Anda di halaman 1dari 15

IDENTIFIKASI STRUKTUR GEOLOGI BAWAH PERMUKAAN DENGAN

MENGGUNAKAN METODE MAGNETIK STUDI KASUS : BANDA-FLORES

Helton Wopari, Syamsurijal Rasimeng, Alimuddin, Bagus Sapto Mulyatno.

Jurusan Teknik Geofisika, Fakultas Teknik Universitas Lampung


Jl. Prof. Dr. SoemantriBrodjonegoro No. 1 Bandar Lampung 35145

Email: woparih@gmail.com

Abstrak Penelitian analisis data magnetik untuk mengidentifikasikan struktur geologi bawah
permukaan di Laut Banda-Flores, Nusa Tenggara Timur dengan menggunakan metode
magnetik. Tujuan pada penelitian untuk menentukan pola penyebaran anomali magnetik
bawah permukaan serta menentukan struktur bawah permukaan berdasarkan analisis 2D
Foward Modeling dan pemodelan 3D Inversi Modeling. Secara geologi Laut Banda terbentuk
di tepian kawasan Barat Daya Pasifik dengan mekanisme ekstensional kerak yang berkaitan
dengan penunjaman litosfera samudera. Secara tektonik terbentuk karena tumbukan 3
tektonik besar diantaranya Lempeng Benua Australia di timur, Lempeng Samudera Pasifik di
Utara dan Lempeng Samudera Hindia di sebelah selatan. Hasil dari penelitian ini terdapat
patahan pada pemodelan Forwad modeling dengan kordinat (357704,9194916) dan
(378391,9256997) litologi batuan pada suseptibilitas 0.0098-0.022 emu dengan kedalaman
830-4400 m. Menggambungkan data reduksi ekuator dan data pesebaran gempa sehingga
memperkuat analisis Forward Modeling 2D.

Abstract Research on magnetic data analysis to identify subsurface geological structures in


the Banda-Flores Sea, East Nusa Tenggara using magnetic methods. The purpose of this
research is to determine the distribution pattern of subsurface magnetic anomalies and
determine subsurface structures based on analysis by using 2D Forward modeling and 3D
Invertion Modeling.Geologically, the Banda Sea is formed on the edge of the Southwest
Pacific region with extensional crustal mechanisms related to the inclusion of oceanic
lithosphere. Tectonically formed due to collisions of 3 large tectonics including the
Australian Continent Plate in the east, the Pacific Ocean Plate in the North and the Indian
Ocean Plate in the south. The results of this study are fault in the modeling by using Forward
Modeling with coordinates (357704,9194916) and (378391,9256997) lithology of rocks on
susceptibility 0.0098-0.022 emu with a depth of 830-4400 m. Combine the equatorial
reduction data and earthquake spread data to strengthen the 2D Forward Modeling analysis.

Keywords : Banda-Flores Sea, Magnetic Method, Forward Modeling, Inversion Modeling.

1. PENDAHULUAN Indonesia, secara geografis laut ini terletak


diantara Pulau Maluku, Halmahera, Alor
Laut Banda merupakan salah satu laut hingga ke Pulau Nusa Tenggara Timur
yang terdalam dan terluas di Timur dengan luas lautan 47.000 km2. Tektonik
Laut Banda terbentuk di tepian kawasan distribusi bahan magnetik di bawah
Barat Daya Pasifik dengan mekanisme permukaan dan kemudian diasumsikan
ekstensional kerak (extensional crust sebagai pendugaan keadaan struktur
mechanism) yang berkaitan dengan geologi di bawah permukaan.
penunjaman litosfera samudera, proses ini Dalam menggunakan metode magnetik
disebut dengan pemekaran busur belakang. terdapat beberapa pemodelan yang
Laut Banda secara universal diterima digunakan untuk memberikan gambaran
sebagai tumbukan tektonik antara tepian bawah permukaan. Diantaranya adalah
Benua Australia dengan Busur Indonesia Forward Modeling dan Inversi Modeling.
Timur, dimana proses tumbukan ini Adapun tujuan yang dalam penelitian ini
berumur 3 sampai 5 juta tahun lalu dan adalah :
telah membagi Laut Banda menjadi 3 1. Menentukan penyebaran pola anomali
morfo-tektonik dari selatan ke utara: magnetik daerah Laut Banda-Flores
Cekungan Laut Banda (Banda Sea Basin), yang berkaitan dengan struktur
Punggungan Lucipara (Lucipara Ridge) geologi pada daerah tersebut.
dan Cekungan Laut Sula (Sula Sea Basin) 2. Menentukan struktur bawah
(Prasetyo dkk, 1985). permukaan berdasarkan analisis 2D
Struktur geologi Laut Banda Forward Modeling.
dikategorikan sebagai daerah yang 3. Menentukan struktur geologi bawah
memilki proses tektonik yang kompleks permukaan dengan permodelan 3D
yang disebabkan oleh tumbukan 3 Inversi Modeling.
lempeng tektonik besar diantaranya
Lempeng Eurasia, Lempeng Hindia- 2. TINJAUAN PUSTAKA
Australi dan Lempeng Pasifik. Dimana
Lempeng Eurasia yang bergerak relatif Secara geografis Laut Banda-Flores
dari utara menuju timur hingga ke tertetak 127o sampai 130o dan BT dan 4o
tenggara, sementara itu Lempeng Pasifik sampai 8o LS.
yang bergerak mengarah dari timur ke Busur Banda merupakan satu sistem
barat dan Lempeng India-Australia yang busur ganda disekeliling laut Busur Banda
bergerak dari selatan menuju utara hingga membentang dari pulau-pulau kecil di
timur laut. secara proses geologi wilayah sebelah timur Pulau Timor, melalui
ini disebut dengan Triple Junction, proses Kepulauan Tanimbar dan Kepulauan Kai
ini yang menyebabkan pembentukan yang membelok ke utara kemudian ke
pulau-pulau di wilayah Indonesia Timur barat sampai Pulau Seram dan Pulau Buru
dan sistem penggunungan bawah laut dengan kenampakan yang berbeda dengan
hingga Laut Banda. Sunda Arc. Palung subduksi membentang
Metode magnet adalah salah satu antara barat daya kontinen Australia di
metode pasif dalam ilmu geofisika yang selatan Papua kemudian berganti arah
digunakan untuk menyelidiki kondisi sampai ke Pulau Seram dan Pulau Buru.
bawah permukaan bumi. Prinsipnya Lengkungan pada Cekungan Banda terkait
dengan memanfaatkan sifat kemagnetan dengan gerakan ke arah utara dari
batuan yang diindikasikan oleh kerentanan Lempeng Australia dan dari Lempeng
magnet batuan. Metode ini pada dasarnya Pasifik yang bergerak ke arah barat.
untuk mengukur variasi intensitas Busur Banda (Crostella dkk, 1977)
magnetik di permukaan bumi yang membentuk satu sistem busur ganda yang
disebabkan adanya perbedaan distribusi melengkung disekeliling Cekungan Laut
anomali benda yang termagnetisasi di Banda yang terbentuk seperti tapal kuda
bawah permukaan bumi. Perbedaan yang terbuka ke arah barat. Bagian
intensitas medan magnetik yang terukur lengkung di tenggara terkait dengan
kemudian ditafsirkan dalam bentuk gerakan ke arah utara dari Lempeng
Australia, sisanya kemungkinan berasal mencapai ratusan sampai ribuan tahun.
dari sistem busur utara- selatan (Ritsema, Oleh karena itu, dalam waktu
1991) pada zona subduksi tua dari penyelidikan magnet, kuat medan magnet
Lempeng Pasifik Barat yang bergerak ke tersebut selalu dianggap konstan. Dengan
arah barat. Survei palaeomagnetik (Haile, menganggap kuat medan magnet bumi
1978) mengungkapkan bahwa Pulau (๐ปโƒ— ) adalah konstan, maka besarnya
Seram telah bergeser sekitar 74 derajat intensitas magnet bumi ( ๐ผ ).
berlawanan arah jarum jam sejak Miosen
(98 derajat sejak akhir Trias) di bawah 3.2. Gaya Magnetik
pengaruh 3 lempeng tektonik. Charles Augustin de Coulomb pada
tahun 1785 menyatakan bahwa gaya
3. TEORI DASAR magnet berbanding terbalik terhadap
kuadrat jarak antara dua muatan magnetik,
3.1. Metode Geomagnetik yang persamaannya mirip dengan hukum
Metode geomagnetik didasarkan pada gaya gravitasi Newton. Dengan demikian,
sifat kemagnetan (kerentanan magnet) apabila dua buah kutub P1 dan P2 dari
batuan, yaitu kandungan magnetiknya monopole magnet yang berlainan terpisah
sehingga efektifitas metode ini pada jarak ๐‘Ÿ, maka persamaan gaya
bergantung kepada kontras magnetik di magnet dinyatakan sebagai:
bawah permukaan. Daerah yang ๐Ÿ ๐’‘๐Ÿ ๐’‘๐Ÿ
๐น๐‘š = ยต ๐’“๐Ÿ ๐’“ฬ‚...............................(1)
mempunyai aktivitas tektonik dapat
menimbulkan perubahan sifat kemagnetan Fm adalah gaya magnet monopole
batuan, dengan kata lain kemagnetan pada p1 dan p2, ๐‘Ÿ adalah vektor satuan
batuan akan menjadi turun atau hilang berarah dari p1 ke p2, p1 dan p2 adalah
akibat panas yang ditimbulkan. Karena muatan kutub 1 dan 2 monopole, ยต adalah
panas terlibat dalam tektonik lempeng permeabilitas medium magnetik (untuk
(zona subduksi), maka tujuan dari survei ruang hampa ยต = 1) (Kadir, 2000).
magnetik pada daerah penelitian adalah
3.3. Kuat Medan Magnet
untuk melokalisir daerah anomali
Gaya magnet Gm per satuan muatan ๐‘ƒ1
magnetik yang berkaitan dengan zona
didefinisikan sebagai kuat medan magnet
sesar atau patahan.
terukur (๐ป). Dengan demikian dihasilkan
Pada prinsipnya, penyelidikan kuat medan magnet pada muatan ๐‘ƒ1
magnetik dianggap sebagai kemagnetan yang dapat dinyatakan sebagai,
โƒ—๐‘ญ ๐Ÿ ๐‘ท๐Ÿ
batuan yang memberikan respon terhadap ๐ป = ๐‘ท๐Ÿ = ยต ๐’“ฬ‚ ...........................(2)
๐‘Ÿ2
pengukuran magnet yang disebabkan oleh
pengaruh kemagnetan induksi tersebut. Dimana ๐ป kuat medan magnet yang
Dengan demikian, sifat kemagnetan ini terukur.
digunakan sebagai dasar dalam 3.4. Intenitas Magnetik
penyelidikan magnetik. Sedangkan Jika suatu benda terinduksi oleh medan
kemagnetan sisa pada umumnya โƒ— , maka besar intensitas magnetik
magnet ๐ป
seringkali diabaikan dalam penyelidikan
yang dialami oleh benda tersebut adalah
magnet, karena disamping pengaruhnya
(Reynold, 1995).
sangat kecil, juga untuk memperoleh
โƒ—โƒ—โƒ—โƒ—
๐‘€ = ๐‘˜๐ป โƒ— .........................................(3)
besaran dan arah kemagnetannya harus
dilakukan pengukuran di laboratorium Dimana, ๐ป โƒ— adalah intensitas magnetik,
paleomagnetik dengan menggunakan alat ๐‘˜ adalah suseptibilitas magnetik
khusus. Perubahan yang terjadi pada kuat Suseptibilitas merupakan tingkat suatu
medan magnet bumi adalah sangat kecil benda yang termagnetisasi karna adanya
dan memerlukan waktu yang sangat lama pengaruh medan magnet utama, dimana ๐‘˜
dalam SI dan emu dinyatakan sebagai โ€ข Variasi sekuler : biasanya dalam
berikut : aplikasi magnet bumi variasi ini di
๐‘˜ = 4ฯ€ .......................................(4) abaikan.
Dimana ๐‘˜โ€ฒ adalah suseptibiltas magnetik โ€ข Variansi tahunan : biasanya dalam
(emu), ๐‘˜ suseptibilitas magnetik (SI). aplikasi magnet bumi variasi ini
diabaikan.
โ€ข Variasi harian dengan periode 24
3.5. International Geomagnetic Field jam dengan range 20g bervariasi
(IGRF) sesuai ketinggian dan musim yang
IGRF adalah nilai matematis standar dikontrol oleh aktivitas matahari
dari medan magnet utama bumi akibat dan arus listrik pada ionosfer.
rotasi dan jari-jari bumi. IGRF merupakan 3. Medan Magnet Total
upaya gabungan antara pemodelan medan Medan magnet anomali sering juga
magnet dengan lembaga yang terlibat disebut medan magnet lokal (crustal field).
dalam pengumpulan dan penyebar luasan Medan magnet dihasilkan oleh batuan
data medan magnet dari satelit, yang mengandung mineral bermagnet
observatorium dan survei di seluruh dunia seperti magnetit (Fe7S5), titanimagnetite
yang setiap lima tahun di perbaharui. (Fe2TiO4) dan lain-lain yang berada
Medan magnet bumi terdiri dari 3 bagian: dikerak bumi.
1. Medan Magnet Utama
Medan magnet utama dapat 3.6. Anomali Magnetik
didefinisikan sebagai medan rata-rata hasil Dalam survei magnetik yang menjadi
pengukuran dalam jangka waktu yang target pengukuran adalah variasi medan
cukup lama mencakup daerah dengan luas magnetik yang terukur dipermukaan
lebih dari 10^6 km2 . pada umumnya (anomali magnetik). Secara garis besar
pengukuran medan magnet atmosfer. anomali medan magnetik disebabkan oleh
Apabila atmosfer dianggap merupakan medan magnetik remanen dan medan
isolator dan tidak bermagnet sehingga magnetikinduksi. Medan magnet remanen
magnetisasi M = 0 dan arus j = 0 maka : mempunyai peranan yang besar terhadap
๐›ป 2 ๐ด = 0.........................................(5) magnetisasi batuan yaitu pada besar dan
Dan induksi medan magnetnya dapat arah medan magnetiknya serta berkaitan
disimpulkan sebagai berikut : dengan peristiwa kemagnetan sebelumnya,
๐ตโƒ— = ๐›ป ๐ด ..........................................(6) sehingga sangat rumit untuk di amati.
2. Medan Magnet Luar Anomali yang di peroleh dari survei
Pengaruh medan magnet luar berasal merupakan hasil gabungan medan
dari pengaruh luar bumi yang merupakan magnetik remanen dan induksi, bila arah
hasil ionisasi di atmosfir yang ditimbulkan medan magnet sama dengan arah medan
oleh sinar ultraviolet dari matahari. Karena magnet induksi maka anomalinya
sumber medan magnet luar berhubungan bertambah besar, demikian pula sebaliknya
dengan arus listrik yang mengalir dalam dalam survei magnetik, efek medan
lapisan terionisasi di atmosfer, maka magnet remanen akan diabaikan apabila
perubahan medan ini terhadap waktu jauh anomali medan magnetik kurang dari 25%
lebih cepat. Medan magnet ternyata tidak medan magnet utama bumi (Telford,
konstan dan berubah-ubah, menurut dua 1990).
cara yakni berubah secara periodik Suatu benda magnetik dapat dianggap
terhadap waktu (time variation) dan sebagai sistem suatu dipole dan
berubah tidak periodik dan tidak dapat mempunyai sifat sangat tergantung pada
diramalkan. Perubahan secara periodik peristiwa magnetisasi yang di alaminya,
meliputi : besar intensitas magnet total disekitar
batuan yang termagnetisasi adalah :
dengan anomali magnetik yang telah
โˆ†๐น = ๐น๐‘œ๐‘๐‘  โˆ’ ๐น๐ผ๐บ๐‘…๐น + ๐น๐‘‰โ„Ž .................(7) diperloeh dari survei geomagnetik. Prinsip
umum pemodelan ini adalah
โˆ†๐น = anomali magnet total meminimumkan selisih anomali
pengamatan untuk mengurangi ambiguitas.
๐น๐‘œ๐‘๐‘  s = medan magnet komponen total
Pemodelan 2 dimensi merupakan
yang terukur
rangkaian sederhana dari permodelan 3
๐น๐ผ๐บ๐‘…๐น =medan magnet teoritis dimensi yang mempunyai penampang
berdasarkan IGRF yang sama dimana saja sepanjang tak
๐น๐‘‰โ„Ž =koreksi medan magnet akibat berhingga pada suatu koodinatnya. Pada
variansi harian berapa kasus, pola kontur anomali
magnetik adalah bentuk berjajar yang
3.7 Kontinuasi Ke atas mengidentifikasikan bahwa penyebab
Suatu proses pengubahan data medan anomali tersebut adalah benda yang
potensial yang diukur pada suatu bidang memanjang. Permodelan dinyatakan dalam
permukaan, menjadi data yang seolah-olah bentuk dua dimensi, karena efek gravitasi
diukur pada bidang permukaan lebih ke dua dimensi dapat di tampilkan dalam
atas disebut kontinuasi ke atas. Metode ini bentuk profil tunggal (Grandis, 2008).
juga merupakan salah satu metode yang
sering digunakan karena dapat mengurangi 3.9 Prinsip Pemodelan Inversi 3D
efek dari sumber anomali dangkal, yang Metode inversi adalah cara yang
diilustrasikan seperti Gambar 7 digunakan untuk memperkirakan model
Perhitungan harga medan potensial respon magnetik yang paling cocok
disetiap titik observasi pada bidang hasil dengan data observasi. Untuk mencocokan
kontinuasi keatas (Z) dapat dilakukukan data tersebut dapat dinyatakan dengan
dengan menggunakan persamaan berikut fungsi objektif yang merupakan fungsi dari
(Telford, 1990): selisih antara teoritis dengan data
|๐‘ง| ๐‘Ž ๐‘Ž ๐‘ง (๐‘‹ โ€ฒ ,๐‘ฆ โ€ฒ ,๐‘ง โ€ฒ ) observasi. Jika respon tersebut belum
Z(x,y,z) = 2๐œ‹ โˆซโˆ’๐‘Ž . โˆซโˆ’๐‘Ž ๐‘…3 ๐‘‘๐‘ฅ โ€ฒ ๐‘‘๐‘ฆโ€ฒ
cocok maka harga parameter tersebut
(8)
diubah sampai menghasilkan respon model
Dimana, Z(x,y, z) adalah harga medan
yang cocok dengan respon data lapangan
potensial pada bidang kontinuasi z adalah
hingga diperoleh parameter yang
jarak atau ketinggian pengakatan, Z(xโ€™, yโ€™,
diharapkan.
zโ€™) adalah harga medan potensial pada
Setiap anomali magnetik yang diamati
bidang observasi sebernanya (z=0), dan
di atas permukaan dapat dievaluasi dengan
R=(|๐‘ฅ โˆ’ ๐‘ฅโ€ฒ|2 |๐‘ฆ โˆ’ ๐‘ฆโ€ฒ|2 |๐‘ง โˆ’ ๐‘งโ€ฒ|2 ). Dalam
menghitung proyeksi anomali medan
penerapan persamaan-persamaan yang
magnet dari arah yang ditentukan. Sumber
masih dalam bentuk domain spasial sulit
pada lokasi yang diteliti, diset kedalaman
diimplementasikan karena harus diketahui
sebuah cell ortogonal berupa mesh 3D(Li
dengan pasti harga medan potensial
dan Oldenburg, 1996). Mesh 3D
disetiap titik pada bidang hasil
diasumsikan mempunyai suseptibbilitas di
pengangkatan.
dalam masing-masing cell dan magnetik
remanen diabaikan. Anomali magnetik
3.8 Forward Modeling
(โˆ†๐‘‡) pada suatu lokasi berhubungan
Forward modeling merupakan salah
dengan suseptibilitas (๐‘˜) dibawah
satu pemodelan interpretasi yang di
permukaan. Secara linier dapat dituliskan
gunakan untuk memeperkirakan
dalam persamaan berikut:
suseptibilitas bawah permukaan dengan
membuat terlebih dahulu benda geologi โˆ†๐‘ป = ๐‘ฎ๐’Œ (9)
bawah permukaan. Kalkulasi dari model
yang dibuat kemudian dibandingkan
Dimana G merupakan matriks dengan dan variasi akibat aktivitas benda luar
angkasa. Data intensitas medan magnet
ukuran i x j : sangat dipengaruhi oleh variasi medan
magnet bumi yang berhubungan dengan
kerentanan magnet batuan atau yang sering
๐‘ฎ๐Ÿ๐Ÿ ๐‘ฎ๐Ÿ๐Ÿ โ‹ฏ ๐‘ฎ๐Ÿ๐’‹ disebut dengan anomali lokal. Analisis
๐‘ฎ๐Ÿ๐Ÿ ๐‘ฎ๐Ÿ๐Ÿ โ€ฆ ๐‘ฎ๐Ÿ๐’‹ anomali magnet dalam penelitian ini lebih
๐‘ฎ= (10)
โ‹ฎ โ‹ฎ โ‹ฎ ditekan dalam bentuk anomali magnet
๐‘ฎ๐’Š๐Ÿ ๐‘ฎ๐’Š๐Ÿ โ‹ฏ ๐‘ฎ๐’Š๐’‹ yang dapat menggambarkan pola
( ) kemagnetan secara regional atau lokal
yang diperoleh dari hasil analisis anomali
i adalah jumlah data dan j adalah total serta nilai suseptibiltas dari batuan
jumlah parameter model. Matriks G yang terukur. Setelah medapatkan nilai
digunakan untuk memetakan suatu model anomali total, maka melanjutkan dengan
dari data keseluruan data pada proses koreksi IGRF.
inversi. Secara umum, inversi yang Koreksi ini dilakukan untuk
dilakukan pada medan anomali berbanding menghilangkan pengaruh medan magnet
lurus terhadap variasi suseptibilitas pada luar dan menyeragamkan nilai magnet
skala linier (Supriyanto, 2007). bumi yang berubah-ubah terhadap waktu.
Tahap pengkoreksian ini dilakukan dengan
4. METODE PENELITIAN menggunakan sofware Oasis Montaj
dengan menggunakan fungsi IGRF seperti
Sebaran titik pengukuran geomagnetik gambar yang terlampir pada lampiran.
daerah penelitian terlihat pada Gambar1 Proses ini dilakukan dengan
bawah ini. memasukkan data tanggal pengukuran,
Titik pengukuran geomagnetik terdiri longitud, latitud dan elevasi. Data keluaran
dari 20 line dengan jumlah titik 796462 dari proses ini adalah nilai IGRF, inklinasi
yang tersebar dari selatan Provinsi dan deklinasi. Selanjutnya dilakukan
Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara proses pengurangan data pengukuran
hingga sebelah utara dari Provinsi Nusa dengan nilai IGRF. Setelah didapatkan
Tenggara Timur dengan spasi jarak nilai anomali magnet dari hasil
pengukuran 50 m dan jarak antara line pengurangan IGRF, selanjutnya dengan
berjarak dengan 10-15 km. Luas area proses pemodelan Gridding. Dengan
pengukuruan berkisar 1000 km2. menggunakan minimum curvacture seperti
Data akuisisi ini diperoleh dari Gambar 2.
akuisisi yang dilakukan oleh Pusat Pada kontur anomali magnet total
Penelitian dan Pengembangan Geologi menunjukkan rentang -106.6 nT sampai
Kelautan, sedangkan hasil dari penelitian dengan 209.3 nT yang merupakan respon
ini adalah mendapatkan penampang 2D variasi suseptibilitas batuan pada daerah
dan pemodelan 3D berdasarkan penelitian. Warna pada kontur peta
suseptibilitas batuan. tersebut menunjukkan nilai anomali yang
terdapat pada daerah penelitian. Warna
5. HASIL DAN PEMBAHASAN biru tua sampai biru muda menunjukan
rentang nilai -106.6 nT sampai dengan -
5.1. Intensitas Magnetik Total 21.7 nT tersebar hampir di seluruh daerah
Intensitas magnet total yang terukur penelitian dengan kontur terbesar terletak
merupakan akumulasi dari medan magnet dibagian Selatan, Barat dan Utara. Warna
utama, variasi medan magnet bumi yang hijau sampai oranye menunjukan rentang
berhubungan dengan variansi kerentanan nilai -15.9 nT sampai dengan 78.8 nT
magnet batuan, medan magnet remanen, tersebar di bagian Tenggara, Barat Laut
dan Timur Laut daerah penelitian, pada lokal atau anomali yang dekat dengan
transisi kontur warna merah sampai merah permukaan. Anomali residual dicirikan
muda yang menunjukkan rentang nilai dengan nilai frekuensi yang tinggi, namun
87.2 nT sampai dengan 209.3 nT yang memiliki amplitudo gelombang yang
juga tersebar hampir diseluruh daerah rendah. Pada penelitian ini difokuskan ke
penelitian dengan kontur yang paling anomali residual dicirikan dengan nilai
menonjol di bagian Timur Laut โ€“ Timur, frekuensi yang tinggi, namun ampitudo
Timur- Tenggara, Selatan- Barat daya dan yang rendah. Pada penelitian ini akan di
Barat-Barat Laut. fokuskan ke anomali residual untuk
5.2 Anomali Regional mengindentifikasi zona yang
Anomali regional merupakan anomali diidentifikasikan sebagai struktur geologi
yang berasal dari batuan dalam lapisan itu berupa patahan yang berada pada
sendiri. Anomali regional dicirikan dengan kedalaman dangkal. Dari hasil pemisahan
nilai frekuensi rendah, namun memiliki anomali regional-residual yang telah
amplitudo gelombang yang tinggi. Hal ini dilakukan, selanjutnya pembuatan kontur
dapat diasumsikan bahwa respon regional menggunakan Sofware Oasis Montaj
bersuperposisi atau bercampur dengan dengan metode minimum curvature seperti
anomali magnetik lain yang berasal dari pada Gambar 4.
sumber yang sangat dalam dan sangat luas terlihat bahwa efek anomali regional
di permukaan bumi. telah berkurang. Hal ini dilihat dari kontur
Rentang nilai anomali regional -25 nT anomali yang membentuk pola. Rentang
sampai dengan 56.7 nT, warna biru tua nilai pada peta anomali residual berkisar
sampai biru muda menunjukkan nilai antara -135.1 nT sampai dengan 173.1 nT.
batuan yang rendah dari -25 nT sampai - Dapat dilihat pada bagian Barat dan
3.9 nT terdapat pada wilayah utara dan Timur Laut daerah penelitian anomali
selatan. Warna hijau sampai oranye relatif tinggi. Diperkirakan anomali relatif
menunjukan rentang nilai menengah -1.2 tinggi berkaitan dengan efek polarisasi
nT sampai 31.5 nT penyebaran rendah batuan bersifat magnetik yang mengalami
terdapat di seluruh wilayah penelitian dari deformasi akibat struktur geologi daerah
utara hingga selatan yang masing-masing tersebut. Sedangkan anomali yang relatif
bergerak ke tengah, merah tua sampai rendah (negatif), diperkirakan relatif kecil
merah muda menunjukan yang tinggi mengalami deformasi. Anomali yang
dengan rentang nilai 33.4 nT sampai 56.7 relatif tinggi tersebut tidak menutup
nT penyebaran terletak di timur laut- timur kemungkinan disebabkan oleh pengaruh
dan barat daya โ€“ barat. Hasil pemisahan batuan magnetik dari dasar kerak Laut
anomali regional-residual kemudian Banda yang mendominasi daerah
dilakukan gridding dengan metode sekitarnya.
minimum curvature seperti pada Gambar Demikian anomali yang membentuk
3. bulat-bulatan yang tersebar di sebelah
Setelah didapatkan anomali regional, timur laut dan barat laut daerah penelitian,
proses selanjutnya mengurangkan nilai diinterpretasikan sebagai batuan beku yang
intensitas magnet total dengan nilai bersifat magnetik yang terdapat pada
anomali regional. Lalu kemudian data daerah tersebut. Sementara nilai anomali
disimpan untuk selanjutnya dilakukan magnet (negatif) dengan nilai kontur -
proses gridding menggunakan Sofware 135.1 nT sampai 110.3 nT yang
Oasis Montaj. membentuk kontur kecil di sebelah barat
daya hingga barat penelitian, dididuga
5.3 Anomali Residual sebagai merupakan batuan sedimen yang
Anomali residual adalah respon bersifat non magnetik yang merupakan
magnetik bawah permukan yang bersifat batuan pada relatif dangkal. Kemungkinan
lain adalah sifat kemagnetan yang relatif suseptibilitas dari kemagnetan batuan
rendah tersebut adalah batuan beku yang tersebut dapat dibagi pada dalam dua
disebabkan oleh batuan beku yang bersifat bagian warna yaitu berwarna merah
asam atau batuan malihan yang dengan nilai antara 77.8 NT sampai 132.8
mempunyai sifat kerentanan magnet nt, sedangkan yang terendah warna biru
sedang hingga rendah. dengan nilai antara -129.8 sampai -63.6
. nT.
5.4 Reduksi ke Ekuator Pola sebaran suseptibilitas yang
Setelah menganalisis peta anomali cenderung membesar ke arah timur laut,
residual yang menjadi fokus pada diduga merupakan batuan yang
penelitian ini kemudian dilakukan reduksi mempunyai sifat kemagnetan yang tinggi
ke ekuator. Reduksi ke ekuator dilakukan yang berasal dari jalur pemekaran erupsi
karena Latitud -7o atau lebih rendah 25o, gunug berapi bawah laut (ridge) yang
sedangkan jika dilakukan reduksi ke kutub merupakan bagian dari Busur Banda di
latitud daerah penelitian lebih besar dari bagian barat . Sementara nilai
30o. Proses ini bertujuan untuk suseptibilitas yang relatif rendah di bagian
mensimulasikan kondisi dimana medan barat hingga Barat Laut diduga
magnet yang menginduksikan batuan merupakan kelompok batuan sedimen
memiliki arah horizontal. Melalui proses yang mempunyai suseptibilitas sedang
reduksi tersebut anomali tidak bersifat dwi hingga rendah diduga proses transportasi
kutub dimana batuan yang termagnetisasi sedimen yang terbawah yang arus dari
digambarkan sebagai anomali negatif atau sebelah utara daerah penelitian dimana
rendah pada posisi yang tepat di atas terdapat Cekungan Sulawesi Selatan.
penyebab anomali tersebut. Pengolahan
data selanjutnya, yaitu dilakukan dengan 5.5 Forward Modeling
menggunakan Sofware Oasis Montaj Dalam proses pembuatan forward
untuk memperoleh nilai dari hasil reduksi modeling, pada Gambar 6 merupakan
ke ekuator (Reduction to Equator ) dengan lintasan A-Aโ€™ berarah N290o (North to
mengatur sudut deklinasi sebesar 90o dan South) dengan panjang 9,15 km dengan
inklinasi 0o seperti Gambar 5. kedalaman 4460 m. Stratigrafi pada A-Aโ€™
Dengan mengamplikasikan Sofware dari batuan yang memilki nilai
Oasis Montaj nilai anomali yang di suseptibilitas (k = 0.0098 emu) yang
hasilkan dapat menggambarkan pola berada pada lapisan paling atas hingga
anomali dengan toleransi sudut inklinasi kedalaman 830 m. Selanjutnya batuan
90o dan deklinasi sebesar 0o. Dari hasil dengan suseptibilitas (k =0.0135 emu)
pengolahan tersebut ternyata nilai sebaran dengan kedalaman 1894 m, di bawahnya
anomali magnet ini sedikit mengalami terdapat lapisan dengan suseptibilitas (k =
pergeseran dari nilai anomali residual 0.0162 emu) dengan ketebalan 2656 m,
dengan rentang berkisar -129.8 nT sampai lalu pada lapisan terakhir merupakan
dengan 132.8 nT. Anomali magnet yang batuan dengan suseptibilitas (k = 0.022
relatif tinggi dengan warna kontur merah emu) dengan 4400 m.
hingga merah muda tersebar hampir
diseluruh selatan hingga barat daya daerah Interpretasi kuantitatif dilakukan
pengukuran, serta anomali tinggi yang dengan pemodelan benda anomali
berbentuk yang tersebar pada bagian timur menggunakan metode 2D yang dibuat
laut hingga barat . Sedangkan anomali menggunakan Sofware Oasis Montaj. Pada
yang relatif rendah dengan warna kontur lintasan pertama, yaitu sayatan yang A-Aโ€™
biru tua hingga biru muda berbentuk bulat- dimulai dari kordinat (357704, 9194916)
bulat tersebar pada tenggara dan barat sampai (378391, 9256997) sayatan ini
daerah penelitian. Pola sebaran menghasilkkan profil permukaan bawah
tanah berupa batuan penyusun serta dari batuan sedimen dan batuan vulkanik
struktur geologi yang disajikan pada yang mendominasi di daerah penelitian.
Gambar 23. Terdapat empat lapisan batuan Zona struktur pada Section-1 terdapat pada
yang memiliki nilai suseptibilitas masing- titik 750 sampai 1300, dengan variasi nilai
masing 0.0098 emu, 0.0135emu, 0.0162, suseptibilitas sedang hingga tinggi yaitu
dan 0.021 emu. dimana pada 0.0098- 0.001 emu sampai dengan 0.018 emu pada
0.135 emu diidentifikasikan sebagai kedalaman 0 - 1100 m di bawah
batuan sedimen klastika berumur Neogen- permukaan. Zona suseptibilitas tinggi yang
Resen yang berkembang dari Cekungan menerus secara vertikal menandakan
Bone Selatan di bagian baratlaut dan terjadinya silisifikasi yang cukup baik
Cekungan Banda Selatan dibagian timur sebagai penanda pengendapan mineral
dan 0.0162 โ€“ 0.021 emu diidentifikasikan logam yang potensial. Hal ini juga dapat
sebagai batuan beku. ditinjau dari penampang forward modeling
lintasan A, dimana terdapat zona patahan
5.6 Inversi Modeling
sebagai pengontrol zona aktivitas.
Pemedolan ke belakang atau yang Identifikasi zona yang memiliki struktur
disebut sebagai inversi modeling yang patahan pada Section-2 yang disajikan
mengestimasikan sebaran suseptibilitas di pada Gambar 23 terbagi menjadi empat
bawah permukaan berdasarkan nilai Zona. Pada zona yang pertama terletak di
anomali residual di permukaan dengan titik 250 hingga 800 dengan variasi nilai
input dimensi mesh. Dalam perhitungan suseptibilitas 0.001 emu sampai 0.018 emu
nilai sebaran suseptibilitas dengan teknik pada kedalaman 0 โ€“ 1200 m di bawah
inversi, penelitian menggunakan menu permukaan yang menerus secara vertikal.
VOXI.omn seperti pada Gambar 7. Zona tersebut didominasi oleh batuan
memiliki nilai suseptibilitas yang sediment dan mineralisasi yang berasosiasi
bervariasi yang merupakan respon dari dengan pengendapan sedimen bawah laut.
kondisi lapisan bawah permukaan di Sementara di lapisan paling atas
daerah penelitian. Zona suseptibilitas didominasi batuan tuff dan vulkanik dari
rendah berkisar antara -0.0144 emu sampai hasil gunung โ€“ gunung vulkanik di sekitar
dengan -0.0002 emu, suseptibilitas sedang daerah penelitian.Kemudian pada Zona
berkisar antara -0.0003 emu sampai yang kedua terletak di titik 900 hingga
dengan 0.0143 emu dan suseptibilitas 1500, denganvariasi nilai suseptibilitas
tinggi berkisar antara 0.0144 emu sampai 0.001 emu sampai dengan 0.018 emu, pada
dengan 0.0229 emu. Identifikasi zona yang kedalaman 0 โ€“ 1100 m di bawah
memiliki struktur patahan terfokus pada permukaan. Zona tersebut masih
zona suseptibilitas yang kontras dari tinggi didominasi oleh intrusi batuan sediment
ke rendah atau sebaliknya, yang dan mineral logam , sehingga memberikan
merupakan respon dari batuan yang respon nilai suseptibilitas yang tinggi. Dan
memiliki rentang nilai suseptibilitas -0.001 pada zona yang ketiga terletak di titik 1600
โ€“ 0.0221 emu. hingga , dengan variasi nilai suseptibilitas
yang tak jauh berbeda dengan Zona
Sedangkan pada suseptibilitas mineralisasi yang lainnya pada Section-2
sedang yang melingkupi zona yaitu sebesar 0.001 emu sampai dengan
suseptibilitas tinggi, diduga sebagai batuan 0.018 emu, pada kedalaman 0 โ€“ 1100 m di
beku pada nilai suseptibilitas 0.0013 emu bawah permukaan. Di zona tersebut
yang secara geologi terbentuk memiliki ditandai pula dengan adanya zona
kadungan magnetik yang tinggi . Serta pengendapan sediment dan struktur
zona suseptibilitas rendah pada nilai geologi yang di akibatkan karena zona
suseptibilitas berkisar -0.020 emu sampai subduksi.
dengan -0.006 emu, merupakan respon
6. KESIMPULAN DAN SARAN . Barber, P., Carter, P., Fraser, T. Baillie, P
dan Myers K., 2003. Paleozoic and
6.1. Kesimpulan Mesozoic Petroleum System in
Kesimpulan yang diperoleh dari Timor and Arafura Seas, Eastern
penelitian ini adalah sebagai berikut: Indonesia, IPA Proceeding of 29th
1. Pola penyebaran Anomali Annual Convention and Exhibition,
Magnetik di Laut Banda-Flores diketahui Jakarta, Oct 14 โ€“ 16.
mempunyai -135.1 sampai dengan 173.1 Basuki N.I., Basuki, Prihatmoko S, dan
nT, rentang nilai kemagnetan -106.6 Suparka E, 2012, Gold
sampai -21.7 nT yang tersebar di bagian Mineralization Systems In
selatan, barat dan utara, rentang nilai Southern Mountain Range,
kemagnetan 87.2 sampai 209.3 nT yang West Java, Proceedings Of
tersebar hampir di seluruh daerah Banda And Eastern Sunda Arcs
penelitian, kontur paling menonjol di 2012 MGEI Annual Convention
bagian timur laut-timur, timur-tenggara, 26-27 November 2012, Malang,
selatan-barat daya dan barat-barat laut. East Java, Indonesia
2. Pada penampang struktur geologi Blakely, R.J., 1995, Potential Theory in
dari hasil pengolahan Forward Modeling, Gravity and Magnetic
terdapat beberapa Patahan atau sesar yang Applications, Cambridge
diduga sebagai hasil aktivitas tektonik University Press, New York
Laut Banda. Butler, R.F., 1992. Paleomagnetism:
3. Pada penampang cross-section Magnetic Domains to Geologic
hasil permodelan inversi, struktur geologi Terranes. University of Arizona
terdapat pada nilai suseptibilitas tinggi ke Cardwell dan Isacks. 1978. Geometry of
rendah yang diduga sebagai struktur Subducted Lithosphere Beneath the
patahan dari intrusi batuan beku yang di Banda Sea in Eastern Indonesia
akibatkan oleh zona subduksi. from Seismicity and Fault Plane
6.2. Saran Solutions. Geophys Research J 83,
Saran dalam penelitian ini adalah pp 2825-2838.
perlu dilakukan penelitian dengan metode Crostella, A. 1977. Geosynclines and Plate
geofisika lainnya lebih lanjut secara detail Tetonics in Banda arcs, Eastern
untuk mengetahui lebih jauh besar potensi Indonesia. Amer Assn Petrol Geol
penyebaran โ€“ penyebaran zona struktur Bull, pp 2063-2081.
geologi. di daerah penelitian. Salah Corbett, G. J., 2013, Characteristics of
satunya, yaitu melakukan pemetaan degan Low Sulphidation Gold-Copper
menggunakan Aplikasi Penginderaan Jauh System in
dan Sistem Informasi Geografis (SIG) The Southwest Pasific, in Pacific Rim
sebagai analisis untuk menentukan Conggress 95, 19-22 November
penentuan titik gempa yang akan di kaji 2013, Auckland, New Zeland,
untuk mitigasi bencana Laut Banda-Flores. Proceedings: Carlton South, The
Australian Institute of Mining and
UCAPAN TERIMAKASIH Metallurgy
Einaudi, Marco T., Hedenquist, Jeffrey
Penulis mengucapkan terimakasih W., dan Inan E. Esra, 2003,
kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena Sulfidation State of Fluids in
atas pertolongannya penulis dapat Active and Extinct Hydrothermal
menyelesaikan penelitian ini. Systems: Transitions from
Porphyry to Ephitermal
DAFTAR PUSTAKA Environments, In Press:
Giggenbach Volume, Society of
Economic Geologist and Nishimura, S dan Suparka. 1990.
Geochemical Society Special Tectonics of Eastern Indonesia.
Publication 10 (S.F. Simmons, ed.) Tectonophysics 181, pp 257-266.
Grandis, Hendra. 2008. Pemodelan Rehault, J P et al. 1991. A New Sketch of
Inversi Geofisika. Badan The Central North Banda Sea,
Meteorologi dan Geofisika: Jakarta Eastern Indonesia. Southeast Asian
Garrard, R A et al. 1988. Geology of The Earth Sci J 19/2, pp 329-334.
Bangsai-Sula Micro Continent, Ritsema, A R. 1985. Snellius
East Indonesia. Proc 17th Annual IIโ€™onderzoek Naar Subductie in de
Conv Indon Petrol Assn, pp 1-10. Banda Boog. Kon Ned Akad
Haile, N S. 1978. Paleomagnetik Evidence Wetensch Afd Nat 94/5, pp 43-48.
for The Rotation of Ceram, Ritsema, A R. 1991. De Molukken,
Indonesia. J Phys Earth 26, pp 191- Triplepunt Van Lithosfeerplaten.
198. Molukkendag Maatsch Wet Onderz
Hetzel, W H. 1930. Over de Geologie der Tropen (Treub-Mij), Amsterdam,
Toekang-Besi Eilanden. De 31 October 1991, Verslag, 3 pp.
Mijinningenieur 11/3, pp 51-53. Ritsema, A R et al. 1989. The Generation
Kadir, W.G.A., 2000. Diktat Kuliah: of The Banda Arc on The Basis of
Eksplorasi Gayaberat dan Its Seismicity. Neth J of Sea Res
Magnetik. Jurusan Teknik 242, 3 pp 165-172.
Geofisika Fakultas Ilmu Kebumian Silver, E A et al. 1985. Evidence for A
dan Teknologi Mineral, ITB. Submerged and Displaced
Bandung Borderland, North Banda Sea,
Klompe, Th H F. 1954. The Structural Indonesia. Geology 13, pp 687-
Importance of The Sula Spur, 691.
Indonesia. Indon J Nat Sci 110, pp Verstappen. 2014. Garis Besar
21-41. Geomorfologi Indonesia.
Kuenen, Ph. 1933. The Formations of The Yogyakarta: Gadjah Mada
Atolls in The Toekang-Besi Group University Pres.
by Subsidence. Kon Ned Akad Supriyanto. 2007. Analisis Data
Wetensch Amsterdam 36/3, pp Geofisika: Memahami teori Inversi.
331-336. Department Fisika FMIPA UI:
Kuswono. M., Kusmana, dan Sumarna. Depok.
N., 1996, Peta Geologi Lembar Reid, A. B., Allsop, J.M. Granser, H.,
Sindangbarang dan Bandarwaru Millett, A. J., and Somerton. I. W.,
(1:100.000) edisi ke dua, Dirjen 1990, Magnetic Interpretation in
Geologi & Sumberdaya Mineral, Three Dimensions Using Euler
Pusat penelitian dan Deconvolution: Geophysics, 55, 80-
pengembangan geologi (P3G), 90
Bandung. Reynolds, J. M. 1997. An Introduction to
McCaffrey, R. 1988.Active Tectonics of Applied and Environmental
The Eastern Sunda and Banda Geophysics, John Wiley and Sons
Arcs. Geophys Res J 93, pp 163- Inc., England.
215. Robinson, Edwin S., dan Coruh, Cahit.,
McCaffrey, R. 1989. Seismological 1988. Basic Exploration
Constraints and Speculations on Geophysics. Virginia Polytechnic
Banda Arc Tectonics. Proc Snellius Institute and State University. John
II Symp, Neth J Sea Res 24, pp Wiley and Sons: New York
141-152. Chinister Brisbane โ€“ Toronto
Singapore.
Telford, W.M., Geldart, L.P., dan exploration, J. Geochem. Explore.,
Sheriff, R.E., 1990, Applied 36: 445-474.
Geophysics, second edition, White, N. C., dan Hedenquist, J. W., 1995,
Cambridge University Press, Epithermal gold deposits: Styles,
London. characteristics and exploration,
White, N. C., dan Hedenquist, J. W., 1990, SEG Newsletter, v. 23.
Epithermal environments and styles
of mineralization: variations and .
their causes, and guidelines for

LAMPIRAN

Gambar 1. Peta Sebaran lintasan 1 sampai 20, metode magnetik Laut Banda Flores

meter
Gambar 3. Kontur anomali regional bersifat dipole dengan rentang
Gambar 2. Kontur intensitas medan magnetik total, bersifat dipole nilai -25.5nT sampai dengan 56.7 nT.
Rentang nilai 106.6 nT s/d 209.3 nT.
Gambar 4. Kontur anomali residual bersifat dipole, rentang -135.1 Gambar 5. Kontur anomali reduksi ke ekuator bersifat monopole
nT sampai 173.1 nT. dengan rentang nilai -129.8 nT sampai 132.8 nT dan Slice A-Aโ€™
Gambar 6. Foward modeling ( Slice A-Aโ€) Gambar 7. Inversi Modeling

Anda mungkin juga menyukai