sederhana.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah ;

1. Mengetahui apa itu Pengertian Penetasan telur.

2. Mengetahui Sejarah dan Perkembangan Penetasan.

3. Mengetahui apa itu Mesin Penetas.

4. Mengetahui macam-macam Mesin Tetas


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Penetasan
Penetasan merupakan upaya dalam mempertahankan populasi maupun
memperbanyak jumlah daya tetas telur agar dapat diatur segala prosesnya serta dapat
menghasilkan DOC yang berkualitas baik.Penetasan dapat dilakukan baik secara alami
maupun buatan.Tingkat keberhasilan antara penetasan alami dan penetasan buatan
dipengaruhi oleh beberapa faktor, jika faktor yang berpengaruh pada daya tetastelur
penetasan buatan kurang diperhatikan tidak memungkinkan daya tetas pada penetasan
buatan yang diharapkan dapat lebih baik maka bisa justru lebih buruk dari penetasan
alami. Keberhasilan penetasan buatan tergantung banyak faktor antara lain telur tetas,
mesin tetas dan tata laksana penetasan (Suprijatna et al., 2010).
Proses penetasan telur secara alami yaitu telur dierami oleh induknya untuk
ditetaskan dengan melakukan berbagai persiapan dan perlakuan yang nantinya
dibutuhkan oleh telur itu sendiri. Persiapan dan perhatian yang diperlukan untuk
penetasan alami adalah sarang pengeraman. Bentuk sarang pengeraman mempengaruhi
daya tetas telur (Cahyono, 2007).
Penetasan telur dapat dilakukan secara alamiah yaitu dengan dierami oleh
induknya dan dapat pula dilakukan dengan inkubator. Jika penetasan telur dilakukan
pada induknya, jumlah telur yang dapat ditetaskan terbatas, yaitu paling banyak 15 – 7
butir. Tetapi, penetasan telur dengan inkubator dapat mencapai ratusan bahkan hingga
ribuan butir telur dalam sekali penetasan. (Sudrajat, 2003)
Penetasan merupakan suatu proses perkembangan embrio di dalam telur hingga
menetas, yang bertujuan untuk mendapatkan individu baru. Cara penetasan terbagi dua
yaitu penetasan alami (menggunakan induk) dan penetasan buatan (menggunakan alat
tetas telur). Penetasan buatan lebih praktis dan efisien dibandingkan penetasan alami,
penggunaan alat tetas telur memiliki kelebihan yaitu dengan kapasitas yang lebih
banyak sehingga membantu peternak dalam menjaga kontiniuitas usahanya. Prinsip
kerja alat tetas yaitu mengkondisikan panas yang ditimbulkan oleh hasil eraman induk
ayam dengan alat pemanas buatan (Sujionohadi dan Setiawan, 2007). Pentingnya
penanganan telur tetas dapat mempengaruhi keberhasilan suatu proses penetasan.
Kesalahan dalam penanganan telur tetas akan menyebabkan kegagalan dalam proses
penetasan (Kholis dan Sarwono, 2013).
Proses penetasan dimulai ketika telur tetas dimasukkan ke mesin tetas sampai
dengan telur menetas menghasilkan day old chick dan dikeluarkan dari mesin tetas.
Mesin tetas berperan mengganti induk unggas dalam penetasan telur. Proses penetasan
pada telur, penting menciptakan kondisi yang ideal seperti penetasan alami, sehingga
pada mesin tetas temperatur, kelembaban, dan sirkulasi udara dalam ruang mesin tetas
harus diperhatikan ( Suprijatna dkk., 2005).

2.2. Telur Tetas


Telur tetas merupakam telur fertile atau dibuahi, dihasilkan dari peternakan
ayam pembibit yang sehat dan produktifitasnya tinggi, umur telur tidak lebih dari satu
minggu, bentuk telur normal, berat telur seragam, telur tidak terlalu tipis dan telur tetas
yang baik permukaannya halus, tidak kotordan tidak retak (Suprijatna et al., 2005).
Umur telur tetas yang semakin meningkat akan menurunkan kualitas telur karena
penguapan CO2 dan H2O, menurunnya kualitas telur akan menghambat perkembangan
embrio sehingga dapat menurunkan fertilitas dan daya tetas (Meliyati et al., 2012)
Telur tetas merupakan telur yang dapat ditetaskan untuk digunakan sebagai
bibit yang baik dalam bidang perunggasan, karena telur tetas termasuk 3 peranan yang
penting dalam alur peternakan unggas juga sebagai awal yang menentukan kualitas
DOC. Telur tetas adalah telur yang dihasilkan oleh induk ayam yang telah dikawini
oleh pejantannya, hal ini memiliki daya tetas yang cukup tinggi (Sudradjad, 1995).
Telur yang baik berbentuk oval,bentuk telur dipengaruhi oleh factor genetis,
setiap induk telur berturutan dengan bentuk yang sama, memiliki bentuk yaitu bulat,
panjang, dan lonjong. Namun beberapa induk secara kontiniu bertelur dengan bentuk
tidak sempurna, yaitu berbentuk benjol-benjol, ceper, bulat pada ujungnya dan
sebagainya. Ketidaksempurnaan bentuk yang sama akan ditemukan pada setiap telur
yang dihasilkan induk, beberapa diantaranya bersifat genetis dan yang lainnya karena
ketidaknormalan oviduk (Suprijatna et al., 2010).

2.3 Mesin Tetas


Penetasan telur ada dua cara, yaitu melalui penetasan alami (induk ayam) dan
melaui penetasan buatan (mesin tetas) (Paimin, 2000). Penetasan buatan dilakukan
dengan menggunakan alat yang disebut mesin tetas atau inkubator.
Pada prinsipnya penetasan buatan sama dengan penetasan alami, yaitu
menyediakan kondisi lingkungan (temperatur, kelembaban dan sirkulasi udara) yang
sesuai agar embrio dalam telur berkembang dengan optimal, sehingga telur dapat
menetas (Sukardi, 1999).
Cara kerja mesin tetas pada prinsipnya yaitu menciptakan kondisi seperti pada
penetasan alami yaitu meniru induk unggas pada waktu mengerami telurnya
(Suprijatna et al., (2005).
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Pengertian Penetasan


Penetasan merupakan upaya dalam mempertahankan populasi maupun
memperbanyak jumlah daya tetas telur agar dapat diatur segala prosesnya serta dapat
menghasilkan DOC yang berkualitas baik.Penetasan dapat dilakukan baik secara alami
maupun buatan.Tingkat keberhasilan antara penetasan alami dan penetasan buatan
dipengaruhi oleh beberapa faktor, jika faktor yang berpengaruh pada daya tetastelur
penetasan buatan kurang diperhatikan tidak memungkinkan daya tetas pada penetasan
buatan yang diharapkan dapat lebih baik maka bisa justru lebih buruk dari penetasan
alami. Keberhasilan penetasan buatan tergantung banyak faktor antara lain telur tetas,
mesin tetas dan tata laksana penetasan.
Penetasan merupakan suatu proses perkembangan embrio di dalam telur hingga
menetas, yang bertujuan untuk mendapatkan individu baru. Cara penetasan terbagi dua
yaitu penetasan alami (menggunakan induk) dan penetasan buatan (menggunakan alat
tetas telur). Penetasan buatan lebih praktis dan efisien dibandingkan penetasan alami,
penggunaan alat tetas telur memiliki kelebihan yaitu dengan kapasitas yang lebih
banyak sehingga membantu peternak dalam menjaga kontiniuitas usahanya. Prinsip
kerja alat tetas yaitu mengkondisikan panas yang ditimbulkan oleh hasil eraman induk
ayam dengan alat pemanas buatan.

3.2 Sejarah dan Perkembangan Penetasan


A. Penetasan secara alami menggunakan induk (Forced Natural Incubation).
Penetasan ini menggunakan ayam, bebek dan kalkun.
1. Tahun 1813, Bose melaporkan cara “Mademoisella Portebois” dengan
menggunakan induk ayam atau bebek yang ditempatkan di dalam box dan
di tutup.
2. Tahun 1867, Geyelin dari Perancis. Cara yang dilakukan hampir sama
dengan Bose, digunakan induk kalkun. Sebelumnya dibuat semacam bentuk
telur yang di lapisi dengan bahan keras. Setelah 24 jam, kemudian diganti
dengan telur sebenarnya kira-kira 24 butir dan setiap saat diberi makan
secara paksa, setelah menetas diganti dengan telur baru dan digunakan
selama 3-6 bulan.
B. Penetasan buatan menggunakan alat tetas telur ( Living Hatching Machine).
Pengeraman dengan mesin tetas tertentu.
1. 2465 M, di Tiongkok. Pengeraman menggunakan sumber pemanas batu
bara, pengontrolan temperature dengan sentuhan secara pengalaman. Juga
di Mesir, menggunakan panas api untuk memanaskan kamar dimana telur
dieramkan dengan kapasitas 90 ribu.
2. 1750, oleh Reamur mengembangkan pengeraman telur menggunakan
kotoran kuda.
3. 1770, John Champion, dari Inggris dengan menggunakan udara panas yang
dialirkan pada telur yang dieramkan.
4. 1777, Bonneman, ahli fisika di Perancis, membuat mesin penetas semacam
oven yang dipanaskan dengan air panas.
5. 1844, mesin penetas buatan pertama di Amerika dengan menggunakan air
yang dipanaskan dengan batu bara.
6. 1895, Charles A ciphers di Amerika, membuat mesin penetas ukuran besar
disebut “Mammoth Incubator” yang pertama untuk telur bebek dengan
kapasitas 20.000 butir.
7. 1918, Dr. S. B. Smith di Amerika Serikat membuat mesin tetas tipe “Forced
Draft Incubator” pertama.
8. 1923, Petersine Incubator Company, memperkenalkan mesin tetas tipe
“Forced Draft Incubator” menggunakan tangga listrik.

Di Mesir:
• Aristotles 400 th SM telur unggas ditetaskan dengan menimbun kotoran sapi
disekitar telur di dalam tanah
• Cara ini diturunkan dan dirahasiakan dari generasi ke generasi.
• Daya tetas cukup baik, upahnya penetas harus mengembalikan 2 anak ayam atau
itik 3 butir telur yang ditetaskan.
• Cara ini dikembangkan terus oleh penetas di Mesir.

Di China:
• Sudah diketahui 264 SM cara ini banyak dikembangkan di Asia Tenggara dan
Philipina.
• Sumber panas digunakan batu bara
• Dalam basket tempat telur dapat ditempatkan bermacam-macam telur ayam (600
butir), telur itik (400 butir) dan telur angsa (175-200 butir)
• Dapat menampung telur ayam 1.200 butir

Di Eropa:
• Cara yang ada di China dan Mesir ditiru untuk dilakukan di Eropa, tapi iklim
berbeda sehingga menghasilkan daya tetas rendah.
• Raja Frederick II memanggil 2 ahli penetasan dari Mesir untuk membuat
penetasan di Florence.
• Dari 144 butir yang menetas 61 ekor anak ayam. Cara ini selalu diperbaiki namun
tetap mempunyai daya tetas yang rendah.
• Reamur (1749) menggunakan prinsip fermentasi kotoran sapi yang mengeluarkan
panas.
Di Amerika:
• Penetasan pertama kali yang dibuat dipantenkan di Inggris th 1844.
• Penetasan dengan mengalirkan air yang sudah dipanasi dengan batu bara
berkembang sebanyak 10-12 kali
• Perkembangannya cukup pesat oleh persatuan peternak unggas, dipatenkan oleh
3 perusahaan besar untuk yang komersial diperjual belikan seperti: Novelly,
Eclipse dan white mountain.
• Tahun 1900-1995, sebanyak 50 jenis penetasan dipromosi (100.000 butir), ada
kapasitas kecil dibawah 200 butir untuk peternak kecil.
Di Indonesia,khususnya di Bali:
• Penetasan dengan gabah belum diketahui pasti kapan mulai berkembang
• Diperkirakan datangnya dari China.
• Dibawa bersamaan dengan datangnya pedagang China.
• Prinsip: gabah yang sudah dipanasi (dijemur, dinyahnyah) sebagai sumber panas
bagi telur yang baru menetas.
• Hari ke-1, sebelum telur dimasukkan dalam kantong penetasan, telur dan gabah
di panaskan dengan sinar matahari. Lamanya tergantung suhu yang diinginkan
0
(37.5 C).
• Sampai hari ke 4, telur diletakkan selang-seling diantara gabah dengan telur
yang umurnya berbeda, sehingga terjadi transfer panas dari umur tua ke umur
yang muda.
• Pembalikkan dilakukan 3 kali sehari, menjaga suhu panas telur konstan (37.5
o
C). Hari ke 25, telur itik dipindahkan kemeja penetasan, ditutup dengan
karung goni agar suhu tetap konstan, telur dibalikkan 3 kali sehari.
• Sumber panas didapatkan dari metabolisme embrio itu sendiri. Pengecekan suhu
telur: menempelkan telur pada kelopak mata.
• Pengecekan telur yang berlembaga, dilakukan hari ke 2 dan ke 5 setelah telur
ditetaskan.
• Pemasukan telur baru 3 hari sekali sesuai pasaran, memudahkan menjual anak
itik/DOD.
• Itik menetas 28 hari, sexing dilakukan 1 hari setelah menetas, melihat kelamin
sekunder jantan pada kloaka.
• Penetasan gabah banyak terdapat di Mengwi, Kediri dan Gianyar.

Sekarang ini bermunculan beberapa macam bentuk mesin penetas.

3.3 Mesin Penetas


Mesin Penetas Telur adalah sebuah alat yang digunakan untuk membantu
proses penetasan telur. Cara kerja alat atau mesin ini adalah melakukan proses
pengeraman tanpa induk dengan menggunakan sebuah lampu pijar. Mesin ini
dilengkapi dengan sistem rak berputar yang berfungsi untuk meratakan proses
pemanasan telur agar telur dapat menetas secara maksimal.

Mesin ini umumnya hanya bisa digunakan untuk menetaskan telur unggas
seperti telur ayam, puyuh, bebek, dan mentok. Mesin dilengkapi dengan alat pengatur
suhu yang disebut dengan thermostat.

Salah satu penetas telur buatan untuk unggas yang paling pertama tercatat
dibuat manusia muncul di Mesir sekitar 3.000 tahun yang lalu. “Mesin” ini ditemukan
dengan wujud sebuah rumah yang terbuat dari tumpukan batu bata yang ditempelkan
dengan lumpur. Rumah ini berbentuk persegi panjang, yang disekat menjadi kamar-
kamar kecil dengan oven di tiap-tiap ruangannya.Jalan akses masuk terletak di bagian
tengah rumah, berbentuk memanjang yang membagi dua ruangan di sebelah kiri dan
kanan. Pada masa itu para pegawai benar-benar hidup dan tidur di bangunan ini.

Orang-orang mesir kuno ini juga mempunyai cara tertentu untuk memilih telur
mana yang subur dan baik untuk ditetaskan. Ruang penetasan di gubuk lumpur juga
memiliki rak untuk membakar jerami, kotoran, dan arang yang dibakar untuk menjaga
agar suhu tetap hangat. Ventilasi yang terletak di ruangan berfungsi mendinginkan telur
dan mengeluarkan asap.
Orang mesir kuno membalik posisi telur sehari sekali; bahkan pada masa itu
mereka telah mengetahui bahwa embrio akan menempel pada bagian dalam telur jika
tidak diubah posisinya. Selain itu mereka juga harus mengontrol kelembaban dan di
akhir periode pengeraman, kelembapan harus dinaikkan dengan menempatkan goni
basah pada telur-telur tersebut.

Bahkan hingga hari ini di Fayum, banyak keluarga Mesir yang meneruskan
tradisi inkubasi kuno ini. Cara ini tetap dilakukan di masa sekarang karena tingkat
keberhasilan penetasan cukup tinggi yaitu sekitar 90%. Dari 40.000 telur mereka
berhasil menjual lebih dari 32.000 anak ayam dalam seminggu sepanjang tahun. Kota
Fayum masih dikenal di dunia saat ini dengan Organisasi Breed Fayoumi-nya.

Sistem penetasan yang sangat mirip dengan yang dipakai orang mesir kuno
dilakukan bangsa cina pada sekitar 246 SM, dengan oven batu bata beserta seluruh
bangunannya yang dibuat dengan tujuan untuk menetaskan telur ayam. Namun sedikit
berbeda dengan bangsa Mesir, orang Cina mempelajari bahwa setelah embrio ayam
tumbuh berkembang mereka akan mulai menghasilkan panas. Oleh sebab itu mereka
meletakkan telur dengan embrio yang lebih tua untuk menghangatkan telur dengan
embrio yang lebih muda dan belum berkembang.

Pada pertengahan 1600-an bangsa Eropa mulai menyadari bahwa teknik bangsa
Mesir telah sukses dan membuat para ahli peternakan disana mulai membangun system
penetasan serupa; hanya saja mereka menemukan kenyataan bahwa musim dingin
Eropa yang keras membuat inkubasi ala bangsa Mesir tidak praktis bahkan mustahil
untuk diterapkan. Oleh karenanya bangsa Eropa mencari solusi dengan membuat mesin
yang lebih canggih untuk mengatasi masalah ini. Seorang ilmuwan Perancis dengan
nama De Beaumur menerbitkan buku dengan judul yang cukup fenomenal pada masa
itu “Seni Penetasan dan Memelihara Unggas Lokal dari Semua jenis, Setiap saat
Sepanjang tahun …”. De Baumur menggunakan panas dari fermentasi dan termometer
sederhana untuk menetaskan telurnya.
Pada pertengahan abad ke-20, perkembangan dalam bidang elektronik,
ditemukannya termostat dan berbagai teknologi lain ditambah dengan meningkatnya
unggas telah menggiring manusia pada peralatan mesin penetas telur modern; yaitu
ruang penetasan dengan suhu terkontrol dan kelembaban sempurna untuk memastikan
penetasan berjalan optimal, serta rak raksasa yang diputar dengan system komputer
setiap satu jam sekali.

Di Indonesia sendiri salah satu perusahaan unggas di daerah Bandung, yang


sejak tahun 1950-an sudah menggunakan mesin penetas modern dan membuat mesin
penetas sederhana berkapasitas 100-500 butir telur untuk dijual. Dan pada tahun 1970-
an mulailah banyak perusahaan peternakan ayam ras yang menggunakan mesin tetas
yang lebih canggih dan manajemen peternakan profesional, baik yang berstatus PMDN
maupun PMA yang mendorong peningkatan pesat perunggasan di Indonesia.

3.4 Macam-macam Mesin Tetas

Mesin tetas dapat dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan sistem kerja,
kapasitas tampung telur dan kelengkapan komponennya, sebagai berikut:

1. Mesin tetas tradisional

Mesin tetas tipe ini bekerja dengan sistem yang masih sederhana, di mana
sebagian besar terdiri dari ruangan/wadah tempat telur dan sumber panas tanpa
komponen lainnya yang sangat cocok untuk skala produksi anak ayam/itik
(DOC/DOD) dalam jumlah kecil atau rumah tangga. Biasanya berkapasitas sekitar
200-500 butir telur per unit. Sumber panas biasanya berasal bahan sederhana
dengan biaya terjangkau, seperti lampu minyak atau petromak yang berbahan bakar
minyak tanah atau tungku api yang berbahan bakar sekam padi, di mana sistem
pengontrolan kualitas telur masih dilakukan secara manual dengan membuka tutup
ruang penetasan untuk pemeriksaan setiap hari di samping proses pemutaran telur
(turning of egg) dilakukan secara manual dengan menggunakan tangan.

2. Mesin tetas semi otomatis


Mesin ini merupakan pengembangan dari mesin tetas tradisional, di
mana komponen dan perlengkapannya lebih unggul daripada mesin tetas
tradisional termasuk kapasitasnya lebih besar (sekitar 200-700 butir telur) dan
dilengkapi wadah telur yang dipasangi tuas pemutar manual. Bahkan ada
peternak yang menggunakan tipe mesin tetas ini dengan kapasitas lebih besar
lagi mencapai 1.000-1.200 butir telur, yang dilengkapi alat pengatur suhu dan
kelembaban. Ada pula mesin tetas semi otomatis yang lebih lengkap lagi, yakni
dengan memakai pemanas kawat buatan pabrik.
3. Mesin tetas otomatis
Mesin tetas ini memiliki sistem kerja dan kelengkapan komponen yang
lebih mutakhir dibandingkan dengan kedua mesin tetas terdahulu, di mana
terdapat pengatur suhu dan kelembaban yang bekerja digital dan serba otomatis,
di samping bagian dalam mesin sudah ada pembeda antara setter (ruang
pengeraman) dan hatcher (ruang penetasan). Kapasitas mesin tetas otomatis
1.000-5.000 butir telur per unit.

Penggunaan mesin tetas memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan


penetasan secara alami (dierami oleh induk ayam/itik), antara lain ruang mesin tetas
lebih luas dan lebar sehingga dapat menempatkan telur dalam jumlah banyak, yang
berarti mampu meningkatkan keuntungan usaha dibanding dengan secara alami. Selain
daripada itu, keunggulan lainnya ialah:

• Tingkat keberhasilan telur yang menetas lebih besar, yaitu 80% (secara alami hanya
50-60%).

• Penetasan telur dapat dilakukan terus-menerus tanpa terganggu oleh perubahan cuaca,
karena telur ditempatkan di ruang khusus.

• Daya hidup anak ayam/itik hasil penetasan dengan mesin tetas lebih tinggi disebabkan
perubahan suhu dari dalam telur ke lingkungan luar telur tidak terlalu ekstrim.

• Indukan ayam/itik dapat terus-menerus melakukan produksi dan reproduksi tanpa


perlu terganggu dengan kewajiban mengerami dan memelihara anakannya.
• Kontrol terhadap kualitas telur lebih mudah dilakukan, di samping kontaminasi
bakteri dan jenis kuman lainnya lebih kecil karena sebelum di masukkan ke dalam
mesin tetas terlebih dulu telur disimpan di ruang pendingin khusus.

Keuntungan Penetasan Buatan


1. Dapat menghasilkan bibit ayam/itik (unggas) lebih banyak dengan waktu yang
bersamaan
2. Tidak mengenal musim
3. Memiliki daya tetas yang lebih baik
4. Kesehatan anak ayam lebih terjamin hidupnya
5. Modal relatif sedikit dan hasil berlipat
6. Induk ayam dapat memproduksi telur terus menerus (tidak mengerami dan
mengasuh anak)
7. Dapat meningkatkan produksi dan populasi ayam/unggas lain

Kelemahan Mesin Tetas Buatan:


1. Perlu listrik, ada biaya listrik.
2. Saat listrik padam perlu sumber pemanas bantuan
3. Dibutuhkan pengetahuan dan skill untuk mengoprasikan
4. Diperlukan tenaga /orang dan waktu untuk mengoprasikan/menggunakan mesin
tetas
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan

Penetasan merupakan upaya dalam mempertahankan populasi maupun


memperbanyak jumlah daya tetas telur agar dapat diatur segala prosesnya serta dapat
menghasilkan DOC yang berkualitas baik.Penetasan dapat dilakukan baik secara
alami maupun buatan.

Penetasan secara alami menggunakan induk (Forced Natural Incubation).


Penetasan ini menggunakan ayam, bebek dan kalkun, dan Penetasan buatan
menggunakan alat tetas telur ( Living Hatching Machine). Pengeraman dengan mesin
tetas tertentu.

Mesin tetas dapat dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan sistem kerja,
kapasitas tampung telur dan kelengkapan komponennya, yaitu mesin tetas tradisional,
mesin tetas semi otomatis dan mesin tetas otomatis.
DAFTAR PUSTAKA

Cahyono, B. 2004. Cara Meningkatkan Budidaya Ayam Ras , cetakan ke-1. Yayasan
Pustaka Nusantara. Yogyakarta.Bahan Makanan. Bharata Karya Aksara.
Jakarta.
Gatot, 2009. Penetasan Telur. http://gatotleo.blogspot.com/2009/05/penetasan telur.
html. diakses tanggal 5 Mei 2012.
Harianto, Agus. 2008. Tips dan Trik dalam Penetasan Telur Unggas.
http://sentralternak.com/index.php/2008/09/01/tips-dan-trik-dalam-
penetasan-telur-unggas/. Diakses tanggal 25 Mei 2012.
Meliyati, N., Nova, K., dan Septinova, D. 2013. Pengaruh Umur Telur Tetas Itik
Mojosari dengan Penetasan Kombinasi Terhadap Fertilitas dan Daya Tetas.
Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian. Universitas Lampung. Bandar
Lampung
Nuryati, Tutik, dkk. 2000. Sukses Menetaskan Telur. PT Penebar Swadaya. Jakarta.
Paimin, Farry. 2000. Membuat Dan Mengelola Mesin Tetas. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Rasyaf, Muhammad. 1990. Pengelolaan Penetasan. Kanisius. Yogyakarta.
Sukardi, dkk. 1999. Dasar Ternak Unggas. Fakultas PeternakanUNSOED.Purwokerto.
Suprijtna, E. 2008. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya. Jakarta.
Suprijatno, E., U. Atmomarsono, dan R. Kartosudjono. 2005. Ilmu Dasar Ternak
Unggas. Penebar Swadaya. Jakarta.