Anda di halaman 1dari 13

KLIPING

PROSES PENYUSUNAN DAN

PERUBAHAN UUD 1945

GURU PEMBIMBING
ERNAWATI, S.Pd.

DISUSUN OLEH :
 AJIB SAPUTRA (02)
 M. RADIT INDRA SAPUTRA (15)
 PUTRI AMELIA ARISTAWATI (07)
 SYAMUTIA NEVA ARDELIA (23)
 YESSY IKA MARIANI (09)
 YOGHI ANDRIAN CAHYONO (26)

SMP NEGERI I SUKOSEWU


TAHUN PELAJARAN 2019/2020
i

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil ‘alamin terima kasih penulis sampaikan kepada hadirat


Allah Swt Yang Maha Kuasa atas rahmat dan bimbingan-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan kliping“ Proses Penyusunan UUD 1945 ”yang dapat diselesaikan tepat
waktu.

Jangan lupa kami sebagai penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Ibu
Ernawati, S.Pd. sebagai guru Pembimbing yang telah memberikan tugas ini kepada
penulis sehingga penulis mendapat banyak pengetahuan dan pengalaman baru.

Penulis juga menyadari bahwa kliping yang ditulis penulis memiliki banyak
kekurangan dan perlu diperbaiki. Maka dari itu penulis sangat terbuka dalam menerima
kritik dan saran serta masukan yang membangun dari semua pihak.

Sukosewu November 2019

Penyusun

i
ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................................... i


DAFTAR ISI................................................................................................................... ii
Proses Penyusunan dan Perubahan UUD 1945 ...............................................................1
Proses BPUPKI Dalam Pembentukan UUD ................................................................1
Penyusunan UUD 1945 ...............................................................................................1
1. Sidang BPUPKI I .................................................................................................2
2. Panitia Sembilan ..................................................................................................2
3. Sidang BPUPKI II ...............................................................................................2
Proses Persidangan PPKI Dalam Pembentukan UUD .............................................3
Pengesahan UUD 1945 ............................................................................................3
Pelaksanaan UUD 1945 ...............................................................................................4
Periode 18 Agustus 1945 – 27 Desember 1949 .......................................................4
Periode 17 Agustus 1950 – 5 Juli 1959 (UUDS 1950) ............................................5
Periode 5 Juli 1959 – 1966 (Masa Pemerintahan Orde Lama) ................................5
Periode 1966 – 1998 (Masa Pemerintahan Orde Baru) ...........................................6
Periode 21 Mei 1998 – 19 Oktober 1999 .................................................................7
Periode 19 Oktober 1999 sampai sekarang (Masa Reformasi) ................................7
PERUBAHAN UUD 1945 ..........................................................................................7
Amandemen UUD 1945 ..........................................................................................7
HASIL AMANDEMEN / PERUBAHAN UUD 1945 ............................................8

ii
1

Proses Penyusunan dan Perubahan UUD 1945

Telah kita ketahui bahwa konsitusi merupakan hukum dasar tertulis yang menandai
lahirnya suatu bangsa. Dengan konstitusi, segala sesuatu yang berhubungan dengan
negara diatur di dalamnya. Begitu pula hubungan negara dengan warga negara yang
tinggal dan kekuasaan yang ada.

Konstitusi Indonesia adalah Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang berlaku sejak 18
Agustus 1945. Artikel ini akan membahas dan mengurai secara jelas sejarah UUD
1945 mulai dari sejarah terbentuknya, sejarah diberlakukannya, penyimpangan
terhadap UUD 1945, sampai amandemen UUD 1945 yang diberlakukan sampai
sekarang.

Proses BPUPKI Dalam Pembentukan UUD

Jepang masuk ke Indonesia menggantikan Pemerintahan Kolonial Belanda pada tahun


1942. Dengan mengaku sebagai “saudara tua” banyak cara dilakukan Jepang untuk
menarik simpati rakyat Indonesia. Terutama ketika Jepang mulai mengalami kekalahan
di Pasifik pada awal tahun 1945. Badan penyelidik usaha-usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (BUPKI) dibentuk oleh Pemerintah Kolonial Jepang tanggal 1
Maret 1945 dengan janji kemerdekaan. BPUPKI yang dalam Bahasa Jepang disebut
Dokoritsu Junbi Cosakai diumumkan terbentuknya oleh Jenderal Kumakichi Harada.

Setelah satu bulan lebih pengumuman terbentuknya, barulah tanggal 28 April 1945
diresmikan pengurus BPUPKI dan anggota-anggotanya. Peresmian dilakukan di
Gedung Cuo Sang In, Pejambon atau Gedung Departemen Luar Negeri sekarang.
Ketua BPUPKI yang ditunjuk oleh Jepang adalah dr. Rajiman Widiodiningrat,
wakilnya Icibangase, dan sekretarisnya Soeroso. Jumlah anggota BPUPKI dari seluruh
Indonesia adalah 63 orang. Beberapa anggota BPUPKI antara lain Drs. Muhammad
Hatta, KH Wahid Hasyim, Haji Agus Salim, dan Ir. Sukarno. (Baca juga: Sejarah
BUPKI)

Penyusunan UUD 1945

BPUPKI didirikan dengan tujuan mempersiapkan Indonesia yang merdeka. Di antara


persiapan-persiapan tersebut adalah penyusunan rancangan dasar negara dan undang-
undang dasar. Tahapan-tahapan sampai disusunnya rancangan undang-undang dasar
untuk Indonesia merdeka adalah sebagai berikut :

1
2

1. Sidang BPUPKI I

BPUPKI selama dibentuk melakukan dua kali persidangan. Persidangan pertama, 29


Mei sampai 1 Juni 1945. Sidang ini membahas penyusunan dan pembentukan dasar
negara. Pada sidang ini ada tokoh perumusan pancasila Mr. Mohammad Yamin,
Soepomo, dan Ir Soekarno mengajukan usulan yang hampir mirip, yaitu lima dasar
negara. Kemudian pada tanggal 1 Juni, Ir Sukarno menamakan rancangan dasar
negaranya sebagai Pancasila. Sekarang, 1 Juni dikenal sebagai hari lahir Pancasila.

2. Panitia Sembilan

Masa persidangan BPUPKI yang pertama sampai berakhirnya belum berhasil


merumuskan dasar negara Indonesia. Sidang ini reses (istirahat) selama satu bulan.
Untuk menyelesaikan perumusan dasar negara, maka dibentuk Panitia Sembilan yang
bertugas membuat rancangannya. Disebut Panitia Sembilan, karena anggotanya terdiri
dari Sembilan tokok BPUPKI, yaitu Ir. Sukarno sebagai ketua, Abduk Kahar
Muzakkar, A.A Maramis, Drs. Mohammad Hatta, Abikusno Cokrosuryo, KH. Wahid
Hasyim, Mr. Mohammad Yamin, dan Ahmad Subardjo.
Panitia Sembilan bekerja dengan sangat terorganisir dan cerdas. Sehingga pada tanggal
22 Juni 1945 berhasil membuat rumusan dasar negara (Pancasila) untuk Indonesia
merdeka. Rumusan dasar negara tersebut oleh Mr. Mohammad Yamin disebut sebagai
Piagam Jakarta atau Jakarta Chartered. Isi Piagam Jakarta tersebut kita kenal sekarang
sebagai Pembukaan UUD 1945 dari alinea pertama sampai keempat, dengan perbaikan
bahasa dan perubahan bunyi sila pertama dari dasar negara Pancasila. (baca
juga: Konstitusi Republik Indonesia Serikat)

3. Sidang BPUPKI II

Setelah masa reses dari sidang BPUPKI yang pertama selama sekitar satu bulan,
BPUPKI mengadakan sidang yang kedua pada tanggal 10 Juli sampai 16 Juli 1945.
Sidang kedua BPUPKI membahas rancangan undang-undang dasar yang akan
digunakan Indonesia merdeka. Untuk memperlancar pembahasan sidang. maka pada
sidang kali ini langsung dibentuk Panitia Perancang Undang-Undang Dasar yang
diketuai oleh Ir Soekarno. Kemudian panitia tersebut membentuk panitia yang lebih
kecil dengan anggota tujuh orang untuk membuat rancangan undang-undang. Anggota
panitia yang lebih kecil ini adalah Mr.Supomo sebagai ketua, Wongsonegoro, Ahmad
Subardjo, Singgih, H. Agus Salim, dan Sukirman.

Panitia kecil berhasil menyusun rancangan undang-undang dasar Indonesia merdeka.


Rancangan undang-undang dasar yang dihasilkan panitia kecil ini disempurnakan /
diperhalus bahasanya oleh Panitia Penghalus Bahasa. Panitia yang menyempurnakan

2
3

dan memperhalus bahasa dalam rancangan undang-undang dasar yang dibuat terdiri
atas Husein Jayadiningrat, H. Agus Salim, dan Mr Supomo. Setelah disempurnakan
oleh Panitia Penghalus Bahasa, pada tanggal 14 Juli 1945 Ir Sukarno melaporkan hasil
kerja panitianya di depan sidang BPUPKI II. Dalam laporan tersebut, Ir Sukarno
membagi rancangan undang-undang dasar menjadi tiga bagian, yaitu pernyataan
Indonesia merdeka, pembukaan undang-undang dasar, dan batang tubuh undang-
undang dasar. Dan hari terakhir sidang, 17 Juli 1945, rancangan undang-undang dasar
resmi diterima oleh Sidang Pleno BPUPKI.

Proses Persidangan PPKI Dalam Pembentukan UUD

Gerakan BPUPKI dianggap terlalu cepat ingin Indonesia yang merdeka. Maka
Pemerintah Jepang , 7 Agustus 1945 BPUPKI membubarkan dan menggantinya
dengan PPKI, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau Dokoritsu Junbi Inkai
dalam Bahasa Jepang. Jepang menunjuk Ir Sukarno sebagai ketua dan Drs.
Mohammad Hatta sebagai wakilnya. Kepada kedua tokoh ini, Jepang menjanjikan
kemerdekaan Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1945. Janji itu diberikan saat
dipanggil ke Dalat, Vietnam, 12 Agustus 1945, oleh Jendral Terauchi mewakili
Pemerintah Jepang.

Pengesahan UUD 1945

Setelah Jepang menyerah pada sekutu, di Inodnesia terjadi kekosongan kekuasan.


Golongan pemuda berhasil mendesak Ir Sukarno dan Muhammad Hatta untuk
memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, di Jl Pegangsaan Timur
Nomor 56, Jakarta. Sejarah kemerdekaan Indonesia dimulai pada saat pembacaan
proklamasi. Proklamasi merupakan langkah awal berdirinya Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Untuk melengkapi syarat ketetanegaraan dan mengatur NKRI
yang wilayahnya begitu luas, yaitu seluruh wilayah bekas jajahan Hindia

Sidang PPKI, 18 Agustus 1945, menghasilkan beberapa keputusan. Salah satu


keputusannya adalah mengesahkan undang-undang dasar bagi Indonesia merdeka.
Undang-undang dasar yang disahkan ini sampai sekarang dikenal dengan sebutan
UUD 1945. Bagian UUD 1945 yang disahkan yaitu:

 Pembukaan UUD 1945, pembukaan UUD 1945, diambil dari naskah Piagam
Jakarta dengan sedikit penyesuaian bahasa dan perubahan pada dasar negara
Indonesia sila pertama. Sila pertama yang awalnya berbunyi Ketuhanan dengan
kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, atau usul Drs.
Mohammad Hatta diubah menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Pembukaan

3
4

UUD 1945 ini sudah lengkap berisi pernyataan kemerdekaan Indonesia dan
dasar negara Indonesia, Pancasila. Ada 4 alinea dan pokok pikiran dalam
pembukaan UUD 1945.
 Batang Tubuh UUD 1945, batang tubuh UUD 1945 ikut disahkan langsung
oleh PPKI, 18 Agustus 1945. Batang tubuh ini mengambil dari rancangan
undang-undang dasar yang telah disusun oleh BPUPKI, 17 Juli 1945.

Pengesahan UUD 1945 dikukuhkan kembali oleh Komite Nasional Indonesia Pusat
(KNIP) pada sidangnya yang pertama, yaitu 29 Agustus 1945. Dengan demikian,
Indonesia sudah menetapkan Pancasila sebagai dasar negara dan UUD 1945 yang
sesuai dengan kepribadian bangsa.

Pelaksanaan UUD 1945

Selama kurun waktu Indonesia merdeka sampai sekarang, sejarah UUD 1945
mengalami pasang surut. Terjadi penyimpangan-penyimpangan dari masa ke masa,
sampai akhirnya terjadi amandemen UUD 1954 yang kita pakai saat ini. Tahapan atau
periode pelaksanaan UUD 1945 secara berurutan diuraikan dalam tahapan konsitusi
yang pernah berlaku di Indonesia, di bawah ini.

Periode 18 Agustus 1945 – 27 Desember 1949

Sejak disahkannya, 18 Agustus 1945, UUD 1945 belum bisa dilaksanakan sepenuhnya.
Ini terjadi karena kondisi Indonesia yang sedang berada dalam masa peralihan,
sehingga banyak hal yang masih harus dibenahi oleh pemerintah Indonesia. Selain itu,
Indonesia juga disibukkan oleh perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Beberapa hal yang belum sesuai dengan UUD 1945 pada periode ini adalah:

 Belum adanya lembaga legislatif di negara, sehingga presiden sebagai


pemegang kekuasaan pemerintah mempunyai wewenang yang sangat luas.
Baru kemudian, 16 Oktober 1945, dikeluarkan Maklumat Presiden Nomor X
yang memutuskan bahwa KNIP diberi kekuasaan legislatif selama MPR dan
DPR belum dibentuk.
 Sistem pemerintahan presidensil diganti dengan sistem pemerintahan semi
presidensil (semi parlementer), pada tanggal 14 November 1945. Periode 27
Desember 1949 – 17 Agustus 1950 (UUD RIS)

Sebulan setelah Konfrensi Meja Bundar, yang dihadiri perwakilan Indonesia, Belanda,
Negara Boneka Belanda, dan PBB ditandatangani pendirian negara Republik Indonesia
Serikat (RIS), 27 Desember 1949. Mengikuti berdirinya negara RIS, undang-undang
yang berlaku adalah UUD RIS. Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi-bagi

4
5

menjadi bebrapa negara bagian. Indonesia yang dipimpin oleh Presiden Sukarno hanya
meliputi Pulau Jawa dan beberapa wilayah Sumatra.

Periode 17 Agustus 1950 – 5 Juli 1959 (UUDS 1950)

Republik Indonesia Serikat tidak berlangsung lama. Dalam kronologi pembubaran


RIS, Sedikit demi sedikit beberapa wilayah negaranya bergabung dengan wilayah
Republik Indonesia. Sampai akhirnya, 17 Agustus 1950, diperingatan HUT RI yang
kelima, semua negara bagian RI memutuskan kembali bergabung menjadi NKRI.
Usaha Belanda untuk memecah belah dan kembali menguasai Indonesia mengalami
kegagalan. Rakyat Indonesia tetap berkeinginan di bawah Negara Kesatuan Republik
Indonesia.

Namun, kembalinya Indonesia menjadi negara kesatuan republik tidak menyebabkan


UUD 1945 langsung berlaku dan digunakan kembali. Presiden memutuskan
menggunakan Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS)dan membentuk Konstituante
untuk membuat undang-undang dasar baru. Karena UUDS berlaku sejak tahun 1950,
maka lebih dikenal dengan sebutan UUDS 1950.
Pada masa ini terjadi kekacuan, antara lain :

 UUDS memberlakukan demokrasi parlementer yang mengarah pada demokrasi


liberal. Akibatnya kabinet sering berganti dan pembangunan menjadi tersendat.
 Presiden menjadi lembaga pemerintah satu-satunya yang tidak dapat diganggu
gugat.
Konstituante yang dibentuk untuk menyusun undang-undang baru gagal
melaksnakan tugasnya.
 Unntuk menyelematkan negara yang sudah dalam kondisi genting, Presiden
mengeluarkan Dekrit, 5 Juli 1959. Isi dari Dekrit Presiden mengumumkan
berlakunya kembali UUD 1945 dan UUDS 1950 tidak digunakan lagi,

Periode 5 Juli 1959 – 1966 (Masa Pemerintahan Orde Lama)

Setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Indonesia kembali melaksanakan UUD 1945.
Presiden membubarkan Konstituante, membentuk DPRS, MPRS, dan MA. Namun
pada pelaksanaanya masih banyak terjadi penyimpangan. Pemerintahan masa ini
disebut sistem pemerintahan orde lama yang mempunyai ciri demokrasi terpimpin,
bukan demokrasi pancasila. Di antara penyimpangan-penyimpangan terhadap UUD
1945 pada masa ini, yaitu:

 Diangkatnya ketua DPRS, MPRS, dan ketua MA sekaligus sebagai menteri


negara.

5
6

 Presiden sebagai pemegang kekuasaan eksekutif dapat membuat UU tanpa


persetujuan DPR
 Presiden sebagai kepala negara juga merupakan ketua DPAS
MPR menetapkan Presiden Sukarno menjadi presiden seumur hidup.
 Pidato Presiden Sukarno yang berjudul Penemuan Kembali Revolusi Kita
(Manifesto Politik), 17 Agustus 1950, dijadikan sebagai Garis-Garis Besar
Haluan Negara (GBHN). Padahal fungsi GBHN dalam pembangunan nasional
sangatlah strategis.
 Pada tahun 1960, DPRS tidak menyetujui Rancangan Anggaran Belanja Negara
(RABN) yang diajukan pemerintah. Akibatnya Presiden membubarkan DPRS
dan menggantinya dengan Dewan Perwakilan Rakyat Gotong royong (DPR-
GR).
 Kekuasaan Presiden tidak terbatas dan tidak dapat diganggu gugat.

Penyimpangan-penyimpangan terhadap Pancasila dan UUD 1945 membuat situasi


negara tidak terkendali. Berbagai pemberontakan terjadi. Puncaknya adalah
Pemberontakan yang kemudian dikenal dengan Gerakan 30 September 1965
(pemberontakan G30S / PKI).

Periode 1966 – 1998 (Masa Pemerintahan Orde Baru)

Pemberontakan G30S/PKI membuat situasi bertambah darurat. Persediaan barang


kebutuhan pokok terb atas dan harga yang menjulang tinggi. Pada tanggal 11 Maret
1966, Presiden menyerahkan kekuasaan kepada Letnan Jendral Suharto, yang saat itu
menjabat sebagai Kepala Kostrad Angkatan Darat. Surat penyerahan kekuasaan
tersebut dikenal dengan sebutan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar), yang
menandai lahirnya kekuasaan Orde baru. Supersemar menjadi pemerintah orde
baru.. Pemerintahan Orde Baru, pada awalnya bertekad akan menjalankan Pancasila
dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Hal ini dibuktikan dengan pembentukan
lembaga-lembaga pemerintah yang tidak lagi sementara dan dilanjutkan dengan
diselenggrakannya Pemilu pertama mas Orde Baru, tahun 1969.

Namun, pada kenyataannya, tidak jauh berbeda dengan masa pemerintahan Orde
Lama, masa pemerintahan Orde Baru juga melakukan banyak penyimpangan terhadap
UUD 1945. Penyimpangan-penyimpangan tersebut, antara lain :

 Pemusatan kekuasaan di tangan presiden, di mana lembaga-lembaga negara


yang ada dikendalikan oleh Presiden.
 Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) yang mementingkan kepentingan
pribadi dan golongan di atas kepentingan negara merajalela.

6
7

 Kebebasan pers dibelenggu. Pers yang tidak sejalan dengan pemerintah akan
dibekukan surat ijinnya.
 Pembatasan hak-hak politik rakyat dengan hanya mengijinkan adanya 3 partai
politik, yaitu PPP, Golkar, dan PDIP.

Masa pemerintahan Orde Baru berakhir dengan demonstrasi besar-besaran dari


mahasiswa. Mahasiswa yang berdemo menuntut refoemasi di segala bidang berakhir
dengan mundurnya Presiden Suharto sebagai presiden, 21 Mei 1998.

Periode 21 Mei 1998 – 19 Oktober 1999

Sejarah UUD dari periode ini dikenal sebagai masa transisi ke masa reformasi. Wakil
presiden BJ Habibie diangkat menjadi Presiden menggantikan Presiden Suharto.
Pelaksanaan UUD 1945 masa ini diguncang dengan lepasnya wilayah timor Timur dari
NKRI.

Periode 19 Oktober 1999 sampai sekarang (Masa Reformasi)

Aksi mahasiswa tahun 1998 yang melahirkan reformasi, salah satu tuntutannya adalah
perubahan terhadap UUD 1945. Mereka beranggapan bahwa UUD 1945 yang ada
menyebabkan banyak peluang penyimpangan. Masa ini ingin menerapkan demokrasi
era reformasi. Maka, sejak masa ini UUD 1945 mengalami 4 kali perubahan yang
dikenal dengan amandemen UUD 1945.

PERUBAHAN UUD 1945

Amandemen UUD 1945

Sesuai tuntutan reformasi, dilakukan perubahan terhadap UUD 1945. Tujuan


amandemen UUD 1945, antara lain :

 Merubah struktur kekuasaan yang ada pada UUD 1945 agar tidak berpusat pada
satu lembaga negara
 Menyesuaikan dengan perkembangan zaman.
 Menyempurnakan pasal-pasal yang belum jelas aturannya

Amandemen UUD 1945 dilakukan dengan kesepakatan, yaitu :

 Tidak mengubah bentuk negara kesatuan (NKRI) dan sistem pemerintahan


presidensil
 Tidak akan mengubah Pembukaan UUD 1945 dan menghapus bagian
penjelasan
 Amandemen dilakukan dengan tetap mempertahankan naskah asli (adendum).

7
8

Amandemen UUD 1945 dilakukan sebanyak 4 kali, yaitu tahun 1999, 2000,2001, dan
2002 (dapat dibaca di artikel peridode konstitusi di Indonesia). Perubahan yang terjadi
antara lain :

 Perubahan terhadap lembaga-lembaga negara dan pembagian


kekuasannya. Lembaga DPA dihapuskan dan adanya lembaga baru, yaitu
Mahkamah Konsitusi (MK) dan Komisi Yudisial (KY).
 Pasal-pasal lebih rinci tentang hubungan negara dengan warga negara.
 Pasal-pasal lebih rinci temtang pemerintah pusat dan pemerintah daerah
 Pasal-pasal lebih rinci tentang pelaksanaan hak asasi manusia di Inodnesia.

Demikian sejarah panjang UUD 1945 mulai dari terbentuknya hingga amandemen
UUD 1945. Kita berharap pelaksanaannya pada masa ini tidak lagi banyak terjadi
penyimpangan.

HASIL AMANDEMEN / PERUBAHAN UUD 1945


Amandemen Pertama
Perubahan ini meliputi 9 pasal, 16 ayat yang Ditetapkan pada tanggal 19-Oktober-
1999, yaitu:

 Pasal 7: Tentang Pembatasan masa jabatan Presiden dan Wakil Presiden


 Pasal 13 ayat 2 dan 3: Tentang Penempatan dan Pengangkatan Duta
 Pasal 5 ayat 1: Tentang Hak Presiden untuk mengajukan RUU kepada DPR
 Pasal 14 ayat 1: Tentang Pemberian Grasi dan Rehabilitasi
 Pasal 15: Tentang Pemberian tanda jasa, gelar, serta kehormatan lain
 Pasal 9 ayat 1 dan 2: Tentang Sumpah Presiden dan Wakil Presiden
 Pasal 21: Tentang Hak DPR untuk mengajukan RUU
 Pasal 14 ayat 2: Tentang Pemberian abolisi dan amnesty
 Pasal 20 ayat 1-4: Tentang DPR
 Pasal 17 ayat 2 dan 3: Tentang Pengangkatan Menteri

Amandemen Kedua
Perubahan ini tersebar dalam 7 Bab yang Ditetapkan tanggal 18-Agustus-2000, yaitu:

 Bab IX A: Tentang Wilayah Negara


 Bab VI: Tentang Pemerintahan Daerah

8
9

 Bab XA: Tentang Hak Asasi Manusia (HAM)


 Bab VII: Tentang Dewan Perwakilan Daerah (DPR)
 Bab XV: Tentang Bahasa, Bendera, Lagu Kebangsaan dan Lambang Negara
 Bab X: Tentang Penduduk dan Warga Negara
 Bab XII: Tentang Pertahanan dan Keamanan

Amandemen Ketiga
Perubahan ini tersebar dalam 7 Bab yang Ditetapkan tanggal 9-November-2001, yaitu:

 Bab II: Tentang MPR


 Bab I: Tentang Bentuk dan Kedaulatan
 Bab VIII A: Tentang BPK (Badan Pemeriksa keuangan)
 Bab III: Tentang Kekuasaan Pemerintahan Negara
 Bab VII A: Tentang DPR
 Bab V: Tentang Kementrian Negara
 Bab VII B: Tentang Pemilihan Umum

Amandemen Keempat
Perubahan ini meliputi 19 pasal yang terdiri dari 31 butir ketentuan serta 1 butir yang
dihapuskan. yang Ditetapkan pada tanggal 10-Agustus-2002. Pada Amandemen
keempat ini ditetapkan bahwa:

UUD 1945 sebagaimana telah diubah merupakan UUD 1945 yang ditetapkan pada 18-
Agustus-1945 dan diberlakukan kembali melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Perubahan tersebut diputuskan pada rapat Paripurna MPR RI ke-9 tanggal 18-Agustus-
2000 pada Sidang Tahunan MPR RI dan mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.
pengubahan substansi pasal 16 serta penempatannya ke dalam Bab III tentang
"Kekuasaan Pemerintahan Negara". dan Bab IV tentang "Dewan Pertimbangan
Agung" dihapus.

Naskah Undang-Undang Dasar 1945


Sebelum amandemen, UUD 1945 terdiri atas Pembukaan, Batang Tubuh (16 bab, 37
pasal, 65 ayat (16 ayat berasal dari 16 pasal yang hanya terdiri dari 1 ayat dan 49 ayat
berasal dari 21 pasal yang terdiri dari 2 ayat atau lebih), 4 pasal Aturan Peralihan, dan
2 ayat Aturan Tambahan), serta Penjelasan.

9
10

Setelah dilakukan 4 kali amandemen, UUD 1945 memiliki 16 bab, 37 pasal, 194 ayat,
3 pasal Aturan Peralihan, serta 2 pasal Aturan Tambahan.

10