Anda di halaman 1dari 9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Teori Perilaku


Perilaku manusia merupakan seluruh kegiatan yang dilakukan oleh manusia, baik dilihat
secara tidak langsung maupun langsung oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2010).
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Menurut Sunaryo (2013), faktor yang
mempengaruhi perilaku diantaranya:
1. Kebutuhan
Maslow (dalam Sunaryo, 2013), mengatakan manusia mempunyai lima kebutuhan dasar
seperti kebutuhan aktualisasi diri, kebutuhan akan harga diri, kebutuhan rasa aman,
kebutuhan fisiologis/biologis, kebutuhan mencintai dan dicintai. Tingkat dan jenis
kebutuhan tersebut tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain karena
merupakan satu-kesatuan atau rangkaian. Misalnya, seseorang memenuhi kebutuhan
fisiologisnya terlebih dahulu, kemudian kebutuhan rasa aman, dan seterusnya. Perilaku
manusia dalam memenuhi kebutuhan terjadi secara stimultan
2. Motivasi
Motivasi adalah dorongan penggerak untuk mencapai tujuan tertentu, baik yang disadari
maupun tidak disadari. Motivasi timbul dari dalam diri individu (intrinsik) atau
lingkungan (ekstrinsik).
3. Faktor perangsang dan penguat
Perilaku individu didukung dengan adanya faktor perangsang dan penguat, yaitu 1)
kompetisi atau persaingan yang sehat, 2) tujuan atau sasaran, 3) dengan cara memberi
hadiah, 4) menginformasikan keberhasilan kegiatan agar bisa lebih termotivasi.
4. Sikap dan kepercayaan
Perilaku dipengaruhi dengan sikap dan kepercayaan, jika kepercayaan negatif, perilaku
negatif akan muncul, dan sebaliknya. Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa
perilaku manusia merupakan aktivitas yang ditimbulkan karena adanya kebutuhan,
motivasi, rangsangan, sikap dan keprcayaan sehingga akan menimbulkan keberhasilan
dari aktivitas atau kegiatan yang dilakukan.
2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Pengobatan Sendiri
Perilaku pengobatan sendiri merupakan salah satu perilaku kesehatan. Faktor-faktor yang
mempengaruhi perilaku pengobatan sendiri menurut Supriyono, 2000 (dalam Mulyani, 2010)
antara lain:
1. Pendidikan
2. Pendidikan adalah usaha terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif bisa mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, keterampilan yang diperlukan pada dirinya,
mampu mengendalikan diri, dan berakhlak mulia.
3. Tempat tinggal
Tempat tinggal merupakan bangunan rumah, tempat berteduh, atau struktur lainnya yang
digunakan sebagai tempat untuk tinggal.
4. Biaya
Biaya adalah harga perolehan yang dikorbankan atau digunakan dalam memperoleh
penghasilan yang akan dipakai sebagai pengurang penghasilan.
5. Usia
Usia adalah lamanya hidup yang dihitung sejak lahir sampai meninggal.
6. Pekerjaan
Pekerjaan adalah suatu yang dikeluarkan oleh seseorang sebagai profesi, sengaja
dilakukan untuk mendapatkan penghasilan.
7. Lama sakit
Lama sakit adalah lamanya waktu sakit yang dialami penderita terhadap penyakitnya.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku pengobatan sendiri merupakan
kegiatan pengobatan yang dilakukan dari diri sendiri dimana dipengaruhi oleh beberapa
faktor yang mendukungnya yaitu pendidikan, tempat tinggal, biaya, usia, pekerjaan, dan lama
sakit
2.3 Teori-teori Kepatuhan dalam Mengonsumsi Obat
Menurut Weinman & Horne (2005), menjelaskan munculnya perilaku patuh dalam
mengonsumsi obat, yaitu :
1. Health Belief Model (HBM)
“Health Belief Model yaitu model perilaku sehat individu dalam mengontrol dirinya
untuk selalu menjaga kesehatannya. Model ini berawal dari fungsi keyakinan individu
terhadap besarnya ancaman penyakit dan penularannya, serta keuntungan dari
rekomendasi yang diberikan petugas kesehatan yang berlanjut pada tindakan untuk
berobat ke petugas kesehatan dan masih terbayang akan resiko dan efek samping dari
tindakan tersebut”.
2. Theory of Planned Behavior (TPB)
“Teori ini menguji hubungan antara sikap dan perilaku, dan kontrol terhadap perilaku
yang dirasakan. Sikap individu terhadap perilaku merupakan keyakinan tentang hasil
akhir dan nilai yang dirasakan dari hasil akhir tersebut, sedangkan kontrol perilaku
menggambarkan tentang seberapa jauh orang tersebut merasa bahwa perilaku patuh
dapat dikendalikannya. Hal ini tergantung keyakinan orang tersebut bahwa dirinya
mampu untuk mengontrol tindakannya”.
3. Model of Adherence
“Model Unintentional Nonadherence & Intentional Nonadherence merupakan hambatan
pada pasien dalam proses pengobatan. Hambatan-hambatan dapat muncul dari kapasitas
dan keterbatasan diri pasien yang meliputi defisiensi memori, keterampilan, pengetahuan
atau kesulitan-kesulitan dengan rutinitas-rutinitas normal harian”.

2.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan


Menurut Horne (2005), menyampaikan bahwa secara umum terdapat empat hal yang
mempengaruhi kepatuhan dalam mengonsumsi obat, yaitu:
1. Persepsi dan perilaku pasien
Meliputi berat ringannya penyakit, kepribadian, keyakinan, sikap dan harapan yang
akhirnya mempengaruhi motivasi pasien untuk menjaga perilaku minum obat selama
proses pengobatan.
2. Interaksi antara pasien dengan dokter
Konsultasi dokter dapat memperbaiki kepatuhan, pasien dalam mengonsumsi obat.
3. Kebijakan dan praktik pengobatan di publik
Adanya sistem pajak dalam resep dan hak-hak konsumen dalam proses pembuatan resep
dibuat oleh pihak yang berwenang.
4. Intervensi mengonsumsi obat
Intervensi ini menggunakan model teori ASE (Attitude-Social Influence-Self Efficacy,
yang diterapakan dalam rumah sakit saat perawat kunjungan ke bangsal. Perawat
mengingatkan pasien tentang peraturan dalam mengonsumsi obat dan juga pemahaman
pasien akan informasi yang diberikan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan
stimulan.

2.5 Aspek – Aspek Perilaku Sehat


Menurut Becker (1979), perilaku sehat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu:

a. Perilaku sehat (healthy behavior)


Perilaku sehat adalah perilaku-perilaku atau kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan
upaya mempertahankan dan meningkatkan kesehatan, antara lain :
- Makan dengan menu seimbang (appropriate diet). Menu seimbang di sini adalah
pola makan sehari-hari yang memenuhi kebutuhan nutrisi yang memenuhi
kebutuhan tubuh baik menurut jumlahnya (kuantitas), maupun jenisnya (kualitas).
- Kegiatan fisik secara teratur dan cukup. Kegiatan fisik yang dimaksud tidak hanya
berarti olah raga. Bagi seseorang yang pekerjaannya memang sudah memenuhi
gerakan-gerakan fisik secara rutin dan teratur, sebenarnya sudah dapat dikategorikan
berolah raga. Bagi seseorang yang pekerjaannya tidak melakukan kegiatan fisik
seperti manager, administrator, sekretaris dan sebagainya memerlukan olah raga
secara teratur.

b. Perilaku sakit ( Illness behavior)


Perilaku sakit adalah berkaitan dengan tindakan atau kegiatan seseorang yang sakit
dan/atau terkena masalah kesehatan pada dirinya, atau keluarganya, untuk mencari
penyembuhan, atau untuk mengatasi masalah kesehatan yang lainnya. Pada saat orang
sakit atau anaknya sakit, ada beberapa tindakan atau perilaku yang muncul, antara lain :
- Didiamkan saja (no-action) artinya sakit tersebut diabaikan, dan tetap menjalankan
kegiatan sehari-hari.
- Mengambil tindakan dengan melakukan pengobatan sendiri (self treatment atau self
medication). Pengobatan sendiri ini ada 2 cara, yakni : cara tradisional (kerokan,
minum jamu, obat gosok dan sebagainya) dan cara modern, misalnya minum obat
jadi.
- Mencari penyembuhan atau pengobatan keluar yakni ke fasilitas pelayanan
kesehatan, yang dibedakan menjadi dua, yakni : fasilitas pelayanan kesehatan
tradisional (dukun, sinshe, dan paranormal), dan fasilitas atau pelayanan kesehatan
modern atau professional (Puskesmas, Poliklinik, dokter atau bidan praktik swasta,
rumah sakit, dan sebagainya).

2.6 Faktor Yang Mempengaruhi Keyakinan Dan Tindakan Seseorang Tentang Sehat
Ada 2 faktor yang mempengaruhi keyakinan dan tindakan seseorang tentang sehat yaitu
faktor internal dan faktor eksternal.
1. Faktor Internal Faktor internal merupakan faktor dari dalam diri seseorang yang
mempengaruhi keyakinan dan tindakan terhadap kesehatan.
a. Tahap Pertumbuhan dan Perkembangan
Keyakinan dan tindakan seseorang tentang kesehatan dapat ditentukan oleh faktor
tahap pertumbuhan dan perkembangan yang berkaitan dengan usia seseorang.
Contoh: Balita dapat merasakan sakit, tetapi tidak dapat mengungkapkan dan
mengatasinya sehingga perlu dibantu untuk mendapatkan penanganan atau
mengembangkan perilaku pencegahan penyakit.
b. Pendidikan atau Tingkat Pengetahuan
Keyakinan dan tindakan seseorang terhadap kesehatan dipengaruhi oleh
pengetahuan tentang berbagai fungsi tubuh dan penyakit, latar belakang pendidikan,
dan pengalaman masa lalu. Contoh: seseorang yang mengetahui cara penyebaran
TBC melalui percikan air Iudah maka orang tersebut akan melakukan upaya
pencegahan dengan menutup hidung ketika ada orang yang batuk atau bersin.
c. Cara seseorang merasakan fungsi fisiknya
Keyakinan dan tindakan seseorang terhadap kesehatan dipengaruhi oleh cara
seseorang merasakan fungsi fisiknya, apakah merasakan fungsi organ-organ
tubuhnya penting atau tidak. Contoh: seseorang dengan penyakit ginjal yang kronis
merasa bahwa tingkat kesehatan mereka berbeda dengan orang yang hanya
menderita batuk dan pilek biasa. Akibatnya, keyakinan terhadap kesehatan dan cara
melaksanakan kesehatan pada masing-masing orang tersebut cenderung berbeda-
beda. Selain itu, individu yang sudah sembuh dari penyakit yang parah mungkin
akan mengubah keyakinan mereka terhadap kesehatan dan tindakan mereka dalam
memandang fungsi tubuhnya.
d. Faktor Emosi
Keyakinan dan tindakan seseorang terhadap kesehatan dipengaruhi oleh faktor
emosi yang berbeda-beda. Contoh: Seseorang yang memiliki emosi yang tenang
cenderung mempunyai respon emosional yang kecil selama ia sakit, Seseorang yang
memiliki emosi yang tidak stabil cenderung menyalahkan keadaan ketika sakit.
e. Spiritual
Keyakinan dan tindakan seseorang terhadap kesehatan dipengaruhi oleh faktor
spiritual seseorang karena hal ini akan mempengaruhi cara pandangnya terhadap
kesehatan dilihat dari perspektif yang luas. Ada beberapa agama yang melarang
penggunaan bentuk tindakan pengobatan tertentu, seperti KB, euthanasia, imunisasi.

2. Faktor Eksternal Faktor eksternal merupakan faktor dari luar diri seseorang yang
mempengaruhi keyakinan dan tindakan terhadap kesehatan.
a. Kebiasaan di Keluarga Keyakinan dan tindakan seseorang terhadap kesehatan
dipengaruhi oleh faktor kebiasaan di keluarga dalam cara keluarga dalam
melaksanakan kesehatannya. Contoh: Jika seorang ibu sering mengajak anaknya
melakukan pemeriksaan gigi rutin, maka ketika punya anak dia akan melakukan hal
yang sama.
b. Faktor Sosioekonomi Keyakinan dan tindakan seseorang terhadap kesehatan
dipengaruhi oleh faktor sosioekonomi, di mana yang termasuk faktor sosial adalah
stabilitas perkawinan, gaya hidup, dan lingkungan kerja sedangkan yang termasuk
faktor ekonomi adalah penghasilan, pekerjaan.
c. Faktor sosioekonomi dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit dan
mempengaruhi cara seseorang mengartikan dan bereaksi terhadap penyakitnya.
Contohnya: Orang yang status sosial ekonominya rendah biasanya kurang
memahami mengenai kesehatan, tidak mampu membeli makanan yang bergizi, tidak
mampu membeli obat dan tidak mampu mengakses pelayanan kesehatan.
d. Budaya/kultur Keyakinan dan tindakan seseorang terhadap kesehatan dipengaruhi
oleh faktor budaya/kultur, di mana tiap-tiap kultur memiliki pandangan tentang sehat
dan diturunkan dari orang tua ke anak-anak. Contoh: ada budaya tertentu yang
melakukan penanganan terhadap kejang dengan cara mengikat penderita dan
menyembunyikannya di bawah tempat tidur

A. MASALAH SEHAT DAN SAKIT


Masalah kesehatan merupakan masalah kompleks yang merupakan resultante dari
berbagai masalah lingkungan yang bersifat alamiah maupun masalah buatan manusia, sosial
budaya, perilaku, populasi penduduk, genetika, dan sebagainya.
Derajat kesehatan masyarakat yang disebut sebagai psycho socio somatic health well being,
merupakan resultante dari 4 faktor yaitu:
1. Environment atau lingkungan.
2. Behaviour atau perilaku
Antara yang pertama dan kedua dihubungkan dengan ecological balance.
3. Heredity atau keturunan yang dipengaruhi oleh populasi, distribusi penduduk, dan
sebagainya.
4. Health care service berupa program kesehatan yang bersifat preventif,
promotif, kuratif, dan rehabilitatif.

Dari empat faktor tersebut di atas, lingkungan dan perilaku merupakan faktor yang
paling besar pengaruhnya (dominan) terhadap tinggi rendahnya derajat kesehatan
masyarakat. Tingkah laku sakit, peranan sakit dan peranan pasien sangat dipengaruhi oleh
faktor-faktor seperti kelas sosial, perbedaan suku bangsa dan budaya. Maka ancaman
kesehatan yang sama (yang ditentukan secara klinis), bergantung dari variabel-variabel
tersebut dapat menimbulkan reaksi yang berbeda di kalangan pasien.

PERILAKU PENGOBATAN SENDIRI YANG RASIONAL PADA MASYARAKAT

Tabel 1. Distribusi Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Tentang Pengobatan Sendiri Variabel Kategori
Jumlah Persentase Pengetahuan Tinggi Rendah 82 92 47,1 52,9 Sikap Baik Tidak baik 74 100 42,5
57,5 Perilaku Rasional Tidak rasional 56 118 32,2 67,8 Untuk mengetahui gambaran perilaku
pengobatan sendiri menurut kriteria kerasionalan pengobatan, dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2.
Distribusi Kriteria Kerasionalan Pengobatan Sendiri Kriteria Ke- Variabel Jumlah % 1 Tepat obat 121
69,5 2 Te pat dosis 162 93,1 3 Tidak ada kontraindikasi 156 89,7 4 Tidak ada efek samping dan
interaksi obat 92 52,9 5 Tidak ada polifarmasi (multiple drugs) 159 91,4 Responden yang melakukan
pengobatan sendiri dengan menggunakan obat bebas dan obat bebas terbatas serta menggunakan
obat sesuai dengan indikasi (tepat obat) sebanyak 69,5%. Untuk kriteria kedua (tepat dosis) ada
93,1% responden yang mengunakan obat sesuai dengan aturan dosis yang tertera pada kemasan
obat, frekuensi dan durasi pengobatan sesuai dengan ketentuan untuk pemakaian obat OTC. Untuk
kriteria ketiga (tidak ada kontraindikasi), ada 89,7% responden yang

Menurut Soejoeti1 ada tiga faktor yang menyebabkan timbulnya perubahan, pemahaman, sikap dan
perilaku seseorang, sehingga seseorang mau mengadopsi perilaku baru yaitu: (1) kesiapan psikologis
ditentukan oleh tingkat pengetahuan, kepercayaan, (2) adanya tekanan positif dari kelompok atau
individu dan (3) adanya dukungan lingkungan
Notoadmojo, soekidjo & sarwono, solita.1985.Pengantar Ilmu Perilaku Kesehatan.Jaarta :
Badan Penerbit Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

Sala, Rudy.1998.Perilaku Kesakitan dan Peranan Sakit

Notoadmojo, soekidjo.2012.Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehata.Jakarta : Rineka


Cipta