Anda di halaman 1dari 14

Kasus Undang-Undang Perlindungan Konsumen

Polisi Ungkap Kosmetik Palsu Berbahan Dasar "Lotion" dan Minyak


Sayur

JAKARTA, KOMPAS.com – Pemalsuan berbagai jenis kosmetik kembali dilakukan di wilayah


Jakarta Utara. Penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri menangkap
LE alias E, pemilik tempat produksi kosmetik palsu. Ia memproduksi barang barang tersebut di
rumahnya di perumahan Sunter Jaya, Jalan Lantana II Blok G1 Nomor 18A, Jakarta Utara.
"Dalam menjalankan kegiatannya, LE alias E mempekerjakan 12 orang karyawan yang tinggal di
alamat TKP tersebut," ujar Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen Pol
Agung Setya melalui keterangan tertulis, Kamis (24/8/2017).

Dari penggeledahan tersebut, penyidik menemukan produk kosmetik palsu dan bahan
pembuat kosmetik palsu. Adapun kosmetik palsu yang diproduksi, antara lain minyak bulus
putih yang terbuat dari minyak sayur; krim ketiak yang terbuat dari bahan lotion putih; ginseng
hair tonic yang terbuat dari air dan ditambahkan dengan pewarna makan. Selain itu, krim HN
siang dan malam yang terbuat dari lotion putih; HN kristal sabun yang terbuat dari bahan sabun
cair; HN cristal toner yang terbuat dari air; Shin Kurin yang terbuat dari lotion putih; kolagen
masker badan yang terbuat dari bahan lotion putih; serta Grow Up Super terbuat dari minyak
ikan.

Kosmetik tersebut tidak dibuat dengan komposisi pada umumnya. Setelah dilakukan
pendalaman, seluruh kosmetik tersebut dibuat dari bahan yang sama yaitu lotion putih, minyak
sayur, dan pewarna makanan. "Berdasarkan keterangan tersangka telah melakukan aktivitas
memproduksi kosmetik tanpa izin sejak Mei 2017," kata Agung. Dalam memproduksi kosmetik
palsu, LE bermodalkan Rp 30 juta. Namun, dari kecurangan yang dilakukan, ia berhasil meraup
untung bersih sebesar Rp 25 juta per bulan.

Agung mengatakan, sedianya kegiatan memproduksi kosmetik memerlukan izin dari


instansi berwenang. Selain itu, peracik juga harus memiliki keahlian di bidang farmasi, seperti
apoteker. "Namun, faktanya pelaku tidak meiliki izin dan tidak memiliki tenaga ahli tersebut
untuk memproduksi kosmetik," kata Agung. Tersangka LE menjual hasil produksinya dengan
menawarkan kepada sales. Setelah disepakati, barang tersebut kemudian dikirim dengan

1
ekspedisi pengiriman barang. Agung mengatakan, penyidik terus mengembangkan penyebaran
kosmetik produksi EL.

Dari hasil identifikasi sementara, kosmetik tersebut telah menyebar di Jawa Timur, Jawa
Barat, Banten, dan Lampung. Agung mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati terhadap
produk palsu tersebut. Pembeli harus memastikan kemasan produk tersebut mencantumkan ijin
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM. "Masyarakat diimbau untuk tidak membeli produk
dengan merek palsu tersebut, dan segera melaporkan ke polisi apabila menemukan kosmetik
tersebut," kata Agung. Atas perbuatannya, LE dijerat Pasal 197 dan Pasal 197 Undang-Undang
Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan dan atau Pasal 62 Ayat (1) jo Pasal 8 (1) dan Pasal 9
(1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Saat ini, LE telah
ditahan di rumah tahanan Bareskrim Polri yang sementara bertempat di rumah tahanan Polda
MetroJaya.

Sumber: https://nasional.kompas.com/read/2017/08/24/08435641/polisi-ungkap-kosmetik-
palsu-berbahan-dasar-lotion-dan-minyak-sayur?page=all

ANALISIS:

Berdasarkan Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999, konsumen adalah setiap
orang pemakai barang dan atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan
sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.
Dalam Pasal 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 hak konsumen antara lain:
a) Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang
dan/atau jasa.
b) Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa, sesuai
dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan.
c) Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang
dan/atau jasa.
d) Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan.
e) Hak untuk mendapatkan advokasi perlindungan konsumen dan upaya penyelesaian
sengketa perlindungan konsumen secara patut.
f) Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen.

2
g) Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif
berdasarkan suku, agama, budaya, daerah, pendidikan, kaya, miskin, dan status sosial
lainnya.
h) Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang
dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana
mestinya.
i) Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

Dalam Pasal 7 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 kewajiban pelaku usaha antara lain:
a) Bertikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya.
b) Melakukan informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang
dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan, dan pemeliharaan.
c) Memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;
pelaku usaha dilarang membeda-bedakan konsumen dalam memberikan pelayanan;
pelaku usaha dilarang membeda-bedakan mutu pelayanan kepada konsumen.
d) Menjamin mutu barang dan atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan
berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku.
e) Memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji dan/atau mencoba barang
dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat
dan/atau yang diperdagangkan.
f) Memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat penggunaan,
pemakaian, dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang diperdagangkan.
g) Memberi kompensasi ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang
diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.

Berdasarkan kasus nyata di atas jelas sudah penjual melanggar beberapa kewajiban sebagai
pelaku usaha yang tertera di dalam undang-undang perlindungan konsumen. Penjual yang
menyepelekan kandungan serta efek barang yang mereka jual kepada calon konsumennya sangat
disayangkan, mereka seakan-akan tidak perduli akan kesehatan calon konsumennya dan hanya
melihat peluang keuntungannya saja tanpa melihat resiko yang akan mereka peroleh dari
perbuatan tersebut.
Beberapa pelanggarannya adalah tidak bertikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya
dan tidak menjamin mutu barang dan atau jasa yang diproduksi atau diperdagangkan berdasarkan

3
ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku. Atas perbuatannya, LE dijerat Pasal
197 dan Pasal 197 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan dan atau Pasal 62
Ayat (1) jo Pasal 8 (1) dan Pasal 9 (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen.
Sebagai konsumen kita juga harus memperhatikan produk dengan baik, harus ada BPOM nya
jangan sampai memakai produk yang tidak jelas kandungannya. Sebaiknya harus lebih jeli dan
teliti barang apa yang akan dikonsumsi dan jangan tergiur karena barang tersebut dijamin akan
menunjukkan hasil yang cepat / signifikan pada kulit tanpa tau ternyata bahan kosmetik tersebut
mengandung bahan berbahaya bagi tubuh.

Sebagai pelaku bisnis pun memulai usaha harus mengetahui apa saja kewajiban di dalamnya,
peraturan-peraturan yang mengikat pembeli dan penjual, dan jangan hanya memikirkan
keuntungan semata.

4
Kasus Undang-Undang Merek Dagang

Penyelesaian Sengketa Passing Off Merek Spesial Sambal “SS”

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 Tentang Merek Merek jasa Spesial
Sambal telah terdaftar dan telah diberikan hak atas merek yang dibuktikan dengan nomor
permohoman pendaftaran merek dan sertifikat merek. Oleh karena itu, pemegang merek Spesial
Sambal memiliki status sebagai pemakai merek pertama dan memperoleh perlindungan hukum
jika terjadi permasalahan hukum seperti tindakan sengketa passing off merek. Dengan demikian,
pemilik merek Spesial Sambal dapat memperkarakan kasus sengketa passing off merek Spesial
Sambal“SS” yang dilakukan oleh pemilik merek Serba Sambal dan Selera Sambal.

Perlindungan hukum terhadap merek dagang atau jasa mutlak diberikan oleh pemerintah
kepada pemegang dan pemakai hak atas merek untuk menjamin 8 Jisia, Mamahit, Op.Cit, hal 92
9 (1) kepastian berusaha bagi para produsen; serta (2) menarik investor bagi merek dagang asing,
sedangkan perlindungan hukum yang diberikan kepada merek dagang lokal diharapkan agar
pada suatu saat dapat berkembang secara meluas di dunia internasional. Secara deklaratif
maupun konstitutif, merek Spesial Sambal memiliki hak atas merek sehingga berhak
mendapatkan perlindungan hukum dalam kasus sengketa merek. Pemilik merek Spesial Sambal
dapat membuktikan bahwa mereknya dianggap sebagai pemakai pertama dan belum ada pihak
lain yang membuktikan bahwa sebaliknya.

Perlindungan hukum diwujudkan dalam penyelesaian sengketa merek berdasarkan


ketentuan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 Pasal 84. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa sengketa merek Spesial Sambal dapat diselesaiakan melalui jalur nonlitigasi. Yoyok Hery
Wahyono, ST selaku pemilik merek Spesial Sambal mengajukan mediasi sebagai alternatif
penyelesaian sengketa. Penyelesaian sengketa merek Spesial Sambal didasarkan atas Pasal 84
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek yang menjelaskan bahwa: “selain
penyelesaian gugatan sebagaimana dimaksud dalam Bagian Pertama Bab ini, para pihak dapat
menyelesaikan sengketa melalui Arbitrase atau Alternatif Penyelesaian Sengketa”.

5
Langkah awal yang dilakukan oleh pemilik Merek Spesial Sambal sebagai pemakai
pertama merek adalah menyurati, menegur, dan pemberitahuan secara tertulis bahwa Waroeng
Spesial Sambal “SS” telah mendaftarkan hak atas kekayaan intelektualnya yang berupa hak
merek dan hak cipta. Teguran tersebut ditujukan kepada pemilik merek Serba Sambal (SS),
Selera Sambal (SS), dan Super Sambal (SS).

Selanjutnya, masing-masing pemilik merek menunjuk konsultan hukum sebagai mediator


untuk melakukan mediasi. Para mediator melakukan perundingan secara damai sehingga
antarpemilik merek menghasilkan keputusan yang adil dalam penyelesaian sengketa merek.
Keputusan yang dihasilkan adalah Hery Firmansyah, 2011, Perlindungan Hukum Terhadap
Merek, Pustaka Yustisia, Yogyakarta 2011. hal 38. 10 menghentikan penggunaan merek “SS”
dan mengganti atau merubah logo atau yang dinilai mirip dengan logo dan merek “SS”.

Dasar Pengambilan keputusan tersebut adalah Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001


tentang merek Pasal 76 ayat (1) yang menjelaskan bahwa: “Pemilik merek terdaftar dapat
mengajukan gugatan terhadap pihak lain yang secara tanpa hak menggunakan merek yang
mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya untuk barang atau jasa yang sejenis
berupa (1) gugatan ganti rugi, dan/atau (2) penghentian semua perbuatan yang berkaitan dengan
penggunaan merek tersebut. Pasal 76 ayat (1) di atas menjelaskan bahwa jenis bentuk tuntutan
gugatan atas pelanggaran merek terdaftar terdiri atas gugatan ganti rugi atau penghentian
penggunaan merek yang dilanggarnya. Ganti rugi dapat diwujudkan dalam bentuk nyata dan
dinilai dengan uang. Ganti rugi immateriil berupa tuntutan ganti rugi yang disebabkan oleh
penggunaan merek dengan tanpa hak dan mendapatkan ganti rugi secara moral.

Sumber: http://eprints.ums.ac.id/50330/1/NASKAH%20PUBLIKASI.pdf

ANALISIS:

Merek yang dibuat oleh pelaku bisnis atau perusahaan bertujuan untuk membedakan
barang atau jasa yang diproduksi. Merek dapat disebut sebagai tanda pengenal asal barang atau
jasa yang berhubungan dengan tujuan pembuatannya. Bagi produsen merek berfungsi sebagai
jaminan nilai hasil produksi yang berhubungan dengan kualitas dan kepuasan konsumen. Satu
Merek yang dibuat oleh produsen menimbulkan sudut pandang tertentu bagi konsumen. Dengan
demikian, konsumen dapat mengetahui baik atau tidaknya kualitas produk melalui merek. Oleh

6
karena itu, merek yang berkualitas dan dikenal luas oleh konsumen berpotensi untuk diikuti,
ditiru, serta dibajak.

Berdasarkan Undang-Undang No. 15 Tahun 2001 menjelaskan bahwa peran merek


menjadi sangat penting terutama dalam menjaga persaingan usaha yang baik. Merek dapat
digunakan sebagai alat untuk menjelaskan asal mula produk, mengetahui kualitas produk, serta
keaslian produk.3 Dengan demikian, diperlukan pengaturan yang memadai tentang merek untuk
memberikan peningkatan layanan bagi masyarakat.

Suatu merek menjadi terkenal dan mewujudkan jaminan kualitas dan reputasi suatu
produk memerlukan waktu yang cukup lama. Oleh karena itu, merek yang telah terkenal akan
menjadikan merek tersebut sebagai aset atau kekayaan perusahaan. Akan tetapi, keterkenalan
merek tersebut akan mendorong produsen lain untuk menirunya.

Persaingan dagang semakin besar sehingga mendorong orang lain melakukan


perdagangan dengan jalan pintas (free riding) terhadap merek terkenal. Tindakan free riding
merupakan tindakan yang berusaha untuk membuat, meniru, dan menyamai suatu merek barang
atau jasa untuk menumpang keterkenalan suatu merek. Tindakan seperti inilah yang disebut
sebagai passing off dengan menggunakan merek dari pihak lain secara melawan hukum. Passing
off mengakibatkan kerugian bagi pemilik merek sesungguhnya seperti menurunnya reputasi
perusahaan, omset penjualan yang menurun, dan tuntutan dari konsumen yang merasa tertipu
karena kualitas produk tidak sesuai dengan merek aslinya.

Sengketa passing off merek termasuk tindakan pelanggaran di bidang HKI. Dengan
demikian, berdasarkan sengketa Hak Kekayaan Intelektual sengketa passing off merek Spesial
Sambal tergolong dalam bentuk sengketa pidana. Sengketa merek yang pernah terjadi adalah
kasus penggunaan merek yang serupa. Misalnya, Super Sambal, Serba Sambal, dan Selera
Sambal.

Sejak didirikannya usaha jasa kuliner Spesial Sambal “SS” telah memiliki brand image
yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen. Kebutuhan yang dipenuhi adalah adanya daya
pembeda yang menjamin kualitas dari suatu produk. Merek Spesial Sambal “SS” telah memiliki
brand image yang tinggi di kalangan konsumen sehingga mendorong suatu tindakan dengan
itikad tidak baik seperti tindakan passing off.

7
Passing off merupakan tindakan bertujuan untuk meniru seperti meniru merek baik nama,
logo, dan unsur merek seperti warna dan kata-kata sehingga menimbulkan suatu sengketa merek.
Sengketa merek terhadap merek Spesial Sambal “SS” adalah peniruan nama “SS” oleh pihak lain
dengan usaha yang sejenis. Nama “SS” dipakai oleh pelaku usaha lain seperti SS untuk Serba
Sambal yang tersebar di beberapa kota, Super Sambal (SS) di Kudus, dan Selera Sambal di
Cikarang dan Tangerang sejak tahun 2014. Oleh karena itu, pihak pemilik merek Spesial Sambal
menindak lanjuti perkara untuk menyelesaikan sengketa merek tersebut.

Hasil penelitian terhadap merek Spesial Sambal menunjukkan bahwa merek tersebut
telah memenuhi unsur merek. Unsur yang disajikan adalah kombinasi antara unsur gambar,
nama, dan susunan warna. Gambar dalam merek jasa tersebut adalah ilustrasi cabai yang
memiliki unsur warna merah, hitam, putih, dan hijau. Nama merek yang digunakan adalah
Spesial Sambal. Unsurunsur merek tersebut memiliki daya pembeda antara merek sejenisnya.
Sebagai contoh nama merek Spesial Sambal memiliki daya pembeda dalam hal penamaan
dengan nama merek Super Sambal, meskipun memiliki persamaan jenis usaha.

Spesial Sambal merupakan jenis merek jasa yaitu jasa dalam bidang kuliner. Jasa yang
diberikan dapat berupa penyediaan tempat makan yang menyajikan beraneka jenis menu yang
menggunakan sambal. Pasal 3 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 menjelaskan hak atas
merek yaitu: “Hak atas merek adalah hak eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada pemilik
Merek yang terdaftar dalam Daftar Umum Merek untuk jangka waktu tertentu dengan
menggunakan sendiri Merek tersebut atau memberikan izin kepada pihak lain untuk
menggunakannya”. Merek jasa Spesial Sambal telah memiliki hak Merek yang diberikan oleh
Direktoral Jenderal Hak Kekayaan Intelektual pada tanggal 20 Agustus 2008. Perlindungan Hak
Merek kepada pemilik merek Spesial Sambal diberikan selama 10 tahun sejak tanggal
penerimaan dan jangka waktu perlindungan dapat diperpanjang. Dengan demikian, bagi pihak
lain yang mencoba menggunakan merek yang sama akan ditolak pendaftarannya oleh Direktoral
Jenderal Hak Kekayaan Intelektual.

Dengan demikian, merek jasa Spesial Sambal memiliki hak atas merek. Hak atas merek
yang dimiliki merek Spesial Sambal dapat dijadikan sebagai jaminan dan kepastian hukum atau
perlindungan hukum. Bentuk jaminan kepastian perlindungan hukum berupa tanda bukti

8
pendaftaran dalam bentuk sertifikat. Sertifikat berlaku selama sepuluh tahun sejak tanggal 20
Agustus 2008 dan jangka waktu perlindungan dapat diperpanjang.

9
Kasus Undang-undang Rahasia Dagang

Pembocoran Rahasia Dagang oleh Karyawan PT Bumi


Tangerang Mesindotama

Merdeka.com - Kapanlagi.com - Berawal ingin meningkatkan kesejahteraan hidup, dua orang


karyawan pabrik cokelat PT Bumi Tangerang Mesindotama (BTM), Rachmat Hendarto alias
Kristoforus (39) dan Andreas Tan Giok San alias David Tan (34) didakwa telah membocorkan
rahasia dagang PT General Food Industri Bandung (GFIB).

Dalam persidangan perkara tindak pidana pembocoran rahasia dagang yang digelar di
Pengadilan Negeri Bandung, Senin, jaksa penuntut umum Ahmad Nurhidayat SH menjerat
perbuatan kedua terdakwa dengan pasal 13 jo pasal 17 Undang-Undang RI Nomor 30 Tahun
2000 tentang Rahasia Dagang jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUH-Pidana.

Di hadapan majelis hakim yang dipimpin hakim ketua Hadi Waluyo SH, jaksa
mengatakan, perbuatan kedua terdakwa telah merugikan PT GFIB, yang mana keduanya saat
masih bekerja dan terikat sebagai karyawan PT GFIB, telah keluar dan bekerja di perusahaan
lain yang bergerak di bidang yang sama, yakni pengolahan biji cokelat menjadi produk makanan
olahan.

Akibat perbuatan yang dilakukan kedua terdakwa pada bulan Juni 2005 hingga Maret
2007 itu, pihak PT GFIB yang berkedudukan di Jalan Rajawali Sakti, Dungus Cariang, Kota
Bandung, merasa dirugikan. Saat bekerja di PT GFIB, terdakwa Rachmat menjabat sebagai
Process Engineer atau Process Superintendant, sedangkan terdakwa Andreas sebagai Roaster
Engineer atau Roaster Supervisor.

"Karena kedudukan dan keahliannya, terdakwa Rachmat Hendarto yang berkerja di PT


GFIB sejak 10 April 1987, sempat beberapa bulan disekolahkan ke luar negeri untuk
memperkaya keahlian di bidangnya, bahkan yang bersangkutan sempat menandatangani surat
kesepakatan tertulis dengan PT GFIB yang isinya antara lain memegang teguh rahasia dagang

10
dan tidak bekerja selama dua tahun setelah masa berakhir hubungan kerja pada perusahaan yang
bergerak di bidang yang sama," kata jaksa.

Namun tanpa sepengetahuan dan seijin pihak PT GFIB, terdakwa melamar pekerjaan dan
diterima di perusahaan pengolah biji coklat lain, yakni PT Bumi Tangerang Mesindotama
(BTM), dengan jabatan sebagai Kepala Pabrik. Selanjutnya terdakwa Rachmat mengajak
tersangka Andreas untuk `hengkang` dari PT GFIB guna bergabung di PT BTM.

Bahkan, kata jaksa, untuk mengelabui PT GFIB, kedua terdakwa membuat surat lamaran
kepada PT BTM dengan menggunakan nama samaran, yakni terdakwa Rachmat mengganti nama
menjadi Kristoforus Rachmat Hendarto dan terdakwa Andreas dengan nama David Tan.

Dalam nota dakwaan, dikatakan jaksa, perbuatan kedua terdakwa dianggap oleh PT GFIB
telah melanggar dan mengingkari kesepakatan tertulis dan membocorkan rahasia dagang,
sehingga perbuatan terdakwa diadukan oleh pihak PT GFIB pada tanggal 27 Nopember 2007 ke
Polda Jabar. Setelah mendengar nota dakwaan jaksa penuntut umum, kedua terdakwa melalui
kuasa hukumnya M Jaya SH dan Agung SH, mengajukan nota eksepsi atas dakwaan tersebut
yang akan digelar Senin (21/5) pekan depan.

Usai persidangan, kata kuasa hukum terdakwa, pengaduan pihak PT GFIB yang
berbuntut kasus pidana itu dinilai berlebihan, karena PT GFIB telah melanggar pasal 38 Undang
Undang RI Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM). Sebagaimana yang diatur
dalam UU HAM, kata Agung SH, semua warga negara berhak dan bebas mencari penghidupan
dan kesejahteraan hidupnya yang layak "Oleh karena itu bila ada karyawan yang keluar dengan
dalih tidak mendapat kesejahtreaan yang layak di perusahaan tempatnya bekerja, mereka boleh
saja pindah ke perusahaan yang menjanjikan kesejahteraan yang lebih," katanya.

Sumber: https://www.academia.edu/people/search?utf8=✓&q=kasus+rahasia+dagang

11
ANALISIS:

Rahasia dagang adalah salah satu cabang dari hukum Hak Kekayaan Intelektual. Hukum
rahasia dagang mempunyai peranan yang sangat penting karena setiap pelaku usaha pasti tidak
ingin rahasia dari kegiatan usahanya terbongkar, terutama dari pesaing bisnisnya, dan yang
dilindungi oleh hukum rahasia dagang adalah suatu rahasia dalam dunia usaha yang bernilai
ekonomi dan tidak diketahui oleh umum. Rahasia dagang diatur dalam Undang-Undang No.30
Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang. Dalam suatu kegiatan usaha pasti ada hal-hal yang dapat
menimbulkan sengketa. Salah satu sengketa bisa terjadi akibat pelanggaran rahasia dagang.

Terdakwa dalam kasus ini adalah Rachmat Hendarto alias Kristoforus dan Andreas Tan
Giok San alias David Tan, karyawan PT.Bumi Tangerang Mesindotama. Dalam kasus ini yang
dilakukan oleh Rachmat Hendarto alias Kristoforus dan Andreas Tan Giok San alias David Tan
adalah membocorkan Rahasia Dagang PT.General Food Industri Bandung yang notabene
keduanya saat masih bekerja dan terikat sebagai karyawan PT GFIB, telah keluar dan bekerja di
perusahaan lain yang bergerak di bidang yang sama, yakni pengolahan biji cokelat menjadi
produk makanan olahan.

Dalam perkara ini Jaksa penuntut umum menuntut kedua karyawan tersebut dengan
pelanggaran rahasia dagang dan hakim telah memvonis kedua karyawan tersebut dengan
hukuman pidana dua bulan penjara. Kedua terpidana tersebut di anggap telah melanggar Pasal
17 Undang-Undang No.30 Tahun 2000 Tentang Rahasia Dagang, yaitu bahwa “tanpa hak telah
menggunakan rahasia dagang pihak lain”.

Menurut hemat penulis mengenai proses hukum dalam kasus ini, hakim tidak salah
menerapkan hukum yaitu dalam menerapkan dakwaan yang telah terbukti, di mana seharusnya
terdakwa melindungi kepentingan tempatnya bekerja yang telah memberi gaji dan mengikat
perjanjian kerja dengan terdakwa.

Sebagaimana tercantum dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 tentang Rahasia
Dagang, yaitu yang termasuk dalam rahasia dagang yang dapat dilindungi :

12
1) Rahasia Dagang mendapat perlindungan apabila informasi tersebut bersifat
rahasia mempunyai nilai ekonomi, dan dijaga kerahasiaannya melalui upaya
sebagaimana mestinya
2) Informasi dianggap bersifat rahasia apabila informasi tersebut hanya diketahui
oleh pihak tertentu atau tidak diketahui secara umum oleh masyarakat.
3) Informasi dianggap memiliki nilai ekonomi apabila sifat kerahasiaan informasi
tersebut dapat digunakan untuk menjalankan kegiatan atau usaha yang bersifat
komersial atau dalam meningkatkan keuntungan secara ekonomi.
4) Informasi dianggap dijaga kerahasiaannya apabila pemilik atau para pihak yang
menguasainya telah melakukan langkah-langkah yang layak dan patut.

Apabila dikaitkan dengan ketentuan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000,


Tentang Rahasia Dagang kedua karyawan tersebut menciptakan suatu produk yang sama dengan
apa yang dilakukannya ditempatnya bekerja terdahulu karena Formulasi dari produk yang dibuat
untuk PT.Bumi Tangerang Mesindotama tidak diketahui umum dan mempunyai nilai ekonomi
serta dijaga kerahasiannya. Maka perbuatan yang telah ia lakukan tergolong tindak pidana,
sehingga harus di proses secara hukum berdasarkan ketentuan Kitab Undang-undang Hukum
Pidana (KUHP) yang berlaku.

Kemudian, Tidak adanya peraturan perundang undangan yang mengatur secara eksplisit
mengenai perjanjian antara karyawan dengan pengusaha terhadap adanya kewajiban untuk
menjaga rahasia dagang perusahaan tempatnya bekerja, baik dalam Undang Undang Nomor 30
Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang, Undang Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang
ketenagakerjaan, Undang Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat (Undang Undnag Anti Monopoli), maupun dalam Kitab Undang-
undang Hukum Perdata (KUHPerdata) dan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP),
bukan berarti tidak ada pengaturan terhadap hal tersebut. Dalam prakteknya, perjanjian mengenai
rahasia dagang ini diatur dalam perjanjian kerja antara buruh dengan pengusaha.

Perjanjian kerja merupakan salah satu dari perjanjian untuk melakukan pekerjaan
sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 1601 Kitab Undang-undang Hukum Perdata
(KUHPerdata). Sebagai perjanjian yang mempunyai ciri-ciri khusus (mengenai hubungan kerja),
pada prinsipnya perjanjian kerja merupakan sebuah perjanjian yang didalamnya terdapat

13
keterikatan para pihak. Sehingga sepanjang mengatur mengenai ketentuan yang sifatnya umum,
terhadap perjanjian kerja berlaku ketentuan umum.

Perjanjian kerja merupakan perjanjian yang memaksa (dwang contract) karena para pihak
tidak dapat menentukan sendiri keinginannya dalam perjanjian sebagaimana layaknya dalam
hukum perikatan dikenal dengan istilah “kebebasan berkontrak” yang tercantum dalam pasal
1338 KUHPerdata. Dengan adanya perjanjian kerja, para pihak yang mengadakan perjanjian
mempunyai hubungan hukum yang disebut hubungan kerja, dan sejak itulah terhadap mereka
yang mengadakan perjanjian kerja berlaku hukum perburuhan.

Namun, hal ini bukan berarti tidak dapat dibuat suatu kesepakatan antara pengusaha
dengan karyawan yang kemudian dapat dituangkan dalam perjanjian kerja tersebut. Asas
kebebasan berkontrak tetap dapat berlaku sejauh mana tidak bertentangan dengan kaidah
heteronom dalam hukum perburuhan, dengan kata lain tidak bertentangan dengan peraturan
perundangan dalam bidang perburuhan yang ditetapkan oleh pemerintah.

14