Anda di halaman 1dari 9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Diare

Diare adalah buang air besar yang terjadi pada bayi dan anak yang
sebelumnya nampak sehat, dengan frekuensi tiga kali atau lebih per hari, disertai
perubahan tinja menjadi cair, dengan atau tanpa lendir dan darah. Apabila pada
diare pengeluaran cairan melebihi pemasukan maka akan terjadi defisit cairan
tubuh, maka akan terjadi dehidrasi. Berdasarkan derajat dehidrasi maka diare
dapat dibagi menjadi diare tanpa dehidrasi, diare dehidrasi ringan sedang dan
diare dehidrasi berat. Pada dehidrasi berat terjadi defisit cairan sama dengan atau
lebih dari 10% berat badan. Anak dan terutama bayi memiliki risiko yang lebih
besar untuk menderita dehidrasi dibandingkan orang dewasa.2

2.2 . Epidemiologi dan Etiologi Diare

Prevalensi diare dalam Riskesdas 2007 adalah 9,0% (rentang: 4,2% -


18,9%), tertinggi di Provinsi NAD (18,9%) dan terendah di DI Yogyakarta
(4,2%). Beberapa provinsi mempunyai prevalensi diare klinis >9% (NAD,
Sumatera Barat, Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Nusa Tenggara Barat,
Nusa Tengara Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara,
Gorontalo, Papua Barat dan Papua). Bila dilihat per kelompok umur diare tersebar
di semua kelompok umur dengan prevalensi tertinggi terdeteksi pada anak balita
(1-4 tahun) yaitu 16,7%. Sedangkan menurut jenis kelamin prevalensi laki-laki
dan perempuan hampir sama, yaitu 8,9% pada laki-laki dan 9,1% pada
perempuan.1
Pada tahun 2012 angka kesakitan diare pada semua umur sebesar 214 per
1.000 penduduk dan angka kesakitan diare pada balita 900 per 1.000 penduduk.
Menurut Riskesdas 2013, insiden diare (≤ 2 minggu terakhir sebelum wawancara)
berdasarkan gejala sebesar 3,5% (kisaran provinsi 1,6%-6,3%) dan insiden diare
pada balita sebesar 6,7% (kisaran provinsi 3,3%-10,2%).3 Pada tahun 2013 terjadi

4
8 KLB yang tersebar di 6 Propinsi, 8 kabupaten dengan jumlah penderita 646
orang dengan kematian 7 orang (CFR 1,08%). Sedangkan pada tahun 2014 terjadi
6 KLB Diare yang tersebar di 5 propinsi, 6 kabupaten/kota, dengan jumlah
penderita 2.549 orang dengan kematian 29 orang (CFR 1,14%).3
Rotavirus merupakan penyebab utama diare berat pada anak usia balita
baik di negara maju maupun negara berkembang. Dilaporkan oleh WHO bahwa
setiap tahun diare rotavirus menyebabkan > 500.000 kematian anak usia balita di
seluruh dunia dan >80% di antaranya terjadi di negara berkembang. Di negara
maju mortalitas diare rotavirus rendah oleh karena sarana pelayanan yang lebih
baik, namun diare rotavirus tetap menjadi penyebab morbiditas utama dan
menjadi alasan tersering untuk berobat ke unit gawat darurat/ poliklinik dan rawat
inap. Di Indonesia rotavirus menjadi penyebab 60% diare pada anak balita yang
mengalami rawat inap dan 41% dari kasus diare rawat jalan. Perbaikan sanitasi
lingkungan dan higiene serta upaya rehidrasi oral dengan oralit saja tidak dapat
menurunkan angka mortalitas dan morbiditas diare rotavirus, sehingga vaksinasi
merupakan upaya pencegahan yang paling efektif.4
2.3. Diagnosis Diare

Diagnosis diare dengan derajat dehidrasi ditegakkan dengan anamnesis,


pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Diagnosis diare ditegakkan bila
pada anamnesis didapatkan riwayat BAB cair dengan frekuensi lebih dari 3 kali.3,5

Diagnosa Didasarkan pada keadaan


Diare cair akut - Diare lebih dari 3 kali sehari
berlangsung kurang dari 14 hari
- Tidak mengandung darah
Kolera - Diare air cucian beras yang
seing dan banyak dan cepat
menimbulkan dehidrasi berat,
atau
- Diare dengan dehidrasi berat
selama terjadi KLB kolera, atau
- Diare dengan hasil kultur tinja
positif untuk V. cholerae O1
atau O139
Disentri - Diare berdarah (terlihat atau
dilaporkan)

5
Diare persisten -
Diare berlangsung selama 14
hari atau lebih
Diare dengan gizi buruk - Diare jenis apapun yang disertai
tanda gizi buruk
Diare terkait antibiotik - Mendapat pengobatan antibiotik
oral spektrum luas
Invaginasi - Dominan darah dan lendir
dalam tinja
- Massa intra abdominal
(abdominal mass)
- Tangisan keras dan kepucatan
pada bayi
Tabel 3.1 Manifestasi klinis diare

2.4. Tatalaksana Diare

Tatalaksana diare didasarkan pada derajat dehidrasi yang terjadi. Penilaian


derajat dehidrasi dapat dilihat pada tabel di bawah ini:6

1. Lihat
Kondisi Letargis, atau tidak sadar Gelisah Baik, sadar penuh
Mata Sangat cekung dan Cekung Normal
kering
Produksi air mata Tidak ada Tidak ada Ada
Mulut dan lidah Sangat kering Kering Lembab
Haus Minum sedikit atau tidak Kehausan Minum normal,
mampu minum tidak haus
2. Rasakan
Kulit Sangat lambat kembali Lambat kembali Kembali cepat
setelah dicubit setelah dicubit setelah dicubit
3. Tentukan Jika ada 2 atau lebih Jika ada 2 atau Tidak ada tanda
tanda, termasuk minimal lebih tanda, dehidrasi
1 tanda yang digaris termasuk minimal 1
bawah, termasuk tanda yang digaris
dehidrasi berat bawah, termasuk
dehidrasi ringan
sedang
4. Rencana terapi Rencana C Rencana B Rencana A
5. % dehidrasi >10% (berat) 5-10% (ringan <5% tidak ada
sedang) dehidrasi
Tabel 3.2 Penentuan tatalaksana dehidrasi berdasarkan derajat dehidrasi6

6
Gambar 3.1 Rencana terapi C5

7
Tatalaksana anak dengan dehidrasi berat harus diberi rehidrasi intravena
secara cepat yang diikuti dengan terapi rehidasi oral. Cairan intravena segera
diberikan. Jika anak bisa minum oralt juga diberikan. Pilihan cairan intravena
terbaik adalah larutan Ringer Laktat (disebut pula larutan Hartman untuk
penyuntikan). Tersedia juga larutan Ringer Asetat. Jika larutan Ringer Laktat
tidak tersedia, larutan garam normal (NaCl 0.9%) dapat digunakan. Larutan
glukosa 5% (dextrosa) tunggal tidak efektif dan tidak digunakan. pemberian 100
ml/kg larutan yang dipilih dan dibagi sesuai tabel di bawah ini:5
30ml/KgBB pertama dalam : 70 ml/KgBB kedua dalam:
Umur < 12 bulan 1 jam* 5 jam
Umur ≥ 12 bulan 30 menit* 2,5 jam
*ulangi kembali jika denyut nadi radial masih lemah atau tidak teraba
Tabel 3.3 Pemberian cairan pada derajat dehidrasi berat5

8
Gambar 3.2 Rencana terapi B5

9
Pada anak dengan dehidrasi sedang/ringan diberikan larutan oralit dalam
waktu 3 jam pertama. Larutan oralit diberikan dengan perkiraan jumlah sesuai
dengan berat badan anak (atau umur anak jika berat badan anak tidak diketahui),
Jika anak ingin minum lebih banyak, anak boleh diberi minum lebih banyak.5
Pada tahun 1975, WHO mengenalkan Oral Rehydration Salt (ORS)
dengan osmolaritas 311 mOsm/L, natrium 90 mEq/L, Kalium 20 mEq/L dan
glukosa 20 g/L. Setelah dilakukan berbagai penelitian, didapatkan formula
tersebut masih belum optimal dalam menurunkan volume BAB dan durasi diare,
meskipun m,ampu menjaga status hidrasi. Konsentrasi natrium terlalu tinggi bagi
anak dengan diare bukan kolera. Hal ini menyebabkan pencarian formula ORS
yang baru. Pada tahun 2003 WHO merubah rekomendasri ORS dengan
osmolaritas lebih rendah (245 mOsm/L) dengan komposisi natrium 75 mEq/L,
dan glukosa 13,5 g/L yang lebih rendah.9
Pada kondisi anak sama sekali tidak bisa minum oralit misalnya karena
anak muntah profus, dapat diberikan cairan intravena secepatnya, pemberian
cairan sejumlah 70 ml/kg BB cairan Ringer Laktat atau Ringer asetat (atau jika
tak tersedia, gunakan larutan NaCl). 5
Umur Pemberian 70 ml/KgBB selama
Usia 12 bulan 5 jam
Usia 12 bulan sd 5 tahun 2,5 jam

10
Gambar 3.3 Rencana terapi C5

11
Pada anak dengan diare tanpa dehidrasi ditatalaksana dengan terapi A.
Tatalaksana yang diberikan yaitu:5
1. Anak dirawat jalan
2. Beri cairan tambahan
3. Beri tablet zink
4. Lanjutkan pemberian ASI
5. Berikan edukasi pada orang tua
Departemen Kesehatan RI memiliki rangkuman istilah lintas diare (lima
langkah tuntaskan diare), yaitu:8
1. Oralit, berikan segera bila anak diare, untuk mencegah dan mengatasi
dehidrasi.
2. ZINC diberikan selama 10 hari berturut-turut, mengurangi lama dan beratnya
diare, mencegah berulangnya diare selama 2-3 bulan. ZINC juga dapat
mengembalikan nafsu makan anak.
3. ASI dan makanan tetap diteruskan sesuai umur anak dengan menu yang sama
pada waktu anak sehat, untuk mencegah kehilangan berat badan serta
pengganti nutrisi yang hilang.
4. Antibiotik hanya diberikan pada diare berdarah, kolera dan diare dengan
masalah lain.
5. Segera kembali ke petugas kesehatan jika ada demam, tinja berdarah, muntah
berulang, makan atau minum sedikit, sangat haus diare makin sering atau
belum membaik dalam 3 hari.

12