Anda di halaman 1dari 10

Identifikasi Bahaya Potensial dan Penilaian Risiko Kesehatan di Tempat Kerja

Astrid B Sulistomo, Dewi S. Soemarko ,Fikry Effendi, Muchtaruddin Mansyur, , Ambar Roestam,
Nuri Purwito Adi

Divisi Kedokteran Okupasi Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia

Pendahuluan

Bahaya potensial di tempat kerja merupakan salah satu agen yang dapat memicu timbulnya gangguan
kesehatan pada pekerja. Bahaya potensial ini terdiri dari berbagai macam jenis dengan berbagai derajat
jumlah pajanannya tergantung dari karakteristik pekerjaannya. Bahkan, untuk karakteristik pekerjaan
yang serupa sekalipun, bahaya potensial tersebut masih dapat bervariasi dari jumlah dan aspek lainnya
yang mempengaruhi total pajanan yang diterima oleh pekerja. Berbagai gangguan kesehatan juga dapat
ditimbulkan oleh satu bahaya potensial di tempat kerja. Sedangkan risiko didefinisikan sebagai potensi
meningkatnya dampak kesehatan suatu bahaya potensial akibat pajanannya terhadap pekerja. Sehingga
dapat dikatakan bahwa, adanya bahaya potensial di tempat kerja tidak akan memiliki dampak apapun
terhadap kesehatan bila tidak terpajan pada pakerja, sebaliknya risiko suatu bahaya potensial dapat
meningkat seiring semakin banyaknya pekerja yang terpajan atau semakin mudahnya pekerja terpajan
oleh bahaya potensial tersebut. Sifat alamiah bahaya potensial, seperti toksisitas, kemampuan penetrasi
ke dalam tubuh manusia, sifat karsinogenik, dan lain-lain juga mempengaruhi derajat penilaian
risikonya.

Fakta tersebut memberikan ilustrasi bahwa identifikasi terhadap keberadaan bahaya potensial di
tempat kerja adalah suatu hal yang penting. Tidak hanya berhenti pada proses identifikasi, sistem
manajemen kesehatan dan keselamatan kerja (K3) menghendaki adanya proses sistematis. Proses ini
terdiri dari identifikasi bahaya potensial, penilaian tingkat risiko dan upaya atau program untuk
meminimalisir risiko tersebut. Keseluruhan proses tersebut umumnya dikenal sebagai manajemen risiko
di tempat kerja. Sehingga identifikasi bahaya potensial dan penilaian risiko merupakan suatu aktifitas
penting sebagai bagian dari suatu sistem manajemen K3. Occupational Health and Safety Management
System (OHSAS) 18001, sebagai standar internasional utama sistem manajemen K3 di perusahaan,
menempatkan identifikasi bahaya potensial dan penilaian risiko sebagai salah satu aktifitas utama.
Secara umum disebutkan sebagai proses risk assessment. Proses risk assessment (Penilaian risiko) yang
dikehendaki pada sistem manajemen K3 tersebut sudah mencakup aktifitas identifikasi bahaya
potensial. Menurut OHSAS 18001, penilaian risiko merupakan suatu proses integratif yang mengolah
temuan dari identifikasi bahaya potensial dan penilaian pajanan bahaya potensial tersebut terhadap
pekerja untuk selanjutnya digunakan sebagai masukan dalam pembuatan kebijakan dan program-
program kesehatan preventif. Lebih lanjut proses ini juga menghendaki adanya suatu identifikasi
terhadap potensi yang dimiliki tempat kerja untuk melakukan tatalaksana terhadap risiko. Namun aspek
ini tidak akan dibahas secara khusus pada bab ini.

Informasi mengenai bagaimana melakukan suatu kegiatan penilaian risiko yang termasuk didalamnya
identifikasi bahaya potensial di tempat kerja sangatlah penting diketahui oleh para pihak yang terlibat
pada manajemen K3. Salah satu pihak yang memiliki peran pada sistem manajemen K3 adalah dokter
perusahaan. Untuk itu, tulisan pada bab ini dimaksudkan untuk memberikan ilustrasi kepada dokter
(perusahaan) dan mahasiswa kedokteran tentang bagaimana proses penilaian risiko di tempat kerja
sehingga diharapkan dokter perusahaan mampu melasanakan langkah-langkah tersebut untuk membuat
prioritas program kesehatan. Prioritas program kesehatan ini penting untuk dilakukan agar intervensi
kesehatan yang dilakukan oleh dokter perusahaan dapat sesuai dengan konteks permasalahan, tepat
sasaran, dan efisien.

Tahapan Pelaksanaan Penilaian Risiko Kesehatan di Tempat Kerja

Seperti telah diilustrasikan sebelumnya bahwa penilaian risiko merupakan suatu proses integratif yang
didalamnya mencakup kegiatan identifikasi bahaya potensial. Menurut European Agency for Safety and
Health at Work menyebutkan Penilaian Risiko dilaksanakan dalam 5 langkah tahapan yaitu :

 Identifikasi bahaya potensial dan pekerja yang rentan terpajan bahaya potensial tersebut
 Penilaian tingkat risiko dan skala prioritas
 Menetapkan program kesehatan preventif
 Menerapkan program kesehatan preventif tersebut
 Monitoring dan evaluasi program
Langkah tersebut tidak jauh berbeda dengan apa yang disampaikan oleh OHSAS 18001 dalam tahapan
penilaian risiko. OHSAS 18001 menetapkan langkah-langkah penilaian risiko sebagai berikut :

 Identifikasi dan pengelompokan pekerja berdasarkan aktifitas pekerjaan


 Identifikasi bahaya potensial sesuai aktifitas pekerjaan
 Penilaian risiko
 Penetapan klasifikasi risiko dan skala prioritas
 Penetapan program kesehatan preventif
 Penilaian kemampuan untuk melaksanakan program kesehatan preventif

Terlihat bahwa prinsip tahapan yang diterapkan adalah sama, dimana penetapan risiko harus didahului
dengan identifikasi bahaya potensial. Dan penetapan bahaya potensial ini akan lebih mudah bila telah
diketahui aktifitas pekerjaan yang ada di tempat kerja tersebut, sesuai dengan yang dikehendaki oleh
OHSAS 18001.

Sesuai dengan judul topik pembahasan pada artikel ini, fokus pembahasan adalah pada bagaimana
melaksakan identifikasi bahaya potensial dan bagaimana menetapkan risiko. Pembahasan terkait
dengan penetapan program kesehatan preventif, penilaian kemampuan melaksanakan program
kesehatan preventif, monitoring dan evaluasi program kesehatan akan dituliskan pada bab lain.

Identifikasi Bahaya Potensial di Tempat Kerja

Health and Safety Executive dari Pemerintahan Kerajaan Inggris dan European Agency for Safety and
Health at Work menerangkan bahwa identifikasi bahaya potensial dilaksanakan melalui serangkaian
proses. Proses tersebut antara lain :

1. Berjalan mengelilingi tempat kerja dan lakukan identifikasi proses kerja/aktifitas pekerjaan dan
hal-hal yang mampu menyebabkan penyakit dan kecelakaan
2. Tanyakan kepada pekerja atau serika pekerja tentang permasalahan kesehatan yang ada dan
bagaimana perasaan pekerja terkait kesehatannya
3. Lakukan evaluasi terhadap data-data kesehatan perusahaan seperti angka kesakitan, angka
kunjungan poliklinik, dll
4. Lakukan identifikasi data-data umum perusahaan yang terkait kesehatan seperti profil
perusahaan, upaya K3 perusahaan, angka absensi.
5. Identifikasi kelompok pekerja berisiko dan berbagai kemungkinan gangguan kesehatan akibat
pajanan bahaya potensial dalam waktu yang lama (pajanan bising, bahan kimia dosis rendah, dll)

Keseluruhan proses diatas lazim dikenal dengan istilah plant survey atau plant visit. Dalam menetapkan
bahaya potensial, OHSAS 18001 dan juga Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia
(Perdoki) menggunakan klasifikasi bahaya potensial di tempat kerja. Klasifikasi tersebut antara lain :

1. Bahaya potensial fisik


Bahaya potensial fisik mengacu pada sekelompok bahaya potensial yang memiliki kemampuan
secara fisik atau “energi” untuk mempengaruhi kesehatan manusia. Umumnya kelompok
bahaya potensial ini dapat diukur dosis energinya dan dapat ditetapkan dosis pajanan tertentu
yang memiliki dampak terhadap kesehatan, walaupun dosis pajanan ini sifatnya relatif dan
dapat berubah sesuai dengan kerentanan individu pekerja. Energi yang dihasilkan juga memiliki
sifat untuk dapat dilakukan upaya pengurangan dosis dari sumbernya dan dapat dilakukan
mekanisme barier agar energi tersebut tidak terkena langsung pada pekerja melalui alat
pelindung. Contoh bahaya potensial yang masuk pada kategori fisik adalah : radiasi
elektromagnetik, suhu (panas dan dingin), radiasi akustik/bising, radiasi gelombang magnet,
debu (tidak dapat didefinisikan sifat kimianya), dll
2. Bahaya potensial kimia
Bahaya potensial kimia mengacu pada sekelompok bahaya potensial yang memiliki sifat dasar
dan struktur mewakili unsur kimia tertentu. Material bahaya potensial ini dapat berupa benda
padat, gas maupun cairan. Karena memiliki sifat kimiawi tertentu pajanan bahaya potensial
kimia akan memiliki batasan dosis untuk bisa memiliki efek kesehatan. Untuk dapat masuk ke
dalam tubuh manusia bahaya potensial umumnya melalui jalur inhalasi, pencernaan, maupun
kontak langsung. Bahaya potensial kimia ini juga memiliki karakteritik kinetik di dalam tubuh
manusia terkait absorpsi, metabolisme dan ekskresinya serta memiliki efek tertentu pada organ
targetnya. Mekanisme ini sering disebut sebagai toksikokinetik dan toksikodinamik dari bahaya
potensial kimia. Beberapa contoh bahaya potensial kimia tersebut menurut efek yang
ditimbulkan dapat dibagi menjadi : racun, bahan toksik, karsinogenik, teratogenik, mutagenik,
dan iritan.
3. Bahaya potensial biologi
Bahaya potensial biologi didefinisikan sebagai bahaya potensial yang terdiri dari mikroorganisme
hidup yang ditemukan di tempat kerja dan mempengaruhi kesehatan. Umumnya diklasifikasikan
menurut jenis mikroorganismenya seperti virus, bakteri, jamur, dan parasit. Ada pula yang
mengklasifikasikan menurut jalur pajanannya pada pekerja seperti jalur penularan melaui darah
dan cairan tubuh dan jalur penularan lainnya.
4. Bahaya potensial ergonomi
Pada klasifikasi yang dibuat oleh OHSAS 18001, bahaya potensial ini diklasifikasikan dalam
bahaya potensial fisik, mengingat adanya “energi” yang ditimbulkan dan mempengaruhi
kesehatan pekerja. Namun bila dilihat lebih lanjut bahaya potensial ergonomi memiliki
karakteristik tersendiri karena terkait dengan biomekanika tubuh saat bekerja dan kesesuaian
antara pekerja dan alat bantu kerja dan sebaliknya. Sehingga Perdoki mengklasifikasikan
ergonomi sebagai bahaya potensial tersendiri. Bahaya potensial ergonomi dikaitkan dengan
kesesuaian alat kerja dengan biomekanik pekerjanya dan sebaliknya kesesuaian biomekanik
pekerja dengan alat kerjanya. Pada bahaya potensial ergonomi ini diidentifikasi posisi-posisi
janggal dalam bekerja, gerakan repetitif, angkat angkut manual yang bila dilakukan untuk durasi
dan beban tertentu akan memberikan dampak kesehatan pada pekerja dan pencahayaan.
Umumnya pada tahapan identifikasi ini hanya dilakukan penilaian apakah ada atau tidak ada
bahya potensial ergonomic tersebut, namun lebih lanjut dapat dilakukan identifikasi “dosis”
pajanannya dengan menggunakan alat bantu seperti BRIEF survey, RULA, REBA maupun ceklist
ergonomic lainnya.
5. Bahaya potensial psikososial
Bahaya potensial psikososial memiliki karakteristik khusus, mengingat bahaya potensial ini
berikatan dengan pemicu di tempat kerja yang dapat menimbulkan stess psikologis. OHSAS
18001 juga memasukkan bahaya potensial ini dalam grup bahaya potensial fisik namun oleh
Perdoki bahaya potensial psikososial dimasukkan dalam grup tersendiri mengingat kekhususan
risiko yang ditimbulkan. Bahaya potensial yang sering dikaitkan dengan aspek psikososial adalah
hal yang berkaitan dengan beban kerja baik fisik maupun non fisik, hubungan interpersonal baik
sesama pekerja maupun atasan dan bawahan, iklim kerja, rotasi kerja dan kerja gilir, jenjang
karir dan adanya tekanan psikologis lainnya di tempat kerja. Bahaya potensial psikososial ini
tidak mudah untuk diidentifikasi secara langsung, ada kalanya risiko adanya stress teridentifikasi
terlebih dahulu untuk kemudian dicari bahaya potensial yang terkait dengan bahaya potensial
psikososial ini. Bahaya potensial selain psikososial juga memungkinkan untuk memicu adanya
stress psikososial seperti adanya bising di tempat kerja.
Untuk melakukan identifikasi bahaya potensial, OHSAS 18001 menghendaki digunakannya suatu form
matriks. Matriks yang digunakan matriks disesuaikan telah dimodifikasi oleh DIvisi Kedokteran Okupasi
Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI sebagai berikut :

Tabel 1. Matriks Identifikasi Bahaya Potensial di Tempat Kerja

Proses Bahaya Potensial Jumlah Dampak


Kerja Fisik Kimia Biologi Ergonomi Psikososial pekerja Kesehatan
Urut- Bising Iritan Virus Posisi janggal Beban kerja Jumlah Dampak
urutan Fisik pekerja kesehatan
proses Suhu panas Karsinogen Jamur Gerakan Beban kerja pada sesuai
pekerjaan/ repetitif non fisik setiap dengan
aktifitas Suhu dingin Mutagen Bakteri Angkat Hubungan aktifitas bahaya
kerja angkut inter kerja potensialnya
manual personal
Radiasi Teratogen Parasit Pencahayaan Iklim kerja
magnetik
Radiasi Racun Jenjang
elektro karir
magnetik
Partikel Bahan Rotasi &
debu toksik kerja gilir

Disamping pembagian bahaya potensial menurut jenisnya seperti yang telah dikemukakan diatas,
OHSAS 18001 juga membagi bahaya potensial menurut onset dan target organ nya diantaranya dibagi
menjadi onset akut dan kronik serta target organ pada beberapa organ atau seluruh tubuh (efek
sistemik).

Penilaian Risiko Kesehatan

Bahaya potensial yang ada di tempat kerja tidak akan memiliki makna terkait dengan kesehatan bila
tidak terpajan kepada pekerja. Pada penilaian risiko kesehatan, ditetapkan seberapa besar kemungkinan
bahaya potensial memberikan risiko kesehatan. Besarnya risiko yang ditimbulkan oleh suatu bahaya
potensial ditentukan oleh beberapa aspek dan besarnya risiko tersebut juga menentukan skala prioritas
penyusunan program kesehatan kerja yang akan diimplementasikan.

Beberapa aspek yang mempengaruhi penilaian risiko yang ditetapkan oleh European Agency for Safety
and Health at Work dan OSHAS 18001 adalah :

1. Seberapa besar kemungkinan bahaya potensial akan mengakibatkan dampak kesehatan pada
pekerja, dapat ditetapkan dengan mempertimbangkan faktor :
a. Besarnya pajanan, terkait dengan jumlah bahaya potensial di tempat kerja yang secara
langsung terpajan kepada pekerja. Hal ini dikenal juga dengan dosis pajanan
b. Durasi pajanan, terkait dengan lama pekerja kontak dengan bahaya potensial di tempat
kerja
c. Frekuensi pajanan, terkait dengan seberapa sering pekerja tersebut terpajan dengan
bahaya potensial di tempat kerja. Ketiga hal ini, besarnya pajanan, durasi dan frekuensi
pajanan pada kelompok bahaya potensial fisik dan kimia akan terkait dengan nilai
ambang batas (NAB) dan indeks pajanan biologis dari bahaya potensial tersebut.
Parameter NAB dan indeks pajanan biologis sangat penting diketahui untuk menetapkan
batas aman bahaya potensial di tempat kerja
d. Mekanisme dari bahaya potensial tersebut dapat terpajan dari sumber pajanan ke
pekerja
e. Jalur masuk/port d’ntree dari bahaya potensial ke dalam tubuh manusia misalnya
kontak langsung, inhalasi, dll
f. Mekanisme bahaya potensial ditransformasikan ke dalam tubuh manusia sehingga
menimbulkan gangguan kesehatan pada pekerja atau pada bahaya potensial kimia
dikenal sebagai toksikokinetik
2. Seberapa parah bahaya potensial tersebut akan menimbulkan dampak kesehatan. Hal ini akan
terkait dengan :
a. Sifat dari bahaya potensial, misalnya untuk bahaya potensial kimia adalah : mutagen,
karsinogen, iritan, dll
b. Kerusakan tubuh yang timbul akibat kontak langsung maupun tidak langsung terkait
dengan kerusakan yang sifatnya dapat balik (reversible) dan tidak dapat balik
(irreversible).
Dengan mempertimbangkan hal-hal diatas OHSAS memformulasikan besaran risiko (risk) sebagai
perkalian antara kemungkinan bahaya potensial tersebut mengakibatkan dampak kesehatan (likelihood)
dengan tingkat keparahan dari dampak kesehatan yang ditimbulkan (severity). Penentuan kedua aspek
tersebut akan memberikan ilustrasi besarnya risiko. Penilaian risiko sendiri memiliki berbagai metode
diantaranya :

1. Penilaian kualitatif
Pada penilaian kualitatif penetapan likelihood dan severity didasarkan dari suatu deskripsi atau
uraian yang menyatakan keadaan di suatu tempat kerja, lalu ditetapkan kategorinya sesuai
dengan klasifikasi sebagai berikut :

Apabila masuk pada kategori alarm menunjukkan risiko besar dan perlu adanya
penatalaksanaan yang segera atau diprioritaskan, sedangkan kategori care menunjukkan risiko
yang rendah dan prioritas yang lebih rendah pula.
2. Penilaian semikuantitatif
Penilaian semikuantitif menetapkan likelihood dan severity secara prinsip menggunakan
pendekatan yang sama dengan penilaian kualitatif, namun pada penetapan kategorinya
digunakan penilaian secara numerik/skor untuk mewakili uraian atau deskripsi yang
menggambarkan risiko suatu bahaya potensial. Ilustrasi dari matriks yang digunakan adalah :
Semakin tinggi skor menunjukkan semakin besarnya tingkat risiko, dan sebaliknya semakin
rendah skor menunjukkan risiko yang lebih rendah. Skor didapatkan dari perkalian nilai
likelihood dan severity yang telah dikuantifikasi dengan skala ordinal.
3. Penilaian kuantitatif
Penetapan nilai risiko dilakukan dengan pendekatan perhitungan statistik antara parameter
likelihood dan severity. Perhitungan statistik yang digunakan dapat berupa analisis regresi,
maupun analisis ROC. Perhitungan numerik lainnya juga dapat dilakukan dengan sumber data
yang representatif. Penilaian ini relative sulit untuk dilakukan walaupun hasil yang didapatkan
paling objektif dibandingkan penilaian lainnya. Salah satu contoh bentuk penilaian kuantitatif
adalah sebagai berikut.
Dari ketiga pendekatan diatas akan didapatkan ranking risiko mana yang menempati ranking teratas
yang menunjukkan permasalahan kesehatan mana yang layak untuk diprioritaskan. Penetapan program
kesehatan yang akan dilakukan tujuan utamanya adalah untuk menurunkan tingkat risikonya, dan
aktifitas dari program kesehatan tersebut secara langsung berkaitan dengan pengendalian bahaya
potensial yang mengakibatkan risiko kesehatan tersebut. Sehingga proses ini merupakan satu mata
rantai yang tidak terputus untuk meningkatkan derajat kesehatan pekerjanya.

Kesimpulan

Identifikasi bahaya potensial dan penilaian risiko kesehatan merupakan suatu kegiatan integratif yang
merupakan mata rantai kegiatan manajemen risiko sebagai bagian dari sistem manajemen K3 di
perusahaan. Upaya identifikasi bahaya potensial dan penilaian risiko dilakukan dengan langkah
sistematis untuk mendapatkan klasifikasi tingkat risiko. Salah satu aktifitas yang dilakukan untuk
identifikasi bahaya potensial adalah plant survey atau plant visit. Tingkat risiko tersebut akan
menentukan prioritas program kesehatan kerja yang akan diimplementasikan di perusahaan.

Daftar Pustaka

1. IQCS certification. A Practical Guide to OHSAS 18001 : 2007 Occupational Health & Safety
Management Systems Assessment and Implementation to OHSAS 18001 : 2007 third edition.
2. European Agency for Safety and Health at Work. A stepwise Approach to Risk Assessment.
Available at https://osha.europa.eu/en/topics/riskassessment
3. Health Safety Executive United Kingdom (HSE UK). Guidance for Risk Assesment. Available at
http://www.hse.gov.uk/risk/risk-assessment.htm
4. Sulistomo AB, Soemarko DS. Bahan kuliah Magister Kedokteran Kerja FKUI mata kuliah Risk
Assessment