Anda di halaman 1dari 20

TRADISI TAHLILAN, TAWASUL DAN ISTIGHOSAH

MAKALAH
Disusun dan Diajukan Guna Memenuhi Tugas Terstruktur
Mata Kuliah : Aswaja Annahdliyah 2
Dosen Pengampu : Nur Wahid, S.H., M.H

Oleh :
1. Usman Maulana (20180208044)
2. Badingu Nuruzzaman (20180208045)
3. Puspa Dewa Akasiwi (20180208046)
4. Irkham Fahmi (20180208047)
5. Achmad Nur Cholis (20180208048)

PROGRAM STUDI MANAJEMEN


FAKULTAS SOSIAL, EKONOMI DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA PURWOKERTO
2019

1
A. PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Seiring dengan derasnya arus globalisasi dan modernisasi, sekarang
telah berkembang beberapa aliran anti tradisi yang berupaya untuk
membid’ahkan atau bahkan mengkafirkan pelaku tradisi tersebut, serta
menggantinya dengan tradisi sebagian bangsa Arab modern. Terdapat
beberapa amaliah-amaliah kita yang dianggap bid’ah, seperti majelis
maulid, sholawat, yasinan, ziarah kubur, tabarruk, tahlilan, dan lain-lain.
Amaliah-amaliah tersebut merupakan amalaih yang sudah mendarah
daging di Nusantara pada khususnya dan dunia Islam pada umumnya.
Amaliah-amaliah tersebut diwariskan oleh ‘alim ulama dan kaum sholihin
yang dikenal keluasan ilmunya dan kemuliaan akhlaknya.
Kehadiran agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW bukanlah
untuk menolak atau memberantas segala bentuk tradisi yang ada dan sudah
mengakar menjadi kultur budaya masyarakat, melainkan untuk melakukan
pembenaran atau meluruskan tradisi dan budaya yang tidak sesuai dengan
ajaran Islam. Sedangkan tradisi yang baik dan tidak bertentangan dengan
risalah Rasulullah harus tetap dilestarikan, maka Islam akan
mengakulturasikannya dan kemudian mengakuinya sebagai bagian dari
budaya dan tradisi Islam itu sendiri. Bila sudah satu dari keluarga (famili)
kita meninggal, maka kita harus tetap bertaqwa kepada-Nya dan bersikap
sabar atas musibah tersebut dan kita berusaha jangan sampai berputus asa,
menggerutu dan bahkan sampai marah-marah, karena semua itu kejadian
yang pasti dan bila sudah waktunya maka tak seorangpun bisa
mengelaknya.
Maka atas dasar tersebut di atas, kita dalam menghadapi orang dan
keluarga atau teman yang meninggal janganlah bersikap kurang baik
melainkan kita harus mendo’akan baik secara perorangan ataupun secara
bersama-sama. Untuk mengetahui do’a dan bagaimana cara orang
mendo’akan orang yang sudah meninggal.
Istihasah adalah meminta pertolongan kepada orang yang
memilikinya, yang pada hakikatnya adalah meminta pertolongan kepada
Allah S.W.T. semata. Dalam rmaksud untuk menghindarkan dari bahaya
dan bencana, dan dilakukan bersama-sama dan di tempat terbuka.
Terbukti masayarakat NU di Indonesia sering mengadakan
Istighasah untuk meminta tolong dan menghadapi bencana, seperti

2
melakukan Istighasah ketika menjelang Ujian Nasional, Menghadapi
bencana alam dan sebagainya.
Oleh sebab itu Istighasah sering dilakukan masyarakat NU di
Indonesia untuk hal tersebut sebagai tujuan meminta pertolongan dari
mara bahaya.

2. RUMUSAN MASALAH
a. Apa pengertian dan sejarah tahlil?
b. Bagaimana sejarah tahlil?
c. Bagaimana tahlil menurut pandangan ulama?
d. Apa pengertian, Dasar hukum dan Jenis-jenis Tawasul?
e. Apa pengertian dan tata cara serta bentuk-bentuk Istighasah?
f. Bagaimanakah Istighasah pada masa Nabi, Sahabat, dan tabi’in?

3
B. TEORI TAHLINAN
1. Pengertian Tahlil
Secara lughah tahlilan berakar dari kata berbahasa arab yakni hallala
yuhallilu tahlilan artinya adalah membaca/mengucap kalimat "Laa ila ha
illallah" makna inilah yang dimaksud dengan pengertian tahlilan.
Dikatakan sebagai tahlil, karena memang dalam pelaksanaanya lebih
banyak membaca kalimat-kalimat tahlil yang mengesakan Allah seperti
bacaan tahlil (Laa ila ha illallah) dan lain sebagainya sesuai dengan tradisi
masyarakat setempat atau pemahaman dari guru (syekh) suatu daerah
tertentu. Pada pelaksanaan tahlilan selain bacaan tahlil (Laa ila ha illallah)
ada juga bacaan tasbih (Subhanallah),tahmid (Alhamdulillah), takbir
(Allahu akbar), sholawat (Allahumma sholli‘ala syaidina Muhammad),
serta beberapa ayat Al-Qur'an seperti QS.Yaasin, QS. Al-Baqarah : 1-5,
163, 255, 284-286, dan lain sebagainya yang bagi umat muslim dianggap
memiliki fadhilah dan syafaat.Sebagian muslim sering mengamalkanya
dalam segala macam acara,bahkan dalam resepsi (sebelum atau sesudah
akad nikah) tidak meninggalkan amalan tahlilan ini.[1] Dengan kata lain,
dalam tahlilan menggunakan bacaan-bacaan (doa) tetentu yang
mengandung banyak keutamaan (fadhilah). Fenomena yang terlihat di
masyrakat, penyebutankata tahlilan umumnya dipakai untuk persembahan
yang dikelompokan menurut jenis, maksud,dan suasananya.
Ketika dipakai untuk peristiwa gembira (kemenangan) tahlilan
disebut sebagai syukuran, ketika dipakai untuk peristiwa sedih (kematian),
ketika dipakai untuk meminta perlindungan (pindah rumah, menempati
kantor/rumah baru, awal membuka usaha dll.) disebut selamatan, dan
ketika dipakai untuk meminta sesuatu (menghasratkan sesuatau) disebut
hajatan. Selain itu tahlilan juga dilaksanakan pada acara-acara tertentu
seperti saat seseorang akan pergi jauh dan dalam waktu yang cukup lama
(pergi haji, merantau belajar, atau bekerja diluar negeri), acara pertemuan
keluarga seperti arisan keluarga maupun halal- bihalal, dan khitanan.
Tradisi tahlilan dalam masyrakat Jawa juga sering disebut dengan kata
sedekah (sedekahan, karena dalam setiap kegiatannya diangggap selalu
memberikan sedekah (pemberian) baik bagi mereka yang datang
berkunjung atau bagi pemilik hajat. Jadi masing-masing saling bersedekah
(memberi) dalam bentuk barang atau pun berupa dukungan moral yang
sangat mereka harapkan. Dukungan moral diantara mereka secara
psikologis dapat saling memberi motivasi. Dalam kenyataan istilah

4
syukuran, hajatan dan sedekah sulit dibedakan, mereka lebih sering
menggunakan kata tahlilan.

2. Sejarah Tahlil
Jika kita buka catatan sejarah Islam, maka acara ritual tahlilan tidak
dijumpai di masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, di masa para
sahabatnya ? dan para Tabi’in maupun Tabi’ut tabi’in. Bahkan acara
tersebut tidak dikenal pula oleh para Imam-Imam Ahlus Sunnah seperti Al
Imam Malik, Abu Hanifah, Asy Syafi’i, Ahmad, dan ulama lainnya yang
semasa dengan mereka ataupun sesudah mereka. Lalu dari mana sejarah
munculnya acara tahlilan?.Awal mula acara tersebut berasal dari upacara
peribadatan (baca: selamatan) nenek moyang bangsa Indonesia yang
mayoritasnya beragama Hindu dan Budha.[2] Upacara tersebut sebagai
bentuk penghormatan dan mendo’akan orang yang telah meninggalkan
dunia yang diselenggarakan pada waktu seperti halnya waktu tahlilan.
Namun acara tahlilan secara praktis di lapangan berbeda dengan prosesi
selamatan agama lain yaitu dengan cara mengganti dzikir-dzikir dan do’a-
do’a ala agama lain dengan bacaan dari Al Qur’an, maupun dzikir-dzikir
dan do’a-do’a ala Islam menurut mereka.
Dari aspek historis ini kita bisa mengetahui bahwa sebenarnya acara
tahlilan merupakan adopsi (pengambilan) dan sinkretisasi (pembauran)
dengan agama lain.Sebelum Islam masuk ke Indonesia, telah ada berbagai
kepercayaan yang di anut oleh sebagian besar penduduk tanah air ini, di
antara keyakinan-keyakinan yang mendomisili saat itu adalah animisme
dan dinamisme. Di antara mereka meyakini bahwa arwah yang telah
dicabut dari jasadnya akan gentayangan di sekitar rumah selam tujuh hari,
kemudian setelahnya akan meninggalkan tempat tersebut dan akan
kembali pada hari ke empat puluh, hari keseratus dan hari keseribunya
atau mereka mereka meyakini bahwa arwah akan datang setiap tanggal
dan bulan dimana dia meninggal ia akan kembali ke tempat tersebut, dan
keyakinan seperti ini masih melekat kuat di hati kalangan awan di tanah
air ini sampai hari ini.
Sehingga masyarakat pada saat itu ketakutan akan gangguan arwah
tersebut dan membacakan mantra-mantra sesuai keyakinan mereka.
Setelah Islam mulai masuk di bawa oleh para Ulama’ yang berdagang ke
tanah air ini, mereka memandang bahwa ini adalah suatu kebiasaan yang
menyelisihi syari’at Islam, lalu mereka berusaha menghapusnya dengan

5
perlahan, dengan cara memasukkan bacaan – bacaan berupa kalimat –
kalimat thoyyibah sebagai pengganti mantra-mantra yang tidak dibenarkan
menurut ajaran Islam dengan harapan supaya mereka bisa berubah sedikit
demi sedikit dan mininggalkan acara tersebut menuju ajaran Islam yang
murni dan benar.
Akan tetapi sebelum tujuan akhir ini terwujud, dan acara pembacaan
kalimatkalimat thoyibah ini sudah menggantikan bacaan mantra-mantra
yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, para Ulama’ yang bertujuan baik
ini meninggal dunia, sehingga datanglah generasi selanjutnya yang mereka
ini tidak mengetahui tujuan generasi awal yang telah mengadakan acara
tersebut dengan maksud untuk meninggalkan secara
perlahan. Perkembangan selanjutnya datanglah generasi setelah mereka
dan demikian selanjutnya, kemudian pembacaan kalimat-kalimat thoyibah
ini mengalami banyak perubahan baik penambahan atau pengurangan dari
generasi ke generasi, sehingga kita jumpai acara tahlilan di suatu daerah
berbeda dengan prosesi tahlilan di tempat lain sampai hari ini.
“Dari Abi Sa’id al-Khudri RA, ia berkata, Rasulullah SAW
bersabda, “Tidaklah berkumpul suatu kaum sambil berdzikir kepada Allah
SWT, kecuali mereka akan dikelilingi malaikat, dan Allah SWT akan
memberikan rahmat-Nya kepada mereka, memberikan ketenangan hati dan
memujinya di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya” (HR. Al-Muslim,
4868).

3. Tahlil Menurut Para Ulama


a. Hakikat Tahlil Berdasarkan Pendapat Ulama Muhammadiyah
Para ulama Muhammadiyah menganggap bahwa tahlilan
yangdilakukan oleh umat islam untuk mendo’akan orang yang telah
meninggal adalah sesuatu yang bid’ah, karena menurut mereka
masalah tahlilan itu tidak ada dalil yang kuat yang dijelaskan dalam
Al-Quran, namun para ulama Muhammadiyah tidak mengharamkan
pelaksanaan tahlilan tersebut.
Menurut ulama Muhammadiyah bahwa seorang yang telah meninggal
dunia maka segala sesuatu yang berhubungan dengan manusia yang
masih hidup adalah putus tidak ada kaitan lagi, karena sudah terdapat
perbedaan alam yaitu orang yang meninggal ada di alam barjah,
sedangkan orang yang belum meninggal ada di alam dunia.

6
b. Hakikat Tahlil Berdasarkan Pendapat Ulama Nahdatul Ulama (NU)
Kaum muslimin Nahdatul Ulama (NU) mengakui bahwa tahlilan tidak
ada dalil yang menguatkan dalam Al-Quran maupun hadis, namun
kenapa mereka masih melaksanakan acara tahlilan tersebut karena
kaum muslimin Nahdatul Ulama mempunyai pendapat lain bahwa
tahlilan dilaksanakan dikeluarga yang meninggal mempunyai tujuan-
tujuan tertentu di antaranya adalah sebagai berikut :
1) Tahlilan dilakukan untuk menyebar syiar islam, karena sebelum
dilakukantahlilan seorang imam melakukan ceramah keagamaan.
2) Isi dari tahlilan adalah dzikir dan do’a dengan kata lain
melaksanakan tahlilan berarti mendo’akan kepada yang meninggal
dunia.
3) Menghibur keluarga yang ditinggalkan dengan kata lain, kaum
muslimin yang berada di sekitar rumah yang ditinggal, maka
terjalinlah silaturahmi diantara umat islam.[4]

4. Manfaat Tahlil
Para ulama telah sepakat bahwa sampainya kiriman pahala sedekah
atas nama orang yang telah meninggal. Seperti yang telah di sebutkan
dalam hadis-hadis yang shahih di antaranya;
Dari 'Aisyah radliallahu 'anha bahwa ada seorang laki-laki berkata,
kepada Nabi : "Ibuku meninggal dunia dengan mendadak, dan aku
menduga seandainya dia sempat berbicara dia akan bershadaqah. Apakah
dia akan memperoleh pahala jika aku bershadaqah untuknya (atas
namanya)?". Beliau menjawab: "Ya, benar". (HR. Bukhari )
Islam tentunya agama yang mengayomi semua lapisan baik yang
kaya maupun yang miskin. Jika si kaya mampu bersedekah dengan
hartanya, tentu si miskinpun ada cara agar mereka juga bisa bersedekah.
Seperti yang di jelaskan dalam hadis yang sahih
Rasulullah bersabda :
“Sesungguhnya pada setiap kalimat tasbih adalah sedekah, setiap kalimat
takbir adalah sedekah, setiap kalimat tahmid adalah sedekah, setiap
kalimat tahlil adalah sedekah,.(HR. Muslim)”
Tidak di pungkiri lagi bahwa bacaan kalimat tasbih, takbir, tahmid
dan tahlil merupakan salah satu bentuk sedekah.

7
Di dalam Al-Quran di sebutkan:
ُ‫صا ِل َحاتُ َو ْالبَاقِيَات‬ ُ ‫أ َ َم‬
َّ ‫لً َو َخيْرُ ث َ َوابًا َربِكَُ ِع ْن ُدَ َخيْرُ ال‬
“Amalan-amalan yang kekal lagi saleh (al-baqiyatus salihat) adalah lebih
baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.
(QS. Al-Kahfi: 46)”
Diantara manfaat dan keutamaan bacaan tersebut yaitu Merupakan bacaan
yang paling di sukai oleh Allah.
Rasulullah ‫ ﷺ‬bersabda:
ُ‫ّللاِ إِلَى ْالك ََل ُِم أ َ َحب‬ َُّ ُ‫لِلِ َو ْال َح ْمد‬
َُّ ُ‫ّللاِ س ْب َحانَُ أ َ ْربَع‬ َُّ ِ ‫ل‬ ُ َّ ِ‫ّللا إ‬
ُ َ ‫ل إِلَ ُهَ َُو‬ َُّ ‫أ َ ْكبَر َو‬
َُّ ‫ّللا‬

"Ada empat ucapan yang paling di sukai Allah Subhanahu Wa Ta'ala;


1. Subhanallah,
2. Al Hamdulillah,
3. Laa ilaaha illallah,
4. Allahu Akbar. . (HR. Muslim)
Inilah sesungguhnya hakikat tahlilan, yaitu Amaliyah yang di himpun dari
Al-Quran dan As-sunnah. [5]

C. TEORI TAWASSUL
1. Pengertian Tawassul
Tawassul atau wasilah adalah dua kata yang secara bahasa memiliki
arti yang sama. Kata tawassul diambil dari kata; ُ‫توسل ُ –يتوسلُ –توسل‬
ُ Apabila seseorang melakukan suatu amal untuk mendekatkan dirinya
dengan amal tersebut kepada siapa yang dimaksud. Sedang kata wasilah
diambil dari kata:ُ‫ وسلُ –يسلُ –وسل‬Apabila seseorang melakukan upaya
pendekatan karena suatu keinginan.
Tawassul menurut kamus Arab Indonesia, berasal dari kata wasala
artinya berbuat kebaikan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tawasul
maknanya mengambil wasilah atau perantara. Adapun yang dimaksud
dengan istilah tersebut adalah mencari jalan atau cara yang mendekatkan
diri kepada Allah. Caranya dengan melipat gandakan amal ibadah dan
berjihad di jalan Allah untuk keberuntungannya di dunia dan akhirat kelak.
Dengan bertawasul sebagaimana QS Al Maidah 35, QS Al Isra 57, berarti
ia telah memenuhi perintah Allah.
Pada era modern ini tawassul sering dikaitkan dengan syirik yang
bermakna menyekutukan Allah. Ibn Taimiyah (1263-1328) dalam kitab
karangannya "Al Mujizatu wa Karamtul Auliya" ( Mujizat Nabi dan

8
Karamah Wali), menjelaskan pembahasan yang singkat tentang mukjizat
dan keramat. Sesungguhnya tidak ada hubungan timbal balik antara
kewalian dengan khawariqatul adat (hal-hal yang luar biasa). Jadi, tidak
setiap wali itu menunjukkan hal-hal yang aneh. Sebaliknya, tidak pula hal
yang luar biasa yang terjadi pada seseorang membuatnya otomatis menjadi
wali Adapun doa termasuk ibadah. Menurut Ibnu Taymiyyah, barang siapa
berdoa kepada mahluk yang sudah mati dan mahluk-mahluk lain yang gaib
serta meminta pertolongannya, berarti ia telah bid'ah dalam perkara
agama. Mempersekutukan Tuhan seluruh alam, dan mengikuti jalan selain
orang-orang mukmin.
Hanya saja masalah sekarang yang timbul adalah masalah
mendekatkan diri kepada Allah melalui para wali yang saleh. Ibn
Taymiyyah merupakan salah seorang tokoh fundamental dan merupakan
pendahulu gerakan Wahabiyyah. Nama gerakan Wahabiyyah sesuai
dengan gerakan pendirinya Muhammad Ibn Abdul Wahhab (1703 - 1787)
5). Kalangan Wahhabi memandang sejumlah amalan generasi setelahnya
generasi sahabat sebagai bid'ah (menyimpang) termasuk diantaranya,
membangun menara dan pemberian tanda permanen di atas makam.
Paham Wahhabi juga menolak seluruh ajaran essoteris (bathiniyah) atau
ajaran mistisisme dan menolak gagasan orang suci (wali), termasuk juga
praktek mengunjungi makamnya. Praktek memanggil wali untuk
mendapatkan berkah adalah praktek syirik. Mereka menolak seluruh
anggapan kesucian (kekeramatan) barang atau tempat tertentu sebagai
tindakan yang mengurangi kesucian Tuhan dan menyalahi ajaran tauhid.
Allah berfirman: artinya: “Hai orang-orang beriman bertakwalah
kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan
berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan”. Q.S.
Al Maidah: 35.

2. DASAR HUKUM
Adapun secara naqliyah dalil-dalilnya, termaktub di dalam ayat-ayat al-
Qur‘an al-Karim:
Pertama: Surat al-Ma'idah ayat 35;
”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah
jalan yang mendekatkan diri kepadaNya". (QS.al-Ma‘dah: 5/35)
Kedua: Surat at-Taubah ayat 119 .TAWASUL - Mencari Allah dan Rasul
Lewat Jalan Guru

9
”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan
hendaklah kamu bersama-sama orang-orang yang Shiddiq”. (QS.at-
Taubah: 9/119)
Ketiga: Surat al-Baqoroh ayat 43;
”Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah bersama sama
orang-orang yang ruku”. (QS.al-Baqoroh: 2/43)

Ketiga ayat di atas menunjukkan bahwa Tawasul adalah perintah


Allah bagi orang yang percaya (beriman), supaya ibadah yang sedang
mereka jalankan dapat dilakukan dengan khusyu. Orang yang ibadah
tersebut dapat lebih terfasilitasi untuk wushul kepada-Nya, do‘a-do‘a yang
mereka panjatkan lebih mendekati kepada terbukanya pintu ijabah. Bagi
mereka yang tidak percaya, lebih-lebih yang menolak, maka tawasul itu
tidak akan membawa kemanfaatan apa-apa baginya.
Meskipun tawasul merupakan perintah Allah, akan tetapi
keadaannya bisa menjadi lain ketika makna tawasul itu dianggap oleh
orang yang tidak memahami rahasia bertawasul sebagai pemberian
penghormatan kepada orang lain. Dengan pandangan seperti itu menjadi
maklum ketika kemudian kebanyakan nafsu manusia menolak
melakukannya, bahkan mereka menuduh orang yang bertawasul itu telah
mengkultus individukan orang yang ditawasuli. Terlebih bagi orang yang
memang sebelumnya telah mempunyai benih penyakit kepada orang yang
harus ditawasuli tersebut. Barangkali seperti itulah keadaan orang yang
menolak melaksanakan tawasul kepada orang lain.
Sesungguhnya bagi orang yang di dalam hatinya ada penyakit hasut
kepada orang lain, sebelum penyakit itu terlebih dahulu mampu
dihilangkan, jangankan pelaksanaan tawasul, alQur‘an sekalipun, yang di
dalamnya ada obat penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, bagi
orang yang hatinya hasut tersebut, sedikitpun al-Qur‘an itu tidak dapat
membawa kemanfaatan, bahkan hanya akan menambah kerugian bagi
mereka. Allah I telah menegaskan hal tersebut dengan firman-Nya:
”Dan Kami turunkan dari al-Qur'an suatu yang menjadi penawar
dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan alQur'an itu tidaklah
menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian. - Dan
apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah
dia: dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia
ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa. - Katakanlah: "Tiap-tiap

10
orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu
lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya”. (QS.alIsra‘; 17/82-83)

Hal itu disebabkan, karena rahmat dan obat yang ada dalam alQur‘an
tersebut terlebih dahulu telah ditolak oleh hatinya sendiri. Kesembuhan
yang didatangkan untuk jiwanya tidak sampai karena jalan kesembuhan itu
telah tersumbat oleh kesombongan hatinya sendiri. Itulah orang yang
menzalimi dirinya sendiri. Mereka selalu terlewatkan dari kesempatan
mendapatkan keutamaan yang didatangkan Allah untuk dirinya sendiri
akibat sikap dan peri laku yang mereka perbuat sendiri sehingga hidup
mereka menjadi merugi.

3. Jenis Jenis Tawasul


a. Tawasul Syar'i
Hanya tawasul jenis ini yang diperbolehkan karena tidak mengandung
kesyirikan dan dicontohkan oleh Rasullah shalallahu 'alaihi wa sallam
dan para sahabatnya radhiyallahu 'anhum. Tawasul dalam kategori ini
ada 3 bentuk
1) Tawasul dengan Zat Allah nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
Hal ini berdasarkan firman Allah
"Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-
Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah
orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut)
nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap
apa yang telah mereka kerjakan" [QS. Al A'raf : 180]
Nabi Muhammad juga berdo'a : “… Aku memohon dengan setiap
nama-Mu, yang Engkau memberi nama diri-Mu dengannya, atau
yang Engkau ajarkan kepada salah satu makhluk-Mu, atau Engkau
turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau sembunyikan dalam ilmu
ghaib di sisi-Mu…” [HR Ahmad, disohihkan Al-Albani]

2) Tawasul dengan amal-amal sholih yang pernah dilakukan.


Terdapat kisah dalam hadis sohih tentang tiga orang yang terjebak
dalam gua tidak bisa keluar karena mulut gua tertutup oleh batu
sehingga masing masing mereka berdoa kepada Allah dengan
bertawasul dengan amalan sholih yang pernah mereka kerjakan
hingga Allah keluarkan mereka dari gua tersebut.

11
Hal ini juga dicontohkan oleh Nabi Ibrahim 'alaihi salam :
"Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah)
tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan
jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah
Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah
rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku'
dan yang sujud". [QS. Al Baqarah : 125].

3) Bertawasul dengan doa orang sholih yang masih hidup.


Hal ini pernah dilakukan oleh khalifah Umar bin Khattab
radhiyallahu 'anhu tatkala terjadi paceklik di kota Madinah beliau
meminta doa paman Nabi Al Abbas bin Abdul Mutholib bukan
dengan Nabi dikarenakan beliau telah wafat. Begitu juga yang
dilakukan Ukasyah ketika meminta Nabi Muhammad agar
mendoakannya termasuk dari golongan yang masuk surga tanpa
dihisab.
Allah juga mengisahkan kisah saudara-saudara yusuf dalam Al
Qur'an :
"Mereka berkata: "Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi
kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-
orang yang bersalah (berdosa)". (97) Ya'qub berkata: "Aku akan
memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya
Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". [QS.
Yusuf : 97-98]

b. Tawasul Bid'ah
Tawasul jenis ini termasuk katagori tawasul yang diharamkan, bahkan
dapat menjerumuskan pelakunya kedalam kesyirikan. Tawasul jenis ini
adalah tawasul yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi maupun para
Sahabat seperti bertawasul dengan kedudukan Nabi Muhammad atau
para wali, contohnya ketika seseorang berkata : "Ya Allah demi
kedudukan Nabi-Mu, demi kedudukan wali fulan….",
hal ini terlarang karena dua alasan :
Pertama : Dia telah bersumpah dengan selain Allah, sedangkan
bersumpah dengan selain Allah adalah haram dan termasuk syirik
kecil.

12
Kedua : Orang tersebut berkeyakinan bahwa orang lain berhak atas diri
Allah, padahal Allah lah yang maha kuasa tidak ada seorang pun
berhak atas diri Allah 'azza wa jalla.

c. Tawasul Syirik
Tawasul jenis ini tentu saja haram dan dapat membatalkan keislaman
seseorang dan menyebabkan pelakunya kekal di neraka. Tawasul jenis
ini yang dilakukan oleh kaum musyrikin, mereka berdoa kepada selain
Allah seperti batu, pepohonan, jasad para nabi atau wali yang telah
meninggal.
Allah mengisahkan dalam Al – Qur'an :
"Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata):
"Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka
mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". [QS. Az
Zumar : 3]
Dalam ayat lain Allah menyebutkan :
"Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat
mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula)
kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi
syafa'at kepada kami di sisi Allah". Katakanlah: "Apakah kamu
mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di
langit dan tidak (pula) dibumi?" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi
dan apa yang mereka mempersekutukan (itu)". [QS. Yunus : 18]
Kedua ayat di atas menggambarkan kondisi kaum musyrikin di zaman
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menyembah selain
Allah sebagai perantara, mendekatkan mereka kepada Allah dan
memberi syafaat bagi mereka. Mereka tidak semata-mata meminta
kepada sesembahan mereka, namun sesembahan mereka hanyalah
sebagai perantara dan pemberi syafaat. Kondisi ini sama persis dengan
yang dilakukan kaum musyrikin zaman kita. Mereka menganggap wali
yang sudah meninggal dapat menjadi perantara dan pemberi syafaat
bagi mereka.

4. TUJUAN DAN HIKMAH


a. Bertawassul adalah menerima kenyataan yang Sebenarnya dan, hal ini,
merupakan kewajiban bagi orang berakal dan, apalagi beragama.

13
Yakni menerima kenyataan bahwa ada yang lebih dekat kepada Ridha
Allah dari pada kita.
b. Bertawassul berartimengimani jalan kebenaran agama yang ditempuh
oleh yang ditawassuli dan, ini jelas keimanan pada Allah itu sendiri
dan ajaran serta agamaNya.
c. Bertawassul berarti bertawadhu kepada Allah, karena kita disuruhNya
untuk menyintai wali-wali dan nabi-nabi yang ia cintai. Jadi, tawassul
yang berupa ketawadhuan kepada yang ditawassuli, Sebenarnya
berakhir pada kerendahan diri pada Allah itu sendiri.
d. Bertawassul berarti menyintai yang dicintai Allah dan, hal ini, jelas
akan dapat memancing keridhaan dan AmpunanNya.
e. Bertawassul berarti bertawadhu kepada Nabi saw dan Ahlulbait as.
Dan ini kewajiban kita sesama makhluk.
f. Bertawassul, berarti mengikuti dan menaati Nabi saw dan Allah itu
sendiri, karena Allah dan Nabi Nya saw, mengajarkan hal tsb. sampai-
sampai nabi Adam.as pun diberikan nama-nama mereka as dan
bertawssul dengan mereka as. Dan karena itulah Tuhan jelas
memerintahkan kita untuk bertawassul ini, seperti dalam QS: 5: 35:
"Wahai orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah
dan bertawssullah untuk menuju Nya (ridha dan ampunanNya)!!"
g. Bertawssul berarti kita mengagumi para wali dan nabi as dan
menyintai mereka dimana akan memberikan efek meniru ketakwaan
mereka yang bersumber dari kegaguman itu.
h. Bertawassul, berarti tidak menganggap ruh para wali dan nabi as itu,
mati seperti anggapan wahabi yang materialis tapi aneh dalam setiap
shalat mengucap Salam kepada Nabi saw dan kalau lewat dikuburan
muslimin mengucap Salam kepada ahlul kubur.
i. Bertawassul berati, ingin selalu dekat dengan yang ditawassuli itu.
Hingga demikian, kita akan tersedot ke alam makna
dan tidak hanyut dengan dunia.
j. Bertawassul berarti mengetahui sejarah yang ditawassuli dan
karenanya akan membuahkan keyakinan terhadap Islam yang kita
warisi dari mereka.
k. Bertwassul,berarti tidak menyukai yang tidak disukai oleh yang
ditawassuli, baik perbuatan maksiat atau musuh-musuh Tuhan dengan
berbagai bajunya. Hal inilah yang disbut dengan "Tawalli dan
Tabarri", yakni "Berwilayah dan Berlepas diri". Artinya berwilayah

14
kepada yang hak dan yang shiraatalmustaqim alias maksum dan
berlepas diri dari musuh- musus mereka.

D. TEORI ISTIGHASAH
1. Pengertian Istighasah
Kata “istighotsah” berasal dari “al-ghouts” yang berarti pertolongan.
Dalam tata bahasa Arab kalimat yang mengikuti pola (wazan)
“istaf’ala” atau “istif’al” menunjukkan arti pemintaan atau pemohonan.
Maka istighotsah berarti meminta pertolongan. Seperti kata ghufron yang
berarti ampunan ketika diikutkan pola istif’al menjadi istighfar yang
berarti memohon ampunan. Jadi istighotsah berarti “thalabul ghouts” atau
meminta pertolongan.
Istighasah adalah memohon atau meninta pertolongan kepada Allah
SWT. Kaum Nahdiyin sangat erat hubungannya dengan Istighasah.
Istighasah sangat dianjurkan oleh Agama, lebih-lebih ketika sedang
menghadapi atau mengalami permasalahan yang besar dan jalan yang
ditempuh sangat sulit. Pada saat itu meminta pertolongan kepada Allah
sangat diperlukan dalam bentuk Istighasah. Di semua tingkatan
kepengurusan NU, selalu akrab dengan budaya Istighasah. Kadang
menggunakan istilah Istighasah kubro, Istighosah Nasional, dan lain
sebagainnya.
Berkata Syeihkul Islam Ibnu Taimiah : " Istigshostah adalah
meminta pertolongan, dalam rangka untuk menghilangkan musibah atau
bencana."
Adapun do'a adalah pokok yaitu "memohon kehadiran" dan di
sebutkan pula bahwa do'a adalah apa-apa yang di gunakan untuk menyeru
Allah berupa perkataan. Ini adalah do'a secara bahasa, adapun secara
istilah adalah memohon sesuatu yang bermanfaat serta memohon untuk
menolak sesuatu yang bermadharat ".
Perbedaan antara istighostah dan do'a adalah : istighostah tidak lain
dalam rangka untuk di selamatkan dari suatu musibah, sedangkan do'a
maknanya lebih umum, sebab itu dia mencakup permohonan dari suatu
musibah atau untuk selainnya, setiap istighostah adalah do'a dan bukan
setiap do'a adalah istighostah.

15
Dzikir yang dibaca dalam Istighasah di dalam kalangan NU
memakai dzikir yang dibakukan oleh Jam’iyah ahli Thariqah al-Muktbarah
an-Nahdliyah, ijazah dan Syaikhona Cholil Bangkalan.
Di dalam Istighasah ini oleh Ulama salaf tidaklah terjadi
pertentangan. Karena dalam Istighasah seseorang bukanlah meminta kepda
sesuatu yang dijadikan wasilah tersebut, akan tetapi pada hakikatnya
meminta kepada Allah s.w.t. dengan barakahnya orang yang dekat kepada
Allah s.w.t. baik seorang nabi, wali maupun orang-orang yang shaleh.

2. Tata Cara Istighosah


Pada dasarnya Istighasah dilakukan untuk meminta pertolongan
kepada Allah untuk dijauhkan dari segala bencana dan diadakan di tempat
terbuka dan dilakukan bersama-sama. Cara mengamalkan atau tata cara
Istighasah :
a. Hajat ringan, yaitu dengan menggunakan sholat hajat 2 rakaat
b. Hajat besar, yaitu dengan menggunakan sholat 4 rakaat dan 2 kali
salam, diakhiri dengan salam selanjutnya diteruskan dengan sujud
syukur, lalu membaca sholawat, tasbih, lalu meminta hajat apa yang
diinginkan. Setelah itu bertawasul dan membaca bacaan Istighosah

3. Bentuk-bentuk Istighosah
a. yang di perintahkan
yaitu istighostah kepada Allah ta'ala
b. Istighostah yang dilarang.
Yaitu istighostah kepada selain Allah yang tidak mempunyai sifat
hayyun ( hidup ) hadir dan qadir ( mampu ).
c. Istrighostah yang di perbolehkan
yaitu istighostah ( meminta bantuan ) kepada seseorang
yang mempunyai sifat hayyun ( hidup ), hadir ( ada di hadapan ),
qodir ( mampu ) Allah berfirman :
Artinya : maka orang yang dari golongan meminta petolongan kepada
( musa ) untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya." ( al Qhashas
15 )
ayat ini berkenaan dengan orang berada di bani isroil yang
beristighostah kepada musa untuk mengalahkan musuhnya
dari fir'aun. Maka beristighostah kepada orang yang sudah meninggal,
yang ghoib (jin dan lain sebagainya atau manusia tiada di hadapannya )

16
ataupun orang yang tidak mempunyai kamampuan, seperti
menurunkan hujan dan lain-lain. Ini adalah syirik besar. Do'a adalah
ibadah sedangkan istighostah adalah lebih khusus daripada do'a, dan
memalingkan do'a kepada selain Allah seperti istighostah, dia
adalah musyrik. Orang musyrik tidak akan di ampuni selama tidak
bertaubat pada Allah ta'la dengan taubat nashuha.

4. Istighosah Pada Masa Nabi, Sahabat dan Tabi’in


Dan pada dasarnya pada saat masa Nabi, Sahabat dan Tabi’in lebih
dikenal dengan sebutan berdo’a dengan tujuan meminta pertolongan
kepada Allah.
Istighotsah juga disebutkan dalam hadits Nabi, di antaranya:
Sesungguhnya matahari akan mendekat ke kepala manusia di hari
kiamat, sehingga keringat sebagian orang keluar hingga mencapai
separuh telinganya, ketika mereka berada pada kondisi seperti itu, mereka
beristighotsah (meminta pertolongan) kepada Nabi Adam, kemudian
kepada Nabi Musa kemudian kepada Nabi Muhammad. (H.R.al-Bukhari).
Hadits ini juga merupakan dalil dibolehkannya meminta pertolongan
kepada selain Allah dengan keyakinan bahwa seorang nabi atau wali
adalah sebab. Terbukti ketika manusia di padang mahsyar terkena terik
panasnya sinar Matahari mereka meminta tolong kepada para Nabi.

5. Istighosah yang Dilakukan oleh NU di Indonesia`


Di Indonesia istighotsah diartikan sebagai dzikir atau wiridan yang
dilakukan secara bersama-sama dan biasanya di tempat-tempat terbuka
untuk mendapatkan petunjuk dan pertolongan dari Allah SWT. Sementara
doa-doa yang diucapkan pada saat istighotsah adalah doa-doa atau bacaan
yang khas diamalkan dalam jama’ah thoriqoh, meski kadang ada beberapa
penambahan doa.
Pertama-tama para jama’ah istighotsah membaca surat pertama
dalam Al-Qur’an yakni Al-Fatihah sebagai pembuka segala kegiatan yang
baik. Selanjutnya jama’ah membaca doa-doa berikut:
a. Istighfar (astagfirullahal adzim) meminta ampun kepada Allah.
b. Hauqolah (la haula wala quwwata illa billahil aliyyil adzim) Meminta
kekuatan kepada Allah.
c. Sholawat atau doa untuk Nabi Muhammad SAW dan keluarganya
Lafadz tahlil panjang yang berbunyi “La ilaha illa anta subhanaka inni

17
kuntu minadzolimin” sebagai pengakuan bahwa tiada Tuhan selain
Allah dan bahwa hamba yang sedang berdoa telah melakukan
perbuatan dzolim.
d. Memuji asma Allah dengan lafadz “Ya Allah ya Qodim, ya Sami’u ya
Basyir, ya Mubdi’u ya Kholiq, ya Hafidz ya Nasir ya Wakilu ya Allah,
ya Lathif”.
e. Kemudian bacaan istighotsah “Ya Hayyu ya Qoyyum birohmatika
astaghits”

6. Dasar Hukum Tujuan dan Alasan-Alasanya Diadakannya Istighosah


a. Dasar Hukum
Dengan firmanNya :
Artinya : Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan
sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-
orang yang khusyu’. (QS. Al-baqarah:45).
Artinya : Ingatlah wahai Muhammad), ketika kamu memohon
pertolongan kepada Tuhanmu lalu Dia mengabulkan
permohonanmu.” (QS al-Anfal:09).
Dan Nabi bersabda :
Artinya : ya Allah berikanlah kepada kami hujan yang memberikan
pertolongan (HR. Bukhari).
Dalil tentang diperbolehkannya berIstighosah dengan amal shaleh ini
sangat masyur, karena telah diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Muslim
dan Ahmad.

b. Tujuan dan Alasan-alasannya diadakannya Istighosah


1) Meminta pertolongan
2) Menyambung silaturahmi antar umat islam
3) Menghapus dosa

E. KESIMPULAN
Dalam tahlilan menggunakan bacaan-bacaan (doa) tetentu yang
mengandung banyak keutamaan (fadhilah). Fenomena yang terlihat di
masyrakat, penyebutankata tahlilan umumnya dipakai untuk persembahan
yang dikelompokan menurut jenis, maksud,dan suasananya. Dari aspek
historis ini kita bisa mengetahui bahwa sebenarnya acara tahlilan merupakan
adopsi (pengambilan) dan sinkretisasi (pembauran) dengan agama

18
lain. Perkembangan selanjutnya datanglah generasi setelah mereka dan
demikian selanjutnya, kemudian pembacaan kalimat-kalimat thoyibah ini
mengalami banyak perubahan baik penambahan atau pengurangan dari
generasi ke generasi, sehingga kita jumpai acara tahlilan di suatu daerah
berbeda dengan prosesi tahlilan di tempat lain sampai hari ini.
Di Indonesia istighotsah diartikan sebagai dzikir atau wiridan yang
dilakukan secara bersama-sama dan biasanya di tempat-tempat terbuka untuk
mendapatkan petunjuk dan pertolongan dari Allah SWT. Sementara doa-doa
yang diucapkan pada saat istighotsah adalah doa-doa atau bacaan yang khas
diamalkan dalam jama’ah thoriqoh, meski kadang ada beberapa penambahan
doa.

19
DAFTAR PUSTAKA

Abi Husain Muslim Bin Hajaj.2005. Shohih Muslim.Bairut: Darul Fikar.


Pusbakik.2017.Praktek Ibadah Kemasyarakatan. Bengkulu : Tim Pusbakik
Al-jawi ngabdurrohman.2011.TRADISI DAN AMALIAH NU.Jakarta:LTM-PBNU
Abidin Zainal.2009.Tanya Jawab Akidah Ahlusunah Wal Jamaah.Surabaya:
Khalista
Fadeli Soelaiman,M.Subhan.2008. ANTOLOGI NU.Surabaya: Khalista

20