Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH KOMUNIKASI DALAM KEPERAWATAN

PRINSIP TEKNIK KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA


KLIEN/KELUARGA DENGAN KONDISI DISTRESSED

DOSEN PEMBIMBING :
Ns. RIKA SAFRIKA, M. Kep

Disusun Oleh :
1. Liza Mulyanti (1911316002)
2. Rahayu Maya Sari (1911316017)
3. Fera Azwar (1911316027)
4. Nanang Pramayudi (1911316035)
5. Reza Rahmatun Shaumi (1911316041)
6. Yunia Zaida Putri (1911316049)
7. Shelvi Husna Sukrata (1911316050)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS
T.A 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan
Rahmat dan Hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “PRINSIP TEKNIK KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA
KLIEN/KELUARGA DENGAN KONDISI DISTRESSED”. Makalah ini
dibuat dengan tujuan menambah pengetahuan penulis dan untuk memenuhi tugas
mata kuliah Komunikasi Dalam Keperawatan.

Dalam penulisan makalah ini kami masih merasa banyak kekurangan baik
pada teknis penulisan maupun materi, mengingat kemampuan yang kami miliki.
Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi
penyempurnaan pembuatan makalah ini.

Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada
pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya
kepada Dosen kami, ibu Ns. Rika Safrika, M. Kep yang telah memberikan tugas
dan petunjuk kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Padang,29 Oktober 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... i


DAFTAR ISI ................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................................................... 1
B. Tujuan ................................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Komunikasi ....................................................................... 3
B. Pengertian Distress ............................................................................... 5
C. Teknik-teknik Komunikasi Terapeutik ................................................ 7
D. Hubungan Terapeutik Perawat-Pasien Distress ................................... 9
E. Penaganan Stress .................................................................................. 11
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ......................................................................................... 12
B. Saran ................................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Komunikasi adalah elemen dasar dari interaksi manusia yang
memungkinkan seseorang menetapkan, mempertahankan, dan meningkatkan
kontak dengan orang lain. Komunikasi terjadi pada tingkat interpersonal,
intrapersonal, dan umum. Elemen proses komunikasi meliputi adanya referen,
pesan, saluran, penerima, dan respon. Bentuk komunikasi terbagi menjadi dua
yaitu verbal dan nonverbal.
Didalam berkomunikasi ada beberapa faktor yang mempengaruhi
komunikasi diantaranya perkembangan untuk kemampun berbicara dengan
bahasa, persepsi, emosi, budaya, gender, pengetahuan, lingkungan, dan peran
dan hubungan. Cara penyampaian komunikasi yang salah dapat menyebabkan
salah persepsi bahkan menyebabkan stress. Selain itu setiap orang yang
mengalami sesuatu disepanjang hidupnya yang tidak dapat terselesaikan juga
dapat menimbulkan stress. Stress dapat memberikan stimulus terhdap
perubahan dan pertumbuhan.
Stress adalah segala situasi dimana tuntunan non spesifik
mengharuskan seorang individu untuk berespon atau melakukan tindakan.
Pengalaman individu yang berupa perubahan besar dan berdampak negatif
dapat menimbulkan stress. Stimulus yang mengalami perubahan disebut
stressor.

B. Tujuan
Tujuan Umum
Untuk mengetahui komunikasi pada pasien dengan distress
Tujuan Khusus
1. Untuk menegtahui pengertian komunikasi
2. Untuk mengetahui pengertian distress
3. Untuk mengetahui tekni komunikasi terapeutik
4. Hubungan terapeutik perawat – pasien distre

1
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. KOMUNIKASI
1. Pengertian Komunikasi
Komunikasi adalah penyampaian informasi dalam sebuah interaksi tatap
muka yang berisi ide, perasaan, perhatian, makna, serta pikiran yang
diberikan pada penerima pesan dengan harapan jadi penerima pesan
menggunkan informasi tersebut untuk mengubah sikap dan perilaku.
Komunikasi merupakan proses kompleks yang melibatkan perilaku dan
memungkinkan individu untuk berhubungan dengan orang lain dan dunia
sekitarnya.

2. Jenis-Jenis Komunikasi
Menurut Potter dan Perry (2010), komunikasi terjadi pada tiga tingkatan
yaitu komunikasi intrapersonal, interpersonal, dan public.
a. Komunikasi intrapersonal
Komunikasi intrapersonal terjadi di dalam diri individu, merupakan
model bicara seorang diri atau dialog internal yang terjadi secara
konstan dan tanpa disadari.
b. Komunikasi interpersonal
Komunikasi interpersonal adalah antara dua orang atau didalam
kelompok kecil. komunikasi interpersonal yang seat menimbulkan
terjadinya pemecahan masalah, berbagi ide, pengambilan keputusan
dan perkembangan pribadi.
c. Komunikasi public
Komunikasi public adalah interaksi dengan sekumpulan orang dalam
jumlah yang besar. Contohnya pada saat pidato , seminar dan lain-
lain sebagai komunikator.

2
3. Bentuk komunikasi
Menurut Potter dan Perry (2010), ada dua jenis komunikasi yaitu verbal, dan
non verbal yang di manifestasikan secara teurapetik.
a. Komunikasi verbal ( Verbal Communication)
Komunikasi yang menggunakan kata-kata/ bahasa lisan. Paling lazim
digunakan dalam pelayanan keperawatan di Rumah Sakit. keuntungan :
Memungkinkan tiap individu untuk berespon secara langsung.
1) Ciri-Ciri Komunikasi Verbal yang Efektif:
a) Jelas & Ringkas
b) Jelas berarti pemilihan kata-kata yang diucapkan tidak memiliki
kesalahan makna
c) Sederhana, pendek dan langsung
d) Berbicara lambat dan mengucapkan dengan benar
e) Ulangi bagian yang penting
f) Ringkas dengan menggunakan kata-kata yang mengekspresikan
ide secara sederhana. Atau pemakaian kata-kata seminimal
mungkin yang diperlukan untuk menyampaikan sebuah
pesan.Misal : “ Katakan pada saya , dimana rasa nyeri anda”
akan lebih baik dari pada: “ Saya ingin, anda menguraikan
kepada saya bagian yang anda rasakan tidak enak”

b. Komunikasi non-verbal
Komunikasi non-verbal adalah tranmisi pesan tanpa menggunakan kata-
kata. Isyarat non verbal akan menambah arti terhadap pesan verbal.
Perawat yang mampu mempersepsikan non verbal, akan:
1) Lebih mampu memahami klien
2) Mendeteksi suatu kondisi
3) Menentukan kebutuhan suatu ASKEP

Adapun Tujuan Komunikasi Non Verbal:


1) Meyakinkan apa yang diucapkan (Repetition).

3
2) Menunjukkan perasaan dan emosi yang tidak bisa diutarakan
dengan kata-kata (Subtitution)
3) Menunjukkan jati diri sehingga orang lain mengenalnya (Identity)
4) Menambah atau melengkapi ucapan-ucapan yang dirasakan belum
sempurna

4. Faktor Secara Umum Yang Mempengaruhi Komunikasi


a. Perkembangan,
Berbeda cara berkomunikasi antara balita,remaja, dewasa dst
b. Persepsi
Perbedaan persepsi dapat mengakibatkan terlambatnya komunikasi
c. Nilai
Perawat harus berusaha untuk mengetahui & mengklarifikasi nilai
sehingga dapat membuat keputusan & interaksi yang tepat dengan
klien
d. Latar Belakang Sosal Budaya
Bahasa & gaya komunikasi akan sangat dipengaruhi oleh faktor
budaya. Budaya juga akan membatasi cara bertindak &
berkomunikasi
e. Jenis Kelamin
Laki-laki menggunakan bahasa untuk mendapatkan kemandirian
aktivitas group yang lebih besar, bermain untuk berteman.
f. Emosi
Emosi merupakan perasaan subyektif terhadap suatu tindakan.
Emosi seperti sedih, senang akan dapat mempengaruhi perawat
dalam berkomunikasi dengan orang lain
g. Pengetahuan
Tingkat pengetahuan akan pengaruhi komunikasi yang dilakukan.
Seseorang yang takut pengetahuan Rendah akan sulit berespon
terhadap pertanyaan
h. Peran & Hubungan

4
Gaya komunikasi sesuai dengan peran & hubungan diantara orang
yang berkomunikasi.
i. Lingkungan
Suasana bising, tidak ada privacy yang tepat akan menimbulkan
kerancuan, ketegangan & ketidak nyamanan. Untuk itu perawat
perlu siapkan lingkungan yang tepat & nyaman sebelum komunikasi
dimulai.

B. DISTRESS
1. Pengertian Distress
Stress adalah segala situasi dimana tuntunan non-spesifik mengharuskan
seorang individu untuk berespon atau melakukan tindakan (Selye,1976).
Stress itu adalah respon fisiologis, psikologis, dan perilaku dari seseorang
untuk mencari penyesuaian terhadap tekanan yang sifatnya internal
(psikologis) maupun eksternal (lingkungan). Stress dapat menyebabkan
perasaan negative atau yang berlawanan dengan apa yang diinginkan atau
mengancam kesejahteraan emosional.
Stress dapat mengganggu cara seseorang dalam mencerap realitas,
menyelesaikan masalah, berfikir secara umum, dan hubungan seseorang
dan rasa memiliki.selain itu, stress dapat menggangu pandangan umum
seseorang terhadap hidup, sikap yang ditujukan pada orang yang
disayangi dan status kesehatan
Stress memiliki dua jenis yaitu distress dan eustress. Distress-lah yang
menyebabkan penyakit karena mengacu pada stimulus yang berbahaya
dan menjadikan manusia lemah. Penyebab distress antara lain kritik yang
menjatuhkan. Eustress adalah stress yang menyehatkan karena
mendorong manusia untuk melampau batasnya, sehingga manusia dapat
mencapai impiannya lebih cepat.

5
2. Penyebab Stress
a. Faktor eksternal
Faktor stress yang berasal dari luar, seperti : kerjaan menumpuk, stress
karena jalanan macet, stress karena ada kebisingan, dll.
b. Faktor internal
Faktor internal yang berhubungan dengan keadaan diri sendiri :
harapan yang terlalu tinggi, ketakutan akan sesuatu hal, seperti
trauma, kekhawatiran terhadap sesuatu atau kurang percaya diri

3. Gejala Umum Stress


a. Fisikal :
Keletihan, pening kepala, susah tidur, sakit-sakit badan terutamanya
di kawasan bahu dan belakang, degupan jantung yang kuat, sakit
dada, meloya, ketar badan, sejuk tangan dan berpeluh.
b. Mental :
Hilang tumpuan, mudah lupa, susah untuk membuat keputusan, tidak
boleh berfikir, terlaru banyak pikiran dan tidak boleh berjenaka
c. Emosi :
Risau, sentiasa bimbang, sugul, marah, mudah kecewa, sentiasa takut,
sensitif, mudah hilang sabar dan panas badan
d. Perangkai :
Keluh-kesah, lahir tabiat seperti menggigit kuku dan menggedik-
gedikkan kaki, makan yang berlebihan, merokok, minum arak,
menjerit-jerit, mengungkit-ungkit dan menyalahkan orang lain serta
bertindak agresif.

Adapun contoh lain perilaku individu yang mengalami stres, yaitu :


a. Individu menjadi lebih sensitif dan mudah marah
b. Individu tidak bersemangat untuk melakukan aktivitas dan lebih
sering terlihat diam dan murung.
c. Individu lebih suka menyendiri
d. Individu menarik diri dari lingkungan

6
e. Individu sering menunda ataupun menghindari pekerjaan/tugas
f. Individu mengkonsumsi narkoba atau minuman keras.

C. TEKNIK KOMUNIKASI TERAPEUTIK.


Dalam menangggapi pesan yang disampaikan klien, perawat dapat
menggunakan berbagai teknik komunikasi terapeutik sebagai berikut :
1. Mendengarkan (listening)
Merupakan dasar utama dalam komunikasi. Dengan mendengr perawat
mengetahui perasaan klien, member kesempata lebih banyak pada klien
untuk bicara. Perawat harus menjadi pendengar yang aktif dengan tetap
keritis dan korektif bila apa yang di sampaikan klien perlu diluruskan.
Tujuan teknik ini adalah menjaga kestabilan emosi atau psikologis klien.
Misalnya : “ silahkan mengungkapkan semua perasaan saudara, saya akan
mendengarkan disini dengan baik”
2. Pertanyaan terbuka ( broad opening)
Teknik ini memberikan kesempatan klien untuk mengungkapkan
perasaannya sesaui kehendak klien tanpa membatasi, contoh : “apa yang
sedang saudara fikirkan ?”, “ apa yang akan kita bicarakan har ini?’. Agar
klien merasa aman dalam mengungkapkan perasaannya, perawat dapat
member dorongan dengan cara mendengar atau mengatakan “saya
mengerti apa yang saudara katakan”
3. Mengulang (restarting)
Mengulang pokok pikiran yang diungkapkan klien. Gunanya untuk
menguatkan ungkapan klien dan member indikasi perawat mengikuti
pembicaraan klien. Misalnya : “ooh ,,, jadi saudara tadi malam tidak bisa
tidur kerena…..”
4. Klarifikasi
Dilakukan bila perawat ragu, tidak jelas, tidak mendengar atau klien
berhenti karena malu mengemukakan informasi, informasi yang diperoleh
tidak lengkap atau mengemukakannya berpindah-pindah. Contoh :
“dapatkan anda menjelaskan kembali tentang….?” Gunanya untuk
kejelasan dan kesamaan ide, perasaan dan persepsi perawat-klien.

7
5. Refleksi
Refleksi merupakan reaksi perawat klien selama berlangsungnya
komunikasi. Refleksi ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu refleksi ini,
bertujuan memvalidasi apa yang didengar. Klarifiksai ide yang
diekspresikan klien dengan pengertian perawat, dan refleksi perasaan,
yang bertujuan member respon pada perasaan klien terhadap isi
pembicaraan agar klien mengetahui dan menerima perasaannya.
Teknik refleksi ini berguna untuk :
a. mengetahui dan menerima ide dan perasaan
b. mengoreksi
c. member keterangan lebih jelas.
Kerugian dari teknik ini adalah:
a. mengulang terlalu sering tema yang sama
b. dapat menimbulkan marah, iritasi dan frustasi.
6. Memfokuskan
Membantu klien bicara pada topic yang telah dipilih dan yang penting
serta menjaga pembicaraan tetap menuju tujuan yang lebih spesifik, lebih
jelas dan berfokus pada relitas.
Contoh :Klien : “petugas kesehatan yang ada di rumah sakit ini kurang
perhatian kepada pasiennya”.
Perawat : “apakah saudara sudah minum obat?”
7. Membagi persepsi
Meminta pendapat klien tentang hal yang perawat rasakan dan pikirkan.
Dengan cara ini perawat dapat memina umpan balik dan member
informasi.
Contoh : “anda tertawa, tetapi saya rasa anda marah kepada saya”.
8. Identifikasi tema
Mengidentifikasi latar belakang masalah yang di alami klien yang muncul
selama percakapan. Gunany untuk meningkatkan pengertian dan
mengeksplorasi masalah yang penting.

8
Misalnya : “saya terlihat dari semua keterangan yang anda jelaskan, anda
telah disakiti. Apakah ini latar belakang masalah?”
9. Diam (silence)
Cara yang sukar, biasanya dilakukan setelah mengajukan pertanyaan.
Tujuan untuk member kesempatan berfikir dan memotivasi klien untuk
bicara. Pada klien yang menarik diri, teknik diam berate perawat
menerima klien, misalnya:
Klien : “saya jengkel kepada suami saya”
Perawat : diam (member kesempatan klien)
Klien : suami saya selalu telat pulang kerja tanpa alasan yang jelas, kalau
saya Tanya pasti marah
10. Informing
Teknik ini bertujuan member informasi dan fakta untuk pendidikan
kesehatan bag kien, misalnya perawat menjelaskan penyebab panas yang
dialami kien.
Klien : “suster, kenapa suhu tbuh saya masih tinggi? Padahal saya sudah
minum obat, kira-kira kenapa ya suster?
Perawat : baik saya jelaskan, panas tubh atau suhu tubuh meningkat dapat
disebabkan oleh beberapa hal diantaranya karena ada proses infeksi,
dehidrasi atau karena metabolism tubuh yang meningkat.
11. Saran
Memberi alternative ide untuk pemecahan masalah. Tepat di pakai pada
fase dan tidak tepat pada fase awal hubungan
Misalnya : kita tadi sudah cukup banyak bcara tentang penyebab batuk dan
sesak nafas, salah satunya karena merokok, kami berharap anda dapat
mengurangi atau berhenti merokok.

D. HUBUNGAN TERAPEUTIK PERAWAT – PASIEN DISTRESS


1. Tahap pra interaksi
a. Evaluasi diri
b. Tetapkan perkembangan interaksi dengan pasien
c. Persiapkan rencana interaksi

9
2. Tahap Orientasi
Kegiatan yang dilakukan saat pertama kali bertemu dengan pasien.
a. Memberi salam
b. Mengevaluasi kondisi pasien
c. Menyepakati pertemuan/kontrak
d. Mengeksplorasi pikiran, perasaan
e. Mengidentifikasi masalah pasien
Pada awal pertemuan kedua dan seterusnya.
a. Memberi salam
b. Memvalidasi dan mengevaluasi keadaan pasie
c. Mengingatkan kontrak (topik, waktu, tempat)

3. Tahap Kerja
Tahapan pelaksanaan rencana tindakan keperawatan sesuai dengan tujuan
yang akan dicapai.

4. Tahap Terminasi
a. Terminasi sementara
Akhir tiap pertemuan perawat & pasien
1) Evaluasi
2) Rencana tindak lanjut
3) Kontrak yang akan datang

b. Terminasi akhir
Akhir tiap pertemuan perawat & pasien (jika pasien & keluarga telah
menyelesaikan masalahnya.
1) Evaluasi
2) Rencana tindak lanjut
3) Eksplorasi perasaan terkait perpisahan

10
E. PENANGANAN STRESS
1. Cara spiritual:
a. Ibadah sendiri
b. Ibadah berkelompok
2. Cara Pikiran:
a. Hypnosis lima jari
b. Stop berfikir
c. Berfikir positif
3. Cara fisik:
a. ROP (Relaksasi Otot Progresif)
b. Latihan nafas

11
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Komunikasi adalah penyampaian informasi dalam sebuah interaksi tatap


muka yang berisi ide, perasaan, perhatian, makna, serta pikiran, yang
diberikan pada penerima pesan dengan harapan penerima pesan menggunakan
informasi tersebut untuk mengubah sikap dan perilaku. Komunikasi
merupakan proses komplek yang melibatkan perilaku dan memungkinkan
individu untuk berhubungan dengan orang lain dan dunia sekitarnya.
Distress adalah segala situasi dimana tuntunan non-sfesifik
mengharuskan seorang individu untuk berespon atau melakukan tindakan.
Stress itu adalah respon fisiologis, psikologis, dan perilaku dari seseorang
untuk mencari penyesuaian terhadap tekanan yang sifatnya internal
(psikologis) maupun eksternal ( lingkungan). stress dapat menyebabkan
perasaan negative atau berlawanan dengan apa yang diinginkan atau
mengancam kesejahteraan emosional.
Cara penanganan stress dapat dilakukan dengan cara spritual (ibadah
sendiri, ibadah berkelompok) dan dengan cara pikiran ( hypnotis lima jari,
stop berpikir, berpikir positif) serta dengan cara fisik (ROP relaksasi otot
progresif, latihan nafas).
Seorang perawat harus dapat melakukan komunikasi terapeutik dalam
menggali masalah stress pada pasien, dengan cara melakukan strategi
pelakasanaan komunikasi.

B. Saran

Agar perawat dapat melakukan teknik komunikasi terapeutik pada pasien


ditress dan memahami apa-apa saja penyebab dan gejala pasien yang
mengalami stress sehingga permasalahan pasien distress dapat diatasi oleh
perawat denagan mudah.

12
DAFTAR PUSTAKA
Mundakir (2006). Komunikasi Keperawatan. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Potter& Perry. (2010). Fundamental keperawatan. Jakarta : EGC

13