Anda di halaman 1dari 18

PEMBAGIAN WARIS ADAT JAWA

Makalah ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Hukum Adat

Dosen Pembimbing : ANDRE KOSWARA, SH. MH

OLEH :

KHAERUL AMIN

NIM: 151316035

SEKOLAH TINGGI ILMU HUKUM RAHMANIYAH SEKAYU


2016

1
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya
penulisdapat menyelesaikan makalah yang berjudul “PEMBAGIAN WARIS ADAT
JAWA”. Shalawat dan salam selalu tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW juga
keluarga, para sahabat dan kita sebagai umatnya. Terima kasih kepada teman - teman
yang telah membantu penulis dalam proses pembuatan makalah ini sehingga dapat
terselesaikan. Penulis sadar, bahwa makalah yang penulis buat ini masih jauh dari
sempurna. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para
pembaca untuk kesempurnaan makalah ini. Akhirnya, penulis mengucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang terkait dalam proses pembuatan makalah ini. Semoga dapat
bermanfaat bagi para mahasiswa khususnya dan para pembaca umumnya.

Sekayu, 20 Mei 2016

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i

KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii

DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................4

A. Latar Belakang .................................................................................... 4

B. Rumusan Masalah .............................................................................. 6

C. Tujuan Penulisan .............................................................................. 6

D. Manfaat Penulisan ........................................................................... 7

BAB II PEMBAHASAN……………………………………………......……………8

A. Sistem Waris Adat………………………....................................................... 8

B. Waris Adat Jawa………………….. ..........................................................10

C. Harta Warit Masyarakatr Adat Jawa ......................................................10

D. Ahli Waris dan Bagiannya……………. ..................................................12

E. Proses Pewarisan dalam Masyarakat Adat Jawa……………………...13

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... 17

A. Kesimpulan ..................................................................................... 17

B. Saran ............................................................................................... 17

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 18

3
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya, dimana budaya tersebut
tersebar dari sabang sampai marouke. Budaya yang ada di Indonesia tidak
hanya dalam hal seni budaya melainkan dalam hal yang lebih spesifikpun
terdapat keberagamannya. Misalnya dalam hal adat-istiadat dalam hukum
keluarga yang berkenaan dengan budaya perkawinan, budaya kekerabatan,
sampai dengan budaya dalam hal kewarisan pun terdapat keberagamannya di
Indonesia.

Indonesia yang merupakan negara berdasarkan pancasila mengupayakan


penyatuan terhadap keberagaman yang ada di negara ini dalam tatanan
Bhineka Tunggal Ika, dimana keberagaman yang ada dijadikan satu kesatuan
yang disebut dengan negara Republik Indonesia. Ketika membahsa budaya
maka knstitusipun memberikan jaminan kepada setiap masyarakat adat untuk
melestarikan budayanya. Maka tidak pernah ada pembatasan pengembangan
budaya di Indonesia karena memang dasar negarapun (konstitusi) telah
menjaminnya.

Di Indonesia hukum waris adat bersifat pluralistik menurut suku bangsa atau
kelompok etnik yang ada. Pada dasarnya hal itu disebabkan oleh sistem garis
keturunan yang berbeda-beda, yang menjadi dasar dari sistem suku-suku
bangsa atau kelompok-kelompok etnik.1Misalnya adat Lampung mengatur
masalah perkawinan dengan mengedepankan garis keturunan patrilinial,
sedangkan minagkabau menggunakan sisitem matrilinial, sedangkan jawa
menggunakan sistem parental. Dari ketiga sistem tersebut, mungkin masih ada
variasi lain yang merupakan perpaduan dari ketiga sistem tersebut, misalnya,
“sistem patrilineal beralih-alih (alternerend) dan sistem unilateral berganda

1
Soerjono Soekanto, Kedudukan Janda Menurut Hukum Waris Adat, Jakarta : Ghalia
Indonesia, 1966, hlm.7

4
2
(double unilateral). Namun tentu saja masing-masing sistem memiliki ciri
khas yang berbeda dengan sistem yang lainnya.

Hukum waris diartikan sebagai suatu aturan yang mengatur tentang warisan,
sedangkan dalam konteks hukum adat waris maka diartikan sebagai aturan
dalam pembagian harta warisan menurut hukum adat sesuai dengan adat
(suku) masing-masing individu. Perihal waris sebenanrnya merupakan suatu
hal yang muncul dari adanya suatu perkawinan, dalam Undang-Undang
Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, perkawinan diartikan sebagai suatu ikatan
yang kuat antara laki-laki dengan seorang perempuan untuk membentuk
keluarga yang kokoh dan bahagian berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Setelah adanya perkawinan maka terdapat hal yang berkenaan dengan harta,
yaitu pewarisan yang berkenaan dengan harta peninggalan orang yang sudah
meninggal. Dalam suasana hukum di Indonesia, perihal kewarisan diatur
dalam hukum nasional, hukum agama (misalnya Hukum islam), dan Hukum
Adat. Dimana menurut ketiganya dalam pembagian warisan dan cara
pembagiannyapun memiliki perbedaan, begitu pula menurut hukum adat.

Berkaca dari pendapat seorang pakar hukum Eugen Ehrlich dalam bukunya
berjudul “Fundamental Principles of the Sociology of Law”. Dari bukunya
tersebut terdapat konsep “living law”, konsep ini menekankan bahwa, hukum
positif hanya akan efektif apabila selaras dengan hukum yang hidup dalam
masyarakat, atau dengan apa yang disebut dengan hukum adat .3 Setiap orang
memiliki suku yang berbeda maka akan terdapat perbedaan pula dalam hal
budaya hukum warisnya, baik dalam hukum adat lampung, Minangkabau,
Semendo, dan lain-lain yang didalamnya juga termasuk hukum adat
masyarakat jawa.

Masyarakat jawa yang merupakan suatu suku atau masyarakat adat yang
sistem kekerabatannya sudah parental yaitu mengambil dari garis orang tua
(ayah dan ibu), hal ini berbeda dengan masyarakat adat lampung yang

2
Soerjono Soekanto, Hukum Adat Indonesia, Jakarta: Rajawali, 1981, hlm. 284.
3
Syafruddin Kalo, Modul Kuliah Penemuan Hukum, Program Pasca Sarjana Magister
Kenotariatan, USU Medan, 2007, hlm.18

5
patrilinial (garis bapak) maupun minangkabau yang matrilinial (garis ibu).
Jika dalam masyarakat adat lampung yang mengutamakan garis bapak, maka
sudah pasti terdapat perbedaan dalam hal warisannya, begitupula dengan
masyarakat matrilinial dimana terdapat perbedaan perolehan warisan sesuai
dengan filosofi masing-masing. Akan tetapi berbeda dengan masyarakat adat
jawa, yang menggunakan sisitem parental yang berarti maka tidak terdapat
perbedaan antara laki-laki dan perempuan didalamnya, dimana antara
kedunaya memiliki kedudukan yang sama. Oleh karena itu dalam tugas
makalah ini, akan dijelaskan bagaimana budaya hukum waris masyarakat adat
jawa.

B. Rumusan Masalah

Adapun permasalahan yang akan dipecahkan dalam makalah ini, adalah :

1. Bagaimana budaya hukum waris dalam masyarakat adat Jawa ?

Dengan pokok bahasan :

1. Sistem Waris Adat


2. Waris Adat Jawa
3. Harta Warisan dalam Adat Jawa
4. Ahli Waris dalam Adat Jawa
5. Proses Pembagian Harta Warisan dalam Masyarakat Adat Jawa:
a. Selama Pewaris Masih Hidup
b. Setelah Pewaris Meninggal

C. Tujuan

Tujuan penulisan makalah ini adalah :

1. Untuk pemenuhan tugas kelompok mahasiswa dalam mengikuti kuliah


hukum adat di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Rahmaniyah Sekyu
2. Untuk mengetahui bagaimana adat atau budaya dalam masyarakat adat
jawa mengenai waris.

6
D. Manfaat

Adapun manfaat dalam penulisan makalah ini adalah :

1. Mengetahui tentang sistem pembagian hukum waris dalam masyarakat


adat jawa
2. Mengetahui budaya masyarakat adat Jawa dalam harta warisan
3. Mengetahui proses pembagian harta warisa dalam adat Jawa

7
II. PEMBAHASAN

A. Sistem Waris Adat

Hukum adat waris adalah aturan - aturan hukum adat yang mengatur tentang
bagaimana harta peninggalan atau harta warisan diteruskan atau dibagi dari
pewaris kepada para waris deri generasi ke generasi berikutnya. Menurut Teer
Haar dikatakan bahwa hukum waris adat adalah aturan-aturan hukum yang
mengatur tentang cara bagaimana dari masa ke masa proses penerusan dan
peralihan harta kekayaan yang berwujud dan tidak berwujud dari generasi ke
generasi.4 Hal tersebut sejalan dengan pendapat Soepomo, yang menerangkan
bahwa “hukum waris” itu memuat peraturan-peraturan yang mengatur proses
meneruskan serta mengoperkan barang-barang harta benda dan barang-barang
yang tak berwujud benda dari suatu angkatan manusia kepada keturunannya.5

Hukum adat waris Indonesia tidak terlepas dari pengaruh susunan masyarakat
kekerabatannya yang berbeda. Sebagaimana dikatakan Hazairin bahwa hukum
waris adat mempunyai corak tersendiri dari alam pikiran masyarakat yang
tradisional dengan bentuk kekerabatan yang sistem keturunannya patrilinial,
matrilinial, dan parental atau bilateral. Walaupun dalam bentuk kekerabatan
yang sama, namun belum tentu memiliki sistem kewarisan yang sama menurut
hukum adatnya.

Apabila dilihat dari orang yang menerima warisannya, ada tiga macam sistem
kewarisan di Indonesia yaitu sistem kolektif, kewarisan mayorat, kewarisan
individual. Diantara ketiga sistem kewarisan tersebut pada kenyataannya ada
yang bersifat campuran.

4
Hilman Hadikusuma, 2003, Pengantar Hukum Adat Indonesia, Mandar Maju : Bandung, hlm.
211.
5
Soepomo, Bab-bab Tentang Hukum Adat. Jakarta: Penerbitan Universitas, 1996, hlm. 72.

8
1. Sistem Kolektif

Apabila para waris mendapatkan harta peningalan yang diterima mereka


secara kolektif (bersama) dari pewaris yang tiak terbagi-bagi secara
perseorangan, maka kewarisan demikian itu disebut kewarisan kolektif.

2. Sistem Mayorat

Apabila harta pusaka yang tidak terbagi-bagi danhanya dikuasai anak tertua,
yang berarti hak pakai, hak mengolah dan memungut hasilnya dikuasai
sepenuhnya oleh anak tertua dengan hak dan kewajiban mengurus dan
memlihara adik-adiknya yang pria dan wanita sampai mereka dapat berdiri
sendiri, maka sistem ini disebut dengan sistem mayorat. Dalam hal sistem
mayorat ini, dibagi menjadi mayorat laki-laki dan mayorat perempuan serta
mayorat wanita bungsu.

3. Sistem Individual

Apabila harta warisan dibagi-bagi dan dapat dimiliki secara perorangan


dengan “hak milik”, yang berarti setiap waris berhak memakai, mengolah dan
menikmati hasilnya atau juga mentransaksikannya, terutama setelah pewaris
wafat, maka kewarisan demikian disebut “kewarisan individual”. Sistem
kewarisan individual memiliki ciri-ciri yaitu harta peninggalan atau harta
warisan dapat dibagi-bagikan di antara para ahli waris seperti yang terjadi
dalam masyarakat bilateral.6 Adapun contoh yang menganut sistem individual
adalah Jawa, dimana setiap anak dapat memperoleh secara indivdual harta
peningalan dari ayah ibu atau kakek neneknya. Sietem pewarisan individual,
yang memberikan hak mewaris secara individual atau perorangan kepada ahli
warisnya seperti Jawa, madura, Aceh, dan Lombok.

6
Dominikus Rato, Hukum Perkawinan dan Waris Adat, Surabaya: Laksbang Yustitia Surabaya,
2011, hlm. 117

9
B. Waris Adat Jawa

Masyarakat adat jawa yang memiliki hubungan kekerabatan Parental atau


bilateral memiliki sistem kewarisan yaitu sistem Individual, dimana harta
warisan yang diperoleh dapat dimiliki secara perseorangan, hal ersebut jelas
berbeda dengan sistem mayorat yang digunakan masyaralat adat Lampung.
Secara umum, asas yang digunakan dalam hukum adat waris ini sesuai dengan
sistem kekerabatan yang dimiliki oleh suatu masyarakat adat, begitu pula
dengan adat Jawa.

Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa masyarakat jawa menganut sistem
kekerabatan parental atau bilateral dengan sistem waris Individual yang berarti
adanya suatu keharusan bagi ahli waris untuk mendapatkan bagian sehingga
dapat menguasai harta warisan yang telah dibagi secara perseorangan. Adapun
faktor yang menyebabkan hal tersebut perlu dilakukan adalah dikarenakan
tidak adanya lagi keinginan untuk menguasai harta warisan secara kolektif.
Hal ini dikarenakan para ahli waris tidak lagi berada dalam satu rumah
orangtuanya melainkan sudah tersebar sendiri-sendiri mengikut suami atau
istrinya (mencar).7 Ada hal positif dalam sistem kewarisan individal yang
diterapkan oleh masyarakat adat jawa ini, yaitu adanya suatu kebebasan untuk
mengolah harta warisan tanpa adanya pengaruh dari orang lain baik kerabat
maupun pihak lainnya yang memiliki kepentingan. Sedangkan hal negatifnya
yaitu adanya suatu kerengangan tali kekerabatan kaena memnag sifat
pewarisannya individual yaitu mengurus masing-masing sehingga dapat
merenggangkan kekerabatan antara keluarga atau kerabat.

C. Harta Warisan Masyarakat Adat Jawa

Menurut Djamanat Samosir, harta warisan adalah harta yang dikuasai atau
harta yang diperoleh atau dikuasai suatu keluarga sebagai basis materil untuk
kelangsungan hidup suatu keluarga. Fungsi harta warisan adalah sebagai basis
material kehidupan suami-isteri dan anak- anaknya (keluarga) dalam

7
Hilman Hadikusuma, Hukum Waris Adat. Cet. 4.Bandung:PT Citra Aditya Bakti. 1990,
hlm. 25

10
membiayai kebutuhan hidupnya sehari-hari.8Secara umum ada beberapa yang
menjadi objek atau harta warisan, yaitu :

1. Harta Pusaka
2. Harta Bawaan
3. Harta Pencaharian
4. Harta dari pemberian seseorang kepada suami atau istri atau keduanya

Menurut Djojodigoeno dan Tirtawinata dalam bukunya “Adat Privaatrecht


Van Middle-Java” sebagaimana dikutip oleh Tolib Setiady menegaskan:
Rakyat Jawa Tengah mengadakan pemisahan arta warisan ini dalam 2 (dua)
golongan, yaitu:9

1. Gawan (Harta Bawaan)

Harta ini adalah harta yang dibawa oleh suami atau istri pada saat akan
dilangsungkan perkawinan. Dimana apabila terjadi suatu perceraian
dikemudian hari maka harta warisan berupa harta bawan ini akan kembali
kepada masing-masing pihak yang membawanya. Seperti yang dinyakatan
oleh orang jawa “tetep dadi duwekke dewe-dewe, bali menyang asale”.10
Kecuali apabila dalam perkawinan yang memiliki perbedaan derajat dalam
ekonomi (kaya dan Miskin), misalnya suami tinggi (kaya) atau disebut
manggih koyo dengan istri rendah, maka harta kekayaannya menjadi milik
suami atau dikuasai oleh suami.

2. Gono-Gini (Harta Bersama)

Harta gono-gini adalah harta yang diperoleh semasa perkawinan yang didapat
secara bersama-sama. Di Jawa, harta gono-gini adalah “sraya ne wong lan
duwekke wong loro” yang berarti bahwa hasil kerja dua orang (suami dan istri)
sehingga menjadi harta dua orang (bersama).

8
Djamanat Samosir, Hukum Adat Indonesia, Bandung: Nuansa Aulia, 2013, hlm. 295.
9
Fuad, 2013, Makalah Hukum Waris Adat Kedudukan duda dan janda menurut hukum waris
adat, http://fuadfh.blogspot.com/2015/04/makalah-hukum-waris-adat-kedudukan-duda.html,
10
Ungkapan Jawa yang berarti “tetap menjadi kepunyaan masing-masing dan kembali pada
asalnya.”

11
Sebenanrnya kedua harta diatas belumlah termasuk kedalam kategori harta
warisan, melainkan baru harta peningalan karena harta warisan adalah harta
yang sudah siap dibagi (sudah dikurangi hutang piutang dan sebaginya).

D. Ahli Waris dan bagiannya

Dalam hukum waris yang menjadi ahli waris adalah anak-anak dan janda/duda
yang diutamakan menjadi ahli waris, jika memungkinkan barulah keluarga
terdekat yang sesuai dengan ketentuan dapat menjadi ahli waris. Dalam
masyarakat adat Jawa semua anak baik laki-laki maupun perempuan, lahir
lebih dahulu atau belakangan semuanya berhak menjad ahli waris dan
mendapatkan warisannya.

Akan tetapi, jika pewaris tidak memiliki anak sama sekali, anak angkat atau
anak pupon pun tak punya, maka yang berhak menjadi ahli warisnya adalah :

1. Orang tua pewaris (Bapak atau Ibu)


2. Jika orangtua tidak ada baru saudara kandung pewaris dan keturunannya,
dalam hal ini masih banyak perdebatan apakah anak angkat juga termasuk
kedalam ahli waris atau bukan.
3. Jika dalam poin dua tidak ada, maka barulah kakek atau nenek pewaris
berhak mewaris
4. Jika poin tuga tidak ada, baru ke paman atau bibi pewaris dari garis ayah
maupun ibu

Pada asasnya dalam masyarakat adat Jawa, janda atau duda bukanlah ahli
waris dari pewaris yang meninggal, karena dipahami bahwa janda dan duda
mandapatkan harta warisan dari harta bersama atau harta perkawinannya.11

11
Bandingkan dengan Keputusan Mahkamah Agung Tanggal 29 Oktober 1958 Reg No. 298
K/Sip/1958 bahwa :”Menurut hukum adat yang berlaku di Jawa , apabila dalam suatu perkawinan
tidak dilahirkan seorang anakpun, maka istri atau janda tetap dapat menguasai barang-barang
gono-gini sampai ia meninggal atau sampai dia kawin lagi.”

12
E. Proses Pewarisan dalam Masyarakat Adat Jawa

Proses yang dimaksud dalam hal ini adalah tentang bagaimana cara pewaris
meninggalkan, membagi atau meneruskan harta warisan bagi para ahli
warisnya ketika masih hidup dan sudah meninggal, dimana proses tersebut
merupakan bagian dari budaya masyarakat adat Jawa dalam hal pewarisan.

Dalam masyarakat adat, begitu pula dengan masyarakat adat Jawa, proses
pemberian harta warisan dilakukan dengan dua cara yaitu sebelum pewaris
meninggal dan setelah pewaris meninggal dunia. Dalam masyarakat Jawa
pembagian waris ketika pewaris masih hidup dapat dilakukan dengan
caralintiran (penerusan atau pengalihan), cungan (penujukan), atau dengan
cara weling atau wekas (berpesan, berwasiat).

Dalam hal ini, akan kita lihat bagaimana budaya dalam hukum waris adat
ketika pewaris masih hidup, karena pada dasarnya untuk pewaris yang sudah
wafat atau meninggal budaya pewarisannya sama seperti yang berlaku dalam
hukum nasional yang berlaku di Indonesia pada umumnya. Seperti yang sudah
disebutkan diatas, untuk proses pemberian harta warisan ketika pewaris msih
hidup dapat dilakukan dengan beberapa cara yang biasa digunakan dalam
masyarakat adat Jawa yang lebih sering disebut dengan istilah adat Jawa
dalam pebagian harta warisan ketika pewaris masih meningal dunia, yaitu :

1. Penerusan atau Pengalihan (Lintiran)

Ketika pewaris masih hidup, biasnya pewaris melakukan penerusan atau


pengalihan harta warisan kepada ahli warisnya, maka sejak penerusan atau
pengalihan itulah harta kekayaan sudah beralih kepada ahli waris. Dalam
pemberian harta warisan dengan cara penerusan atau pengalihan ini dilakukan
sebagai pemberian bekal kepada anak yang akan menerukan kehidupan baik
untuk meneruskan keturunan (perkawinan), mislanya ntuk membangun rumah
dan sebaginya. Dalam masyarakat adat jawa hal ini disebut dengan istilah
mencar atau mentas. Biasanya dalam kebiasaan masyarakat adat jawa anak
yang akan menikah dibekali berupa tanah atau rumah atau ternak, dimana
benda-benda tersebut diperhitungkan dalam harta keluarga ketika pewaris

13
sudah meninggal. Penerusan ini dapat dilakukan juga terhadap anak angkat
yang dinilai sudah memberikan banyak pengorbanan, jasa, kontribusi dalam
keluarga tersebut, sehingga ditakutkan apabila warisan diberikan ketika
pewaris sudah meninggal maka anak angkat dapat atau kemungkinan
tersingkirkan oleh anak kandung. Sehingga budaya masyarakat adat Jawa
dalam pembagian warisan ini sangatlah mempertimbangkan keadilan bagi
anak kandung dan anak angkat serta menghindari adanya permsalahan yang
muncul sebagai akibat dari harta warisan yang ditinggalkan.

2. Penunjukan (Cungan)

Berbeda dengan proses penerusan, dalam cungan harta warisan yang diberikan
akan beralih hak penguasaan dan pemilikiannya setelah pewaris meninggal
dunia. Sehingga dapat dikatakan bahwa proses cungan ini memberikan dan
membawa suatu akibat hukum. Sehingga setelah dilakukannya cungan, maka
pewaris masih memiliki wewenang untuk menguasai harta yang ditunjukkan
itu.

Kemdian dalam keadaan yang mendesak, maka pewaris dapat merubah


maksudnya dalam hal penunjukkan harta warisan ini. maka dalam proses
cungan ini, dapat dikatakan masih berupa penunjukan sementara yang bukan
merupakan suatu pemerian secara mutlak (masih dapat berubah apabila
terdapat suatu hal yang mendesak). Penunjukan ini bukan hanya sebatas benda
bergerak saja, melainkan juga benda tidak bergerak seperti tanah ladang,
sawah, kebun, dan sebaginya yang dalam bahasa jawa disebut dengan istilah
garisan.

Dalam masyarakat adat Jawa, adakalanya setelah pemberian garisan itu


ditunjukan atau diteruskan penguasaannya kepada anak lelaki atau perempuan
yang telah mencar dan hidup mandiri harus memberikan punjunga yaitu
kewajiba bagi setiap anak yang telah diberi tanah itu untuk tetap memberi
bagian hasil tertentu kepada orangtuanya selama masih hidup. Cara tersebut
juga msih berlaku meskipun sudah dioperkan atau diteruskan.

14
3. Pesan atau Wasiat(Welingan, Wekasan)

Welingan ini dilakukan biasanya pada saat pewaris sakit dan tidak ada harapan
lagi untuk sembuh, atau pewaris akan pergi jauh seperti naik haji. Dimana
welingan ini berlaku apabila pewaris benar-benar tidak pulang lagi atau benar-
benar meninggal, sedangkan apabila pewaris sehat kembali atau pulang dari
pergian jauh maka welingan ini dapat dicabut kembali. Tujuan dari cara ini
adalah agar para ahli waris mebagikan harta warisan dengan cara yang layak
menurut anggapan pewaris, dan agar tidak terjadi perselisihan, dan tujuan
lainnya yaitu pewaris menyatakan secara mengikat sifat-sifat barang/harta
yang ditinggalkannya.Pewaris dapat mencabut atau menarik kembali suatu
wasiat yang sudah dibuat atau diikrarkan. Tetapi selama wasiat tidak dicabut
atau ditarik kembali, para ahli waris berkewajiban untuk menghormati wasiat
tersebut.12

Sedangkan pewarisan ketika pewaris sudah meninggal dunia dilakukan


dengan cara menurut adat masyarakat jawa yaitu harta peninggalan dikuasai
oleh tokoh adat dan kemudian dibagikan kepada ahli waris sesuai dengan
prinsip pembagian warisan sistem Individual yang dianut oleh masyarakat
kekerabatan parental atau bilateral. Dalam masyarakat adat Jawa pembagian
harta warisan dapat dilakukan setelah acara slametan (Selamatan), dimana
elatana itu ada beberapa macam seperti mitung dino, matang puluh, nyatus,
atau nyewu.13Namun biasanya dilakukan ketika nyewu (setahun setelah
wafatnya pewaris). Hal tersebut dilakukan dengan harapan seluruh angota
keluarga dan ahli waris dapat berkumpul semua di kediaman pewaris.

Adapun mengenai juru bagi tidak ada ketetntuan pasti siapa yang menjadi juru
bagi dalam warisan adat Jawa, akan tetapi yang dapat menjadi juru bagi adalah
sebagai berikut :

a. Orangtua yang masih hidup (Janda atau duda pewaris)

12
Eman Suparman, Hukum Waris Indonesia Dalam Perspektif Islam, Adat, dan BW, Bandung:
Refika Aditama, hlm. 101.
13
https://id.scribd.com/doc/28975432/Sistem-Kewarisan-Masyarakat-Adat-Jawa,

15
b. Anak tertua laki-laki atau perempuan
c. Anggota keluarga tertua yang dipandang jujur, adil, dan bijaksana
d. Anggota kerabat tetangga, pemuka masyarakat adat atau pemuka agama
yang diminta, ditunjuk atau dipilih para ahli waris.

Dalam masyarakat adat jawa kebiasaan atau adat dalam pembagian warisan
tidak dilihat dari nilai ekonomis secara matematis, melainkan meilhat wujud
benda dan kebutuhan ahli waris yang bersangkutan. Jadi meskipun dikenal
adanya persamaan hak antara laki-laki dan perempuan tetapi dalam pembagan
warisan juga memperhatikan kebutuhan dari ahli warisnya.

Pada masyarakat adat Jawa dalam hal pembagian harta warisan dilakukan
dengan dua cara, yaitu :

1. Segendong-Sepikul

Segendong-Sepikul yaitu dalam hal pembagian harta warisan anak laki-laki


mendapatkan dua kali lipat dari anak perempuan. Berarti dalam hal ini hampir
sama dengan prinsip Hukum Islam dalam pembaian warisan, dimana laki-laki
mendapatkan dua bagian dan perempuan satu bagian (2:1).

2. Dundum Kupat

Sedangkan pembagian dengan cara dundum kupat dilakukan dengan mebagi


secara seimbang antara laki-laki dan perempuan (kedudukan hak dan
kewajiban yang sama).

16
III. PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian dalam pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan


bahwa:
1. Masyarakat adat jawa merupakan masyarakat dengan sistem kekerabatan
parental atau bilateral yang mengambil garis keturunan dari garis
orangtua dan sistem pewarisannya adalah sistem individual yang berarti
harta warisan dapat dikuasai secara perorangan tanpa ada campur tangan
dari pihak manapun.
2. Adapun budaya masyarakat adat Jawa dalam hal warisan adalah :
a. Ahli Warisnya adalah Orang tua, Keturunan (anak kandung) dan anak
angkat masih dalam perdebatan apakah anak angkat juga termasuk
atau tidak, nenek dan/atau kakek, dan paman dan/atau bibi. Dimana
ahli waris tersebut hampir sama dengan ketentuan dalam waris
nasional atau waris Islam pada umumnya.
b. Harta warisan dalam masyarakat adat Jawa adalah :
1. Gawan, yaitu harta bawaan suami atau istri. Ada budaya dalam
masyarakat adat Jawa apabila Laki-laki tinggi (kaya) menikah
dengan wanita rendah, maka harta Gawan dikuasasi oleh Suami
ketika bercerai.
2. Gono-Gini, yaitu harta bersama.
c. Proses pewarisan dalam Adat Jawa dilakukan dengan dua cara, yaitu :
1. Ketika pewaris masih hidup, dilakukan dengan alasan agar tidak
terjadi prseisihan dan warisan dapat dibagi secara baik dan layak.
Adapun cara-caranya yaitu :
a. Lintiran
b. Cungan
c. Welingan atau Wekasan
2. Ketika Pewaris sudah meninggal, dilakukan dengan cara :
a. Segendong sepikul
b. Dundum kupat

17
DAFTAR PUSTAKA

BUKU:

Hadikusuma, Hilman. 1990. Hukum Waris Adat. Cet. 4. Bandung: PT Citra


AdityaBakti.

------------------------------. 2003. Pengantar Hukum Adat Indonesia. Bandung:


Mandar Maju :

Kalo, Syafruddin.2007. Modul Kuliah Penemuan Hukum, Program Pasca Sarjana


Magister Kenotariatan USU Medan.

Rato, Dominikus. 2011. Hukum Perkawinan dan Waris Adat.Surabaya: Laksbang


Yustitia Surabaya.

Samosir, Djamanat. 2013. Hukum Adat Indonesia. Bandung: Nuansa Aulia.

Soekanto, Soerjono. 1981.Hukum Adat Indonesia, Jakarta: Rajawali.

-----------------------------. 1966. Kedudukan Janda Menurut Hukum Waris Adat,


Jakarta : Ghalia Indonesia.

Soepomo. 1996. Bab-bab Tentang Hukum Adat. Jakarta: Penerbitan Universitas.

Suparman, Eman. 2007. Hukum Waris Indonesia Dalam Perspektif Islam, Adat,
dan BW. Bandung: Refika Aditama.

INTERNET:

www.id.scribd.com

www.fuadfh.blogspot.com

18