Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Puji syukur kepada Allah SWT kami panjatkan, karena hanya dengan rahmat
dan karunia-NYA, kami dapat menyelesaikan makalah Imunologi Sesuai dengan
waktunya”. Sholawat serta salam tetap tercurah kepada nabi Muhammad
sholallahu’alaihi wasalam.

Kami selaku mahasiswa sangat berterima kasih atas kontribusi para dosen
dalam menyampaikan materi-materi terlebih materi Imunologi sehingga mahasiswa
dapat lebih memahami dengan melakukan pengkajian melalui pembuatan makalah
ini.

Dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan dan kelebihan oleh
karena itu penyusun sangat berterima kasih apabila ada kritik dan saran yang bersifat
membangun untuk perbaikan dimasa yang akan dating dan penyusun sangat berharap
makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak khususnya bagi pembaca dan
panyusun.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Makassar, 11 November 2019

Penyusun

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………………1
DAFTAR ISI………………………………………………………………………...2
BAB I: PENDAHULUAN…………………………………………………………..3
I.1 Latar Belakang………….…………………………………………………..3
I.2 Rumusan Masalah…………………………………………………………..4
I.3 Tujuan………………………………………………………………………4
BAB II: ISI……………………………………...……………………………………5
II.1 Antigen……………………………………………………………………...5
II.2 Antibodi…………………………………………………………………….7
II.3 Interaksi Antigen-Antibodi…………………………………………………8
BAB III: PENUTUP………………………………………………………………..14
III.1 Kesimpulan……………………………………………………………….14
III.2 Saran……………………………………………………………………...14
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………….15

2
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Tubuh manusia memiliki suatu sistem pertahanan untuk melindungi diri dari
benda asing yang mungkin bersifat patogen. Sistem pertahanan tubuh inilah yang
disebut sistem imun. Sistem imun terdiri dari semua sel, jaringan, dan organ yang
membentuk imunitas, yaitu kekebalan tubuh terhadap infeksi atau suatu penyakit.
Sistem imun memiliki beberapa fungsi pada tubuh, yaitu penangkal “benda” asing
yang masuk ke dalam tubuh, menjaga keseimbangan fungsi tubuh, sebagai pendeteksi
adanya sel-sel yang tidak normal, termutasi, atau ganas dan segera
menghancurkannya
Dalam lingkungan sekitar kita terdapat banyak substansi bermolekul kecil
yang bisa masuk ke dalam tubuh. Substansi kecil tersebut bisa menjadi antigen bila
dia melekat pada protein tubuh kita. Substansi kecil yang bisa berubah menjadi
antigen tersebut dikenal dengan istilah hapten. Substansi-substansi tersebut lolos dari
barier respon non spesifik (eksternal maupun internal), kemudian substansi tersebut
masuk dan berikatan dengan sel limfosit B yang akan mensintesis pembentukan
antibodi. Contoh hapten diantaranya adalah toksin poison ivy, berbagai macam obat
(seperti penisilin), dan zat kimia lainya yang dapat membawa efek alergik.
Salah satu upaya tubuh untuk mempertahankan diri terhadap masuknya
antigen adalah dengan cara meniadakan antigen tersebut, secara non spesifik yaitu
dengan cara fagositosis. Dalam hal ini, tubuh memiliki sel-sel fagosit yang termasuk
ke dalam 2 kelompok sel, yaitu kelompok sel agranulosit dan granulosit. Kelompok
sel agranulosit adalah monosit dan makrofag, sedangkan yang termasuk kelompok sel
granulosit adalah neutrofil, basofil, eosinofil yang tergolong ke dalam sel PMN
(polymorphonuclear). Respon imun spesifik bergantung pada adanya pemaparan
benda asing dan pengenalan selanjutnya, kemudian reaksi terhadap antigen tersebut.

3
Sel yang memegang peran penting dalam sistem imun spesifik adalah limfosit.
Limfosit berfungsi mengatur dan bekerja sama dengan sel-sel lain dalam sistem
fagosit makrofag untuk menimbulkan respon immunologik.

I.2 Rumusan Masalah


a. Apakah pengertian antigen dan antibodi ?
b. Bagaimana interaksi antara antigen-antibodi?

I.3 Tujuan
a. Untuk mengetahui pengertian antigen dan antibodi.
b. Untuk mengetahui interaksi antara antigen-antibodi.

4
BAB II
ISI
II.1 Antigen

Antigen merupakan bahan asing yang merupakan target yang akan


dihancurkan oleh sistem kekebalan tubuh. Antigen ditemukan di permukaan seluruh
sel, tetapi dalam keadaan normal, sistem kekebalan seseorang tidak bereaksi terhadap
selnya sendiri. Sehingga dapat dikatakan antigen merupakan sebuah zat yang
menstimulasi tanggapan imun. Antigen biasanya berbentuk protein atau polisakarida.
Sistem kekebalan atau sistem imun adalah sistem perlindungan pengaruh luar
biologis yang dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme. Jika sistem
kekebalan bekerja dengan benar, sistem ini akan melindungi tubuh
terhadap infeksibakteri danvirus, serta menghancurkan sel kanker dan zat asing lain
dalam tubuh. Jika sistem kekebalan melemah, kemampuannya melindungi tubuh juga
berkurang, sehingga menyebabkan patogen. Sistem kekebalan juga memberikan
pengawasan terhadap sel tumor, dan terhambatnya sistem ini juga telah dilaporkan
meningkatkan resiko terkena beberapa jenis kanker.
Antigen yang masuk ke dalam tubuh akan berikatan dengan reseptor sel
limfosit B. Pengikatan tersebut menyebabkan sel limfosit B berdiferensiasi menjadi
sel plasma. Sel plasma kemudian akan membentuk antibody yang mampu berikatan
dengan antigen yang merangsang pembentukan antibody itu sendiri. Tempat
melekatnya antibody pada antigen disebut epitop, sedangkan tempat melekatnya
antigen pada antibodi disebut variabel.
Pada umumnya, antigen-antigen dapat di klasifikasikan menjadi dua jenis
utama, yaitu antigen eksogen dan antigen endogen.antigen eksogen adalah antigen-
antigen yang disajikan dari luar kepada hospes dalam bentuk mikroorganisme,tepung
sari,obat-obatan atau polutan.Antigen ini bertanggungjawab terhadap suatu spektrum
penyakit manusia, mulai dari penyakit infeksi sampai ke penyakit-penyakit yang
dibenahi secara immologi, seperti pada asma.Antigen endogen adalah antigen yang

5
terdapat didalam tubuh dan meliputi antigen-antigen berikut:antigen senogeneik
(heterolog), antigen autolog dan antigen idiotipik atau antigen alogenik (homolog).
Antigen senogeneik adalah antigen yang terdapat dalam aneka macam spesies yang
secara filogenetik tidak ada hubungannya, antigen-antigen ini penting untuk
mendiagnosa penyakit. Kelompok-kelompok antigen yang paling banyak mempunyai
arti klinik adalah kelompok-kelompok antigen yang digunakan untuk membedakan
satu individu spesies dengan individu spesies yang sama. Pada manusia determinan
antigen semacam ini terdapat pada sel darah merah,sel darah putih trombosit, protein
serum, dan permukaan sel-sel yang menyusun jaringan tertentu dari tubuh, termaksud
antigen-antigen histokompatibilitas. Antigen ini dikenal antigen polomorfik, karena
adanya dua atau lebih bentuk-bentuk yang berbeda secara genetik didalam
populasi.ciri – ciri antigen yang menentukan imunogenitas dalam respon imun :
a. Keasingan,yaitu imunogen adalah bahwa zat tersebut secara genetik asing terhadap
hospes
b. Ukuran molekul
c. Kekompleksian kimia dan struktural
d. Penentu antigen ( epilop )
e. Konstitusi genetik inang
f. Dosis, jalur, dan saat pemberian anti gen.

Pembagian antigen
1. Berdasarkan epitop
a. Unditerminan ( univalent )
b. Unideterminan ( multivalent )
c. Multideterminan ( univalent )
d. Multideterminan ( multivalent )

6
2. Berdasarkan spesifitas
a. Heteroantigen d. Antigen organ spesifik
b. Xenoantigen e. Autoantigen
c. Alloantigen

3. Berdasarkan ketergantungan terhadap sel T


a. T dependen
b. T independen

II.2 Antibodi
Antibodi adalah protein yang dapat ditemukan pada darah atau kelenjar tubuh
vertebrata lainnya, dan digunakan oleh sistem kekebalan tubuh untuk
mengidentifikasikan dan menetralisasikan benda asing seperti bakteri dan virus.
Mereka terbuat dari sedikit struktur dasar yang disebut rantai. Tiap antibodi memiliki
dua rantai berat besar dan dua [rantai ringan]. Antibodi diproduksi oleh tipe sel darah
yang disebut sel B. Terdapat beberapa tipe yang berbeda dari rantai berat antibodi,
dan beberapa tipe antibodi yang berbeda, yang dimasukan kedalam isotype yang
berbeda berdasarkan pada tiap rantai berat mereka masuki. Lima isotype antibodi
yang berbeda diketahui berada pada tubuh mamalia, yang memainkan peran yang
berbeda dan menolong mengarahkan respon imun yang tepat untuk tiap tipe benda
asing yang berbeda yang ditemui. Antibodi adalah molekul immunoglobulin yang
bereaksi dengan antigen spesifik yang menginduksi sintesisnya dan dengan molekul
yang sama; digolongkan menurut cara kerja seperti agglutinin, bakteriolisin,
hemolisin, opsonin, atau presipitin. Antibodi disintesis oleh limfosit B yang telah
diaktifkan dengan pengikatan antigen pada reseptor permukaan sel. Antibodi
biasanya disingkat penulisaanya menjadi Ab.(Dorlan).

Antibodi terdiri dari sekelompok protein serum globuler yang disebut sebagai
immunoglobulin (Ig). Sebuah molekul antibody umumnya mempunyai dua tempat

7
pengikatan antigen yang identik dan spesifik untuk epitop (determinan antigenik)
yang menyebabkan produksi antibody tersebut. Masing-masing molekul antibody
terdiri atas empat rantai polipeptida, yaitu dua rantai berat (heavy chain) yang identik
dan dan dua rantai ringan (light chain) yang identik, yang dihubungkan oleh jembatan
disulfida untuk membentuk suatu molekul berbentuk Y. Pada kedua ujung molekul
berbentuk Y itu terdapat daerah variabel (V) rantai berat dan ringan. Disebut
demikian karena urutan asam amino pada bagian ini sangat bervariasi dari satu
antibodi ke antibodi yang lain.Daerah V rantai berat dan daerah V rantai ringan
secara bersama-sama membentuk suatu kontur unik tempat pengikatan antigen milik
antibodi.Interaksi antara tempat pengikatan antigen dengan epitopnya mirip dengan
interaksi enzim dan substratnya: ikatan nonkovalen berganda terbentuk antara gugus-
gugus kimia pada masing-masing molekul(Campbell)

II.3 Interaksi Antigen dan Antibodi

Interaksi Antigen dan Anti bodi adalah sebagai berikut :

a. Reaksi ini pada umunya spesifik,biarpun ada beberapa ditemukan reaksi silang (cross–
reaction)

b. Pengabunggan antara antigen–antibodi adalah erat sekali, tetapi seringkali reversible.

c. Antigen dan antibodi bergabung dalam jumlah yang variabel (Danysz phenomenon )

d. Antigen dan antibodi adalah suatu reaksi kimia, karena yang bergabung adalah gugus–
gugus spesifik dari kedua regens.

e. Dari suatu antigen dengan antiserumnya dapat diperihatkan tipe–tipe reaksi serologic
yang berbeda, mungkin disebabkan oleh molekul–molekul antibodi yang sama sering
merefleksikan yang berbeda.

8
a. Kategori Interaksi Antigen-Antibodi
Interaksi antigen-antibodi dapat dikategorikan menjadi tingkat primer,
sekunder, dan tersier.
1. Primer
Interaksi tingkat primer adalah saat kejadian awal terikatnya antigen dengan
antibodi pada situs identik yang kecil, bernama epitop.
2. Sekunder
Interaksi tingkat sekunder terdiri atas beberapa jenis interaksi, di antaranya:
a. Netralisasi
Yaitu interaksi yang terjadi jika antibody secara fisik dapat menghalangi
sebagian antigen menimbulkan effect yang merugikan. Contohnya adalah dengan
mengikat toksin bakteri, antibody mencegah zat kimia ini berinteraksi dengan sel
yang rentan.
b. Aglutinasi
Adalah jika sel-sel asing yang masuk, misalnya bakteri atau transfuse darah
yang tidak cocok berikatan bersama-sama membentuk gumpalan.
c. Presipitasi
Adalah jika complex antigen-antibodi yang terbentuk berukuran terlalu besar,
sehingga tidak dapat bertahan untuk terus berada di larutan dan akhirnya mengendap.
d. Fagositosis
Adalah jika bagian ekor antibodi yang berikatan dengan antigen mampu
mengikat reseptor fagosit (sel penghancur) sehingga memudahkan fagositosis korban
yang mengandung antigen tersebut.
e. Sitotoksis
Adalah saat pengikatan antibodi ke antigen juga menginduksi serangan sel
pembawa antigen oleh killer cell (sel K). Sel K serupa dengan natural killer cell

9
kecuali bahwa sel K mensyaratkan sel sasaran dilapisi oleh antibody sebelum dapat
dihancurkan melalui proses lisis membran plasmanya.
3. Tersier
Interaksi tingkat tersier adalah munculnya tanda-tanda biologic dari interaksi
antigen-antibodi yang dapat berguna atau merusak bagi penderitanya. Pengaruh
menguntungkan antara lain: aglutinasi bakteri, lisis bakteri, immnunitas mikroba,dan
lain-lain. Sedangkan pengaruh merusak antara lain: edema, reaksi sitolitik berat, dan
defisiensi yang menyebabkan kerentanan terhadap infeksi.

Interaksi Antigen dan Anti bodi adalah sebagai berikut :

a. Reaksi ini pada umunya spesifik,biarpun ada beberapa ditemukan reaksi silang
(cross–reaction)

b. Pengabunggan antara antigen–antibodi adalah erat sekali, tetapi seringkali reversible.

c. Antigen dan antibodi bergabung dalam jumlah yang variabel (Danysz phenomenon )

d. Antigen dan antibodi adalah suatu reaksi kimia, karena yang bergabung adalah
gugus–gugus spesifik dari kedua regens.

e. Dari suatu antigen dengan antiserumnya dapat diperihatkan tipe–tipe reaksi serologic
yang berbeda, mungkin disebabkan oleh molekul–molekul antibodi yang sama sering
merefleksikan yang berbeda.

Tahap pertama dari respon antibodi dimulai dari fagositosis antigen oleh
makrofag atau sel lain dalam sistem retikuloendotelial yang meliputi sel-sel
Langerhans di kulit, sel dendritik pada spleen dan lymph node, serta monosit dalam
darah. Sel-sel tersebut berdasarkan fungsi imunologisnya digolongkan sebagai
antigen-presenting cells (APC).
Penghasilan antibodi terhadap kebanyakan antigen memerlukan interaksi dan
pengaktifan kedua-dua sel B dan T. Antibodi memiliki kemampuan spesifik untuk
mengikat determinat site dari antigen atau yang disebut dengan determinan antigenik.

10
Berikut merupakan gambaran ikatan antara dua molekul antigen dengan dengan situs
pengikatan antigen di daerah-daerah variabel pada anti bodi
Sel-sel ini mungkin menghasilkan gerak balas terhadap epitop berbeza pada
antigen yang sama, tetapi epitop-epitop tersebut mesti tergabung (physically-linked).
Kompleks antigen yang tergabung ke reseptor sel B (terdiri dari imunoglobulin
permukaan, sIg) akan didegradasi dalam sel yang mengandungi molekul MHC II.
Kompleks peptid-MHC ini akan diekspres pada permukaan sel, di mana ia akan
berinteraksi dengan sel T yang mempunyai reseptor sesuai. Hasil dari pergabungan
antigen serta sitokin-sitokin yang dihasilkan oleh sel T, sel B diaktifkan dan
menjalani proses proliferasi menjadi sel penghasil antibodi (sel plasma).

Antigen yang mempunyai epitop berulang-berulang boleh menghubung-


silangkan reseptor sel B (BCR) dan mengaktifkan sel B secara terus. Kebanyakan
antigen protein tidak mempunyai epitop seperti itu tetapi terdiri daripada epitop-
epitop yang berlainan. Oleh itu, untuk menghasilkan gerak balas terhadap antigen
protein, sel B memerlukan isyarat-isyarat dari sel T CD4+. Antigen seperti ini
dipanggil antigen bergantung timus. Penghasilan antibodi terhadap antigen
bergantung timus memerlukan pengaktifan dan interaksi kedua-dua sel B dan T.
Sebagai keperluan tambahan, sel B dan sel T tersebut mesti mengacam epitop-epitop
yang tergabung (walaupun epitop-epitop berlainan) pada satu antigen, untuk
kerjasama antara sel B dan sel T berlaku.
Pergabungan antigen dan sitokin yang dihasilkan oleh sel T, sel diaktifkan
dan menjalani proliferasi dan membeza menjadi sel plasma penghasil antibodi. Jenis
sitokin yang dihasilkan mempengaruhi kelas antibodi yang dihasilkan oleh sel
plasma. Ini jelas ditunjukkan dalam gerak balas terhadap antigen bebas timus
(diterangkan di bawah). Antigen ini tidak mengaruh pertukaran kelas atau gerak balas
ingatan.

11
Dalam gerak balas primer, sel T paling berkesan diaktifkan oleh antigen yang
diproses oleh sel dendritik. Sel T teraktif ini kemudian akan berinteraksi dan
mengaktifkan sel B seperti diterangkan di bawah. Dalam gerak balas sekunder sel
dendritik tidak diperlukan. Sel B dan T boleh bekerjasama dengan efisien kerana sel-
sel ini telah teraktif. Dalam gerak balas sekunder sel B memerangkap antigen melalui
reseptornya (sIg) dan kompleks antigen-sIg ditelan, kemudian didegradasi dalam
dengan molekul MHC II, diangkut dan diekspres pada permukaan sel di mana ia akan
berinteraksi dengan sel T CD4+. Interaksi ini disertai oleh interaksi antara beberapa
molekul permukaan lain Hasilnya kedua-dua sel B dan T menjadi teraktif: sel T akan
menghasilkan sitokin dan sel B menghasilkan antibodi.
Interaksi antigen-antibodi dapat diamati dengan cara melakukan pemeriksaan
golongan darah. Biasanya, antigen masuk ke dalam tubuh dalam bentuk virus,
bakteri, ataupun substansi protein lainnya. Atas dasar inilah dilakukan pemeriksaan
golongan darah. Darah akan berperan sebagai antibodi, sehingga apabila diteteskan
antigen spesifik, maka darah akan menjendal sebagai proses imun. Metode yang
digunakan dalam pemeriksaan golongan darah ABO dan Rh adalah dengan
menggunakan darah dari probandus dan larutan anti-serum, yaitu Anti-A, Anti-B,
Anti-AB, dan Anti-D.
Ada 3 aktivator yang berbeda yang mendeteksi kuman dan mengaktifkan C3
yang merupakan komplemen kunci. Sistem komplemen mengandung lebih dari 18
macam protein. Protein-protein ini bertindak dalam suatu kaskade, dimana satu
protein mengaktifkan protein berikutnya. Sistem komplemen bisa diaktifkan melalui
2 cara yang berbeda:
1. Jalur alternatif : diaktifkan oleh produk mikroba tertentu atau antigen
2. Jalur klasik : diaktifkan oleh antibodi khusus yang terikat pada antigen (komplek
imun).

12
Aktivasi jalur klasik dimulai dengan C1 yang dicetuskan oleh kompleks imun
antibody dan antigen. IgM memiliki sebanyak 5 Fc mudah diikat oleh C1 . meskipun
C1 tidak mempunyai sifat enzim, namun setelah dia berikatan dengan Fc dapat
mengakifkan C2 dan C4 yang selanjtunya mengkatifkan C3. IgM dan IgG1, IgG2,
IgG3 (IgM lebih kuat dibandingkan dengan IgG) yang membentuk kompleks imun
dengan antigen, dapat mengaktifkan komplemen melalui jalur klasik, jalur klasik
melibatkan 9 komplemen protein utama yaitu C1-C9. Selama aktivasi, protein-protein
tersebut diaktifkan secara berurutan. Produk yang dihasilkan menjadi katalisator
dalam reaksi berikutnya. Jadi stimulus kecil dapat menimbulkan reaksi aktivasi
komplemen berantai.
Dapat mengaktifkan komplemen melalui jalur alternatif :
Bakteri (endotoksin)
Jamur, virus, parasit
Zimosan
Agregat IgA (IgA1, IgA2) dan IgG4
Faktor nefritik
C3b dalam jumlah sedikit di dalam serum, dapat mengikat faktor serum yang
disebut faktor B Komplemen ini selanjutnya diaktifkan faktor D dalam serum yang
mengikat C3bB membentuk kompleks imun C3bBD yang berfungsi
sebagai konvertase C3 yang melepas C3a dan C3b. Kompleks C3bBD dengan cepat
dipecah oleh protein serum tetapi pemecahan tersebut dicegah oleh protein lain dalam
serum yaitu Properdin .

13
BAB III
PENUTUP

III.1 Kesimpulan
Antigen yang masuk ke dalam tubuh akan berikatan dengan reseptor sel
limfosit B. Pengikatan tersebut menyebabkan sel limfosit B berdiferensiasi menjadi
sel plasma. Sel plasma kemudian akan membentuk antibody yang mampu berikatan
dengan antigen yang merangsang pembentukan antibody itu sendiri. Tempat
melekatnya antibody pada antigen disebut epitop, sedangkan tempat melekatnya
antigen pada antibodi disebut variabel.
Interaksi antigen-antibodi dapat dikategorikan menjadi tingkat primer,
sekunder, dan tersier.
III.2 Saran
Sebaiknya kita menjaga kesehatan kita agar imunitas kita dapat berjalan
dengan baik.

14
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2010. Interaksi antigen dan Antibody . http://kesehatan.kompasiana.com, diakses


pada tanggal 11 November 2019, pukul 12:05 WITA.

Bellanti, Joseph A. 1983. Imunologi III. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

Nurlita, 2008. Antigen Dan Antibody. http://filzahazny.wordpress.com, diakses pada tanggal


11 November 2019, pukul 12:07 WITA.

Mary, 2009. Interaksi Anitigen-Antibodi, http://maryblogspot.com, diakses pada tanggal 11


November 2019, pukul 12:03 WITA.

Yuli, Rahmah. 2010. Perbedaan Antigen Dan Antibody. http://sumberilmu.wordpress.com.


diakses pada tanggal 11 November 2019, pukul 12:05 WITA.

15