Anda di halaman 1dari 6

PEMBAHASAN

1. Konsep Manajemen Laba


Manajemen laba adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh pihak manajemen
yang menaikkan atau menurunkan laba yang dilaporkan dari unit yang menjadi
tanggung jawabnya yang tidak mempunyai hubungan dengan kenaikan atau penurunan
profitabilitas perusahaan untuk jangka panjang. Dengan demikian, manajemen laba
dapat diartikan sebagai suatu tindakan manajemen dalam mempengaruhi laba yang
dilaporkan dan memberikan manfaat ekonomi yang keliru kepada perusahaan, sehingga
dalam jangka panjang hal tersebut akan sangat mengganggu bahkan membahayakan
perusahaan. Definisi manajemen laba dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Arti Sempit
Manajemen laba dalam hal ini hanya berkaitan dengan pemilihan metode
akuntansi. Earnings management dalam artian sempit ini didefinisikan sebagai
perilaku manajemen untuk “bermain” dengan komponen discretionary accruals
dalam menentukan besarnya earnings.
b. Arti Luas
Manajemen laba merupakan tindakan manajer untuk meningkatkan (mengurangi)
laba yang dilaporkan saat ini atas suatu unit dimana manajer bertanggung jawab,
tanpa mengakibatkan peningkatan (penurunan) profitabilitas ekonomi jangka
panjang unit tersebut.
Manajemen laba sebagai suatu intervensi dengan maksud tertentu terhadap
proses pelaporan keuangan eksternal dengan sengaja memperoleh beberapa
keuntungan pribadi. Manajemen laba terjadi ketika manajer menggunakan
judgment dalam pelaporan keuangan dan penyusunan transaksi untuk merubah
laporan keuangan, sehingga menyesatkan stakeholder tentang kinerja ekonomi
perusahaan atau untuk mempengaruhi hasil yang berhubungan dengan kontrak yang
tergantung pada angka akuntansi yang dilaporkan. Manajemen laba merupakan
pemilihan kebijakan akuntansi untuk mencapai tujuan khusus.
Tujuan manajemen laba adalah memanipulasi besaran laba yang dilaporkan
kepada para pemegang saham dan mempengaruhi hasil perjanjian yang bergantung
pada angka-angka akuntansi yang dilaporkan. Fischer dan Rosenzweig (1995)
memandang earnings management sebagai serangkaian langkah yang dilakukan

1
manajer untuk meningkatkan atau menurunkan jumlah laba yang dilaporkan dalam
tahun berjalan yang merupakan tanggung jawabnya tanpa menyebabkan penurunan
atau peningkatan keuntungan yang dicapai suatu badan usaha dalam jangka
panjang.
Ada tiga sasaran yang dapat dicapai oleh manajer dalam melakukan manajemen
laba meliputi: minimalisasi biaya politik (political cost minimization),
maksimalisasi kesejahteraan manajer (manager wealth maximization), dan
minimalisasi kas pendanaan (minimization of financing cost). Faktor-Faktor
Penyebab Munculnya Manajemen Laba:

a. Manajemen Akrual (accruals management)


Faktor ini biasanya berkaitan dengan segala aktivitas yang dapat mempengaruhi
aliran kas dan juga keuntungan yang secara pribadi merupakan wewenang dari
para manajer (managers discretion).
b. Penerapan Suatu Kebijaksanaan Akuntansi yang Wajib
Faktor ini berkaitan dengan keputusan manajer untuk menerapkan suatu
kebijaksanaan akuntansi yang wajib diterapkan oleh perusahaan, yaitu antara
menerapkannya lebih awal dari waktu yang ditetapkan atau menundanya
sampai saat berlakunya kebijaksanaan tersebut.
c. Perubahan Aktiva Secara Sukarela
Faktor ini biasanya berkaitan dengan upaya manajer untuk mengganti atau
merubah suatu metode akuntansi tertentu diantara sekian banyak metode yang
dapat dipilih yang tersedia dan diakui oleh badan akuntansi yang ada (Generally
Accepted Accounting Principles).

2. Motivasi Manajemen Laba


Sugiri (2005) menyatakan bahwa salah satu motivasi manajemen laba adalah
mengelabui kinerja ekonomi yang sebenarnya, dan itu dapat terjadi karena terdapat
ketidaksimetrian informasi antara manajemen dan para pemegang saham suatu badan
usaha. Motivasi manajemen laba lainnya adalah mempengaruhi penghasilan (telah
diatur dalam kontrak) yang bergantung pada angka-angka akuntansi yang dilaporkan
dengan asumsi bahwa manajemen memiliki kepentingan pribadi dan kompensasinya
didasarkan pada laba akuntansi.

2
Faktor-faktor yang memotivasi pihak manajemen untuk melakukan manajemen
laba adalah sebagai berikut:
a. Program Bonus (Bonus Plan).
Adanya asimetri informasi mengenai keuangan perusahaan menyebabkan pihak
manajemen dapat mengatur laba bersih untuk memaksimalkan bonus mereka. Pada
motivasi ini, diasumsikan bahwa manajer meningkatkan keuntungan yang
dilaporkan dalam upaya untuk memaksimalkan imbalan bonus yang akan diterima.
Manajer pada perusahaan yang menerapkan program bonus lebih cenderung untuk
menggunakan metode atau prosedur-prosedur akuntansi yang akan menaikkan laba
saat ini dengan memindahkan laba periode mendatang ke periode berjalan.
b. Kontrak Utang (Debt Covenant)
Semakin dekat suatu perusahaan ke waktu pelanggaran kontrak utang, manajemen
akan cenderung memilih metode akuntansi yang dapat ‘memindahkan’ laba periode
mendatang ke periode berjalan, yang bertujuan untuk mengurangi kemungkinan
perusahaan mengalami technical defauld (kegagalan dalam pelunasan hutang).
c. Motivasi Politis (Political Motivation).
Perusahaan besar yang menguasai hajat hidup orang banyak akan cenderung
menurunkan labanya untuk mengurangi visibilitasnya, misalnya dengan
menggunakan praktik atau prosedur akuntansi, khususnya selama periode
kemakmuran tinggi.
d. Motivasi Pajak (Taxation Motivation).
Salah satu insentif yang dapat memicu manajer untuk melakukan rekayasa laba
adalah keinginan untuk meminimalkan pajak atau total pajak yang harus dibayarkan
perusahaan. Hal ini karena laba sering dijadikan landasan untuk mengambil
keputusan, menyusun kontrak maupun penilaian kinerja suatu manajer.
e. Pergantian CEO (Chief Executive Officer).
Banyak motivasi yng timbul disekitar waktu penggantian CEO. Contohnya, CEO
yang mendekati masa pensiun (tugas akhirnya) akan melakukan strategi
memaksimalkan laba untuk meningkatkan bonusnya.
f. IPO (Initial Public Offering).
Perusahaan yang baru pertama kali menawarkan sahamnya dipasar modal belum
memiliki harga pasar, sehingga terdapat masalah bagaimana menetapkan nilai
saham yang ditawarkan. Oleh karena itu, informasi seperti laba bersih dapat
digunakan sebagai sinyal kepada calon investor tentang nilai perusahaan, sehingga
3
manajemen perusahaan yang akan go public cenderung melakukan manajemen laba
untuk memperoleh harga lebih tinggi atas sahamnya.

3. Terjadinya Manajemen Laba melalui Manipulasi Akuntansi


Manajemen laba yang dilakukan manajemen biasanya dilakukan melalui
manipulasi akuntansi. Manipulasi akuntansi merujuk pada pengubahan catatan
akuntansi secara sengaja dari yang seharusnya untuk memperoleh posisi atau kondisi
keuangan tertentu dengan tujuan akhir berupa perubahan sikap pemangku kepentingan
sesuai dengan yang diinginkan pihak manajemen. Manipulasi akuntansi tidak memiliki
dampak terhadap aliran kas atau faktor ekonomi nyata lainnya.
a. Manipulasi yang Melanggar PABU
Mencakup pelanggaran nyata terhadap PABU dalam konteks pendekatan akuntansi
berbasis aturan. Macam-macam pelanggaran ini antara lain: transaksi fiktif dengan
cara menambah (mark up) atau mengurangi (mark down) nilai transaksi, atau
mungkin dengan tidak melaporkan sejumlah transaksi, percepatan pengakuan
pendapatan dengan mengubah tanggal menjadi lebih awal, pengakuan biaya sebagai
aset, dll.
b. Manipulasi yang Selaras dengan PABU
Memanipulasi laba dengan menggunakan fleksibilitas yang diperbolehkan GAAP
(Generally Accepted Accounting Principles). Manipulasi ini dikelompokkan
menjadi 3 kelompok yaitu:
1) Pemilihan Metode
Cara ini meliputi pengubahan metode yang sebelumnya digunakan ke metode
lain yang lebih menguntungkan. Misalnya pengubahan metode alokasi
depresiasi dan aliran biaya pada persediaan. Hal ini dimungkinkan dengan
adanya berbagai alternatif yang tersedia di PABU. Namun demikian, cara ini
tidak terlalu efektif untuk memanipulasi laba. Pertama, pemilihan metode harus
diungkap dalam catatan laporan keuangan sehingga tidak terlalu sulit bagi
pihak‐pihak yang berkepentingan untuk mendeteksi apa yang terjadi (i.e.
manipulasi akuntansi bila terjadi). Kedua, cara ini tidak dapat sering digunakan,
karena pengubahan metode yang terlalu sering tentu akan menimbulkan
kecurigaan.

4
2) Pengubahan Unsur‐Unsur Estimasi
Manajemen menggunakan metode ini untuk memanipulasi laba dengan
mengubah estimasi akuntansi. Ini dilakukan dengan mengubah unsur‐unsur
estimasi seperti pada umur ekonomis dan nilai sisa pada aset jangka panjang,
perkiraan piutang tak tertagih, serta asset impairments. Manipulasi laba
semacam ini sangat sulit dideteksi oleh investor secara umum.
3) Penstrukturan Transaksi
Penstrukturan transaksi, secara akuntansi, dilakukan dengan menyesuaikan
unsur‐unsur transaksi. Contoh yang umum untuk cara ini adalah penstrukturan
sewa guna usaha (i.e. capital atau operating leasse), investasi saham/ekuitas (i.e.
dikonsolidasi atau tidak dikonsolidasi).

4. Pola Manajemen Laba


Pola manajemen laba dapat dilakukan dengan cara:
a. Taking a Bath
Hal ini terjadi selama periode pada saat terjadinya reorgenerasi, termasuk adanya
pergantian pimpinan baru. Jika manajer merasa harus melaporkan kerugian, maka
ia akan melaporkan dalam jumlah yang besar. Dengan tindakan ini manajer
berharap dapat meningkatkan laba yang akan datang dan kesalahan atas kerugian
perusahaan dapat dilimpahkan kepada manajer lama. Konsekuensinya, mereka akan
menghapus aset, menyediakan biaya yang diharapkan di masa mendatang, dan
secara umum akan meningkatkan probabilitas keuntungan yang dilaporkan di masa
datang.
b. Income Minimization
Pola ini mirip dengan taking a bath tetapi lebih halus. Cara ini dilakukan pada saat
profitabilitas perusahaan sangat tinggi, sehingga jika periode yang akan datang
diperkirakan laba turun drastis dapat diatasi dengan mengambil laba periode
sebelumnya
c. Income Maximization
Dilakukan pada saat laba menurun. Tindakan atas income maximization bertujuan
untuk melaporkan net income yang tinggi untuk tujuan bonus yang besar. Pola ini
dilakukan oleh perusahaan yang melakukan pelaggaran perjanjian hutang. Pola ini
dapat dilakukan dengan mengakui pendapatan terlebih dahulu, dan menunda
pengakuan beban.
5
d. Income Smoothing
Dilakukan perusahaan dengan cara meratakan laba yang dilaporkan sehingga dapat
mengurangi fluktuasi laba yang dilaporkan dan dapat meningkatkan kemampuan
investor untuk memprediksi aliran kas di masa yang akan datang karena pada
umumnya investor lebih menyukai aliran laba yang relatif stabil. Perataan laba
dapat dihasilkan dari hal-lah berikut ini:
1) Natural income smoothing, yaitu proses pembentukan laba secara inheren
menghasilkan suatu stream earnings yang relatif merata, seperti yang terjadi
pada utilitas publik (Eckel, 1981).
2) Intentional income smoothing, yaitu yang disebabkan oleh tindakan manajemen
yang dapat digolongkan ke dalam dua hal di bawah ini.
3) Real income smoothing (RIS), yang merupakan respon manajer terhadap
perubahan kondisi perekonomian. Hasil investigasinya menunjukkan hasil
bahwa RIS mempengaruhi aliran kas perusahaan.
4) Artificial income smoothing (AIS), yaitu upaya manajer untuk secara "artifisial"
mengurangi variabilitas laba. Hasil investigasinya menunjukkan hasil bahwa
AIS tidak memiliki dampak langsung terhadap aliran kas perusahaan.