Anda di halaman 1dari 118
Edisi 3, Vol. ll, No. 1, 2012 STUDI POLITIK ISSN: 2302-8319 DEMOKRASI YANG ADIL DAN
Edisi 3, Vol. ll, No. 1, 2012
STUDI POLITIK
ISSN: 2302-8319
DEMOKRASI YANG
ADIL DAN SETARA
Demokrasi Bukan Sekedar Prosedur
-G
o?
*, 4t
DEPARTEMEN rLMU PorrrrK ?-g- $9- FAKI.JLTAS ILMU SOSIAI DAN ILMU POLITIK +== ur.rryERSrrAS TNDoNESTA
DEPARTEMEN rLMU PorrrrK
?-g- $9-
FAKI.JLTAS ILMU SOSIAI DAN ILMU POLITIK
+==
ur.rryERSrrAS TNDoNESTA
Suar Po[dk diterbitkan oleh Departemen Ilmu Politik Fakultas Iimu Sosia] Ilmu Politik, Jurnal Universitas Indonesia.
Suar
Po[dk
diterbitkan oleh Departemen Ilmu Politik Fakultas Iimu Sosia] Ilmu Politik,
Jurnal
Universitas Indonesia. Alamat: Depattemen Ilmu Politik FISIP UI, Kampus UI Depok, Gd. B
Lt.2, Depok
16424. Telp 021-7272135. Kesektetatiatan:
Lina Rintis Susanti (+628998859282).
penanggungJawab: Ketua Depattemen Ilmu Politik FISIP UL Pemimpin Redaksi: Lvansyah. Dewan
Redaksi: Sri Lestari rJ7ahyuningtum, Nugroho Ptatomo, Yolanda Pandjaitan, Ditga Ardiansa, Rosa
Evaquarta, Aisah Putri, Samuel Gultom. Mitta Bestari: Prof. Dt' Maswadi Rauf, Sri Eko Budi Wardani'
Dr, Valina Singka, Dr. Cosmas Batubata, Edwatd Aspinal Ph.D Dr. Richard
Dr. thusnul Marlyah,
Reda.ksi: L. Rintis Susanti. E dito r: Zainal Muttaqin & L. Rintis Susanti;
Chauvel. Pelaksana
DEMOKRASIYANG
ADIL DAN SETARA
Foto: SERRUM. Arief Rachman, Eko S. B imantara '
Daftar Isi
1.
'
Dari Redaksi (editorial)
3
Indeks Demokrasi Asia 2011: Potret Indonesia
(Irwansyah)
2i
Laporan Hasil survei Pemilukada DKI Jakarta 2012 Puskapol FISIP UI:
" W argaJakarta: Antara Kebingungan dan Harapan"
(Dirga Ardiansa)
39
Merosotnya Demokrasi Sosial dan Naiknya Partai-partai Sayap Kanan Populis
di Eropa: Problema Multikulturalisme dan Politik Identitas
(Nuri Soeseno)
57
Perlindungan Sosial sebagai Bentuk Artikulasi Ideologi
(Tommy Ardian Pratama)
79
lnferno or Paradise: Politik Serikat Buruh Melawan Kontrak Outsourcing
(Fathimah Fildzah lzzati)
93
Catatan Diskusi Buku:
Memetakan Dinamika Perburuhan di Indonesia Pasca-Rezim Suharto
(Mohamm ad Zaki Hussein)
100 Review Buku: Oligarchy (Rosa Evaquarta) Tribute to Prof. Dr. A. Rahman Z"i",rdii0; MA: Sang
100
Review Buku: Oligarchy (Rosa Evaquarta)
Tribute to Prof. Dr. A. Rahman Z"i",rdii0; MA: Sang Fenjelajah Pemikiran Politik
(Nugroho Pratomo)
113
Biografi Singkat Penulis
115
Petunjuk Penulisan Artikel dalam Jurnal "Studi Politik"
Editorial Editorial I Jurnal Studi Politik Vol. il No.1 2OL2 "Demokrasi Bukan Sekedar Prosedur" emokrasi
Editorial
Editorial I Jurnal Studi Politik Vol. il No.1 2OL2
"Demokrasi Bukan Sekedar Prosedur"
emokrasi tak dapat dibantah
Ideal dari kekuasaan yang demokratis
'adalah norma politik utama
dewasa ini di seluruh dunia.
direduksi menjadi soal penerimaan pada
siapa-siapa yang mendapat legitimasi
Nyaris seluruh sistem politik
untuk berkuasa atas sistem politik. Tidak
yang dipraktekkan saat ini merujuk
banyak rujukan demokrasi pada usaha
demokrasi sebagai acuan ytrLg bermakna
positif namun sekaligus juga jamak dalam
pendefinisian dan interpretasinya. Negara
mencari bentuk ideal dari apa yang
dilkukan oleh penguasa dengan
adidaya utama dunia saat ini, Amerika
Serikat terus mempropagandakan misi
kekuasaannya, terutama dalam kaitannya
merespon relasi kuasa yang hadir dalam
berbagai bentuk ketimpangan dan
mereka untuk melakukan demokratisasi
ketidaksetaraannya. Demokrasi juga
di seluruh dunia. Misi yang telah
cenderung dibatasi sebagai prosedur yang
mengguncang bermacam pemerintahan
terbatas pada apa yang secara formal
dan rejim politik di berbagai belahan dunia
dipahami sebagai sistem politik. Secara
demi suatu keharusan menerapkan
sistematis digunakan sekat-sekat yang
prosedur-prosedur politik yang disebut
memungkinkan untuk membatasi
demokratis. Prosedur yarrg utamanya
pemahaman demokrasi dalam dimensi
ditandai adanya kebebasan untuk memilih
ekonomi dan dimensi sosial. Sudahcukup
penguasa politik berdasarkan kontes
untuk mencirikan demokrasi sepanjang
mencari pemenang diantara pilihan-
kekuasaan politik tidak dimonopoli oleh
pilihan yang disediakan oleh partai-partai
satu organisasi politik formal yang
politik yang ada. Prosedur yang
mengklaim kuasa secara total atas politik-
menyederhanakan makna harafiah demos
dan kratos - atau kekuasaan di tangan
ekonomi-sosial. Kerumitan terkait
rakyat - menjadi perwakilan kekuasaan
monopoli dan dominasi kekuasaan di luar
dimensi formal dibiarkan menjadi realitas
rakyat oleh rnereka yang dihasilkan oleh
prosedur pemilihan yang memiliki
legitirnasi.
yang dibiarkan dan berkembang menjadi
sinisme terhadap demokrasi y*g sebatas
prosedur.
Studi Politik Edisi 3, vol. ll, No. 1.,2oL2 Sikap kritis mulai berkernbang di kalangan ilmuwan
Studi Politik Edisi 3, vol. ll, No. 1.,2oL2
Sikap kritis mulai berkernbang di kalangan
ilmuwan politik dari berbagai negara atas
demokrasinya yaitu masalah merosotnya
kuasa unfuk melindungi masyarakat dari
keterbatasan definisi demokrasi yang
dipakai oieh berbagai indeks pengukuran
demokrasi. Di antara banyak usaha
tekanan ekonomi. Secara spesifik dibahas
oleh satu artikel tentang isu jaminan sosial
sebagai unsur yang vital dalam demokrasi
tersebut, Indonesia melalui Pusat Kajian
yang tidak terbatas pada prosedur Politik
Politik (PUSKAPOL) sejak tahun 2010
formal. Sementara kolom tribute
mulai terlibat dalam konsorsium yang
dipersembahkan untuk (Almarhum)
mewadahi projek intelektual untuk
Rahman Zainudin sebagai contoh
pengembangkan kolaborasi indeksasi
cendekia politik yang memelopori studi
antar negara di Asia.- Konsorsium Indeks
pemikiran dalam kajian ilmu politik di
Demokrasi Asia. Tiga negara: Indonesia,
Indonesia.
Filipina dan Korea Selatan lebih dari satu
dekade terakhir beralih dari sistem politik
Edisi ini membuka kesempatan untuk
otoriter dengan dipimpin kediktatoran
babak-babak lanjutan dalam jumal studi
yang dukung secara loyal oleh kekuatan
politik bagi pembahasan beragam
militer. Kini demokrasi prosedural
berlangsung berkelanjutan di ketiga
problematisasi atas demokrasi (sekedar)
negara/ dan secara bersamaan
prosedural. Bukan untuk melemahkan
orientasi pada demokrasi, tapi seperti
berlangsung dominasi ekonomi berbasis
kekuatan modal yang mempengaruhi
berbagai survey dan indeks terkait
demokrasi,
justru
untuk
relasi kuasa secara politik dan sosial.
menyempurnakan demokrasi seiring tetap
Kondisi yang secara popular dikenal
tingginya dukungan masyarakat di
sebagai neoliberalisnne itu menjadi potret
dari demokrasi di Asia, terutama di ketiga
seluruh dunia terhadap demokrasi sebagai
kekuasaan di tangan rakyat,
negara.
Edisi ini menghadirkan beberapa artikel
yang memproblematisir demokrasi
prosedural. Mulai dari resume laporan
indeks demokras i asia, dengan fokus pada
potret Indonesia. Disusul pula oleh artikel
yang menganalisis evolusi demokrasi
sosial di Eropa. Eksplorasi pada situasi
yang menggejala di negara-negara yang
sebelumnya dianggap sudah maju
2
lrwansyah, M.A., INDEKS DEMOKRASTASIA 2011 INDEKS DEMOKRASI ASIA 20ILz POTRET INDONESTA* Oleh : lrwansyah, M.A.
lrwansyah, M.A., INDEKS DEMOKRASTASIA 2011
INDEKS DEMOKRASI ASIA 20ILz
POTRET INDONESTA*
Oleh : lrwansyah, M.A.
Bagian I
LATAR BETAKANG
roses demokratisasi di
pada tiga tipologi dimensional Juan Linz
Indonesia teldLh berlangsung
selama L3 tahun sejakjatuhnya
dan Alfred Stepan yaitu dimensi perlilaku,
sikap, dan komitmen konstitusional.
Presiden Soeharto pada 1998.
Berdasarkan atas tiga tipologi dimensional
Dinamika, karakter dan kinerja serta masa
tersebut, Diamond mengutip Liddle dan
depan demokrasi Indonesia menjadi
Mujani yang menyatakan bahwa
kajian banyak ahli ilmu politik.'
demokrasi di Indonesia secEua esensial
Indonesia bukan hanya dianggap sebagai
telah terkonsolidasi.u Akan tetapi,
negara demokratis terbesar di dunia
setelah Amerika Serikat dan India. Lebih
' Lihat Aspinall, E. dan Mietzner,M., (2010), ,,problems
of Democratisation in Indonesia; An Overviewr,, dalam
dari itu, Indonesia juga diakui sebagai
Aspinall, E. dan Mietzner,M (ed), Problem of
negara muslim demokratis terbesar di
Democratisation in Indonesia; Elecyions, Institutions and
Society, hal. 1, Lihat juga Diamond L., (2010),
dunia.' Demokratisasi di Indonesia
kemudian menjadi penting untuk
"Indonesia's Place in Global Democrary", dalam dalam
Aspinall, E. dan Mietzner,M (ed), Problem of
D emocratisation in lnilonesia; Elecyions, Institutions and
dijadikanperhatian.
Society, hal.25
' Lihat Endy M. Bayury IndonesiaRiksDulngrade
Demouafic Rafrng, diakses di http://www.thej
of lts
Kajian atas demokrasi Indonesia
akartapost. com/news/ 2011 /08/20lindonesia-risks-
downgrade-its-democratic-rating.html
pada 22 Agustus
menghasilkan penilaian yang beragam.
2011,
' Indonesia dalam hal ini dibandingkan oleh Diamond
Lurry Diamond membuat perbandingan
pergerakan demokrasi Indonesia dengan
dengan Korea, Taiwan, Thailand, Phillippines dan
Mongolia. Lihat Diamond,L., op.cit (note 2), hal 3545
" lbid,hal.46
negara-negara Asia Selatan.' Diamond
u Ibid., lnal. 4647. Diamond, Mujani dan Lidlle
menyimpulkan bahwa demokrasi
berkesimpulan demokrasi Indonesia terkonsolidasi
secara esensial dengan mendasarkan pada argumen
Indonesia mengalami kemajuan yang
bahwa: a). pada perilaku, tidak ada kelompok politik
paling cepat di r_nana kualitas serta
dukungan publik pada demokrasi
yang saat ini mengancam untuk mengeluarkan
demokrasi atau untuk keluar dari negara Indonesia; b).
secara sikap, ada dukungan secara relatif substansial
pada demokrasi sebagai bentuk pemerintahan terbaik;
mengalami kemajuan lebih cepat
c).
aktorpolitik
dibandingkan negara-negara Asia
dan sosial kunci berkomitmen unfuk menyelesaikan
perselisihan dan mengejar kepentingan mereka melalui
Selatan.a ArgumenDiamonddidasarkan
proses konstitusional yaitu jalan tanpa kekerasan.
3
Studi Politik Edisi3, Vol. ll, No. 1',2Ot2 Diamond mengingatkan bahwa Indonesia hanya bersifat artifisial di
Studi Politik Edisi3, Vol. ll, No. 1',2Ot2
Diamond mengingatkan bahwa
Indonesia hanya bersifat artifisial di mana
demokrasi Indonesia dapat rnundur
struktur kekuasaan intinya tidak berubah
kembali. Beberapa fenomena sosial politik
dan para oligark pada masa Orde Baru
memberikan sinyalemen yang daPat
mendukung kekhawatiran tersebut seperti
rnasih dapat terus bertahan serta mampu
terus memanfaatkan negara unfuk tujuan
ditunjukkan oleh tingkat kekerasan politik
pengejaran rente.t Sementara itu,
dan belum adanya kejelasan sejauh miuta
kelompok ahli lainnya berpendapat
partai politik dan gerakan Islam yang
bahwa demokrasi Indonesia telah
mendukung negara Syariah akan dapat
mengalami kemajuan namun mengalami
menerima secara penuh komitmen
ketimpangan yang disebabkan oleh
konstitusional menjadi catatan tersendiri
atas kemajuan tersebut. Selanjutnya, persis
beratnya masalah korupsi dan lemahnya
penegakanhukum.t
berdasarkan pada tiga tipologi
dimensional tersebut, Diamond
Di tengah pendapat beberapa ahli
menjelaskan titik krusial yang
tersebut, beberapa lembaga mengeluarkan
mengkhawatirkan yaitu perilaku, sikap,
dan komitrren ko.nstitusional para elit
penilaiannya atas demokrasi di Indonesia.
Freedom House menempatkan Indonesia
kunci yal':lg tetap memiliki kemampuan
sebagai negara yang bebas penuh (free)
untuk memperlemah atau memutar balik
dengan nilai hak politik lebih tinggi
demokrasiLrdonesia.'
dibandingkan hak sipil.' Sementara itu
Economist Intellegence Unit
Terlepas dari peringatannya tentang titik
menempatkan Indonesia pada urutan ke-
yang mengkhawatirkan itu, Diamond
50 dalam kategori negaraflawed demouacy
menjadi salah satu ahli politik yang
dengan skor total 6,53 (dalam skala L-10).10
melihat dernokrasi Indonesia dengan
kacamata optimisme. Akan tetapi, ada
pula ahli yang memiliki pandangan lebih
pesimistis. Penilaian ahli atas demokrasi
Indonesia menurut Aspinall terbagi dalam
' lihat Aspinnal, E., op.cit (note 2), hal. 1-2. Aspinnal
dalam hal ini mengutip para ahli yaitu Robinson dan
Hadiz,2004 serta Boudrearl 2009 untuk mereka yang
dua kutub berlawanan yaitu mereka yang
menyatakan demokrasi Indonesia hanya artifisial.
Sementara itu, Aspinall mengutip Ramage dan
menyatakan demokrasi Indonesia telah
terkonsolidasi dengan baik, terutama bila
Maclntre untuk demokrasi telah terkonsolidasi.
Aspinall menempatkan Davidson dan dirinya sendiri
dalam posisi tengah.
dibandingkan dengan negara lain.
'Diamond, L, op.cit (note 2), fral.1. -2
Sedangkan di kutub lain terdapat ahli yang
' Lihat Freedom in the Woild.20\1, Freedom House.
berpandangan bahwa demokrasi di
Indonesia diberi nilai 2 untuk hak politik dan 3 untuk
hak-hak sipil dalam skala 1-7, di mana 1 untuk paling
bebas dan 7 paling tidak bebas.
10 Lihat Economist Intellegence Unit, Danocracy lnilex
2070, Democracy in Retreat,
" Ibid
http:/ lgraphics.eiu.com/ PDF/ Democracy Index 2010
web.pdf. diakses pada 22 Agustus 201L
lrwansyah, M.A., INDEKS DEMOKRASIASIA 2011 Lembaga Kajian Demokrasi dan Hak Asasi demikian, IDI yang mendasarkan
lrwansyah, M.A., INDEKS DEMOKRASIASIA 2011
Lembaga Kajian Demokrasi dan Hak Asasi
demikian, IDI yang mendasarkan pada
Manusia (DEMOS) pernah mencoba
tiga aspek yaitu kebebasan sipil, hak-hak
politik dan lembaga demokrasi dinilai
melakukan penilaian demokrasi Indonesia
berdasarkan empat hal yang merupakan
mendasarkan pada konsep demokrasi
empat kelompok perangkat Penting
yang'thinu dan tidak memasukkan aspek
penting seperti budaya politik.'
Dengan
demokrasi yaitu: (1) legal dan hak; (2)
demikian, IDI sulit unhrk mengungkap
representasi politik; (3) pemerintahan
yang demokratik dan akuntabel; dan (a)
gambaran yang lebih menyeluruh dari
keterlibatan dan partisipasi warga negara.
Demos melakukan survei nasional pada
demokrasi Indonesia. Diperlukan sebuah
pengukuran yang sesuai dengan keadaan
2003/2004 dan 2007 yang menghasilkan
Indonesia yang juga dapat menangkap
indeks rata-rata demokrasi Indonesia
demokrasi Indonesia secara lebih
menyeluruh yang berarti iuga dapat
masing-masing 37 dan47 (dalam skala 1-
100)." Walaupun sedikit meningkat,
namun dengan angka 47
daPat
menangkap masalah krusial yang muncul
dalam demokrasi Indonesia.
dinyatakan bahwa demokrasi trndonesia
masih jauh dari harapan.
Berdasarkan penilaian ahli di atas,
nampaknya Indonesia mengalami
Pemerintah Indonesia sendiri telah
perkembangan yang sama dengan wajah
mengembangkan Indeks Demokrasi
demokrasi di Asia. Beberapa negara
Indonesia (IDI) dengan angka 67,30 (dalam
seperti Korea Selatan dan Taiwan dinilai
skala l,-100)." Fengembangan indeks ini
sebagai negara yang telah mencapai
didasari oleh keinginan untuk
demokrasi prosedural dan memasuki era
mengernbangkan alat ukur guna menilai
kemajuan dernokrasi Indonesia menurut
konsolidasi. Namun demikiaru beberapa
negara di Asia Selatan juga Thailand
keadaan Indonesia sendiri,t' Namun
rnemasuki kemunduran. Selain itu,
beberapa negara di Asia telah melalui
momentum peralihan dari rezim
" Lihat Lembaga Kajian Demokrasi dan Hak Assr
Manusia, DEMOS, SATUDEKADEREF
ORMASI:Maju
otoritarian. Walau begitu, demokrasi
dan Mundumya Demokrasi di Indonesia Ringkasan
Eksekutif dan Lapomn Autal Suraei Nasional Kedua Mnsalalt
dan Pilihan Demokrasi di lndonesia (2007 - 2008), hal' 19-
elektoratr masih terancam di mana mereka
21. Empat kelompok penting perangkat demokrasi
memuat 32 perangkat demokrasi
telah memiliki demokrasi prosedural
namun dengan ketiadaan prinsip-prinsip
" Indeks Demokrasi Indonesia dikembangkan oleh
Bappenas bersama sejumlah ahli. Indeks ini memiliki
tiga variabel yaitu Hak Sipil, Hak Politik dan Lembaga-
lembaga Demokrasi. Lihat Menakar Demokrasi di
Indonesia, Indeks Demokrasi lndonesia 2009, UNDP, 2011
tt Lihat Kata Pengantar oleh Menteri l?erencanaan
Pembangunan Nasiclnal/Kepala Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional, Armida S. Alisyahbana dalam
to Catatan Direkfur of Public Affairs, Indonesian Survey
Institute, Burhanuddin Muhtadi (tidak dipublikasikan)
dalam Dinner Lecture " Demokrasi dan Ukuran-
ukurannya; Sebuah Persoalan" yang diselenggarakan
Menakar Demokrasi di Indonesia, Indeks Demokrasi
lndonesia 2009, UNDB 2011
oleh Komunitas Indonesia untuk Demokrasi (KID),
]akarta, 9 Agustus 2011
5
studi Politik Edisi3, vol. ll, No. L,2ot2 demokrasi mendasar seperti partisipasi, lama dan kemudian dapat
studi Politik Edisi3, vol. ll, No. L,2ot2
demokrasi mendasar seperti partisipasi,
lama dan kemudian dapat menetapkan
representasi, dan akuntabilitas.
Selanjutnya, beberapa negara di Asia
memberi gambaran bahwa demokratisasi
kepentinganmereka sendiri. Hal ini sangat
tergantung pada sejauh mana monopoli
kekuatan lama terdisintegrasi. Sembntara
yang terjadi tidak juga kunjung
itu, ekualisasi dipakai untuk mengukur
proses sejauh mElna kelompok minoritas
meningkatkan kualitas hidup ralcyat.tu Asia
memberi pelajaran bahwa transisi dari
otoritarianisme tidak selalu merupakan
atau pun subaltern secara substansial
dapatmemiliki aksespada sumber daya di
transisi ke demokrasi di mana capaian
berbagai sektor dan dapat menikmati
demokrasi elektoral tidak serta-merta
kesetaraan dalam mengakses sumber daya
dan kekuasaan. Ekualisasi dengan
mewujudktu:I representasi serta transisi
demikian adalah sebuah proses
menuju demokrasi substantif, yaitu tidak
selalu akan mengikuti transisi menuju
transformasi kekuasaan di setiap bidang
yaitu politik, ekonomi maupun
demokrasi.tu
masyarakatsipil.
Riset ini berangkat dari pemikiran bahwa
perkembangan demokrasi di Asia
Perkembangan demokrasi Indonesia
memerlukan adanya kerangka baru dalam
membutuhkan pengukuran yang dapat
menilai demokrasi hingga dapat
menangkap kerumitannya. The Asian
menjelaskan kompleksitas demokratisasi
Democracy lndex diharapkan menjadi
di Asia. Pengembangan indeks demokasi
sebuah alat yang bersifat alternatif untuk
Asia didasari oleh pendefinisian kembali
melakukan evaluasi dan penilaian
demokrasi dengan menjadikan
demokrasi Indonesia. Dengan demikian,
pemaknaan transisi demokrasi sebagai
masalah krusial dalam demokrasi
demonopolisasi atas proses dan lembaga
Indonesia dapat diungkap dan langkah
yang terjadi d.alam bidang politik,
untuk terus memperbaiki demokrasi
ekonomi maupun sosial. Demokrasi di sini
Indonesia dapat dilakukan.
memiliki dua prinsip yaitu liberalisasi dan
ekualisasi. Liberalisasi dipakai untuk
BagianII
METODOLOGI
mengukur sejauh mana sektor-sektor yang
berbeda memperoleh independensi dan
II.1. Proses Pengukuran dan Penilaian
otonomi dari kekuatan politik otoriter
Asian D emocracy Indexmenghasilkan suatu
'u Lihat The AsianDemouacy lndcx, A Short Guide,
angka tunggal yar.g diperoleh dari
prepared by The Democrary and Social Movement
penilaian para ahli (expert iudgement)
(DASMD of Sungkonghoe University, for the
Presentatyion in the 2010 Seoul Democrcay Index
melalui wawancara tatap muka
Forum and Workshop 1t1-15 Octrober 2010
'u Ihid
lrwansyah, M.A., INDEKS DEMOKRASIASIA 2011 menggunakan kuesioner terhadaP sejumlah indikator atau pertanyaan. kuesioner
lrwansyah, M.A., INDEKS DEMOKRASIASIA 2011
menggunakan kuesioner terhadaP
sejumlah indikator atau pertanyaan.
kuesioner pada 18 Juli hingga 1-5 Agustus
2011 Sebagaimana dijelaskan di atas,
Setiap ahli hanya memberikan penilaian
informan ahli didefinisikan sebagai orang
atas indikator atau pertanyaan yang
yang memiliki pengetahuan dan keahlian
diajukan dengan range angka penilaian
atas ranah atau bidang yang menjadi fokus
antara L-10. Indikator yarrg ditanyakan
riset ini, seperti anggota parlemen (ranah
kepada ahli hanya yang sesuai dengan
bidang keahliannya. Selanjuhyu, dari
setiap indikator atau pertanyaan yang
politik), pelaku bisnis (ranah ekonomi),
dan aktivis organisasi masyarakat sipil
(ranah sosial), serta akademisi atau
peneliti ytrrg fokus pada ketiga ranah
telah diberikan penilaian oleh seluruh ahli
tersebut. Informan ahli Yang
dilakukan pengukuran deskriptif statistik
berupa ukuran pemusatan (mean, median,
diwawancarai berjuml ah 27 or ang.
dan modus) dan tabulasi silang.
II.3. HambatanRiset
Pemilihan para ahli didasarkan pada tiga
kriteria. Pertama, berdasarkan bidang
Kendala pertama yang ditemui dalam
penentuan informan riset ini adalah
keahliannya yang terdiri atas tiga bidang
yaitu Ekonomi, Politik, dan Masyarakat
Sipil. Kedua, berdasarkan spektrum
kesulitan menetapkan posisi informan
kedalam kategori spektrum posisi politik
yang telah ditetapkan yaitu
pandangan ahli terhadap pemerintah
propemerintah, moderat, dan
yaitu Propemerintah, Moderat, dan
antipemerintah. SesungguhnYa
Antipemerintah. Ketiga, berdasarkan
posisi peran di masyarakat Yaitu
kategorisasi tersebut sudah rnengalami
perubahan dari desain awal Yang
Akademisi, Praktisi, dan Politisi.
berdasarkan pada spektrum ideologi
Selain itu, riset ini juga mengumPulkan
(liberal, moderat, dan konservatif), namun
data sekunder rnelalui penelusuran
pustaka dari berbagai sumber yangterkait
dengan kondisi pada tiga bidang tersebut.
terdapat kesulitan untuk mengidentifikasi
ideologi politik dari para ahli dan tokoh
publik di Indonesia. Ini dapat dipahami
sebagai kelanjutan dari situasi sosial
Tujuannya untuk mendukung informasi
terkait pertanyaan dalam kuesioner
politik yang mengalami deideologisasi
dan depolitisasi selama 32 tahun era
tersebut.
kekuasaan Soeharto. Ideologi politik tidak
II. 2. Profil Informan Ahli
diartikulasikan secara lugas dan terbuka di
ruang sosial politik, baik oleh partai-partai
DEMOS dan PUSKAPOL UI
politik maupun oleh tokoh-tokoh publik.
mengumpulkan data dengan wawancara
I
Studi Politik Edisi3, Vol. ll, No. t,2OL2 Dewasa ini keberanian mengusung dan mengekspresikan posisi ideologi
Studi Politik Edisi3, Vol. ll, No. t,2OL2
Dewasa ini keberanian mengusung dan
mengekspresikan posisi ideologi politik
indeks ini di masa depan. Sejauh ini
pilihan informan dirasakan cukup akurat
yang berbeda secara terbuka
dan mengonfirmasi bahwa dalam setting
dikembangkan oleh kelompok-kelompok
demokrasi di Indonesia, landasan ideologi
fundamentalisrne Islam garis keras. Dalam
akomodasi kategori yang berdasarkan pro
kurang menjadi acuan pilihan politik
masyarakat. Posisi pro dan kontra
atau kontra terhadap pemerintatu posisi
perwakilan dari kelompok fundamentalis
terhadap pemerintah juga sebetulnya
tidak terlalu menjadi pembedaan yang
sebetulnya juga agak problematik karena
tegas di masa transisi saat ini yang ditandai
di satu sisi mereka mengusrlng pandangan
oleh pemerintah yang bersifat koalisi dari
politik yang rnenolak politik sekuler
berbagai kelompok dan tidak didasari
termasuk gagasan demokrasi, sedangkan
persEunaan ideologi dan program politik.
di sisi lain seringkali kita menemukan
mereka mendapatkan pembiaran dari
Beberapa tahun terakhir posisi pemerintah
pemerintah.
kurang populer akibat dilanda berbagai
Berkebalikan dengan para ekonom di
mana dapat lebih mudah ditentukan
skandal korupsi. Dengan demikian lebih
mudah untuk melihat siapa dari informan
yang pro, kontra, atant moderat terhadap
ideologinya dari posisi mereka terhadap
pemerintah. Hal ini menegaskan pilihan
pasar dan intervensi negara dalam
metode yang kami ambil untuk
perekonomian. Kenyataannya hampir
tidak ada ekonom di Indonesia yang
memodifikasi spektrum ideologi informan
ahli menjadi posisi dukungan terhadap
mempropagandakan dukungan ideologis
pemerintah.
terhadap ekonomi pasar secara terbuka.
Sementara posisi mendukung atau kontra
BagianIII
pemerintah pu. sebetulnya tidak terlalu
mencolok. Maka yang paling mungkin
TEMUANRISET
dibedakan adalah dari terlibat atau
Riset ini menghasilkan indeks yang
merupakan pengolahan penilaian para
tidaknya dalam kerjasama atau. peke4aan
untukpemerintah.
informan ahli atas sejumlah pertanyaan
yang terbagi dalam tiga ranah yaitu
Tim peneliti melakukan diskusi
politik, ekonomi dan masyarakat sipil.
Dalam setiap ranah terdiri dari tiga
mendalam untuk melakukan penilaian
mengenai tiap informan dan memeriksa
kategori informan ahli yaitu
propemerintah, moderat dan
kecenderungan yang dapat ditangkap dari
rekam jejak posisi dan pernyataan mereka.
antipemerintah. Berikut indeks Indonesia
Penetapannya bersifat interpretasi yang
dilihat dari kategori informan dalam tiga
dapat saja diperbaiki dalam metode studi
ranahtersebut.
8
lrwansyah, M.A., INDEKS DEMOKRASIASIA 2011 Tabel l Indeks Demokrasi Indonesia Dilihat dari Kategori Inf,orman Total
lrwansyah, M.A., INDEKS DEMOKRASIASIA 2011
Tabel l
Indeks Demokrasi Indonesia Dilihat dari Kategori Inf,orman
Total
Ranah/Bidang
Katesori Informan
Politik
Bkonomi
Masyarakat SiPil
5.35
591
4.93
5.2
Pronemerintah
5.04
5.M
4.4
s.69
Moderat
4.44
4.3',7
Antioemerintah
5.56
3.3 8
4.9
Total
5.50
4.24
5.09
III. 1. Indeks Indonesia Dilihat dari
Secara keseluruhan dari tiga ranah
Empat Variabel
tersebut, indeks Indonesia adalah 4.9yang
Demokrasi
berarti cenderung berada di tengah jika
diukur dari skala 0 hingga 10. Dilihat per
ranah, indeks politik Indonesia paling
tinggi
yaitu 5.5. Sementara indeks
Dalam riset Asian Democracy Index ini,
konsep demokrasi diturunkan pada dua
ekonomi Indonesia paling rendah yaitu
prinsip utama yaitu Liberalisasi dan
4.24.
Ekualisasi. Prinsip liberalisasi diturunkan
dalam dua variabel yaitu otonomi dan
kompetisi. Sedangkan prinsip ekualisasi
Dapat
ditambahkan bahwa indeks
juga diturunkan dalam dua variabel yaitu
menurut informan ahli
ada di
Yang
pluralisasi dan solidaritas. Prinsip dan
kelompok proPemerintah
dengan
variabel tersebut kemudian dilihat dalam
kelompok moderat tidak memiliki banyak
tiga ranah yaitu politik, ekonomi dan
perbedaan yaitu rnasing-masing 5.35 dan
cukuP tajam
masyarakat sipitr.
5.04. Ferbedaan Yang
memang terjadi dengan
indeks menurut
informan ahli ketrompok antipemerintah
vaitu4.M.
Hasil indeks Indonesia dalam ranah
politik berdasarkan empat variabel
demokrasi tergambar dalam tabel berikut
ini.
Tabel2
Indeks Ranah Politik Indonesia Dilihat dari Empat Variabel Demokrasi
Variabd Derdcasi
Kdegorilnfornan
Itwalisasi
Solidaritas
Otononi
Kurpetisi
5.58
4.93
Pronersintah
5.67
4.n
5.6
4.60
6.m
I\4oderat
725
5.ll
5.50
4.80
Antipenrrintah
4J8
Tdal
6.86
5.17
5.39
Studi Politik Edisi3, Vol. ll, No. t,2OL2 Penilaian terhadap otonomi di ranah ternyata tidak berkorelasi
Studi Politik Edisi3, Vol. ll, No. t,2OL2
Penilaian terhadap otonomi di ranah
ternyata tidak berkorelasi dengan
politik secara keseluruhan dinilai paling
tinggi yaitu 6.86. Informan propemerintah,
penilaian kompetisi dalam ranah politik
yarrg justru lebih rendah (5.17). Sementara
moderat dan antipemerintah rnemberikan
itu, pluralisasi dalam ranah politik berada
penilaian yang tingg terhadap otonomi
pada angka 5.39 dan solidaritas pada
dalam ranah politik di Indonesia.
angka4.78.
Kalangan propemerintah cenderung
memberi penilaian titggi terhadap empat
variabel dibandingkan kalangan moderat
Hasil indeks Indonesia dalam ranah
ekonomi berdasarkan empat variabel
dan antipemerintah. Tetapi penilaian
demokrasi tergambar dalam tabel berikut
otonomi yang tingg dalam ranah politik
ini.
Tabel3
Indeks Ranah Ekonomi Indonesia Dilihat dari Empat Variabel Demokrasi
Kategori Informan
Variabel Dem okrasi
Otonomi
Kompetisi
Pluralisasi
Solid arit as
Propemerintah
5.42
6.00
3.93
4.76
Moderat
5.7 5
5.50
2.53
4.33
Antipemerintah
3.83
3.25
2.80
3.62
T otal
5.00
4.92
3.09
4.24
Hasil indeks ekonomi Indonesia
propemerintah cenderung menilai'baik'
memperlihatkan variabel otononri dan
variabel pluralisasai daripada kategori
kompetisi pada posisi lebih baik daripada
solidaritas, sedang pluralisasi pada posisi
moderat dan antipemerintah yang
keduanya menilai pluralisasi dalam
yang terburuk Variabel otonomi dan
ekonomi Indonesia sangat buruk.
kompetisi berada pada kisaran angka 5.0
Sementara variabel solidaritas
yang dapat diartikan sebagai posisi
memperoleh nilai 4.24 yarrg memberi
tengah.
sinyal kurang baik (arahnya negatf).
Nilai variabel pluralisasi sangat rendah
atau dinilai negatif oleh para informan dari
Hasil indeks Indonesia dalam ranah
masyarakat sipil berdasarkan empat
tiga kategori. Nilai indeksnya sangat
rendatu yaitu 3.09. Informan kategori
variabel demokrasi tergambar dalam tabel
berikutini.
10
lrwansyah, M.A., INDEKS DEMOKRASIASIA 2011 Tabel4 Indeks Ranah Masyarakat Sipil Indonesia Dilihat dari Empat Variabe
lrwansyah, M.A., INDEKS DEMOKRASIASIA 2011
Tabel4
Indeks Ranah Masyarakat Sipil Indonesia Dilihat dari Empat Variabe Demokrasi
Kategori Informan
Variabel Demokrasi
Otonomi
Kompetisi
PluraHsasi
Solidaritas
Propemerintah
4.44
6.80
4.08
5.56
Moderat
4.78
7.27
5.17
5.56
Antipemerintah
4.17
5.27
3.00
5.1 I
Total
4.46
6.44
4.08
5.4r
Hasil indeks ranah masyarakat sipil
Indonesia memperlihatkirn situasi yfrrg
menarik. Nilai variabel kompetisi paling
baik daripada pluralisasi.
lll.2. Indeks Indonesia Dilihat dari
tinggi dibandingkan tiga variabel lainnya.
Prinsip Liberalisasi dan Ekualisasi
Dalam prinsip liberalisasi, otonomi
masyarakat sipil lebih rendah
Hasil kompilasi tiga ranah indeks
dibandingkan kompetisinya (4.46
Indonesia menurut empat variabel
berbanding 6.44). Sedangkan dalam
demokrasi adalah berikut ini.
prinsip ekualisasi, nilai solidaritas lebih
Tabel5
Indeks Ranah Politik, Ekonomi, dan Masarakat Sipil Dilihat dari Empat Variabel
Demokrasi
Ranah
Otonomi
Kompetisi
Pluralisasi
Solidatitas
Politik
6.86
5.17
5.39
4.78
Ekonorni
Masyarakat Sipll
5.00
4.92
3.09
4.24
4.46
6.44
4.08
5.41
Total
s.44
5.51
4.19
4.81
Sementara itu tabel di bawah ini
yaitu 4,50. Tabel di bawah ini jugu
menunjukkan secara keseluruhan nilai
menunjukkan bahwa nilai indeks
prinsip liberalisasi lebih tinggi yaitu 5,48
Indonesia 201L relatif rendah y aitu, 4,99.
dibandingkan dengan nilai ekualisasi
11.
Studi Politik Edisi 3, Vol. ll, No. t,2OL2 Tabel6 Indeks Ranah Politilg Ekonomi, dan Masyarakat
Studi Politik Edisi 3, Vol. ll, No. t,2OL2
Tabel6
Indeks Ranah Politilg Ekonomi, dan Masyarakat Sipul Dilihat dari Prinsip
Liberalisasi dan Ekualisasi
Ranah
Liberalisasi
Ekualisasi
Indels Demolcasi Indonesia
Politik
6.01
5.08
Ekonorni
4.96
3.66
Masyarakat Sipil
5.45
4.75
Total
5.48
4.50
4.99
BagianIV
Sebagian besar ahli menyatakan bahwa
INTERPRETASI DAN ANATISIS
tingkat kekerasan negara jauh menurun
dibandingkan masa Orde Baru. Kebebasan
Temuan riset pada bagian sebelurnnya
menggambarkan banyak pekerjaan rumah
untuk membentuk organisasi politik serta
melakukan protes melalui demonstrasi
yang harus dilakukan oleh Indonesia
atau jalan lain juga dinilai mengalami
untuk memajukan demokrasinya. Bagian
ini menguraikan pembacaan atas temuan-
peningkatan bila dibandingkan pada masa
Orde Baru. Selainitu hak-hak sipil dijamin
temuan riset tersebut. Dengan demikian,
seceua lebih baik pula. Di sini, hak atas
dapat ditelusuri kondisi-kondisi apa yang
harus diperbaiki agar demokrasi
Indonesia menjadi lebih baik.
kebebasan beragama mendapat catatan
tersendiri disebabkan kasus Ahmadiyah.
Kekerasan yang menimpa Ahmadiyah
dan tidak adanva p€nanganan secara baik
IV.l. Analisis terhadap Empat Variabel
Demokrasi
oleh pemerintah menjadi catatan untuk
nilaiotonomi.
IV.l.a. Variabel Otonomi
Nilai indeks otonomi ranah masyarakat
Otonomi di ranah politik memiliki nilai
sipil paling rendah. Data menunjukkan
indeks paling tingg. Data menunjukkan
otonomi di ranah ekonomi lebih buruk
bahwa otonomi di ranah politik memiliki
dibandingkan dengan ranah politik.
indeks paling tinggi dibandingkan dengan
Sebagian besar ahli menyatakan bahwa
nilai indeks otonorni di ranah ekonomi dan
terdapat hubungan yang saling
masyarakat sipil. Nilai indeks otonomi
menguntungkan antara pelaku politik dan
ranah politik adalah 5.85, ranah ekonomi
pelaku ekonomi. Hat ini menyebabkan
bernilai indeks 5.0 dan masyarakat sipil
memiliki nilai paling rendah dengan nilai
beberapa regulasi yang dikeluarkan
pemerintah condong menguntungkan
4.46.
pihak-pihak tertentu. Perlindungan
72
lrwansyah, M.A., INDEKS DEMOKRASIASIA 2011 terhadap buruh masih buruk karena masih IV.l. b. Variabel Kompetisi
lrwansyah, M.A., INDEKS DEMOKRASIASIA 2011
terhadap buruh masih buruk karena masih
IV.l. b. Variabel Kompetisi
banyak praktek outsourcing dan
Kompetisi di ranah masyarakat sipil lebih
pembayaran gaji yang tidak sesuai dengan
tinggi dibanding pluralisasi di ranah
kebutuhan. Masih banyak perusahaan
ekonomi dan politik. Data menunjukkan
terutarna di sektor informal
bahwa kornpetisi di ranah masyarakat
mempekerjakan anak-anak dalam
sipil paling tinggi (6.44) dibandingkan
operasinya rneskipun sudah ada
perafuran pembatasan umum minimal
pekerja. Selain itu keberadaan lembaga
keuangan internasional (IMF dan World
ranah ekonomi (4.92) dan politik (5.14.
Kompetisi menjadi bagian dari liberalisasi
yang mengukur beberapa item penting
Bank) masih terlihat dominan
yaitu toleransi/ inklusiuitas, capability and
publicity of aoluntary association, serta
mempengaruhi kebijakan pemerintah.
tranparency and diaersity of aolutary
association.
Otonomi pada masyarakat sipil terlihat
paling buruk yaitu 4.45. Meskipun sudah
terdapat kebebasan masyarakat untuk
Para informan umumnya sepakat bahwa
keberadaan organisasi masyarakat sipil
berkumpul dan membentuk organisasi,
(OMS) dan lembaga swadaya masyarakat
namun infrastruktur hukum belum
(LSM) di Indonesia dinilai sangat banyak
berparadigma demokrasi. Beberapa
dan mewakili nilai-nilai yang beragam
kebijakan dinilai membatasi kebebasan
dalam masyarakat dan cukup mewakili
menyatakan pendapat, misalnya Undang-
Undang (UIJ) mengenai trnformasi dan
kepentingan umum. Selain itu, dibanding
dengan partai politik dan sektor swasta,
Transaksi Elektronik, UU Pornografi dan
Pornoaksi, juga rancangan UU Intelijen
LSM dinilai lebih terbuka dan transparan.
dan UU ltahasia Negara. Selain itu,
sebagaian besat ahli menyatakan bahwa
Pada item toleransi, para informan menilai
jumlah LSM dan OMS di Indonesia sangat
pengaruh perusahaan swasta dinilai
besar dan beragam. Namun demikian
sangat tinggi di bidang media rnassa.
tidak semua OMS mewakili nilai toleransi.
Meskipun ada perbaikan dalam
Ada beberapa OMS yar.g juga
menyuarakan nilai sebaliknya.
pemenuhan kebutuhan pendidikan dasar,
namun kebutuhan lainnya seperti
Keragaman LSM terlihat dari adanya
kelompok-kelompok
yar.g
kebutuhan listrik, air, pangaru kesehatan,
mengampanyekan hak asasi manusia
jaminan sosial, dan lainnya jauh dari yang
(HAM), pruralisme, toleransi hingga ada
seharusnya.
L3
Studi Politik Edisi3, Vol. ll, No. t,2Ot2 praktik politik dan praktik ekonomi kelompok'kelompok yang anti
Studi Politik Edisi3, Vol. ll, No. t,2Ot2
praktik politik dan praktik ekonomi
kelompok'kelompok yang anti pluralisme
dan anti toleransi. Keberagarnan LSM ini
adalah sama-sama belum transparan.
Bahkan dua ranah ini dinilai Para
terlihat dari beragam kepentingan
informan memperlihatkan relasi yang
masyarakat sehingga bisa dikatakan LSM
di Indonesia cukup mewakili semua
kelompokmasyarakat.
saling menunggangi demi kepentingan
masing-masing sekaligus menutup diri
dari pengawasan publik. Transparansi di
|umtah OMS memang rnelonjak setelah
ranah ekonomi dinilai buruk oleh para
informan. Meskipun praktik perusahaan
kejatuhan Soeharto pada 1998. Era pasca
Soeharto kebebasan masyarakat terbuka
sudah go public dan meneraPkan
yarrg membuka kesempatan berbagai
kelompok untuk membentuk organisasi.
transparansi finansial, namun ada banyak
praktik uang yang tidak terungkap semisal
perpajakan dan kepemilikan perusahaan
Data Kementrian Dalam Negeri Republik
Indonesia memperlihatkan pada tahun
yang berlapis-lapis di mana susah
2005 jumlah OMS masih sekira 3000
ditelusuri siapa pemilik sebenarnya.
organisasi, sedangkan pada tahun 20L0
jumlahnya meningkat menjadi 9000
Berkaitan dengan item kompetisi antar
organisasi. Jumlah yang besar ini tentunya
perusahaan di Indonesia, para informan
mencerminkan berbagai nilai dan
menyatakan bahwa masih banYak
perusahaan yang mendaPatkan
kebutuhan dalam masvarakat.
Dari sisi transparansi, LSM Indonesia
dinilai jauh lebih maju daripada partai
keistimewaan khusus melalui permainan
uang dengan pihak pemerintah. Semakin
besar perusahaan, kompetisi semakin
politik. Saat ini banyak LSM sudah mulai
berlangsung secara tertutup hingga tidak
berupaya untuk beroperasi secata
transparan. Merska terbuka dan berbagi
informasi kepada publik termasuk laporan
adil. Lembaga Komisi Pengawas
Persaingan Usaha (KPPU) memang
finansial. Hal ini belum dilakukan oleh
didirikan pada masa reformasi. Namun
demikian, KPPU yang seharusnYa
partai potitik. Berbagai LSM juga sudah
mulai menjalankan kaderisasi dan suksesi
dengan cara yang demokratis.
mengawasi persaingan usaha, tidak
memiliki cukup daya untuk mengawasi
persaingan usaha tersebut.
Kompetisi di ranah politik dan ekonomi
IV.L.c. Variabel Pluralisasi
Pluralisasi di ranah ekonomi paling
hampir setara. Kompetisi di ranah politik
rendah. Pluralisasi di ranah ekonomi,
merniliki nilai indeks 5.17 dan hampir
politik, dan masyarakat sipil tidak
setara dengan ekonomi yaitu 5.92. Salah
memitiki indeks yang menggembirakan.
satu aspek yang masih buruk dalam
14
lrwansyah, M.A., INDEKS DEMOKRASIASIA 2011 Bahkan pluralisasi di ranah ekonomi jauh paling rendah (3.09) dibanding
lrwansyah, M.A., INDEKS DEMOKRASIASIA 2011
Bahkan pluralisasi di ranah ekonomi jauh
paling rendah (3.09) dibanding pluralisasi
Pluralisasi untuk ranah masyarakat sipil
di ranah politik (5.39) dan masyarakat sipil
walau sedikit lebih tinggi dibandingkan
ranah ekonomi namun memiliki indeks
(4.08). Di ranah ekonomi terdapat
yang relatif rendah. Hal ini terjadi karena
kenyataan bahwa aktifitas ekonomi
media massa masih tidak lepas dari
dikuasai otreh kelompok-kelompok
kepentingan bisnis dan politik perniliknya.
konglornerat. Bahkan konglomerat asing
jauh lebih dominan daripada konglomerat
Media elektronik tidak menyediakan
tayangan yang berkualitas bagi
dalam negeri. Sektor-sektor yang dikuasai
masyarakat. Kesenjangan akses informasi
konglomefat asing antara lain sektor
masih tinggi. Internet hanya dimonopoli
migas (minyak dan gas), kelapa sawit, batu
oleh kelompok terpelajar. Akses terhadap
bara, serta perbankan.
perpustakaan dinilai buruk. Demikian
jrgu kurangnya pelayanan yang
Berbagai regulasi yang dikeluarkan oleh
memf asilitasi masyarakat untuk
pemerintah memberi peluang lebar
melakukan aktifitas budaya.
kepada pemodal asing untuk menguasai
aktivitas perekonornian Indonesia.
Indeks nilai pluralitas di ranah politik
Pemodal asing boleh menyewa tanah
paling tinggi" Pada masa reformasi telah
selama 90 tahun untuk aktivitas
pula dibentuk lembaga-lembaga untuk
perusahaan. Femodal asing jrg"
meningkatkan kualitas akuntabilitas
diperkenankan memiliki saham bank di
horisontal seperti Komisi Pemberantasan
Indonesia hingga 95%. Meskipun ada
Korupsi (KPK), Komisi Penyiaran
otonorni daerah, kesenjangan
Indonesia (KPD, dan Komisi Nasional Hak
antarwilayah masih tinggi" Begitu juga
Asasi Manusia (Komnas HAM).
dengan keser:ljangan pendapatan dan
Walaupun demikian, penjaminan
penguasaan aset. Beberapa regulasi yang
mekanisme check and balances yang
ditetapkan Fresider:r membolehkan
semakin baik menuntut integritas orang-
pemoclal asing berinvestasi di bidang ritel.
orang yang ada di dalamnya dengan
Hal ini rnenyebabkan banyak sektor
penting yang mendukung perekonomian
Indonesia dikuasai oleh pemodal asing.
menjalankan pekerjannya dengan tulus
dan jujur. Begitu juga dengan parlemen.
Walaupun dipandang cukup mewakili,
Penguasaan aset oleh kelompok
dicatat bahwa tidak semua orang yartg
konglomerat terutama pemodal asing
duduk di parlemen menjalankan
mengakibatkan kesenjangan pendapatar:r
yangluarbiasa.
fungsinya secara maksimal.
15

Studi Politik Edisi3,llt|. f, b. l,2OL2

IV.l.d. Variabel Solidaritas Nilai indeks solidaritas di ranah politik Solidaritas di ranah ekonomi paling rendah.
IV.l.d. Variabel Solidaritas
Nilai indeks solidaritas di ranah politik
Solidaritas di ranah ekonomi paling
rendah. Solidaritas di ranah ekonomi
jug^ cukup rendah. Para informan
menyatakan walaupun masyarakat
rnerniliki indeks paling rendah (4.24)
tampak aktif dalam pemilihan umum
namun kurang berpartisipasi dalam
dibandingkan ranah politik (4.78) dan
pengambilan kebijakan. Selain itu,
masyarakat sipil (5.41). Beberapa hal yang
menyumbang pada rendahnya indeks
solidaritas pqda ranah ekonomi adalah
tindakan afirmatif untuk perempuan di
bidang politik sudah terlihat cukup
aktivitas bisnis ytrrg tidak menyediakan
dengan adanya kuota 30%, namun
bermasalah saat pelaksanaannya.
jaminan sosial dan tidak memunculkan
aktivitas serikat buruh yang
Kepercayaan publik terhadap pemerintah
memungkinkan buruh terlibat dalam
rendah akibat berbagai kasus korupsi yang
proses manajemen dan memengaruhi
tidak terselesaikan. Sedangkan
kebijakan pemerintah. Buruh tidak cukup
kepercayaan publik kepada parlemen juga
terorganisasi. Gerakan buruh
tidak begitu bagus. Namun begitu,
terfragmentasi sehingga tidak mamPu
masyarakat cukup terlihat percaya pada
men gatahkan kekuatan untuk
demokrasi.
mendesakkan pemenuhan hak atas
jaminan sosial yang memadai. Cita-cita
Nilai solidaritas di ranah masyarakat sipil
kelompok buruh untuk terlibat dalam
praktik pengambilan keputusan di
terlihat paling bagus dibandingkan ranah
lain. Walaupun ada catatan untuk
perusahaan masih sangat jurh. Buruh tak
kelompok disabilitas, lanjut usia, maupun
pernah berkesempatan memiliki saham
kelompok minoritas lainnya, namun
perusahaan sehingga tidak ada
terdapat tindakan afirmatif untuk
berpeluang menghadiri rapat-rapat
kelompok perempuan dan bidang
penting perusahaan. Kekuatan buruh
pendidikan. Keterlibatan masyarakat
dalarn mernengaruhi kebijakan yang
dalam aktivitas LSM dinilai masih rendah
dibuat oleh pemerintah juga masih kecil.
tapi terus menguat. OMS dinilai memiliki
cukup pengaruh dalam proses pembuatan
Selain itu, kontrol masyarakat terhadap
kebijakan pemerintah. Dalam hal ini
aktivitas perusahaan baik dari kelompok
memang tergantung isu yang menjadi
konsumen maupun kelompok lingkungan
ranah kerja mereka. LSM antikorupsi saat
masih lemah. Antusiasme masyarakat
ini dinilai rnemiliki pengaruh yang sangat
dalam turut serta mengurangi
kuat dalam pembuatan kebijakan
ketimpangan tidak terlalu besar. Beberapa
organisasi keagamaan memang memiliki
aktivitas pemberdayaan ekonomi, narnun
dibandingkan dengan LSM yang bekerja
padaisulain.
tidak sampai pada gerakan rnengubalr
kebijakan.
L6
lrwansyah, M.A., INDEKS DEMOKRASIASIA 2011 IV.2. Analisis terhadap Prinsip Utama daerah. Namun demikiaru kue ekonomi
lrwansyah, M.A., INDEKS DEMOKRASIASIA 2011
IV.2. Analisis terhadap Prinsip Utama
daerah. Namun demikiaru kue ekonomi
Demokrasi: Liberalisasi dan Ekualisasi
tidak terdistribusi hingga kelompok
bawah dan kehilangan perannya dalam
Indeks ekualisasi ranah ekonomi paling
rendalu liberalisasi ranah politik paling
menyejahterakan rakyat terutama di
wilayah yang selama ini sangat tertinggal
tinggi. Data menunjukkan bahwa
yaitu kawasan Indonesia bagian timur.
ekualisasi di ranah ekonomi (3.65)
memiliki indeks paling rendah
Ekualisasi dipakai untuk mengukur
dibandingkan ranah politik (5.08) dan
proses sejauh mana kelompok minoritas
masyarakirt sipil (4.75). Rendahnya
atau pun subaltern secara substansial
ekualisasi di ranah ekonomi nampaknya
dapat memiliki akses padasumber daya di
disumbang oleh angka pluralisasi yang
berbagai sektor dan dapat menikmati
sangat rendah (3.09) dan indeks solidaritas
kesetaraan dalam mengakses sumber day a
yang relatif rendah pula (4.24). Angka
dan kekuasaan. Ekualisasi dengan
solidaritas ranah ekonomi juga paling
demikian adalah sebuah proses
rendah bila dibandingkan 'dengan
transformasi kekuasaan di setiap bidang
solidaritas di dua ranah lain.
yaitu politik, ekonomi maupun
masyarakat sipil. Dari indeks yang
Monopoli di ranah ekonomi dinilai masih
dihasilkan menunjukkan ekualisasi yaitu
tetap terjadi di mana kelompok tertentu
masih menguasai ekonomi. Kesenjangan
aset justnr lebih serius terjadi pada masa
transformasi kekuasaan dalam ranah
ekonomi tidak terjadi yang berarti tidak
ada pula kesetaraan akses pada sumber
dernokrasi dibandingkan masa
davaekonomi.
sebelumnya. Penguasaan kelompok
bawah atas tanah semakin lama semakin
sedikit. Sementara itu, kesetaraan
pendapatan belum tercipta di mana 20%
penduduk dengan pendapatan tertinggi
menguasai porsi yang lebih besar dari
tahun ke tahun, sementara 40% penduduk
dengan pendapatan terendah menguasai
pendapatan nasional yang semakin lama
semakin rnenurun. Lebih jauh,
kesenjangan ekonomi antarwilayah masih
rnerupakan masalah yang sangat serius.
Kue ekonomi memang dipandang mulai
terdistribusi dengan adanya otonomi
L7
Studi Politik Edisi3, Vol. ll, No. t,2OI2 Tabel T 40 Besar Negara-negara Paling Seiahtera (40
Studi Politik Edisi3, Vol. ll, No. t,2OI2
Tabel T
40 Besar Negara-negara Paling Seiahtera
(40 W e althi est Citiz ensl
Totalwealth
Average wealth
Totalwealth
Wealth
(US$ billions)
(US$ hiUions)
as % of GDP
Concm lration
Index
Indonesia
7r.3
10.3 [6.22)
Thailand
II.7
36.s
0.91
1.95
Malaysia
51.3
r.28
23.4
1.65
I.I4
45.7
21.0
0.25
Sumber: Forbes magazine 201.0'40 Richest" rEorts for aarious Asian countries and author's
calculations dalam Winters (201.1,).
Data tersebut menunjukkan bahwa
konsentrasi kekayaan di Indonesia
tergantung pada sejauh mana monopoli
kekuatan lama terdisintegrasi. Angka
memiliki nilai indeks sangat tinggi bila
liberalisasi ekonomi y ang jugarendah bila
dibandingkan negara-negara ASEAN
lainnya. Winters mengatakan bahwa
dibandingkan dengan bidang lain dapat
menjelaskan ekualisasi bidang ekonomi
Concentration of Wealth di Indonesia
adalah tiga kali lipat dari Thailand, hampir
yang juga rendah itu. Demokrasi yang ada
empat kali lipat dari Malaysia, dan dua
puluh kali lipat dari Singapura."
tidak begitu berhasil dalam melakukan
liberalisasi ekonomi di mana ekonomi
Liberalisasi di ranah ekonomi jug
memiliki nilai indeks paling rendah (4.96)
dibandingkan dengan liberalisasi di ranah
masyarakat sipil (5.45) dan ranah politik
masih tetap tidak otonom terutama dari
politik. Terdapat hubungan yang saling
menguntungkan antara elit politik dan
ekonomi dan jauh dari transparan.
Kegagalan liberalisasi bidang ekonomi
menghambat ekualisasi di bidang
(6.01). Liberalisasi dipakai untuk
ekonomi. Rendahnya nilai indeks ekonomi
mengukur sejauh mana sektor-sektor yang
baik untuk prinsip liberalisasi maupun
berbeda memperoleh independensi dan
ekualisasi menunjukkan bahwa
otonomi dari kekuatan politik otoriter
lama dan kemudian dapat menetapkan
demokrasi Indonesia memiliki
kepentingan mereka sendiri. Hal ini sangat
permasalahan yang besar pada bidang
ekonomi.
Nilai indeks ekualisasi lebih rendah
dibandingkan liberalisasi. Data
tt Paparan Prof. Jeffrey A. Winters, Ancaman Oligarki
dan Masa Depan Politik Indonesia, dalam diskusi yang
menunjukkan bahwa dua prinsip utama
diselenggarakan yang diselenggarakan oleh
demokrasi yaitu liberalisasi dan ekualisasi
sama-sama memiliki nilai indeks yang
Perhimpunan Pendidikan Demokrasi, Jakarta, 1 ]uni
2011.
lrwansyah, M.A., INDEKS DEMOKRASIASIA 2011 relatif rendah. Narnun, prinsip ekualisasi Setelah reformasi, Indonesia
lrwansyah, M.A., INDEKS DEMOKRASIASIA 2011
relatif rendah. Narnun, prinsip ekualisasi
Setelah reformasi, Indonesia memang
memiliki indeks lebih rendah (4.50)
merniliki banyak media namun
sedangkan liberalisasi sedikit lebih tinggi
(5.48). Niiai indeks dari prinsip-prinsip
kepemilikan media terpusat pada
kelompok tertentu. Hal ini mengakibatkan
utarna demokrasi untuk Indonesia
ketimpangan wacana publik di mana
tidaklah rnenggembirakan. Dari dua
angka ini dapat dinyatakan bahwa
kelompok tertentu mendominasi wacana
publik.
demokrasi Indonesia berada pada posisi
tengah dan mengandung ancaman unfuk
IV.3. Analisis terhadap Indeks
dapat sewaktu-waktu mengalami
Demokrasi Indonesia
kemunduran(setback).
Indeks ekonomi paling rendah dibanding
politik dan masyarakat sipil. Indeks
Data ju3a menunjukkan dua variabel
turunan dari prinsip ekualisasi memiliki
ekonomi memiliki nilai paling rendah
(4.24) dibanding total indeks politik (5.5)
nilai yang rendah. Nilai indeks pluralisasi
dan masyarakat sipil (5.09). Hal ini
total memiliki nilai indeks paling rendah
(4.19). Di sini harus kita cermati pula
bahwa angka pluralisasi paling rendah
terutama dipengaruhi oleh indeks
ekualisasi ekonomi yang mencapai angka
j auh di bawah rata-rat a (3.72).
dibandingkan dengan otonomi, kompetisi,
dan solidaritas di mana pluralisasi
ekonomi juga paling rendah" Sementara
Data ini mengindikasikan bahwa proses
demokratisasi di Indonesia masih belum
itu, angka solidaritas total adalah4.81yang
rnerupakan angka terendah seteiah
sanggup mengatasi monopolisasi atas
sumber-sumber daya politik, sosial, dan
otonorni dan kompetisi.
terutama ekonomi. Konsentrasi sumber-
sumber daya ekonomi dan akses pada
Nilai indeks iiberalisasi untuk serrula
sumber-sumber daya tersebut masih terus
ranah lebih tinggi bila dibandingkan nilai
indeks ekuatrisasi" Liberalisasi pada ranah
terjadi" Sejumlah informan kunci
mengungkapkan bahwa aktivitas
politik memang sudah berjalan, begitu
ekonomi didominasi oleh segelintir
juga dengan liberalisasi masyarakat sipil.
Liberalisasi masyarakat sipil walau tak
konglomerat dan kekuatan ekonomi asing.
Mereka terutama menguasai industri-
serendah ekonomi, namun memiliki
industri ekstraktif yang padat modal.
catatan dengan tingginya pengaruh
Ketimpangan yang dalam atas akses pada
perusahaan swasta pada bidang media
sumber-sumber daya ekonomi ini pada
massa. Pengaruh pihak swasta dalam
media massa mengakibatkan
gilirannya mengakibatkan kesenjangan
ketimpangan datram wacana publik.
pendapatan. Sementara itu, desentralisasi
19
Studi Politik Edisi3, Vol. ll, No. L,2Ot2 yang merupakan agenda untuk tidak terhadap demonopolisasi sumber-sumber
Studi Politik Edisi3, Vol. ll, No. L,2Ot2
yang merupakan agenda untuk tidak
terhadap demonopolisasi sumber-sumber
memusatkan sumber-sumber kekuasaan
kekuasaan ekonomi. Penelitian ini
di pusat juga tidak cukup berhasil
menunjukan bahwa memang telah ada
mengatasi disparitas ekonomi
antarwilayah.
liberalisasi di ranah politik. Fakta ini
diterima secara umum baik oleh yang
mendukurr.gt menolak, maupun
Ketimpangan ini semakin dalam karena
mengambil posisi tengah.
Indonesia belum memiliki sistem jaminan
sosial yang dapat berguna untuk
Mungkin tidak terlalu terburu-buru untuk
mendisintegrasikan monopoli tersebut
mengatakan bahwa masih kuatnya sistem
(demonopoli pemusatan sumber-sumber
kekuasaan ekonomi). Sementara serikat-
monopolistik di ranah ekonomi
mengakibatkan kualitas dari liberalisasi
serikat buruh meskipun semakin 'tebal'
dan ekualisasi di bidang politik dan sosial
aktivitas dan jumlahnya tetapi tidak cukup
berhasil membangun kekuatan yang solid.
tidak maksimal. Dengan kata lain,
gagalnya demonopolisasi ekonomi
Lebih dari itu, kepedulian untuk
berimplikasi pada capaian kualitas
mengawasi kinerja bisnis juga masih
sangatlemah.
demonopolisasi bidang politik dan sosial.
Hal ini kita temukan pada berbagai
komentar informan yang mengungkapkan
Rendahnya indeks bidang ekonomi ini
betapa kencangnya kekuatan bisnis
j,rga disumbangkan oleh lemahnya
memengaruhi politik serta masyarakat
regulasi untuk men-demonopoli
penguasaan sumber-sumber daya
sipil.
ekonomi. Sebagai contoh, kebijakan
Ruang-ruang publik termasuk media
deregulasi pelbankan memungkinkan
sangat dikendalikan oleh kekuatan
modal asing menguasai 95% saham pada
bank-bank di Indonesia. Dalam penelitian
ekonomi. Sebagai akibatnya terjadi jurang
informasi yang dalam. Kepemilikan media
ini kualitas dari liberalisasi yang berarti
kebebasan dari monopoli dinilai oleh para
oleh kelompok tertentu adalah cerminan
dari tidak meratanya akses pada informasi
informan berad a di titik tengah (4.96).
dan sebaran informasi. Hal yang hendak
diinformasikan kepada publik ditentukan
Usaha demonopolisasi proses demokrasi
tidak cukup dilakukan pada aspek politik.
oleh pemilik media. Demikian pula
Liberalisasi politik dan sosial
dampaknya pada akses atas aktivitas dan
fasilitas budaya.Sudah banyak kelompok-
pascajatuhnya pemerintahan otoriter
kelompok seni yang tidak dapat terus
setelah lebih dari satu dekade tampaknya
tidak mempunyai pengaruh signifikan
melakukan ekspresi budaya. Disamping
itu, ruang publik dalam arti fisik dipenuhi
lrwansyah, M.A., INDEKS DEMOKRASIASIA 2011 oleh mal dan pom bensin, yang lebih merepresentasikan kepentingan bisnis.
lrwansyah, M.A., INDEKS DEMOKRASIASIA 2011
oleh mal dan pom bensin, yang lebih
merepresentasikan kepentingan bisnis.
Implikasinya adalah hilangnya
Mengapa indeks demokrasi Indonesia
masih rendah? Menurut penelitian ini
indeks demokrasi Indonesia berada di
kewargaan. Ketika kekuasaan ekonomi
begitu besar, maka bukan warga negara
bawah angka 'rata-rata' (4.99) yang
menggambarkan bahwa' demonopolisasi'
y angada rnelainkan konsumen.
bahkan belum setengah jalan. Masih
banyak agenda yang perlu dirumuskan
Riset ini menunjukan bahwa meskipun
dan dilakukan untuk itu. Akan tetapi
terdapat afirmasi di bidang politik
mengatakan 'setengah jalan' tidak banyak
khususnya untuk perempuan namun
artinya jika tidak masuk lebih dalam untuk
tidak berlaku untuk pemberdayaan
mengidentifikasi bagian-bagian penting
masyarakat sipil. Dan" tingkat partisipasi
warga negara baik secara politis maupun
yangmasihkurang.
di ranah masyarakat sipil juga masih
Buruknya kualitas demonopolisasi
rendah.
terutama dipengaruhi oleh prinsip-prinsip
ekualisasi. Secara lebih spesifik ekualisasi
INI ETRITA TIPI
SAfrlA \*fIlUA YA ,?
QIKII *OI
K} i
XORI,JP$I,
pil{lT
-'Qt(lr ARrls,,,
ptxlT*flKtr
lAKARTA,,,
SEQIT A KITA
KAPAN NIH?
21.
Studi Politik Edisi 3, Vol. ll, No. L,2OL2 bidang ekonomi. Jikakita melihat dari segi terhadap
Studi Politik Edisi 3, Vol. ll, No. L,2OL2
bidang ekonomi. Jikakita melihat dari segi
terhadap inklusivitas btdaya, agama,
pluralisasi maka kita temukan bahwa
bahasa, ras, suku serta perbedaan ide.
buruknya ekualisasi itu terjadi pada ranah
Hanya segelintir kelompok minoritas yang
ekonomi (3.09) dan masyarakat sipil (a.08).
menolak adanya inklusivitas tersebut.
Sedangkan ketika kita melihat dari sudut
pandang solidaritas maka ranah politik
(4.78) dan lagiJagi ranah ekonomi (4.24)
Namun tidak serta merta masyarakat sipil
cukup otonom dari berbagai kekuatan
lain, terutama ekonomi.
banyak mernpengaruhi buruknya kualitas
(indeks) tersebut.
Ketersediaan'ini tidak disertai dengan
adanya transformasi yanlg signifikan
Sementara itu, ditemukan bahwa prinsip
dalam hubungan kekuasaan terutama di
liberalisasi yang dimaksudkan untuk
ranah ekonomi (3.66) dan masyarakat sipil
menggambarkan proses mengembalikan
(4.75). Bahkan dalam ranah politik,
otonomi di masing-masing bidang
transformasi itu bersifat mediocre (hutyu
mencapai angka diatas 'rata-ratar (5.44 dan
5.5L atau 5.48 secara keseluruhan). Hal ini
0.8 diatasrata-rata).
terutama terjadi padaliberalisasi di ranah
Menarik untuk dilihat bahwa dua
politik (6.86 dan S.ln.Kebebasan dari
kelompok antagonis propemerintah dan
monopoli (liberalisation from monopoly) di
antipemerintah memberi nilai tinggi pada
ranah politik di atas 'rata-rata' namun
keberhasilan membangun'otonomi'.
tidak terjadi di ranah ekonomi dan
Dalam hal otonomi di ranah politik baik
masyarakatsipil.
pro maupun antipemerintah memiliki
pandangan (nilai) yatrLg suuna tentang
Bagaimana memaknai hal ini? Bobot
proses demokrasi di Indonesia.
liberalisasi lebih berat (5.48) dari
ekualiasasi (4.50). Meski demikian,
cakupan liberalisasi masih tidak terlalu
Bagi propemerintah ternyata tidak
selamanya melihat bahwa proses
luas atau jauh. Liberalisasi di ranah politik
masih sangat terbatas dan lebih terbatas
demokratisasi telah berhasil melakukan
demonopolisasi sumber-sumber
lagi di ranah masyarakat sipil. Hal ini
mengindikasikan bahwa instrumen-
kekuasaan. Hanya di ranah otonomi
kelompok ini melihat demonopolisasi
instrumen formal politik untuk
mencapai nilai yang tirgg (7 .33). Mungkin
demonopolisasi telah tersedia sementara
dominasi kekuatan-kekuatan sosial
hal ini menggambarkan kecenderungan
propemerintah untuk memberi nilai tinggi
tertentu tidak lagi terjadi di Indonesia.
akan pentingnya 'peran negara yang
Kekuatan-kekuatan sosial politik mulai
terpencar ke berbagai kelompok. Di
minimalisr.
Demikian pula di kalangan masyarakat
sipil.
tataran masyarakat ada penghargaan
Gambaran ini
mungkin
22
lrwansyah, M.A., INDEKS DEMOKRASIASIA 2011 mengindikasikan graaity dari gerak pemerintah, khususnya menyangkut advokasi
lrwansyah, M.A., INDEKS DEMOKRASIASIA 2011
mengindikasikan graaity dari gerak
pemerintah, khususnya menyangkut
advokasi yffiLg selama ini dibawa oleh
akuntabilitas.
masyarakat sipil yaitu menitikberatkan
pada'kebebasan dari kendali kekuasaan
Dalam hal pluralisasi ranah masyarakat
negara'. Agenda tersebut memang
sipif kelompok antipemerintah masih
tercapai. Bukan saja kelompok-kelompok
melihat rendahnya persamaan akses atas
masyarakat sipil menjamur (density)
sumber-sumber daya sosial seperti
namun juga aktivitasnya (aibrant) pun
informasi dan kebudayaaru. Sementara itu
cukup tinggi. Sementara itu pada bidang-
bidang laiir bagi kelompok antipemerintah
menilai pada angka'moderat'.
pengetahuan, informasi, dan
pengembangan nilai-nilai budaya oleh
antipemerintah dianggap masih
didominasi oleh kekuatan tertentu.
Hampir semua informan berpendapat
bahwa demonopolisasi di bidang ekonomi
Bagian V
hampir tidak terjadi. Catatan kecil perlu
KESIMPULAN
diungkapkan bahwa propemerintah (5.42
& 6) dan kaum moderat (5.75 & 5.50)
Skor Indonesia dalam penelitian Asian
melihat bahwa liberalisasi di bidang
ekonomi tercapai secara 'rnoderat'. Hanya
Democracy Index iri adalah 4,99 (dalam
skala 0-10). Skor yang menunjukkan masih
problematiknya wajah demokrasi
kelompok antipemerintah yang melihat
bahwa liberalisasi ekonomi tidak terjadi.
Indonesia saat ini setelah rentang 13 tahun
Semua kelompok sepakat bahwa tidak
transisi pascaotoriterisme. Secara
terjadinya demonopolisasi secara
psikologis memberikan peringatan yang
signifikan terutama sebagai akibat dari
keras tentang wajah demokrasi di
Indonesia bila dibandingkan berbagai
ekualisasi yang rendah.
indeks demokrasi lainnya yang
Kaum moderat dan propemerintah
menempatkan Indonesia di atas nilai 5.
melihat bahwa kompetisi masyarakat sipil
memiliki nilai tinggi. Hal ini menunjukan
Angka indeks mengindikasikan adanya
bahwa baik propemerintah maupun
perkembangan dan pencapaian yang
moderat menilai pentingnya kontribusi
timpang antara konsep penopang
peran masyarakat sipil. Disamping itu, hal
ini mengindikasikan bahwa penilaian dari
demokrasi dalam proses transisi yang
berlangsung hingga saat ini. Demokrasi
kedua kelompok ini tentang
Indonesia ditopang oleh liberalisasi politik
demonopolisasi terutama di ranah
yang cukup tittgg namun secara kontras
masyarakat sipil lebih baik dibanding
tidak dikuti oleh ekualisasi di ranah
pandangan dari kelompok anti
ekonomi yang sangat rendah. Ekualisasi
ekonomi adalah komponen nilai indeks
23
S,uJdi Politik Edisi 3, Vol, ll, No. L,ZOtz j ::.: :erendah dalam seluruh komponen Tampaknya,
S,uJdi Politik Edisi 3, Vol, ll, No. L,ZOtz
j ::.: :erendah dalam seluruh komponen
Tampaknya, demonopolisasi yang lebih
::-ai i;rdeks. Sementara itu peranan
tinggi terjadi di arena politik belum
r-a-.r-arakat sipil tergolong medio*e darr
kurang berperan signifikan dalam
mampu mendorong demonopolisasi di
arena ekoreomi dan masyarakat sipil.
mendinamisasi perubahan-perubahan
demokratik terhadap setting sosial yar;rg
Liberalisasi yang tinggi hanya mungkin
bila terjadi perubahan substansial atas
sebelumnya dipenuhi oleh monopoli
kekuatan elitis yang sebelumnya
kekuatan-kekuatan oligarkis. Liberalisasi
memonopoli. Kekuatan baru harus
dan ekualisasi di ranah masyarakat sipil
tergolongrendah.
mampu melakukan transformasi agar
menghadirkan tingkat demokrasi yang
tinggr. Tampaknya kapasitas transf ormasi
Temuan indeks dari riset ini seolah
untuk dapat melampui hambatan
mengonfirmasi berbagai kritik para atrli
monopoli adalah masalah yalrrg signifikan
tentang fenomena oligarki yang menjadi
ditemukan dari riset ini. Kemampuan
masalah serius yang dihadapi demokrasi
Indonesia saat ini. Berbagai sumber daya
transf ormasi yang masih lemah
mengakibatkan ketidakmampuan
yang penting dalam relasi sosial dan
mengoptimalkan peluang demokratisasi
ekonomi masih terkelola dalam kaitan
yang telah menghadirkan lapangan politik
yang erat dengan kekuatan-kekuatan elit
dan masyarakat sipil yang cenderung
lama yang telah menikmati monopoli sejak
otonom dan mampu menghadirkan
masa otoriter. Di bidang politik tersedia
prosedur serta afuran-afuran baru.
banyak perkembangan kelembagaan dan
prosedural yang memberi kesempatan
Kesirnpulan berbagai riset yang pernah
ruang otonomi baru dalam kontestasi
menyimpulkan bahwa demokrasi
politik formal seperti pennilihan umum
nasional lrdupr.p lokal" Muncul banyak
Indonesia telah terkonsoiidasi harus
dikritisi secara tajam, Konsolidasi di ranah
wajah baru r'ang muncul di panggung
ekonomi dan masyarakat sipil harus mulai
politik, tapi belum berarti wajah-wajah
dilihat terkait erat dengan demokrasi
baru ini terlepas sama sekali darikekuatan
politik yang kaya dengan perubahan
politik oligarkis karena untuk terlibat
dalam politik dibutuhkan biaya yang
selarna 13 tahun terakhir ini" Kekuatan-
kekuatan yang memonopoli ranah
besar. Kemunculan alternatif-alternatif
ekonomi terus menjadi hambatan bagi
dari masyarakat sipil pun belum cukup
peningkatan kualitas demokrasi di
banyak dan kurang signifikan
pengaruhnya di ranah p olitik.
Indonesia secara substansial. Monopoli
masih sangat kuat di arena ekonomi dan
rnemiliki imbas pada bidang politik dan
masyarakat sipii"
24
lrwansyah, M.A., INDEKS DEMOKRASIA$A AnU DAFTARPUSTAKA Buku Indeks Demokrasi Asia ini dapat menjadi Aspinall, E.
lrwansyah, M.A., INDEKS DEMOKRASIA$A AnU
DAFTARPUSTAKA
Buku
Indeks Demokrasi Asia ini dapat menjadi
Aspinall,
E. dan Mietzner,M., (2010),
pintu masuk untuk penelaahan yang lebih
"Problems of Democratisation in
rinci tentang analisis Proses transisi
demokrasi, terutama dalam konteks
Indonesia; An Overview", dalam
Aspinall,
E. dan Mietzner,M ("d),
Indonesia. Berangkat dari metode ytrlg
Problem of Democratisation in
lndonesia; Eleaions, Institutions and
sudah dibangun dalam riset ini
Society
tampaknya dapat dikembangkan
penelitian lanjutan yar.g lebih
Bastian, I., (2004 Akutansi LSM dan Partai
menekankan pemeriksaan dan pemetaan
tentang bagaimana monopoli sumber
P olitik, Jakarta, Penerbit Erlangga
http:/ / books.google.co.id/ books?id
=XVXIhEol3pOC&p g=PA37&lp g=
daya dan kuasa di arena politik, ekonomi,
PA37&dq=iumlah+LSM+
dan masyarakat sipil menjadi hambatan
meningkat+ di+indonesia&source=b
bagi kualitas demokrasi yang substansial.
l&ots=IK-
MK8GTdb &si g = JVYXNvn2fkzl
Catatan penting untuk agenda
PUb8aCSfUPUh3U&hl=id
ft si=qdlR
TqaRHYTqrAeK3vCsAg&sa=X&oi=
demokratisasi ke dePan adalah
book result&ct=result
pentingnya melihat keterkaitan dari ketiga
&resnum=2&ved=0CB0Q6AEwAQ
bidang tersebut dalam pengaruhnya
# v = one p a ge & q = j umlah% 2DLS]ll{% 2
terhadap nilai indeks demokrasi secara
0meningkat%20di%20rr.
keseluruhan. Kabar baik dari potret
donesia&f=false
demonopolisasi di bidang politik yang
Diamond, L., (20\0), "Indonesia's Place in
telah mampu mencapai tingkat liberalisasi
Global Democracy", dalam dalam
yang cukup tinggr harus didorong terus
Aspinall,
E. dan Mietzner,M (ed),
sebagai faktor bagi transformasi yang
Problem of Democratisation in
memungkinkan liberalisasi dan ekualisasi
lndonesia; Elecyions, lnstitutions and
Society
di bidang lainnya. Transisi demokrasi
yang terfokus pada liberalisasi politik
Laporan Penilaian Demokrasi Indonesia
harus dapat didorong lebih jauh terutama
Freedom in the World 2017, Freedom
dengan mendorong peluang di bidang
House. Indonesia diberi rulai 2untuk
politik dan peranan masyarakat sipil
untuk mulai menguPaYakan
demonopolisasi di bidang ekonomi yang
hak politik dan 3 untuk hak-hak sipil
dalam skala 1.-7, di mana l- untuk
paling bebas dan 7 Paling tidak
semakin menjadi tantangan bagi masa
bebas.
depan transisi demokrasi di Indonesia.
?5
Studi Politik Edisi3, Vol. ll, No. L,2OL2 Economist Intellegence Unit,, Democracy Catatan Direktur of Public
Studi Politik Edisi3, Vol. ll, No. L,2OL2
Economist Intellegence Unit,, Democracy
Catatan Direktur of Public Affairs,
Indonesian Survey Institute,
In dex 201-0, D emo u acy in Retre at,
http://Saphics.eiu.
Burhanuddin
Muhtadi (tidak
ocracv Index 20L0 web.pdf. diakses
dipublikasikan) dalam Dinner
pada22 Agustus 2011
Lecture "Demokrasi
dan Ukuran-
ukurannya;
Sebuah Persoalan" y*g
Lembaga Kajian Demokrasi dan Hak Assi
Manusia, DEMOS, S ATU
DEKADE
diselenggarakan oleh Komunitas
Indonesia untuk Demokrasi (KID),
REFOR&LA SI:Maju dan Mundurnyn
Jakart4 9 Agustus 20L1
Demokrasi
di
Indonesia Ringkasan
Eksekutif dan Laporan AwnI Surcei
Paparan Prof.
]effrey
A. Winters, Ancnman
Nasional Kedua Masalah dan Pilihan
Oligarki dan Masa Depan Politik
Dunokrasi dilndonesia (2007 - 2008)
Indonesia, dalam diskusi yang
diselenggarakan oleh Perhimpunan
UNDR Menakar Demokrasi di Indonesia,
Pendidikan Demokrasi, lakarta, 1,
Indeks Demokrasi Indonesia 2009,
Juni2011
diterbitkanpada20Ll
Artikel di Media Massa dan Berita Media
Terbitan Lembaea./Catatan/Paparan dan
Massa danlnternet
lain-lain
Endy M. Bayuni, Indonesia Risk Downgrade
Lihat buku "Saran dan Pertimbangan
of Its D emocr atic Rating, diakses di
Terhadap Rancangan Perpres
http: / / www.theiakartapost.com/
ne
Tentang Penataan dan Pembinaan
w s / 201JL / 08 / 20 / indonesia-risks-
Usaha Pasar Modern dan toko
downsrade-its-democratic-
Modern" dikeluarkan oleh KPPU.
ratine.html o ada 22 Aeustus 20L 1
The Asian Dernocracy Index, A Short Guide,
Kompas, 30 Agustus 20L0 dengan berita
prepared by The Democracy and
berjudul "Wow, Jumlah Ormas
Social Movement (DASMI) of
Mencapai9.000!"
Sungkonghoe
University, for the
http: / / regional. kompas.com/ read/
Presentation in
the 20L0 Seoul
2010 / 08 / 30 / 7437 0020 / W ow .Iurnlah
Democrcay Index Forum and
.Ormas.Mencapai.9.000.
Workshop 1.4-15 Octrober 201 0
Tjahjo Kumolo, dalam "Catatan l- Mei"
diakses dari
Kata Pengantar oleh Menteri Perencanaan
htto: / /www.tiahiokumolo.comy'
?n
Pembangunan Nasional /Kepala
=]-.453 dan diakses pada 23 Agustus
Badan Perencanaan Pembangunan
Nasional, Armida S. Alisyahbana
201,
dalam Menakar D emokr asi di ln donesia,
*
Hasil riset Pusat Kaiian Politik,
lndeks Demokrasi lndonesia 2009,
UNDR 2011
Departemen Ilmu Politik FISIP
Universitas Indonesia (PUSKdPOL) dan
Center for Demouary and Human Rights
(DEMOS)
26
Dirga Ardiansa, antara kebingungan dan harapan "Warga Jakarta: Antara Kebingungan dan Harapan" Oleh : Dirga
Dirga Ardiansa, antara kebingungan dan harapan
"Warga Jakarta:
Antara Kebingungan dan Harapan"
Oleh : Dirga Ardiansa
ari Rabu tanggal 11]uli 2012,
pemilukada Jakarta menyedot perhatian
Jakarta menyelenggarakan
banyak pihak untuk berkontestasi secara
pemilukada (pemilihan
luas dalam rangkat menjawab berbagai
kepala daerah) dalam
permasalahan Jakarta. 6 Kandidat
rangka menentukan siapa yang berhak
untuk memimpin Jakarta dalarn jangka
setidaknya telah ditetapkan oleh KPUD
Jakarta untuk berkontestasi dalam
waktu lima tahun kedepan. Pemilukada
pemilukada kali ini. Hal ini menunjukan
kali ini dapat dikatakan sangat krusial
besarnya antusiasme politik untuk
sekaligus menarik bagi siapapun
menjawab sekaligus memberikan solusi
pemangku kepentingan di Jakarta. Hal ini
atas situasi yang ada di Jakarta.
tidak terlepas dari signifikansi Jakarta
sebagai ibu kota negara dan sekaligus
merupakan penanda yang penting bagi
Catatan penting mengenai membesarnya
antusiasrne politik ini adalah bagaimana
perkembangan serta pernbangunan
kaitan antara harapan serta aspirasi di
masyarakat, khususnya warga kota
Indonesia. Namun dernikiaru hal ini bukan
berarti rnembuat Jakarta terbebas dari
Jakarta. Antusiasme politik yang tidak
masalah.masalah yang inheren.
sesuai atau bahkan buta dengan harapan
warg4 hanya akan menciptakan proses
Kemacetan, baniir dan berbagai masalah
perkotaan lairurya adalah rupa-rupa yang
cukup dominan dalam kehidupan Jakarta.
politik yang menjebak. Dimana pada
akhirnya proses politik urban yang
dibangun hanya akan mengakomodasi
Konjungtur yang tercipta antara
segelintir elit kota sembari memarjinalisasi
mayoritas warga yang akan merasakan
signifikansi pembangunan nasional yang
bertemu dengan menggeliatnya rnasalah
urban di Jakarta, merupakan tantangan
yang harus dijawab oleh system
dernokrasi yang telah berproses dalam
pasca reformasi 1998" Tidak heran jika
langsung hasil politik pemilukada. Untuk
itu, menjadi penting untuk memunculkan
secara faktual bagaimana harapan serta
aspirasi warga Jakarta dalam pemilukada
2012 sekarang ini. Dengan pemunculan
harapan serta aspirasi warga diharapkan
kemudian pada tahun 2AL2 ini,
proses politik pemilukada adalah suatu
27
Studi Politik Edisi 3, Vol. ll, No. L,zOLz proses politik yang mendidik sekaligus menolak untuk
Studi Politik Edisi 3, Vol. ll, No. L,zOLz
proses politik yang mendidik sekaligus
menolak untuk dilakukan wawancara
mencerahkan bagi semua kalangan,
tatapmuka.
khususnyabagS warga kota fakarta yang
memiliki hak pilih dalam pemilukada
Survey Aspirasi Warga ]akarta Pertama:
Masalah dan Solusinya
20L2.
Pada survey pertama, survey dilakukan
Dalam rangka memahami aspirasi warga
Jakarta mengenai Pemilukada 20L2 dan
masalah-masalah Kota yang
dengan menggunakan teknik wawancara
melalui telepon dengan instrumen berupa
melingkupinya, Puskapol FISIP UI
kuesioner. Jumlah sampel adalah 742
responden. Dengan populasi pemilik
menyelenggarakan dua bentuk aktifitas
survey. Survey pertama diselenggarakan
telepon DKI Jakarta berjumlah 1
293.840
dengan mensasar populasi para pemilik
maka margin of error MoE) adalah +/ - 3,6
%. Wawancara melalui telepon dilakukan
telepon (fixed line) yang terdaftar pada
white pnges Telkom. Alasan
pada 12-17 April 2012. Tujuan survei ini
adalah: (1) Memetakan dan
penyelenggaraan survey melalui telepon
adalah sebagai riset awal yagn
memeringkatkan berbagai masalah di DKI
menghasilkan data dasar bagi
Jakarta; (2) Menghasilkan solusi program
pengembangan instrumen kuesioner
versi w arga untuk berbagai permasalahan
untuk survey yang kedua yang
di DKI Jakarta; dan (3) Mengukur level
berbasiskan pada survey lapangan melalui
wawancara tatap muka. Aktifitas survey
aa)areness warga terhadap pelaksanaan
Pemilukada DKI |akarta.
kedua dilakukan di lima wilayah ibukota
kecuali Kepulauan Seribu. Dua bentuk
Survei awal Puskapol menunjukan bahwa
Mayoritas responden mengetahui
aktifitas survey yang dilakukan bersifat
pelaksanaan pemilukada DKI. Sejumlah
saling melengkapi, dimana kelemahan
67,78% responden mengaku tahu dan
utarna dari survey pertama adalah survey
menjawab dengan benar hari pelaksanaan
yang dilakukan tidak dapat menjadi
pemungutan suara pemilihan Gubernur
parameter dari populasi Penduduk DKI
lakafta, namun aktifitas survey pertama
dan Wakil Gubernur DKI jakarta, yaitu LL
Juli 2012. Data ini . menunjukkan
mampu menjangkau kelas menengah dan
menengah atas yang mayoritas memiliki
responden pemilik telepon cukup baik
terpapar informasi tentang pemilukada.
telepon. Sedang pada aktifitas sun/ey
kedua, keiebihannya adalah survey dapat
Akan tetapi tercatat pula jumlah yang
tidak tahu pelaksanaan pemilukada
menjadi parameter populasi penduduk
termasuk banyak (31,,8%) yang
DKI Jakarta namun lemah dalam
menunjukan bahwa sosialisasi panitia
menjaring aspirasi w argakelas nnenengah
pelaksana pemilukada (dalam hal ini
dan menengah atas yar.g seringkali
KPUD) masih harus dibenahi.
28

Mengenai aspirasi warga, hasil survey

telepon memperlihatkan bahwa ada 12

masalah Jakarta yang dianggap penting menurut responden yang diwawancara.

Sudah menjadi pengetahuan umum2

bahwa ]akarta sebagai ibukota negara lekat dengan deretan masalah Yar.g

Ke-12

dirasakan warganya selama ini.

masalah itu adalah: kemacetan, baniir,

lingkungan (sampah, air, Polusi),

keamanan (curanmor, perkosaan,

premanisme), kesejahteraan (sembako

mahal, kemiskinan), tata ruang kota,

ketenakerjaan (upah, lapangan kerja), kesehatan, transportasi publik, birokrasi

Grafik. 1"

Kemacetan

Banjir

Lingkungan

Keamanan

Kesejahteraan

Tata Ruarrg Kota (Pengaturan)

Ketenagakerjaan

Kesehatan

Transporlasi Publik

Birokrasi (Pelayanan, Korupsi)

Pendidikan (mahal, fasilitas)

Kependudukan

Sumber: Puskapol U I, 2012

Dirga Ardiansa, antara kebingungan dan harapan

(p"layanan), pendidikan,

dan

kependudukan. Mengacu pada data

tersebut,

sebagai sebuah kota

metropolitan dengan kompleksitas

masalah yang dirasakan warganya

tersebut, maka kepemimpinan menjadi

faktor strategis dalam membenahi segala

rupa permasalahan tersebut. Kenapa tiba-

tiba berkesimpulan soal kepemimpinan

menjadi f aktor strategis? Data ini

menunjukan bahwa kontestasi politik

yang dibangun dalam proses pemilukada

harus memperhatikan masalah warga

yang diartikulasikan dengan sangat jelas.

10

15

20

25,02

21,67

n=

27 1

8

25

30

Studi Politik Edisi 3, Vol. ll, No. L,2Ot2 Survey telepon Puskapol UI juga menunjukan bahwa
Studi Politik Edisi 3, Vol. ll, No. L,2Ot2
Survey telepon Puskapol UI juga
menunjukan bahwa warga Jakarta
diharapkan agar dijalankan oleh gubernur
terpilih nanti adalah adanya regulasi
memiliki sensitifitas yang sangat tinggi
pembatasan kendaraan serta perbaikan
mengenai permasalahan kota y angtengah
dan penambahan transportasi umum.
mereka hadapi. Hasil survey menunjukarf
bahwa Ada lima masalah prioritas yakni:
Kuatnya sensitifitas warga terhadap
Kemacetan, Banjir, Lingkun Edr.,
permasalahan berbanding lurus dengan
Keamanan dan, Kesejahteraan, dimana
53.77% responden menganggap masalah
tingkat kepuasan warga yang relatif
rendah terhadap kinerja kepemimpinan
paling prioritas yarrg harus diselesaikan
Gubernur yang memimpin sekarang.
oleh gubernur terpilih adalah Kemacetan.
Kinerja Gubernur DKI saat ini dinilai
Hasil survey ini semakin menarik
"biasasaja" , tetapi cukup signifikan yang
tegas menyatakan
Grafik.2
"
t
i
d
a
k
memuask ar." .
Separuh responden
60
(53,5%) menyatakan
40
kinerja Gubernur
20
DKI Jakarta saat ini
berada pada tataran
"biasa
saja"
0
Iawaban
ini
memberikan
indikasi level
kepuasan yang
tidak terlalu kuat,
terlebih
jika
disandingkan
dengan penilaian
Sumber: Puskapol UI, 2012
sejumlah responden
(37%) yang tegas
terutama jika dikaitkan dengan posisi
menyatakan "tidak puas" dengan kinerja
politik dari warga yaitu adanya koherensi
Gubernur DKI saat ini. Sementara
pemahaman warga tentang masalah
sejumlah kecil responden berada pada
dengan solusi yang mungkin ditawarkan.
kutub amat positif dan amat negatif, yaitu
Dalam masalah kemacetan misalnya,
0,13% menilai sangat memuaskan dan
responden ytrrg disurvey memiliki sikap
yangjelas dimana dua solusi utama yang
3,37% menilai sangat tidak memuaskan.
Dirga An^diansa, antara kebingungan dan harapan Ketidakpuasan relatif warga terhadap kinerja pemerintahan daerah
Dirga An^diansa, antara kebingungan dan harapan
Ketidakpuasan relatif warga terhadap
kinerja pemerintahan daerah sekarang
membuat warga memiliki posisi sendiri
Tuntutan wargalakarta akan masalah dan
solusi ini rnembuat warga Jakarta pada
mengenai jangka waktu yang harus
digunakan dalam menyelesaikan
Pemilukada kali ini melihat pentingnya
keberadaan serta transparansi tawaran
program dari
Grafik 3.
kandidat.
Muyoritas
responden
m e n ganggap
penting
23,45
program calon
Tidak
gubernur dalam
menentu k an
pilihan
75,74
politiknya
(75.74). Tingkat
Ada tuntutan kuat bahwa kandidat harus
kesediaan untuk
menampilkan kontestasi gagasan dan
memilih dalam
program solusi membereskan masalah
Pemilukada
Jakarta lima tahun mendatang!
sangat tinggi
(80.72). Namun
ada catatanyang
Sumber: Puskapol UI, 2012
harus
masalah-masalah utama Jakarta. Untuk
diperhatikan dimana separuh responden
masalah macet dan banjir, responden
(59,2%) masih bimbang atau belum tahu
survey ini memberikan tenggat waktu
apakah frgur-figur yang akan bersaing
antara dua hingga tiga tahun, bahkan
dalarn pemilukada nanti dianggap
tuntutankuat agar gubernur terpilih dapat
mampu membereskan sederet masalah
membereskan masalah macet dan banjir
dalam dua tahun saja. Tetapi untuk
Jakarta. Hanya seperempat responden
(23%) yang sudah menetapkan pilihan
masalah kesejahteraan seperti kemiskinan
dan periindungan pedagang kecii,
mayoritas responden meminta gubernur
dengan menjawab ada yang mampu dari
enam bakal pasangan calon tersebut. Di
sisi lain, ada sejumlah responden (17,6%)
terpilih membereskannya pada satu tahun
pertama (62%). Hal ini menunjukan
yang merasa skeptis dengan meniiai tidak
ada kandidat yang mampu atasi masalah
bahwa warga memiliki tuntutan yang
Jakarta.
tinggi terhadap Gubernur baru nanti.
31
Studi Politik Edisi3, Vol. ll, No. L,20L2 Grafik 4. 59,2 60 50 40 30 20
Studi Politik Edisi3, Vol. ll, No. L,20L2
Grafik 4.
59,2
60
50
40
30
20
10
0
Tidak ada
Sumber: Puskapol Ul, 2012
Survey Aspirasi Warga ]akarta Kedua:
Kebingungan ini pada dasarnya
Kebingungan Warga dalam Pemilukada
merupakan cerminan dari lemahnya
pengaruh sosialisasi pemilukada di
Pada 24 Mei hingga 4 Juni 2012 lalu,
kalangan pemilih yang sekaligus
Puskapol FISIP UI mengadakan survey
gambaran masih lemahnya kinerja KPUD.
tatap muka untuk mengetahui aspirasi
Warga pemilih di DKI Jakarta tampaknya
warga ]akarta seputar tahapan
pasif mengakses informasi terkait tahapan,
Pemilukada cian masalah-masalah kota
peserta, dan jadwal Pemilukada.
Jakarta. Survey dilakukan di lima wilayah
ibukota (kecuali K"p. Seribu), dengan
Prosentase w arga y arrg tidak mengetahui
secara tepat jadwal pelaksanaan pemilihan
responden sebanyak 594 orcng. Sampel
ditarik dengan teknik multistage stratified
Gubernur dan Wakil Gubernur masih
sangat besar (57,9%). Sumber informasi
random sampling.
Dengan
dalam sosialisasi pelaksanaan pemilukada
memperhitungkan populasi pemilih DKI
Jakarta adalah 6.983.692 orang, maka
terbesar berasal dari televisi (52,8%),
namun tidak cukup, banyak sosialisasi
margin kesalahan survey ini berada pada
kisaran A%.Pada survey kali ini, terpotret
langsung KPUD tentang proses dan
secara jelas bagaimana warga mengalami
tahapan Pemilukada dalam bentuk iklan
layanan masyarakat. Hanya seperempat
kebingungan dalam proses pemilukada
(25% responden) yang mendapat
Dirga Ardiansa, antara kebingungan dan harapan informasi dari baliho/spanduk KPUD. Warga Jakarta juga masih sedikit
Dirga Ardiansa, antara kebingungan dan harapan
informasi dari baliho/spanduk KPUD.
Warga Jakarta juga masih sedikit yang
yang tidak tahu sudah terdaftar atau
belum. Dari mereka yang mengaku belum
mengkonsumsi inf ormasi terkait
terdaftar, hanya sejumlah 45% yang ingin
Pemilukada melalui media lain baik
mengurus agar terdaftar sebagai pemilih.
brosur (18,3%), koran (17%), internet
Sementara dari mereka yang belum tahu
(3,1,%), dan majalah (1,,5%). Cukup besar
apakah sudah terdaftar, sebagian besar
prosentase $a%) yang belum tahu
pengumuman pasangan peserta
(59%) ingin memastikan kembali apakah
sudahterdaftar.
pemilukada. Sementara itu 65% tidak tepat
Grafik. 6
mengetahui jumlah pasangan calon.
Apakah tahu KPU DKI telah
Grafik 5.
mengumumkan Daftar Pemilih pada
Pengetahuan Mengenai
Pelaksanaan Pemilukada
benar
Tidak tahu
Tahu
Masalah kebingungan yang disebabkan
oleh karena minimnya informasi selama
Terdapat puia masalah terkait pendaftaran
proses pemilukada memunculkan
pemilih yarrg belum informatif bagi
masalah dalam antusiasme dan optimisme
pemilih. Masih cuktrp signifikan pemilih
warga terhadap dampak positif
yang merasa belum terdaftar atau belum
tahu apakah sudah terdaftar atau belum
Pemilukada dan hasil-hasilnya. Harapan
yang antusias dari warga sangat
terdaftar. Sementara warga pun tidak
diharapkan untuk mengawal proses
terlalu antusias rnencari informasi terkait
pemilukada ini dan mendorong kualitas
status apakah sudah terdaftar. Daftar
demokrasi di DKI Jakarta selama
Pemilih telah diumumkan KPUD tetapi
masih lebih dari setengah yang mengaku
(57%) belum tahu informasi tersebut.
pemilukada hingga masa pasca pemilihan.
Potret antusiasme yang ditemukan dalam
survey ini terkait dengan tidak besarnya
Mayoritas (80%) mengaku tahu sudah
terdaftar, tapi masih ada sebagian (I2,4%)
optimisme responden (39,3%) bahwa
pemilukada 2012 ini akan membawa
Studi Politik Edisi3, Vol. ll, No. t,2OL2 perubahan kondisi yang lebih baik bagi Grafik. 8
Studi Politik Edisi3, Vol. ll, No. t,2OL2
perubahan kondisi yang lebih baik bagi
Grafik. 8
kehidupan mereka. Sangat besar
Pemilukada akan memberikan
Pemimpin yang solutif ?
ketidakpercayaar. warga terhadap
jarrji / pr ogram kampanye kandi dat (61.,5%
Tidak
tidak yakin) bila dibandingkan hanya
60%
sebagian (26,3%) yang optimis
janji/program kandidat akan membawa
40%
hasil perubahan kondisi warga. Kurang
dari separuh (40% responden) yungyakin
20Yo
adanya banyak kandidat akan mendorong
kompetisi yang mungkin menghasilkan
keadaan lebih baik. Kapasitas KPUD
0%
cukup dipercaya membantu hasil
Masalah tidak terlalu tingginya
pemilukad a y angbaik menurut mayoritas
warga (42,5%) Masalahnya cukup besar
juga prosentase mereka yang tidak tahu
antuasiasme ini berbanding lurus dengan
skeptisisme warga terhadap masalah
potensi kecurangan di Pemilukada.
soal kemampuan KPUD (23,6%). Kondisi
Persepsi w ar ga cenderung skeptis dengan
serupa tercermin pada persepsi atas
Panwaslu yang diyakini oleh sebagian
praktek pemberian imbalan yang diakui
sebagai realitas dari pengalaman pemilu-
besar (45,1.% responden) akan
pemilu terdahulu. Cukup kuat persepsi
mempengaruhi hasil pemilukada yang
sebagian besar (55%) yarrg cenderung
baik.
pesimis Pemilukada ini akan minim
kecurangan dan korupsi. Bahkan sejumlah
Grafik. 7
(40,7% responden) yakin akan ada praktek
Pemilukada akan memberikan
pembagian imbalan untuk memilih para
dampak positif ?
kandidat menjelang hari pemilihan.
Grafik. 9
Pemilukada akan berlangsung
jujur dan adil tanpa korupsi ?
Yakin
Tidak
Tidak
Yakin
Tahu
Dirga Ardiansa, antara kebingungan dan harapan Antusiasme yang cenderung rendah terhadap janji/program pasangan calon
Dirga Ardiansa, antara kebingungan dan harapan
Antusiasme yang cenderung rendah
terhadap janji/program pasangan calon
sebagain besar (73,6% responden)
menetapkan faktor-faktor non program
dan jugu rendahnya keinginan
sebagai patokan menentukan pilihan
berpartisipasi dalam tahapan kampanye
politik. Lebih jauh lagi ketika diukur pada
mencerminkan pasifnya warga DKI
mereka yang sudah tahu dan menetapkan
merespon kontestasi pemilihan kepala
pilihan, pertimbangan pemilih umumnya
daerahnya. Tampaknya' ini terkait
(66.9%) bukan karena program si
bagaimana kandid.at dikenali oleh warga.
pasangan calon tersebut. Responden yang
Tinggal sebulan lagi pemilihan
menganggap ada pasangan calon yang
memiliki kemampuan mengatasi
Grafik. 10
permasalahan DKI
Kandidat mampu mengatasi masglah Jakarta ?
baru sebagian atau
Tidak Tahu / belum memutuskan
kurang dari separuh
(45,7 %) dari total
responden. Dimana
8rZ naak ada yang mampu
sebulan sebelum
pemilukada ternyata
3r4 Ratrasia
calon yang dianggap
mampu
untuk
Ada yang mampu
memimpin Jakarta
masih memitiki
perbedaan persentase
yang saling terkait
ketat di antara
beberapa pasangan
calon (temuan
preferensi responden
dilaksanakan, maycritas mengaku belum
terhadap pasangan yar.g dianggap
memutuskan siapa pilihan mereka (42,7%)
mampu mengatasi masalah DKI, bukan
dan bahkan sebagian (8,2% responden)
berdasar nomor urrft: 19,6%-1,6,'1,%-4,7 % -
menganggap semua pasangan calon tidak
3,2%-'1.,8%-0,3%). Kondisi pemilih yang
lnampu mengatasi permasalahan DKI
Jakarta. Kebingungan warga tercermin
mayoritas belum rnenentukan pilihan
tampaknya terkait erat dengan kuatnya
dari fakta yang di satu sisi mayoritas
hubungan antara mereka yang belum tahu
warga (66,9%) mengaku program
kandidat sebagai pertimbangan mereka
siapa yang dipilih dengan tidak yakinnya
pemilu akan berlangsung jujur dan adil
memilih Gubernur DKI. Dari mereka
yarrg mengaku akan memilih ternyata
(52%). Bahkan di antara mereka yang
Studi Politik Edisi3, Vol. ll, No. 1',2Ot2 menganggap ada kandidat yang mampu Temuan dari survey
Studi Politik Edisi3, Vol. ll, No. 1',2Ot2
menganggap ada kandidat yang mampu
Temuan dari survey kedua Yang
ternyata sebagian besar (54% responden)
dilakukan Puskapol mengafirmasi temuan
pada survey yang pertama dimana sebagai
pun tidak yakin pemilu akan berlangsung
kelanjutan dari jajak pendapat terdahulu,
jtjur, adil, dan tanpa korupsi.
semakin diketahui bahwa warga DKI
Walau begitu, hasil pemilukada yang lebih
Jakarta mengetahui masalah y arrg mereka
anggap sebagai prioritas dan juga solusi
baik diyakini terutama berasal dari
antusiasme masyarakat terlibat dalam
apa yang harus diterapkan. Secara umum
pola masalah dan solusi yartg diajukan
pemilukada. Namun opini tentang arti
warga menunjukkan keperluan peran
penting sikap antusias ternyata tidak
pemerintah hasil Pemilukada yang lebih
otomatis dapat menggerakkan partisipasi
aktif warga dalam proses Pemilukada kali
kuat melakukan perlindungan sosial dan
penataan, dan intervensi memperkuat
ini. Partisipasi pada hari pencoblosan
diharapkan tinggi, bila didasari temuan
kepentingan publik yang sudah menjadi
masalah kronis - seperti kemacetan dan
hampir seluruhnya
(94,5%) pemilih
banjir.
Lima masalah dan solusi prioritas
bersedia datang
menurut responden: (1) Kemacetan,
ke TPS Pada hari
Akan
tetapi bentuk partisipasi
dengan solusi: Pembatasan kendaraan;
pemilihan.
sebelum hari
pemilihan masih
Penambahan transportasi
umum;
jalan.
mengkhawatirkan. Mavoritas warga
Pembangunan sarana
(2)
bersikap "brasa saja" (43,4%) untuk
Kesejahteraan,
dengan
solusi: Pembukaan
lapangan
kerja; Pengaturan
mengikuti berbagai inJormasi tentang
tahapan Pemilukada. Prosentase yang
subsidi/Pengaturan harga sembako;
besar ini tambah mengkhawatirkan bila
digabungkan dengan 20,1% yang tidak
Jaminan kesehatan. (3) Banj:;r, dengan
solusi: Pembersihan sungai dan saluran
tertarik dan 0,7% ]'ang
sangat tidak
afu; Perbaikan tata
kota; Pengelolaan
sampah yang
lebih
baik.(4)
tertarik. Hanya sebagian
kectl' (4,5%) yutg
sangat tertarik. Mavoritas warga
Ketenagakerj
aart, dengan solusi:
menyatakan tidak akan terlibat (74,8%)
Pembukaan lapangan kerja; Menaikkan
calon di
upah; Perlindungan terhadap pedagang
dalam kegiatan para Pasangan
masa kampanye yang dimulai
Z|lunt'
kecil. (5) Pendidikan dan Kesehatan:
Bantuan pendidikan dan sekolah gratis;
Grafik. 11
j aminan kesehatan dan pengobatan gratis.
Bersedia meluangkan waktu untuk datang
ke TPS dan memilih ?
Kesimpulan
Bersedia
94,5
100
Kesimpulan utama yang didapat pada
survey pertama
yang dilakukan Puskapol
80
UI adalah
Resporr^den memiliki
pengetahuan dan pemahaman
60
Yang
komprehensif tentang permasalahan
40
Tidak Bersedia
Jakarta berikut tawaran solusinya'
Pemahaman responden tersebut
20
selayaknya disikapi dan direspon oleh
36
Dirga Ardiansa, antara kebingungan dan harapan para kandidat pasangan calon dengan masalah utama yan.g dialami
Dirga Ardiansa, antara kebingungan dan harapan
para kandidat pasangan calon dengan
masalah utama yan.g dialami warga
mengkampanyekan tawaran program
Jakarta. Situasi ini dapat diartikan sebagai
solusi dalam memimpin Jakarta.
adanya ruang kompetisi yang terbuka
Kontestasi berbasis program di antara para
dalam level yang hampir berimbangbagi
pasangan
calon diharapkan
mewarnai
semua kandidat pasangan calon.
pemilukada DKI
jakarta kali ini.
Persaingan antar pasangan calon
Pada survey kedua, ditemukan lemahnya
diprediksi berlangsung ketat. Survey awal
pengaruh sosialisasi Pemilukada di
ini menunjukkan kombinasi sikap antara
kalangan pemilih. Masih sangat besar
penilaian yang "biasa saja" atas kinerja
prosentase yang tidak mengetahui secara
Gubernur DKI saat ini di satu sisi, dan
tepat jadwal pelaksanaan pemilihan
belum adanya kandidat yang dianggap
Gubernur dan Wakil Gubernur. Sumber
mampu dalam membereskan masalah-
informasi sosialisasi terbesar berasal dari
televisi tetapi tidak cukup
banyak sosialisasi langsung
oleh KPUD tentang proses
dan tahapan Pemilukada
dalam bentuk iklan layanan
masyarakat. Hanya 25%
yang mendapat informasi
dari baliho/ spanduk KPUD.
Selain
itu warga
Jakarta juga
masih sedikit
yar-g
mengkonsumsi informasi
terkait Pemilukada melalui
media lain baik brosur koran,
internet, dan majalah.
Besarnya prosentase yang
belum tahu pengumuman
pasangan
peserta
pemilukada dan yang
mengetahui secara tepat
jumlah
pasangan calon
mencerminkan masih lemah
pula kiner ja KPUD
mengoptimalkan sosialisasi
kepada pemilih. Sementara
di sisi lain,
warga pemilih
di
DKI tampaknya pasif
mengakses informasi terkait
tahaparypeserta, dan jadwal
Pemilukada.
Terdapat pula masalah
pendaftaran pemilih yang
J/
Studi Politik Edisi3, Vol. ll, No. L,2Ot2 belum informatif bagi pemilih. Hal ini hasil pemilukada
Studi Politik Edisi3, Vol. ll, No. L,2Ot2
belum informatif bagi pemilih. Hal ini
hasil pemilukada yang baik.
Tapi lrrgu
ditandai dengan banyaknya pemilih yang
tidak mengetahui daftar pemilih telah
cukup besar yang tidak tahu
soal
Panwaslu (24,5%\.
diumumkan KPUD. Meski mayoritas
mengaku tahu sudah terdaftar, tapi
masih
Walau begitu warga masih menganggap
ada (12,4%
)
y*g tidak tahu sudah
bahwa hasil pemilukada yang baik
terdaftar. Dari yang mengaku belum
terdaftar, hanya 45% yar.g ingin
diyakini berasal dari antusiasme warga.
Opi^i tentang arti penting sikap antusias
mengurus agar terdaftar. Sementara dari
warga ternyata tidak otomatis dapat
yang belum tahu apakah sudah terdaftar,
menggerakkan partisipasi aktif warga
59% ngn memastikan kembali apakah
dalam
proses Pemilukada kali ini.
sudah terdaftar. Masalah pendaftaran
Partisipasi pada hari pencoblosan
pemilih penting karena dapat mengurangi
diharapkan tinggi, bila didasari temuan
hak mereka yang seharusnya dapat
94,5% pemilih bersedia akan datang ke
memilih di Pemilukada. Sementara warga
TI'S pada hari pemilihan. Akan tetapi
pun tidak terlalu antusias mencari
bentuk partisipasi sebelum hari pemilihan
informasi terkait status apakah sudah
masih mengkhawatirkan. Mayoritas
terdaftar.
warga bersikap "biasasaja" (43,4%) untuk
mengikuti berbagai informasi tentang
Masalah antusiasme dan optimisme
tahapan Pemilukada. Prosentase yang
terhadap dampak positif pemilukada dan
hasil-hasilnya juga adalah masalah yffirg
besar ini tambah mengkhawatirkan bila
digabungkan dengan 20/1,% yarrg tidak
penting untuk disorot. Tidak banyak
tertarik dan 0,7% yang sangat tidak
warga
yang optimis bahwa pemilukada
201,2
ini akan membawa perubahan
tertarik. Hanya 4,5% yang sangat tertarik.
Mayoritas warga menyatakan tidak akan
kondisi yang lebih baik bagi kehidupan
terlibat (74,8%) dalam kegiatan pata
warga Jakarta, sangat besarnya
kandidat di masa kampanye yang dimulai
ketidakpercayaan terhadap janji/ program
24Juni.
kampanye kandidat bila dibandingkan
yang optimis janji/ progrartkandidat akan
membawa hasil perubahan kondisi warga
Hanya 40% yang yakin adanya banyak
kandidat akan mendorong kompetisi yang
Catatan menarik y angharus diperhatikan
adalah mengenai potensi kecurangan di
Pemilukada. Persepsi warga cenderung
skeptis dengan praktek pemberian
mungkin menghasilkan keadaan lebih
imbalan yang diakui sebagai realitas dari
baik. Hanya ada 40,4% yang yakin
bahwa
pengalaman pemilu-pemilu terdahulu.
pemilukada ini akan menghasilkan
pemimpin yang mampu mengatasi
masalah-masalah Jakarta. Secara umum
Cukup kuat persepsi responden (55%)
ytrrg cenderung pesimis Pemilukada ini
akan minim kecurangan dan korupsi.
kapasitas KPUD cukup dipercaya
membantu hasil pemilukada yang baik
menurut mayoritas warga, meski juga
Bahkan 40,7% yakin akan ada praktek
pembagian imbalan untuk memilih para
kandidat menjelang hari pemilihan.
tidak sedikit yang tidak tahu soal
kemampuan KPUD. Kondisi serupa
tercermin pada persepsi atas Panwaslu
Catatan ini tidak dapat dilepaskan dari
temuan adanya kepasifan yang berasal
yffiLg diyakini responden mempengaruhi
38
Dirga Ardiansa, antara kebingungan dan harapan dari kebingugan di warga sendiri selama haus dipilih dengan
Dirga Ardiansa, antara kebingungan dan harapan
dari kebingugan di warga sendiri selama
haus dipilih dengan tidak yakinnya
proses pemilukada.
Antusiasme yang
pemilu akan berlangsung jujur dan adil
cenderung rendah
terhadap
(52%). Bahkan
di
antara mereka yang
janji/program kandidat
dan
jugu
menganggap ada kandidat yarrg mampu
rendahnya keinginan berpartisipasi
dalam
ternyata 54% responden pun tidak yakin
tahapan
kampanye
kandidat
mencerminkan pasifnya warga DKI
pemilu akan berlangsung ju1ur, adil dan
tanpakorupsi.
merespon kontestasi pemilihan kepala
daerahnya.
Terakhir yangpenting dari hasil survei ini
adalah bahwa sebenarnya Warga DKI
Tinggal s'ebulan lagi pemilihan
mengetahui masalah y angmereka arrggap
dilaksanakan, mayoritas mengaku belum
sebagai prioritas dan juga solusi apayang
memutuskan siapa pilihan mereka dan
harus diterapkan. Ada lima masalah dan
sebagian lainnya menganggap semua
solusi warga'. Kemacetan, kesejahteraant,
kandidat tidak mampu mengatasi masalah
DKI. Kebingungan warga tercermin dari
banjir, ketenagakerjaan, dan pendidikan
dan kesehatan. Secara umum pola masalah
fakta yang
di
satu sisi mayoritas
dan solusi yang diajukan warga
responden (66,9%) mengaku program
menunjukkan
keperluan
peran
kandidat sebagai pertimbangan mereka
pemerintah kota hasil Pemilukada yang
memilih Gubernur DKI. Dari mereka yarrg
lebih kuat melakukan perlindungan sosial
mengaku akan memilih ternyata 73,6%
dan penat aartt serta intervensi
responden menetapkan faktor-faktor non
memperkuat kepentingan publik yang
program sebagai patokan menentukan
pilihan kandidat. Lebih jauh lagi ketika
sudah menjadi masalah kronis - seperti
kemacetan danbaniir.
diukur pada mereka yang sudah tahu dan
menetapkan kandidat yang akan mereka
pilih, pertimbangan mayoritas (66.9%)
bukan karena. program si
kandidat
tersebut. Responden yang menganggap
ada pasangan calon yang memiliki
kemampuan n:engatasi permasalahan
DKI baru 45,7% dari total responden.
Dimana sebulan sebelum pemilukada
ternyata calonyang dianggap mampu oleh
responden untuk memimpin jakarta
masih memiliki perbedaan prosentase
yang saling terkait ketat di antara beberapa
kandidat (temuan preferensi responden
terhadap kandidat yang dianggap mampu
mengatasi masalah DKI, bukan berdasar
nomor urr;:t 19,6% -L6,1,% -4,7 % -3,2% -1,,8% -
0,3%). Kondisi pemilih yang mayoritas
belum menentukan pilihan tampaknya
terkait erat dengan kuatnya hubungan
antara mereka yang belum tahu siapa yang
39
Studi Politik Edisi3, Vol. ll, No. 1,2OL2 Merosotnya Demokrasi Sosial dan Naiknya Partai-partai Sayap Kanan
Studi Politik Edisi3, Vol. ll, No. 1,2OL2
Merosotnya Demokrasi Sosial dan Naiknya
Partai-partai Sayap Kanan Populis di Eropa:
Problema Multikulturalisme dan Politik ldentitas
Oleh : Nuri Soeseno
Abstract
The balance of power in European politics hns changed mtering the Millenium century. Social
dunocratic parties lost their hegemonic position while the radical ights parties - which used to be
a marginal forbe - gained signifiytnt supports in most of the Western European counties. The
result of national elections shuns the trmd of the shifilongbefore the changingwas noticed. This
paper tries to explain the cause of the shift. The erplanation will focus on two factors: the problems
inEuropeansocieties causedby thephenomenaofmulticulturalism and theidentitypolitics.
Key Words: Social democracy, radical ights, populist party, socialist party, multianlturalism,
idmtitypolitics.
Pengantar
ecenderungan kemerosotan
kekuatan demokrasi sosial di Eropa Barat.
partai-partai demokrat
Sementara kekuatan demokrat sosialis
sosialis di Eropa terus
mengalami kemerosotan tajam, partai-
berlangsung
dan
partai sayap kanan, khususnya kanan
perkembangan partai-partai sayap kanan
ekstrem seperti tidak dapat dibendung di
akhtu dekade pertama di tahun 2000 ini.
populis,t mengalami peningkatan pesat
dalam satu dekade terakhir. Hasil
pemilihan umum di Uni Eropa
Kekalahan Partai Buruh dalam pemilihan
memperlihatkan bahwa dalam sepuluh
umum di Ittggrr pada bulan Juni 2010
tahun terakhir partai-partai kanan ekstrem
yang lalu merupakan peristiwa politik
populis masuk ke dalam parlemen di 21,
terakhir dalam rentetan kemerosotan
(dari 27) negara anggotanya. Sebuah
prestasi besar bagi partai-partai kanan
ekstrem atau kanan populis yang dua
dekade lalu nyaris tidak ada wakilnya
'Berbagai istilah diguakan untuk partai kanan baru
ini misalnya kanan ekskem, kanan radikal, kanan
dalam parlemen di negara-negara Eropa.
populis atau partai-partai anti-immigration (Fennema
7Wn.Ijhat Othon Anastasakis, Extreme Right in
Europe: A Comparative
Nuri Soeseno, M"rorotnya Demokrasi Sosial isu politik mereka. Keterkaitan di antara Apakah sesungguhnya yang sedang
Nuri Soeseno, M"rorotnya Demokrasi Sosial
isu politik mereka. Keterkaitan di antara
Apakah sesungguhnya yang sedang
ketiga hal ini perlu dilihat untuk
terjadi dalam perpolitikan dan kepartaian
di Eropa? Mengapa partai-partai yang
telah memperjuangkan hak-hak
memahami perubahan kekuatan dalam
perpolitikan di Eropa akhir-akhir ini.
persamaan dan keadilan, dan yang telah
Pencapaian Partai-partai Demokrat
membangun kesejahteraan bangsa-bangsa
Sosial dan Kanan Ekstrem (Populis)
di Eropa (Barat) mengalami kemerosotan
dalam Pemilu Memasuki Dekade
akhir-akhir ini sementara partai-partai
PertamaTahun2000
yang diidentikkan dengan partai anti-
imigran, anti Islam, xenophobik dan anti
Pencapaian Partai-partai Demokrat
globalis berkembang pesat? Runtuhnya
Sosial
kekuasaan dan merosotnya pengaruh
p artai-p artai berideolo gi kiri (sosialis) dan
Fenomena rkartu domino' yang dialami
meningkatnya kekuatan dan popularitas
partai-partai demokrat sosialis ternyata
partai-partai kanan menimbulkan
pertanyaan besar di antara para analis
sudah berjalan lama. Memperhatikan data
hasil pemilihan di negara-negara dengan
politik maupun para pelaku politik
tradisi sosialis yang kuat tamPak
sendiri, di dunia akademis mauPun non-
penurunan pencapaian hasil pemilu
akademis. Bagaimana bisa terjadi?
partai-partai sosialis terjadi secara gradual
dalam waktu yang cukup panjang.
Dalam sistem yang demokratis perubahan
Bermula sejak akhir 1970-an penurunan
keseimbangan kekuatan politik sangat
secara konsisten terjadi di enam (6 negara)
ditentukan oleh 'electoral uote' . Suara
yang tergolong memiliki tradisi demokrasi
pemilih ditentukan oleh setidaknya tiga
sosialis yang kuat (Austria, Denmark,
hal 1) Performa partai selama berkuasa. 2)
Norwegia, Swedia, ]ermarl dan Inggris);
Perubahan dalam masyarakat dan
dengan pengecualian di Denmark dan
berbagai permasalahan yang menjadi
keprihatinan rakyat pemilih khususnya
Inggris yang pada periode 1990-1999
tampak terjadi kenaikan. Penurunan
dalam periode sebelurn dan semasa
perolehan hasil pemilu pada periode
pemilihan berlangsung. 3) Kemampuan
2000an terjadi di semua negara tersebut.
partai yang berkompetisi dalam
Tabel di bawah ini memperlihatkan tren
mengangkat permasalahan yang menjadi
penurunan partai-partai demokrat sosialis
kerpihatinan rakyat tersebut sebagai isu-
di negara-negara tersebut:
Studies of Recent Trends, Paper No.3 (Ihe Hellenic
Observatory - The European Institute - London School
of Economic and Political Science, Nov 2000), hal 4'
47
Studi Politik Edisi3, Vol. ll, No. L,2OL2 Tabel 1 Pencapaian Hasil Pemilu (Legislatif) Partai-partai Sosialis
Studi Politik Edisi3, Vol. ll, No. L,2OL2
Tabel 1
Pencapaian Hasil Pemilu (Legislatif) Partai-partai Sosialis di Eropa Barat
(Rata-rata Per-Dekade) Kelompok Demokrasi Sosial "Klasik"
1950-1959 1960-1969 1970-1979 1980-1989 1990-1999 2(J(Jo'-2(JfJ7
Denmark
4O.2
39.1
33.6
30.9
36
26.4
45.6
44.4
43.7
44.5
39.8
37.5
Swedia lnggris
46.3
46
39.1
29.6
38.8
38
43.3
3.3
50
45.4
37.3
35.9
Austria Norwegia
47-s
45.5
38.8
37.4
36
24.5
3O.3
39.4
44.2
39.4
36.9
36.4
Jerman Rata-rata
42.2
43.6
41.6
37.9
37.5
33.9
Sumber: Gerassimos Moschonas, "Electoral Dynamics anil the Social-democratic Identity Socialism and Its
Changing Constituencies in France, Great Britnin, Sweden and Denmark", hal. 1-4
Kecenderungan penurunan pencapaian
Pencapaian Partai-partai Sayap Kanan
hasil pemilu bagi kelompok pafiai sosialis
EkstremPopulis
tidak hanya terjadi di negara-negara
demokrasi sosial klasik. Kecenderungan
yffirg kurang lebih sama juga terjadi di
negara-negara lain di Eropa misalnya
Belanda, Belgia, Finlandia, Luksemburg,
Bagaimanakah perolehan hasil pemilu
bagi partai-partai kanan ekstrem populis
di Eropa? Peningkatan pesat perolehan
Irlandia, Swiss. Menurut Gerassimos
hasil pemilu partai-partai kanan baru
populis berjalan bersamaan dengan
Moschonas, di dalam analisisnya
kemerosotan partai-partai kiri (sosialis
mengenai krisis Demokrasi Sosial di 13
negara di Eropa sejak tahun 1950 hingga
atau demokrat sosialis). Kemunculan
partai-partai jenis ini dan keberhasilan
2009, partai-partai demokrat sosial
mengalami kemerosotan kumulatif dari
mereka mendapatkan suara yang cukup
besar dalam pemilu merupakan fenomena
rata-rata 33.2% di dalam pernitru periode
1950-1960an menjadi 26.6% dalam pemilu
sosial-politik yang menarik. Sementara
popularitas partai-partai demokrat sosial
periode 2000-2009; penurunan absolut
6.6%. Periode 1950-1969 adalah periode
terbaik bagi partai-partai kiri tengah di
merosot, eksistensi partai-partai kanan
ekstrem populis mulai menjadi kuat di
arena perpolitikan. Memasuki dekade
Eropa dan kemerosotan yang paling tajam
pertama 2000 pemerintahan demokrat
terjadi pada periode 2000-2009.'
sosial berjatuhan: Austria, Swiss, Perancis,
Jerman, Belanda dan Inggris. Bahkan di
t Lihat Gerassimo Mochonas, "The Electoral Crisis of
Social Democracy: The Great Retreat of the European
Social Democratic Parties (1950-2009), This paper is to
be published in 20L0: Gerassimos Moschonas,
negara-negara yar.g menjadi benteng
kekuatan dernokrasi sosial di Eropa -
Swedia dan Denmark-- partai-partai
sosialis dikalahkan oleh partai-partai
<Historical Decline in J. Cronin, G, Ross and J. Shoch
(eds.), Futures of the Left (lJurham, N. C, Duke
University Press, 2010 forthcoming).
sayap kanan yang didukung oleh partai-
42
Nuri Soeseno, Merosotnya Demokrasi Sosial partai kanan populis dalam dua pemilu terakhir. telah menunjukkan pencapaian
Nuri Soeseno, Merosotnya Demokrasi Sosial
partai kanan populis dalam dua pemilu
terakhir.
telah menunjukkan pencapaian elektoral
yang dramatis di sejumlah negara, partai
kanan radikal jtgu ' .,. launching a serious
Sejumlah partai kanan populis dipandang
challenge to the established parties,'a
berhasil dalam dua dekade terakhir.
Beberapa diantaranya yang
keberhasilannya dalam pemilu dipandang
luar biasa adalah: Partai Kebebasan
Austria (Freiheitliche Partei Osterreichsf
Dibawah kepemimpinan Jorg Heider, FPO
berhasil memperoleh 26.9% suara pemilih
dalam pemilu 1999, menjadi partai kedua
terbesar di Austria dengan 52 kursi di
parlemen (18 kursi pada pernilu 1986).
FPO); Partii Rakyat Swiss (Schweizerische
Pada pemilu 1999 di Swiss SVP berhasil
Volkspartei/SVP); Blok Flemish Belgia
(Waams Blok/YB); dan Partai Progresif
memperoleh 22.5% suara atau M kursi,
naik hampir dua kali lipat dari pemilu
Norwegia (Fremskrittspartie/FrP).
Partai'
1991 Dalam pemilu 2003 SVP menjadi
partai kanan populis yffirg dipandang
partai terbesar di Swiss dengan 26.6%
berperan penting dalam perpolitikan
suara pemilih. Meskipun hanya dapat
nasional antara lain: Liga Utara Italia (Lega
Nord/LN); Partai Rakyat Denmark (Dansk
meningkatkan sedikit suara di Perancis
(dari 12.4% tahun L993 menjadi'1.4.9%
Folkeparti/DF), dan Front Nasional dari
tahun \99n, FN dapat memperlihatkan
fean-Marie Le Pen (Front National/FN).
bahwa partai ini mempunyai pendukung
Beberapa partai atau gerakan kanan
yang solid. Pencapaian ini telah
ekstrem populis yarrg masih marjinal
memberikan kepercayaan pada Le Pen
tetapi gaungnya sudah terdengar dan
bahkan ada yang sudah mendapatkan
untuk ikut dalam pemilihan presiden pada
tahun 1995 dan 2002. Sernentara itu di
suara dalam pemilu antara lain: Gerakan
Norwegia, FrP berhasil memantapkan
Republik Nasional Bruno Megret
posisinya sebagai partai kedua terbesar
sempalan dari Front Nasional-nya Le Pen
(Mouoement N ational Republicain/MNR),
dalam pemilu 1997 dengan mengantongi
15.3% suara pemilih. Sedangkan di
Jerman R"publikans
(Die
Denmark DF, dengan 12% suara pemilih,
Republikaner/REP), Uni Rakyat Jerman
telah mernbuat partai sayap kanan tengah
(Deutsche Volksunion/DYU), Partai
menjadi tergantung pada dukungannya di
Progresif
Denmark
(Fremskridtspartiet/FP), dan Partai
Kebebasan Swiss (Freiheits-Partei der
Schweiz/FPS).'
' Baca Hans4 eorg Betz, "Exclusionary Populism in
Westem Europe in the L990s and Beyond: A Threat to
Democrary and Civil Rights?" dalam Identities,
Era 1990-an menandai dekade luar biasa
Conflict and Cohesion Programme, Paper Number 9,
October 20M, LIN Research for Social Development
bagi partai-partai kanan populis. Selain
hal.1
" Ibid., hal.2-5
43
Studi Politik Edisi3, Vol. ll, No. t,201,2 parlemen. Partai-partai sayap kananbaru masuk ke perpolitikan mengancam
Studi Politik Edisi3, Vol. ll, No. t,201,2
parlemen. Partai-partai sayap kananbaru
masuk ke perpolitikan mengancam
dari27 negara anggota UE diperintah oleh
partai kanan tengah dan kanan jauh; hanya
kemapanan partai-partai yang ada, baik
6 negara diperintah oleh partai kiri-tengah.
kiri, tengah maupun kanan.u
Perubahan konfigurasi kepartaian di
parlemen IJE merefleksikan perubahan
Keberhasilan partai-partai kanan baru ini
perpolitikan nasional negara anggota UE
semakin meningkat dalam dekade
ini. Hasil pemilu terakhir parlemen Eropa
pertama 2000. Di beberaPa negara partai
telah memberikan kelompok kanan tengah
kanan ekstrem masuk kedalam
sebuah mayoritas. 346 dafi 736 anggota
pemerintahan (Austria dan Swiss) atau
parlemen Eropa mewakili kanan
konserv atif , 43 mewakili kanan
menjadi pendukung pemerintahan partai-
partai kanan tradisional menjatuhkan
ekstrem/fasis/ultra nasionalis (naik 20
pemerintahan partai demokrat sosialis
(Denmark, Swedia, Belanda). Di negara-
kursi dari pemilu sebelumny\. 347 sisanya
mewakili kelompok progresif dan sosialis.t
negara dimana partai kanan populis tidak
Dengan hasil tersebut maka kekuatan
ikut dalam pemerintahan mereka
sayap kanan tengah dan kanan ekstrem
menentukan perpolitikan sayap kanan di
mencapai 390 kursi ataul3% di parlemen
parlemen atau mempengaruhi kebijakan
Eropa. Pergeseran ideologis ke arah kanan
partai yang berkuasa (misalnYa di
di pusat pengambil keputusan Uni Eropa
Belanda, Italia, |erman, Perancis, Norwegla,
sudahterjadi.
Belgia).' Di Eropa Timur partai-partai
kanan populis mulai memasuki
perpolitikan formal lewat Pemilu
u Ibid.,
misalnya: Bulgaria, Hungaria, Latvia,
t Partai-partai kanan baru sangat berkepentingan dengan
kebijakan yang terkait dengan isu imigrasi, integrasi
Lithuania, Polandia, Rusia, Slovakia,
w.uga non-eropa
hal-hal yang terkait dengan tradisi dan
Slovenia. Sikap politik mereka mulai
mewarnai debat-debat sosial politik di
nilai
keagamaan khususnya Islam, hak-hak
kesejahteraan,
sosial, ekonomi dan politik,
t
dalam negeri namun ekstensi formal yang
dicapai lewat pemilu nasional masih
Partai atau gerakan kanan ekstrem di negara-negara
eks-Eropa Timur menriliki kharakteristik yang berbeda
dengan partai kanan baru di Eropa Barat khsususnya
dalam isu imigrasi dan nasionalisme, Wouter van der
Brug & Meindert Fennema , The Support Base of
dalambatas'satu digit'.'
Railical P srties in the Enlargeil European Union, a
paper prepiued for the EES Spring Meeting 2fi)6 on
ihe European Parliament Election of.2004', Lisbon, 11-
Di tingkat Uni Eropa (UE) keberhasilan
partai-partai sayap kanan telah menggeser
14 May 2006
dominasi partai-partai kiri tengah. Pada
L990-an ketika anggota UE masih
berjumlah 15 negara, terdaPat 1'2
8 Anggota parlemen UE dipilih oleh43.24% pemilih;
sebuah penurunan dari 61.99% pada tahun \979. T ony
Bunyan, "Europe's Race to the Right", The
Guardian,co.uk.,
fttp: / / www.grrardian.co,uk/commentisfuee /
libertycentral / 2009 / iun/ 2a/ europe-election-rig
pemerintahan demokrasi sosial. Saat ini 21
M
Nuri Soeseno, Merosotnya Demokrasi Sosial Partai Kanan Baru: Fenomena Meskipun berbeda, partai kanan populis
Nuri Soeseno, Merosotnya Demokrasi Sosial
Partai Kanan Baru: Fenomena
Meskipun berbeda, partai kanan populis
Perpolitikan Baru di Eropa
semakin menentukan perpolitikan kanan
tengah. Partai kanan populis sering
Partai-partai kanan populis dipandang
dipandang terlalu nasionalistis,
sebagai sebuah tipe partai kanan baru.
Berbagai penulis sosial dan politik yang
berorientasi kuat pada isyu dan bersikap
anti globalisasi, anti Uni-Eropa serta anti
menaruh perhatian terhadap fenomena
kebebasan pasar. Sikap politik sedemikian
perubahan di dalam perpolitikan dan
tidak bisa diterima oleh partai kanan
kepartaian mencatat bahwa sejak L980an
partai jenis baru ini muncul dalam sistem
tengah yang sangat pro-globalisasi, pro-
Uni-Eropa dan pro-kebebasan pasar.
kepartaian dan gerakan sayap kanan di
Tetapi karena peningkatan perolehan
Eropa. Partai kanan baiu ini berbeda
suara partai kanan populis dan semakin
dengan partai kanan ekstrem yang muncul
tidak pastinya posisi partai-pattai mapan
pada tahun L930an. Mereka bahkan
dalam pemilihan maka partai kanan
mengambil jarak atau menghindarkan
tengah sering membutuhkan dukungan
pengidentifikasian dengan Fasisme dan
dari partai kanan populis untuk
Nazisme. Berbagai partai kanan baru ini
memiliki karakteristik yang serupa di
mendapatkan mayoritas di parlemen dan
masuk dalam pemerintahan. Dengan cara
berbagai negara di Erop+ diantara ciri-
cirinya yang sangat mencolok adalah anti
ini partai kanan jauh dapat memainkan
peran yang menenfukan dalam isu-isu
imigrasi (khususnya dari negara'negara
yang menjadi keprihatinan mereka seperti
non Eropa dan negara-ne gara
imigrasi, integrasi sosial, atau hak-hak
berpenduduk mayoritas Islam) dan
kesejahteraan. Dengan kenyataan politik
menolak bentuk masyarakat
sedemikian maka di Eropa sekatang "
multikultural. Tetapi, menurut mereka,
thebalance of poarcr on the ciuil liberties issues
tidak berarti mereka anti etnis tertentu
would rest zuith the 'Others' on the extreme
atau bersikap rasis.' Mereka juga bersikap
right".'o Eropa akan semakin bergerak
anti kemapanan (ann establishment) dan
kearah kanan ekstrem dalam 5-L0 tahun ke
anti-statis. Mereka, oleh karena ifu, sering
disebut partai pemrotes atau partai anti-
depan, selama partai-partai sayap kiri
belum mampu mengembalikan suara
kartel.
'o Tony Bunyan, loc.cit.i Tony Bunyan adalah wartawan
investigator dan penulis dengan spesialisasi isu dalam
negeri, keadilan kebebasan sipil dan kebebasan
inJormasi di UE. Dia juga direktor Statewatch editor
dan penulis dalam statswatch online sejak 1990. Dia juga
r Betz menyebut sikap sedemikian sebagai
penulis buku-buku "The Political Police in Bitain"
"differentialist nativism" atau "culfural racism", Hans-
(1977), " Secrecy and openness in the EU' (1999\ dan " The
Georg Betz, op.cit.
Shape of 'Ihings to Come" (2009) dan editor "TheWar on
Freeilom and Demcoacy" (2005).
45
Studi Politik Edisi 3, Vol. ll, No. t,2Ot2 pemilih dalam pemilu-pemilu di masa integrasi Eropa
Studi Politik Edisi 3, Vol. ll, No. t,2Ot2
pemilih dalam pemilu-pemilu di masa
integrasi Eropa mendominasi diskursus
datang.
ekonomi dan politik di Eropa. Sementara
fokus utama para elit penguasa dan
Perubahan Suara Pemilih:" Problema
pemerintahan berpusat pada kedua isu
Multikulturalisme dan Politik Identitas
tersebut berbagai isu lain yang menjadi
keprihatinan rakyat lepas dari perhatian.
Untuk memahami fenomena
Dengan demikian sementara para elit
memudarnya dukungan terhadap
demokrasi sosial dan berkembangnya
politik dan pemerintahan demokrat sosial
sibuk mengurus globalisasi dan integrasi
partai-partai kanan populis kita perlu
Eropa, isu-isu yang diabaikan oleh
melihat berbagai f enomena dan
pemerintah dan partai-partai yang mapan
perubahan yar:.g terjadi dalam kurun
digarap oleh partai-partai kanan baru.
waktu 2-3 dekade terakhir. Meskipun
Keprihatinan rakyat diangkat dan
terdapat perbedaan penekanan atau sudut
pandang para peneliti, pengamat atau
digaungkan oleh partai-partai kanan jauh
kedalamperpolitikan.
praktisi politik melihat adanya kesamaan
isu'ketika menganalisis fenomena baru
dalam kepartaian di Eropa tersebut. Isu-
isu tersebutyaitu: (1) akselerasi globalisasi
Naiknya kekuatan kanan baru dan
runtuhnya dominasi kekuatan kiri tengah
terkait dengan berbagai perubahan di
dan proses integrasi Eropa; (2) politik
dalam masyarakat di Eropa. Perubahan
identitas dan multikulturalisme.
yang oleh Ronald Inglehart disebut'the
Penekanan para elit politik pada
silent reaolution' oleh sejumlah ilmuwan
globalisasi dan integrasi Eropa memicu
dipandang sebagai titik awalnya.The silent
munculnya isu (politik) identitas dan
reaolution'-- merupakan perubahan
multikulturalisme dalam perpolitikan di
budaya ketika masyarakat memasuki
Eropa.
tahapan pasca material. Dalam tahapan ini
Fenomena memudarnya kekuatan
kehidupan spiritual memudar dan
kelompok-kelompok keagamaan
demokrat sosialis dan munculnya
tradisional kehilangan anggotanya,
kekuatan kanan baru terjadi lewat proses
globalisasi dan integrasi Eropa yang
otoritas yang bersifat sentralistis akan
ditolak oleh rakyat, kelas politik akan
kornpleks. Dalam lebih dari dua dekade
menghilang dan institusi-institusi politik
terakhir ini peningkatan globalisasi dan
tradisional runtuh. Institusi-institusi
hirarkhis akan 'out' dan pengekspresian
diri akan 'in'. Kepercayaan pada semua
tt Perubahan electonl aote f suarapemilih atau
' realignmurt' politik, contohnya: pemilih setia partai
lembaga'lembaga tradisional seperti
pemerintahan, gereja, ilmu pengetahuan
Golkar berubah memilih partai PDIP setelah Suharto
jatuh.
Nuri Soeseno, Merosotnya Demokrasi Sosial atau bisnis akan memudar dan lokasi Mengapa demokrasi sosial mengalami
Nuri Soeseno, Merosotnya Demokrasi Sosial
atau bisnis akan memudar dan lokasi
Mengapa demokrasi sosial mengalami
otoritas menjadi internal dan individual.tt
kemerosbtan dan partai-partai kanan
Nilai-nilai
dan bentuk-bentuk
ekstrem baru bermunculan dalam dua
perpolitikan tradisional pun mulai
dekade terakhir ini, mengapa partai-partai
dipertanyakan.
demokrat sosial ditolak pada saat mereka
sangat kuat, dan mengapa partai-partai
Dalam masyarakat pasca material gerakan
kanan baru mampu menjadi kekuatan
kiri baru -yang dominan selama 1960-
yang mengganjal dominasi kekuatan kiri?
1970an - membawa masuk isu nilai-nilai
dan identitas dalam agenda perpolitikan;
dan mengubah konfigurasi kepartaian di
Sejumlah analis memberikan jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan
tersebut dengan
Eropa. Dalam perpolitikan yang baru
menganalisis keterkaitan antara
konflik-konflik berbasis nilai-nilai dan
globalisasi dan integrasi Eropa dengan isu
budaya akan menggantikan isu ekonomi
politik identitas dan multikulturisme
dan menjadi sumber mobilisasi politik.
terhadap pemilih dan dampaknya.
Identitas dan gaya-hidup menjadi modus
Menurut Philippe Marliere dalam
perpolitikan, mengubah pembagian
tradisional kiri-kanan serta mendorong
tulisannya The Decline of Europe's Social
Dernocratic Parties, kunci penjelasannya
terjadinya 'realignmenf ' politik kelompok-
adalah kegagalan demokrat sosial Eropa
kelompok sosial yang mengaburkan
memberikan alternatif yang bermakna
landasan struktur sosial suara pemilih
terhadap ideologi pasar bebas ketika
dalam pemilu." Di sisi kiri perpolitikan
mereka mengadopsi konsensus neoliberal
muncul Partai Hijau yang mengubah
partai demokrat sosial pada awal 1980an
lewat kebijakan 'Third Way' atalu 'Neue
Mittet dan dukungan yang tidak kritis
dan menarik sejumlah besar suara
kelompok kelas menengah, khususnya
terhadap globalisasi." Lewat kebijakan itu
demokrat sosial mempromosikan gagasan
dari kalangan profesional sosial-bud aya.'o
Di sisi kanan perpolitikan, menurut
Kitschelt dan McGann, partai-partai kanan
radikal membentuk ujung kanan 'aksis'
konJlik nilai-nilai dan budaya yang baru
ini.tu Dengan demikian, jika partai-partai
kiri baru merupakan produk darithe silent
' Bornschier, op.cit., hal 4-5; Bill Bishop, The Silent
Revolution, dalam TPMCafe Book Club, 23 Jufy 2008.
Sumber:
http: / / rpmcale.talkingpointsmemo.com/tpmcafe-
book<lub
" Dalton, Flanagan, Beck (1934) dan Inglehart (1984)
reaolution maka partai-partai kanan
dalam Bornschier, ibid.
'o Hanspeter Kriesi dalam ibid., hal 5
'u Herbert Kitschelt dan Anthony McGann dalam ibid.,
radikal, menurut tafsir lgnazi, merupakan
" Pietro Ignazi dalam ibid., hal.5
produk dari' the counter silent reaolution' .'u
" Philippe Madiere, The Decline of Europe's Social
democratic Parties, L6 Maret 2010 di ambil dari
http: / / vrww.opendemocracy.net/philippe-
marliere/ decline-of-europe's-social-democratic-parties.
47
studi Politik Edisi3, vol. ll, No. t,2ot2 liberal pasar bebas dan menutup mata sebagian besar
studi Politik Edisi3, vol. ll, No. t,2ot2
liberal pasar bebas dan menutup mata
sebagian besar sistem kesejahteraan di
terhadap ketidakadilan pendapatan.
ferman. Walter Veltroni dan Massimo
d'Alemat'merusak kekuatan kiri di Italia
Demokrasi sosial sejak tahun L990an
kehilangan identitas dirinya sebagai
ketika berkoalisi dengan partai-partai
kanan. Ciri khas yang menjadi identitas
bagian dari kekuatan kiri yang progresif.
demokrasi sosial
egalitarian dan
Third Way adalah kompromi demokrat
keadilan sosial lewat intervensi negata,
sosial dengan kapitalisme - kompromi di
basis kelas buruh yang kuat dan hubungan
antara buruh dan modal. Kompromi ini
dengan Serikat Buruh - menjadi rusak.'o
tampak dalam pidato tahunan menteri
keuangan Inggris pada tahun 2006, yang
Dampak perubahan partai
mulai
bunyinya antara lain: "Pesan yang
dirasakan pada berbagai pemilu di akhir
dikirimkan dari London untuk
perekonomian di seluruh Inggris Raya
dekade 1990-an. Partai-partaidemokrat
sosial kehilangan pendukung tradisional
adalah kita akan berhasil jika
kita
berpikir global
mengurangi peraturan,
mereka: kelas pekerja dan penerima gaji
rutin. Rene Cuperus, direktur sebuahthink
menjadi lebih fleksibel dan kompetitif
tank di Belanda, mengatakan pandangan
dalam perpajakan
serta memastikan
ideologi partai demokrat sosial berubah
bahwa pelayanan finansial Eropa yang
akan datang menyiratkan gelombang baru
liberalisasi
" ThirdWay ndaklain adalah
nama baru untuk kebijakan Reaganomics
" Berbagai kebijakanyang dikeluarkan oleh
yang dikenal pada tahun 1980-an."
pemerintahan demokrat sosial misalnya: privatisasi
pelayanan-pelayanan
umum, pemotongan pajak untuk
orang-orang kaya, memotong tunjangan sosial bagi
Upaya sejumlah pemerintahan demokrat
orang-orang miskin, deregulasi pasar dan promosi
sosial untuk memperbarui diri dengan
perekonomian yang kompetitif di Uni Eropa,
dukungan tidak bersyarat perekonomian global, Ibid.
t'Walter
cara memberikan wajah manusiawi pada
ideologi neoliberal lewat kebijakan '|alan
Veltroni dan Massimo d'Alema adalah Ketua
dan Sekretaris Partai Demokrasi yg didirikan di Italia
(2008)
Tengah' dipandang gagal. Di Inggris
kebijakan Third Woy tidak mampu
'Tidak hanya identitas partai, menurut Marliere,
semua aspek kehidupan demokrat sosialis mengalami
perubahan:, kepemimpinan, kehidupan kepartaian,
hubungan dengan serikat-serikat kerja/buruh,
memperbaiki dan tidak peduli dengan
ketidakadilan yang semakin meningkat.
keanggotaannya, kelompok pemilihnya, kebijakan dan
ideologinya sifat partai (dari partai massa menjadi
partai kartel ataurcatch-all', dari partainya pekerja
Pemerintahan Lionel Jospin (1997 -2002) dl
penerima upah menjadi partainya kelas menengah
berpunya).Ibid.
Perancis memprivatisasi lebih banyak
'Rene Cuperus, "No Power, No Moral: A Dutch
Comment on the SPD Blues", dalam jan Niklas Engels
penlsahaan pelayanan urnum daripada
pemerintahan kanan dalam periode yang
dan Gero Maas (eds), The View From Europe; Analysis
of the Crisis of Social Democracy after the 2009 German
Federal Elections, (Fredriech Ebert Stiftung |anuary
sama. Gerhard Schroder'mempreteli'
2010)
48
Nuri Soeseno, Merosotnya Demokrasi Sosial secara , drastis. Partai ini merusak Dengan kata lain demokrasi
Nuri Soeseno, Merosotnya Demokrasi Sosial
secara , drastis. Partai ini merusak
Dengan kata lain demokrasi sosial harus
kepercayaan dan stabilitas sosial basis
bisa mengatasi berbagai problem dan
pendukungnya dan harus berperang
melawan 'musuh dalam' dirinya sendiri.
tantangan yang muncul bersama dengan
perkembangan sosial, ekonomi dan politik
Demokrasi sosial pada saat ini, menurut
Cuperus, 'found itself in a no-man's land,
global tanpa mengorbankan identitas
demokrasisosial-nva.
losing support onboth sides'."
Politik identitas merupakan bagian
Demokrasi sosial sedang mengalami krisis
penting diskursus partai-partai kanan di
akut. Konstituen demokrat sosialis
dalam memobilisasi para pendukungnya.
terbelah menjadi dua bagian. Pembelahan
Politik identitas yang dimainkan oleh
terjadi antara liberal sosial (profesional
partai-partai sayap kanan baru menjadi
akademisi) dan demokrat sosial
kunci keberhasilan mereka untuk meraih
tradisional (serikat-serikat kerja), antara
dukungan pemilih. Strategi politik
yarrg berpendidikan tinggi dan yang
identitas partai kanan baru adalah dengan
kurang berpendidikan, antara yang
cara menggabungkan dua isu konflikyang
berorientasi kosmopolitan dan
dipandang penting di dalam masyarakat:
nasionalistik, dan antara libertarian dan
ekonomi dan kebudayaan. Sejumlah
otoritarian. PembeLahan tersebut
pengamat partai kanan baru'n
menggambarkan pembelahan diantara
mamandang isu tersebut sebagai 'formula
kelompok yang optimis akan masa depan
kemenangart' (the winning formula) bagi
globalisasi, dinamika pasar, Eropa dan
diversitas etnis dengan kelompok yang
partai-partai kanan dalam meraih
dukungan dalam beberapa pemilu
merasa tera,ncam dengan kekuatan-
kekuatan tersebut.z Menurut Cuperus
terakhir.
kapal demokrasi sosial sedang tenggelam
dengan cepat karena kebocoran di dua
'Rene Cuperus, "No Powet, No Moral: A Dutch
sisinya: dari sisi kelompok pro ]alan-
Comment on the SPD Blues", dalam ]an Niklas Engels
Tengah dan dari sisi kelompok Kiri Hijau.
Untuk menyelamatkan demokrasi sosial
dan Gero Maas (eds), The View From Europe: Analysis
of the Crisis of Social Democrary after the 2009 German
Federal Elections, (Fredriech Ebert Stiftung, fanuary
2010)
maka para demokrat sosial harus bisa
" Ibid.
menjawab pertanyaan seperti bagaimana
" Ibid.
'o Di antaranya Herbert Kitschel & Anthony J l|l{:cGawt, The
mempertahankan keadilan di dalam
Radical Right in Western Europe: A Comparative Analysis,
(AnnArbor: University of Michigan Press, 1995) dalam
masyarakat global dan penuh diversitas?'
Bomschier, op.cit., hal.6
49
studi Politik Edisi 3, vol. ll, No. 1.,20L2 Politik identitas partai kanan baru dapat ekstrern
studi Politik Edisi 3, vol. ll, No. 1.,20L2
Politik identitas partai kanan baru dapat
ekstrern mengartikan kebudayaan lokal
dibaca, misalnya, dalarn cara nnereka
sebagai "yungbukan nilai, norma, bahasa
merepresentasikan dirinya. Partai-partai
atau adat istiadat imigran non-Eropa
kanan baru urnunnnya merepresentasikan
('non-white') atau non-Kristen." Isu
dirinya sebagai partai anti-establishment
kebudayaan bagi kelompok ini, oleh
(anti kemapanan), anti-kartel, partai
karena itu, sangat terkait dengan
pemrotes, atau partai yang diisolasikan
dan dimarjinalkan oleh partai-partai arus
persoalan imigrasi." Partai-partai kanan
baru merepresentasikan dirinya sebagai
utama. Dengan representasi diri
partai anti-imi gran, partai yar.g
sedernikian mereka dapat menarik
kelompok-kelompok tertentu dalam
memperjuangkan perundang-undangan
keimigrasian yang ketat, partai yarrg
masyarakat, khususnya 'the loser' dalam
menentang model rnasyalakat multikultur
proses modernisasi danmereka yang tidak
dan menghendaki integrasi total
terintegrasi dalam perekonomian giobal,
kelompok imigran kedalam budaya
serta kelompok kelas menengah yang
nasional. Secara eksplisit partai-partai
merasa kecewa atau' disenchanted' dengan
kanan menentang proyek kiri yang
perpolitikan demokrasi liberal. Lubbers
dkk secara lebih spesifik menunjuk
memperjuangkan
gagasan
multikulturalisme. Dalam logika kanan
kelompok yang dapat diraih oleh partai-
partai kanan baru: orang dengan tingkat
baru kebudayaan Eropa (dan Kristen)
yang telah mernbawa masyarakat hingga
pendidikan rendah, para pekerja manual
dan pengangguran. Meskipun ada kelas
ke tingkat kemajuan dan kesejahteraan
sebagaimana yang dicapai saat ini harus
menengah yang n'temberikan
dipertahankan dengan cara membatasi
dukunganny a padapartai kanan radikal,*
irnigran.
kelompok-kelompok yar.g tidak
terintegrasi dalam pelaksanaan kebijakan
neoliberal dan globalisasi adalah sumber
utama pendukung partai kananbaru.
zs Lihat Lubbers, Gijsberts & Scheepers, European Joumal of
Political Res earch 4 | : 3 4 5 -37
8 (2002), hal 247 -3 48 ;
Selain isu ekonomi, partai-partai kanan
Bomschier, op.cit., hal.6-7
ze Baca misalnya Montserat Guibernau, "Migration and the
baru sangat rnenonjol dalarn
merepresentasikan dirinya sebagai
Rise of the Radical Right: Social Malaise and the Failure of
Mainstream Politics" dalam Policy Network Paper, London.
March 2010. h@://www.policy-network.net
pembela kebudayaan dan kepentingan
'lokal'. Kebudayaan'lokal' dapat diartikan
macam-macam misalnya nasional, Eropa,
demokrasi, Kristen, atau peradaban Barat.
Seeara sederhana kelompok kanan
50
Nuri Soeseno, Merosotnya Demokrasi Sosial Sikap anti-imigrasi dan penolakan terhadap multikulturalisrne menjadi dua
Nuri Soeseno, Merosotnya Demokrasi Sosial
Sikap anti-imigrasi dan penolakan
terhadap multikulturalisrne menjadi dua
Diskursus anti-imigrasi dan penolakan
elemen utama dalam profil prograrn terhadap multikulturalisrne tidak
partai-partai kanan baru. Kedua isu ini
diartikan SD sebagai sikap rasisme etnis.
yang mernbawa partai ini rnenjadi partai
Manifesto partai Demokratene Saerige ya1p'g
populis dan menarik banyak suaf,a
terbit pada tahun 2003 dapat menjelaskan
pernilih." Sikap dernikian diekspresikan hubungan diantara sikap anti inaigran dan
dalam platform partai kanan ekstrem penolakan terhadap nnultikultural-isme
D e mo kr
a t
S w e d i a
denganidentitasnasionaldankebudayaan
(SaerigedemokraternafSD).Merekapercaya
nasional,sebagaiberikut:"
bahwa setiap bangsa meruPakan
perwujuda
" Llnsur penting dari masyarakat yang aman, harmonis dan suportif
n dari satu
adalah identitas bersama, yangmemerlukan tingkat kesamaan etnis
bentuk
kebudayaa
n etnis
dan kebudayaanyang tinggi di antara anggota masyarakat. Dari sini,
selanjutnya prinsip-prinsip nasional, prinsip satu negara, satlu bangsa
merupakan dasar absolut bagi nilai-nilai politik Demokrat Swedia'
Prinsip nasional didasarkan pada konsep negara nasional, dimana
tertentu,
batas-batas wilayah negara dianggap sama dengan batas-batas
dan tujuan
demografi. Dalam bentuk ideal ini maka sebuah masyarakat
politik
Keragaman kebudayaan
selayaknya terdiri atas etnis homogen
partai
adalah
untuk
penting untuk kernanusiaan karena keragaman biologis dianggap
sebagai sesuatu yang aLamiah. Ferbedaan kebudayaan adalah warisan
kemanusiaan bersama dan haruslah diakui dan dijaga r4asing-masing
untuk kepentingan bersama
Negara-negara yangmemiliki beberapa
mempertaha
nkan
kebudayaan-kebuclayaan yang relatif kuat cenderung berkernbang
sedemikian rupa sehingga mereka cendenmg melebur sejurnlah
identitas
etnisitas yangberbeda dan secara total menghancurkan identitas asli
nasional
identity) mereka. Kami Demokrat Swedia percaya bahwa cara
doriginat
mereka""
yallg paling aman untuk melindungi keanekaragaman
Sikap
kebudayaan,dengan mempertimbangkan rasa horm at pada hak-hak
asasi manusia, adalah rnelakukan segala hal-hal ini sebanyak mungkin
demikian
di dalam sebuah negara nasionatr (Sverigedemokraterna/5D,2003)
"
diwujudka
n dalan'l
perjuangan penurunair, jurnlah imigran
asing sebesar 90%. Menurut mereka hanya
" Dalam pemilu 200250% pemilih Swedia
menghendaki kebijakan pengetatan imigrasi. Lihat Jens
dengan cara ini kebudayaan nasional
dapat dijaga dari "kerusakan" Yang
Idydgreru "Radical Right-wing Populism in Sweden and
Denmark", The Centre for the Study of European
Politics and Society, Ben Gurion University of the Neva,
disebabkan oleh neasuknya irnigran non-
Beer Sheva
'u Ibid.
Eropa.
" Ibid.
51
Studi Politik Edisi3, Vol. ll, No. t,2OL2 Manifesto SD ini merefleksikan prinsip menurufirya: dannilai partai-partai
Studi Politik Edisi3, Vol. ll, No. t,2OL2
Manifesto SD ini merefleksikan prinsip
menurufirya:
dannilai partai-partai kananbaru di Eropa
pada umumnya. Menurut Bornschier
kanan baru meminjam konsePsi
.] Oposisi
kanan baru
Komunitarian mengenai komunitas dan
terhadap
imigrasi dari Afrika,
keadilan ketika mereka berbicara
Timur
Tengah
atau Asia
menekankan
jahatnYa
mengenai identitas bersama dan
kebudayaan etnis nasional. Dengan
melihat perbedaan budaya mereka tidak
mengklaim superioritas ras atau bangsa
manapun, melainkan mereka hanya ingin
rencana
repatriasi
imigran
dilakukan
dengan
menekankan hak-hak rakYat untuk
menggunakan
strategi
anti
melanggengkan tradisi mereka yar.g
imperialis dari
kaum kiri
Yang
berbeda.uo Sikap kanan baru Yar.g
mengangkat otonomi semua
sedemikian oleh Betz disebut sebagai
kelompok kebudayaan
dan
'dffirentialist natiaism' atau'cultural
hak-hak
mereka
untuk
racismt.t'
mendapatkan
kedaulatan
dalam
wilayah kehiduPan
mereka.
Logika berpikir sedemikian merupakan
unsur utama dalam diskursus kanan baru
dan membawa rnereka masuk dalam
perpolitikan formal. Dengan logika ini
kebudayaan dipandang unik tetapi rentan.
identitas
kebudayaan
Yan.g
Keanekaragman kebudaYaan dalam
negara akan mengancam integritas
berbeda
ini
akan
menghancurkan komunitas
identitas nasional Yang dominan.
kebudayaan
kedalam atom-
atom
dan hubungan-
Sekretaris partai SD, Torbjorn Kastell pada
hubungan
ekonomi
yang
tidak
tahun 2002 menyatakan bahwa SD
bersifat personal dan
mengingink an -- " fl multicultural world, not
mementingkan diri sendiri.
a multicultural society".t' Cara berpikir
Kastell ini merupakan satu bentuk reaksi
tribalisme yang muncul karena dampak
globalisasi neoliberal dan berbagai
perkembangan kontemPorer masyarakat
'Bomschier, loc.cit,, hal 10
t'
pascamodern. Robert Antonio mengupas
Betz,loc.cit.,
" Rydgren, loc.cit.,
fenomena ini dalam tulisannya "After
Postmodernism: Reactionary Tribalism."
52
Nuri Soeseno, Merosotnya Demokrasi Sosial Dalam diskursus politik partai-partai mendominasi diskursus perpolitikan di
Nuri Soeseno, Merosotnya Demokrasi Sosial
Dalam diskursus politik partai-partai
mendominasi diskursus perpolitikan di
kanan baru menggunakan bahasa
Eropa.
kelompok kiri yang dimengerti dan
diterirna oleh masyarakat pemilih. Strategi
ini membuahkan hasil dan memberikan
mereka tempat dalam perpolitikan formal.
Mempelajari isu-isu yang terkait dengan
fenomena kemunduran demokrasi sosial
dan naiknya kekuatan kanan baru
membantu kita untuk memahami berbagai
Kesimpulan:
perkembangan dan tantangan yang
Perubahari konstelasi kepartaian dalam
perpolitikan di Eropa sesungguhnya
sudah dapat diperkiiakan jika kita
memperhatikan kinerja sejumlah partai
dihadapi masyarakat Eropa akhir-akhir
ini. Tantangan-tantangan ini berpusat
pada isu perekonomian neo-liberal serta
berbagai dampaknya dalam masyarakat.
Dalam diskursus politik kontemporer
politik mapan, isu-isu yang menjadi
maka tantangan-tantangan tersebut
keprihatinan utama di dalam masyarakat
diwujudkan dalam narasi politik identitas
dan kemampuan partai yang berkompetisi
untuk merepresentasikan suara rakyat
dan multikulturalisme. Dengan demikian
penting untuk terus mengikuti diskursus
pemilih. Dominasi globalisasi dan proses
penyatuan Eropa telah menggirin g partai-
mengenai isu-isu politik identitas dan
multikulturalisme jika kita ingin
partai demokrat sosial semakin ke arah
kanan spektrum ideologi. Partai-partai
memahami fenomena kemunduran partai-
partai kiri (tengah) dan naiknya partai-
demokrat sosialis telah menjadi
partai kanan tengah -yang didukung
'Thacherite!' kata seorang anggota
kanan- baru ke pusat kekuasaan di Eropa
parlemen dari partai Buruh di Inggtis.
padasaatini.
Darnpak dari globalisasi, integrasi Eropa
dan peningkatan migrasi ke Eropa Barat
menimbulkan kecemasan yang besar
dalam masyarakat. Kedua fenomena
tersebut berdannpak di dalam pemilu;
pemilih tidak puas dengan kinerja partai-
partai mapan dan merasa tidak
direpresentasikan oleh mereka. Dalam
suasana perpolitikan inilah muncul partai-
partai kanan baru yang dengan lantang
menyuarakan keresahan para pemilih.
Partai-partai kanan baru inilah yang akhir-
akhir ini menentukan kebijakan dan
53
Studi Politik Edisi3, Vol. !1, No. t,2OL2 DaftarKepustakaan: Conflict and Cohesion Frogramme paper Number 9
Studi Politik Edisi3, Vol. !1, No. t,2OL2
DaftarKepustakaan:
Conflict and Cohesion Frogramme
paper Number 9 October 2004,
Chantal Mouffe, "Democracy in Europe:
United Nations Researc Institute -
The Challenge of Right-wing
Social Development (2004)
Populism", tnanuscript.
lan Niklas Engels dan Gero Maass, The
David Jesuit & Vincent Mahler, "Electoral
View From Europe: Analysis af the
Support for Fxtreme Right-Wing
Parties: d Subnationai Analysis of
Wesiern European Election in the
1990s", dalam Luxemborg Income
Crisis of Social Democracy after the
2009 German Federal Elections,
(Frederich Ebert Stiftung, January
2010)
Study Working Paper Series No.391.
Paper prepared for the Annual
Jens Rydgr en, " Radical Right-wing
Meeting of APSA' 2-5 Sept, Chicago
Populism in Sweden and Denmark" ,
Illinois.
The Centre for the Study of
European Politics and Society, Ben
FES Against Right-Wing Extremism, "Is
Gurion University of the Neva, Beer
Europe on the "Right-Path', Right
Sheva
Extremism in Europe"
Marcel Lubbers, Merove Gijsbert and
Gerassimo Mochonas, The Electoral
Crisis of Social Democracy: The
Great Retreat of the European Social
Democratic Parties (1950-2009), a
paper presented at International
Peer Scheepers, "Extrelne ltight-
Wing Voting in Western Europe"
dalam European lournal of Political
R.ese ar ch 41^: 3 45 -37 8 (2002)
Workshop by Transform! Europe,
Michael Minkeberg, From Party to
Palma de Majorca,12^-13^ mars
Mouement: The German Radical Right
in Transition, %.Extrema Dreta a
201,0,
Electoral Dynamics and
Europa, I-lna Realitat Poliedrica
tfu S o ci nl - d en t o cr n ti c I dentity : S o cialism
Sabadell, 5 i 5 de juliol de 2004
and Its Clnnging Constituencies in
Montserrat Guibern au, " Migration and
France, Great Britain, Sweden and
Denmark, manuscript
the Rise of the Radical Righl Social
Malaise and the Failure of
Mainstream Politics" (London:
Hans-Geo r g Betz, " Exclusionary P opulism
Policy Network Paper, March 2010)
inWestern Europe in the L990s and
Beyond: A Threat fo Democracy and
Othon Anastasakis, "Extreme Right in
Ciail Rights? Dalam Identities,
Europe: A Comparative StudY of
il
Nuri Soeseno, Merosotnya Demokrasi Sosial Recent Trends". (London: The Online, Hellenic Observatory - The European
Nuri Soeseno, Merosotnya Demokrasi Sosial
Recent Trends". (London: The
Online,
Hellenic Observatory - The
European Institute - LSE, Nov 2000)
htto: / / www. spiesel. de / internation
aU sermanv / 0.7518,719842.00.htm1
Philippe Marliere, "The Decline of
"Across Europe, Support for Populist
Europe's Social Democratic Parties",
(London: Open Democracy, March
Parties is on the Rise", Elections,
-
12.4.2010 dalam http:/ /www.dw-
2010)
world.del dwl article/ 0
5455829,00.h
tml
Simon Bornschie r, " Do Right-Wing
Populist Parties Constitute a
European parry Family? A
comparison of Their Positioning in
Mark Sommerfeld, "Rise of the Far Right
in Europe: Gains for Extreme Right
Wi.g Politics Across EU",
Political Space", Paper prepared for
http:/ / www.suiteL0L.com/ content/
the workshop "Reflexive
rise-of -the-f ar-ri eht-in-europe-
Modernisiering von Politik:
a219353
Transformation von Staatlichkeit
und gesselschaftlichen
Matt Browne, Ruy Teixiera and |ohn
Konfliktla ge", Ludwig-Maximilians-
Halpin, " Beyond the Third Way:
Universitat Munchen, 8-10
What is Wrong with Social
Desember 2005
Democracy" , dalam Spiegel Online,
30 September 2009
Wouter van der Brug & Meindert
Fennema,.The Support Base of Radical
Tony Bunyan, "Europe's Race to the
Parties in the Enlarged European
Right", The Guardian.co.uk.,
Union, a paper prepared for the EES
Spring Meeting 2006 on the
European Parliament Election of
commentisf
ree
/
libertycen tr aI / 2009 / jun / 24 / europe-
election-rig
2004, Lisboru 1I-1.4May 2006
Sumber lain:
"Europe's Far Right Rises",
http: / / www.redpepper. org.uk/ Eur
ope-s-f ar-ri eht-rises
"Continent of Fear: The Rise of
Europe's Right-Wing Populism"
dalam SPIEGEL
c)

-

Studi Politik Edisi 3, Vol" ll, No. t,2Ot2 56
Studi Politik Edisi 3, Vol" ll, No. t,2Ot2
56
Tommy Ardian Pratama, Perlindungan Sosial Perlindungan Sosial Sebagai Bentuk Artikulasi ldeologi Oleh : Tommy Ardian
Tommy Ardian Pratama, Perlindungan Sosial
Perlindungan Sosial Sebagai Bentuk
Artikulasi ldeologi
Oleh : Tommy Ardian Pratama
lnstitut Kajian Krisis dan Studi Pembangunan Alternatif
How daes the ideological belief can
tNhat role does the ideologlcal ilusion
i'r"I[f/"rk contradicting facts regafiing the betief?
^r*
play in the structure of the ideological belief? In this article I
shall examine the discour-se of social protection in lndonesia. I will argue that such discourse is
being dneloped and used, not only to defend the neoliberal political economic system, but also to
delude the failure of the system by creating a fetishistic ilusion that the econitmic model and the
minimal socialprotection areindeedthepanacea to solae thepoaeftyprobleminlndonesia.
Keywords: Social protection, social democracy, radical ights, populist party, socialist part!,
multicultur alism, identity p olitics.
Pendahuluan
onsep perlindungan sosial
dalam kurun waktu terbatas untuk
berbeda dari yffig disebut
membantu kelompok masyarakat miskin
'jaminan sosial' (social
yang terkena dampak krisis ekonomi.
security) atau pun 'jaring
pengaman sosial' (social safety nets\.
Jika dibandingkan dengan konsep jaminan
Konsep jaminan sosial dipahami sebagai
sosial dan jaring pengaman sosial, konsep
paket program bantuan sosial dan
asuransi sosial sebagaimana diberlakukan
di negara-negara maju. Sebaliknya, jafing
pengaman sosial merupakan konsep yffig
sering digunakan oleh negara-negara
perlindungan sosial tergolong baru dalam
berbagai kajian tentang pengentasan
kemiskinan dan pembangunan. Konsep
perlindungan sosial diajukan untuk
menggabungkan konsep jaminan sosial
berkembang dan negara kurang-
dan jaring pengaman sosial. Jadi konsep
berkembang untuk merujuk pada
perlindungan sosial berbeda namun
seperangkat kebijakan yang berlaku
sekaligus mencakup juga konsep jaminan
Studi Politik Edisi3, Vol. ll, No. I,2OL2 sosial dan jaring Pengaman sosial. kelompok-kelompok yffig rentan
Studi Politik Edisi3, Vol. ll, No. I,2OL2
sosial dan jaring Pengaman sosial.
kelompok-kelompok yffig rentan dalam
Beberapa alasan penggabungan ini antara
proses perubahan sosio-ekonomi dan
lain adalah: (1) Bertambahnya tingkat
pembangunan, atau mereka yang rentan
kesenjangan pendapatan di antara dan di
terhadap bencana alam atau bentuk
dalam negara maju, berkembang dan
bencana lainnya" (Sigit dan Surbakti,
kurang-berkembang sebagai dampak
2006:89). Dalam tulisan ini saYa
globalisasi dan liberalisasi (Berry 2005:20);
(2\ Meningkatnya resiko pertumbuhan
berargumen bahwa perlindungan sosial
merupakan salah satu diskursus yang
kemiskinan secara kuantitatif mauPun
dikembangkan dan ditujukan untuk
kualitatil sebagai akibat dari semakin
mempertahankan kekuasaan dan model
terintegrasinya Pasar nasional dengan
pasar global; (3) Minimnya atau, pada
ekonomi politik yang diadopsi pemerintah
Indonesia. Saya akan menunjukkan bahwa
beberapa kasus, absennya perlindungan
yang komprehensif atas pekerja informal
konsep perlindungan sosial tidak luput
dari determinasi ideologi Yang
dan kelompok masyarakat miskin
diartikulasikan melalui suatu diskursus.
terutama di negara berkembang dan
Setelah itu saya akan menjelaskan
negara kurang-berkembang Yang
disebabkan oleh pembatasan anggaran
belanja pemerintah sebagai akibat dari
bagaimana artikulasi dan determinasi
ideologi tersebut beroperasi sebagai ilusi
dan fetis serta bagaimana artikulasi
liberalisasi ekonomi; dan (4) Pengakuan
tersebut diterima sebagai kebenaran.
atas hak-hak dasar manusia sebagaimana
Pemahaman akan diskursus perlindungan
tercantum dalam Konvensi Hak-Hak
sosial diharapkan juga akan menjelaskan,
Ekonomi, Sosial dan Budaya,YffiE hanya
walau secara tidak langsung, bagaimana
bisa terpenuhi lewat Program
ideologi mengartikulasikan dan pada satu
perlindungan sosial yang komprehensif
titik mengkooptasi diskursus tertentu
(Conway, Foster dan Nortory 2001 :8).
sehingga ia muncul sebagai sesuatu yang
s€una sekaliberbeda.
Dalam tulisan ini saya akan membahas
konsep perlindungan sosial y*g secara
Tulisan ini dibagi dalam beberapa bagian.
resmi diterapkan di Indonesia
Bagian pertama akan memberikan
sebagaimana dirumuskan oleh Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional
(BAPPENAS), yaitu sebagai "tindakan
publik untuk melindungi kehidupan dan
penjelasan teoretik mengenai artikulasi
diskursus. Di bagian kedua saya akan
menerangkan bagaimana ideologi dan
artikulasinya dikemas sedemikian rupa
kesejahteraan kelompok tertinggal atau
sehingga dipercaya sebagai suatu
Tommy Ardian Pratama, Perlindungan Sosial "kebenaran".t Paparan mengenai konsep dan program perlindungan sosial
Tommy Ardian Pratama, Perlindungan Sosial
"kebenaran".t Paparan mengenai konsep
dan program perlindungan sosial akan
Latar Belakang Teoretik: Diskursus dan
Fetis dalam Ideologi
dijabarkan di bagian ketiga. Pernahaman
teoretik atas artikulasi diskursus dan fetis
Diskursus secara umum didefinisikan
sebagai bentuk komunikasi yang
akan diterapkan di bagian selanjubrya
untuk memeriksa konsep dan
implementasi perlindungan sosial di
disampaikan baik secara tertulis ataupun
lisan. Pada masa-masa perkembangan
awal kajian tentang diskursus, ia
Indonesia. Penerapan ini ditujukan untuk
menyingkap selubung yang digunakan
cenderung dikhususkan pada simbol atau
dalam membenarkan konsep dan
instrumen yang digunakan dalam
implementasi perlindungan sosial di
komunikasi. Oleh karenanya ia lebih
banyak dibahas dan dikembangkan dalam
Indonesia.
kajian lingusitik. Hal ini berubah setelah
Perlu ditegaskan bahwa tulisan ini
Michel Foucault, seorang filsuf, sejarawan
pertama-tama ditujukan untuk
dan sosiolog Perancis, mendefinisikan
memberikan penjelasan teoretik atas
diskursus sebagai " an entify of sequences of
diskursus dan bentuk-bentuk artikulasi
signs in that they are enouncements (enoncds)"
ideologis atas diskursus. Perlindungan
(Foucaul! 2002, Archeology of Knowledge).
sosial dipilih sebagai salah satu contoh
Bagi Foucault, medium yang digunakan
bentuk artikulasi ideologis karena
dalam komunikasi adalah serangkaian
simbol atau tanda yang kemudian
diskursus ini dimanifestasikan dalam bio-
politik, yaitu politik yang menentukan
membenfuk makna tertenfu. Penekanan
hajat hidup orang banyak sekaligus
pada makna atau isi diskursus membuka
merupakan isu sentral yang menguasai
cakrawala baru pada kajian diskursus
hajat hidup orang banyak.
sebagaimana akan dijelaskan berikut ini.
Dalam empat dekade terakhir, analisis
diskursus mengalami perkembangan
signifikan. Di satu sisi, perkembangan
' Saya dengan sengaja menuliskan kebenaran dengan
apostrof untuk menunjukkan bahwa ia merupakan
analisis diskursus mengambil manfaat
ilusi ideologis dan sekaligus untuk membedakannya
dengan Kebenaran atau Realitas objektif, yang
menurut beberapa ilmuwan sosial dan politik dapat
dari kemajuan dalam filsafat,
psikoanalisis, linguistik hingga (sampai
dicapai dengan mengambil jarak dari realitas yang
diamati. Dalam tulisan ini saya juga
mengenyampingkan pemaparan mengenai perdebatan
derajat tertentu) juga dari perkembangan
fisika quantum (Zizek,2005). Di sisi lain,
apakah sebuah kritik ideologi akan dengan serta-merta
kemunculan berbagai diskursus
menampilkan realitas sosial yang objektif karena
keterbatasan tempat. Secara umum, upaya untuk
menampilkan realitas objektif adalah usaha sia-sia
perlawanan yang diusung oleh gerakan
karena upaya ini dilakukan lewat bahasa sebagai
medium.
sosial baru di luar gerakan buruh-tani,
59
Studi Politik Edisi3, Vol. ll, No. L,2OL2 misalnya gerakan mahasiswa, gerakan Kedua pengarang berangkat dari
Studi Politik Edisi3, Vol. ll, No. L,2OL2
misalnya gerakan mahasiswa, gerakan
Kedua pengarang berangkat dari
perempuan, gerakan anti-nuklir dan
pemaharnan mereka atas Foucault bahwa
lingkungan hidup hingga gerakan gay-
diskursus adalah pernyataan-pernyataan
lesbian-transeksual, juga memaksa para
yang diklaim memiliki kebenaran. Agar
filsuf, ilmuwan ilmu sosial dan politik
mendefinisikan ulang diskursus dan
suatu pernyataan diakui sebagai sebuah
kebenaran, pernyataan tersebut harus
operasionalisasinya dalam masyarakat.
memenuhi persyaratan tertentu.
Persyaratan ini, yang dinamakan oleh
Salah satu teori
Foucault sebagai
tentang 'diskursus
diajukan oleh Ernesto
" [I]f I kick a spherical object in the
street or if I kick a ball in a football
norma, antara lain
adanya keteraturan
Laclau dan Chantal
persebaran
match, the plrysical fact is the samq
Mouffe (1985) dalam
pernyataan tersebut
but its meaning is dffirent. The
buku "Hegemony and
yang dapat diamati
object is a football only to the extent
Socialist Strategy:
secara empiris.
Towards a Radical
that it establishes a system of
Dengan demikian,
Democratic Politics".
Kedua pengarang ini
merujukpada konsep
diskursus yang
sebelumnya
dikembangkan oleh
Michel Foucault.
Seb aga imana
relations with other obiects, and
these relations are not giaen by the
mere referential materiality of the
objects, but are rather socially
constructed. This systernatic set of
relations is what we call discourse."
(Laclau und Moffi, 1987:82)
agar suatu diskursus
diterima sebagai
suatu kebenaran,
diskursus tersebut
harus selalu merujuk
pada konteks dan
waktu tertentu.
Diskursus di sini
Foucault, mereka
dipahami sebagai
lebih tertarik pada
suatu
bentuk
pertanyaan, "bagaimana sebuah
determinasi atau penenfuan yang bersifat
kebenaran dimunculkan?", daripada
kontingen dan sementara atas maknayang
"apakah yang disebut dengan kebenaran
terkandung dalam sebuah pernyataan
objektif ?". Dengan mengajukan
(Glasze,2A0n.
pertanyaan tentang "bagaimana" kedua
pengarang tadi menyasar penjelasan
Syarat berikutnya agat suatu pernyataan
tentang bagaimana suatu diskursus
dikonstruksikan sehingga ia muncul
atau diskursus diterima sebagai kebenaran
adalah bahwa pernyataan tersebut
sebagai "kebenaran" dan sekaligus
dikeluarkan oleh suatu lembaga atau
dipercayai pula sebagai kebenaran.
individu yang memiliki otoritas sehingga
50
Tommy Ardian Pratama, Perlindungan Sosial pernyataan tersebut memiliki legitimasi Pemahaman bahwa ada hubungan antara
Tommy Ardian Pratama, Perlindungan Sosial
pernyataan tersebut memiliki legitimasi
Pemahaman bahwa ada hubungan antara
tertentu. Legitimasi berkaitan erat dengan
objek dengan simbol dipinjam dari teori
kekuasaan, sehingga misalnya,
linguistik Ferdinand de Saussure (1931).
pernyataan seorang ekonom bahwa
De Sausure rnembedakan objek dengan
belanja negara untuk perlindungan sosial
representasi simbolik atau kata yar.g
mewakili objek tersebut. Representasi
harus dikurangi karena akan membebani
anggaran negara dipandang memiliki
simbolik dinarnakan penanda, sementara
'bobot' kebenaran yang lebih tinggi jika
objek yang direpresentasikannya
dibandingkan dengan pernyataan
dinamakan petanda. Bagi Saussure
sebaliknya dari seorang mahasiswa.
Kaitan erat antara diskursus dengan
hubungan antara penanda dan petanda
adalah hubungan yarrg tidak memiliki
kekuasaan juga berarti bahwa diskursus
adalah sebuah (re)produksi pengetahuan.
Sampai di titik ini, diskursus masih berada
dalam tataran bahasa yarrg memproduksi
justifikasi tertentu dan hubungan tersebut
muncul hanya karena adanya konsensus
dalam masyarakat. Hal ini demikian
karena secara teoretis penanda yang
makna. Akan tapi, Laclau dan Mouffe
mewakili suatu objek bisa saja merujuk
berpendapat bahwa suatu tindakan juga
pada objek lainnya. Jadi, hubungan antara
memiliki makna tertenfu, dan karenanya
penanda dan petanda merupakan
juga merupakan sebuah diskursus.
hubungan yang kontingen, sewaktu-
waktu dapat berubah. Lebih lanjut,
Segala sesuatu, sepanjang memiliki
hubungan antara penanda dan petanda
penanda (dalam contoh di atas
penandanya adalah tindakan menendang
jug bergantung pada konteks yar.g
digunakan. Pada suatu konteks kata
bola) dan memiliki makna adalah
"anjing" bisa digunakan unfuk merujuk
diskr.r.rsus. Alasannya sederhana, karena
pada hewan karnivora berkaki empat,
makna berada pada lingkup kesadaran
sementara pada konteks lainnya kata
dimana objek atau tindakan
tersebut jug" bisa digunakan sebagai
direpresentasikan lewat simbol atau
bentukmakian.
penanda. Makna dihasilkan melalui relasi
yang muncul antara objek dengan
Berangkat dari teoriini, Laclau danMouffe
penanda (atau simbol). Sementara segala
berpendapat bahwa makna suatu
hal yang tidak dapat diartikulasikan,
diskursus (objek, tindakan" konsep atau
sehingga tidak memiliki makna,
fenomena tertentu) bergantung elemen
dan momen yang ada dalam diskursus.
rnerupakan bagian dari alam bawah sadar,
disebut juga sebagai'yang-di-luar' atau
Elemen di sini dipahami sebagai berbagai
relasi simbol atau penanda dengan
'yang-nya ta' (The Real).
petanda yang berdiri sendiri. Momen
51
studi Politik Edisi3, vol. ll, No. r,2ot2 adalah relasi antar eleneen yang tampak Setiap upaya
studi Politik Edisi3, vol. ll, No. r,2ot2
adalah relasi antar eleneen yang tampak
Setiap upaya untuk menghubungkan atau
muncul di dalam wilayah diskursif, di
mengikat elemen-elemen dan
sekitar diskursus itu sendiri. Laclau dan
Mouffe memahami momen sebagai "the
mentransformasikannya menjadi sebuah
momen dinamakan artikulasi. Sementara
dffirential positions, insofar as they appear
makna yang dihasilkan melalui artikulasi
articulated within a discourse" (Laclau and
Mouffe, 2001:105). Y*g dimaksud dengan
posisi yang berbeda-beda adalah makna
dinamakan diskursus. Perlu diperhatikan
bahwa masing-masing elemen memang
merujuk pada objek tertentu, tapi tanpa
yang berbeda yang muncul sebagai akibat
konteks tertentu makna masing-masing
dari terhubungnya elemen-elemen dalam
kata atau penanda tersebut masih belum
wilayahdiskursif.
memiliki kaitan satu sama lainnva.
J
Kata "tsunami" sebagai kata yfrlrg berdiri
Elemen diskursus yarrg diartikulasikan
sendiri dan merujuk pada suatu bentuk
bencana alam berupa gulungan ombak
besar yffigmerusak dari laut atau danau.
menentukan perbedaan makna.
Perhatikan perbedaan dalam diskursus
perlindungan sosial berikut. Bagi
Namun, makna kata "tsunami" berubah
BAPPENAS, perlindungan sosial adalah
jika ia dihubungkan pada elemen-elemen
"tindakan publik untuk melindungi
lain, sehinggaiabisa dipahami sebagai (a)
gulungan air pasang yang merupakan
kehidupan dan kesejahteraan kelompok
tertinggal atau kelompok-kelompok yang
manifestasi kemarahan Tuhan karena
rentan dalam proses perubahan sosio-
manusia telah berdosa banyak; atau (b)
ekonorni dan pembangunan/ atau mereka
suatu rangkaian gelombang air pasang
yang rentan terhadap bencana alam atau
dalam skala besar yang disebabkan oleh
bentuk bencana lairurya". Bandingkan
gempa bumi, letusan gunung berapi,
dengan pengertian berikut: perlindungan
benturan meteor, atau ledakan bom nuklir
sosial merupakan "kewajiban negara, baik
yang terjadi di dasar laut. Elemen-elemen
sebagai penanggungjawab dan pihak yffig
yang dimunculkan dalam rangkaian pada
memfasilitasi, untuk melindungi
pemahaman pertama tentang tsunami
rakyatnya melalui program-program atau
adalah " gulungan air pasartg" ,
kebijakan-kebijakan yang akuntabel,
"manifestasi", "kemarahan Tuhan",
transparan, partisipatif dan yang mampu
"dosa manusia". Sementara pada
memberdayakan rakyat miskin dan rentan
pemahaman kedua, elemen-elemen
agar setiap manusia hidup secara
diskursif yang dirangkai adalah
bermartabat" (Nefwork for Transformathrc
"gulungan air pasang", "gempa bumi",
"letusan gunung betapi", "benturan
meteor", "ledakan nuklir", dan "dasar
S o ci aI P r o te ctio n, 2009) .
lau.t".
Tommy Ardian Pratama, Perlindungan Sosial Dalam artikulasi tentang perlindungan Dari paparan di atas kita mengetahui
Tommy Ardian Pratama, Perlindungan Sosial
Dalam artikulasi tentang perlindungan
Dari paparan di atas kita mengetahui
sosial yang pertama, elemen-elernen yang
bahwa (a) diskursus tentang suatu hal bisa
diartikulasikan adalah tindakan publik,
kehidupan, kesejahteraart, kelompok
tertinggal, kelompok rentan, perubahan
sosio-ekonomi dan bencana. Di sini
memiliki makna atau artikulasi yar.g
berbeda-beda; dan (b) makna atau
artikulasi diskursus tersebut ditentukan
oleh elemen yang dirangkai dalam
perlindungan sosial mensyaratkan adanya
berbagai momen diskursus (daiam hal ini:
perubahan sosio-ekonomi (krisis) yang
menimbulkan tingkat kerentanan, resiko
dan kerugian, sehingga perlindungan
perlindungan sosial). Jika artikulasi
diskursus ditentukan oleh elemen yang
dirangkai, lantas apa yang menentukan
sosial dipahami sebagai uPaya untuk
elemen-elemen yarr1 digunakan dalam
melindungi masyarakat yang rentan
diskurs tersebut? Pemilihan elemen atau
terhadap dampak perubahan tersebut.
kata-kata yang digunakan untuk
Dalam artikulasi ini perlindungan
menentukan artikulasi diskursus
merupakan sebuah tindakan negara untuk
dilatarbelakangi oleh kepentingan yang
merespon krisis. Hal ini berbeda dengan
ingin diwakiti lewat artikulasi tersebut.
artikulasi kedua. Elemen-elemen yang
Dengan mengidentifikasi elemen-elemen
dirangkai dalam artikulasi ini adalah
sebuah diskursus, kemudian dengan
kewajiban negara, program, akuntabel,
transparan, partisipatif, memberdayakan
mengidentifikasi kepentingan yang
diwakili olehartikulasi tersebut, kita dapat
martabat manusia. Dalam artikulasi
mengenali bahwa ideologi
ini perlindungan sosial dipahami sebagai
melatarbelakangi kepentingan tersebut.
kewajiban negara untuk melindungi
ladi, ideologi menentukan artikulasi
rakyat lewat pembangunan dan Program
pemberdayaan.
sebuah diskursus. Dengan demikian, jelas
bahwa tidak ada artikulasi yang netral.
Dengan menggunakan elemen yang
Dengan adanya berbagai artikulasi sebuah
berbeda-beda, titik berat kedua artikulasi
diskursus, maka kontestasi antar-
ini juga turut berbeda. Singkatnya, jika
artikulasi tidak terhindarkan. Di sini
dalam'diskursus pertama perlindungan
persaingan ditujukan melalui upaya untuk
sosial dipahami sebagai resPon atas krisis
meraih posisi tengah, yaitu untuk
atau dampak pernbangunan, diskursus
mendominasi makna sebuah diskursus
kedua memahami perlindungan sosial
sehingga makna tersebut diakui oleh
sebagai bentuk pembangunan Yang
banyakpihak.
b6rkelanjutan untuk melindungi martabat
manusia dari potensi krisis.

Studi Politik Edisi3, Vol. ll, No. t,2OI2

Fetis dalamldeologi

Pertanyaan selanjutny a, apayang menjadi

landasan artikulasi sebuah diskursus?

Gagasan dan makna yang terkandung

dalam suatu diskursus tidak datang tanpa

asal-usul melainkan datang dari ideologi

tertentu. Artikulasi sebuah diskursus

merupakan manifestasi sebuah ideologi di

tataran konsep dan tindakan. Namun,

bagaimana jika terdapat inkongruensi

(ketidaksesuaian) antara gagasan sebuah

ideologi dengan realitas? Dengan kata lairu

hal apa yang membuat seseorang tetap

mempercayai ideologi berikut

artikulasinya walau kenyataan ternyata

berkata lain? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus merujuk pada penjelasan

Jacques Lacan mengenai struktur

kesadaranmanusia.

Lacan menjelaskan bahwa struktur

kesadaran manusia beroperasi dengan sistem simbol yffigmencakup bahasa dan

imaji (lihat Lacan, 1986:115). Sistem simbol

ini, bagi Lacan, hanyalah medium yang

merepresentasikan realitas objek dalam kesadaran subjek. Di sini, sistem simbol

sepenuhnya dipengaruhi oleh latar

belakang kultural subjek, sehingga kata

bisa memiliki pemahaman yang berbeda-

beda tergantung pada budaya masing-

masing.

Sistem simbol hanya mereduksi realitas

objek yang dicerap panca indera. Ia tidak

mampu menyuguhkan realitas objek itu

;@.

sendiri sebagaimana objek tersebut bagi

dirinya sendiri. Sehingga dalam

merepresentasikan realitas objek tersebut,

sistem simbol masih menyisakan residu

realitas yang tidak bisa 'diserap' oleh

sistem simbolik. Residu inilah yang

kemudian direpresi masuk ke dalam alam

bawah sadar. Karena ada represi,

kesadaran berlaku seolah-olah apa yang

direpresentasikan sistem simbol adalah

realitas objek sebenamya. Kepura-puraan

ini dalam psikoanalisis disebut sebagai

fetis. Namury kepura-puraan ini bukannya

tanpa masalah. Apa yang direpresi ini

muncul kernbali ke kesadaran dalam bentuk

synrytom' untuk menunjukkan bahwa ada

sesuatu yang salah dalam sistem simbolik.

Ambil contoh misalnya kematian seorang

yang dicintai. Saya bisa menolak realitas

kematiannya dengan merepresi kenyataan

ini. Namun penolakan ini akan muncul

sewaktu-waktu dan